
Trias melipat tangannya didada dan mengelus-elus dagunya yang mulai dibiarkan tumbuh rambut tipis. didepannya Kenzie menyeruput kopi buatan Iyun. seperti biasa, jika Kaum bapak bercengkrama tentang permasalahan yang terjadi kemarin malam, diruang tamu, kaum ibunya saling cerita tentang pengalaman. Chiyome paling antusias bercerita tentang kepergian mereka ke Pantai wisata Minanga di Atinggola.
"Kamu sudah pernah lihat Kota Jin?" potong Iyun.
"Kota Jin? memang disana ada Kota Jin?" gumam Chiyome sejenak, lalu matanya membulat. "Ah ya... Kota Jin, itukan pemukiman warga yang kami lewati sewaktu ke Pantai Minanga."
Iyun menggeleng. "Nggak. Kota Jin... kampungnya makhluk halus." kata Perempuan itu sambil menyandarkan lengannya disandaran lengan.
Chiyome menggeleng. "Kayaknya nggak. Kenzie juga nggak cerita kalau ada Kota Jin disana."
Iyun mengangkat alis sambil tersenyum. "Wah, sayang ya... padahal itu salah satu daya tariknya. apalagi bisa berpose disana, wah jadi kebanggaan tuh."
Chiyome menampakkan wajah agak kecewa. "Oooo... begitu. sayang ya." gadis itu merenung sejenak lalu mengangkat wajahnya kembali. "Tapi, aku pernah berpose disebuah tempat yang unik...." Chiyome kemudian menceritakan karakteristik tempat yang ia maksud. Iyun mengernyitkan dahinya.
"Fotonya ada, kan?" tanya Iyun.
"Ada...." jawab Chiyome sambil mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik fitur layarnya dan memperlihatkan foto tersebut pada Iyun.
Iyun menatapi foto itu dan tersenyum. perempuan itu menyerahkan ponselnya.
"Selamat ya? kamu sudah mampir di Kota Jin." kata Iyun.
Chiyome bengong sejenak lalu menatapi foto dirinya yang berpose ditempat itu.
"Itu.... Kota Jin?" tanya Chiyome dengan ragu.
Iyun mengangguk. "Itu ikonnya Kota Jin. kau tidak merasakan keganjilan apa gitu ketika berpose atau menatapi gunung batu itu?" pancing Iyun.
"Ada, sedikit. tapi kupikir itu hanya sensasi karena melihat pemandangan yang unik saja." jawab Chiyome mulai sedikit gelisah.
Iyun menahan tawa dalam hati melihat sahabatnya mulai gelisah. wanita itu mulai melanjutkan.
"Gunung batu itu disebut Gua Jin. masyarakat Gorontalo menyebutnya Ota lo Jin. jika diterjemahkan ke bahasa indonesia, artinya Benteng Jin." kata Iyun.
ketakutan mulai sedikit nampak dari wajah gadis jepang itu. "Kamu yakin.... kalau gunung itu, tempat...tinggal... para jin?" tanya Chiyome dengan suara bergetar.
Iyun mengangkat bahunya, "Who knows? sebenarnya secara fisik yang kita lihat, itu hanya sebuah batu gamping yang mengalami proses pelarutan hingga akhirnya membentuk gua yang sempit."
"Ada guanya?" tanya Chiyome dengan heboh.
Iyun mengangguk, "Guanya cukup sempit dan bisa menguras tenaga. hanya bisa dimasuki satu orang. kalau kamu sudah masuk kedalamnya, kau akan menemukan sebuah ruangan kecil dan akar dari 2 pohon beringin yang berdiri kokoh tepat ditengah gua."
"Kamu jangan nakuti aku dong." kata Chiyome dengan cemas.
"Kamu nggak sedang PMS saat berpose di Guajin?" tanya Iyun. Chiyome menggeleng. Iyun mengangguk.
"Syukurlah. mereka nggak akan mengganggumu." kata Iyun menenangkan Chiyome yang sudah ketakutan.
...*******...
