
seorang lelaki parobaya duduk menyandarkan pinggulnya pada sisi depan mobil Daihatsu Sigra MC hitam miliknya yang terparkir ditrotoar yang berseberangan dengan Terminal Transit Andalas 1942 Kota Gorontalo. sebatang rokok kretek Dji Sam Soe terjepit dibelahan jemari telunjuk dan tengah miliknya yang nampak kokoh. sesekali ia mendekatkan batang sigaret itu kebibirnya dan mulai menghisap asap yang keluar dari batang rokok itu.
pandangannya mengedar ke jalanan yang ramai dengan hilir mudik kendaraan yang berseliweran. lelaki itu mengangkat pergelangan tangannya memastikan waktu yang tercantum dari pola jarum pada arloji yang melingkar dipergelangan tangannya itu.
lelaki itu kembali mengangkat wajah mengedarkan pandangan untuk memastikan bus yang membawa putrinya akan memasuki terminal transit tersebut.
lama juga lelaki itu menunggu hingga peredaran mentari hampir mencapai sepenggalan ke barat. nampak bus DAMRI putih dari arah perlimaan tugu Telaga meluncur dan membelok ke kanan memasuki lokasi terminal transit Andalas 1942. bergegas lelaki itu berlari menyeberangi jalan agar tiba secepatnya untuk menyambut kedatangan putri yang sangat ia rindukan selama 5 tahun.
bus itu berhenti dan beberapa saat kemudian para penumpang turun membawa barang-barangnya. lelaki itu melihat-lihat pintu bus dengan cemas. tak lama kemudian senyum lelaki itu nampak melihat Aisyah turun hanya menjinjing ranselnya.
lelaki itu membuang puntung rokoknya lalu melangkah menyambut putrinya.
"Papa kira kamu tidak jadi datang." kata lelaki itu sambil memeluk Aisyah dengan erat. gadis itu tersenyum membalas pelukan lelaki parobaya tersebut.
"Papa sudah lama nunggui Aisyah?" tanya gadis itu.
lelaki itu, Adnan Lasantu, hanya tertawa. "Soalnya bus yang membawamu lama sekali tiba. Papa jadi cemas dan berpikir yang bukan-bukan. Papa pikir kau tak mau datang melihat Papa."
"Aku nggak mau jadi anak durhaka, Papa." jawab Aisyah.
Adnan menatapi wajah putrinya dengan cermat. 5 tahun ia menantikan peristiwa ini. pertemuan dengan putri yang dirindukannya.
wajahmu...mirip ibumu nak....
kedua mata Adnan berkaca-kaca. sebening air jatuh dari pelupuk matanya.
"Papa kenapa?" tanya Aisyah.
Adnan terkejut lalu menguasai dirinya. "Papa hanya rindu.." ujarnya tersenyum dan menghapus air yang menetes pipinya.
Adnan kemudian mengajak Aisyah menyeberang jalan, tiba ditrotoar dimana mobilnya terparkir. karena Aisyah tak membawa apa-apa selain ransel, jadi ia tidak kesulitan mengurusi diri dan bawaannya. Adnan membuka pintu mobil.
"Masuklah... ibu sudah menantimu..Papa takut ia akan bosan." kata Adnan.
Aisyah mengangguk dan meletakkan ransel dijok tengah, sedang ia duduk didepan. Adnan kemudian menutup pintu lalu memutar dan membuka pintu satunya lalu masuk dan langsung menyalakan mesin mobil.
beberapa saat kemudian, mobil yang mereka kendarai telah melaju melintasi jalanan dua arah yang membentang disepanjang kawasan Tanggikiki. mereka melesat ke arah timur.
Aisyah memanjakan matanya memandang barisan bangunan yang terasa bergerak cepat, juga sawah-sawah yang membentang. meskipun Gorontalo mengalami percepatan perkembangan diberbagai bidang, nyatanya pemerintah kota masih membiarkan dataran dijadikan sawah.
Adnan menatapi sekilas putrinya. "Kau merindukan mereka?"
Aisyah menatapi ayahnya. "Ya pastilah Pa... saya kan 5 tahun hidup dengan mereka..." usai berkata begitu, Aisyah kembali memandangi hamparan sawah dari balik kaca mobil.
