
lirik-lirik yang disenandungkan Kenzie, berhasil memupus rasa ragu dalam benak Chiyome. gadis itu bangkit dan melangkah kedalam gedung kemudian berdiri didepan panggung dihadapan Kenzie yang sementara menyenandungkan isi hatinya.
keberadaan mereka menarik sebagian pengunjung untuk memperhatikan kedua muda-mudi itu. setelah menyelesaikan lagunya dan mengucapkan terima kasih kepada pemusik diatas panggung, Kenzie meletakkan gitar akustik itu dan melangkah menuruni panggung hingga berdiri dihadapan Chiyome.
"Lagu itu judulnya 'Mistikus Cinta' dari Dewa 19. lagu itu aku nyanyikan untuk mewakili perasaanku padamu." jawab pemuda itu dengab pelan.
"Menurutmu... aku telah meracunimu?" pancing Chiyome dengan suara bergetar namun tetap tersenyum.
"Jika itu bukan racun, lalu apa namanya? pertemuan pertama itu aku memang sudah teracuni... dan aku keracunan..." ujar Kenzie dengan lirih.
selesai Kenzie merampungkan kalimatnya, sesaat kemudian pemuda itu terdorong kebelakang karena Chiyome telah memeluknya. pemuda itu membalas pelukan itu diiringi tepuk tangan para pengunjung lain yang tersentuh dengan pemandangan itu. Kenzie dapat merasakan tubuh gadis itu gemetar dan sesekali berguncang.
Chiyo? mengapa kau menangis?....
"Kau bersungguh-sungguh?" tanya gadis itu sekali lagi.
"Ya." jawab Kenzie dengan mantap.
"Kau tidak akan menyesali percintaanmu denganku, bahkan itu dapat merenggut nyawamu?" todong gadis itu membuat Kenzie sedikit terhenyak.
mengapa bawa-bawa mati segala? apa dia takut kehilangan aku?
"Sudah kubilang. biarkan aku mengecapnya. dan akan kuputuskan sendiri apakah rasa ini membahagiakan atau menyengsarakan kita." kata Kenzie.
"Apabila hal itu tidak sesuai dengan kenyataan?" todong Chiyome masih terus terisak.
"Itu resiko yang wajib kutanggung. aku tak main-main dengan hubungan. apalagi jika aku telah mengikatkan hatiku pada wanita itu." tandas Kenzie.
"Lalu... siapa dia yang beruntung itu?" todong Chiyome lagi.
Kenzie menatapi gadis itu lama, kemudian senyumnya tersungging. dengan lirih, Kenzie menjawab.
"Kamu......"
malam itu, kebahagiaan menyelusup ke relung hati kedua muda-mudi yang meresmikan ta'aruf pribadi mereka berdua ditempat itu.
...*********...
Trias menerima pesan singkat dari Kenzie tantang resminya hubungan kasih mereka. pemuda itu tersenyum lalu menyimpan ponselnya kedalam saku. Iyun yang menatapinya mengerutkan alisnya.
"Dari siapa?" tanya gadis itu dengan tatapan tak suka.
"Kenzie..." jawab Trias, "Keduanya resmi pacaran. tebakanku benar bukan?"
bibir Iyun membulat. malam itu, Trias kembali mengunjunginya. gadis itu menyuguhkan secangkir teh dan sepiring kue pusu, kesukaan Trias. pemuda itu nyaris meludeskan isi piring tersebut. Trias mencondongkan wajahnya nyaris bertemu hingga Iyun merasai sendiri hembusan napas pemuda itu.
"Kamu nggak punya alasan lain lagi untuk mencemburui aku. sekarang perempuan itu sudah jadian dengan Kenzie." ujar Trias sambil mengedipkan matanya lalu memonyongkan bibirnya hendak mencium.
wajahnya langsung didorong dengan telapak tangan oleh Iyun yang juga melengoskan wajahnya.
"Atau ini hanya akal-akalan kalian berdua?" tuduh Iyun.
"Astaghfirullah, cemburumu itu nggak hilang-hilang juga ya?" desah Trias sambil mengusap-usap ubun-ubunnya dan menyandarkan punggungnya disandaran kursi kemudian menatapi langit-langit ruangan.
