
Hotel Pangeran Beach, Padang. pukul 05.00 a.m. WIB.
Kenzie mendandani dirinya sendiri. meskipun kesal, ia tak boleh membantah perintah atasan, meskipun itu adalah ayahnya sendiri. untungnya ia mensiasati. Kenzie sengaja memboking 2 kamar, saling bersebelahan. satunya untuk Puspita Kusmaratih, gadis yang kini menjabat sebagai sekretaris dan sekarang ikut dengannya.
Kenzie senang dicemburui, tapi bukan dicemburui Chiyome. kecemburuan istrinya sangat dicemaskannya. sang istri bisa saja menyembunyikannya dihadapan kedua orang tuanya, tapi tidak dihadapan Kenzie. pemuda itu sangat mencintai istrinya.
pemuda itu segera menghubungi istrinya ketika ia tiba di Bandar Udara Internasional Minangkabau. untungnya ada jet perusahaan. kalau mengunakan pesawat komersial, bisa lama perjalanan karena harus ganti pesawat dua kali dari Jalaluddin Gorontalo, ke Sukarno-Hatta Jakarta, terus ke Bandara Minangkabau. sangat melelahkan.
setelahnya ia langsung memesan jasa travel untuk membawanya ke Hotel. mereka merekomendasikan hotel bintang 4 yang sekarang ditinggalinya. sang istri hanya berpesan untuk menjaga adab dan kesetiaannya. Kenzie terharu sekali mendengar pengakuan Chiyome.
Wiffy tak ingin mencampuri urusan Hubby. selama hati Hubby bersama Wiffy. maka Wiffy akan tetap mempercayai apapun yang Hubby bilang, apakah itu benar ataupun dusta... jaga hati Wiffy.... i love you, Hubby...
pemuda itu selesai mendandani dirinya. ia hanya mengenakan satu set trainings pack hitam dan topi untuk menutupi kepalanya. sepatu sport dan tak lupa ponsel serta headset yang disumpalkan ke telinganya. gawai itu sendiri disimpannya pada wales belt. begitu juga dengan dompetnya.
Kenzie keluar dan mengetok pintu kamar sebelahnya. tak lama pintu membuka dan nampak Puspita mengenakan piyama. mata pemuda itu membesar menatap belahan payudara yang menyembul dari kerah piyama yang agak membuka.
"Astaghfirullah, Pita! begini ya modelmu kalau dirumah?" tegur Kenzie dengan kesal. "Kau itu sekretaris. jaga penampilan dong. untung aku didepan pintu. kalau preman, mampus kamu digarap!"
Puspita hanya tersenyum malu. "Maaf Pak. kan ini masih subuh." kilahnya.
"Nggak Sholat kamu?" balas Kenzie lagi. Puspita memperhatikan penampilan Kenzie.
"Bapak mau jogging?" tanya Puspita. "Jangan jauh-jauh pak. jam 09. pagi, kita akan meeting dengan presdir MLT. Group." ujarnya mengingatkan.
"Ya. aku tahu." ujar Kenzie. "Nanti aku kabari kamu. aku mau keluar dulu." kata Kenzie langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Puspita. gadis itu menggelengkan kepala berkali-kali.
"Dasar pimpinan sok riya. pamerin sudah sholat subuh lagi. memang apa urusannya dengan gue coba. isssyy.. bikin ilfiil tahu, nggak..." gerutunya kemudian menutup pintu.
...*******...
Kenzie menyusuri jalan Juanda dengan santai. pemuda itu sengaja jogging untuk menetralisir tenaga dalam yang menggumpal dibagian bawah pusarnya. memang susah jadi pria beristri. susah sekali menahan libido, apalagi dalam posisi long distance relationship seperti ini.
Papa nggak mikir ya, kalau jauhan macam ini bagaimana mau melampiaskan keinginan? kalau belum kawin kan gampang. masa aku harus onani sih? kayak nggak punya kerjaan saja.