"Kau tidak merindukan Papa?" tanya Adnan dengan nada getir. Aisyah tertawa mendengar pertanyaan ayahnya
"Papa ini, macam ABG saja pake tanya rindu segala. pasti Aisyah rindu sama Papa...Papa ini... aneh deh." setelah itu Aisyah tersenyum lagi dan memandangi pemandangan yang tersaji dibalik kaca mobil.
Adnan tertawa malu, menyadari pertanyaan yang dilakukannya terkesan kekanak-kanakan.
maafkan papa nak. papa sudah menyebabkan kau terpisah dari kedua orang tuamu karena keegoisan papa. tapi papa janji.. papa akan memperbaiki hubungan kita dan papa akan melakukan yang terbaik untukmu...
"Papa...." sahut Aisyah...
"Hmmm?" Adnan menatapi putrinya sekilas lalu kembali berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
"Mama Mariana tidak akan membenciku, kan?" tanya Asiyah dengan ragu.
"Mengapa kau tanyakan itu?" pancing Adnan.
"Aku bukan anak kandungnya. lagi pula, Papa kan sudah punya putra dari dia." jawab Asiyah sejujurnya. "Kalau mereka tidak berkenan dengan keberadaan Aisyah, boleh kok Aisyah cari tempat kost." kata gadis itu dengan takut-takut. khawatir menyinggung perasaan ayahnya.
"Kamu ini bicara apa, sayang? nggak mungkin mereka nggak terima kamu. kamu kan anak Papa." kata Adnan yang juga memahami perasaan putri tunggalnya itu. "Pokoknya kamu singkirkan pikiran negatif itu dari benakmu. hadapi jalan didepan. jangan menengok lagi kebelakang."
__ADS_1
Aisyah mengangguk-angguk. semoga saja begitu.
mobil menyusuri jalanan yang membentang dikawasan Wongkaditi. mobil itu membelok ke kanan dan memasuki areal perumahan elit. mobil terus menyusuri jalanan di areal tersebut hingga akhirnya mereka tiba disebuah rumah besar. halamannya dihiasi taman yang indah dengan berbagai jenis tanaman eksotis.
rumah milik Adnan mengambil konsep kedaerahan tapi tetap mengikuti gaya terbaru. mobil kemudian memasuki halaman. Adnan keluar dari mobil. sementara Asiyah masih memperhatikan rumah tersebut.
panggilan Adnan menyadarkannya. gadis itu membuka pintu mobil dan menjinjing ranselnya keluar dari kendaraan tersebut. setelah menutup pintu kendaraan, ia keluar mengekori Adnan yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam rumah.
Aisyah masih berbetah-betah dihalaman rumah memuaskan pandangan, tak berapa lama muncul Mariana bersama Adnan.
melihat Aisyah, sontak wanita itu berlari menuruni tangga dan menghambur kemudian memeluk Aisyah dengan erat. ia menangis membuat Aisyah tanpa sadar ikut menangis.
"putriku ...oh putriku..." sedu wanita itu sambil terus memeluk Aisyah dan mengusap kepala gadis yang dibalut jilbab syar'i itu. "Maafkan mama nak.... maafkan mama... mama mencintaimu nak...maafkan mama.."
Adnan yang berdiri diberanda hanya bisa melelehkan air matanya meskipun ia harus menguatkan hatinya sebagai lelaki. menangis tanpa suara.
Mariana mengelus pipi Aisyah. "Jangan berpikir aku akan membedakanmu... aku mamamu... aku mamamu... kau putriku... kau mau memanggilku mama, bukan? panggil aku mama, nak..."
"Maamaaa..." sedu Aisyah kembali memeluk Mariana. hilang sudah kegundahan hatinya.
Mariana sendiri, sejak kepergian Fitri memang digelayuti rasa bersalah yang sangat besar. untuk menebus kesalahannya, ia bahkan berjanji, untuk memelihara Aisyah sebagaimana anak kandung.
setelah puas menumpahkan segala emosi yang terpendam, Mariana mengajak Aisyah masuk. kedua perempuan itu saling berpelukan bagai ibu dan anak kandung. Adnan sendiri begitu bahagia menyadari bahwa Mariana membuka hatinya untuk putri yang teraniaya itu.
Aisyah dibawa menuju kamarnya. dengan gembira Mariana terus berceloteh bahwa ia telah mempersiapkan ini jauh sebelumnya. Aisyah sendiri gembira dan berjanji akan berbakti kepada ibu sambungnya itu.
