Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA 111


__ADS_3

Chiyome berlari dan terus menyusuri labirin yang seakan tanpa ujung. perasaannya panik. diujung sana terdengar rintihan dan pekikan kesakitan dibarengi suara tawa lelaki yang terdengar begitu mengerikan.


suara itu sangat dikenalnya. itu suara seorang yang sangat dekat dihatinya, yang selalu menerbitkan rasa rindu sejak beberapa bulan tak berjumpa. mengapa wanita itu memekik? mengapa wanita itu merintih?


KAKAK!!! KAKAAAAAK.... DIMANA KAMU?!


teriakan Chiyome menggema kembali bersahutan dengan suara permintaan tolong.


CHIYOOOOO..... TOLOOOONG.... TOLONG KAKAK CHIYOOO...


dengan napas terengah ia terus berlari. labirin itu seperti mengejeknya karena sedari tadi Chiyome tak sedikitpun mendapatkan jalan keluar. dengan geram wanita itu terus berlari seakan rasa letih pun berlari menjauhi dirinya.


pekikan dan rintihan meminta tolong itu terasa lebih menusuk jiwa kekeluargaannya ketimbang memikirkan rasa letih yang menggelayuti serat-serat ototnya. Chiyome terus berlari.


bagai kesetanan, Chiyome menerobos dinding-dinding labirin. dia tak lagi mengikuti jalurnya. rasa panik sudah sedemikian merasuk. mengikuti jalur hanya membuang waktu dan tenaga.


Chiyome mencakar-cakar dinding labirin yang kesemuanya dibangun dari jalinan tumbuhan Boxwood. dengan begitu ia bisa merusak dan menembus sekat labirin meskipun mengorbankan kulitnya tersayat cabang-cabang boxwood yang tajam karrna dipatahkannya.


CHIYOOO ....


kembali suara erangan itu terdengar semakin menambah rasa panik dan membuncahkan emosi. wajah penuh bekas airmata yang belum mengering. Chiyome terus mencari asal suara.


ia menemukannya....


beberapa tindak dihadapannya sebuah panggung pendek. diatasnya Aisyah terikat disebuah tiang. pakaiannya robek-robek nyaris telanjang. bilur luka menganga dan bekas cambukan dan cabikan kuku menghiasi sekujur tubuhnya yang terkulai lemah.


KAKAAAAAK....


Chiyome berteriak histeris. wanita itu menghambur menaiki panggung dan memeluk tubuh yang terkulai dalam ikatan jalinan tali yang melingkar ketat itu. Chiyome menumpahkan tangisnya.


"Kakak, siapa yang berbuat ini kepadamu?! katakan siapa?!" teriak Chiyome dengan histeris dan mengguncang-guncang tubuh yang sudah lemah itu.


dengan susah payah bagai mengumpul serambut energi, Aisyah mengangkat kepalanya. kedua matanya telah basah dengan air mata bercampur darah. senyum tersungging lemah diantara raut muka yang dihiasi darah yang mengalir dari luka-luka.


"Adek, akhirnya.... kau datang... terima.. kasih..." ungkapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Jangan bicara lagi. Adek akan membawa Kakak pergi dari sini." ujar Chiyome masih dengan tangis trenyuh melihat keadaan sang kakak yang begitu miris.


wanita itu mengorek-ngorek simpul tali yang mengikat kemudian menarik-narik dengan sekuat tenaga agar ikatan itu lepas. dengan air mata yang terus mengalir, Chiyome berupaya membebaskan sang kakak yang dicintainya. jemari-jemarinya kini ikut lecet dan sebagiannya luka karena memaksa melepaskan tali yang membelit tubuh lemah kakaknya. wanita itu tak menyerah, pantang menghentikan upaya sebelum tujuannya tercapai.


"Kakak jangan takut. ada Adek disini." kata Chiyome berupaya memberi penguatan kepada kakaknya yang seakan sedang sekarat menunggu maut. wanita itu menangis lagi merutuki belitan tali yang masih juga belum terlepas meski telah ditarik-tarik paksa oleh perempuan itu.


upaya memang tidak mengkhianati hasil. tali itu lepas dan tubuh Aisyah menggeloyor jatuh karena lemahnya tenaganya. Chiyome cepat menyongsongnya. wanita itu kemudian menggendong kakaknya dan melangkah perlahan menuruni panggung.


"Kita akan pulang, Kak. kita akan kembali ke rumah kota yang nyaman." hibur Chiyome dengan menggemeretakkan gigi penuh emosi dalam basuhan air mata yang membasahi pipi.


"Jangan kuatir Kak.... aku akan membawamu kembali... kita akan berkumpul bersama lagi.... aku janji...." ujar Chiyome terus melangkah.


...********...