"Apa lagi yang mereka bicarakan? kayaknya seru banget." kata Trias penasaran hendak melongok lagi kedalam ruang tamu. sekali lagi Kenzie mencekal tangannya dan menariknya lagi supaya duduk kembali di kursi.
"Urusan anak cewek... jangan diganggu..." kata Kenzie.
"Chiyome saja yang cewek. istriku kan nggak lagi bisa disebut cewek." gerutu Trias dengan kesal.
"Tetap saja mereka berdua itu cewek." tandas Kenzie. "Bedanya, kalau Wiffy tu perawan, nah lo punya tu cewek bersuami." jawab pemuda itu sambil tertawa.
Trias tertawa keras lalu setelah itu ia menjambak kerah baju Kenzie. "Kamu mau mati?" tanya Trias sambil tertawa.
Kenzie tertawa sambi mengangkat tangannya. "Okelah, kita kembali ke pembahasan semula."
keduanya kembali duduk menenangkan emosi masing-masing. Trias menatapi sahabatnya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Kau sudah mendapatkan informasi dari mereka, siapa yang mengincar kita?" tanya pemuda itu.
"Nggak. orang itu keburu pingsan pas ku gasak wajahnya dengan bogemku. lagian, kurasa mereka tak akan mau mengatakan siapa yang menyuruh." jawab Kenzie.
Trias mengangguk, "Aku sudah berjanji pada Papa. jika ada masalah seperti ini, aku akan mendiskusikannya dengan beliau."
"Aku pun begitu. kuharap, Papa juga bisa mengerahkan orang-orangnya untuk mencari tahu." timpal Kenzie.
keduanya kemudian diam lagi. masing-masing sedang berpikir. keduanya lalu saling menatap.
"Apa kita lapor saja ke Polisi?" tanya Kenzie.
"Kalau itu aku nggak yakin. mereka akan melakukannya lebih teliti kali ini." jawab Trias.
tak berapa lama dari dalam ruangan, muncul Iyun dan Chiyome. gadis itu langsung mendekati Kenzie. melihat wajah Chiyome yang terkesan cemas, Kenzie langsung berdiri menyambutnya.
"Kenapa?" tanya Kenzie dengan heran melihat Chiyome langsung menggamit lengannya dengan erat. pemuda itu menatapi Iyun. wanita itu hanya mengangguk pelan sambik menahan tawa.
"Yas, aku cabut dulu ya?" kata Kenzie langsung pergi membawa Chiyome yang terus menempel ditubuhnya bagai lem.
sepeninggal sepasang kekasih itu, Trias menatapi wajah Iyun yang tertawa nakal.
"Mi, kenapa sih?" tanya Trias.
Iyun tersadar lalu menatapi suaminya. "Nggak. nggal apa-apa." jawab perempuan itu dengan datar lalu berbalik masuk kedalam ruangan.
...***********...
Chiyome benar-benar membuat Kenzie bingung setengah mati. gadis itu benar-benar menempelinya seperti lem fox yang direkatkan. kelihatannya ada yang membuat gadis itu terlihat ketakutan.
sesampainya dirumah kontrakan, Chiyome turun. Kenzie tersenyum. "Wiffy, Hubby balik dulu ya?"
"Jangan!" jawab Chiyome spontan.
"Kenapa?" tanya Kenzie sambil tersenyum.
"Temani aku..." rengek Chiyome.
Kenzie menatapi Chiyome dengan dalam. pemuda itu meneliti wajah gadisnya. akhirnya pemuda itu mengangguk.
📞 "Halo? kenapa Ken?" terdengar suara berat Adnan disana.
📲 "Pa... Kenzie minta ijin nginap dirumah Chiyome." kata Kenzie.
📞 "Berikan ponselnya sama Chiyome, biar Papa yang bicara." kata Adnan.
Kenzie memberikan ponselnya pada Chiyome. kembali terdengar suara Adnan.
📞 "Kenapa minta Kenzie menginap?" tanya Adnan.
akhirnya Chiyome menceritakan segalanya tentang isi percakapannya dengan Iyun. akhirnya Adnan tertawa.
