Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 116


__ADS_3

Bakri terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan Adnan. pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang tidak main-main. hal ini berhubungan dengan nasib Aisyah ke depannya. kening pemuda itu bertaut menandakan konsentrasinya pecah dan berupaya ditautkannya kembali.


masalahnya sekarang, Bakri sementara fokus memperbaiki skripsinya dan dokumen itu sudah harus diterima oleh dosen pembimbing dan pengujinya untuk kembali mendapatkan penilaian lanjut, apakah ia bisa menjalani wisuda atau kembali menunggu hingga skripsinya telah benar-benar valid.


"Bakri, kau dengar pertanyaan bapak?" tanya Adnan kembali.


Bakri menghela napas. "Saya belum bisa menjawab hal itu pak." jawabnya.


"Kenapa?" desak Adnan.


"Saya masih fokus pada hal didepan saya saat ini." jawab Bakri lagi dengan senyum hambar.



"Jika kau tak menjawabnya, maka aku akan mencari lagi lelaki yang cocok untuk Aisyah." pancing Adnan setengah mengancam.


Bakri kembali tersenyum, "Silahkan pak... jika bapak ingin melihat putri bapak kembali trauma." tantangnya.


Adnan tersenyum, sialan... dia berani menantangku... apakah ia tahu bahwa aku tak mungkin menikahkan Aisyah dengan orang lain terkecuali dirinya?


"Apa yang mendasari kau berkata seperti itu?" tantang Adnan balik.


"Pak, kondisi Ais baru saja menjalani penyembuhan psikis akibat trauma kekerasan dalam rumah tangganya. apa bapak mau menambah luka? dan juga menambah dosa? tidak kasihankah bapak dengan Ais? bermorallah sedikit Pak. kasihan dia!" tegur Bakri mulai agak emosi.


Adnan memicingkan mata. ternyata benar, anak ini mencintai anakku... betapa bodohnya Ais...


"Baik... menurutmu pernikahan Aisyah akan lebih baik setelah beberapa bulan ia menjalani penyembuhan.... menurutmu... apakah Aisyah akan bahagia jika aku memberinya calon yang lebih baik?" pancing Adnan.


"Pak, itu adalah hak bapak menjodohkan dia dengan siapapun yang bapak kehendaki. tapi, jika memang bapak menganggap jodohnya kedepan lebih baik dari Stefan, setidaknya pikirkan perasaan putri bapak. dia bukan boneka yang diam dietalase toko yang bisa bapak pamerkan semau bapak." jawab Bakri lagi. entah kenapa ia marah. mendengar Aisyah akan kembali dijodohkan membuat hatinya sakit. sangat sakit seakan terbelah dengan robekan paksa.


Adnan mengangguk-angguk. "Aku yakin, lelaki ini lebih baik dari lelaki manapun. dan dia bisa membahagiakan putriku."


"Terserah bapak sajalah. saya mohon pamit pak. jika memang ada tugas kantor yang ingin bapak serahkan kepada saya. saya akan ada dikantor besok." kata Bakri.


Adnan berdiri. "Bagus. kau memang punya pekerjaan yanf sangat penting besok! aku tunggu kedatanganmu."


lelaki itu kemudian memutar langkah meninggalkan Bakri sendirian duduk disana. sepeninggal pengusaha itu, Bakri membahagianmenggeram lalu mengumpat pelan sambil menghantamkan tinjunya pada balai beton yang didudukinya.


...****...


Chiyome menatapi Aisyah yang sementara asyik bercanda dengan ponakannya. Saburo sendiri sangat senang bermain dengan Aisyah. anak sekecil itu sudah memahami cara menyenangkan bibinya yang sementara mengalami musibah. Saburo mulai bisa berjalan dengan lancar dibawah pengawasan sang bibi yang sangat menyayanginya.


tak lama kemudian, Kenzie muncul disana. lelaki itu ikut duduk disisi Chiyome menyaksikan putra mereka bermain-main bersama Aisyah.