Iyun tertawa dalam hatinya mengamati wajah pemuda itu. kali ini ia suka menjahili perasaan pemuda itu. Trias kembali menatapi Iyun dan gadis berjilbab itu langsung memasang wajah keruh. Trias memasang wajah yang memelas.
"Tolonglah, Yun." pinta Trias, "Hentikan tuduhanmu yang tak beralasan itu."
"Memangnya aku menuduhmu?" pancing Iyun.
"Kau menuduh kami berdua melakukan konspirasi yang dzolim." jawab pemuda iru sedikit menaikkan tensi suaranya.
Iyun tertawa lalu menangkupkan telapaknya diwajah pemuda itu. "Siapa yang cemburu sama dia?"
"Jadi ceritanya sudah nggak cemburu,kan?" selidik Trias.
Iyun menggeleng dan menatapi Trias dengan senyum jenaka. "Maaf jika aku sempat meragukanmu."
"Alhamdulillah..." desah Trias dengan lega.
Iyun beringsut mendekati pemuda itu lalu menggenggam tangannya. "Nanti kapan-kapan, ajak aku ketemuan dengan Chiyome."
Trias mengangkat alisnya menatapi Iyun, seakan meminta hujjah atas keinginannya bertemu dengan Chiyome. Iyun sudah tahu apa maksud lelaki itu.
__ADS_1
"Aku hendak meminta maaf secara pribadi." ungkap Iyun dengan tersipu-sipu.
Trias tertawa senang mendengar kalimat yang keluar dari bibir gadis itu. Iyun menatapi kekasihnya dengan heran.
"Kenapa kau tertawa." tanya gadis berjilbab itu.
"Ijinkan aku mengutarakan kebahagiaan ini kepada malam ini." jawab Trias.
hm.... jiwa pujangganya kumat lagi....
Iyun tersenyum. "Kau senang?"
"Aku sangat bahagia." balas Trias.
Iyun dengan gemas meninju pelan dada pemuda itu sambik menunduk tersipu. tak Lama kemudian, seorang pria nampak menaiki tangga dan berhenti diberanda.
Trias langsung berdiri dan menjabat tangan pria itu dan mencium tangannya.
"Oom..." sapa Trias dengan santun.
"Sudah lama?" tanya pria itu.
"Sudah Oom, lepas maghrib." jawab Trias sambil cengengesan. pria itu menatapi Iyun.
"Layani tamunya.." perintah pria itu.
"Sudah Oom." potong Trias sambil membungkuk lagi. "Secangkir teh hangat dan sepiring kue pusu." jawab pemuda itu.
"Dan kau habiskan?" pancing pria itu.
"Tentu saja Oom. masa hidangan buatan istri ups maaf...Iyun saya sia-siakan.." jawab Trias dengan gugup.
pria itu terkekeh. hm... sudah kebelet pengen kawin ini anak... anakku saja diakuinya istri.... ada-ada saja kelakuan anak-anak jaman sekarang... kurasa harus segera dibicarakan dengan Endi, perihal anaknya ini....
"Ya sudah. saya masuk dulu. jangan lupa! jam 10 sudah harus masuk." pesan pria itu.
Iyun mengangguk patuh sedang Trias membungkuk-bungkuk seperti orang kena sakit pinggang. sepeninggal pria itu, Trias duduk kembali.
"Iyalaaaaa.... tambah manis karena yang membuatnya adalah istriku..." balas Trias tanpa canggung lagi.
"Gommbaaaallll..." seru Iyun sambil meraih sebuah kue pusu dan menjejalkan kue itu ke mulut Trias.
sigap pemuda itu membuka mulutnya menelan kue tersebut. Iyun membiarkan Trias mengunyah makanan itu bulat-bulat dan Iyun kembali tertawa melihat Trias tersedak. gadis itu mengambil cangkir dan meminumkan isinya kebibir Trias.
setelah itu Trias menyapu dada dan kembali menatapi Iyun dengan wajah jenaka.
"Tambah lagi dooooong..." pinta Trias, membuat Iyun bertambah gemas.
