
Aisyah hanya bisa menatap tak mampu berbuat apapun. perlakuan Stefan tadi membuatnya terhipnotis, menjadikan otaknya sedikit korsleit sehingga melumpuhkan sel-sel conciusnya. pemuda itu menghujamkan tatapan penuh makna dibalik senyum yang mempesonakannya. jantungnya berdetak cepat namun tak beraturan seakan ritmenya kacau meski ia tak merasakan ngilu karena itu bukan penyakit jantung. itu hanya debar tak beraturan.
"Ijinkan aku bersamamu Ais... sejak pertemuan kita di OSPEK itu. aku selalu memperhatikan kamu. aku membayangi kamu disini bahkan dimanapun kau berjalan." kata Stefan dengan jujur.
"Evan.... aku.. " Aisyah tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Aku tau ini mungkin yang pertama bagimu. aku mungkin terlalu cepat mengungkap isi hatiku. tapi.... " ujar Stefan dengan berat.
Aisyah sendiri hanya menutup mulutnya. tak mau berkata. tak mau mengungkap rasa. ia hanya menanti kalimat selanjutnya dari pemuda itu.
"Tapi.... aku takut kau menolakku." kata Stefan yang kemudian menundukkan wajahnya.
Aisyah menatapi wajah itu. wajah yang berani menerobos etika untuk mendaratkan kecupan dibibirnya. Stefan mengangkat wajahnya dan menatapi Aisyah penuh pengharapan.
"Ais.... aku .... bolehkah aku mencintaimu?" tanya Stefan.
Aisyah kembali tak menjawab. ia masih syok. wajah pemuda itu kembali mendekat. ia hendak kembali mencium namun tangan Aisyah terulur menahan wajah itu dan menggesernya ke samping.
"Aku akan memikirkannya. beri aku waktu..." kata Aisyah dengan pelan dan mendorong tubuh Stefan lalu gadis itu beranjak meninggalkan pemuda itu yang hanya bisa bengong menatapi punggung gadis yang memberantakan hatinya menjauh.
...*****...
Aisyah benar-benar tidak konsentrasi mendengarkan deskripsi tentang jenis-jenis pemahaman dalam lingua franca yang dipaparkan oleh dosen. pikirannya benar-benar tak mampu menangkap apapun dari kalimat yang terucap dari lidah pengajar itu. semuanya buntu, seakan otaknya tak mau mendengarkan perintah sanubarinya.
rongga-rongga hippocampus dalam otaknya kini hanya mempresentasikan memori ciuman lembut yang didaratkan oleh Stefan dibibirnya. dipapan tripleks putih yang penuh coretan spidol dosen itu tak nampak apapun. terhapus oleh tayangan perspektif person pertama. wajah Stefan yang menatapnya, kemudian mendekat dan layar itu menggelap karena Aisyah memejamkan matanya dan membiarkan syaraf-syaraf otaknya menstimulus ujung syaraf dibibirnya merespon kecupan dari pemuda itu.
Aisyah memejamkan mata sekali lagi untuk mengusir bayangan itu. namun memori itu tetap saja bertengger dibagian sisi otaknya yang lain, seakan nanosel dalam otaknya hanya mau menayangkan bioskop maya itu saja.
Aisyah mendesah membuat Farah, disisinya menoleh. "Kamu kenapa?" bisiknya.
"Nggak tau. aku nggak bisa konsen." jawab Aisyah dengan berbisik pula.
mahasiswi itu berdiri dan mengangkat tangannya meminta ijin meninggalkan ruangan. dengan langkah cepat, Aisyah melangkah keluar dari ruangan itu dan kemudian menyandarkan punggungnya dipintu ruangan. jilbaber itu menunduk lalu sejenak kemudian mengangkat wajahnya.
Evan.... kau sudah membuatku tak mampu berkonsentrasi terhadap kuliahku hari ini.... apa yang semayamkan dalam hatiku, Evan... jika hanya sekedar ciuman, aku bisa mematikan ujung-ujung syarafku dan tidak memperdulikannya... tapi... apa yang kau semayamkan dibalik ciuman itu Evan....
Aisyah kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel lalu memencet nomor ayahnya. tak lama kemudian terdengar nada sambung.
📞 "Assalamualaikum, Ais, kenapa nak?" tanya Adnan yang sementara memeriksa file-file di meja kerjanya. lelaki otu menyandarkan ponsel ke telinganya, dikepitkan dengan bahu kekarnya.
📲 "Pa... bisa jemput Ais sekarang? Ais kurang sehat kayaknya nih... lesu sekali..." jawab Aisyah.
📞 "Oh ya?" kata Adnan menutup file itu dan berdiri lalu melangkah menuju pintu dan membukanya. "Kalau begitu Papa kesana sekarang. kamu tunggu di halte, ya?"
