
Aisyah mendapati dirinya disuatu tempat. hamparan pohon sakura memenuhi halaman itu. dari kejauhan nampak sebuah kastil dengan atapnya yang melengkung. Aisyah kembali menyusuri halaman itu dan sesekali menyibak ranting pohon yang menghalangi pandangannya. suasana terlihat merah muda dipenuhi bunga yang mekar.
nun diujung sana, kembali jilbaber itu melihat seorang wanita mengenakan jilbab dengan dandanan kasual. perempuan itu membelakanginya menatapi kastil yang menjulang. ia berdiri disebuah jembatan yang terbuat dari kayu tebal.
Aisyah terus melangkah meski pelan dan ragu. wanita berjilbab itu kemudian membalik tubuh dan Aisyah bisa dengan jelas melihat keseluruhan wajahnya.
"Ibu...." pekik Aisyah dengan gembira.
jilbaber itu langsung berlari sedang Fitri mengembangkan tangan menyongsong kedatangan putrinya. keduanya berpelukan melepas rindu.
"Ibu... Ais rindu sekali sama ibu. kok Ibu tega sekali sama Ais... ninggali Ais.." sedu Aisyah dengan emosi yang meluap.
Fitri menatapi putrinya, mengamati dan menegaskan berapa jilbaber dihadapannya telah sama tingginya dengan dirinya.
"Kau sudah besar nak. dewasa dan anggun." puji Fitri menggenggam kedua pundak putrinya.
"Ibu... kapan Ibu datang menjengukku? aku sudah sangat rindu..." rengek Aisyah.
"Sebentar lagi nak. sebentar lagi..." jawab Fitri.
"Kau nggak mau ketemu dengan adikmu?" tanya Fitri tiba-tiba. Aisyah terlonjak.
"Aku punya adik? mana dia bu? mana dia?" tanya Aisyah dengan gembira.
Fitri menunjuk kesuatu arah. Aisyah menatapi arah itu. seorang gadis muda mengenakan furisode, sejenis kimono musim panas dengan cetakan gambar bunga menghiasi bagian bawah pakaiannya.
makin lama gadis itu mendekat. dan akhirnya keduanya berhadapan.
"Kakak...." sapa gadis iru.
dan Aisyah begitu syok melihat wajah dihadapannya.
Chiyome.....
...**********...
Aisyah terbangun dari tidurnya. ia gelagapan dan langsung duduk disisi ranjang. napasnya memburu. jilbaber itu kemudian memandangi ruangan untuk mengenali keadaan.
"Aaa... Ini sih ruangan kamar Chiyome... ah ya Chiyome..."
Aisyah langsung teringat gadis itu. dimana dia?
kamar itu kosong. hanya meninggalkan dirinya. buru-buru jilbaber itu bangun sambil memperbaiki jilbabnya dan membersihkan ruangan itu. di meja rias, ia menemukan secarik kertas. ada tulisan disana. ia disuruh membacanya.
Kak Ais....
maaf kak, nggak bangunin kakak. habisnya kakak lelap tidurnya, Chiyo nggak mau ngganggui kenyamanan kakak sementara tidur.
oh ya, Chiyo berangkat sekolah duluan Kak. kalau kakak mau pergi kunci pintu diselipkan saja dalam keset.
oke Kak, Chiyo pergi dulu. Assalamualaikum...
Aisyah menarik napas lalu melipat kertas tersebut. setelah itu ia bergegas keluar dari kamar dan memastikan ruangan bersih. setelah itu Aisyah membuka pintu lalu keluar. ia menutup pintu, menguncinya dan menyelipkan anak kunci kedalam keset didepan pintu sesuai arahan Chiyome.
Aisyah menyusuri halaman dan membuka gerbang depan. ia menutupnya lalu melangkah kesisi jalan, melambaikan tangan ke arah bentor yang melintas.
kendaraan itu menepi. jilbaber itu menaikinya. dalam perjalanan pulang, gadis iru tenggelam dalam pikirannya.
apa maksudnya ini? Chiyome... adikku?...
