Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 28


__ADS_3

Bakri menatapi petugas itu dan tersenyum. "Itu hanya hipotesa yang saya buat sendiri." ujarnya merendah.


"Anda sendiri, berada dimana pada malam kejadian?" tanya penyidik.


"Saya di kampus, mengikuti kuliah malam hari." jawab Bakri yang memahami kecurigaan penyidik itu.


"Terima kasih atas keterangan yang anda berdua berikan." kata petugas itu menyalami Bakri dan Trias.


keduanya kemudian dipersilahkan meninggalkan ruangan. bersamaan dengan itu, Ahmad dan pejabat kepolisian itu muncul dari ruangan sebelah. wartawan itu mendekati keduanya.


"Bagaimana? takut? tegang?" goda Ahmad sedang pejabat disampingnya hanya terkekeh.


"Cukup tegang, Om." jawab Trias. "Bagaimana kabarnya Kenzie, Om?"


"Aku dimarahi Om Adnan gara-gara ide konyol kalian!" sembur Ahmad pura-pura galak.


...********...


Adnan duduk dengan lesu di kursi beranda. tak berapa lama, muncul seorang pria berkepala plontos membawa dua cangkir kopi dan meletakkannya di meja. pria itu tak lain adalah Endi Ali, ayahnya Trias. ia hanya mengenakan singlet merah dengan sarung yang dililitkan sekenanya. sebuah kalung tasbih besar menggantung di lehernya. penampilannya lebih mirip preman daripada seorang pedagang daging dipasar.


Endi tertawa pelan. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."


"Tetap saja kepikiran Bang." kata Adnan. "Ja' tawa tan ma tita to wala'o dulota ti momikirangi lo pikirangi lo bionga."


(nggak tahu siapa diantara anak kita yang punya ide gila itu). geram Adnan.


"Sudah pasti anakmu." goda Endi sambil tertawa sedang Adnan hanya mendecak jengkel. Endi kemudian tersenyum dan menyentuh bahu pria itu lalu menepuknya beberapa kali.


"Memang anak-anak kita salah. namun sebagai orang tuanya, kita lebih harus berpikir positif bahwa anak-anak kita selamat tak berkurang apapun." kata Endi.


Adnan masih diam. Endi melanjutkan, "Buah itu jatuh nggak jauh dari pohon. mereka mirip kita berdua dimasa muda."


"Bang Endi mengingatkan masa itu lagi?"


"Kalau lalu aku tak kau bela dihadapan almarhum papamu, mana ada aku disini? kau kan tahu masa laluku seperti apa?" kata Endi.


Adnan diam. pikirannya kembali melayang ke masa muda. ia berjumpa dengan Endi secara tak sengaja dalan perkelahian jalanan. Endi saat itu dikeroyok oleh kawanan preman lain. Endi hanya berbekal dua bilah wamilo yang digunakan untuk mencincang daging.


( wamilo \= golok panjang )


Endi kewalahan dan kehabisan tenaga. disaat kritis, Adnan muncul dan mengusir kawanan preman itu. ayah Adnan adalah seorang polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar. Adnan meminta ayahnya untuk membekuk kawanan preman tersebut. dan itu juga menyeret nama Endi.

__ADS_1


Endi kembali diselamatkan Adnan dengan alibi palsu, bahwa ia bersama Endi sedang mengikuti sebuah kajian keislaman yanv diadakan disebuah masjid, tepat pada saat penyergapan berlangsung. sejak itu, keduanya berkawan.


Endi meninggalkan dunianya dan beralih menjadi pedagang daging. adapun Adnan mengembangkan bakat enterpreneurnya dan membangun sebuah perusahaan besar. meskipun begitu, persahabatan mereka selalu terjalin hingga ke keturunan mereka.


panggilan Endi menyadarkan Adnan dari lamunannya. pria itu mengambil cangkir dan menyeruput isinya. Endi terkekeh.


"Lagi melamun ya?" ledek Endi.


Adnan tersenyum datar menanggapi pertanyaan pria berkepala botak itu.


"Berikan kepercayaan kepada mereka. mereka akan menghormati kepercayaan itu. mereka bukan anak kecil lagi yang kita ngemong. mereka sudah bisa menendang kita jika mau." kata Endi.


"Apakah Bang marah sama Trias?" pancing Adnan.


"Ya pastilah..." akunya sambil tertawa kemudian menatap Adnan dan menampakkan wajah serius. "Sampai kapan? sampai stroke? yang rugi kita sendiri. kau harus menghargai apa yang ia lakukan lalu bimbing dia agar lebih terarah."


"Seperti abang?" pancing Adnan.