Chiyome terbangun dari tidurnya. napasnya memburu nyaris sesak. piyamanya telah basah dengan keringat. peluh membanjiri wajahnya yang pias.


"Kakak... ada apa dengan Kakak?" gumamnya.


mimpi itu terasa sangat nyata. apakah ini pertanda? apakah sang kakak memderita dalam pernikahannya? bagaimana bisa menderita, jika memang dia mencintai lelaki itu? ataukah lelaki itu tak mencintainya, hanya menginginkan tubuhnya? apakah pernikahan itu menyiksanya, hingga melampiaskan kekesalan ke tubuh sang kakak yang tak tahu apa-apa. apa salahnya menuntut tanggung jawab karena lacur dari sebuah perbuatan? jika memang tak mau, mengapa memancing dosa dengan melakukan perjinahan?


Chiyome menggigit bibirnya dan akhirnya menangkupkan kedua telapak tangan ke wajah lalu menumpahkan emosi yang tersisa dari pergulatan mimpinya tadi.


tiada Kenzie disampingnya. sudah tiga hari suaminya bersama teman akrabnya, Trias mengadakan inspeksi ke Gunung Pani, Pohuwato, untuk memastikan eksplorasi tambang emas milik Buana Asparaga.Tbk berjalan baik tanpa hambatan.


tidak ada yang bisa menguatkan hatinya. mimpi itu sedemikian merasuki benaknya. ingatan kepada Aisyah yang beberapa bulan ini tak memberi kabar sejak pernikahan dan kepindahan mereka ke rumah baru membuatnya cemas. ini tak boleh dibiarkan. ia tak mau dibuat penasaran oleh mimpi yang tak berdasar. ia harus membuktikan dan memastikan kehidupan rumah tangga sang kakak baik-baik saja.


Chiyome menatap jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 04.45 pagi. wanita itu turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi pribadinya. wanita itu bwrwudhu sekalian membasuh sisa airmata yang mengotori wajah putihnya.. setelah itu ia keluar dan mengambil mukena yang terlipat bersama sajadah dari dalam lemari.


wanita itu menghamparkannya. ditengah keheningan subuh itu sang wanita mengangkat tangan menyuarakan takbir dalam kicauan suara samar. Chiyome melaksanakan sholat subuh, membaca surat wajib dan surah Al-Zalzalah. tak terasa kembali air matanya kelar menjebol pertahanan kelopak mata yang sembab, mengaliri pipi dan jatuh dihamparan sajadah tersebut.

__ADS_1


tangisannya semakin deras meski sebisanya menyamarkan isak dan sesenggukan agar kedua mertuanya tak menyadari kegalauan yang meneggelayuti benak melalui sedu sedan didalam sholat itu. rakaat berlanjut dan air mata terus menjebol hingga akhirnya ritual sholat itu selesai dan tak mampu menahan emosi, Chiyome meniarap dihamparan sejadah itu menumpahkan kembali tangisnya yang tertahan.


" Onesan... anata ga inakute sabishΔ«desu... " rintihnya sambil menyapu dada yang terasa sesak. (Kak Ais... Chiyo rindu banget...)


...*******...


Mariana heran menatap wajah pucat dan mata sembab Chiyome ketika ikut membantunya menyiapkan hidangan sarapan pagi kala itu.


"Kamu lagi nangis, Dek? kenapa?" tanya Mariana menyapu rambut Chiyome yang disanggul. wanita itu hanya tersenyum datar saja dan matanya yang sembab makin sipit ketika tersenyum datar itu.


"Mikirin Kenzie ya?" goda Mariana.


Chiyome lagi-lagi hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Mariana tertawa.


"Doooo, baru ditinggali 3 hari, kangennya kayak 3 tahun ya?" goda Mariana dengan gemas dan mencubit hidung menantu yang paling disayanginya.


"Auch... sakit Maaaa..." rajuk Chiyome dengan manja dan menghentakkan kaki membuat Mariana kembali tertawa dan memeluk putri mantunya itu. Chiyome memegangi hidungnya yang memerah karena dicubit itu.


"Sudah, jangan nangis lagi." hibur Mariana. "Kalau nangis lagi, nanti matanya bengkak kayak mata tendelenga lho." goda Mariana melihat Chiyome memberenggut.


"Kalau rindu jangan ditahan, telepon Kenzie sana. supaya hati Adek senang dan tenang." saran Mariana sambil terus mengaduk adonan kue untuk sarapan.


Mama... aku memang merindukan Hubby, tapi bukan itu yang menjadi pemikiranku sekarang... ini tentang Kak Ais. entah kenapa akhir-akhir ini aku sering cemas sendiri...


Chiyome menggeleng. Mariana mengerutkan alis sambil tersenyum.


