
sering kita mengira bahwa sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. sering kita mengumpat jika apa yang terjadi kepada kita ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. sering kita mengharap terlalu banyak namun tidak siap menelan kekecewaan yang banyak pula jika apa yang kita harapkan tak pernah sama dengan kenyataan yang berlangsung dihadapan.
manusia terlalu gampang memutuskan apakah ia akan menjalani sesuatu tanpa memikirkan resiko dan kerugian apa yang menanti diujung jalan yang sama sekali tak diprediksikan. dan ketika semuanya terjadi. sering manusia tak mengakui kesalahan tapi mencari pembenaran dengan menyalahkan waktu, pelaku, bahkan Tuhan yang membuat alur peristiwa terjadi. manusia terlalu buta untuk mengetahui kesalahannya yang kecil sebagaimana virus Sars 2019- CoV2 tapi sangat terang memandang kesalahan orang lain yang terlihat sebagaimana puncak everets sebagaimana apa yang sementara terjadi saat ini.
...*******...
sebulan peristiwa pemblokiran akun milik Puspita Kusmaratih membuat karyawati itu mengajukan keberatan dengan mogok kerja. hal ini disampaikan langsung oleh Dewinta Basumbul atas pemberitahuan Nur'afni Rumagit yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pemasaran. sebuah surat dilayangkan bersama dan diserahkan ke tangan Kenzie secara langsung.
direktur utama Buana Asparaga.Tbk tersebut membaca surat protes itu dan tersenyum lagi. ia melipatnya dan memasukkan kembali lipatan surat kedalam amplop. Kenzie menekan tombol pesawat telpon.
☎️ "Ya ada apa pak?" tanya Dewinta Basumbul.
☎️ "Ke ruanganku sekarang juga!" ujar Kenzie.
☎️ "Siap pak." jawab Dewinta Basumbul.
Kenzie menyandarkan punggungnya disandaran kursi. tak lama kemudian pintu kaca membuka dan masuklah Dewinta memegang sebuah dossier hitam kemudian meletakkan benda itu di meja kerja Kenzie.
"Apa itu?" tanya Kenzie.
"Laporan berkala setiap pekan dari operasional perusahaan." jawab Dewinta Basumbul.
Kenzie mengangguk-angguk. kemudian ia menatap sekretaris pribadinya itu.
"Sejak kapan Puspita tidak bekerja?" tanya Kenzie.
"Sejak Bapak membekukan akunnya." jawab Dewinta. "Itu kan akun untuk pembayaran gajinya pak. jadi dia tak bisa lagi menerima kucuran gajinya setiap bulan karena bapak blokir."
Kenzie mengangkat alis dan menarik napas. "Salahnya sendiri menyisipkan aplikasi malware ke sistim operasional digital Buana Asparaga.Tbk dan menyebabkan ketidak stabilan poin saham kita di Bursa Efek."
"Kayaknya juga Bapak agak berlebihan." nasihat Dewi. "Bapak kan bisa melakukan cara lain tanpa harus memotong leher Puspita seperti itu."
"Apa dia nggak mikir, jika poin saham kita bergerak turun, maka seluruh pegawai disini akan merasai pemutusan kerja?" ujar Kenzie mengangkat sebelah alisnya. direktur utama itu bangkit dan melangkah memutari meja kerja kejudian menyandarkan pinggulnya disisi meja kerja tersebut dan menatap Dewi yang duduk tenang dikursinya.
"Lalu... apa tak ada berita lain tentang dia? kamu tahu alamat rumahnya?" tanya Kenzie.
"Wah, nggak tahu saya pak. tapi kan data dirinya pasti ada dibagian HRD." jawab Dewi.
"Ya sudah. kembalilah ke kubikelmu." ujar Kenzie.
Dewi membungkuk datar di kursinya lalu bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan. Kenzie menekan lagi tombol dipesawat telepon.
☎️ "Ya, Pak?" jawab direktur HRD.
☎️ "Bawakan aku file tentang Puspita Kusmaratih." jawab Kenzie.
☎️ "Ya Pak..." timpal direktur HRD tersebut.
Kenzie kembali menyandarkan punggungnya disandaran kursi mengangkat wajahnya menengadah menatap langit-langit ruangan.
terdengar deringan telpon. Kenzie menatapnya dan menekan salah satu tombol.
beberapa waktu kemudian muncul Dewinta Basumbul membawa lagi sebuah dossier warna hitam dengan sampul bertuliskan nama, nomor pegawai perusahaan, dan jabatan serta foto dari Puspita Kusmaratih.
Kenzie membuka dossier tersebut, mengamati file demi file yang memuat portofolio tentang Puspita Kusmaratih, termasuk alamat tempat tinggalnya.
mmmm.... dia sudah tak tinggal disana rupanya... aaahhhh... ini alamat barunya...