Kenzie terus berlari menyusuri trotoar jalanan. peluhnya sudah bercucuran. pemuda itu makin senang. itu artinya aliran tenaga dalamnya mulai mengalir dengan seimbang. nafasnya memburu, tapi Kenzie tak perduli. lebih baik mengarahkan aliran itu keseluruh bagian tubuh supaya energi itu masih bisa berguna.
subuh mulai pudar berganti pagi dan mentari perlahan mulai menampakkan diri memancarkan cahaya tanpa pamrihnya ke bumi pertiwi. Kenzie terus saja berlari tanpa sadar ia kini menyusuri jalan Veteran dan terus berlari lagi.
hawa panas yang mengumpul dalam pakaian yang membalut tubuhnya membuat Kenzie makin semangat berlari. tubuh atletisnya terus memacu adrenalin untuk melipat gandakan energi ke bagian kakinya.
kini ia menyusuri jalan Pemuda. terus hingga akhirnya ia mendapati perempatan. Kenzie menoleh ke kiri melihat sambungan jalan besar itu, kemudian menatapi jalan kecil dihadapannya.
bagaimana jika kutelusuri jalan ini?
dipandu rasa penasarannya, Kenzie mulai berlari kembali menyusuri jalan diponegoro. ia terus berlari menghabiskan seluruh energi, lalu membelok ke jalan Hayam Wuruk. nampak kendaraan mulai lalu lalang. beberapa pengguna jalan nampak heran melihat seorang pemuda berlari sendirian. terasa aneh saja dipagi yang mulai nampak aktifitas, masih saja ada orang jogging.
Kenzie berbelok ke jalan Nipah. terus menyusuri jalanan itu sambil menikmati pemandangan. otak kanannya terus mempelajari jalan yang disusurinya agar bisa tercetak pada memori fotografiknya.
perjalanan Kenzie berakhir di kota tua. menurut sejarah, kota ini didirikan oleh para perantau dari darek (dataran tinggi) yang berada diwilayah selatan yang disebut Seberang Pebayan dekat dengan Muaro Padang.
Kenzie menghentikan lari dan hanya melangkah menaiki jembatan Siti Nurbaya yang membentang di Sungai Batang Arau. langkah Kenzie terus terayun.
tiba-tiba terdengar deringan sambung. Kenzie menekan tombol aktif.
🎧 "Hallo?" sapa Kenzie.
__ADS_1
📲 "Bapak dimana sih? ini sudah jam 7 lho." tegur suara yang sangat dikenal dan kurang disukainya.
🎧 "Diam kau. aku lagi pesiar sejenak menikmati kota Padang Tua, tau nggak kau?!" sembur Kenzie. "Kau itu mengganggu ketenanganku." ujarnya dengan kesal.
📲 "Tapi sudah waktunya sarapan lho pak. ini saya sedang di lounge, sarapan dan sekaligus pesanin Bapak punya." kata Puspita dengan ngotot.
🎧 "Kau saja yang habiskan pesananku. supaya kepala otak kau itu makin kinclong mengikuti meeting nanti." jawab Kenzie. "Sudah ah. jangan ganggu aku. berani telpon aku, lagi untuk hal yang nggak penting, ku potong 50% gajimu, tahu?" ancam Kenzie.
📲 "Kok sebanyak itu sih pak?" protes Puspita dengan kesal.
🎧 "Suka-suka aku dong." tandas Kenzie sambil menon aktifkan panggilan.
pemuda itu kembali menyusuri jembatan Siti Nurbaya. entah kenapa dinamai begitu, mungkin untuk mengenang kisah tragis Siti Nurbaya dan Samsul Bahri. dibawah jembatan itu terdapat pelabuhan tradisional. ada sebuah pengendara motor yang melintas, Kenzie buru-buru mencegatnya. mulanya pengendara itu berhenti dengan wajah curiga melihat seorang pemuda berpakaian trainings pack hitam dengan Waste belt melingkar pinggangnya dan sebuah topi terpasang dikepalanya.
Kenzie mengangkat tangan. "Pak, saya bukan orang jahat. cuma mau tanya tempat." kata Kenzie.
"Oooo... Aden kira ang nak begal." kata pria itu tertawa. "Apa yang Ang hendak tanyakan?"
"Ada nggak disini, tempat makan paling unik?" tanya Kenzie dengan tatapan berbinar-binar.