📱"Iya deh Pa... cepetan..." kata Aisyah sambil memutuskan panggilan dan menyimpan ponsel kembali disakunya.
jilbaber itu kembali melangkah dengan pelan. tak lama kemudian seseorang muncul lagi menjajarinya.
"Aku belum mau diganggu, Evan." jawab Aisyah tanpa menoleh.
"Wah, hebat ya tanpa melihat sudah tahu gaya langkahku..berarti aku memang pasangan kamu." kata Stefan sambil terkekeh.
"Aku beneran belum mau diganggu..." kata Aisyah.
jilbaber itu berhenti lalu menatapi pemuda disisinya. mata gadis itu berkaca-kaca.
"Ais.. kenapa?" tanya Stefan yang tergerak mengulurkan jemarinya hendak menyentuh wajah yang merona merah itu.
namun tangan itu tak mendarat disana karena Aisyah telah menahan pergelangan tangan pemuda itu.
"Kenapa kau menggangguku?" tanya Aisyah.
"Mengganggu? apa aku mengganggumu?" tanya Stefan.
"Ya! kau menggangguku." tandas Aisyah. setitik air bening luruh mengaliri pipinya.
"Ais.... apakah karena ciuman tadi?" tanya Stefan dengan lirih. keduanya tak lagi perduli dengan beberapa pasang mata yang menonton mereka ketika mereka melintas disana.
"Kenapa kau melakukannya? apakah kau ingin membuktikan kalau kau mampu melakukan hal tersebut pada orang lemah sepertiku?" todong Aisyah yang mulai terisak pelan meski berusaha tegar dihadapan pemuda itu.
"Ais....aku tak bermaksud..." lidah pemuda itu menjadi kelu.
"Apakah kau ingin merusak aku, Evan?" tanya Aisyah.
"Merusak apa? aku tak mau merusakmu. aku mencintaimu!" tandas Stefan.
"Lalu ciuman itu apa? apa maksudnya?" todong Aisyah.
Stefan terdiam menyadari bahwa gadis dihadapannya begitu polos, bahkan bisa jadi belum pernah terkontaminasi oleh virus cinta dan bakteri kerinduan, sehingga ciuman yang dilandaskan oleh Stefan dianggapnya sebagai sesuatu yang merusak.
"Ais... ijinkan aku menjelaskan..." kata Stefan.
__ADS_1
namun Aisyah menahan dada pemuda iru lalu melangkah mundur beberapa langkah dam berbalik melangkah dengan cepat meninggalkan Stefan.
pemuda itu tergerak menyusulnya. ia berlari dan mendekat lalu mencengkeram pergelangan tangan jilbaber. Aisyah terkejut dan serentak mengangkat tangannya, namun cekalan tangan Stefan lebih cepat mencengkeram pergelangan tangan gadis itu lebih cepat hingga bagaimanapun Aisyah mengibas dan menepis, cekalan tangan pemuda itu tak terlepas.
"Lepaskan tanganku Evan!" ancam Aisyah.
"Aku nggak akan melepasnya sebelum jelas apa yang kau pikirkan tentang aku." tandas Stefan.
Aisyah menatapnya dengan tajam. "Aku mohon lepaskan tanganku, Evan." pinta jilbaber itu dengan nada mengancam.
"Ais... biarkan aku menjelaskannya.." kata Stefan.
JLEB! OUCH!!!
Stefan berteriak kesakitan ketika tiba-tiba Aisyah menginjak kakinya dengan keras. sontak pegangan pemuda itu lepas dan ia berjingkat-jingkat mengangkat kakinya dengan kesakitan. sementara Aisyah sudah berlari meninggalkannya. Jilbaber itu tiba dihalte bertepatan dengan Adnan yang baru saja menepikan mobilnya.
Aisyah langsung membuka pintu dan masuk. "Cepetan Pa!" teriaknya dengan panik.
"Kenapa?!" tanya Adnan dengan heran.
"Aisyah mau diculik! cepat Pa!" teriak Aisyah yang langsung menangis membuat Adnan dengan sigap menekan pedal gas membuat mobil itu langsung melaju meninggalkan Universitas Negeri Gorontalo.
...******...
Kenzie melongo menatapi Chiyome yang tanpa jeda menghabiskan 5 porsi mie bakso, bahkan minta tambahan lagi 2 piring gado-gado. pemuda itu menelan salivanya sedang dihadapannya Chiyome tak peduli dan terus mengunyah dan menelan.
"Wiffy... Hubby belum mengalami halusinasi kan?" tanya Kenzie.
