Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 46


__ADS_3

Kameie menatapi kakek ringkih itu lalu mengangguk. "Hai, sodesu...kare wa watashi no sofudesu.." jawab lelaki itu.


Bapu Ridhwan menatapi Fitri. wanita itu menjawab. "Suamiku bilang, orang yang kakek cari itu adalah kakeknya."


lama Bapu Ridhwan tercengang, lama kemudian ia tiba-tiba mendongak dan memperdengarkan tawanya yang menggema. seketika Adnan, Kameie dan Chiyome yang berada dikamar langsung mengunci pendengaran mereka sedangkan Mariana, Aisyah, Fitri, bahkan Kenzie terpaksa menutup telinga mereka dengan kedua tangan.


Adnan dan Kameie terlihat pucat. lelaki jepang itu membatin, kakek ini memiliki kekuatan tenaga dalam yang besar dan bergelombang kuat. sangat jarang didunia moderen seperti ini masih ada orang yang memiliki kekuatan sedahsyat ini... kemampuan orang Gorontalo memang tak boleh dipandang remeh....


karena tak tahan berada dikamar, Chiyome beranjak dari kamarnya. ia melihat seorang kakek ringkih sedang tertawa sedang disekitarnya termasuk Kenzie terlihat menderita, termasuk Adnan dan Kameie yang mulai menampakkan wajah pias. dengan kesal, dikerahkan tenaga menuju inti perut dan seketika Chiyome meneriakkan ki-ai nya.


"OJISAN! NO WARAI O YAME NASAI!!!!...ANATA WA KARERA O KIZUTSUKEMASU !!!!....."


(Hentikanlah, kakek. kau membuat mereka kesakitan)


Bapu Ridhwan tersentak merasakan ada aliran tenaga dalam yang kuat menampar tenaga dalamnya yang ia kerahkan tanpa sengaja lewat tawa itu. kakek ringkih tersebut menghentikan tawa dan menatapi seisi ruangan. Bapu Ridhwan memandang seorang gadis yang terengah-engah menyangga tubuhnya pada tiang pintu.


"Nak! kamu kah yang tadi bicara ?!" tanya Bapu Ridhwan sambil berdiri. kakek ringkih itu melangkah mendekati Chiyome yang bersandar dipintu kamar.


"Sofu no chikara wa sugokatta.... karera, tokuni watashi no shorai no otto o kizutsukenaide kudasai !" gerutu Chiyome sambil memandang Kenzie yang sedang menggelengkan kepala karena rasa pening akibat tenaga dalam sang kakek bersama Chiyome yang berbentrokan.


(tenaga kakek sangat kuat. jangan sakiti mereka, terutama Hubby..)


Bapu Ridhwan memandangi lainnya yang tersenyum mendengar kata Chiyome, adapun Kenzie hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Apa yang anak ini katakan?" tanya Bapu Ridwan.


"Katanya, tenaga kakek kuat sekali. dia minta kakek tidak menyakiti kami dengan tenaga dalam kakek, terutama Hubby." jawab Mariana sambil menahan tawa.


"Siapa Hubby? adakah orang bernama Hubby disini?" tanya Bapu Ridhwan kurang paham.


"Hubby itu artinya, calon suami." jawab Mariana kembali.


Bapu Ridhwan terkejut lalu menatapi Kenzie, kemudian ia tertawa lagi. "Kenzie! kau tak salah memilih! kakek bangga padamu!" seru Bapu Ridhwan.


kakek itu kemudian mendongakkan kepalanya. "Hei, Mamoru! ternyata kita selalu berjodoh! kau dan aku berjodoh gara-gara kepalan. keturunan kita berjodoh karena cinta." setelah iru Bapu Ridhwan.


Fitri yang mendapat isyarat dari Kameie kemudian bertanya pada Bapu Ridhwan tentang dirinya dan kakek dari Kameie.


melalui terjemahan bahasa yang Fitri bahasakan kepada Kameie, jelaslah bagi laki-laki itu siapa sebenarnya kakek ringkih yang berdiri disamping Chiyome itu.


pada jaman penjajahan jepang di indonesia, Mamoru Mochizuki adalah salah satu tentara berpangkat kapten, merupakan salah satu personil dari Armada ke 3 yang ditugaskan di Gorontalo. secara garis komando, Mamoru Mochizuki adalah salah satu perwira yang tunduk dibawah perintah Laksamana Terauchi yang menguasai wilayah Asia Tenggara.


dalam pertempuran antara pasukan Rimba yang terdiri dari kaum hulanga (petani) melawan pasukan jepang paska peristiwa heroik tanggal 23 Januari 1942, saat itu Nani Wartabone berhasil ditangkap pemerintah militer jepang dan diasingkan ke Manado pada bulan Juni 1944.


