Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 96


__ADS_3

malam itu terlihat semarak dirumah kediaman Mantulangi. keluarga besar yang tersebar di seluruh wilayah gorontalo maupun daerah lain yang sempat datang memenuhi ruangan besar dalam rumah itu. perhelatan ini merupakan tradisi yang sering dilakukan.


dikesempatan itu Mariana memperkenalkan menantu perempuannya kepada anggota keluarganya dan menjerit serta memekiklah perempuan itu ketika ramai-ramai ibu-ibu langsung menjulurkan tangan mencubiti bagian wajah Chiyome. wanita itu kemudian memeluk mentuanya dan menangis.




"Duuuuhhh.... yang sudah jadi mama kok masih nangis? malu dong..." tegur Mariana dengan lembut dan menyapu kepala anak mantunya.


"Tapi... sakit Maaa...." sedu Chiyome dibarengi tertawaan ibu-ibu itu.


"Duh, mantunya manja sekali." olok salah satu ibu.


"Iya.... jadi gemes pengen nyubit lagi." timpal ibu yang lain kemudian dibalas tawa oleh ibu-ibu yang lain.


"Iya... tapi saya suka." jawab Mariana. ibu itu kemudian melepas pelukan sementara Chiyome sesenggukan. "Sudah. temani cucu ibu ya?" kata Mariana.


Chiyome mengangguk lalu segera meninggalkan ruangan tersebut, takut diusili lagi oleh ibu-ibu yang lain. wanita itu menuju dapur. disana Ipah sedang asyik memeluk Saburo sambil bercanda. kedatangan Chiyome membuatnya menghentikan kegiatannya.


"Lho? kenapa matamu basah? habis nangis ya?" tebak Ipah. Chiyome mengangguk.


"Kenapa? heran aku. biasanya kalau dijenguk mama mantu gitu kan senang. lho kok malah mewek?" olok Ipah.


"Senang sih senang." gerutu Chiyome. "Tapi habis itu aku dicubiti sama ibu-ibu se ruangan itu. sakit tau!!!" sambung wanita itu mengelus pipinya yang keram dan hidungnya yang sakit.


Ipah tertawa lalu bangkit dan menyerahkan Saburo ke pelukan Chiyome sementara gadis itu kemudian menyiapkan hidangan yang sudah ditaruh dalam tupperware besi khusus prasmanan. gadis itu membawanya ke ruang makan.


baru saja Ipah meletakkan tupperware logam ke tempatnya, tiba-tiba ia dipanggil Mariana. dengan heran, Ipah mendekati ibu itu.


"Ada apa Tante Ana?" tanya Ipah dengan santun.


Mariana menatap seluruh hadirin. "Ini adalah pacar dari anak teman saya. namanya Syarifah Indriana Hamid."


"Ooo.... salam kenal ya.." seru salah satu ibu yang langsung menjulurkan tangannya dan mencubit pipi Ipah dengan gemas, kemudian diikuti oleh ibu-ibu yang lain.


Ipah yang tak menyangka mendapatkan perlakuan unik itu hanya bisa mematung dan menerima semua cubitan itu dengan tatapan tegang. setelah perisitiwa cubitan massal itu, Mariana menyuruh Ipah pergi.


dengan langkah tegang Ipah kembali ke dapur. tatapannya nanar ke arah Chiyome yang menatapnya dengan heran.


"Kamu kenapa?" tanya Chiyome yang heran.


"Aku... dicubit mereka..." jawab Ipah sambil mengelus pipinya yang keram dan merah.


Chiyome sontak tertawa menyadari keduanya mengalami insiden cubitan keluarga. Ipah menggeleng-geleng.


"Chiyo... aku minta maaf telah mengolokmu tadi. Allah langsung membalasnya saat ini juga." kata Ipah lalu duduk disisi Chiyome.


"Ah, santai saja. kamu rasai gimana jadi menantu keluarga Lasantu-Mantulangi, kan?" kata Chiyome.


Ipah kembali menggeleng-geleng. "Kamu sering dicubit berapa kali?"


"Tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik." jawab Chiyome.


mata Ipah membesar, "Hah? yang benar kamu? untung saja pipi sama hidung kamu nggak melempem."


"Ini juga sering diolah ragain lho. kalau nggak diperkuat. nanti pipi aku jadi kayak anjing pitbull tuh." timpal Chiyome.


