Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 77


__ADS_3

Trias mengenakan kaus putih lengan panjang dan celana kain berwarna sama pula. dilehernya terlilit surban yang dibuatnya mirip dengan scarf. langkahnya terayun pelan dan ditangannya tergenggam sebuah buket berisi kumpulan bunga marigold mulai dari warna kuning hingga merah.


dihamparan luas pekuburan keluarga Gobel itu terlihat beberapa orang anggota keluarga besar Gobel yang sedang menjiarahi makam. kedatangan Trias membuat mereka bangkit. salah satu anggota keluarga itu melangkah dan kemudian memeluk Trias dengan damai.


"Maafkan kami yang telah berprasangka buruk kepadamu." kata lelaki itu sambil mengelus punggung pemuda itu.


"Nggak apa-apa Om. saya paham benar perasaan kalian. saya minta maaf, sebagai suaminya, saya gagal melindunginya." balas Trias.


"Kau tahu siapa pelakunya, kan? katakan pada kami. biarkan kami yang akan membalaskan kematian Inayah." desak lelaki itu.


"Jangan Om. biarkan. Inayah sudah tenang disana. saya beberapa kali menemuinya. ia tak menghendaki hal itu. lagipula, Om Adnan Lasantu sudah meruntuhkan nyali pelaku itu. dia nggak akan berani melakukan hal itu lagi, karena dia tak akan bisa melawan kekuatan seluruh anggota keluarga Gobel." jawab Trias panjang lebar.


"menemui Inayah?" ujar lelaki itu.


"Iya, Om. maaf jika mungkin akan membuat Om bingung dan berpikir saya gila. saya bisa memaklumi hal itu. saat ini saya hendak menemuinya lagi, jika Om dan keluarga Gobel berkenan.


"Silahkan nak. silahkan... dia istrimu. kau punya hak." kata lelaki itu.


beberapa orang anggota keluarga Gobel itu meyingkir membuka jalan. Trias melangkah mendekati makam Inayah Azura Gobel. mereka menonton pemuda itu kemudian duduk bersila dihadapan pusara tersebut.


"Assalamualaikum Mimi... Pipi datang lagi nih.." sapa Trias. seluruh anggota keluarga Gobel yang menonton itu sontak menangis tanpa suara.


Trias mengusap paita putih itu lalu meletakkan buket bunga marigold ditanah makam itu. "Ini bunga dari taman Abah, bunga yang kita tanam berdua. kita ketemuan yuk."


usai berkata begitu, pemuda itu menekurkan wajah dan memejamkan mata. ia memusatkan pikirannya. desir angin menghembus menyapu tubuh Trias yang duduk dengan posisi padma.


lelaki itu kemudian menyentuh tubuh pemuda itu. ia terkejut. tubuh itu dingin dan kaku, bahkan ketika lelaki itu berupaya menggeser tubuh Trias, ia tak mampu melakukannya. kini yakinlah ia bahwa pemuda itu tidak berdusta. Trias sedang menemui kekasihnya ditempat yang tak bisa mereka jangkau.


...*********...


Trias memandangi hamparan sabana hijau itu. hembusan angin yang damai menerbitkan senyum dibibirnya.


"Assalamualaikum Pipi..." sahut suara dibelakangnya.


Trias membalikkan tubuhnya. dihadapannya, Inayah Azura berdiri mengenakan pakaian putih yang menerawang. gadis itu mendekat lalu memeluk pemuda itu dengan mesra.


" Taqabbalallahu minna wa minkum... " ucap gadis iru sambil tersenyum.


" Minal a'idin wal fa'idzin..." balas Trias.


"Kangen lagi?" tebak Iyun.


"Lebih sangat..." jawab Trias. "Saat ini, jangan biarkan aku tidur... biarkan aku berlama-lama sedikit denganmu, Mimi. bisa, kan?" pinta Trias dengan memelas.


Iyun tertawa pendek lalu mengangguk. "Baiklah..."


keduanya kemudian saling mengaitkan jemari mereka menjadi jalinan kuat dalam genggaman dan mereka melangkah menyusuri padang sabana iru.


...*********...


lelaki itu panik bukan main menyadari tubuh pemuda itu begitu dingin dan kokoh bagai batu karang. ia menatapi anggota keluarga Gobel lainnya.


"Bagaimana ini? apakah dia sudah mati?" tanya lelaki itu.


seorang lelaki kini ikut maju lalu meraba dada lelaki itu. ia menggeleng. "Nggak. dia belum mati. cuma kayak koma begitu... mati suri..."


