
hari yang ditunggu itu tiba.
Trias terlihat anggun mengenakan busana pengantin makuta. pakaian itu penuh bertebaran hiasan pasimeni dan daun emas. destarnya penuh hiasan bunga emas pula. sebilah keris terselip disabuk logam yang berukir. Endi menatap putranya dengan tatapan haru yang berkaca-kaca.
Trias menatap ayahnya. "Abah kenapa nangis? ini hari bahagia kok malah nangis?" olok lelaki itu.
"Abah cuma ingat pertama kali kamu nikah sama Iyun." jawab Endi dengan lirih dan terisak.
"Abah... sudah, jangan dibawa kehati. itu sudah berlalu. sekarang lembaran baru dan kita akan mengawalinya bersama-sama." jawab Trias.
pintu kamar terbuka. Adnan melongok dari pintu. "Sudah siap? ayo... kabarnya dirumah ta buwa sudah nggak sabar." ujar Adnan kemudian terkekeh.
"Ayo..." ajak Trias.
pengantin itu dikawal dua lelaki itu melangkah keluar dari rumah. disana telah menanti Kenzie, Chiyome dan putranya. Aisyah dan Bakri mengenakan pakaian couple, begitu juga dengan Kenzie dan istrinya.
melihat Trias mengenakan pakaian pengantin. Kenzie kembali didera rasa sentimentil. tak sadar air matanya mengalir. Chiyome langsung menenangkannya. Trias tersenyum.
"Sudah Bro. nggak usah mewek lagi. kita akan mengawalinya bersama-sama. dukung aku, Bro." ujar Trias dengan senyum tabah.
"Okey bro." ujar Kenzie.
keduanya melakukan toss gaya mereka. setelah itu mereka menaiki kendaraan. pengantin naik bersama Endi dimobil Adnan sedangkan Kenzie sekeluarga menaiki Mc Laren Pirelli kuningnya. iringan mobil itu ada lima. tiganya berada didepan membawa seserahan dan kola-kola.
mobil meninggalkan kawasan Ipilo menyusuri jalanan 23 Januari membelok ke jalan Cumi-cumi, memotong jalan Banjar dan menyusuri jalan Goropada terus membelok ke jalan Jalaludin Tantu menyeberangi jembatan Talumolo dan membelok ke kiri menyusuri jalan Bypass.
rumah keluarga Saripah berada di kelurahan Botupingge. disebuah rumah sederhana yang kini dipasangi hiasan-hiasan semarak. lima mobil itu berhenti dan Trias keluar dipayungi oleh Endi. Adnan dan istrinya, Kenzie sekeluarga dan Aisyah sekeluarga berdiri dibelakang mempelai laki-laki.
seorang utusan maju menyampaikan tuja'i dan dibalas dengan tuja'i pula. keduanya saling melontar pantun tradisonal berbahasa daerah. setelah saling sambut menyambut pantun, mempelai laki-laki dibawa oleh pembantu perayaan menuju ke sebuah ruangan lapang. Semantara itu Saripah diakad dalam kamar menggunakan sehelai sarung yang dipegang diujungnya sedang ujung lainnya dipegang oleh penghulu.
Trias duduk bersimpuh. satu kakinya terlipat kedepan. tangannya terulur dan dijabat penghulu. setelah pembacaan dua kalimat syahadat, istighfar dan shalawat Nabi Muhammad, sang penghulu memulai akadnya.
"Trias... Trias... Trias... aku nikahkan dan kawinkan kamu dengan perempuan bernama Saripah binti Fahruriza Hamid yang diwalikan kepada saya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 7,5 gram. dengan ini, maka telah nyata Saripah menjadi istri kau yang sah atas mahar tersebut. Apa kau terima nikahnya?!" seru Penghulu menjabat tangan dengan erat dan menekan ibu jari Trias dengan keras.
"Saya terima nikah dan kawinnya Saripah binti Fahruriza Hamid dengan mahar tersebut diatas tunai!!!" jawab Trias dengan keras dan tegas.
penghulu menatap para hadirin yang menyaksikan akad tersebut "Wololo????"
"Saaahhhh..." jawab para hadirin.
penghulu mengangkat tangan dan diikuti para hadirin. pembacaan doa itu selesai dan Trias kembali dibimbing oleh syarada'a menuju kamar dimana Saripah berada. sebelum masuk, syarada'a melemparkan beberapa koin kedalam ventilasi kamar tersebut, kemudian pintu itu dibuka. Trias kemudian disuruh meletakkan jempolnya pada tengah dahi Saripah, lalu keduanya dipersandingkan diranjang.
setelah sesi foto pengantin, dilanjutkan dengan foto bersama keluarga dan kerabat serta beberapa tamu. setelah itu acara dilanjutkan santap bersama.