Ipah tertawa ketika membayangkan chiyome dengan pipi yang melempem ke bawah. gadis itu terpingkal-pingkal.


...********...


"Bagaimana perkembangan latihan kalian?" tanya Adnan kepada dua pemuda itu.


"Kami sudah mulai praktek saling serang. sedikit lagi kami akan menjalani upacara moduhu." jawab Trias.

__ADS_1


"Oh ya? bagus dong. aku tak menyangka kalian berdua bisa secepat itu mempelajari langga." kata Adnan dengan kagum.


"Pa... apa gerakan langga memang seperti itu?" tanya Kenzie.


"Memang kenapa? atau kamu mungkin menyadari sesuatu?" pancing Adnan.


"Gerakan kami seperti gerakan yang merujuk pada 8 penjuru angin." kata Kenzie.


"Tentu saja. yang kalian pelajari kan langga la'i." jawab Adnan.


"Memang ada berapa jenis sih?" tanya Kenzie sambil duduk dibalai panjang.


"Sebenarnya langga terdiri atas dua jenis, yaitu langga la'i dan langga bua. sebenarnya perbedaannya bukan pada struktur geraknya, melainkan pada nuansa agresifitas didalam melumpuhkan lawan. langga la'i cenderung tenang dalam menyambut lawan. itulah sebabnya langga la'i lebih ke arah permainan saja. adapun langga bua itu sangat agresif dalam menghadapi lawan. itulah sebabnya gerak langkah langga bua hanya dua yaitu kebelakang dan ke depan." tutur Adnan.




kedua pemuda itu terus mencermati penjelasan ayahnya tentang langga bua. menurut Adnan, langga dipengaruhi oleh linula (wilayah) sehingga mempengaruhi gerakan tersebut. langga la'i paling banyak dipraktekkan di wilayah bagian Suwawa, Bone dan Batuda'a. langga buai dipelajari diwilayah Tapa yang paling banyak dihuni oleh pohala'a bolango dan limboto.


"Kenapa langga yang notabene diciptakan oleh Ju Panggola (gelar untuk Raja Ilato) terbagi menjadi dua? apakah hal itu disengaja? apakah karena politik jaman dulu?" tanya Kenzie dengan penasaran .


"Ini bukan karena politik antara utara dan selatan. tapi lebih kepada pengembangan-pengembangan pada linula yang dikuasai oleh kerajaan-kerajaan diutara maupun selatan. setiap linula bebas mengembangkan aliran langga yang mereka dalami, terlepas dari kekuasaan kerajaan." jawab Adnan.


kedua pemuda itu saling memandang. sementara Adnan tersenyum.


"Sudah, tamatkan dulu pendidikan kalian disini. nanti kalau sudah di duhu barulah kalian boleh turun gunung nantangi jago-jago langga yang bertebaran di wilayah minapolitan ini." kata Adnan sambil terkekeh lagi.


tak lama muncul Bapu Ridhwan. Adnan menyambutnya dan mencium tangannya.


"Bagaimana kabar Bapu?" sapa Adnan .


"Aku baik-baik saja!" seru Bapu Ridhwan. "Apakah kedatanganmu menikmati hidangan atau hanya sekedar ingin menemui putramu?"


"Bapu lebih paham apa yang ada dalam benak dan hati saya." jawab Adnan sambil tersenyum.


"Kalian perhatikanlah!" kata Bapu Ridhwan.


tiba-tiba Bapu Ridhwan melesat maju menerjang Adnan. untung saja lelaki itu langsung tanggap menghindar dan memasang duduta'o. kaki depan ke depan sedang kaki belakang membengkok, mirip kuda-kuda kokutsu dachi. tangan satunya tertelekean dipinggang sedang tangan satunya terangkat ke atas dengan posisi jemari menutup.


sementara Bapu Ridhwan berdiri melenggak-lenggok dengan tangan yang juga bergerak mirip orang yang sedang menari. tatapannya tak terarah tetap, namun Kenzie maupun Trias memahami bahwa sang kakek sedang terarah penuh konsentrasinya.


kedua lelaki beda usia dan generasi itu sedang melakukan praktek mohudu wawu mohemeto untuk memberi contoh konkrit bagaimana sebuah pertarungan langga yang sebenarnya sedang terjadi.


diiringi sebuah pekikan, Adnan maju menyerang mengerahkan segala kemampuannya sedangkan Bapu Ridhwan hanya bertahan dengan segala kemampuannya.


keduanya kini larut dalam gerak bolubu'o, punggu dan walama. (Gerakan, saling mengunci dan saling meloloskan diri dari kuncian.) kedua pemuda itu menyaksikan pergumulan itu dengan pandangan takjub.


