Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 185


__ADS_3

keberadaan Fitri di restoran kecil miliknya menambah semarak kembali restoran itu. entah memang pengunjung menyukai gaya penyajian yang beda, atau memang Fitri memiliki aura yang mampu memikat siapapun agar mau singgah sejenak dan menikmati hidangan yang ada disana.



Kameie tersenyum melihat catatan pembukuan restorannya. penjualan menanjak dan permintaan meningkat. Fitri memang pandai menyajikan makanan lokal, ditambah ia memang haus akan pengetahuan kuliner.


Kameie berani mempertaruhkan semuanya untuk memenuhi rasa haus jilbaber itu akan pengetahuan kuliner, bahkan Kameie mendaftarkan Fitri pada sebuah perguruan tinggi, Institut Kuliner Tsuji, dengan program belajar dua tahun mengenai manajemen kreatif kuliner jepang. selain itu, Fitri sendiri mempelajari secara otodidak masakan Cina dan Arab di channel-channel kuliner di Youtube.


Kameie merasa keberuntungan menyelimutinya ketika Fitri bekerja disana. hingga akhirnya ia dengan inisiatifnya membawa Fitri ke Kobe bersama rombongan shatei Kanto yang akan melakukan pertemuan langsung dengan Kumicho keenam Yamaguchi, Shinobu Tsukasa.


"Siapa yang memasak hidangan ini?" tanya Shinobu dengan alis bertaut.


Tasuku menatap Kameie dengan wajah mencela. Namun Kameie hanya menatap ayahnya dengan tenang. Shinobu Tsukasa menatap Hidesato dan Tasuku.


"Katakan padaku... siapa yang memasak hidangan kali ini?" tanya Kumicho Yamaguchi itu sekali lagi.


"Salah satu dari pegawai restoran putra saya." jawab Tasuku dengan roman wajah bersalah. "Jika Kumicho tidak berkenan, biar kutegur pegawai itu."


"Apanya yang kau mau tegur?" ujar Shinobu Tsukasa, "Masakannya begitu enak, kau mau menghukumnya? kau sudah sinting ya?"


Tasuku kaget mendapat teguran berbau pujian semacam itu. ia langsung membungkuk datar. "Kiranya, tuanku Kumicho sangat berkenan dengan pelayanan kami. maaf, saya terlalu berpikiran negatif."


Shinobu Tsukasa menatap Kameie. "Dia pegawaimu?" tanya Kumicho tersebut. "Mana orang itu?"


Kameie menengok sejenak mengisyaratkan Fitri maju. jilbaber itu kemudian duduk bersimpuh disisi Kameie. Shinobu Tsukasa memandangi Fitri dengan seksama.


"Muslim?" gumam Shinobu. "Mengesankan... menarik." lelaki itu menatap Kameie. "Bagaimana pendapatmu jika perempuan ini ku ambil sebagai asisten rumah tanggaku?" pancing Shinobu.


Kameie membungkuk datar. "Sebelumnya, saya mohon maaf, jika saya menolak perintah Tsukasa-Sama. sebab wanita ini telah terikat dengan saya."


Shinobu Tsukasa dan Tasuku menatap Kameie dengan sorot mata tajam, sedangkan Hidesato menangkap sesuatu yang tidak beres akan terjadi.


"Jangan katakan kalau kau..." tebak Shinobu dengan senyum miring dan mencondongkan tubuhnya, menuding Kameie dengan tangannya yang menggenggam kipas lipat.


"Dia istri saya." jawab Kameie dengan tegas.


semuanya kaget, termasuk Tasuku. terlebih lagi Fitri. ini tak masuk dalam dugaannya. wajah wanita itu pias dan menunduk. Shinobu memicingkan mata.


"Benarkah itu?" ia menyelidik kearah Tasuku.


lelaki itu langsung membungkuk dalam. sementara Hidesato menghela napas. ia lalu membungkuk pula.


"Maafkan kelancangan anggota saya. ke depan, saya akan lebih mendisiplinkan mereka." ujar Hidesato Fujiwara dengan takzim.


Shinobu tertawa. "Mengapa kalian tegang sekali?" ujarnya mengolok. lelaki itu menatap Ienaga yang duduk disebelah kanan Kameie. "Hei kau, Chigaji! bagaimana kabar Hinata?"


"Tak kurang suatu apa, Tuanku." jawab Ienaga membungkuk takzim. Shinobu tersenyum dan mengangguk. ia menatapi Hidesato. "Rapat kita mulai. yang hadir diruangan ini hanyalah ketua shatei dan ketua-ketua wakachu saja."


serentak semua orang yang tak berkepentingan langsung berdiri dan melangkah meninggalkan ruangan.