"Wiffy, keluar yuk. Hubby pengen bicara sesuatu." kata Kenzie.


Chiyome menatapi suaminya, "Doko ni iku no?" (kita mau kemana?)


"Ada aja. Sudah lama kita nggak indehoy berdua. lagipula ada yang pengen Hubby omongin." kata Kenzie dengan pelan sambil sesekali melirik Aisyah yang gemas menciumi Saburo.


"Watashitachi no musuko no sewa o suru no wa daredesu ka?" tanya Chiyome dengan enggan. (anak kita siapa yang jagai?)


"Kak Ais saja. penting nih... yuk." ajak Kenzie.


Chiyome sejenak menatapi Aisyah dan anak kecil dalam pelukannya. wanita itu akhirnya menatapi Kenzie dan mengangguk. keduanya kemudian bangkit dan menuju kamar.


setelah bersalin pakaian, keduanya kemudian keluar menjumpai Aisyah yang sementara bermain dengan Saburo di ruang keluarga.


"Kak, kita mau keluar dulu ya? kakak mau dipesanin apa?" tanya Kenzie.


"Nggak usah. hati-hati dijalan ya?" pesan wanita itu.


Kenzie mengangguk lalu menggamit Chiyome keluar. mereka mengendarai mobil meninggalkan kediaman Lasantu menyusuri jalan Aloe Saboe menuju selatan.


...****...


Bakri telah selesai mengetik huruf terakhir dari kalimat perbaikan yang disematkannya pada alinea terakhir Bab penutup. lelaki itu menghela napas panjang dan menghembusnya dengan kasar.


Bakri mengusap wajahnya kemudian rambutnya dan terakhir memijit pelan tengkuknya yang terasa ngilu. terngiang kembali pernyataan Adnan yang hendak menjodohkan Aisyah. siapa lelaki yang hendak dijodohkan dengan wanita yang dicintainya secara diam-diam itu? meskipun hanya seorang penggemar rahasia, Bakri berhak mengetahui siapa laki-laki itu.


Bakri bangkit dari kursi dan melangkah menuju jendela kamarnya. disibakkannya sejenak tirai jendela dan menatapi angkasa yang berhiaskan cahaya rembulan pada malam yang penuh hamparan bintang gemintang.


sekali lagi Bakri mendesah dan menyandarkan kedua tangannya pada pinggiran tiang jendela. wajahnya terus menengadah menatapi rembulan yang seakan juga menatapnya meminta penjelasan, mengapa dia menatapinya.


haruskah aku jujur atas perasaanku kepadanya? apakah kejujuranku tak akan membuatnya terluka kembali? aku khawatir akan membuka luka lamanya ketika aku menyatakan perasaanku....


Bakri kembali menghela napas. wajahnya menengok menatap ponsel yang menggeletak disisi laptop yang masih menyala. pemuda itu beranjak dari jendela melangkah mendekati meja dan meraih ponsel itu dan menimbang-nimbang apakah ia harus menghubungi wanita itu atau tidak.


langkah lelaki itu dengan pelan mondar-mandir dikamarnya. sesekali ia meringis seakan menahan rasa pedih yang menyucuki dadanya.


Bakri mendengus dan menekan nomor seluler milik Aisyah. tak lama kemudian terdengar nada sambung selama dua detik dan bunyi 'klik' pertanda tersambung.


📲 "Halo? Kak Bakri?" sapa Aisyah disana yang masih sementara menjagai Saburo bermain.


📲 "Assalam alaikum Ais. bagaimana kabarmu?" sapa Bakri berbasa-basi.


📲 "Wa alaikum salam. alhamdulillah baik. Kak Bakri lagi dimana ini?" tanya Aisyah.

__ADS_1


📲 "Dirumah, menyelesaikan perbaikan skripsi. Om Adnan ada dirumah?" tanya Bakri mencari topik bicara.


📲 "Ada, kayaknya Papa dan Mama lagi dikamar. mau Ais panggilkan?" kata Aisyah.