📞 "Bukannya Om nggak Ijinin. Om hanya kuatir Kenzie yang sulit menahan dirinya. begini saja nanti Om kirimkan Kak Ais kesana ya? biar Kenzie nunggu dia datang."
Chiyome akhirnya setuju dan Adnan menyudahi pembicaraannya. gadis itu menyerahkan ponselnya kepada Kenzie. pemuda itu menyimpan gadgetnya.
"Sudah nggak takut lagi kan?" tanya Kenzie.
Chiyome mengangguk lalu tersenyum. Kenzie balas tersenyum.
"Ya sudah. sambil nunggu Kak Ais datang, biar Hubby yang temani Wiffy." kata Kenzie kemudian membelokkan motornya memasuki halaman setelah Chiyome membuka gerbangnya.
Kenzie memarkir motornya lalu menggandeng Chiyome ke beranda.
"Kita duduk disini saja." kata Kenzie sambil duduk dilantai dan menyandarkan punggungnya ke pilar. Kenzie kemudian mengisyaratkan Chiyome untuk bersandar ditubuhnya.
gadis itu menyandarkan punggungnya didada Kenzie. pemuda itu memeluk gadis itu dari belakang.
"Hubby..." panggil Choyome.
"Hmmm?" jawab Kenzie sambil menatapi langit malam.
__ADS_1
"Kenapa Hubby nggak cerita kalau gunung batu yang Wiffy pake berpose itu sarang para jin?" tanya Chiyome dengan suara serak.
"Wiffy tahu dari mana?" Kenzie balik bertanya.
"Iyun yang bilang. kan Wiffy jadi merinding sendiri." jawab Chiyome.
"Sengaja, Hubby nggak mau acara pesiar kita terganggu. Hubby minta maaf ya?" kata Kenzie sambil membelai rambut Chiyome.
"Nggak apa-apa, Hubby." jawab Chiyome.
"Sekarang masih takut nggak?" tanya Kenzie.
"Nggak, kan ada Hubby yang sekarang pelukin Wiffy." jawab Chiyome. Kenzie menyelimuti tubuh gadis itu dengan jaketnya.
Chiyome mengkerut dalam pelukan pemuda itu. Kenzie kembali menatapi langit malam. keduanya diam dalam posisi seperti itu.
tak lama kemudian terlihat sebuah bentor berhenti didepan gerbang. nampak Aisyah turun dan membayar ongkos kemudian ia melangkah memasuki halaman. dilihatnya Kenzie sedang duduk bersandar dipilar sedang Chiyome merebahkan punggungnya didada pemuda itu.
jilbaber itu kemudian berdiri didepan mereka dan bercakak pinggang memasang wajah galak.
"Waduuuh... kalian ini, persis yang sudah nikahan. nggak malu apa? ayo bangun!" kata Aisyah dengan nada tinggi dan tatapan tajam diarahkannya kepada Kenzie.
Chiyome langsung bangun dan berdiri dengan gugup. sedangkan Kenzie bangkit dengan malas lalu cengegesan. "Okey Kak. aku titip Wiffy ya?" kata Kenzie sambil melangkah turun.
"Wiffy, wiffy... memang Chiyome apaan? belum halal sudah panggil begituan. pasti kamu kan yang racuni pikiran Chiyome. ngaku nggak?" sembur jilbaber itu.
"Kakakku tersayang. maaf jika aku menyinggung sisi kewanitaanmu. tapi sungguh, adikmu ini nggak melakukan apapun diluar batas itu, kecuali panggilan-panggilan itu doang." jawab Kenzie. "Kok kali ini Kak Ais sensi banget dengar aku panggil Wiffy ke Chiyome?"
"Ken, kakak cuma nggak mau kalian disalah pahami warga sini. mereka kira kalian pasangan mesum. mau kalian digerebek warga dan digelandang ke kantor desa?" tantang Aisyah.
"Kak Ais, jangan marahin Hubby..." kata Chiyome.
"Ini satu lagi, panggil Hubby..." potong Aisyah dengan mata melotot ke arah Chiyome.
gadis itu benar-benar mati kutu dipelototi jilbaber tersebut. ia menunduk dan mulai terisak-isak. Aisyah langsung blingsatan mendengar gadis itu menangis. jilbaber itu langsung mendekati Chiyome dan memeluknya dengan lembut.