...****...
acara dilanjutkan malam itu disebuah hotel ternama. dan acara resepsi itu akan dilengkapi dengan upacara Sangkurpora. kelompok Pasopati mendapat kehormatan melaksanakan prosesi sangkurpora tersebut.
Trias muncul mengenakan seragam PDUP lengkap dengan tanda pangkat dan beberapa lencana kehormatan. tali bahu nampak menggantung disisi kanan dengan corak kuning-hitam melambangkan warna khas kesatuan bhayangkara.
sementara Saripah mengenakan kebaya dengan hiasan dalam jilbab pashmina khusus pengantin wanita. bawahannya adalah batik corak geringsing. kedua mempelai itu muncul dari pintu.
Marwan Djubu selaku komandan menghadap kepada Wakapolres Gorontalo, melaporkan bahwa upacara sangkurpora akan segera dilaksanakan. setelah wakapolres memberi ijin maka Marwan memerintahkan kesemua anggota Pasopati langsung membentuk banjar saling berhadapan.
"Sangkurpora! hormat!.... grakk!!!" seru Marwan.
seketika semua anggota Pasopati yang mengenakan seragam resmi meloloskan sangkurnya dan mengangkatnya keatas meniru bentuk pintu. Trias dan Saripah melangkah melewati satu demi satu pasukan penggerak sangkurpora hingga akhirnya keduanya tiba dikursi mahligai.
tidak ada kegembiraan yang paling indah selain mempersunting putri semata wayang Fahruriza tersebut. Saripah berkali-kali menampakkan wajah penuh kebahagiaan. senyum tak pernah pudar dari wajahnya.
Kenzie sekali lagi hanyut dalam perasaan harunya. entah kenapa hari ini perasaan sentimentil terus menggelayuti dirinya. Sandiaga sendiri hanya menatap heran dengan perilaku ayahnya. ia menjawil lengan ibunya.
"Ma... Papa kenapa? sejak dari rumah Abah sampai di hotel kerjanya nangis saja. kayak mau melepaskan anak kesayangan saja." gerutu Sandiaga.
__ADS_1
Kenzie menatap putranya dan menyusutkan airmatanya. disapunya pundak Sandiaga. "Kau akan tahu pada akhirnya." ujarnya dengan lembut.
Chiyome tersenyum lalu menyapu kepala putranya. "Biarlan Papa melampiaskan emosinya. Papa sudah lama tak menumpahkan air mata."
Sandiaga hanya mengangguk-angguk, tapi tetap saja benaknya diliputi rasa misteri. aku harus bisa menemukan kebenaran itu.
sementara acara selanjutnya adalah nasihat pernikahan dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama. beberapa pejabat kepolisian ditempat kerja Trias tampil mengabadikan dirinya bersama pasangan pengantin itu. acara selanjutnya adalah santap bersama.
sebagai bagian dari keluarga, Keluarga Lasantu tidak ikut makan bersama para tamu. mereka membaur bersama keluarga pengantin mengurus segala kegiatan.
Acara itu berlangsung hingga pukul 23.30 WITA sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh pihak polres Gorontalo dan pihak manajemen hotel tersebut.
Trias menyambut setiap teman yang menyalaminya. mereka pamit hendak meninggalkan tempat tersebut. akhirnya kini ruangan luang itu menjadi lengang dan tersisa keluarga pengantin dan kerabatnya. pihak manajemen hotel muncul mengerahkan para pelayan yang membawa baki-baki prasmanan khusus keluarga pengantin. mereka meletakkannya dimeja bundaran besar. disana berkumpul Adnan, Mariana, Kenzie, Chiyome, Trias, Saripah, Bakri, Fahruriza dan Endi. Aisyah memilih tidak hadir karena hendak menidurkan Sandiaga dikamar. makanan untuk jilbaber itu telah diantarkan pelayan ke kamarnya.
"Aku bersyukur.... kalian berdua sekarang sudah halal." ujar Fahruriza seraya menaruh sayuran dalam hidangan dipiringnya. "Tinggal satu yang kami, orang-orang tua harapkan dari kalian berdua."
Endi tertawa disusul Adnan dan Mariana. Kenzie dan Chiyome serta Bakri hanya senyum-senyum saja. Saripah terlihat tersipu mendengar ungkapan tersebut.