"Kurasa permainan tai chi chuan agak mirip dengan langga ini. lihatlah. keduanya bagai menyatu dalam serangan dan pertahanan yang terpapar dalam gerak yang sama dan seirama." ujar Trias berkomentar.


Kenzie tertawa. "Apa menurutmu Thio Sam Hong dan Ju Panggola pernah ketemu dan diskusi tentang beladiri?"


Trias memandang Kenzie dengan alis bertaut. "Aku serius Ojjaaang.... kamu becandain melulu." ujarnya dengan kesal.


"Lha bukan begitu. masa langga kamu samain dengan tai chi chuan? ya beda laaa.... langga menurutku masih bisa digolongkan dalam jenis silat, tapi aliran kuno, kayak silek, starlak, beksi.... gituu.... nggak bisa kamu samakan dengan kungfu...." bantah Kenzie.


"Aku hanya melihat struktur gerakan... agak mirip." kata Trias.


"Apakah sebuah kemiripan bisa dijadikan patokan bahwa langga adalah bentuk lain daripada tai chi chuan? begitu?" pancing Kenzie.


"Bro, bukankah Kak Bakri pernah cerita, bahwa silat, muay thai dan kungfu merupakan cabang dari beladiri kuno India yang namanya vajramusthi dan khalaripayat?" kata Trias mengingatkan.


"Ya, memang... tapi kan sudah berbeda jauh dari hulunya. seni yang kita pelajari ini adalah seni hilir... kalaupun kau menduga bahwa seni dari asia tenggara dan asia timur berasal dari India, akupun bisa merumuskan bahwa seni kuno dari India berasal dari seni tarung kuno yang diajarkan oleh prajurit-prajurit dari Alexander Agung (Iskandar al-Maqduni) kepada penduduk India ketika mereka melakukan ekspansi kesana. dan bisa jadi berbekal seni beladiri kuno dari Macedonia itulah Chandragupta pendiri dinasti Maurya mendirikan kerajaan pertama di india." jawab Kenzie panjang lebar.


"Aaahhhh... aku tahu kau belajar banyak." kata Trias mengalah.

__ADS_1


Kenzie kembali tertawa. "Nggak juga. kamu kayak sudah lupa aku gimana, kamu gimana..."


Trias tertawa. "Ya, kita sama-sama pelajar seni tarung."


keduanya kembali menatapi pertarungan dihadapan mereka. Trias kembali mengamati.


"Tidakkah ada yang aneh menurutmu?" pancing Trias.


"Apanya yang aneh?" tanya Kenzie.


"Gaya bertarung ayahmu, agak beda dengan gaya bertarung Bapu Ridhwan." jawab Trias.


Kenzie ikutan mengamati dan ia membenarkannya dengan anggukan kepala beberapa kali.


"Apakah mungkin, gerakan Papa adalah.... " gumam Kenzie sambil menatapi Trias.


" Langga Bua???" tebak Trias dengan takjub.


Kenzie mengangguk.


"Papamu belajar dari mana? bukankah Langga yang dipelajarinya berasal dari Bapu Ridhwan?" ujar Trias dengan heran dan penasaran.




Kenzie tidak menjawab dan kembali menonton pertarungan tersebut, hingga pada akhirnya baik Adnan maupun Bapu Ridhwan melepaskan diri dari kuncian mereka dan mengambil jarak 2 meter diantara keduanya.


Adnan mengatur napas, begitu juga dengan Bapu Ridhwan. yang paling membuat Kenzie dan Trias takjub, adalah kebersihan dan kerapian yang terjaga dikala keduanya melakukan praktik mohudu wawu mohemeto. tak secuilpun kotoran di tanah yang tertempel dipakaian mereka. kendati Adnan mengenakan pakaian koko putih yang bersulam benang biru.


"Bapu.... watiya debo ja motame uamu." ujar Adnan sambil tertawa. (aku nggak bisa melampui...)


Bapu Ridhwan tertawa, " Da bo yi'o olo ja mbalajari turusi..." (Kau juga yang nggak belajar terus)


"Wawu wololo perkembangan li mongoliyo dulota ti atiii...?" tanya Adnan dengan penuh harap. (Dan bagaimana perkembangan mereka?)


