
kegembiraan dan kesedihan, merupakan dua inti yang memutar komidi kehidupan yang kemudian lebih dikenal sebagai takdir dan ketentuan. sebagai Qadha dan Qadr yang menghiasi hidup manusia sejak ia dimintakan kesaksian tentang hakikat dirinya dan hakikat Tuhannya. setelah penyaksian itu, Tuhan menetapkan bagi manusia empat perkara yaitu tempat kelahirannya, tempat kematiannya, jodohnya dan akhir kehidupan apakah termasuk dalam golongan baik atau buruk.
dari empat ketentuan, dua diantaranya bisa dirubah oleh manusia melalui upaya dan ikhtiar yaitu jodoh dan akhir kehidupannya sedangkan dua lainnya merupakan hak prerogatif Allah yang mutlak tak terbantahkan.
yang patut dilakukan manusia hanyalah bersyukur ketika kegembiraan itu menyelimuti dirinya dan bersabar serta intropeksi diri manakala kesedihan yang melingkupi hidupnya.
...******...
beberapa bulan setelah wafatnya Bapu Ridhwan, kehidupan keluarga Lasantu dimulai kembali dari awal. rasa kehilangan membantu seluruh anggota keluarga itu bersatu saling menguatkan. yakin dan percaya, setelah badai dan hujan, pelangi pasti nampak mewarnai awang.
Chiyome mulai menapaki lagi hidup dengan tegar, begitu juga dengan Kenzie. dua laki istri yang mengidolai sang kakek buyut itu merelakan setengah perasaan mereka hilang dalam duka itu.
Kenzie mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai direktur utama Buana Asparaga.Tbk setelah selama beberapa bulan lalu tugasnya dikerjakan Bakri yang merupakan perpanjangan amanat Adnan untuk tetap menstabilkan roda usaha Buana Asparaga.Tbk.
sedangkan Chiyome lebih berfokus pada pengembangan fisik dan mental putranya. Saburo selalu di suplai dengan vitamin sehingga pertumbuhan tubuh anak itu berkembang dengan pesat. Saburo bahkan sudah mampu berjalan terbata-bata.
Aisyah makin sering bermain bersama Saburo. tingkah batita itu sungguh menggemaskan. suatu ketika, Aisyah dan Bakri mengajak jalan Saburo ke Taman Taruna Remaja saat hari minggu.
hari minggu memang banyak digunakan warga Kota Gorontalo untuk jalan pagi atau pun berolahraga. dan Taman Taruna Remaja adalah tempat paling ramai pada hari itu.
Saburo senang dibawa pesiar bibinya. Bakri memarkir mobil milik Chiyome dan keluar dari mobil bersama Aisyah yang menggendong Saburo. rupanya anak batita itu ingin turun dan merasai jalanan dengan kedua kakinya itu. Aisyah menurunkannya.
dipandu Aisyah dan diawasi oleh Bakri, Saburo berjalan dengan senang kesana-kemari. suatu ketika ia melihat penjual es cendol.
tentu saja Saburo langsung berminat dan menunjuk-nunjuk penjual es cendol itu minta dibelikan. Aisyah tersenyum dan memandu anak itu mendekati penjual es cendol. belum sempat Aisyah menyapa, Saburo menarik kemeja bagian bawah penjual es itu membuatnya menoleh ke bawah, menyadari seorang anak usia tiga tahun sedang menatapnya.
"Om penjual... halga satu gelah et belapa?" tanya Saburo dengan polos.
Aisyah tersenyum melihat Saburo berinisiatif bertanya kepada penjual tersebut. si penjual tersenyum. "Tiga ribu perak nak."
Saburo mengerutkan kening sejenak lalu menatap jarinua. kelihatannya anak itu sedang menghitung menerbitkan perasaan geli dihati jilbaber itu. penjual itu juga tersenyum. Saburo kembali mengangkat wajahnya menatapi penjual.
"Alau... atu tetet... belapa?" tanya Saburo.
kening penjual itu mengerut. setetes? memangnya anak ini mau membeli setetes????
"Kalau satu tetes... nggak usah dibayar Uyong." jawab penjual itu sekenanya. dan senyum pun terbit diwajah cupu anak itu.
"Kalau... begitu... towong tetetin.. di gelah... Om ya... sampe penu..." jawab Saburo dengan tenang tanpa dosa.
Aisyah tertawa, begitu juga Bakri mendengar ucapan tanpa dosa anak itu, sedangkan si penjual hanya bisa menampakkan wajam masam karena tak mampu melampiaskan kemarahannya.
