
Panti Asuhan Yatim Marhamah, Kelurahan Ipilo. pukul 20.11 WITA.
Adrian dan Afrianto, pemilik rumah mungil memanjang yang dipenuhi taman asri dikawasan dalam komplek panti asuhan itu, duduk santai di sofa. Adrian dengan santai mengeluarkan bungkus rokok dan mengambilnya sebatang kemudian meletakkan bungkus rokok itu dimeja.
Ramli, lelaki kurus itu mengambil bungkus rokok itu dan memeriksanya. sejenak seulas senyum muncul dibibir teposnya ketika melihat sebatang terakhir rokok dalam kotak bungkusan itu. ia mengambil batang rokok itu dan menjepit dengan bibirnya.
Afrianto menatap lelaki bertubuh beruang itu. jambul ubannya menutup sebagian dahinya.
"Apa yang mau kau ungkapkan?" tanya Afrianto.
"Kita punya job lagi rasss..." jawab Kartono.
"Bro, Pengsen'k sudah bubar... kita sudah punya kehidupan masing-masing." kata Adrian.
"Tapi kita masih punya persahabatan. Pengsen'k boleh saja bubar. tapi kita berempat belum bubar." tandas Kartono menatap ketiga kawannya dengan tajam. "Kehidupan keluarga bukan dijadikan alasan untuk lari dari persahabatan..."
"Kamu salah paham." ralat Adrian, "Bukan lari dari persahabatan... tapi membina keluarga merupakan kehidupan baru setiap orang setelah sekian lama ia hanyut dalam komunitas lamanya."
"Pekerjaan seperti apa yang mereka minta untuk kita?" sela Ramli kemudian mengisap batang tembakau itu dengan nikmat. segumpal asap keluar dari bibirnya.
"Pekerjaan lama kita..." jawab Kartono.
Ramli mengangguk. dulu, saat mereka muda dan begajulan, Ramli yang pertama kali menggagas didirikan kelompok itu. dalam sepak terjang, keempatnya lebih mirip The Four of Apocalypse yang malang melintang didunia bawah tanah.
Endrawan pernah mengenal mereka karena kelompok itu tidak punya niat memiliki pengikut. mereka hanya menjalin koneksi, tidak lebih. jumlah mereka tetap empat hingga akhirnya.
setelah puas menjelajahi dunia keras, mereka membubarkan diri. Ramli yang pertama kali menikah dan menanggalkan masa lalunya, memilih sisi lain kompetensinya sebagai seniman jalanan, menerima pesanan melukis papan iklan, sablon kain dan kecakapan lainnya. Afrianto menamatkan pendidikan arsitekturnya dan menjadi konsultan dibidang itu. Adrian yang cakap informatika direkrut pemerintah sebagai aparat sipil negara, dan Kartono memilih jalan sebagai guru hingga akhirnya ia pun melalui garis takdir menjalani hodup sebagai aparat sipil negara.
"Rupanya begitu... kurasa, kita harus membantu sahabat kita Si Sesat Barat ini..." ujar Ramli.
"Sesat Barat?" gumam Kartono mengerutkan alis.
Ramli mengangguk. "Kamu kan sekarang tinggal di Pohuwato. itu daerah barat Gorontalo, kan?"
Kartono mengangkat alis sebelah, "Lalu? maksud kamu menyematkan kata sesat itu apa?" ujarnya meninggi.
"Gaya pemikiranmu nyeleneh... sering melanggar garis... pemberontak pemikiran..." jawab Ramli.
"Tapi aku tak pernah menyesatkan orang lain!" gerutu Kartono.
"Ya, kau menyesatkan dirimu sendiri. kamu punya gaya pikiranmu sendiri... kau lebih mirip Syaikh Siti Jinnar, ketimbang Sunan Kalijaga..." sindir Ramli.
"Ooo.... rupanya begitu..." gumam Kartono. "Kalau begitu, kau kunamai Jantung Selatan!"
"Jantung Selatan?" tukas Ramli mengerutkan kening.
"Kau tinggal diwilayah Leato. itu arah selatan. kau mantan pendiri sebuah organisasi. bagai sebuah jantung yang berdenyut." jawab Kartono.
Ramli tersenyum puas. Kartono menatap kedua kakak beradik itu. "Kau... cahaya Timur..." ujar Kartono menunjuk Adrian.
"Karena aku lawan tanding manusia sesat sepertimu!" tebak Adrian tersenyum masam dan menghisap rokoknya.
"Cerdas...." puji Kartono langsung tertawa, kemudian menatap Afrianto. "Dan inilah Limpa Utara..."
"Tak usah dijelaskan... aku sudah tahu!" gerutu Afrianto mengibas-ngibaslan tangannya.