"Lho? kenapa?" tanya wanita itu yang kemudian meletakkan adonan itu ke penggorengan sedang Chiyome yang kemudian mengaduk minyak agar tidak membuat hangus adonan sehingga gurihnya terasa.


"Adek nggak mau mengganggu konsentrasi Hubby. lagipula gunung Pani adalah wilayah terpencil, nggak masuk sinyal disana." jawab Chiyome sambil senyum.


"Ya, kalau dia pulang ke hotel nanti." timpal Mariana.


"Hubby nggak nginap dihotel Ma..." jawab Mariana.


"Lho? kenapa? susah-susah difasilitasi perusahaan kok." ujar Mariana mulai kesal lagi.


"Ah, setahu Mama, nggak ada tuh kerabatnya." kata Mariana meletakkan lagi adonan ke dalam penggorengan setelah Chiyome mengeluarkan adonan yang sudah masak dan menaruhnya pada peniris untuk mengeluarkan minyak yang berlebihan.


"Ada Ma. namanya Om. Kartono. tinggalnya di Buntulia, orangnya bekerja sebagai guru madrasah tsanawiyah." jawab Chiyome, "Mama nggak dikasih tau Papa ya?"


"Memang Papa yang rekomendasikan tinggal disana?" tanya Mariana yang sesekali melihat adonan disiram-siram dengan minyak.


"Nggak, Hubby saja yang menolak fasilitas perusahaan, maunya membaur dengan keluarga. itu katanya." jawab Chiyome.


"Ah, anak itu... suka-sukanya saja..." gerutu Mariana.


tak lama kemudian Adnan muncul diruang makan dan menonton kedua wanita itu yang sementara memasak hidangan. lelaki itu melihat arloji pada pergelangan tangannya. itu baru pukul 06.10 pagi. masih ada waktu banyak sebelum berangkat ke kantor.


Adnan sudah bangun sejak jam 3 pagi. itu memang kebiasaannya kecuali jika sedang melayani Mariana diranjang atau dalam keadaan lelah karena bekerja atau sakit, maka dia akan terbangun pada jam 6 pagi. setelah melakukan sholat Qiyamul lail, witir dan disusul dengan sholat shubuh, lelaki itu langsung mandi menyegarkan tubuhnya dipagi buta itu. setelah bersalin pakaian, lelaki itu masih sempat-sempatnya mendaras paling sedikit 20 ayat dalam surah-surah Al-Qur'an setiap harinya, setiap subuh.


Adnan duduk disalah satu kursi, sudah berpakaian rapi, stelan jas komplit celana panjang yang dipadu sepatu pantofel. memang penampilan seorang eksekutif metroseksual yang elegan. Kenzie ikutan berpenampilan seperti itu karena terkesan dengan perbawa yang nampak dibalik penampilan tersebut dan pemuda itu membuktikannya. memang tampilan resmi akan lebih meningkatkan kewibawaan ketimbang mengenakan pakaian kasual saja.


Chiyome membawa hidangan sarapan dalam piring lebar dan diletakkan didepan Adnan. lelaki itu tersenyum dan menatap putrinya itu, tapi Adnan langsung mengerutkan alisnya melihat mata Chiyome yang sembab.


"Adek kenapa? kok bengkak begini matanya?" tanya Adnan.


"Lagi kangen sama suaminya. tapi nggak bisa teleponin, pagi begini kan Kenzie sudah diatas gunung nih." sahut Mariana dari dapur.


Chiyome sendiri hanya tersenyum. Adnan membelai kepala menantunya, "Yang sabar ya? kan cuma seminggu. nggak bisa nahan rindunya?" goda Adnan sambil tertawa.


"Bisa, Pa.... Hubbynya yang nggak bisa." jawab Chiyome. "Dengar suara Chiyo, pasti deh dia langsung pulang, nggak perduli lagi dengan tugasnya."


"Beneran?!" tanya Adnan dengan takjub. Chiyome mengangguk-angguk dan tersenyum. Adnan menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Wah bahaya kalau begini. bucin sekali suamimu itu ya. dianggapnya suara istrinya terompet tanda istirahat kali ya."


"Makanya Adek nahan diri. tapi ya, yang namanya rindu..." ujar Chiyome, Adek bukan rindu Hubby, Papa... Kak Ais... Adek rindu Kak Ais...

__ADS_1


Adnan tertawa lagi sambil mencomot satu gorengan. "Wah kalau begini, sebaiknya Papa menugaskan kalian bersamaan saja. cuma Papa heran, kok dia ngajak Trias, bukan kamu."


"Mungkin ada pembicaraan lain yang hendak dia diskusikan dengan Trias, Pa... kan Papa tahu sendiri keduanya kayak gimana." jawab Chiyome.