📲 "Nggak, nggak usah. cuma mau ngecek saja. siapa tahu kamu sendirian dirumah." kata Bakri mengusap wajahnya. waduh kok bicaranya jadi begini sih?


terdengar suara tawa pelan diseberang sana.


📲 "Memangnya kenapa kalau sendirian? Kak Bakri mau temani Ais?" goda Aisyah lalu tertawa kembali.


📲 "Kalau kamu nggak keberatan." kata Bakri yang kemudian memejamkan mata dan menggigit bibir, takut mendengar penolakan.



📲 "Kak Bakri datang saja. tapi, nggak mengganggu ketja Kakak kan?" kata Aisyah.


📲 "Oke, aku kesana sekarang!" kata Bakri langsung mematikan sambungan seluler. lelaki itu tersenyum dan langsung bersalin pakaian.


...****...


kedua pasutri itu kini sedang duduk menikmati kopi di Coffe Toffe. Kenzie sesekali melirik istrinya. Chiyome yang menyadari lirikan suaminya akhirnya menatap Kenzie.


"Naze watashi o mitsumete iru no ka?" tanya Chiyome yang tersenyum. (mengapa menatapku?)


"Wiffy masih ingat nggak, Hubby nembak Wiffy disini?" pancing Kenzie.


seketika Chiyome membekap mulutnya sendiri lalu tertawa pelan dan mengangguk-angguk.


"Kore wa watashitachi no nidan-banme no hidzukedesu ka?" goda Chiyome kembali tersenyum. (apakah ini merupakan kencan kedua kita?)


Kenzie membulatkan matanya. "Wah, itu ide bagus." lelaki itu kemudian memanggil pramusaji.


seorang pemuda mengenakan celemek putih datang menghampiri. "Ada yang bisa dibantu?" tanya pemuda itu dengan ramah.


"Apakah ada paket kencan?" tanya Kenzie.


pemuda itu tersenyum lalu menjelaskan paket komplit makanan dalam paket kencan itu. Kenzie mengangguk.


"Aku pesan paket itu. VVIP!!!" tandas Kenzie dengan semangat.



pemuda itu tertawa pelan dan mengangguk. "Dilaksanakan tuan."


Kenzie mengisyaratkan pemuda untuk pergi. setelah kepergian pramusaji itu, Kenzie menatapi Chiyome. lelaki itu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat.


"Ah, kamu memang benar-benar sempurna dimataku." puji Kenzie.


Kenzie tersenyum lagi, "Wiffy malu? mengapa mesti malu?"


Chiyome menggeleng-geleng manja. Kenzie mengangguk-angguk


"Baiklah, Hubby nggak akan menggoda lagi. Hubby hanya ingin bernostalgia dengan masa itu." kata Kenzie.


"Bagaimana kalau saat itu Wiffy nggak terima Hubby?" pancing Chiyome dengan senyum nakal.


Kenzie sejenak mengurut dagunya lalu mengangguk-angguk dan tersenyum nakal menatap istrinya.


"Hubby mungkin akan merencanakan, memperkosa Wiffy." ujarnya dengan lirih.


mata Chiyome membesar, "Hubby berani?" ujarnya dengan senyum.


"Nggak, Hubby nggak berani. Hubby terlalu takut ditolak saat itu. mungkin, jika Wiffy menolak Hubby saat itu, Hubby mungkin akan mati karena penolakan cinta..." jawab Kenzie sambil mengelus punggung tangan istrinya.


"Oouuu.... kasian... untung Wiffy terima ya?" kata Chiyome dengan wajah kasihan.


Kenzie tertawa lagi. "Watashi o karakatteru no?" (Wiffy sengaja menggodaku?)


Chiyome tertawa pelan lalu menggeleng. "Wiffy nggak menggoda Hubby... Wiffy sangat mencintai Hubby."


"Hubby tahu.... sangat tahu...." balas Kenzie dengan senyum simpatiknya.