Kenzie mengambil gawai dan memotret alamat tersebut dengan perangkat gawainya. setelah itu Kenzie meletakkan dossier tersebut dan bangkit.
aku akan coba menyambangi alamat barunya itu....
terlalu percaya diri! itu adalah kelebihan sekaligus kelemahan Kenzie yang paling gampang diketahui lawan-lawannya. dalam setiap tindakan, Kenzie tak pernah meragukan apapun, tak mengandalkan apapun selama ia mampu melakukannya sendirian.
dan ia melakukannya kembali saat itu. tak mengontak orang-orangnya, bahkan Bakri dan Chiyome. lelaki itu melenggang keluar dan menemukan Dewi yang sedang memeriksa file yang masuk ke komputer disisi meja kerjanya.
"Dewi... kalau ada yang mencariku, katakan aku sedang keluar." ujar Kenzie.
"Baik, pak." jawab Dewi dengan sigap.
Kenzie mengangguk lalu melangkah menyusuri koridor menuju lift. disana ia bertemu Bakri yang juga baru keluar dari ruangannya.
"Ken, mau kemana?" tanya Bakri.
"Mengamati situasi." jawab Kenzie dengan enteng.
"Situasi? situasi apa?" tanya Bakri dengan heran.
"Mengamati tindakan seseorang yang sedang mengintai kita." jawab Kenzie lagi dengan senyuman.
__ADS_1
Bakri menautkan alisnya sejenak lalu mendatarkan wajahnya. "Kamu sudah terima laporan berkalaku?" tanya Bakri.
"Sudah, tapi belum semuanya kubaca dan kutelaah. nantilah, setelah urusan ini selesai." jawab Kenzie.
terdengar bunyi berdenting dan lift terbuka. keduanya sudah tiba dilantai pertama. Kenzie melangkah duluan kemudian disusul oleh Bakri.
"Kakak kalau pulang ketemu istriku, katakan aku agak telat pulang." ujar Kenzie.
"Baik, akan kusampaikan." jawab Bakri.
Kenzie mengangguk dan terus melangkah menyeberangi ruang lobby hingga menuju pintu utama. waktu saat itu menunjukkan pukul 14.20.
...********...
Intuisi purba seorang istri sering menjadi petunjuk ilahi, sebagai radar yang mendeteksi keadaan atau suasana disekitar maupun firasat yang akan menyelimuti dirinya. apalagi sebagai seorang praktisi beladiri yang telah mencapai tingkat akhir, tentu lebih peka menangkap sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh Tuhan melalui gelombang alam semesta.
Chiyome heran bercampur bingung dan cemas. siang itu, entah kenapa Saburo menangis tanpa sebab. segala cara telah dilakukan oleh ibu muda itu untuk membendung dan meredakan tangis putranya yang berusia setahun itu, namun Saburo tak kunjung meredakan tangis. bahasa tubuhnya mengisyaratkan ada sesuatu yang tak beres.
Aisyah, bahkan Mariana telah ikut bersama menenangkan anak itu namun Saburo seperti tidak ingin ditenangkan.
"Apakah Sandiaga punya penyakit yang tak bisa kita deteksi?" ujar Mariana dengan cemas.
Aisyah menatap Mamanya sejenak lalu menatap Chiyome yang kebingungan.
"Adek, apakah putraku ini sedang sakit?" tanya Aisyah dengan lembut.
"Adek nggak tahu, Kak." jawab Chiyome dengan cemas, "Tadi dia tenang menyusu, tiba-tiba ia menangis keras dan tidak mau kutenangkan.... aku takut..." ujar wanita itu dan Aisyah dapat melihat dengan jelas mata Chiyome yang sudah berkaca-kaca.
Adnan muncul dari kamar lalu menatap jam dinding, lalu mendekati kamar Chiyome yang terbuka pintunya. ia melongok menatap ketiga wanita yang sedang sibuk memenangkan tangisan Saburo.
"Kenapa dia?" tanya Adnan.
"Nggak tahu Papa. tadi aku menyusuinya, tiba-tiba dia menangis dan sekarang tidak mau ku tenangkan." jawab Chiyome dengan cemas yang terlihat jelas.
