
di sebuah kamar yang gelap. seberkas cahaya rembulan menerobos masuk menerangi sebagian lantai yang diduduki seorang wanita berpakaian serba hitam. dihadapannya terbujur sebuah meja. dimeja itu terdapat sebuah topeng berbentuk wajah barong yang menyeringai. wanita itu duduk bersila dan melakukan ritual diam.
wanita itu kemudian mengikat rambutnya yang panjang dan mengepas topeng ke wajahnya dan menyamarkannya dengan tudung. wanita itu kemudian bangkit lalu membuka jendela. sejenak ia berpaling memandangi kamar itu.
sory Hubby... bagaimanapun aku juga tak tinggal diam melihatmu sendirian... aku akan senantiasa melindungimu Hubby, meskipun aku harus menjadi iblis lagi...
wanita itu melompati jendela tersebut dan menghilang dalam kegelapan malam.
...*********...
Trias duduk dalam keadaan terikat. wajahnya lebam-lebam biru akibat pukulan demi pukulan yang disarangkan kawanan itu terhadapnya. namun kelihatannya pemuda itu tegar dan tetap tenang.
dihadapannya berdiri seorang lelaki parobaya mengenakan pakaian safari dan jari-jemari tangannya mengepit sebatang rokok. wajah orang itu tak terlihat karena semprong lampu dibuat sedemikian rupa sehingga cahayanya hanya menerangi tempat dimana Trias duduk.
dibelakang Trias berdiri beberapa pria berjaket kulit membentuk pola barisan setengah lingkaran. pria dihadapannya sejenak mendehem.
"Kamu tahu kenapa kau berada disini?" pancing pria tersebut.
Trias terkekeh dan setitik darah kembali merembes dari sudut bibirnya yang pecah.
"Kalau saya tau apa sebabnya, nggak mungkin saya bisa dibawa kemari dengan gampang..." sindir Trias sambil menatap tajam kegelapan dimana wajah lelaki itu bersembunyi. "Kau takut menampakkan wajahmu? jangan-jangan kau ini waria..."
pria parobaya itu menggeram dan tangan kanannya kembali terayun menampar Trias.
PLAKKKK. PLAKKK PLAKKK PLAKKK PLAKKKKK..."
wajah pemuda itu terhempas kesana-kemari sambil batuk-batuk memuntahkan butir-butir ludah bercampur darah lalu menantang kembali si penampar yang bersembunyi dalam jelaga.
"Kau tak pantas bicara begitu. cukup jawab saja apa yang ku tanyakan. paham?!" bentak pria itu.
Trias kembali terkekeh, semakin menambah jengkel pria tersebut. tangan kanannya kembali terulur dan mencengkeram dagu pemuda itu.
"Kau berani mengejekku?!" desis pria itu lalu mengangkat kakinya, melayangkan tendangan ke dada pemuda itu. Trias terjungkal bersama kursinya.
beberapa pria maju mendekat dan mendudukkan kembali pemuda tersebut. pria itu menghela napasnya lalu memperhatikan kepala Trias yang terkulai.
"Bangunkan dia!" perintah lelaki itu.
salah satu pria mengambil gayung berisi air. gayung tersebut kemudian diayunkan kemudian mengayunkannya ke arah Trias.
BYURRRRRR..... HAISSSSSYYYY...
Trias gelagapan ketika disiram oleh pengawal tersebut. seketika pemuda itu gelagapan bangun.
"Kau sudah siap menjawab pertanyaanku?" ujar pria tersebut.
kebisuan Trias telah menjawab pertanyaan pertama . pria itu tidak perduli dan mulai mencecar Trias dengan pertanyaan baru.
"Kau tentu ingat pada peristiwa penggerebekan bandar narkoba." kata pria itu mengingatkan Trias akan peringatan yang diberikan Kenzie sebulan lalu.
berarti benar.... penculikanku ini ada hubungannya dengan peristiwa itu.....