...*********...
Kenzie bangun dengan dengan perasaan gundah. semalam ia bertengkar dengan kakak sambungnya dihadapan Chiyome hanya gara-gara sebutan Hubby fan Wiffy yang ia lekatkan untuk keintiman hubungannya dengan Chiyome.
keterlaluan juga sebenarnya. benar apa yang dikatakan Aisyah. jangan terlalu memaksakan takdir. belum jadi pasangan sah, sudah berani menggunakan ungkapan-ungkapan semacam itu.
tapi yang mengesalkannya, Aisyah memarahinya dihadapan Chiyome membuat harga diri pemuda itu sedikit jatuh. dengan jengkel Kenzie mengacak-acak rambutnya. dengan malas, pemuda itu turun dari ranjang dan melangkah lesu setelah melihat jam dinding menunjukkan pukul 6.45 Pagi.
pemuda itu masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya disana. dinginnya air sedikit meredakan emosi Kenzie yang saat itu dalam keadaan rusuh. setelah puas membersihkan diri, pemuda itu kemudian bersalin pakaian, menggunakan seragam sekolah.
paska ujian semester, diadakan kegiatan meeting class yang diprogramkan oleh OSIS SMUN 3 Kota Gorontalo. kegiatan itu diisi dengan permainan-permainan ketangkasan dan kesenian. sedangkan para guru memanfaatkan momen selama 5 hari itu untuk mengolah nilai siswa yang nantinya akan diputuskan dalam rapat umum Dewan Guru.
Kenzie sudah siap dengan seragamnya menuju ke ruang makan untuk sarapan. disana ada Mariana sibuk mengoles mentega ke permukaan roti lapis yang akan dipanggang.
"Pagi, Ma..." sapa Kenzie langsung duduk.
"Pagi Sayang..." balas Mariana sambil menyorongkan piring berisi 3 lapis roti panggang yang sudah diolesi mentega ke depan pemuda itu.
"Papa mana, Ma?" tanya Kenzie sambil menikmati roti panggang itu.
"Sudah pergi dari tadi. kamu saja yang lambat bangunnya. mentang-mentang sudah selesai ujian semester, mulai lagi gaya malasmu kau buat." tegur Mariana.
Kenzie hanya senyum saja. tak lama kemudian terdengar langkah mendekati dapur. Aisyah muncul dan menepuk punggung Kenzie.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ma... Ken..." sapa Aisyah kemudian duduk disamping Kenzie.
"Wa alaikum salam..." balas Mariana kembali menyorongkan piring berisi 3 lapis roti panggang.
"Kak... lain kali jangan bikin aku keki didepan Chiyo dong." kata Kenzie dengan wajah keruh.
"Sori Ken." jawab Aisyah sambil mengambil satu lapis roti panggang. "Lagian kamu belum halal sudah pake-pake sebutan untuk orang yang sudah nikahan saja. kan Kakak nggak mau kalian berdua disalah pahami warga disekitar situ."
Mariana mendengar perdebatan kedua anaknya tertarik juga mendengarnya.
"Oh ya? memang apa sih yang bikin kalian bertengkar?" tanya Mariana.
"Mama nggak usah tahu!" potong Kenzie dengan kikuk.
"Mama harus tahu Ken." tandas Aisyah kemudian menatapi Mariana. "Ma, Kenzie sudah berani manggil Chiyo dengan sebutan Wiffy, begitu juga Chiyo, sudah berani panggil Kenzie dengan sebutan Hubby... padahal mereka belum nikah. kan warga sekitar bisa salah paham." tutur Aisyah.
Mariana tertawa. "Oh ya? waaaah... berarti Mama dan Papa sudah harus bersiap-siap mencari tahu apa maunya Chiyo. supaya dia bisa langsung segera bisa dilamar."
"Mama !!!" tegur kedua anaknya berbarengan.