pertarungan pribadi antara Ridhwan Mantulangi dengan Mamoru Mochizuki terjadi saat sebagian besar anggota pasukan rimba ditangkap. pasukan jepang itu menantang para petarung-petarung Gorontalo untuk menjajal kemampuan beladiri para pendekar jepang.


dari semua pertarungan yang terjadi, pertarungan Ridhwan dengan Mamoru yang paling seru. Mamoru seorang pendekar yang menguasai seni yawara (seni beladiri campuran aikido dan judo) melawan Ridhwan yang merupakan seorang pakar seni langga. pertarungan keduanya imbang. atas permintaan Ridhwan, seluruh tahanan orang Gorontalo dibebaskan, asalkan dengan syarat, Ridhwan harus memenuhi tantangan Mamoru jika setiap kali diinginkan oleh pemerintah jepang saat itu.


ketika pasukan jepang ditarik oleh sekutu, Mamoru mengunjungi Ridhwan secara pribadi. pria itu menyerahkan pedangnya kepada Ridhwan. dengan bahasa indonesia yang patah-patah, Mamoru berpesan kepadanya.


"Aku tinggalkan pedang ini padamu. aku berharap suatu saat kita akan berjumpa lagi. tapi, jika aku tak lagi sempat menemuimu, aku berharap keturunanku yang akan mengunjungimu. kalau kau menemukannya, serahkan pedang ini padanya. dan kuharap, kita akan tetap berjodoh." ujar Mamoru.


selesai bercerita, Bapu Ridhwan tanpa sadar menangis, membuat Chiyome langsung memeluk kakek ringkih iru dan mereka bertangisan bersama.


setelah puas menangis, Bapu Ridhwan menenangkan emosinya lalu tersenyum. dilepaskannya pelukan Chiyome.


"Anak ini berhak menerima pedang milik buyutnya. laksanakan dulu pernikahannya, setelah itu aku dapat melaksanakan amanat sahabatku." kata Ridhwan.


setelah beberapa patah kata dalam perbincangan akrab itu, Bapu Ridhwan memerintahkan Adnan dan Mariana untuk mengurus dokumen yang diminta Kameie untuk memperlancar proses menuju pernikahan cucu buyutnya.


...**********...


sesuai arahan Kameie, Adnan segera mengurus segala administrasi pernikahan Kenzie di kelurahan. pria itu tidak mau ada yang terlewatkan dan dapat menghambat proses pernikahan putranya.


sementara Kenzie mendatangi Trias dirumahnya. pemuda itu menyambut sahabatnya tersebut.


"Hai, tumben kau datang. lama juga kau absen ya? siswa-siswa kelas kita sudah pada kangen tuh...." kata Trias sambil terkekeh.


"Aku nggak dikasih duduk nih?" tanya Kenzie.


"Seeeeh... alasan basi tau lo. nggak dipersilahkan juga kamu duduk nggak pake nanya." kata Trias.

__ADS_1


Kenzie tertawa lalu duduk disofa beranda tersebut. Trias duduk didepannya.


"Tumben kamu nggak bawa Chiyome. lagi marahan?" tanya Trias.


"Dia lagi dipingit." jawab Kenzie.


"Seeeeh... lagi dipingit. memang kau mau nikah?" kata Trias dengan santai. tapi sedetik kemudian pemuda itu tersadar dan menatapi Kenzie dengan serius. "Kamu mau nikahan Ken? serius kamu?!"


Kenzie mengangguk, "Aku ikut ijazahnya lo." guraunya. ikut ijazah disini maksudnya adalah mengikuti cara yang pernah dilakukan oleh orang lain. dalam kasus ini, Kenzie mengikuti cara Trias, yaitu nikah pada masa usia sekolah.


pemuda itu menggeleng-geleng. "Bisa juga ya kamu. pake cara apa?" selidik Trias.


"Sedikit mirip dengan kamu. bedanya, punyaku lebih dramatis." jawab Kenzie kembali tertawa. "Aku ngancam mau bunuh diri jika tidak dinikahkan dengan Chiyome."


"Sableng juga otak kamu ya? memang kalau tetap nggak direstui, kamu tetap mau bunuh diri juga? hadeeh otakmu kamu taruh dimana? hah? kamu taruh dimana?" kata Trias sambil memeriksa semua bagian tubuh Kenzie selain kepalanya.


dengan kesal Kenzie menampar wajah Trias. "Memang ada tempat lain untuk menyimpan otak selain kepala, hah?" ujar Kenzie sambil mendorong kepala Trias hingga pemuda itu kembali terduduk di sofa.


Kenzie menarik napas panjang. "Kami akan menikah di jepang. ayahnya Chiyome tidak mau kami menikah siri."