"Berarti selama ini, anak ini nggak bohong. dia benar-benar bisa melepas jiwanya menemui Iyun... ah ini nggak bagus. bisa-bisa dia nggak akan selamat. kalian lihat? tubuhnya mulai membiru.." seru lelaki itu menunjuk punggung dan wajah Trias yang mulai menggelap.


beberapa orang kemudian maju dan menggoyang-goyang tubuh itu. bahkan ada yang berani menamparnya dengan harapan Trias kembali sadar. mereka menyerah dan sebagian kaum wanita sudah manangis melihat betapa tubuh pemuda itu begitu tenang dalam sikap duduknya itu.


"Jangan pegang dia!" seru suara wanita.


semuanya menoleh menatapi seorang gadis mengenakan kaus hitam dengan manset yang melindungi kedua lengannya. langkah kakinya yang dibalut celana jins ketat terayun anggun mendekati tubuh yang sementara duduk bersila. rambut panjangnya tersembunyi dibalik kerudung. ditatapinya seluruh orang di pemakaman itu.


"Nggak ada gunanya membangunkan dia. pemuda itu mematikan inti prana dipusarnya. tubuh astralnya nggak ada disini, tapi sementara bersama Iyun di Barzakh. ia masih hidup karena membiarkan kundalini dalam dirinya mengendalikan detak jantung dan gelombang otaknya." jawab gadis itu.


"Ipah, kamu bisa menariknya pulang?" tanya lelaki itu.


Ipah, nama gadis itu mengangguk tapi ia menghela napasnya. "Bisa sih Om. tapi resikonya, orang ini bisa menggila karena ditarik paksa ke alam sadarnya."


"Lakukan Ipah... Om nggak mau anak ini mati disini. bisa-bisa Endrawan menyangka kami yang bukan-bukan lagi." desak lelaki itu.


"Kalau begitu, Om ajak saja semua meninggalkan area makam ini. biar Ipah yang membangunkan kesadarannya." kata gadis itu.

__ADS_1


lelaki itu langsung mengajak semua anggota keluarga Gobel menyingkir dari pemakaman tersebut. seorang wanita datang dan mengelus pundak gadis itu.


"Lakukan yang terbaik Ipah." kata wanita itu langsung pergi mengikuti rombongan itu.


Ipah menatap Trias yang sementara duduk bersila dengan wajah yang menunduk dalam. gadis itu menghela napas panjang. Ipah duduk dibelakang Trias. ia mengembangkan tangan dan memejamkan matanya mengumpulkan energi ditantiannya untuk merangsang prana dari pusar bergerak menuju penjuru tubuh.


Ipah kemudian menekankan kedua telapaknya ke punggung Trias yang dingin. ia menyalurkan energi hangat kertubuh pemuda iru.


Ya Allah... berikan aku kemampuan menariknya dari alam itu ya Allah... beriian aku kekuatan...


...******...


Trias melihat keganjilan yang terjadi di tempat itu. pemuda itu menatapi Iyun.


"Mimi... ada yang nggak beres!" seru Trias.


pada saat iru juga terjadi gempa keras. keduanya tergoncang dan kehilangan keseimbangan. gempa semakin keras. keduanya terpisah. Iyun melayang dan mulai menjauh.


"Iyuuuuun...." seru Trias mengulurkan tangannya ketika tiba-tiba muncul seorang gadis yang langsung menggamit pergelangan tangannya.


"Ayo pergi!... kita nggak boleh ada ditempat ini!!" seru gadis berkerudung itu menarik paksa Trias.


"Mimiiiiiiiii..." seru Trias yang tiba-tiba melayang bersama Ipah.


sementara dalam kondisi itu, Trias sempat mendengar Iyun berseru.


"Ipaaaah.... aku serahkan ia padamuuuu.... gantikan tempatku, cintai diaaaa. aku mengandalkan kamu. ipaaaah..."


dan suasana menjadi gelap gulita.


...*********...


Trias menggeliat gelisah dan perlahan kedua matanya terbuka dan menatapi tanah pekuburan. ia terkejut dan mendadak dadanya merasakan sesak dan sakit.


"Aaaakhhhh...." teriak Trias memegangi dada kirinya.


kedua matanya memerah dan perlahan pemuda itu membalik menatapi bagian belakang. disana ada seseorang gadis berkerudung yang sementara menunduk memejamkan matanya dan kedua tangannya terpentang menyentuh punggung pemuda iru.


"Brengseeeeekk!!!"


perlahan Trias bangkit dengan sempoyongan dan napasnya memburu. "Siapa kamu? berani kau mengacaukan pertemuanku dengan istriku!" kau mau cari mati?" bentak Trias dengan tangan terkepal.


masih dengan posisi itu Ipah menjelaskan alasannya. "Orang-orang dipemakaman tadi iba melihatmu. mereka juga panik menyadari tubuhmu bagitu dingin bagai es. aku sudah jelaskan pada mereka, resiko menarikmu dengan paksa kemari, tapi mereka tak mau dengar. aku pun tidak mau kau terbelenggu oleh masa lalumu!"