"Wah... kelihatannya tak ada. tapi kalau Angku mau, biar Aden antar saja ke Arau Cafe-Resto. boleh?" tanya pria itu dengan sangsi.
"Sudah, tancap saja Mah..." ujar Kenzie sambil tersenyum lebar.
dengan senang hati, pria itu membonceng Kenzie membalik turuni jembatan Siti Nurbaya dan menyusuri jalan Batang Arau di Kampung Pondok beberapa ratus meter dari jembatan Siti Nurbaya.
mereka tiba ditempat itu. Kenzie turun dan hendak membayar ongkos, tapi ditahan oleh pria itu.
"Jangan Angku, Den ikhlas antarnya." kata pria itu menolak.
"Jangan begitu bro. bensin itu kamu beli. aku cuma ganti bensinnya doang kok. ambil saja. aku terima ikhlasnya." balas Kenzie menampalkan lembaran 20 ribuan ketelapak tangan pria itu. "Ada nomor ponselnya nggak?"
"Ada..." pria itu menyebutkan nomor gawainya dan Kenzie menuliskannya di ponselnya. "Nanti kalau aku ke Padang lagi. aku calling kamu, ya?"
"Aku dari Gorontalo. lagi ada urusan disini. oke ya? nanti kapan-kapan kita ketemu ya?" kata Kenzie sambil melangkah meninggalkan pria itu yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa memang orang Gorontalo begitu modelnya?" gumam pria itu kembali menghela napas dan menjalankan kembali kendaraannya meninggalkan tempat itu.
Kenzie memasuki bangunan itu. kemudian langsung duduk disalah satu kursi. sementara itu keberadaannya ditatapi dengan heran oleh pekerja cafe-resto itu. Kenzie tetap saja cuek lalu mengeluarkan ponsel dari waste belt dan menghubungi istrinya.
📲 "Assalamualaikum Hubby.." sapa Chiyome dengan nada gembira.
📲 "Wa alaikum salam. bagaimana kabar Wiffy? Hubby kangen niih... telelilolooo..." balas Kenzie membuat Chiyome tertawa diseberang.
sementara para pramusaji yang hilir mudik menatap heran pada Kenzie yang bicara dengan logat yang berbeda. Kenzie menyadari hal itu, tapi ia sebisanya berlaku tak perduli.
📲 " Ja' tawa wolo patuju li Sebe ti Wa'u po pasangi liyo deng ti Puspita ey. alasani liyo supaya ja hemorepoti toli hialu'u tiye..." ujar Kenzie dengan kesal. (nggak tahu apa alasan ayah memasangkan Hubby dengan puspita. alasannya supaya nggak merepotkan wiffy.)
Chiyome yang sudah agak paham logat Gorontalo kembali tertawa mendengar ungkapan kesal suaminya terhadap ayahnya.
📲 "Ya, sudah.... nanti Wiffy ganti deh... dijamin nggak menyesal." kata Chiyome.
📲 "Benarkah?" tanya Kenzie dengan berbinar. "Oke deh, Hubby selesaikan dulu kerjaan disini ya? begitu pulang, Hubby nagih ini lho..."
📲 "Iya... selesaikan saja. Wiffy tunggu nih, lagi panasin barangnya supaya bisa dinikmati suamiku ini." ujar Chiyome setengah merayu suaminya.
Kenzie tertawa sambil menon-aktifkan panggilan selulernya. pemuda itu kemudian melihat arlojinya.
"Hm. sudah hampir pukul 9. kayaknya meeting akan segera dimulai." gumamnya.
__ADS_1
tak lama terdengar lagi deringan nada sambung. Kenzie langsung menekan tombol.
🎧 "Ya, kenapa Pus...???" tanya Kenzie.
📲 "Pus, pus, pus.... memang saya kucing, Pak?" ujar Puspita dengan kesal.
🎧 "Ya, suka-suka aku manggil kamu apa. lagian kenapa pula namamu Puspita, kalau disingkat ya jadi Pus. ya sudah, Pus saja kamu." jawab Kenzie dengan enteng.
Puspita hanya bisa menahan kekesalannya kemudian menghubungi Kenzie lagi.
📲 "Lalu gimana nih Pak? kalau mereka hubungi saya?" tanya Puspita dengan cemas.
