
Trias selalu melatih kemampuan menembaknya sejak Kenzie menghadiahkannya sebuah pistol. nggak main-main, itu jenis pistol kelas berat. berbeda dengan G2 Combat buatan Pindad, juga berbeda dengan Glock standar. Raging Bull hanya bisa disaingi oleh Smith & Wesson 571 dan Desert Eagle buatan pabrikan israel. seminggu lagi senjata itu akan tiba di rumahnya.
beberapa hari bertugas di Polresta Gorontalo, lelaki itu langsung mengajukan mengikuti ujian psikotes bagi setiap orang yang hendak mengurus ijin kepemilikan senjata api. seorang aparat penegak hukum semacam polisi dan polisi militer tidak dibatasi menyandang senjata jenis apapun, kecuali bagi orang-orang sipil yang diberikan batasan hanya boleh menyandang pistol jenis revolver kaliber 22, 25 dan 32, kemudian senapan bahu jenis Shotgun kaliber 22 dan senapan kaliber 12 GA, mengacu pada Peraturan Kapolri nomor 82 Tahun 2004 tentang siapa-siapa saja yang berhak menyandang senjata api dengan ijin tertentu.
Kenzie tahu sahabatnya paling menjaga apapun amanat yang diberikan apalagi berkaitan dengan kepemilikan senjata api. benda itu memiliki setan yang jika tidak dijinakkan, akan bisa merasuki akal seseorang menjadi jahat dan melakukan eksebisi penembakan yang dapat menimbulkan korban jiwa.
Saripah kembali aktif bekerja sebagai pengawal. Kenzie sendiri mengikut sertakan gadis itu sebagai anggota Perbakin Daerah Gorontalo sehingga dengan mudah dapat melatih kompetensinya menggunakan senjata api. jika ia sudah mahir dan ahli menggunakannya, tentu Kenzie akan mengikut sertakan lagi Saripah mengikuti psikotes agar bisa memperoleh ijin menggunakan senjata api.
Bakri pernah dianjurkan Kenzie untuk itu, namun lelaki itu menolak dengan halus. ia tak suka berurusan dengan senjata api. baginya itu barang yang paling menakutkan. menurut Bakri, lebih baik Kenzie menghadiahinya badik, mandau atau rencong ketimbang pistol dan shotgun.
Kenzie mengiyakan saja dan memberikan Bakri hadiah sebilah Sumala yang khusus dipesannya kepada seorang pengrajin tradisional. benda itu menurut pembuatnya telah melalui proses pemandian dan dayango. sehingga pantang disentuh oleh perempuan, meskipun itu istrinya. Bakri menyimpan benda itu dalam kotak bergembok dan hanya mengeluarkannya ketika menginspeksi lahan-lahan kerja yang jauh semisal pertambangan milik Buana Asparaga.Tbk di Gunung Pani, Pohuwato, atau di dusun paling ujung Hulawa, Sumalata Timur, Gorontalo Utara.
...********...
Kenzie sedang merapikan rambutnya sementara Chiyome memasukkan beberapa helai pakaian milik suaminya ke kopor. lelaki itu akan menghadiri temu enterpreneur yang sering digagas oleh Kementerian Perdagangan dan Industri. bagaimanapun, Buana Asparaga.Tbk masuk dalam jajaran keanggotaan Asosiasi Perusahaan Indonesia yang terkoneksi dengan Kamar Dagang dan Industri. pertemuan ini penting untuk lebih menambah wawasan, menemukan inspirasi, memperluas jaringan kerja, dan kesempatan sharing dengan taipan-taipan Indonesia sekaliber internasional.
pertemuan itu akan diadakan di Bandung, tepatnya di Hotel Trans Luxury yang dimiliki Chairul Tanjung, pendiri CT. Group. ada beberapa menteri kabinet Indonesia Maju dan beberapa pejabat tinggi seperti Gubernur Bank Indonesia juga menghadiri pertemuan itu.
"Pakaiannya jangan banyak-banyak Wiffy. Hubby malas bawa banyak pakaian." tegur Kenzie.
Chiyome menatapnya, "Wiffy hanya masukkan lima helai pakaian kok, termasuk stelan jas resmi milik Hubby. tapi Wiffy banyakin pakaian dalam saja."
"Oooh... okelah kalau gitu." jawab Kenzie dengan senyum lalu maju mengecup bibir istrinya dengan cepat membuat Chiyome sejenak kaget namun tersipu lagi.
"Wiffy nggak usah ke kantor ya? ajak Saburo jalan-jalan saja kemana gitu, jangan lupa bawa Saripah." ujar Kenzie.