"Berikan dia padaku." pinta Adnan.
dengan memeluk Saburo yang masih terus menangis, Chiyome mendatangi Adnan dan menyerahkan sang putra ke tangan kakeknya. Adnan dengan sigap menyambut memeluk dan mulutnya kemudian komat-kamit. tangannya terjulur le batok kepala anak itu dan perlahan turun lalu menyapu wajah dan punggung Saburo.
untunglah, berkat upaya Adnan, Saburo akhirnya menghentikan tangisnya dan mulai tenang. Adnan memeluk dan mendesis pelan menenangkan cucunya. perlahan mata Saburo terkatup. mungkin karena kelelahan menangis, anak itu tertidur kembali.
ketiga wanita itu langsung lega dan Adnan menyerahkan Saburo yang tertidur kepelukan ibunya.
pertanyaan itu tak terjawab, karena sesaat pertanyaan terlontar, bunyi deruman mobil terdengar. terdengar bunyi pintu mobil dibuka, detakan sepatu yang menaiki tangga beranda dan akhirnya pintu depan terbuka menampakkan Bakri yang melenggang santai menyeberangi ruang tamu dan bersua dengan keempat anggota keluarganya diruangan keluarga.
Bakri berhenti menatap heran kepada ketiga wanita dan ayah mertuanya.
"Kenapa Pa, Ma?" tanya Bakri dengan heran, "Ais... Chiyo... ada apa dengan kalian?" Bakri menatap Saburo yang tidur dalam dekapan ibunya. "Apakah putraku berbuat nakal lagi?"
"Kenzie mana? kok nggak pulang bareng kamu?" tanya Adnan dengan curiga.
"Ooo... Ken tadi bilang dia agak telat pulang." jawab Bakri.
"Telat pulang? apa dia banyak kerjaan?" tanya Adnan.
"Nggak sih. saya ketemu Ken di lift. dia kelihatannya ada suatu keperluan sehingga melangkah dengan agak tergesa." sambung Bakri lagi.
"Dia nggak bilang ke kamu, kemana dia pergi?" tanya Adnan.
Bakri menggeleng dan wajahnya masih menyiratkan rasa heran. "Ais... kenapa sih?" Bakri justru bertanya kepada istrinya.
Chiyome langsung didera rasa tidak nyaman. keterangan Bakri tentang kepergian Kenzie menyulut kecurigaan dalam benak Chiyome.
wanita itu melangkah ke kamar lalu meletakkan Saburo di dalam boks. Chiyome meraih gawainya dan menghubungi nomor suaminya.
nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan. silahkan tekan tombol 1 untuk pembicaraan via mail.
berkali-kali suara operator itu menjawab panggilan telpon dari Chiyome ketika tujuan telekomunikasi tidak menemukan tujuannya. Chiyome menatap mereka yang memandang tegang ke arahnya.
"Hubby nggak menjawab panggilanku..." ujarnya dengan pelan.
...******...
Kenzie memang tidak menggunakan mobil perusahaan, juga tidak mengontak orang-orangnya. lelaki itu sengaja ingin menelusuri jejak Puspita dengan menggunakan jasa taksi online.
seperti biasa, Kenzie lebih mempercayakan revolver Smith & Wesson 617 Longrifle yang tersarung dipinggang kirinya beserta G2 Premium berpeluru 9 mm yang bersembunyi dalam holster dibalik ketiaknya. dengan dua jenis pistol itu ia merasa aman.
Kenzie duduk tenang di jok belakang pada taksi yang sementara dilajukan oleh pengemudinya. Kenzie sudah memberitahu alamat tujuannya kepada sopir tersebut.
kendaraan itu melaju dijalanan pada senja itu. Kenzie sesekali menatap pemandangan kota yang tersaji dibalik kaca kendaraan tersebut. tak lama kemudian taksi online itu berhenti disebuah bangunan berusia tua. lebih mirip sebuah bangunan gaya belanda.
__ADS_1
Kenzie turun dari mobil setelah membayar ongkos taksi tersebut. ia menatap bangunan bergaya belanda itu. dengan mata memicing, lelaki itu memasuki pekarangan dan melangkah menuju pintu. tangannya bergerak mengetok.
TOK... TOK... TOK...
terdengar bunyi kunci diputar.
CEKLEK...
pintu itu membuka. Puspita nampak berdiri dengan wajah yang angkuh. dihadapannya, Kenzie berdiri pula dengan gaya yang tak kalah sama. masing-masing memamerkan aura kekuasaannya. Puspita dengan aura kekuasaan daerahnya dan Kenzie dengan aura kekuasaan jabatannya sebagai direktur utama Buana Asparaga.Tbk.
"Oooo.... anda rupanya..." gumam Puspita dengan pelan.
"Ya... aku... bisakah aku masuk?" pancing Kenzie.
Puspita membuka lebar pintu dan mundur selangkah. lelaki itu melangkah masuk dan berdiri disisi bagian dalam pintu. Puspita menutup lagi pintunya.
"Silahkan..." ujar Puspita menunjuk deretan sofa dengan gaya antik. Kenzie tersenyum tipis dan melangkah lalu duduk santai di sofa tersebut.