Chiyome mengangkat wajahnya yang dengan santap melahap lontong terakhirnya. tak lama tanpa sadar gadis itu mengeluarkan sendawa. Chiyome langsung menutup mulutnya lalu menatapi Kenzie dengan pameran seringai gingsulnya.
"Kenapa Hubby?" tanya Chiyome kembali memamerkan senyum lebar seringai gingsulnya.
kelihatannya kami berdua mengalami pelepasan emosi. aduh harus segera di rem nih... jangan sampai menimbulkan kegemparan berikutnya... sudah cukup Trias yang menyebabkan kegemparan... kalau kami... bisa jadi berita paling hot nih...
Kenzie mendorong piring nasi gorengnya kearah Chiyome. "Wiffy masih mau? nih.." kata Kenzie.
"Ih, memangnya Wiffy tempat sampah apa? disodori makanan sisa.." kata Chiyome dengan cemberut.
"Kan Hubby punya. bukan orang lain.." kata Kenzie.
"Nggak mau! kalau ngasih itu yang baru, bukan bekas! memang Hubby mau juniornya ileran?" jawab Chiyome.
Kenzie sontak menengok kanan dan kiri memastikan tak ada siapapun siswa yang mendengar percakapan Chiyome. pemuda itu kemudian meletakkan telunjuknya dibibir.
"Biarin! supaya mereka nggak dekati Hubby lagi. itu Si Tirta juga kegatelan.. huh kalau nggak ingat Hubby sudah kupermak mukanya yang sok memelas itu!" balas Chiyome dengan sengit.
Kenzie langsung menangkupkan telapak tangannya ke wajahnya dan kembali menatapi sekelilingnya. untungnya kantin siang itu sepi. sebagian besar anak-anak siswa lebih memilih berada dikelas ketimbang di kantin.
"Wiffy, kecilin suara sedikit boleh nggak?" kata Kenzie dengan lirih. "Wiffy mau digelandang ke kantor kepala sekolah dan interogasi macam-macam disana hanya karena kelepasan bicara."
"Alaaaa.... Hubby saja yang takutnya ketahuan. Wiffy nggak tuh..." jawab Chiyome dengan enteng.
"Wiffy tau nggak tadi pagi Tirta itu sudah curiga. karena Hubby ngendusin pengharum stela. dia becandai Hubby katanya lagi ngidam. nah, kalau ternyata kecurigaannya benar dan kita ketahuan, gimana dong? kan kita sepakat jangan sampai ketahuan. Wiffy mau melanggar kesepakatan itu?" kata Kenzie kembali menatapi wajah istrinya dengan sorot tajam.
Chiyome paham dengan kecemasan suaminya itu. gadis itu mendesah panjang. "Iyaa deeeh... Hubby... Wiffy nggak akan begini lagi..."
Kenzie menatapi istrinya yang cemberut. "Jangan perlihatkan wajah seperti itu. Hubby nggak mau wajah Wiffy yang jelek jadi macam kuchisake onna..."
Chiyome langsung pias mendengar nama hantu berbibir robek yang sering menggenggam gunting dan membunuhi orang itu.
"Aaaa... Hubby bisa tidak nakuti Wiffy dwngan hantu iru?!" teriak Chiyome dengan kesal.
Kenzie tertawa, "Okey deh, Hubby minta maaf." pemuda itu bangkit dan menuju tempat kasir lalu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan selembar uang IDR. 100 ribu dan menyerahkan kepada pemilik kantin. tak lama kemudian ia kembali dan mengulurkan tangan.
"Yuk, ke kelas..." panggil Kenzie.
Chiyome menyambut uluran tangan suaminya kemudian menggelayut manja dilengan Kenzie yang kekar itu. kedua kekasih itu melangkah santai melintasi lorong sekolah
...**********...
Aisyah berbaring bertemankan bantal peluk yang dipeluknya dengan erat. ingatannya kembali ke memori dimana ia ditarik oleh Stefan ke sebuah kelas yang tak terpakai. pemuda itu mengungkapkan cintanya lalu menciumnya dengan lembut dan sejenak kemudian ia tersentak karena merasa bongkah payudara kanannya diraba dan diremas pelan oleh pemuda itu.
apakah harus seperti itu pernyataan cinta seorang lelaki kepada perempuan? haruskah dengan menciumi, menjilati? mengulum dan menyatukan lidahnya? kemudian meremas payudara? apakah seperti itu cara menyanpaikan perasaan cinta seorang lelaki kepada perempuan?
Aisyah tak henti-hentinya merenung.
tidak bisakah dengan sebuah pernyataan saja tanpa harus melakukan hal itu? mengapa lelaki suka sekali melakukan hal semacam itu? apakah pernyataan cinta harus disertai dengan hal-hal semacam itu?
gadis itu kembali mendesah dan membalik tubuhnya ke sisi lain. hari ini ia membohongi ayahnya, mengatakan bahwa ia sedang dikejar oleh penculik. siapa penculiknya?