"Beeeh... hebat ente. bisa lihat salju sama istana-istana samurai tuh..." kata Trias dengan iri.


"Kamu juga ikut. kamu temani aku kesana. Om Endi wakili Papa. karena Papa nggak bisa ikut, karena harus menghadiri konferensi para pedagang se-Indonesia yang akan dilaksanakan di jakarta selama 1 bulan dan gak bisa ditunda." kata Kenzie.


"Benar nih?" tanya Trias nggak percaya.


Kenzie mengangguk membuat Trias langsung berteriak kegirangan. "Jepang! aku dataaaang!"


"Kamu mau ajak Iyun?" tanya Kenzie.


"Ya iyalaaa... masa istri ditinggali. bentar kalau kalian asyik indehoy, aku mau indehoy dengan siapa? patung salju?" jawab Trias dengan kocak.


Kenzie mengangguk. "Ya sudah, kalau begitu. aku cabut dulu. nanti kita akan bertemu sama-sama diBandara."


Kenzie bangkit lalu melangkah meninggalkan beranda. sepeninggal Kenzie, Trias langsung berdiri dan berlari kebelakang sambil teriak kegirangan.


untung saja Iyun sedang berada dirumah ayahnya. kalau tidak, tentu pemuda itu akan menerima cubitan lagi karena bertingkah konyol.


hari keberangkatan itu tiba. rombongan keluarga Lasantu dan Mochizuki ditambah Trias dan istrinya, bersama Endi telah bertolak dari Bandara Jalaluddin Gorontalo menuju Jakarta untuk berpindah pesawat.


sebelumnya Endi, Trias dan Iyun sudah diingatkan untuk mengantisipasi efek samping ketika melakukan perjalanan lewat udara. jika telinga merasa sakit, disuruh untuk mengunyah meskipun tidak ada yang dikunyah. dan berbagai efek samping lainnya beserta penanggulangannya.


penerbangan ke Jakarta memakan waktu 4 jam. di Bandara Soekarno-Hatta, mereka berganti pesawat yang akan membawa mereka menuju Haneda, Tokyo.


Trias dan Endi, dua ayah-anak yang kerap mengalami telinga berdenging. keduanya kemudian menggerakkan kedua rahangnya seperti mengunyah membuat para penumpang lainnya heran dengan perilaku mereka.


perjalanan ke Tokyo memakan waktu 11 jam dengan kecepatan 500 km/jam. pesawat mengudara membelah angkasa indonesia menuju ke arah utara dengan tujuan Tokyo. mereka tiba di jepang pada pukul 17 waktu setempat.


penyambutan yang digelar Ienaga, sempat membuat Endi dan Trias terkaget-kaget. pasalnya, mereka dikawal seperti pejabat penting.


"Ken, kenapa kita dipenuhi pengawal seperti ini?" tanya Trias.


"Untuk memastikan kita selamat tanpa tujuan." jawab Kenzie dengan santai.


"Teleilolo... ente kira, kita-kita ini barang, harus dijaga agar selamat tanpa tujuan?" tanya Trias dengan kesal.


Kenzie menunjuk Chiyome yang melangkah tenang dalam rombongan orang tuanya. Trias terkejut melihat raut wajah Chiyome yang begitu dingin. tatapannya tajam dan aura angkernya nampak.


"Kamu tau, kenapa kita dikawal?" pancing Kenzie.


"Memang kenapa?" tanya Trias.


"Karena kita bisa dijadikan target pembunuhan." jawab Kenzie dengan lirih.


"Kamu jangan nakutin kami, Ken. seenak jidat kamu bilang seperti itu." sembur Trias sambil meninju lengan Trias.


"Aku serius." jawab Kenzie pendek.


"Dan kau tahu kenapa raut wajah Chiyome seperti iru?" pancing Kenzie.


"Alaaa... paling karena dia mengalami jetlag." jawab Trias.

__ADS_1


"Karena dia harus memperlihatkan wibawanya dihadapan anak buah ayahnya." jawab Kenzie.


"Ayahnya siapa? pengusaha? pejabat?" tanya Trias.


"Yakuza..." jawab Kenzie.


Trias hampir berteriak namun keburu membungkam mulutnya sendiri. gelagapan ia melihat sekelilingnya. pantas para pengawalnya bertampang sangar dan mahal senyuman.


"Chiyome.... seorang yakuza?" tanya Trias dengan lirih.


Kenzie mengangguk. "Sebaiknya kau jangan memberitahu hal ini pada Iyun. ingat, mereka bersahabat. bisa jadi karena jati dirinya membuat Iyun takut menjalin hubungan persahabatan lagi."


"Oke, aku tak akan memberitahunya" jawab Trias.