Bakri mendekat lalu jongkok disisi Saburo. "Nunu mau es?"
Saburo menatap Bakri, "Abi... Abu mau et..." jawabnya polos.
Bakri senyum lalu menatap penjual itu. "Es segelas bang. dibungkus ya?" pinta Bakri.
Penjual itu mengangguk dan mulai meracik es cendol yang dipesan. Aisyah kembali menggendong Saburo. "Sekali ini saja minum es nya ya? kalau kebanyakan nanti sakit perut." kata Aisyah dengan lembut.
Saburo dengan patuh mengangguk. dan berbekal es cendol yang dibungkus dan dilengkapi sedotan, Saburo tidak lagi rewel saat dibawa pulang Aisyah dan Bakri.
...*******...
Mariana tertawa lepas mendengar cerita Aisyah tentang kekonyolan Saburo yang meminta es cendol dengan cara cerdik supaya tidak membayar. Chiyome merah wajahnya justru malu dengan kecerdikan putranya.
"Lain kali, Sandiaga nggak usah lagi dibawa pesiar." ujar Chiyome dengan wajah keruh.
"Lho? kenapa? kasihan diperam dalam rumah terus." kata Mariana, "Sandiaga itu anak laki-laki, Adek, bukan perempuan yang harus terus dipingit."
"Tapi Adek malu Ma." kilah Chiyome. "Masa anak itu berani mengakali penjual seperti itu? hmm... bakat genyosha rupanya mulai nampak dalam dirinya."
"Adek, itu bukan kenakalan... itu justru kemampuan berpikir Sandiaga yang harus kita apresiasi. dalam usia semuda ini, ia sudah berani mengemukakan sebuah pilihan. berarti perkembangan otak anak itu maju pesat. Adek semestinya bangga." nasihat Mariana.
__ADS_1
Chiyome melengos dan membuang wajah. sementara Saburo tetap dengan wajah tak berdosanya duduk santai diatas sofa menonton acara kartun kesukaannya.
...******...
Malam itu, dipembaringan. Kenzie asyik membaca beberapa laporan yang dipresentasikan Dewinta melalui e-mail pribadinya. lelaki itu mengenakan kacamata peredam larik sinar biru agar pancaran elektromagnetik yang dipancarkan gawainya tidak merusak penglihatannya.
Chiyome menyandarkan kepalanya diperut sixpac suaminya. tangannya mengelus-elus area tersebut dengan pelan dan lembut.
"Hubby..." panggil Chiyome dengan lembut.
Kenzie menatap istrinya sejenak lalu menurunkan gawai dan meletakkannya di nakas kemudian melepas kacamata. "Kenapa Wiffy?" tanya Kenzie dengan pelan.
"Hubby sudah dengar dari Kak Ais nggak?" pancing Chiyome.
"Tentang apa?" tanya Kenzie lagi membelai rambut pendek shaggy istrinya.
"Saburo berbuat ulah di Taman Taruna Remaja." jawab Chiyome dengan suara yang terdengar sedikit ketus.
"Oh, tentang itu..." gumam Kenzie tersenyum.
lelaki itu kemudian memelototkan tubuhnya hingga kepala istrinya berada disisi lehernya. Kenzie mencium kepala Chiyome.
"Wiffy malu?" pancing Kenzie.
Chiyome mengangguk pelan. Kenzie kembali tersenyum. "Tapi Hubby malah bangga kok."
"Bangga gimana? anak itu, semuda itu dia berani mengakali orang tua. seorang penjual es lagi. ternyata jiwa genyosha dalam dirinya sudah nampak." ujar Chiyome dengan marah namun suaranya dipelankan.
"Wiffy kan seorang genyosha juga, Hubby nggak persoalkan. mengapa tiba-tiba Saburo yang dipersoalkan karena gayanya?" ujar Kenzie.
Chiyome menatap suaminya. Kenzie menatapnya dengan lekat. "Wiffy masih ingat nggak? sumpah Hubby pada Wiffy? biarpun Wiffy itu Ratu Iblis sekalipun, tetap Hubby akan nikahi, Hubby cintai." ujar lelaki tersebut. "Nah, Saburo adalah perwujudan kita berdua. jiwa petarung dan pemberontak mengalir dalam nadinya. lalu? apakah Wiffy hendak menolak takdir yang diarahkan Allah kepada anak kita?"
"Apakah Hubby tidak merasa malu dengan perilaku Saburo jika dia berbuat keonaran?" pancing Chiyome.