"Adek kenapa nangis? kakak minta maaf deh sudah buat adek nangis. kakak nggak punya maksud apa-apa kok. cuma mau lindungi adek saja dari orang nggak bener." kata Aisyah kemudian memelototi Kenzie.
"Hadeeeh... Kak Ais kok main tuduh saja sama Kenzie? sumpah mati, Kenzie nggak pernah main-mainin Chiyome. dasar kakak saja nih yang Sensi... makanya cari pacar deh supaya bisa merasakan bagaimana kita bisa menyalurkan kerinduan dengan cara yang benar." omel Kenzie. "Udah ah, kok didepan Chiyome, kita berantem? aku mau pulang."
pemuda itu berbalik dan melangkah ke sepeda motornya yang terparkir. Kenzie menyalakan mesinnya lalu membawa kendaraan itu ke jalanan. tak lama Kenzie melaju meninggalkan kediaman tersebut.
sepeninggal Kenzie, tiba-tiba Aisyah tertawa membuat Chiyome terheran-heran.
"Kak Ais kenapa tertawa?" tanya Chiyome.
"Paraaaank...." jawab Aisyah kembali memeluk gadis itu. Chiyome langsung paham dan ia kembali memeluk manja.
"Aaaa... Kak Ais bikin Chiyo takut saja. kasihan Hubby dong Kak..." kata Chiyome kembali menangis. "Chiyo takut dijauhi Hubby...."
"Susususuusssss...." kata Aisyah membujuk gadis itu dan membawanya kedalam.
setelah Chiyome duduk, Aisyah menjelaskan maksudnya marah-marah. "Nggak bakalan Kenzie menjauh darimu. Kakak tau sifatnya. tadi kakak stel marah-marah untuk melihat gimana reaksinya kalau dimarahi didepan pacarnya. udah. kamu diam saja. santai. istirahat dulu... kakak buatkan pilitode, mau? ada bahannya kan?"
mendengar nama masakan kesukaannya, tangis Chiyome langsung berhenti. seketika kedua matanya berbinar dan kepalanya mengangguk-angguk.
Aisyah tertawa. paling gampang membujuk anak ini. begitu disebutin nama masakan kegemarannya, langsung berhenti.... ahhh dasar....
jilbaber itu melangkah menuju dapur dan mulai mempersiapkan semuanya. ia memasak pilitode varian lain agar Chiyome tidak bosan dengan menu yang terus-terusan itu saja.
gadis itu duduk sambil memperhatikan Aisyah memasak. ia bisa tenang dan merasakan hawa menyenangkan dirumahnya. Chiyome tetap dengan duduk manisnya menunggu jilbaber itu menyelesaikan pekerjaannya.
tak lama, piring berisikan pilitode sudah dibawa ke meja makan dan Chiyome menatapi hidangan itu dengan tatapan penuh selera.
"Silahkan tuan putri, hidangan sudah siap disantap." kata Aisyah mengembangkan tangan dan membungkuk.
Chiyome tertawa sejenak lalu dengan penuh semangat, gadis itu menikmati setiap sendok berisi masakan berkuah santan itu yang setiap kali dimasukkannya ke mulutnya.
Aisyah sendiri hanya duduk menatap Chiyome yang asyik menghabiskan masakan hingga akhirnya tandas. jilbaber itu terkekeh.
"Sudah... nggak usah sedih. Kakak bisa yakinkan kamu. Kenzie benaran cinta sama kamu. Chiyo nggak usah pikirkan pertengkaran kami tadi. itu biasa dalam kehidupan berkeluarga. bukankah Chiyo juga pasti pernah berantem sama adik. ya kan?" kata Aisyah.
__ADS_1
Chiyome terdiam mendengar kata-kata Aisyah. benar juga. pertengkaran Kak Ais sama Hubby... mirip dengan pertengkaranku dengan Iechika...
"Sudah nanti kalau tidur, Kakak keloni kamu." tambah Aisyah membuat Chiyome melebarkan senyumnya. []