"Inilah hal positif yang kudapat dari dunia preman. kepercayaan dan rasa hormat!" kata Endi sambil tersenyum.


lama mereka terdiam, tiba-tiba Endi nyeletuk. "Dua hari lagi, Trias akan menikah. kamu datang ya?"


Adnan terkejut dan menatap Endi. " Serius Bang? kenapa sih? anak itu masih sekolah."


...**********...


Aisyah tiba dirumah pada sore harinya. ia membuka pintu gerbang dan melangkah santai menyusuri beranda. setelah membuka pintu, gadis itu menyeberangi ruangan menuju kamarnya.


samar-samar gadis itu mendengar suara isakan tangis. gadis itu mencari-cari asal suara itu yang menuntunnya menuju dapur. disana Mariana duduk sambil menyandarkan lengannya pada sisi meja. didepannya terdapat sebuah gelas tinggi berisi air es.


"Ma? kenapa ma?" tanya Aisyah seraya mendekat pelan. "Kenapa Mama nangis?"


Mariana menoleh dan menghentikan tangisannya. ia berupaya tersenyum meski yang muncul malah senyuman datar saja. Aisyah duduk berseberangan dengan Mariana.


"Mama bertengkar sama Papa?" tanya Aisyah.


Mariana menggeleng sambil menunduk. Aisyah makin dilanda penasaran.


"Apa Kenzie membuat masalah?" tanya Aisyah dengan hati-hati.


Mariana mengangkat wajahnya. "Adikmu barusan dihajar Papa sampe bonyok."

__ADS_1


"Masya Allah! Ma! kenapa?" pekik Aisyah. "Dimana Ken-ken sekarang?"


"Ada dikamarnya. Mama melarangnya keluar." jawab Mariana. "Sekarang Papa lagi keluar. entah kemana. mungkin Papa lagi hilangkan kemarahannya."


"Aku yang akan bicara sama Papa." kata Aisyah seraya bangkit dan melangkah mendekati ibu sambungnya kemudian memeluknya. Mariana membalas pelukan itu dengan erat. setelah itu Aisyah mendekati kamar Kenzie dan mengetoknya.


"Masuk saja. nggak dikunci." jawab Kenzie dari dalam.


Aisyah membuka pintu dan memandangi Kenzie yang tidur-tiduran diranjang. Aisyah mendekati ranjang kemudian duduk ditepiannya. Kenzie sejenak memandang Aisyah kemudian kembali sibuk membuka-buka fitur dalam ponselnya.


"Kau cari masalah dengan Papa?" tanya Aisyah dengan pelan.


"Aku berkelahi dengan Papa." jawab Kenzie tak acuh.


"Berarti kau cari masalah dong." kata Aisyah sambil mengacak rambut Kenzie.


pemuda itu memperbaiki rambutnya lalu bangkit dan duduk bersila diranjang.


"Aku kukuh dengan pendapatku. Papa nggak terima dan menantangku berkelahi. untungnya perkelahian itu dilerai Mama dan aku dilarang keluar seharian ini. Papa sekarang pergi, entah kemana. itu yang buat Mama menangis." tutur Kenzie panjang lebar. ada rasa bersalah nampak dalam wajahnya.


Aisyah mengangguk-angguk. kemudian ia memandang lagi adik sambungnya itu. "Kau sudah minta maaf ke Papa?"


"Wololo mo hile maapu. ilo na'o tan totonu tiyo." jawab Kenzie dengan wajah keruh.


(bagaimana mau minta maaf, dia pergi entah kemana)


Aisyah tersenyum, "Memang kalau setiap kali Papa marah, beliau selalu pergi tanpa pamit?"


"Kakak baru tahu ya? setidaknya aku mendengar suara Papa pamit kepada Mama tadi...." jawab Kenzie dengan lesu.


"Kalau Papa pulang, segeralah minta maaf." saran Aisyah.


"Kalau dia pulang...." jawab Kenzie dengan ogah-ogahan.


Aisyah menyentuh lutut pemuda itu. "Ken, kamu itu anak lelaki. segala perbuatanmu memiliki resiko yang harus kau pertanggung jawabkan. permintaan maaf nggak akan membuat harga dirimu jatuh." nasihat Aisyah.


Kenzie diam sejenak kemudian memandang kakak sambungnya itu. "Kak Ais yakin Papa akan maafkan Kenzie?"


Aisyah kembali tersenyum lalu membelai pipi. "Papa itu berhati besar. Insya Allah dia akan memaafkan kamu."


gadis itu berdiri dan melangkah ke pintu. sebelum meninggalkan kamar, Aisyah berbalik menatapi adiknya yang masih duduk bersila diranjang. jilbaber itu tersenyum.

__ADS_1


"Lagipula, dia adalah Papa kita. Meskipun kita. benar dalam segala hal, kita berdua masih anak-anak bagi mereka..." []


__ADS_2