"Nggak lama itu." ujar Trias dengan tenang dan datar. "Kami berdua juga nggak mau menunda. targetnya setahun sudah ada. tiap tahun mesti ada."
ungkapan itu semakin mengundang tawa. Kenzie mengolok. "Sadar diri Bro. memang Ipah peternakan ya? setiap tahun harus berproduksi?"
Saripah makin tersipu begitu juga dengan Chiyome. Adnan melihat menantu perempuannya itu. "Ih, kami olokin Ipah, kenapa Adek yang baper?.... lebay..." olok Adnan.
"Aaahhh.... Papa!" rengek Chiyome dengan manja.
"Iya... kayaknya mereka berdua ini mau berlomba. iyakan Dek?" seru Mariana dengan tiba-tiba menjulurkan tangan mencubit hidung Chiyome.
"Aaaugghhh.... sakit Maaa..." jerit Chiyome dengan kesal. "Ih, Mama memang psikopat. setiap ketemu Adek, selalu saja hidung ini yang jadi sasarannya. kenapa sih Mama nggak cubit saja hidung Kak Ais?!"
"Nggak seru kalau nggak ada ritual nyubitin hidung kamu." jawab Mariana seenaknya.
Adnan tertawa dan menyapu kepala Chiyome. "Mama rindu berat sama kamu. setiap malam, perihal kamu saja yang dibicarakannya. eehhh... Papa sampe bosan mendengarnya dan langsung ambil posisi ngorok."
"Nggak bisa, sayang." tolak Mariana. "Itu rumahnya Bapu Ridhwan siapa yang mau jagain?"
"Bagaimana kabar cucuku itu? bagaimana perkembangan pendidikannya?" tanya Adnan.
"Heehhhh.... pembuat onar yang cerdik." jawab Chiyome.
"Maksudnya?" tanya Adnan tidak paham.
"Sandiaga berkali-kali bikin kehebohan disekolah. dari pengajuan petisi lompat kelas sampai menolak klaim para guru tentang materi pelajaran yang dibawakannya dikelas." jawab Saripah.
"Apa? calon mantuku serevolusioner itu?!" seru Trias dengan kaget.
"Kayaknya dia perpaduan antara kalian berdua deh." kata Chiyome menatap Trias dan Kenzie. "orangnya meskipun nggak banyak lagak, tapi pandai bicara dan berorasi."
"Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. itu perawakan Kenzie semasih kecil. keduanya biang kerok dikelas." kata Endi dengan senyum dikulum. "Ada kisah menarik mereka masih kecil dulu."
"Abah... nggak usah diceritain..." tegur Trias.
"Ceritain Abah... please..." pinta Saripah kemudian memelototi Trias. lelaki itu mendesah dan menggeleng-geleng.
"Kisahnya begini..." Endi mengawali ceritanya. "Dulu, kalau nggak salah kelas 5 SD. keduanya kedapatan terlambat dan ditahan di gerbang sekolah. oleh guru penjaskes waktu itu, Kenzie ditanyai mengapa ia terlambat."
"Ahhh... aku ingat kisah itu." sela Adnan kemudian tertawa. "Mama ingat nggak cerita guru penjas waktu itu. dia nanya ke Kenzie; mengapa kamu terlambat? Kenzie spontan menjawab; maaf pak, tadi saya mimpi naik sepeda mutar-mutar kota dan akhirnya saya terbangun... ingat, kan?" kata Adnan membuat Kenzie langsung memasang wajah masam dan Chiyome tertawa melihat ekspresi wajah suaminya.
"Terus yang dijawab Trias, apa Abah?" tanya Saripah penasaran.
"Guru penjas itu kemudian bertanya kepada Trias; trus kamu? apa alasanmu? Trias langsung menjawab; dia mimpi ikut boncengan disepeda yang dikayuh Kenzie." jawab Endi.
seketika meledaklah lagi tawa. yang tak tertawa disitu hanyalah Kenzie dan Trias karena keduanya merupakan pusat obrolan.
__ADS_1
Kenzie menatap Trias, "Kenapa juga kamu bilang begitu?"
Trias tertawa, "Sori Bro. aku nggak punya pilihan lain selain bilang begitu."
Saripah tertawa. "Tak kusangka ternyata kamu orang yang prokololo juga dulunya."
"Aku memang begitu sejak dulu." jawab Trias menatap Saripah lalu senyum. "Tapi, cintaku padamu, bukan prokololo...tapi memang jauh dari hatiku yang terdalam."