"Kira-kira, apa yang Hubby ingin diskusikan dengan Wiffy?" tanya Chiyome merubah gaya duduknya, kini menegak dan wajahnya memimik serius.


"Ah... itu..." gumam Kenzie mengangguk-angguk. "Ini tentang Kak Ais...."


"Tentang Kakak? ada apa dengan Kakak? apakah pengobatannya gagal?" tanya Chiyome.


"Bukan... ini tentang kehidupan rumah tangganya." kata Kenzie. "Hubby rencananya hendak menjodohkannya dengan seseorang."


"Menjodohkan? Hubby mau menjodohkan Kak Ais dengan seseorang? Hubby nggak sedang bercanda, kan?" ujar Chiyome mengerutkan alisnya.


Kenzie mengangguk-angguk. Chiyome mendecak lalu tertawa pelan membuang wajahnya kemudian menatap kembali suaminya.


"Hubby, jangan main-main dengan kehidupan rumah tangga seseorang. apalagi ini tentang Kak Ais. Dia saja mencari cintanya sendiri akhirnya berakhir tragis, konon lagi kalau dijodohkan. Wiffy nggak mau!" tandas Chiyome membuang wajah dan melipat kedua tangannya didada.


Kenzie mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum. "Wiffy, Kak Ais itu nggak menemukan cinta. itu kecelakaan. ia memiliki cinta tapi tak mencarinya dengan sungguh-sungguh. wajar jika Kak Ais mendapatkan karma."

__ADS_1


"Hubby, pokoknya Wiffy nggak mau. Wiffy takut Kak Ais akan menderita lagi." kata Chiyome dengan wajah cemas.


"Dan membiarkannya sendiri dalam hidupnya?" pancing Kenzie.


Chiyome diam, namun wajahnya tetap menampakkan wajah tak rela. Kenzie melanjutkan bicaranya.


"Ada seseorang yang mencintainya dengan tulus, tapi Kak Ais tidak menyadarinya. dia terlalu fokus dengan pencarian cintanya yang keliru. Hubby akan berupaya mempertemukan mereka. Hubby yakin, seseorang itu adalah pelabuhan yang cocok untuk biduk kehidupan Kak Ais." kata Kenzie dengan lembut.


"Hubby..." tegur Chiyome.


Kenzie menggenggam kembali tangan istrinya. "Wiffy, yakinlah akan upaya suamimu ini. Kak Ais adalah kakak Hubby juga. Hubby tak ingin ia tenggelam dalam kesendiriannya. apa Wiffy kira kesendirian itu menyenangkan? sangat tidak menyenangkan, Wiffy."


Chiyome menghela napas lalu mendesah. ia agaknya menyerah. "Lalu.... siapa seseorang itu?" tanya Chiyome dengan lemah.


"Kita sudah mengenal baik orang itu. bahkan sangat dekat dengan kita." kata Kenzie tersenyum misterius.


"Siapa?" tanya Chiyome dengan lirih.


"Kak Bakri." jawab Kenzie dengan tenang.


"Kak Bakri?" tanya Chiyome membelalakkan matanya.


"Kak Bakri!" tandas Kenzie mengulangi jawabannya.


"Hubby yakin?" tanya Chiyome.


"Sangat yakin.... yang jadi masalahnya sekarang adalag menyatukan mereka berdua. Hubby sudah singgung hal ini dihadapan Papa. kelihatannya Papa mungkin sedanf memikirkannya." jawab Kenzie.


Chiyome merenung lama. ia beberapa kali menatap wajah suaminya dan genggaman Kenzie pada tangannya.


"Bagaimana? apa Wiffy mau membantu Hubby menyelamatkan hidup Kak Ais?" tanya Kenzie dengan lirih memajukan wajahnya.


Chiyome mengangguk pelan, "Kita sama-sama mengupayakannya Hubby..." jawab wanita itu.