"Kebandelannya berasal dari darah lelaki. itu wajar sayangku. jika anak kita nakal sewaktu kecil, maka kedepan begitu ia besar, Saburo akan menjadi orang yang kalem karena seluruh kenakalannya tersalur dimasa kecilnya. tapi, jika sejak kecil anak kita pendiam, Hubby justru kuatir karena itu ciri khas psikopat. setelah besar nanti, dia akan menjadi pembuat keonaran, bahkan berbuat kerusakan dimuka bumi." tutur Kenzie menjelaskan perilaku anak dan akibatnya setelah menjejaki kedewasaan.
"Tidak semuanya." jawab Kenzie, "Tapi persentasenya diatas 60%. itu hukum alam."
Chiyome menatap suaminya dengan tatapan dalam. Kenzie melanjutkan. "Masih ingat ucapan almarhum Bapu Ridhwan tentang Saburo?"
"Dia memiliki aura seorang raja?" tebak Chiyome.
Kenzie mengangguk. "Maka tugas kita adalah membimbingnya dengan sabar dan terus bertawakal. anak iti hakikatnya suci, Wiffy... kitalah yang merubahnya, apakah dia menjadi jahat atau menjadi baik."
Chiyome merenungi ucapan suaminya lalu menghela napas panjang. Kenzie tersenyum lalu membelai rambut istrinya.
"Wiffy... lusa adalah pengukuhan Trias sebagai anggota polisi. kita diundang menghadiri upacara pengukuhannya di SPN Batudaa." ujar Kenzie.
"Ah, Ipah pasti juga diundang." tebak Chiyome dengan senyum khas seringai ginsulnya.
"Pastilaaa... saat ini Trias pasti sedang menjalani bimbingan kerohanian bersama siswa-siswa bintara lainnya di sekolah saat ini." ujar Kenzie merenung.
"Kita harus memberinya hadiah, Hubby." kata Chiyome.
"Ah, itu pasti." tandas Kenzie dengan senyum sumringah. "Aku akan memberikan hadiah yang sesuai dengan profesinya."
...******...
Buana Asparaga.Tbk pukul 11.43 siang.
Kenzie duduk santai setelah memeriksa beberapa laporan yang menumpuk di mejanya. setelah memeriksa laporan dan usulan penganggaran produksi, Kenzie membubuhkan tanda tangannya serta cap perusahaan pada surat resmi tersebut.
setelah menyelesaikan pekerjaannya, Kenzie mulai berselancar mencari toko-toko penjual senjata api melalui aplikasi pencari situs. Kenzie menemukannya. ia mencatat nomor telepon dari toko penjual senjata api itu.
__ADS_1
Kenzie menekan nomor bagian pemasaran perusahaan Forjas Taurus. seorang wanita menjawab panggilan Kenzie. dengan bahasa Inggris, Kenzie melakukan percakapan.
📞 "Dengan Fernita Brojas, bagian pemasaran. ada yang bisa dibantu?" sapa wanita itu.
📱"Saya, Kenzie Lasantu dari Buana Asparaga.Tbk, ingij memesan satu unit senjata revolver. mohon dibuat jenis khusus ya? soalnya ini merupakan hadiah untuk sahabat saya yang seorang opsir polisi."
📞 "Oh, boleh pak. anda ingin revolver tipe apa?" tanya Fernita Brojas dengan antusias.
📱"Bisa saya melihat katalog pistol yang diproduksi? dari aitu saya akan menentukan jenis apa yang akan saya pesan. ini adalah hadiah yang sangat spesial. kuharap Nona memahami bagaimana saya ingin memberikan yang terbaik untuk sahabat saya." ujar Kenzie.
📞 "Oh bisa pak. kemana saya mengirimkan katalog?" tanya Fernita lagi.
📱"Kirimkan langsung ke e-mail pribadi saya." Kenzie menyebutkan alamat e-mailnya.
📞 "Baik pak. akan kami segera kirimkan katalognya." ujar Fernita.
📱"Terima kasih. saya berharap yang terbaik untuk ini." balas Kenzie kemudian menutup pembicaraan seluler.
Kenzie meletakkan gawai itu di meja. beberapa menit kemudian gawainya berdering memberitahu notifikasi yang masuk. Kenzie mengaktifkan layar sentuhnya dan membuka e-mail pribadinya. nampak notifikasi dari perusahaan Forjas Taurus berupa daftar katalog pistol dan revolver yang diproduksi oleh perusahaan pembuat senjata api itu. tatapan Kenzie terarah ke suatu gambar yang disukainya.
hmmm.... revolver ini cocok disandang oleh Trias... kupesan saja dengan sedikit modif hias pada gagangnya...