Evan? diakah penculiknya? ya! dialah penculiknya. tanpa permisi dia mencuri ciuman pertama gadis itu dan melepaskan kepolosannya dengan meremas payudaranya. gadis itu tak habis mengerti. mengapa dia tak berontak pada waktu itu? bukankah pemuda itu telah melakukan pelecehan secara seksual kepadanya? tapi mengapa dia hanya diam saja? membiarkan, bahkan memejamkan mata dan secara tidak langsung merelakan bibirnya dipermainkan oleh pemuda itu..bahkan karena tidak adanya perlawanan, pemuda itu berani menyelundupkan tangannya kedalam khimar dan menyergap bongkahan buah dadanya. bagaimana jika pemuda itu semakin berani dan menelusupkan tangannya kedalam pakainnya lalu menyelusup kebalik Bra dan mempermainkan kedua payudaranya tanpa pelindung lagi.
__ADS_1
Aisyah bergidik namun disaat yang sama jantungnya berdesir. kedua mata jilbaber iru memejam kembali menguak dan menggali rasa yang pernah tercipta dari sentuhan lembut dibibirnya dan payudaranya itu. terasa damai, terasa mencandu. tanpa sadar, Aisyah merindukan belaian itu.
tak lama kemudian ia tersadar kembali.
"Tidak! ini tak boleh terjadi! bagaimana bisa aku membiarkan dia menyentuh bibirku, mempermainkan payudaraku? dimana imanku saat itu? mengapa aku bungkam? mengapa justru birahi yang datang dan menyemangatiku untuk terus meraih anggur kenikmatan itu? apa yang telah terjadi dengan diriku?"
Aisyah bangkit lalu melangkah mondar-mandir diruangan itu. ia memeluk tubuhnya sendiri lalu sesekali menyentuh dagunya.
haruskah aku menerima permintaan cintanya? lalu setelah itu bagaimana? apakah semua akan kembali sebagaimana biasa?
Aisyah benar-benar tak tahu apa yang mesti dilakukannya.
...*******...
di sebuah taman disekitar kampus. beberapa anak sastra asyik membahas tentang hasil perkuliahan mereka. tapi tidak dengan seorang pemuda yang duduk menyandarkan punggungnya pada batang pohon trambesi.
berkali-kali ia mendesah dan sesekali menatapi kawan-kawannya yang asyik bercanda disana. mereka tak mempedulikannya. ia pun tak memperdulikan mereka. ada urusan yang lebih gawat menggelayuti benaknya. sejak ia menyatakan cinta kepada jilbaber itu dan kini jilbaber itu mulai menjauhinya.
apa yang salah dengan pernyataan cinta? ataukah ada yang lebih dinginkan oleh gadis iru lwbih daripada sebuah pernyataan?
buram benar otaknya. sambil menghembuskan udara sengan kasar dari paru-parunya, Stefan memakaikan headset ke telinganya dan mulai memutar lagu 'You Are My Garden' yang dinyanyikan oleh Jung Eun Ji.
begitu tinggi... bagai menggapai langit
begitu luas... bagai memeluk lautan
seperti inilah hatiku.... diwarnai aromamu
seperti inilah rasanya mencintaimu... mencintaimu... mencintaimu... aku mencintaimu...
betapa hangatnya
kapanpun memikirkanmu... aku merasa bahagia....
hanya memikirkan, memelukmu
menerbitkan senyuman diwajahku
kau mewarnai hidupku....
andaikan aku bunga ditamanmu
andaikan aku mega diawangmu
aku ingin menghiasmu lebih cantik
dengan warnaku sendiri....
beginilah rasanya mencintaimu, merindukanmu, mendambakanmu.... aku mencintaimu...
betapa hangatnya... kapanpun aku mengkhayalkanmu... aku merasa bahagia...
hanya berpikir memelukmu, menerbitkan senyumku
kau mewarnai duniaku
kau harapanku... kau gembiraku
dimanapun.. kapanpun ... aku memikirkanmu
kapankah luapan cintaku merembes dihatimu?
kapankah aku menggapaimu... dan mempersembahkan segalanya?
aku mencintaimu... aku merindukanmu...
betapa hangatnya ketika aku memikirkanmu
aku tak mampu ungkapkan semua
kecuali dengan kata-kata 'Aku mencintaimu'
kau penuhi aku dengan dirimu
seperti inilah aku mencintaimu.... mencintaimu...
betapa hangatnya ketika aku memikirkanmu...
hanya berpikir untuk memelukmu sudah menerbitkan senyumku
kau mewarnai duniaku...
__ADS_1
aku ingin tinggal di tamanmu.... []