Trias mengamati wajah gadis itu. tak lama ia terperangah. "Kau! ya! aku ingat! kau yang menaruh buket bunga lily dipusara Iyun! mengapa kau melakukannya?!" bentaknya. "Sebaiknya menjawablah yang jujur jika tidak ingin dipatahkan lehermu!" ancam Trias.


Sebaliknya mendengar ancaman itu, Ipah tersinggung. ia bangkit dan menegakkan tubuhnya, menatap Trias dengan tajam.


"Aku tak perlu ijinmu meletakkan buket itu di pusaranya. aku pemilik kehendakku sendiri. kau tak berhak memaksakan kehendakmu!" ujar Ipah dengan kaki yang membuka teguh.


"Baik!" ujar Trias sambil menudingkan telunjuknya kearah Ipah. "Kau yang memaksaku melakukan hal ini."


Trias langsung memasang jurus yang paling terkenal digunakan untuk menundukkan lawan secara mutlak.



Ipah terperangah, "Silat Harimau?! apa dia mau membunuhku?" ujarnya dengan lirih. cara satu-satunya hanya menggunakan jurus yang mengandalkan gerakan gesit.


gadis itu memilih teknik gaya bangau untuk mengantisipasi setiap gerakan yang akan dibuat pemuda itu. Trias meraung memperdengarkan auman macannya lalu maju dan mengayunkan cakarnya.


Ipah yakin, pemuda hanya terhanyut dalam perasaan sakit karena dipaksa keluar dari alam barzakh. gadis itu tak sepenuhnya menggunakan jurusnya untuk membalas serangan Trias. ia hanya menghindar dan terus menghindar dan setidaknya menguras tenaga pemuda itu sehingga cakarnya kehilangan kekuatannya.


namun sehebat apapun seorang yang mampu menghindar, ia akan tetap kena sialnya. Trias berhasil menangkap kaki Ipah dan menarik gadis itu ke hadapannya. Ipah merutuk dan terpaksa meladeni serangan pemuda itu.


silat harimau adalah serangan full contact sehingga gadis itu benar-benar terkepung oleh ayunan cakar yang datangnya entah darimana saking cepatnya Trias bertindak. Ipah sebisanya menangkis menyebabkan mansetnya robek.


dan akhirnya Ipah hanya bisa menjerit ketika sebuah ayunan cakar Trias berhasil menyerempet bajunya membuat kaos itu robek mempertontonkan sepasang payudaranya yang masih dibalut bra. dan sebuah tendangan membuat Ipah terhempas kebelakang.


dengan menahan sakit, Ipah bangkit sambil melindungi kausnya yang robek. Trias tiba-tiba melompat dan maju melayangkan cakarnya. gadis itu sudah siap. ia langsung mengumpulkan energinya diperut dan mengeluarkannya melalui gelombang suara.


"JIKA KAU MEMBUNUHKU. KAU SUDAH MELANGGAR PERINTAH YANG DIAJUKAN IYUN PADAMU!!!! "


gerakan itu tertahan dan cakar pemuda itu terhenti hanya satu sentimeter dari wajah Ipah yang sudah memejamkan mata dengan pasrah. Trias menatapnya sejenak lalu terkejut menyadari akibat yang dilakukannya.

__ADS_1


"Astaghfirullah.... apa yang kulakukan?!" seru pemuda itu langsung berdiri tegak. tatapannya langsung terarah kepada kaus robek yang sementara dihalangi oleh kedua lengan Ipah yang menyilang.


perlahan pemuda itu berjongkok lalu mengeluarkan surban dan membalut tubuh Ipah yang gemetaran. pemuda itu membuang napas dengan kasar dan menunduk malu.


"Maafkan aku... aku dikuasai amarah..." kata pemuda itu dengan penuh sesal.


"Ya... kau taruh dimana otak jongkokmu itu hah?!" kini balik Ipah yang menjerit. Trias hanya terpaku dan terpekur menerima hujatan dan makian gadis itu. dia memang salah menempatkan amarah diatas logika sehingga apa dilakukannya tadi memang berada dalam posisi buta.


Ipah benar-benar mengeluarkan sumpah serapahnya dan pemuda itu benar-benar pasrah menerima segala bentuk khutbah bernada makian yang terlontar bagai mitraliur dari mulut Ipah. hingga akhirnya gadis itu selesai melafadzkan cacian dan diam dengan napas yang memburu.


Trias mengangkat wajahnya dan menatapi gadis itu. tatapan pemuda itu seketika membuat Ipah merasa wajahnya memanas.


Iyun.... kau benar... kau nggak salah... suamimu ini memang tampan.... mengapa kau memberikan tugas ini untukku Yun? kau membuatku seolah-olah menjadi perebut suamimu...