"Kau dan teman kamu, Kenzie mendobrak rumah itu sebelum diamankan oleh pihak kepolisian..." ungkap lelaki tersebut.
Trias masih tetap membisu.
akhirnya pria itu mendekatkan wajahnya agar diterangi oleh nyala lampu semprong. begitu wajah itu terpapar oleh cahaya lampu, Trias sangat mengenal lelaki tersebut.
"Om... Yanto????" desis Trias dengan takjub.
lelaki itu memang Yanto Lapananda, lelaki yang bekerja dan menjabat sebagai bagian hukum pada bidang kepegawaian di kantor pemerintahan propinsi Gorontalo.
"Om....yanto??" desis Trias tak percaya.
"Siapa yang membunuh Burhan? kaukah?" tanya lelaki itu.
__ADS_1
"Om, mungkin Om nggak percaya dengan penjelasanku. kami berdua tidak menemukan Burhan didalam rumah itu Om. sampai penggerebekan itu selesai, Burhan tak berada disana. tapi Burhan kaki temukan di lorong kecil beberapa meter dari rumah itu. bagaimana mungkin aku membunuhnya Om? dia teman satu sekolah kami!" tandas Trias.
"Pembohong!" bentak Yanto dengan kalap.
"Dia teman satu sekolahku Om! aku nggak mungkin membunuhnya! meski kami tak sekelas..." teriak Trias membalas kekalapan lelaki itu. pemuda itu mengatur napasnya sejenak. "Aku hanya kaget menyadari bahwa dia terlibat dalam sindikat perdagangan narkoba. buktinya telah kuserahkan kepada Om Ahmad, wartawan Gorontalo Post, yang kuminta untuk menelusuri mereka. kedatangan kaki bertiga untuk memanggil Burhan pulang suoaya dia tidak bergaul lagi dengan kawanan itu!"
"Tapi kenyataannya, anakku tewas!" bentak Yanto.
"Sudah kubilang, kami tak menemukannya dalam rumah itu ketika kami menggerebeknya! kami sudah dua hari menguntitnya. kemungkinan mereka memang menyusuri Burhan melarikan diri." jawab Trias.
"Apa hanya kalian berdua yang berada dilokasi?" tanya Yanto dengan tatapan memicing.
"Sebenarnya kami berempat, saya, Om Ahmad,Kenzie dan pacarnya." jawab Trias, dia tak mau membuka status bahwa Kenzie dan Chiyome sudah menikah.
"Siapa itu pacarnya???"
"Namanya Chiyome, dia siswa program pertukaran pelajar." jawab Trias sambil meringis.
Yanto menegakkan tubuhnya dan menatapi beberapa orang pria itu. "Cari tau, siapa perempuan itu!"
beberapa orang lelaki itu mengangguk lalu membubarkan diri. Yanto sejenak mondar-mandir.
"Om..." panggil Trias.
Yanto menoleh, "Ada apa?!"
"Kenapa Om membunuh pacarku?" tanya Trias.
kening Yanto berkerut. "Aku tak menyuruh membunuh siapapun. itu insiden tak disengaja." ujarnya ketus
"Om bilang nggak sengaja?!... membunuh orang, Om bilang nggak sengaja?! brengsek lo Om. manusia nggak punya hati lo...."
berbagai macam cacian dan makian terlontar dari mulut Trias. nyatanya tak menggugah rasa malu lelaki itu. dengan santainya ia melangkah meninggalkan Trias yang terus berteriak-teriak histeris.
sesampainya digerbang, lelaki itu menatapi beberapa orang penjaga. "Pastikan anak itu menderita. jangan berikan ia makanan maupun minuman." ujar Yanto.
...********...