"Istirahatlah nak...mama tahu kamu capek. jangan sungkan meminta kepada mama apa yang kau butuhkan...aku mamamu..aku mamamu.." kata Mariana sekali lagi menegaskan statusnya.
"Iya mamaku yang cantik..." jawab Aisyah sambil memeluk Mariana lagi. terasa sejuk hati gadis itu diperlakukan seperti anak kandung.
Mariana melepas pelukan putri sambungnya. "Kalau begitu mama pergi dulu nak... mama sebenarnya ada arisan keluarga... " kata Mariana. "Kamu nggak keberatan mama tinggal kan?"
"Papa kembali dulu ke kantor ya..." kata Adnan. "Kalau ada yang Aisyah inginkan, bilang sama Papa." lelaki itu maju mencium ubun-ubun putrinya lalu berbalik meninggalkan ruangan tersebut.
tinggallah Aisyah didalam kamar. ia menaruh ranselnya disisi ranjang. setelah itu ia keluar dari kamarnya menuju kamar mandi mencari keran air untuk mengambil wudhu.
setelah berwudhu, gadis itu kembali ke kamar dan melaksanakan sholat dhuhur yang ditundanya. dengan khusyuk Aisyah melaksanakan sholat hingga selesai.
kedua tangannya kemudian terkembang menengadah.
"Ya Allah... segala puji bagi-Mu yang telah memudahkan kehidupanku. tanpa-Mu, aku tak bisa apa-apa. bimbinglah aku terus dijalan-Mu ya Allah... Engkaulah Dzat yang selalu sibuk tak pernah lalai. segala pujian untuk-Mu ya Allah..."
gadis itu kemudian bersujud dengan begitu lama, sebagai tanda rasa syukur yang tak terhingga.
...******...
kedua mata Aisyah perlahan membuka dan mengerjap-ngerjap mengusir silau cahaya matahari yang menerobos kisi-kisi ventilasi jendela kamarnya. ini adalah hari kedua ia berada ditempat barunya. dirumah barunya. di kamar barunya.
Aisyah bangun dan duduk ditepi ranjang. ia sejenak menguap lalu mengenakan jilbab syar'i nya dan melangkah menuju jendela. ia membuka daun jendela, mempersilahkan cahaya mentari menyeruak masuk menerangi keseluruhan ruangan hingga ke sudut-sudutnya.
Aisyah kemudian merapikan kasur dan meletakkan posisi bantal kepala dan guling dengan pola yang semestinya. setelah itu ia melangkah keluar kamar, menyusuri ruangan menuju ruangan makan.
ternyata disana telah menanti Mariana, Adnan dan putranya, Kenzie. mereka sedang menikmati sarapan pagi berupa kue-kue tradisional. melihat Aisyah, Mariana langsung melambaikan tangannya memanggil.
"Sini nak. duduk dekat mama." panggil Mariana.
Adnan sementara membaca koran Gorontalo Post dan Tribun Gorontalo mencari berita tentang bisnis karena peofesinya sebagai entrepreneur mewajibkannya untuk memenuhi kepalanya dengan informasi seputar hal itu. disisi Adnan duduk pemuda tanggung memgenakan seragam SMU asyik melahap beberapa kue. Aisyah duduk disisi Mariana yang kemudian menyorongkan sepiring kue tradisional.
"Bagaimana istirahatmu semalam nak? nyenyak?" tanya Mariana.
"Nyenyaklah maaa... kasur empuk gitu loooh.." potong pemuda itu sambil tertawa.
__ADS_1
tatapan paling tajam dihujamkan Mariana kepada anak lelakinya. Kenzie, pemuda itu langsung menunduk dan menikmati lagi kue nya. Adnan sebenarnya marah dengan sikap Kenzie. tapi ia tak melakukan apapun karena Mariana yang sudah duluan menegur dengan tatapan mata tajamnya.
"Jangan hiraukan adikmu. dia memang begitu." kata Mariana, "Tapi sebenarnya Kenzie senang kamu ada. dia merasa memiliki seorang kakak."
"Ah, mama, apaan sih... bikin malu Kenzie saja." ujar Kenzie saraya bangkit lalu melangkah ke arah Mariana dan mencium tangan wanita itu.
"Kenzie berangkat dulu, ma." kata Kenzie kemudian pemuda itu mencium tangan ayahnya. "Pa, Kenzie duluan ya.." setelah itu pemuda tersebut hendak melangkah namun tertahan dengan panggilan Mariana.