Kenzie kemudian membalas melalui e-mail bahwa ia menghendaki jenis revolver yang diminatinya. ditambahkannya jenis hias yang dimintanya untuk diukir pada gagang pistol tersebut. setelahnya, Kenzie menekan tombol 'kirim' lalu ia pun tersenyum puas.
...******...
Endrawan mematut-matut dirinya dikaca. lelaki kekar berkepala plontos itu berupaya menampilkan kesan yang baik dan tidak mempermalukan putranya. pasalnya, hari ini, adalah upacara pengukuhan Trias dari siswa menjadi anggota polisi sepenuhnya. lelaki itu telah menantikan peristiwa ini sepanjang hidupnya. tak lama kemudian terdengar bunyi panggilan pada gawainya. Endrawan meraih gawai itu dan memeriksa layarnya.
uhmmm.... Adnan...
lelaki botak itu mengaktifkan panggilan. terdengar suara Adnan menyapa.
📱"Wey Bro. sudah siap? kami sementara meluncur ke tempatmu!" ujar Adnan.
📱"Dari tadi Bro. aku sudah menunggu." jawab Endrawan.
📱"Oke, tunggu beberapa menit lagi!" timpal Adnan yang kemudian mematikan sambungan selulernya.
Endrawan memasukkan gawai itu ke saku celananya. dengan langkah percaya diri, ia keluar dari kamar dan melangkah menuju beranda. lelaki itu mengunci pintu rumah dan kembali melangkah menuruni beranda lalu menyusuri halaman dan tiba ditepi jalan.
sebenarnya, Endrawan berniat mengendarai sepeda motor Honda CBR nya, namun kelihatannya Adnan berniat menjemputnya hingga ia batal menggunakannya. Endrawan mengangkat lengan kanannya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. itu baru jam tujuh pagi. upacara pengukuhan akan dilaksanakan pada pukul delapan tepat dipagi hari itu.
tak lama dari arah selatan, nampak mobil yang paling dikenal lelaki plontos itu. mobil hitam Daihatsu Sigra MC milik Adnan muncul disusul dengan Mc Laren Pirelli 1 kuning yang dinaiki Kenzie dan Chiyome mengekor dibelakang mobil itu.
kendaraan tersebut menepi tepat didepan Endrawan. kaca mobil turun dan Adnan melongok dari pintu.
"Ayo masuk!" ajaknya.
Endrawan maju dan melongok kedalam. "Lho? Aisyah sama Bakri kemana? nggak diajak?" tanya Endrawan.
"Bukan nggak diajak. tapi memang nggak ikut. kalau semuanya ikut, siapa yang mengerjakan tugas-tugas di Buana Asparaga.Tbk hah?" jawab Adnan kemudian menukas, "Kau mau neraca pendapatan merosot dan pendapatanmu menurun pula?"
Endrawan tertawa, "Ya, nggak lah... oke deh." lelaki itu membuka pintu kedua lalu masuk dan duduk di bangku tengah. "Oke Bro! cabut!" serunya dengan gembira.
kedua mobil itu meninggalkan tempat tersebut dan kembali melaju.
"Kita lagi mutar dulu ke Botupingge ya?" ujar Adnan, "Pasalnya Kenzie tadi bilang, Trias titip pesan minta pacarnya yang.... siapa itu namanya?"
"Saripah... Saripah Hamid." jawab Endrawan, "Anaknya si Fahruriza Indra... majikan perkebunan itu."
"Ah, itu si... Saripah... dan Trias juga sudah menghubunginya. jadi, kita harus menjemputnya." sambung Adnan.
"Eiisyyy... kenapa lagi mau jemput pacarnya, bikin lama saja. tak sabar aku ingin melihat Trias mengenakan PDUP warna coklat tua itu!" omel Endrawan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Kak Endi... bagaimanpun, Anaknya si Indra itu pacarnya Trias, calon mantumu. masa sih kau tak memberinya kesempatan berpose disisi kekasihnya? egois juga kau ya?" olok Adnan.
dua kendaraan itu memasuki gapura perbatasan Kota Gorontalo dengan Kabupaten Bonebolango. kedua mobil itu membelok menyusuri bundaran menuju ke arah kanan menuju kompleks perkantoran Gubernur Gorontalo. setelah melewati jembatan besar yang panjang itu, kedua kendaraan itu membelok mengikuti alur jalan yang memutar menuju timur. []