"Berarti empat pengendara takdir, muncul lagi." ujar Kartono dengan senyum terkembang. "Pengsen'k tidak bubar.... hanya tidur sementara... mereka siuman untuk menjawab tantangan... dan jika semua telah normal... mereka akan kembali menghilang..."
"Deal!" seru Ramli dengan senyum.
"Aku ingin Cahaya Timur mencari selengkapnya jati diri Stefan." pinta Kartono, "Kau Aparat negara yang bertugas di Pencatatan Sipil, kan?" ujarnya menatap Adrian yang kemudian menghela napas panjang....
__ADS_1
"Aku tak menjamin menemukan orang itu dalam waktu singkat." ujar Adrian menghembuskan asap rokok yang langsung mengambang di udara.
"Aku mengandalkanmu." kata Kartono.
"Dan kau mau aku menyelidiki kediaman orang itu? memperhitungkan skala keberhasilan kita? begitu?" tebak Afrianto.
"Seorang arsitek memang tak pernah melupakan kompetensi utamanya." puji Kartono.
"Tugasmu apa?" sela Ramli.
"Membinanya..." jawab Kartono dengan tenang.
"Membina????" desis Ramli dengan suara lirih, "Dan jika tidak bisa???" pancingnya.
"Kau yang membinasakannya..." jawab Kartono dengan enteng.
"Bro... merampas nyawa orang nggak segampang melepas kertas dari cengkraman hekter pada buku." tukas Ramli.
"Tapi kau biasa mencungkil hekter itu hingga bisa menguak dan terpaksa melepas kertas dari kumpulan buku." sindir Ramli sambil merokok lagi.
"Tapi kau... gampang sekali modelmu... cuma mengajar... membina..." tukas Ramli lagi.
"Itukan kompetensiku sebagai guru!!!" jawab Kartono dengan enteng sambil tertawa.
"Tapualemu, tinggolopumu, lobuta ambunguma! ami ndayangamu to dingingo..." umpat Ramli sembari tertawa. (****** kami kau hantamkan ke dinding.)
"Bo odiye olo bisalamu..." balas Kartono. (Hajya sehini saja ucapanmu...)
...*******...
Fitri hanya bisa menggenggam tangan Kameie ketika Adnan menceritakan semuanya yang terjadi, sejak awal putrinya mengenal Stefan hingga akhirnya ia menceraikannya secara paksa dari lelaki itu dengan tuduhan kekerasan dalam rumah tangga.
Fitri menatapi Adnan yang menunduk disisi Mariana yang juga menunduk.
Kameie meremas jemari istrinya. Fitri menarik napas panjang lalu menangis pelan.
"Duuuhhh.... ati'olo yi'o nou... ilotapu laki bo hemo tepa-tepa'a batangamu..." sedu Fitri menyandarkan kepalanya dilengan suaminya. (Kasian kau nak. mendapatkan suami yang hanya tahu menendang-nendang / menyiksa tubuhmu)
Kameie menatapi Chiyome yang memeluk putranya. "Kenapa kamu merahasiakan itu dari kami, nak?" tanya Kameie dengan suara serak.
"Gomen Papa... " jawab Chiyome dengan terisak. sang putra melihat wajah ibunya yang melelehkan air mata dari kelopak matanya, ikut terbawa emosi dan menangis. Kenzie langsung tanggap mengambil Saburo dari pelukan ibunya dan menenangkannya.
"Aku hanya tak mau kamu sedih. kau sudah cukup menderita. aku tak ingin kau lebih menderita karena karma putrimu." jawab Adnan dengan pelan.
"Tapi dia juga putriku! aku berhak mengetahui segala informasi tentang dia!" balas Fitri yang garang, " Mau kamu kulaporkan ke polisi atas dasar menyembunyikan segala informasi Aisyah dari ibunya?!"
"Okasan!!! sudah cukup!" tandas Chiyome. "Papa juga sudah cukup menderita dengan kelakuan Kak Ais. dia yang memetik karmanya sendiri."
"Dia Kakakmu, Chiyome!!" tegas Fitri.
"Apakah kami bisa menjaga dan melindunginya 24 jam penuh? seminggu penuh? sebulan penuh? setahun penuh?" sergah Chiyome, "Tidak Mama! dia yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. kami bisa menjaganya selama dia ada disisi kami. tapi, di Saluopa? Kakak sendiri yang tak menjaga dirinya hingga ia menciptakan karmanya sendiri, dan Mama menyalahkan kami?!"
"Adek..." tegur Adnan.