Chiyome menatap suaminya dan mengangguk. Kenzie menyambung. "Pakai saja Mc Laren milik Hubby. ngelayap kemana kek, yang penting GPRS di kendaraan itu diaktifkan ya?" pesan Kenzie.
lagi-lagi Chiyome mengangguk. Kenzie tersenyum. lelaki itu hanya mengenakan pakaian kasual saja. nanti setelah tiba ditempat tujuan, ia akan segera menggantinya dengan pakaian resmi. Chiyome menutup kopor itu dan mengatupkan klep pengamannya.
"Sudah...." jawab Chiyome.
Kenzie mengangguk lalu mengangkat koper itu dengan enteng. Chiyome memang kesulitan mengangkatnya, berbeda dengan suaminya yang bertubuh kekar bulky itu. Kenzie keluar dari kamar menenteng kopor diikuti oleh Chiyome. diruangan tengah, Adnan menyapanya.
"Sudah mau berangkat, nak?" tanya Adnan.
"Ya Pah... esok kan acaranya. Ken harus tiba sehari lebih cepat supaya masih sempat. check-in dan beristirahat." jawab Kenzie.
Adnan mengangguk, "Hadija..." ujarnya.
"Hadija?" sebut Kenzie dengan heran, "Ken nggak jalan dengan Hadija. Papa mau olokin Wiffy supaya cemburu ya?" ujar Kenzie.
Adnan tertawa, "Nggak... Hadija... Hati-hati di perjalanan..." ujar Adnan menguraikan antonim kalimat itu.
Kenzie tertawa bersama Chiyome yang menggaruk rambutnya yang pendek shaggy itu, merasa kecolongan oleh candaan mertuanya.
"Sudah ah, Ken berangkat dulu ya? salam sama Mama." ujar Kenzie.
"Ya, Mama lagi main sama cucunya. dipanggil jalan-jalan disekitar komplek sambil bergosip pula itu." ujar Adnan setengah mengolok Mariana yang berada dalam posisi in absentia diruangan itu.
Kenzie melanjutkan perjalanan keluar dari Kediaman Lasantu. ia mengajak istrinya menemaninya menuju bandara Jalaluddin menaiki Supercar Mc Laren Pirelli kuning itu. kendaraan mewah itu melaju meninggalkan kawasan Wongkaditi bergerak menuju jalan dua arah. Kenzie sengaja tak mengambil rute Batudaa melainkan mengambil rute Limboto-Isimu karena jalanannya rata, bisa dilewati dengan aman oleh mobil pabrikan eropa itu.
"Hubby, kalau sudah sampai, Calling Wiffy ya?" pinta Chiyome.
"Tentulah Wiffy Lovely Dovely... sehari nggak disamping kamu, aku selalu senewen saja kerjanya." ujar Kenzie yang jawabannya mirip gombalan sehingga tanpa sadar membuat Chiyome kembali tersipu.
ih, Hubby... sudah segini juga masih romantis... ah... aku nggak ingin suasana ini berakhir... Hubby...
__ADS_1
"Wiffy lagi mikirin apa?" tanya Kenzie tersenyum tanpa menoleh, "Mikirin main terong sama Hubby ya?" tebaknya.
"Ih, Hubby... kok mesum banget bicaranya?" tegur Chiyome dengan risih tapi tetap saja tersipu.
"Mesum sama istri itu berpahala... beda mesuman sama selingkuhan... itu BERBAHAYA!!!" jawab Kenzie.
"Hubby mau selingkuh?" pancing Chiyome memicingkan mata sipitnya sehingga makin sipit dan membentuk dua garis lurus.
"Siapa yang mau selingkuh? Wiffy salah dengar... Hubby mana mau selingkuh... trauma tau nggak? diperkosa banci kalengan, traumanya masih terasa sampai sekarang." ujar Kenzie dengan wajah kesal.
Chiyome menahan tawa. "Wah, tahan juga ya? Puspita sama Hubby... " goda wanita itu.
"Nggak bisa cari obrolan lain?" tanya Kenzie mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oke deh... kita nggak usah membicarakan orang itu." ujar Chiyome. wanita itu kembali menatap suaminya. "Hubby... kira-kira kalau Saburo berusia 13 tahun, kita sekolahkan dia di Tokyo ya?"
Kenzie tertawa. Chiyome mengerutkan keningnya. "Kenapa Hubby tertawa."
"Masih jauh, Sayaaaang.... usia Saburo saja belum sampai lima tahun." jawab Kenzie, "Tapi Hubby setuju kalau Wiffy sekolahkan dia di jepang."
"Iyakah?" tanya Chiyome.