"Saburo!" panggil Tasuku.


Kameie berhenti dan berdiri tegak didepan pintu. Tasuku bangkit dan berdiri menjajarinya.


"Kutunggu penjelasan darimu untuk jawabanmu tadi!" ujar Tasuku dengan suara lirih tapi tegas. setelah mengucapkan kalimat itu, Tasuku berbalik dan melangkah meninggalkan Kameie yang juga kembali melangkah keluar dari ruangan itu.


...******...


PLAK!!!!


Kameie merasakan keram pada pipinya. namun lelaki itu pantang meringis atau mengaduh. baginya, rasa sakit adalah keseharian seorang lelaki sejati. dan tak akan disebut lelaki, manakala tidak menikmati rasa sakit.


wajah Fitri merah padam. ia merasa sangat dilecehkan. ingatan tentang kepiluannya akibat bercerai dengan Adnan terngiang lagi. air mata mengembang dipelupuk matanya namun jilbaber itu pantang menjatuhkannya. matanya telah merah menahan amarah. tangan yang terayun menampar wajah Kameie itu sekarang gemetar.


"Tuan..." sebut Fitri, "Selama ini saya bekerja, tanpa mengharap apapun, selain hak saya sebagai seorang pegawai. saya tak menuntut kenaikan gaji atau permintaan bonus meski saya bekerja diluar ketentuan jam kerja." ujar wanita itu dengan gemetar.


Kameie masih dengan tenang mengelus pipinya yang terasa keram. namun lelaki itu tak berani menantang tatapan Fitri. entah kenapa. setiap sepasang netranya membentur tatapan mata Fitri, ia kehilangan kegarangannya. sisi lembut menyentuhnya dan Kameie tak pernah begitu sebelumnya.


"Tuan... mengapa anda melecehkan saya dihadapan Majikan besar? mengapa mengaku-ngaku sesuatu yang tidak bisa anda penuhi? memang anda siapa, berani menentukan apa yang berlaku pada diri saya?!" cela Fitri.


"Aku punya alasan tersendiri, Fitri." jawab Kameie tapi selalu menghindari tatapan jilbaber itu.


"Alasan? apa alasannya?" tantang Fitri.


"Kau nggak akan mengerti." kilah Kameie.


"Katakan, supaya aku paham!" tukas Fitri. "Jangan bersembunyi dibalik kekakuan sikapmu, Tuan!"


Kameie tersinggung. kelelakiannya terhasut. lelaki itu kini berani menantang tatapan Fitri. jilbaber itu juga telah ikut membenturkan tatapannya ke tatapan Kameie.


"Kau mau tahu?" pancing Kameie.


"Ya! katakan!" tantang Fitri kali ini lebih berani.


"Karena kau memang calon istriku!" jawab Kameie dengan tegas.

__ADS_1


"Omong kosong!" pekik Fitri menghentakkan kakinya.


"Aku mencintaimu, Fitri! sejak perjumpaan pertama itu! aku... jatuh cinta padamu!" seru Kameie dengan tegas dan lantang.


Fitri terhenyak dan langkahnya terayun mundur sebanyak tiga langkah. wanita itu menghalangi bibirnya dengan jemarinya. Kameie mengatur napasnya.


"Fitri..." panggil Kameie.


"Jangan!" tolak Fitri mengacungkan telunjuknya kearah Kameie. "Jangan mendekat!"


"Apa yang kau takutkan?!" tantang Kameie. "Aku sudah jujur. mengapa kau mundur?"


"Kau... kau belum sepenuhnya mengenali aku." kata Fitri dengan gemetar.


"Maka kita akan saling menjajaginya." tandas Kameie. "Aku tak butuh masa lalumu. aku butuh dirimu!"


"Kau belum mengenalku sepenuhnya." tolak Fitri dengan airmata yang telah membanjir.


"Aku tak perlu mengenalmu. aku hanya memerlukan dirimu." kata Kameie kali ini lebih tegas.


Fitri hanya bisa mendesah dan berbalik langkah meninggalkan koridor sedangkan Kameie hanya bisa berdiri menatap Fitri yang telah mengayunkan langkah meninggalkan tempat itu.


Kameie hanya bisa pasrah.


...******...


Kediaman Mochizuki di Tokyo.


Kameie duduk dengan tenang mengenakan yukata tebal hitam dengan sabuk merah anggur. sebuah kipas lipat terselip dibalik pakaian bagian atas. dihadapannya duduk Tasuku dengan wajah kencang.