01 Januari 2020 pukul 20.26 WITA (08.26 PM)
hari itu tak pernah dibayangkan oleh kawanan geng motor itu. mereka didatangi oleh Kenzie dan Endrawan. lelaki botak itu sudah mempersiapkan golok aliyawo yang disembunyikannya dibelakang celananya. sedangkan Kenzie hanya berbekal dua buah knuckle yang sudah dipasangkan dimasing-masing jarinya.
malam itu terasa dingin namun Endi tak menghiraukannya. tubuhnya yang menghangat oleh emosi seakan menjadikan tubuhnya memiliki imun kekebalan melawan rasa dingin. lelaki botak itu hanya mengenakan singlet merah darah, apron terbuat dari kulit yang biasa digunakannya dipasar dan celana tebal panjang.
Kenzie memarkir sepeda motornya ditempat yang gelap dan terlindung. keduanya kemudian melangkah dengan tenang mendekati sekelompok anak punk yang sedang berpesta minuman keras. mereka sesekali tertawa ngakak fan mencomot beberapa kerat daging yang mereka beli sebagai tola-tola."
salah satu anggota kawanan itu heran melihat dua orang yang mendekati mereka dengan langkah tenang. lelaki itu berdiri dengan gaya angkuh dan menggertak.
"Siapa kalian? mau apa kemari?" bentaknya.
Kenzie menatapi Endi, "Om... mereka ini bukan?".
lelaki botak itu mengangguk. Kenzie hampir saja menghambur kalau saja tidak ditahan oleh Endi. lelaki botak itu maju dan bertanya, "Ada seorang pemuda yang kalian keroyok tadi malam. dimana pemuda itu sekarang?"
melihat temannya dicecar pertanyaan, membuat yang lainnya berdiri dan mendekati Endi. salah satu orang yabg sudah kenyang makan daging dan minum pinaracchi, salah satu merk minuman, langsung menunding-nuding ke arah Endi.
"Apa yang dibuat orang itu disini? usir dia!" seru lelaki itu sambil kembali menegakkan botol menikmati isinya.
emosi lelaki botak itu seketika meluap dan langsung menghambur ke hadapan si lelaki yang mengumpat-umpat lagi.
"Habisi orang ini. " seru lelaki itu.
Endrawan bukan lelaki yang gampang ditaklukkan. ia mantan seorang preman dengan jam terbang tinggi. sejak menarik diri dari perkembangan dunia bawah tanah, Endi memang sudah tak mendengar isu-isu hangat tanpa sensor. lelaki itu mengobrak-abrik tempat pertemuan para preman tersebut.
kedua lelaki itu berhasil mempecundangi kawanan preman punk tersebut. Endi mencari pemuda yang ia kenal ikut dalam pengeroyokan Trias.
ia mendapatkannya dan menarik baju lelaki yang hampir pingsan itu. "Katakan, dimana mereka yang lainnya!"
__ADS_1
sambil meringis-ringis, lelaki itu membeberkan lokasi berkumpul para anggota tersebut. Kenzie yang gemas langsung membobol mulut lelaki itu menggunakan knuckle yang berhasil merontokkan seluruh barisan gigi depannya. lelaki itu pingsan berat.
...*********...
01 Januari 2020, Pukul 21.45 (09.45 PM)
malam mulai larut, sebuah gudang besar terlihat berdiri angkuh. bangunan itu berdiri di sebuah areal luas berdekatan dengan pantai. beberapa lelaki menyandang pistol jenis G2 Premium Kaliaber 9 milmeter.
didalam gudang itu, Trias sementara dipermak dengan bogem oleh beberapa pria berotot. kegiatan mereka terganggu oleh suara derum motor yang mendekat disusul oleh maraknya suara tembakan yang saling susul-menyusul.
Endi langsung melompat dari boncengan sedang Kenzie terpaksa merelakan sepeda motornya split dan meluncur ke arah kawanan pengawal yang menembakknya. pemuda itu langsung bergulingan dan lari bersembunyi pada kotak-kotak kayu yang berjejer tinggi diluar gudang.
Endrawan, meskipun tidak memegang pistol, ia menghunus aliyawo miliknya. komat-kamit bibirnya membaca sesuatu lalu meludahi bilahan golok tersebut.