"Kau perlu ganti baju. dimana rumahmu. biarkan aku mengantarmu. hitung-hitung sebagai penebus dosa dan rasa bersalahku." kata Trias dengan lembut.


pemuda itu bangkit dan mengulurkan tangannya. Ipah dengan malu mengulurkan tangannya menyambut tangan pemuda itu. namun rasa sakit ditumit membuat gadis itu meringis dan tak mampu bangkit.


Trias akhirnya membungkuk lalu memondong Ipah. mulanya Ipah kaget. ia hendak meronta namun pemuda itu langsung mencicit.


"Nggak usah melawan. tunjukkan saja letak rumahmu." kata Trias lalu melangkah sambil memondong Ipah meninggalkan area pemakaman itu. tanpa sadar gadis itu membenamkan wajahnya didada Trias dengan malu-malu.


...*********...


kedatangan Ipah yang dipondong Trias sempat membuat kegemparan. Ipah menyelamatkan wajah Trias yang mana ia menjelaskan bahwa ia diserempet pengendara motor dan akhirnya ditolong oleh Trias.


Trias menurunkan Ipah dan membiarkannya ke dalam untuk bersalin baju. sementara orang tua Ipah meminta Trias duduk diberanda dan suguhi berbagai penganan.


"Nak Trias sekolahnya dimana?" tanya lelaki tersebut.


"Saya sekolah si SMUN 3 Kota Gorontalo, pak." jawab Trias dengan senyum.


"Wah, berarti sama dengan Syarifah kalau begitu. dia sekarang duduk dikelas 11B." timpal lelaki itu.


Trias sedikit terhenyak. keberadaan gadis itu tak terdeteksi olehnya. benar kata Iyun... dia berada dekat tapi aku tak menyadarinya....


tak lama kemudian Ipah muncul mengenakan gaun terusan gamis dan selendangnya disampirkan menutupi wilayah dadanya. rambutnya dibiarkan terurai. lelaki itu menyadari keberadaan putrinya, ia langsung berdiri.


"Temani sahabatmu ini ya? Abah ke dalam dulu." kata lelaki itu.


Ipah mengangguk lalu menggantikan ayahnya menemani Trias. dimeja itu terhampar berbagai penganan. Trias jadi canggung dengan keadaan itu. Ipah menatapnya lalu mengangguk.


"Tuh kue. habisin..." pintanya.


"Aku nggak lapar..." jawab Trias sambil tersenyum.


Ipah menatapnya lalu mengangkat bahunya. "Terserah... yang penting sudah kusodorkan." jawabnya enteng sambil terus menatap Trias dengan melipat tangannya didada.


pemuda itu makin canggung. ia langsung berdiri. "Sebaiknya... aku pergi. aku tak mau mengganggumu."


"Silahkan..." jawab Ipah lagi dengan enteng.


Trias berbalik, namun sekali lagi gerakannya terhenti dan ia kembali menatapi Ipah. gadis itu tetap saja duduk santai dikursi sambil terus menatapinya pula. pandangan keduanya bertemu. keduanya saling menatap. Trias sedikit terkejut. gadis itu menantang tatapannya.


"Ada apa?" tanya Ipah dengan datar.


surbanku belum kau kembalikan....


"Nggak. nggak apa-apa. jagalah dirimu." kata Trias hendak berbalik.


"Mestinya kau yang menjaga dirimu baik-baik." balas Ipah dengan nada teguran.


Trias menghentikan langkah. Ipah bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Trias. pemuda itu berbalik dan berdiri tegap disana. keduanya kembali bertatapan.


"Aku tahu kamu belum bisa melupakan Iyun. tapi sekarang duniamu dan dunianya berbeda. kedatanganmu kesana sudah melanggar kodrat Tuhan. kau mau menciptakan kekacauan realitas ?" todong Ipah.


"Ya. kau benar. Iyun juga sudah beberapa kali menegurku. aku saja yang tegar dan tak perduli." jawab Trias dengan jujur.


Ipah tersenyum lalu mendorong pelan tubuh Trias keluar dari bangunan itu.


"Lanjutkan hidupmu, jagoan..." ujar Ipah sambil tersenyum.


Sandiaga tersenyum lalu mengangguk. "Beri aku waktu..."

__ADS_1


Ipah hanya diam lalu mengangguk. "Aku tak menjaminnya. tapi.... kenakalan dan kelembutan akan menyatu dan memendam suatu rasa. hal ini mungkin bisa ku rasakan setelahnya."


Trias Eliasha Ali membalikkan tubuh dan melangkah tegap menuruni tangga beranda menuju jalanan..nampak mata gadis itu menatapi punggung pemuda yang melangkah menjauh hingga akhirnya menaiki sepeda motornya dan melajukannya meninggalkan rumah tersebut. []


__ADS_2