"Kelihatannya kau kaya, Pus... mengapa repot-repot bekerja? kurasa kekayaan semacam ini tak akan habis tujuh turunan." pancing Kenzie setengah menyindir.
Puspita melangkah santai menuju bufet dan membuka pintunya. disana nampak deretan botol-botol berisi berbagai merk khamr ternama dari beberapa negara.
"Ah, rupanya kau penggemar khamr ya?" sindir Kenzie.
Puspita tersenyum miring dan mengambil dua gelas banquet crystal dan sebotol anggur putih kemudian melangkah mendekati sofa, meletakkan benda-benda itu dimeja dan duduk sambil menatap Kenzie.
"Aku bukan penikmat minuman semacam ini." ujar Kenzie dengan senyum.
"Tapi anda mengonsumsinya saat temu pejabat perusahaan di Padang waktu itu." pancing Puspita memajukan punggungnya dan membuka tutup botol itu kemudian menuangkan isinya didua gelas tadi. segelas kemudian diambilnya.
Kenzie sama sekali tak menyentuh gelas itu. ia menyilangkan kakinya. "Aku hanya ingin menanyakan satu hal saja, Pus."
Puspita menatapnya sambil mendekatkan bibir gelas ke bibir sensualnya kemudian menyesap isinya dengan pelan. alis yang terangkat menyiratkan sebuah pertanyaan dari air muka gadis itu.
tentang apa????
"Mengapa kau menyisipkan malware yang menggoncang kedudukan saham perusahaan? apa maksudmu?" tanya Kenzie tanpa takut dan memicingkan mata.
Puspita menjauhkan gelas itu dari bibirnya dan tersenyum. "Menurutmu?" pancing gadis itu setengah menantang.
"Kau bekerja sama dengan siapa? aku bersedia mencairkan akunmu, bahkan menggajimu lebih dari itu... asalkan kau beritahu, siapa orang yang berani membeli pegawaiku itu." ujar Kenzie.
"Apa menurutmu, aku melakukan hal itu atas suruhan seseorang?" tantang Puspita dengan lirikan menggoda.
"Jadi inisiatifmu sendiri..." gumam Kenzie mengangguk-angguk lalu terkekeh. "Kau tak sadar menciptakan riak yang akan berpengaruh pada kelangsungan hidup karyawan-karyawan yang menggantungkan hidup mereka pada Buana Asparaga.Tbk?"
"Aku sudah memperhitungkan hal itu?" ujar Puspita dengan tenang.
"Kau sudah gila ya?" ujar Kenzie dengan pelan.
"Aku nggak gila Ken." jawab Puspita membesarkan matanya dan senyumnya merekah.
"Dan kau pikir, aku nggak tahu siapa kamu Pus?" ujar Kenzie dengan senyum.
"Oh ya?" tantang Puspita, "Memang siapa aku?"
Kenzie tertawa. "Banci kaleng!"
PRANGGGG....
Puspita tiba-tiba membanting gelasnya dan pecah berserakan dilantai. wajahnya membesi.
"Apa kau bilang?!" hardik wanita itu memajukan punggungnya.
Kenzie menghentikan tawanya. "Sudahlah... nggak usah berakting lagi.... Budi Prasetya!"
Puspita terhenyak. lelaki itu sudah tahu siapa dia sebenarnya. Kenzie perlahan berdiri dan menatap dengan angkuh.
"Sekeras apapun kau merayuku... menelanjangi dirimu sendiri dihadapanku... tak akan mempengaruhiku, Budi..." Kenzie menutup mulutnya, "Ups... maaf... Puspita..." Kenzie tertawa pelan. "Karena bagiku... tubuh perempuanmu itu palsu."
Puspita berdiri lalu tersenyum dan melipat tangannya didada. "Kenzie Ardiansyah Lasantu.... selamat... anda sudah tahu siapa aku." wanita itu kemudian mengembangkan tangannya. "Tunggu apa lagi?"
seakan sebuah isyarat, tiba-tiba beberapa lelaki bersenjata muncul dan mengarahkan moncong laras pistol G2 Combat kearah Kenzie yang juga dengan sigap mencabut revolver Smith & Wesson 617 Longrifle miliknya dan mengarahkannya ke wajah Puspita.
"Kau mau menembakku? Kenzie?" ujar Puspita dengan senyum, "Tidak kau lihat semua moncong senjata ini terarah padamu?"
"Membunuh akarnya akan mampu membendung jamur yang menggerogoti pepohonan." geram Kenzie.
"Menyerahlah Ken. setidaknya aku masih menghormatimu sebagai atasanku.... jangan paksa aku memerintahkan mereka untuk melobangi tubuhmu dengan peluru!" ancam Puspita dengan geram. []
__ADS_1