...*******...
malam itu Kenzie kesulitan memejamkan mata. malam mulai beranjak pagi. kebahagiaan maghrib tadi sulit tersingkirkan dari benaknya. wajah gadis jepang itu menari-nari dipelupuk mata.
sesekali senyumnya merekah kemudian berganti lagi dengan wajah yang penuh kekhawatiran. berbagai perasaan bercampur aduk dalam hatinya.
kau belum sepenuhnya mengenalku... kau akan menyesal mencintaiku....
kalimat yang diungkapkan gadis itu kembali terngiang dibenaknya.
memang persahabatan yang baru terjalin 3 hari tentu belum dapat mengenali dan mendalami karakter masing-masing.
namun Kenzie sudah bertekad untuk menjelajahi kehidupan kekasihnya yang mungkin tidak ia tampakkan dihadapannya. dan Kenzie sendiri yang akan memutuskan apakah rasa ini akan membahagiakannya atau justru menyedihkan benaknya.
Kenzie memang tidak mengetahui Chiyome yang menerapkan prinsip mugei numei nyaris sempurna. gadis iru benar-benar hanya menampakkan kebohongan sebagai kenyataan.
...********...
sementara Chiyome juga tak mampu memejamkan matanya. gadis itu gelisah dan tidak betah bwrada diranjang. dengan jengkel ia bangun dan menghempaskan telapaknya ke bantal.
dikeluarkan ponselnya lalu mengutak-atik fitur menemukan file musik. ia kemudian menyetel sebuah lagu instrumental berjudul 'Dance of Flowers' gubahan DJ. Okawari.
tak lama terdengar musik yang didominasi dentingan nada piano. Chiyome kemudian mendesah.
"Ahhh.... dasar Ken-ken." gumam gadis itu sambil tersenyum. "Ia benar-benar telah merasuki pikiranku. dia bilang akulah racunnya.... nyatanya... justru terbalik."
__ADS_1
gadis itu menghela napas lalu membaringkan diri kembali membiarkan alunan nada 'Dance of Flowers' merasuki benaknya. ia menyilangkan lengannya ke mata, memaksa kantuk mengawini kedua matanya.
...*******...
Aisyah berlari dengan terburu-buru. hari itu kegiatan Orientasi MA-BA sedang digelar. teriakan-teriakan sangar para senior yang terdengar lantang membuat para mahasiswa baru sedikit keder.
Aisyah baru saja tiba didepan gedung, langsung disembur seorang lelaki berpakaian jas almamater warna merah maruun.
"Kau terlambat! jalan jongkok." seru pemuda iru dengan lantang.
terpaksa Aisyah mengikuti perintah senior tersebut. gadis itu jakan jongkok membuat jilbab dan gamisnya terseret-seret dilantai. ia berjalan dan menjagai agar item yang penting jangan sampai hilang.
lama ia berjalan hingga tiba di kumpulan mahasiswa baru yang berbaris.
"Kau!" seru mahasiswa memanggil Aisyah. "Kemari kau! pimpin barisannya." perintah lelaki itu dengan keras.
Aisyah maju dan mulai menyuarakan aba-aba untuk menyiapkan barisan para mahasiswa baru tersebut.
"Lebih keras suaranya!" teriak pemuda itu didekat wajah Aisyah yang merasakan telinganya berdenging. kali ini Aisyah menyuarakan aba-aba lebih keras.
"Lebih keras suaramu! kalau perlu melebihi suara saya!"
Aisyah menahan kejengkelan sambil mengatur nafasnya. ia kembali menyuarakan aba-aba dengan lebih keras. barisan itu mulai tertib.
"Tidak bisa lebih keras lagi?!" teriak lelaki itu.
Aisyah menatapi lelaki itu. "Maaf kak. suara saya tidak bisa lebih keras dari yang tadi."
lelaki itu memelototi Aisyah. "Kau berani menatapiku?!" bentak pemuda itu.
Aisyah lebih memberanikan diri menantang tatapan pemuda itu melalui tatapan matanya yang berkaca-kaca. pemuda itu makin mencondongkan wajahnya dengan sorot bengis dan Aisyah merasa napas pemuda itu menghujam wajahnya.
"Kau sudah berani melawan dihari pertama. berhati-hatilah." kata pemuda itu sambil tersenyum bengis kemudian berlalu.
beberapa mahasiswa baru yang memandang peristiwa itu melemparkan pandangan simpati kepada Aisyah bersama antipati yang tersamar kepada senior-senior yang membentak mereka. beberapa saat muncul seorang pemuda berambut ikal, mengenakan jas almamater yang memerintahkan Aisyah kembali ke barisannya.