"Supaya dia mengenal siapa keluarga dari pihak ibunya. supaya dia kenal siapa Iechika, kenal Kakeknya, neneknya, dan bebarapa teman sejawat kita di genyosha." jawab Kenzie.
"Ah, Chiyome nggak mau Saburo berteman dengan Yakuza." tolak Chiyome dengan wajah keruh.
"Bagaimanapun, darah genyosha ada dalam dirinya. namanya orang itu pasti akan berteman dengan orang yang sevisi dengannya. jarang orang berteman dengan orang lain yang nggak sevisi." ujar Kenzie.
"Tapi Hubby..." bantah Chiyome.
"Sudah.... santai saja." sela Kenzie. "Siapa tahu, kedepannya Saburo akan menjadi Kumicho dari Yamaguchi?" lelaki.itu melirik sedikit pada istrinya lalu menatap jalanan lagi. "Kira-kira, Wiffy bisa bayangkan nggak kalau Saburo menjadi Kumicho?"
"Setidaknya, Saburo akan jadi preman yang beriman." goda Kenzie membuat Chiyome langsung berdengus.
"Mana ada seorang preman akan beriman?" tantang Chiyome. Kenzie tersenyum.
"Ada.... banyak buktinya." jawab Kenzie sambil terus menyetir. kendaraan sudah meninggalkan gapura batas kota Limboto dan menyusuri jalanan trans Isimu.
"Om Endi, Kamu... Ayah Mertua... apa lagi?" pancing Kenzie membuat Chiyome terdiam. Kenzie menyambung lagi, "Terlahir sebagai genyosha, itu bukan kesalahan Wiffy, Allah nggak ngasih pilihan Wiffy maunya lahir lewat siapa. tapi sikap dan perilaku, itu adalah pilihan. meskipun Wiffy seorang genyosha, Tapi prinsip dasar Wiffy berbeda, maka Wiffy nggak bisa disebut orang jahat. Wiffy hanyalah seperti kuntum mawar yang tumbuh ditengah pasir hisap."
Chiyome mencerna kata-kata suaminya. Kenzie melanjutkan lagi. "Kalau didunia komik, misalkan Frank Castle Si Punisher itu. dia orangnya baik, membela kebenaran dan keadilan, tapi sepak terjangnya nggak kayak hero lainnya. dia lebih pantas disebut antihero, sebab meskipun hatinya baik tapi caranya menangani penjahat nggak bisa disebut terpuji."
"Jadi menurut Hubby, aku sama seperti mereka? seorang antihero?" tebak Chiyome.
"Beda..." jawab Kenzie pendek.
"Dimana bedanya?" tanya Chiyome.
"Perbedaannya adalah... Wiffy seorang antihero yang cantik dan menggemaskan... Wiffy itu seperti Batman... dan aku seperti Alfred..." jawab Kenzie dengan senyum.
Chiyome tersipu lagi. "Ahhhh.... Hubby..." desahnya makin tersipu dan bangga dipuji.
"Biarkan Saburo memilih jalan hidupnya. kita sebagai orang tuanya hanya memperlihatkan jalan-jalan dan bebarapa pilihan yang ditempuhnya. namun, kita wajib meluruskan apabila Saburo keliru dalam menapaki jalannya. tidak ada orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi jahat." ujar Kenzie.
mobil kuning luxury itu melewati perlimaan Isimu dan terus melaju ke barat. Chiyome tak banyak bicara lagi karena sibuk menghayati ucapan suaminya. Kendaraan mendapati bundaran dan membelok ke kiri menuju jalur yang mengarah ke Bandara Internasional Jalaluddin Tantu.
hanya butuh beberapa menit, Mac Laren P1 kuning itu memasuki kawasan Bandara dan memarkir diri disalah satu hampar parkiran. Keduanya keluar. dengan menenteng kopor, Kenzie melangkah masuk diikuti Chiyome.
__ADS_1
mereka menuju tempat pengecekan tiket. Kenzie memang sudah membeli tiket via online dari maskapai. disana lelaki itu memperlihatkan struk pembekian tiket online kepada petugas dan menyerahkan KTP nya.
petugas itu mengamati potret pada KTP dan menyamakannya dengan tampilan fisik Kenzie setelah itu menyerahkan tiket fisik dan KTP enterpreneur tersebut. Kenzie menatap Chiyome.
"Aku pergi dulu ya, Sayang." pesan Kenzie menyerahkan kunci mobilnya kepada Chiyome. "Hadija..." bisiknya, mengulang antonim yang diucapkan ayahnya lalu mengecup pipi istrinya.