"Tidak Papa..." sela Chiyome, " Okasan harus juga tahu. sudah cukup semuanya. sekarang yang kita cari tinggal penyelesaiannya. Kak Ais salah melangkah dan buta akan cinta seseorang. kami sudah menemukan orang itu dan mereka sudah dalam taraf menuju pernikahan."
"Bakri? anak itu bisa dijamin mampu membahagiakan putri kita?!" sela Fitri lagi.
"Ya! dan kali ini pasti benar!" jawab Chiyome dengan tandas.
"Seberapa pasti?!" tuntut Fitri menatap Chiyome dengan tajam.
__ADS_1
"Seratus Persen!!" tandas Chiyome dengan keyakinan penuh.
ruangan keluarga itu kembali sunyi, hening ketika semua yang hadir disana bungkam. Fitri menghela napas panjang. ia bangkit lalu melangkah menuju Kenzie.
"Kemarikan cucuku." pinta Fitri.
Kenzie menyerahkan Saburo ke pelukan perempuan itu. dengan senyum tersungging, Fitri meraih bayi berusia setahun itu lalu memeluknya dan menatap Kameie.
"Dia mengambil wajahmu." kata Fitri.
"Wajah Adnan juga." timpal Mariana.
Fitri menatap Mariana dengan tatapan sinis. Chiyome menghela napas.
"Hanya karena Kak Ais kalian berdua saling bertatapan seperti itu?" ujar Chiyome dengan takjub. "Waaahhh... salut untuk Mama berdua."
Chiyome langsung bangkit dan melangkah meninggalkan mereka menuju kamarnya diikuti oleh Kenzie. sementara Adnan berdehem sejenak untuk mendapatkan perhatian Kameie.
"Kalian tinggal disini, menemani Adek dan Kakak. kami berdua akan tinggal di Suwawa. pesta akan diselenggarakan disana. baik acara pelamaran hingga pernikahan." kata Adnan.
"Hm, terima kasih... tapi kami akan menginap di.." ujar Fitri namun tak sempat terlanjut.
"Ide yang bagus. kami akan tinggal disini." sela Kameie.
"Oto-Sama!!!" tegur Fitri.
"Keputusanku bulat! aku tak mau tinggal berjauhan dengan kedua putriku!!!" jawab Kameie sembari menyalangkan matanya kearah Fitri membuat wanita itu terkejut. tak biasanya suaminya berperilaku begitu.
"Baiklah jika kau memutuskannya seperti itu." jawab Fitri mengalah.
"Bagus!" dengus Kameie kemudian menatap Adnan. "Dimana kami beristirahat?"
"Pakai saja kamar kami." kata Adnan.
"Baik. kapan kita ketemu Ais?" tanya Kameie.
"Besok, keduanya kembali. Aisyah tinggal bersama kalian lalu esoknya ia akan kami bawa ke Suwawa untuk dipingit. Bakri akan tinggal di rumah perusahaan. aku meminta sepupu jauhku untuk menjaganya." jawab Adnan.
"Apa mereka bisa diandalkan?" tanya Kameie.
"Insya Allah..." jawab Adnan.
Kameie mengangguk. "Aku berharap banyak."
...******...
Aisyah tak menyangka kedatangan orang tuanya. kemunculan Fitri membuat Aisyah emosi dan langsung menghambur memeluk ibu kandungnya dan menumpahkan tangisnya.
"Maafkan Ais Maaaa....." sedu Aisyah dalam pelukan ibunya. keduanya saling bertangis-tangisan.
"Mengapa kamu bodoh sekali naak.... bukankah kamu sudah bisa menilai?" balas Fitri juga tersedu.
"Maafkan Ais Maaaa...." hanya itu saja yang keluar dari bibir mungil wanita itu.
Kameie sendiri hanya membuang muka menyembunyikan tangisnya. Chiyome menangis dalam pelukan Kenzie sedanf Saburo juga ikutan menangis karena semua orang dalam ruangan itu - terkecuali Bakri - menumpahkan emosi dengan menangis.
"Otoosan akan pastikan... lelaki itu akan menyesali segala perbuatannya." ujar Kameie dengan geram lalu menatap keduanya dan memeluknya.
Kenzie menenangkan Chiyome beserta putranya. lelaki itu menatapi Bakri.
"Kakak sudah siap balik? kami sudah menyiapkan pengawalan." ujar lelaki itu.
__ADS_1
Bakri menatap Kenzie dan tersenyum. "Nggak usah...Kakak bisa menjaga diri."
Kenzie menggoyangkan jarinya. "Nggak-gak boleh... nyawa kalian berdua terancam saat ini. aku juga tak menyerahkan sepenuhnya kepada Kakak. kemasi barang kakak sekarang dan kita pulang." ujar Kenzie dengan tegas. []