🎧 "Kamu jadi sekretaris kok goblok benar sih?" sembur Kenzie membuat Puspita tambah dongkol. "Arahkan mereka ke Arau Cafe & Resto. aku tunggu disana!"
📲 "Kafe Arau? dimana itu pak?" tanya Puspita.
🎧 "Woh, Mbo'e... tak usah tanya... bilang saja begitu. mereka sudah tahu." jawab Kenzie.
📲 "Tapi saya nggak tahu alamatnya Pak." kata Puspita dengan sangsi.
🎧 " Dorang tahu alamatnya. nanti minta jasa travel hotel anter kamu kesini." jawab Kenzie. "Sudah, ah. banyak kesalnya aku sama kamu."
Kenzie memutus sambungan selulernya lalu kembali menikmati pemandangan sambil surfing di blog perusahaan MLT. Group tentang bidang yang akan dibahas dalam pertemuan itu.
...********...
Adnan menatapi Stefan yang sudah dua hari meringkuk dikurungan itu. pakaiannya sudah lusuh. tubuhhya kumal karena dua hari tak membersihkan dirinya. Adnan meraih lenso dan menghalangi hidungnya dari sengatan udara kurang segar ditempat itu.
Adnan mengisyaratkan salah satu anak buah Endrawan untuk membuka pintu sangkar. setelah pintu itu dibuka, pria itu masuk ke dalam.
"Bangun kamu!" perintah Adnan dengan suara baritonnya.
Stefan mengangkat wajahnya. "Om... senang bisa bertemu Om disini." ujarnya dengan wajah sendu.
Adnan tak menggubrisnya. pria itu tetap menyuruh Stefan bangun. dengan malas, pemuda itu bangun.
"Aku menyerahkan putriku untuk kau jaga. mengapa kamu menodainya?" tanya Adnan.
"Itu semua nggak disengaja Om. kami hanyut sendiri dan tau-tau semuanya sudah terjadi." kilah Stefan untuk membenarkan pendapatnya sendiri.
"Dan kamu tidak mempertanggung jawabkan perbuatanmu." tambah Adnan.
"Aku nggak pernah janji apa-apa sama dia Om. semua terjadi begitu saja. apakah saya harus menanggung kesalahan yang tidak saya lakukan?" elak Stefan.
"Merebut kehormatan anak gadis orang kau bilang bukan kejahatan?!" hardik Adnan.
"Bukan Om! itu bukan kejahatan." tandas Stefan bersikeras. "Kecuali saya memperkosanya, itu barulah disebut kejahatan. tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka."
Adnan mengangguk-angguk. "Baiklah kalau begitu." ujar pria itu membuat Stefan tersenyum senang.
namun senyuman itu hilang ketika Adnan tiba-tiba maju menendang rusuk kanan bagian bawah Stefan membuat pemuda itu sontak jatuh terduduk dengan menahan rasa sakit luar biasa yang menyengat liver nya.
Adnan seorang petarung. dia amat tahu bagian-bagian mana dari tubuh manusia yang merupakan titik vital yang dapat menyakiti, melumpuhkan dan membunuh lawan.
Adnan jongkok dihadapan Stefan yang terbungkuk-bungkuk menahan sakit yang menyiksa. pria itu kemudian menjambak rambut pemuda tersebut dan mengangkat wajahnya dengan paksa hingga tatapan keduanya bertemu.
"Selama kau bersikap seperti ini, maka selama itu pula aku akan mempermakmu. aku tak segan merampas nyawamu. tapi aku mengingat perasaan putriku. kau tidak bisa memungkiri bahwa kamulah yang merampas kegadisan anakku dan kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu padanya." kata Adnan kemudian melepaskan jambakannya lalu berdiri.
__ADS_1
"Apa kau pikir kami tidak bisa melacak keberadaanmu, meskipun kau bersembunyi dibenteng paling kokoh sekalipun?" ujar Adnan. "Nikahilah putriku. bahagiakan dia. sekali saja kau menjatuhkan air matanya. persiapkan dirimu menuju alam baka."
pria itu berbalik dan melangkah meninggalkan Stefan yang masih terbungkuk-bungkuk menahan kesakitannya. []