"Hari ini adalah hari pertama kalian melaksanakan Orientasi MA-BA. kalian akan dididik dan diuji oleh para senior, moga-moga kalian bisa membuktikan kalian layak disebut mahasiswa. nikmati masa-masa orientasi kalian selama seminggu. selamat belajar dan selamat berbaur." ujar pemuda itu. perilakunya menandakan dia berasal dari senat mahasiswa.
pemuda itu meninggalkan barisan itu, tak lama kemudian muncul seorang mahasiswi berwajah kejam dan menjengkelkan. ia melangkah perlahan seakan menginpeksi barisan itu. mahasiswi itu berhenti agak lama dihadapan Aisyah. dia menatapi Aisyah dengan tatapan bengis. setelah itu ia kembali menuju barisannya.
"Sebelum kalian menerima materi. sekarang kalian semua melakukan pembersihan. tidak ada satupun sampah yang terlihat disini. SEKARANG!!!"
para mahasiswa baru langsung bubar mencari sampah yang bercecer dijalanan dan halaman kampus. Aisyah baru saja melangkah langsung mendapat bentakan dari mahasiswi tersebut.
"Kau ikut denganku!" panggil mahasiswi tersebut.
Aisyah melangkah mengikuti mahasiswi tersebut yang membawanya ke sebuah koridor sempit. disana tergeletak sebuah tempat sampah beserta sampah yang sengaja dibiarkan berceceran disana.
mahasiswi itu menatapi Aisyah. "Kumpulkan sampah-sampah itu, lalu melapor padaku. " kata mahasiswi tersebut.
Aisyah mengangguk patuh, membiarkan mahasiswi berlalu. ia kemudian berjongkok memunguti sampah-sampah yang berserakan. segalanya dimasukkan kedalam tempat sampah tersebut.
peluh mulai bercucuran di wajahnya namun Aisyah tetap memunguti sampah-sampah itu hingga perlahan nan pasti, halaman yang dipenuhi sampah mulai bersih hingga akhirnya seluruh sampah sudah berpindah kedalam tempat sampah.
Aisyah menyeka peluh lalu melangkah mencari mahasiswi tersebut. setelah berjumpa, Aisyah menyampaikan hasil laporan. wanita itu mengangguk dan melangkah mendahului Aisyah. sesampainya disana Aisyah terkejur bukan main.
sampah-sampah yang telah dimasukkan di tempat sampah kini kembali berserakan dihalaman tersebut. mahasiswi itu menatapi Aisyah yang kaget itu dengan marah.
"Kau mau mempermainkan aku?!" bentak mahasiswi itu. tergagap-gagap Aisyah berusaha meyakinkan mahasiswi itu namun mahasiswi itu mendorongnya.
"Cukup! pungut kembali sampah-sampah itu dan jangan berlalu dari tempat ini sebelum aku tiba!" bentak mahasiswi tersebut kemudian meninggalkan Aisyah sendirian disana.
gadis ber jilbab itu kembali jongkok memunguti sampah-sampah yang berserakan. pekerjaan itu memakan lebih banyak waktu. setelah selesai Aisyah tak beranjak dari tempat sampah itu menunggu mahasiswi tersebut.
"Bagus. kau melaksanakan perintah dengan benar. masuk kelas sana!!!!" bentak mahasiswi itu.
Aisyah kembali menunduk patuh dan melangkah setengah berlari menuju ruang kelas. sesampainya disana ternyata pemberian materi ajar.
salah satu dosen yang mengajar menegur Aisyah yang datang terlambat. gadis itu menjelaskan alasan keterlambatannya. dosen itu menerima alasan Aisyah dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk.
betapa malu ia, dihari pertama sudah menerima berbagai cobaan mental yang memanaskan hati . namun gadis itu tabah menghadapinya karena cobaan adalah syarat untuk memenuhi permainannya
pemberian materi berlangsung sejak pagi hingga petang dan dipotong masa istirahat. para mahasiswa bubar setelah menerima betbagai instruksi. Aisyah melangkah lesu namun lega karena hari pertama telah dilalui olehnya. gadis itu memanggil bentor yang kemudian membawanya ke Pasar Sentral. []
__ADS_1