Chiyome tersipu lalu mengangguk. Kenzie tersenyum lalu mengangguk dan berbalik melangkah melewati pintu pengecekan tiket. lelaki itu kemudian menghampiri tempat pemeriksaan dan mengeluarkan benda-benda logam yang melekat Di tubuhnya dan memasukkannya kedalam kotak yang dijaga petugas.
Chiyome berbalik melangkah meninggalkan tempat itu sementara Kenzie sudah diijinkan mengambil benda-bwmda logam miliknya lalu menenteng kopernya masuk ke ruang tunggu. ia menatap papan digital yang memberitahu jadwal keberangkatan dan rute yang dilalui.
setelah memastikan semuanya, Kenzie duduk dengan tenang. beberapa saat kemudian terdengar panggilan dari resepsionis bahwa maskapai yang membawa penumpang, termasuk Kenzie didalamnya akan segera memberangkatkan pesawatnya.
Kenzie bangkit dan bergegas melangkah menyusuri lorong yang mengarahkannya ke lapangan udara dimana pesawat telah menunggu melalui garbarata yang disiapkan oleh pihak bandara Jalaluddin.
Kenzie masuk ke pesawat dan menuju ruangan kelas bisnis. lelaki itu baru saja memasuki ruangan itu ketika mendengar keributan diruangan penumpang. nampak seorang penumpang mencak-mencak membantah salah satu penumpang.
"Maaf pak... kursi yang bapak duduki itu, tempat saya." ujar penumpang itu.
si pembuat onar itu menatap penumpang tadi. "Siapa kamu?!" tanya si pembuat onar itu dengan ketus.
"Saya Bertrand Lumentut, penumpang sama macam bapak!" jawab lelaki itu dengan gemas.
"Penumpang?! He, saya juga penumpang! kita sama-sama membayar tempat duduk! kenapa kamu mau ngatur-ngatur aku?!" hardik pembuat onar itu.
Bertrand Lumentut hanya bisa diam namun hatinya sangat dongkol. tak lama datang pramugari dan menegurnya dengan sopan.
"Maaf pak. boleh saya lihat tiketnya?" pinta pramugari.
orang itu menyerahkan tiketnya kapada pramugari itu. si wanita tadi membaca sejenak lalu tersenyum dan menatap penumpang itu.
"Bapak Said Polimengo, menurut yang tertulis ditiket bapak, semestinya bapak duduk dikelas ekonomi, bukan disini." kata pramugari dengan lembut.
"Hei, siapa lagi kamu?!" bentak Said merampas tiketnya.
pramugari itu tersinggung, namun sedapatnya ditahan. ia tersenyum. "Saya pramugari disini pak."
"Apa itu pramugari?" tanya Said, langsung kentara membwri kesan pertama sekali merasakan naik pesawat.
"Pramugari itu, bertugas melayani penumpang..." jawab wanita itu namun langsung disela oleh Said.
"Beh, kamu cuma pelayan, berani mengaturku? urus saja kerjamu! aku akan tetap duduk dikursi ini." tandas Said.
akhirnya pilot turun tangan meminta Said untuk pindah ke kamar ekonomi. Said menatapnya. "Kamu siapa lagi?" tajya lelaki itu dengan jengkel.
"Saya pilot yang mengemudikan pesawat ini." jawab petugas itu dengan tegas namun Said justru tertawa.
"Kamu itu cuma sopir, ngapain ngurusi saya?!" bentak Said.
Kenzie mendekati keributan itu. "Ada apa ya?"
"Ini, pak. lelaki ini, tiketnya kelas ekonomi, tapi maunya duduk dikelas bisnis!" sela Bertrand dengan emosi.
Kenzie mengangguk-angguk lalu menatap Said. Kenzie kemudian mendekat lalu membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Said. kontan lelaki itu terkejut. ia menatap Kenzie lekat-lekat lalu menatap sang pilot, pramugari dan terakhir Bertrand.
akhirnya Said berdiri dan menunjuk-nunjuk sang pilot. "Dasar Supir bodoh! pelayan penipu! bilang kek dari tadi!" umpat Said langsung melangkah pergi membuat ketiga orang itu bengong, bingung dan bengak.
Kenzie mendapatkan nomor kursinya lalu duduk dengan tenang disana. Pilot mendekatinya. "Bapak hebat ya?" pujinya. "Apa sih yang Bapak bisikkan kedia sampai dia tiba-tiba pergi?"
__ADS_1
Kenzie menatap pilot itu, "Aku tanya tujuannya. ternyata dia mau ke jakarta. jadi kubisikkan ditelinganya bahwa dia salah duduk. kalau mau ke jakarta, mestinya duduk dikelas belakang, sebab kataku, yang duduk disini, akan diturunkan di Randangan." jawab Kenzie dengan kalem. []
...******...