"Aku sudah mengenalkan kamu dengan putri-putri relasiku... tapi kau selalu menolak. bahkan terkesan dingin." tukas Tasuku, "Sekarang katakan padaku, apa yang dimiliki wanita muslim itu sehingga kau kehilangan kewarasan otak dan menyebutnya sebagai calon istrimu?!" desak Tasuku.


"Entah Ayah, akupun tak tahu..." jawab Kameie dengan santun. "Tapi kurasa, aku sudah mantap untuk berumah tangga kali ini."


"Menikahlah..." pinta Tasuku, "Tapi bukan dengan perempuan itu."


"Menikah, itu akan kulakukan... dengan perempuan itu." jawab Kameie.


"Jangan keras kepala, Saburo!" hardik Tasuku.


"Aku hanya mengungkapkan aspirasiku saja." jawab Kameie. "Aku bukan sepertimu, ayah."


"Apa maksudmu?" tanya Tasuku.


"Apa kelebihan yang dimiliki perempuan itu? kau kelihatannya telah tersihir olehnya." tukas Tasuku dengan wajah membesi.


"Mungkin.... mana kutahu?" ujar Kameie.


tak lama kemudian terdengar deringan pesawat telepon. Kameie menoleh kearah nakas dimana pesawat telpon itu berada. ia bangkit dan melangkah ke meja itu, mengangkat gagang telepon mendekatkannya ke telinga.


📞"Kediaman Mochizuki..." ujar Kameie.


📞"Dengan Tuan Muda Kameie??" tanya seorang wanita.


📞"Ya, saya sendiri. kenapa?" tanya Kameie.


📞"Tuan Muda... sepertinya Nona Fitri sedang bersiap pulang ke Tokyo. dia kelihatan buru-buru." jawab wanita itu.


📞"Sebisa mungkin, tahan dia! aku akan kesana!" seru Kameie kemudian meletakkan gagang telpon.


"Siapa Saburo?" tanya Tasuku.


"Pemilik penginapan." jawab Kameie menatap ayahnya. "Aku akan kembali dalam beberapa jam lagi." sambungnya sembari meninggalkan ruangan.


"Mau kemana kau?!" tanya Tasuku, "Pembicaraan diantara kita belum selesai."


"Aku akan menjemput cintaku." jawab Kameie dengan singkat dari balik pintu shoji dan kemudian melangkah meninggalkan lorong tersebut.


...****...


"Aku harus pulang! mengapa kalian menahanku?!" hardik Fitri sambil menghentakkan kakinya dilantai.


pemilik penginapan berdiri didampingi dua lelaki tukang pukulnya, menghalangi jalan yang hendak disusuri oleh Fitri. "Tuan Muda menginginkan anda untuk kami layani. seyogyanya Nona membiarkan saja." bujuk wanita tersebut.


"Kubilang pergi, ya PERGIIIII...." teriak Aisyah begitu kencang.


nyonya pemilik penginapan hanya tersenyum. "Maaf Nona.."


tak lama kemudian, muncul Kameie mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas pergelangan tangannya dan kerahnya terbuka sedikit mempertontonkan sebagian kecil dada bidangnya.


"Ada apa ini?" tanya Kameie dengan wajah serius.


"Tuanku.." sapa nyonya pemilik rumah dengan menunduk.


Fitri diam sambil memegang kopornya. Kameie menatap kopor yang tergeletak dilantai. tatapan lelaki itu kembali membentur tatapan Fitri. namun kali ini ia lebih berani karena telah membekali tatapan itu dengan teknik karasu tengu no shisen.

__ADS_1


"Kenapa kau hendak pulang? pertemuan itu belum selesai. esok sore baru kita bertolak lagi ke Tokyo." bujuk Kameie.


"Bukan hanya mau pulang." kata Fitri, "Tapi aku mau mengundurkan diri." ujar jilbaber itu memberikan amplop coklat kepada Kameie.


lelaki itu membuka amplop dan mengeluarkan isinya. lelaki itu membaca surat tersebut lalu mendesah kesal. sambil berdecak jengkel ia meremukkan surat itu dan merobeknya.


"Pengunduran dirimu kutolak." kata Kameie. "Restoran itu sejak dikelola oleh masakanmu, menjadi sarat akan tamu. aku pribadi tak menyangka perubahannya secepat itu. jadi karena pertimbangan itu, aku menolak pengunduran dirimu."


"Dasar matrealistis!" umpat Fitri.


"Terserah padamu." sahut Kameie. "Tapi, antara pekerjaan dan cinta, itu lain lagi."


"Aku tidak mencintaimu!" kata Fitri dengan tegas.


Kameie tertawa dan mengangguk-angguk. "Baiklah... terserah padamu saja. yang penting, kau tidak pulang malam ini. bisa, kan?"