"Bagus. trima kasih...." balas Kenzie.


tak ada lagi pembicaraan antara keduanya. mobil yang mereka tumpangi menyusuri jalanan dengan destinasi sebuah hotel. Endi dan putra serta menantunya ditempatkan dihotel bersama beberapa pengawal yang dipimpin oleh Yasuyori.


mobil yang dikendarai Chiyome, Kameie, Fitri dan Kenzie menuju rumah kediaman mereka. digerbang, ternyata Ienaga yang didampingi Koreyuki sudah berdiri menyambut mereka.


Kameie keluar dari mobil disusul Fitri. Ienaga membungkuk disusul oleh Koreyuki. tak lama kemudian muncul Chiyome dan Kenzie.


"Aha! Chiyo-Hime, akhirnya muncul juga." olok Koreyuki.


Koreyuki menatapi Kenzie yang berdiri dibelakang Chiyome. ia menatapi gadis itu.


"Siapa itu?" tanya Koreyuki.


"Kau nggak diberitahu Paman Ienaga?!" omel Chiyome. "Dia calon suamiku!"


mata Koreyuki membulat. "Nggak salah kamu? masih sekolah sudah mau menikah?!"


"Memang kenapa? kau sendiri begitu lulus langsung menikah, kenapa aku nggak bisa?!" tantang Chiyome langsung pergi meninggalkan Koreyuki.


Kenzie baru saja hendak melangkah ketika Koreyuki mencekal tangannya. "Kamu .... bagaimana bisa jatuh cinta pada kembang kematian?"


"Kembang kematian?" gumam Kenzie.


Koreyuki tertawa, "Jadi kau belum kenal siapa dia sebenarnya.... sungguh terlalu..."


"Sekali lagi kamu nyerocos sembarangan, kuhamburkan tulang-tulangmu!" potong Chiyome yang tiba-tiba dibelakangnya. Koreyuki terlonjak kaget.


"Ngapain kamu disini? tak bisakah aku mengenal calon suamimu?" sembur Koreyuki dengan jengkel.


"Nggak boleh!" balas Chiyome kemudian menatapi Kenzie. gadis itu maju dan menarik tangan Kenzie memaksanya masuk meninggalkan Koreyuki yang mengumpat-umpat sendiri.


...**********...


Ienaga dan Kameie duduk diruang utama. keduanya berhadapan, hanya ditemani makanan siap saji dan beberapa kaleng soda dan 4 botol sake.


"Bagaimana perkembangan di organisasi selama aku tak ada?" tanya Kameie sambil menggigit paha ayam tanpa melihat Ienaga.


"Masakado sudah tak memiliki kekuasaan disini. ia dibuang ke utara untuk menghadapi kelompok Kudo. sekarang ini ada beberapa rumor tentang kamu." kata Ienaga sambil meraih salah satu botol sake, membukanya dan menuang isinya ke gelas.


"Katakan..." pinta Kameie.


"Kau yakin, mengambil laki-laki dari luar untuk memperistri Chiyome?" tanya Ienaga sambil menuang isi sake ke gelas Kameie.


"Anak itu mencintainya. aku tak mau menghalangi keinginan anakku. kedepan dia yang akan mengawasi bisnis pachinko kita di Shibuya. kau sendiri, kuharap bisa mengambil alih kekuasaan Yoshikane." jawab Kameie.


"Kau sendiri mau kemana? apa kau nggak mau bersamaku lagi menguasai wilayah Kanto?" seloroh Ienaga sambil meminum sake.


"Aku mau pensiun. sudah waktunya bagiku untuk memikirkan keluarga. aku sudah terlalu banyak membuang waktu." jawab Kameie.


Ienaga menatapi lama sahabatnya. "Kau akan meninggalkan aku?"


Kameie tersenyum. "Mana mungkin aku meninggalkan sahabatku." ujarnya menatapi Ienaga. "Aku akan kembali ke Mie. hidup dengan tenang disana, dan mendekatkan diri kepada Allah." lelaki itu kembali menatap Ienaga. "Ie-Yuujin.... kita sebagai orang tua, sudah sepantasnya menyerahkan tongkat estafet kepada generasi muda. aku akan melakukannya setelah pernikahan Chiyome. semestinya kau juga begitu, tapi aku tak akan memaksamu."


Ienaga tertawa. "Jika aku melakukannya, otomatis aku harus pulang ke Ryukyu. aku tak bisa membayangkan akan meninggalkan Momotaro kecilku, meskipun Koreyuki dan Hinata akan merawatnya dengan baik."


Kameie tertawa dan mengangkat gelas nya. "Kita memang sudah tua, Ie-Yuujin...." []

__ADS_1


__ADS_2