"Gombaaaallll...." olok yang lainnya serentak lalu tertawa.
"Hutodu lo bulenditi... Belum apa-apa sudah ngegombal... apalagi kalau sudah punya apa-apa." olok Bakri.
...******...
Trias baru saja melepaskan pakaian PDUP saat Saripah muncul dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. gadis itu baru saja mandi menyegarkan diri karena gerah semalaman dalam balutan pakaian kebaya itu.
"Abah... sudah mandi belum? nggak gerah seharian pakai PDUP begitu?" tanya Saripah.
"Tentu saja gerah. nih lagi mau mandi." jawab Trias melangkah menuju gantungan handuk dan mengambil sehelai handuk besar dari sana.
"Ya sudah. mandilah dulu. Ipah tunggu ya?" kata Saripah duduk mengeringkan rambutnya.
"Tunggu? memangnya mau ngapain?" tanya Trias.
wajah Saripah langsung cemberut. "Jadi Abah nggak mau? ya sudah..." ujar gadis itu langsung melangkah menuju lemari.
"Iya... sudah tahu, biar nggak diberitahu... bercanda tadi." kata Trias.
"Tapi Ipah serius, Abah!" jawab Saripah dengan ketus.
"Iya... maaf..." kata Trias lalu masuk ke kamar mandi. tak lama kemudian terdengar suara shower yang memancarkan air membilas tubuh.
Saripah mengeluarkan secarik pakaian lingerie dari dalam lemari dan mengenakannya. pakaian itu sangat tipis sehingga menerawangkan bentuk tubuh Saripah yang langsing berisi.
gadis itu langsung berbaring dan mengambil majalah di nakas kemudian membacanya. tak lama Trias muncul hanya mengenakan handuk mempertontonkan tubuhnya yang bersepir cutting style membuat Saripah yang membaca majalah melirik diam-diam dan menelan ludah.
wawwww.... pantasan Iyun betah benar berada disampingnya. kekar benar si Abah. gimana dia meluk aku ya... uduuuh jadi penasaran nihhh...
tanpa sadar gadis itu tersenyum. Trias menuju lemari dan mengambil sebuah celana boxer dari sana. setelah itu oa melepaskan handuk.
lagi-lagi Saripah ternganga dibalik majalah itu. wawww... pinggulnya.... uhm uhm...
Trias telah mengenakan celana itu lalu berbalik menuju ranjang. ia pura-pura tidak memperhatikan Saripah, langsung duduk setengah berbaring dan ikut membaca majalah.
Saripah lama-lama marah juga melihat gaya Trias yang terkesan cuek. dicampakkan majalah itu dan ia duduk bersimpuh bercakak pinggang.
"Nih kamu serius nggak sih sama aku?!" seru Saripah geram.
Trias menurunkan majalah lalu menatap Saripah. "Lho? memang aku nggak serius nikahin kamu?"
Saripah langsung berbalik memunggungi Trias dan menangis. "Huuuu huuu huuu... nggak ada gunanya aki berpenampilan begini... nggak bikin kamu tertarik... huuuu huui huuu... Yuuun... maafin aku Yuuuu... huuu huuu huuu..."
Trias tersenyum dan langsung memeluk Saripah dari belakang. "Sori, sengaja becandain kamu."
tiba-tiba Saripah tertawa. "Praaannnkkkk...." serunya.
"Apa?! kamu kerjai aku?!" seru Trias kaget dan Saripah berbalik lalu tertawa.
"Nggak bisa diterima!!! kau harus membayar kesalahanmu sekarang!" seru Trias dengan watak marah dan mendorong Saripah hingga terjengkang diranjang.
Saripah menjerit-jerit senang ketika Trias menggelitiknya lalu lelaki itu langsung menghujamkan ciuman gairahnya ke bibir Saripah. keduanya menyatukan olah rasa melalui aktofitas itu, dan Trias tanpa canggung merobek lingerie bagian dada sehingga nampaklah kedua bongkahan gunung berstupa coklat pudar itu. Trias langsung menyusu disana membuat Saripah mengerang kegelian dan gairahnya makin memuncak.
nan gadis itu memekik lirih ketika Trias menjebolkan miliknya kedalam diri gadis itu. darah keluar membasahi seprei ranjang dan keduanya melakukan aktifitas penyatuan itu makin intens hingga akhirnya dipermainan kedua, keduanya mendongak mengejang melepaskan saripati masing-masing bersama hasrat yang sekian lama tertahan, kini terlampiaskan dalam penyatuan cinta yang halal.[]
__ADS_1