Fitri terdiam. Kameie tersenyum dan mengeluarkan gawainya. ia menghubungi seseorang.


📲 "Kaneko... siapkan kamar satu untuk tamu kita." kata Kameie.


📲 "Baiklah Tuanku." jawab Kaneko.


Kameie mengangguk lalu menyimpan lagi handphonenya. setelah itu ia mengisyaratkan nyonya pemilik penginapan dan dua centengnya menyingkir. Kameie melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya.


"Apaan? kita bukan suami-istri." cela Fitri, "Jangan pegang tanganku."


Kameie tertawa pelan, "Siapa yang mau pegang tanganmu? kesinikan kopormu, biar ku pegang."


Fitri terdiam dan wajahnya bersemu merah. Kameie langsung meraih kopor wanita itu dan melangkah meninggalkan Fitri. jilbaber itu terhenyak dan berlari kecil menyusul Kameie.


"Kita mau kemana?" tanya Fitri dengan cemas.


"Penginapan yang lebih baik." jawab Kameie.


keduanya telah tiba dipelataran parkir. Kameie membuka bagasi dan menaruh kopor Fitri disana. ia kemudian membuka pintu depan.


"Masuk..." pinta Kameie.


"Nggak mau. aku duduk dibelakang saja." jawab Fitri.


"Enak saja. memangnya kau majikanku?!" hardik Kameie.


"Iya, iya, aku didepan..." sahut Fitri setengah takut. "Issyyy... dasar tak menghargai wanita." gumam jilbaber itu.


"Apa kau bilang?" tanya Kameie.


"Nggak. kau salah dengar." jawab Fitri cepat dan langsung masuk melalui pintu yang dibuka Kameie. lelaki itu tersenyum lalu menutup pintu kemudian memutari mobil dan membuka pintu lalu duduk depan kemudi.


"Lho? kok duduk disini?" pekik Fitri dengan gugup.


"Memang kenapa?" tanya Kameie. "Lalu menurutmu, siapa yang mengemudikan kendaraan ini? apa kau pandai mengemudi?" olok pemuda itu.


Fitri terdiam dan kembali memberenggut. dasar tukang cari kesempatan...


kendaraan itu bergerak meninggalkan penginapan. tanpa setahu Fitri, Kameie mengarahkan mobilnya justru menuju Kediaman Mochizuki di Shibuya. tak lama kemudian kendaraan itu berhenti.


"Turunlah..." pinta Kameie.


mata Fitri memicing sejenak kepadanya. Kameie menghela napas lagi dan mengangguk. "Turunlah..." pintanya sambil mematikan mesin dan membuka pintu, melangkah keluar.


Fitri tak punya alasan untuk menolak. jilbaber itu keluar dan menemukan sebuah rumah sederhana bergaya tradisional. rumah yang begitu elegan ditengah hamparan rumah-rumah minimalis modern dikawasan itu.


"Ini rumah kediaman keluargaku." ujar Kameie.


"Tunggu." sela Fitri. "Kok kita kesini? kalau begitu, lebih baik aku kembali ke penginapan saja."


Kameie menatap jilbaber itu. "Masuk." ajaknya.


Fitri tak bisa apa-apa lagi karena ternyata Kameie telah menggenggam kopornya dan tanpa bertanya langsung melangkah memasuki halaman kediaman Mochizuki. dengan langkah setengah berlari, Fitri mengejar Kameie.


"Kenapa aku harus tinggal disini?" tanya Fitri.


"Kan sudah kubilang, kau calon istriku." jawab Kameie dengan enteng dan mereka sudah menaiki beranda.


"Tuan! jangan bercanda!" tukas Fitri sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.


"Apa kau lihat diwajah dan kedua mataku ini ada selipan canda?!" tukas balik Kameie dengan kesal. setelah itu ia berbalik lagi dan menggeser pintu kayu. "Sudahlah... nanti ku jelaskan didalam saja!"


akhirnya Fitri mengikuti langkah pemuda itu menyusuri lorong dan menemukan sebuah beranda lain yang berada disisi kolam ikan. disana ada seorang wanita yang bertugas sebagai asisten rumah tangga.


"Kaneko... ini tamu kita. layani dia dengan baik." ujar Kameie meletakkan kopor didepan Kaneko. sejenak wanita parobaya itu menatap Fitri dengan tatapan aneh lalu memandang majikan mudanya.


Kameie seakan tahu isi hati asisten rumah tangga itu. ia mengangguk.


"Dia calon istriku, Kaneko.... layani dia dengan baik." kata Kameie dengan suara yang penuh kewibawaan.[]

__ADS_1


__ADS_2