Kenzie mengangguk-angguk. tak lama kemudian pramusaji muncul membawa nampan berisi hidangan paket komplit dan meletakkannya di meja. sejenak pramusaji itu mengangguk lalu berbalik meninggalkan kedua orang itu.


Kenzie mengangkat gelas berisi minuman Cappucino. "Untuk kebahagiaan kita ke depan." ujarnya bersulang.


"Untuk kebahagiaan kita ke depan." jawab Chiyome ikut mengangkat gelasnya pula.


terdengar bunyi dentingan ketika gelas itu disatukan.


...****...


Bakri menaiki tangga beranda dan berdiri didepan pintu. sejenak tangannya ragu mengangkat, namun tetap juga mengangkat dan mengetok pintu tersebut.


TOK TOK TOK TOK TOK....


tak lama kemudian terlihat pintu dibuka dan Aisyah muncul didepan pintu. wanita itu tersenyum. Bakri mengangkat tangannya yang menjinjing sebuah tas dari toko makanan.


"Aku bawa makanan kesukaanmu." kata Bakri menyodorkan tas itu kepada Aisyah.


Aisyah tersenyum, "Makasih." ujarnya menerima tas tersebut. "Masuklah..." ajaknya.


Bakri masuk menyusul Aisyah. lelaki itu kemudian duduk disofa tamu sementara Aisyah menuju dapur menyalin makanan dalam tas itu ke piring. wanita itu kemudian menyeduh teh lalu membawa makanan dan dua gelas teh dalam nampan menuju ruang tamu.


"Aku nggak meniatkan makanan itu untukku. kan sudah kubilang itu makanan kesukaanmu." kata Bakri melihat Aisyah yang meletakkan gelas teh didepannya dan seiring makanan yang berasal dari bingkisannya tadi.


"Kita makan sama-sama saja." jawab Aisyah dengan pelan.


wanita itu kemudian mempersilahkan Bakri untuk menyesap tehnya. lelaki itu mengangguk. ia mengambil gelas itu dan menyesap sedikit air teh dalam gelas itu kemudian meletakkannya di meja.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bakri.


"Lho? kan tadi sudah Ais jawab ditelpon. masih ditanya lagi?" kata wanita itu sambil tertawa dan menutup mulutnya.


Bakri tersenyum, "Aku nggak punya topik untuk bicara." kata Bakri dengan jujur sambil tersenyum.


Aisyah tertawa lagi. "Ya sudah, cari saja topik bicara yang lain." ujarnya lagi.


"Aku bersyukur, kamu sudah bangkit dari keterpurukanmu." kata Bakri.


"Yaaa.... mau bagaimana lagi? Ais mengambil hikmahnya. ternyata cinta itu nggak seindah seperti cerita dongeng." timpal Aisyah dengan senyum hambar.


"Aku akan selalu mendukung kamu Ais. membantu kamu keluar dari keterpurukan itu. jika kamu membutuhkan sandaran untuk menumpahkan tangismu, jadikanlah dadaku sebagai sandarannya." kata Bakri.


"Kak Bakri...." gumam Aisyah tercekat.


"Aku nggak bisa menahan perasaan ini lagi Ais... " desah Bakri dengan napas yang sesak.


Aisyah merasakan debaran jantungnya seakan menggebuk rongga dada. lelaki dihadapannya menunduk sejenak, kemudian menatap lagi ke wajahnya.


Aisyah menyadari setitik air bening jatuh dikelopak mata lelaki itu. wanita itu tergetar. perlahan jemari lentik wanita itu terulur menyentuh butiran air bening yang mulai menganak sungai dipipi lelaki itu.


"Kak... kau menangis?" tanya Aisyah dengan lirih...


"Aku... aku nggak bisa menahannya lagi Ais..." ungkap Bakri lagi kali ini mulai terisak.

__ADS_1


Aisyah tertegun kemudian ketika mendengar kalimat sendu yang keluar dari mulut gemetar lelaki dihadapannya.


"Aisyah Annisa Lasantu..... Aku... mencintaimu..." []


__ADS_2