"Ada apa lagi Mamaku sayang?" tanya Kenzie berbalik menatapi ibunya.
"Kau tidak pamit sama kakakmu?" tegur Mariana.
dengan cengengesan, Kenzie melangkah mendekati Aisyah lalu membungkuk gaya teater.
"Kakakku yang cantik... perkenankan adikmu ini pergi." ujar Kenzie. Adnan tertawa melihat kelakuan putranya.
Aisyah juga tertawa pelan lalu menyentuh tangan Kenzie. "Silahkan pergi adik tampanku... belajar yang baik ya.." jawab Aisyah menirukan gaya teater adik sambungnya itu.
Kenzie menegakkan tubuhnya dan memasang senyumnya lalu meninggalkan ruangan itu. tinggallah Aisyah yang ditemani oleh Mariana dan Adnan.
"Aku ke kantor dulu." ujar Adnan seraya melipat koran-koran tersebut kemudian bangkit memperbaiki pakaiannya.
Mariana bangkit dan membantu merapikan pakaian suaminya. "Hati-hati dijalan, Pa.." ujar Mariana sambil mencium punggung tangan suaminya.
Adnan mengangguk lalu melangkah meninggalkan ruangan makan tersebut. Aisyah telah menghabiskan kue-kue dalam piring itu. ia membantu Mariana membereskan dapur.
"Apa acaramu hari ini nak?" tanya Mariana disela-sela kegiatannya mencuci piring.
"Aku mau mendaftar ma. ke UNG (Universitas Negeri Gorontalo)." jawab Aisyah seraya meletakkan piring yang dicuci Mariana ketempatnya semula.
"Mau Mama temani?" pancing Mariana.
"Aisyah bukan anak kecil, Ma." jawab Asiyah sambil tersenyum. "Tapi, makasih atas perhatiannya, Ma..." kata Aisyah sambil memeluk Mariana.
wanita itu tersenyum menerima perlakuan putri sambungnya. "Mandilah..." pintanya.
Aisyah mengangguk dan menuju ke kamarnya. dalam kamar itu sudah tersedia kamar mandi kecil dan kloset. Aisyah mengambil handuk dan masuk kekamar mandi. oa meloloskan pakaiannya dan mulai mengambil gayung, mandi membersihkan dirinya. berbekal peralatan mandi yanb disiapkan oleh Mariana, putri itu membersihkan dirinya.
setelah puas membersihkan diri, Aisyaj keluar dari kamar mandi mengenakan baju mandi. ia bersalin pakaian, mengenakan gamis dan jilbab syar'i warna biru donker. setelah berdandan secara natural, Aisyah keluar dari kamar mendapati ibu sambungnya sedang menonton acara televisi.
"Acara apa Ma?" tanya Asiyah.
Mariana menoleh lalu tersenyum dan melambaikan tangan meminta Aisyah duduk disisinya.
"Kemarilah... duduk disisiku, nak." kata Mariana.
Aisyah duduk disamping Mariana menyaksikan tontonan yang sementara dipirsa oleh ibunya.
"Kau mau ambil jurusan apa nak?" tanya Mariana.
"Kelihatannya Aisyah akan mendaftar difakuktas sastra." jawab Aisyah.
Mariana mengangguk. "Mama punya kenalan disana. kamu mau Mama bantu?"
"Issss... Mama ngajari Kolusi nih." kata Aisyah sambil tertawa. Mariana juga akhirnya tertawa.
"Dooooo..... sudah merasa dewasa ya?" sindir Mariana sambil tertawa pula.
"Ya sudah Ma. Aisyah berangkat dulu. " kata Asiyah kemudian mencium punggung tangan ibu sambungnya,kemudian bangkit lagi.
"Kau punya ongkos jalan, nak?" tanya Mariana.
tanpa menunggu jawaban Aisyah, wanita itu menuju ke kamarnya. tak berapa lama ia keluar membawa dompet lalu membuka isinya mengeluarkan 3 lembar uang seratus ribuan.
"Ada mama....jangan khawatir." tolak Asiyah dengan halus.
__ADS_1
Mariana menggeleng dan memaksa Aisyah menerima uang tersebut. "Penambah saja. siapa tahu kurang..."
Aisyah tersenyum lalu mengangguk dan pamit meninggalkan Mariana yang mengekori langkah putri sambungnya menuju jalanan. []