"Adek gantikan tugas Kenzie sebagai HRD ya? sampai Kenzie pulang. Adek bisa, kan?" tanya Adnan.


"Siap Komandan!" jawab Chiyome langsung berdiri tegak dan melakukan penghormatan. Adnan tertawa.


"Ya sudah, bersih-bersih sana. biar Mama yang selesaikan sisanya." kata Adnan.


Chiyome mengangguk dan meninggalkan ruangan. ia kembali ke kamar dan masuk dalam kamar mandi pribadi dan mulai membersihkan dirinya.


aku harus bisa memastikan Kak Ais baik-baik saja. perasaanku langsung memburuk setelah mengalami mimpi jelek itu. semoga Kak Ais tidak mengalami hal-hal buruk dalam hidupnya.


setelah mandi, Chiyome bersalin pakaian mengenakan hem biru yang pita kerah yang dipilinnya menjadi model kupu-kupu. bawahannya ia mengenakan rok lipit dan sepatu high heels rendah. setelah mematut-matut dirinya di cermin, Chiyome meraih tas kerja dan melihat ke boks bayi.


Saburo, putranya masih tidur. wanita itu tersenyum, lalu keluar dari kamar menuju ruang makan.


"Lho? sudah mau jalan? sarapan dulu." panggil Mariana.


Chiyome mengambil secomot gorengan lalu mencium pipi Mariana.


"Ma... titip Sandiaga ya?" pinta Chiyome.


dihadapan Mariana dan Adnan, Chiyome menyebut putranya dengan nama panggilan kedua mertuanya tersebut, hanya dihadapan Kenzie dan Trias, ia menyebut putranya dengan nama pemberiannya sendiri. Mariana tersenyum.


"Tentu dong, Sandiaga kan kesayangan neneknya." balas Mariana membuat Adnan menjebikan bibirnya.


Chiyome tertawa lalu memakan gorengan itu dan melangkah meninggalkan ruangan makan. ia bergegas melintasi ruang keluarga dan ruang tamu terus keluar menuruni beranda dan masuk ke mobilnya. tak berapa lama kendaraan itu meluncur meninggalkan kediaman Lasantu.


...*******...


Chiyome memulai pengamatannya. pertama-tama dia menghubungi Endrawan, meminta salah satu anak buahnya menghadap kepadanya dikantor.


πŸ“² "Abah sudah instruksikan salah satu anak abah kesana. kamu tunggu saja." jawab Endrawan yang sementara sibuk memotong daging.


πŸ“² "Makasih Abah." jawab Chiyome ikut-ikutan memanggil abah kepada Endrawan karena suaminya juga menyebut abah belakangan ini kepada lelaki itu disebabkan Trias telah memproklamirkan Saburo sebagai calon mantunya.


baru saja Chiyome memutuskan sambungan seluler, pesawat telepon di meja kerja berbunyi. Chiyome menekan salah satu tombol.


πŸ“ž "Dengan Chiyome Mochizuki, HRD." sebut wanita itu.


πŸ“ž "Bu, ada lelaki mau ketemu Ibu." ujar penelpon tersebut yang tak lain bagian resepsionis kantor.


πŸ“ž "Suruh segera ke ruangan saya." pinta Chiyome dengan datar.


πŸ“ž "Baik bu." jawab resepsionis itu, dan sambungan telpon terputus.


Chiyome bangkit dan berdiri memutari meja kerja lalu menyandarkan pinggulnya di sisi meja tersebut. tak lama terdengar ketukan pintu.


"Masuk!" seru Chiyome.


pintu terbuka dan masuklah seorang lelaki tinggi besar. wanita itu menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi. lelaki itu menunduk.


"Kamu tahu kenapa kamu disuruh kesini oleh Om Endrawan?" pancing Chiyome.


"Untuk melayani Nyonya Lasantu!" jawab lelaki itu.


Chiyome mengangguk. "Kamu akan menjalankan tugas mengamati."


"Sebutkan tugasnya Nyonya!" pinta lelaki otu.


"Kau amati selama 24 jam, kediaman yang ditinggali Aisyah Lasantu dan suaminya. laporkan semuanya, apapun, yang kau lihat di kediaman itu. soal akomodasi dan transportasimu jangan kuatir. aku akan memenuhinya. yang jelas, aku ingin berita terbaru tentang keadaan kakak perempuanku. kau paham?!" ujar Chiyome dengan dingin.


"Paham Nyonya!" jawab lelaki itu.

__ADS_1


"Laksanakan tugasmu!!" seru wanita itu dengan tatapan yang makin membuat lelaki itu bergidik. ia buru-buru keluar untuk melaksanakan tugas yang diembankan.[]


__ADS_2