Endi lalu melompat dan melempar golok aliyawo ke udara. "Ti Tameya mayi ti mohama duhu li mongoli nga' mila!!!!" teriaknya. (Rasakanlah benda ini, akan meminum darah kalian semua!)
golok aliyawo itu seakan bernyawa, melayang di udara dan melesat dengan gesit ke arah para pengawal. seakan ia dikendalikan oleh tenaga aneh, senjata itu berputar-putar lalu menyambar lagi siapapun pengawal yang berani menyerang senjata tersebut. setelah puas menyerap darah para preman itu, benda itu melayang ke arah Endrawan dan lelaki botak itu langsung menangkapnya. lelaki botak itu keluar dari persembunyiannya sambil menenteng golok aliyawo yang sudah terhunus, begitu juga dengan Kenzie.
"Aman Ken, ayo kita kedalam." ajak Endi.
keduanya memasuki gudang yang udaranya pengap dan gelap.
"Iyaaaaassss..." panggil Endi dengan kalap.
lelaki botak itu mengedarkan pandangannya ke seluruh gudang hingga akhirnya tatapannya tertuju pada sosok pemuda yang tergantung.
"Trias !!!" seru Kenzie.
"Iyas!" seru Endi.
lelaki botak itu hendak berlari menyongsong namun langkahnya kembali tertahan.
dihadapan mereka beberapa meter berdiri seorang lelaki tinggi besar mengenakan jaket kulit dan celana jins. penampilan lelaki itu sangat mirip dengan penampilan geng motor terkenal di Amerika Serikat, Hell Angel. wajah lelaki itu penuh cambang. tatapannya keras dan sorot matanya tajam.
dengan tenang lelaki tinggi itu melangkah mendekat. Endrawan dan Kenzie juga melangkah mendekat.
"Om, orang inikah si Bubu?" tanya Kenzie dengan lirih nyaris berbisik.
"Bukan... dia orang lain." jawab Endi.
"Siapa orang ini?" tanya Kenzie lagi.
"Tak tahu... jangan berpikir lain... konsentrasilah." pinta Endrawan.
"Selamat! kalian berhasil masuk ke gudang ini..." ujar lelaki tinggi itu. aksennya aneh membuat Endi berkesimpulan, orang ini bukan berasal dari Gorontalo.
"Lepaskan anakku!" seru Endi sambil mengarahkan ujung golok aliyawo ke arah Trias yang tergantung dengan kepala yang terkulai dan bibirnya mengalirkan darah segar. "Kau apakan anakku?!"
lelaki itu tertawa sambil mendongak lalu kembali menatap Endi. "Dia ini hanya mainan bagi kami. sebentar lagi kalian berdua juga akan menyusul tergantung disana."
"Berarti kau mau cari mati denganku!!" balas Endrawan.
lelaki botak itu kemudian menatapi Kenzie. "Aku akan menyerang orang ini, kau selamatkan Trias."
Kenzie mengangguk, "Om Endi gimana?"
"Jangan banyak pikir, lakukan saja!" bentak Endi kemudian lari menyongsong lelaki tinggi itu.
Endi melompat ke udara dan mengacungkan golok aliyawo miliknya ke udara kemudian mengayunkannya kw arah lelaki itu.
si lelaki itu hanya berdiri menyongsong golok yang terayun mengancam kepalanya. tiba-tiba lelaki itu hanya menggeser langkahnya sedikit menyebabkan serangan Endi mentah. lelaki botak itu memutar dengan pola gasing mengayunkan kembali golok aliyawo nya dengan pola horisontal.
lelaki itu kembali menjauh dan mendarat empuk beberapa meter dari si raksasa hitam tersebut. keduanya kembali berdiri berhadapan.
sementara Kenzie sudah melepaskan ikatan pemuda itu lalu menggendong Trias yang pingsan keluar gudang. namun langkah pemuda itu terhenti ketika melihat rombongan pengawal banyak berdiri dihalaman gudang itu dengan senapan yang lebih berat.
"Celaka! aku terkepung!" umpat pemuda itu. []
__ADS_1