" Bagus.... Bapu tidak menyangka keduanya secerdas ini. hanya dalam waktu seminggu mereka sudah bisa melakukan mohudu wawu mohemeto seperti kita. meskipun nggak terlalu murni, mereka berdua boleh dibanggakan." jawab Bapu Ridhwan.


" Otutu? Alhamdulillah..." timpal Adnan kemudian mengusap kedua telapak tangannya ke wajah tanda bersyukur.


"Selepas mengupacarakan moduhu ke mereka, aku akan menyerahkan pusaka milik Mamoru kepada Chiyome. sudah sepantasnya sang cucu menerima berkat dari leluhurnya, dan sudah saatnya aku melepas bebanku karena menyimpan pusaka itu." kata Bapu Ridhwan.


...********...


Suwawa, 31 Desember 2020. 09.00 p.m.


Bapu Ridhwan memutuskan bahwa Kenzie dan Trias sudah menamatkan pembelajaran darinya. menurutnya, kedua pemuda itu bagai ornamen yang saling melengkapi. bagai bulan dan matahari yang berbeda namun melengkapi aturan alam semesta dengan rotasi mereka.


"Jika kalian ingin melanjutkan pendidikan langga kalian, belajarlah kepada Adnan. dia bisa memberi pengantar lebih bila ingin mengetahui tentang langga." kata Bapu Ridhwan sebelumnya.


"Dimana Papa mempelajari langga bua?" tanya Kenzie.


"Sama Bapu Yasin di Atinggola." jawab Adnan singkat. lelaki itu tersenyum lalu menyambung, "Nanti Papa ajari kalian berdua. kita bisa latihan di dojo pribadi, kan?" ujarnya sambil mengedipkan mata.


Kenzie dan Trias tersenyum lebar dan mengangguk-angguk bersamaan.


ada kisah menarik tentang langga bua. dahulu ada keluarga pendekar yang memiliki anak seorang perempuan yang pandai langga. suatu kali, sang ayah hendak menjodohkan sang anak dengan lelaki pilihannya, namun sang anak melakukan protes keras. anak perempuan itu mau dipersunting jika sang lelaki dapat mengalahkannya dalam pertarungan langga. sang ayah mengatakan, tak ada satupun lelaki yang bisa mengalahkannya. maka sang putri memudahkan persyaratannya. barangsiapa lelaki yang bisa menyentuh payudaranya dalam pertarungan langga itu, maka dialah yang akan menjadi suami sang perempuan itu.


...*********...


malam itu, diruangan tengah digelar upacara mopitodu untuk terakhir kalinya. upacara ini dikenal dengan nama moduhu, yaitu memberikan berkat lewat darah ayam jantan yang telah dilihat warna kakinya (Lai lo malu'o). sebenarnya upacara ini dilakukan menurut adat setiap linula yang ada. jika linula utara yang banyak dihuni oleh suku Bulango dan Limutu (Limboto), maka ayam yang akan di lai lo malu'o haruslah ayam hutan. sedangkan untuk linula selatan yang dihuni suku Suwawa, Bone dan Batuda'a, ayamnya boleh ayam kampung tapi harus dilihat warna kakinya. hal ini disebut mo pudungga lati lo malu'o.


mengapa harus ayam? dalam kebudayaan Gorontalo, ayam merupakan hewan yang lincah dan agresif, dengan penglihatan yang tajam dari setiap sisi. ayam dinilai sebagau hewan yang penuh kewaspadaan. itulah mengapa muncul sebuah ungkapan de lo tutuluhu lo malu'o (Seperti tidurnya ayam).


ayam yang akan di podungga lati lo malu'o akan disembelih , kemudian darah dan jambulnya akan diambil dan diletakkan dipiring kecil. darah ayam itulah yang akan dibuat pitodu. air pitodu kemudian diletakkan dalam botol.

__ADS_1


Kenzie dan Trias berbaring. Bapu Ridhwan muncul mengenakan pakaian serba hitam dengan piingo memahkotai kepalanya yang berambut gondrong itu. ia kemudian duduk bersila diantara kedua kepala pemuda itu sementara Chiyome memandang dengan perasaan kagum kepada suaminya yang kini berbaring menunggu sang kakek buyut melakukan upacara moduhu wawu mopasi.[]


__ADS_2