"Aaaa sudah itu bukan urusan kalian berdua. ini urusan Mama sama Papa." kata Mariana kemudian menatapi Kenzie. "Uyong, coba jajal Chiyome. tanya kapan orang tuanya berkunjung ke Indonesia."
"Maksud Mama apa?" tanya Kenzie mulai jengah.
"Sudah, tanyakan saja! gitu aja kok susah?" timpal Mariana.
"Ah, Sudah Ma, ah.... bicara yang bukan-bukan saja. Ken permisi Ma, Assalamualaikum." kata Kenzie langsung bangkit meninggalkan ruangan.
"Anak itu, sarapannya kok nggak dihabisin?" gumam Mariana.
"Ya salahnya Mama... woo orang lagi konsen makan disinggung hal begituan." omel Aisyah.
Mariana tertawa kemudian duduk dihadapan Aisyah yang sekarang sedang asyik menyeruput teh hangat.
"Kapan teman lelaki kamu kemari?" tanya Mariana tiba-tiba. sontak Aisyah langsung tersedak dan batuk-batuk.
"Ais, kok kesedak? pertanyaan Mama salah ya?" tanya Mariana.
"Hah? apa Ma?" tanya Aisyah sambil membersihkan jilbabnya yang basah akibat air sedakan.
"Mama tanya, kapan teman lelakimu itu datang. siapa namanya ya?" gumam Mariana menerawang.
"Kak Bakri?" tebak Aisyah.
"Ya! itu, si Bakri... kapan dia mau datang?" tanya Mariana.
"Ditanya ya. soalnya ada yang Mama dan Papa mau bicarakan dengan dia." kata Mariana.
"Urusan apa, Ma?" tanya Aisyah.
"Sudah, nggak usah dicari tau. ini urusan Mama sama Papa." jawab Mariana penuh makna.
"Aaaa.... Mama..." gerutu Aisyah sambil bangkit.
"Eeee mau kemana?" tanya Mariana.
"Mau ke Kampus, Ma. Ais mau urus biaya SPP sama SKS." jawab Aisyah.
"Hati-hati..." pesan Mariana.
gadis itu tidak sempat mendengarnya karena keburu masuk ke kamar dan membersihkan dirinya di kamar mandi untuk mempersiapkan diri berangkat ke kampusnya hari ini.
...***********...
Kenzie memarkir sepeda motornya ditempat parkir dan ia melenggang dengan santai menyusuri halaman sekolah. ia memang agak terlambat, namun tak ada hukuman disiplin yang akan diterimanya.
hati ini adalah kegiatan meeting class. banyak siswa dan siswi yang mendaftar untuk mengikuti kegiatan yang digagas pengurus OSIS itu.
Kenzie dengan santai melangkah sesekali menyapa teman siswanya yang juga menyapanya. pemuda itu masuk ke kelas dan melangkah menuju ke bangkunya. ia menyandarkan punggungnya disandaran kursi dan melipat tangannya ke belakang kepala kemudian mengangkat kedua kakinya ke meja lalu menyilangkannya. pemuda itu memejamkan mata.
aaaa... masa santai dimulai juga......
tak berapa lama, Chiyome muncul. melihat Kenzie dikelas, gadis itu langsung berjingkat-jingkat mendekati pemuda itu.
"Hubbyyyyyy......!!!!" teriak Choyome dengan riang.
mendengar teriakan gadis itu sontak Kenzie kaget dan tanpa sadar kakinya mendorong meja membuat ia dan kursinya terjungkir kebelakang.
GUBRAKKK..... WADDAOOOOW...
Chiyome langsung panik melihat kekasihnya terjungkal dan terlentang sedemikian rupa. untung hanya mereka berdua saja diruangan itu.
gadis itu langsung membungkuk dan menyambut tangan Kenzie kemudian menariknya dengan kuat agar pemuda itu bisa berdiri kembali. dengan wajah pucat, Kenzie menatapi gadisnya.
"Wiffy... kenapa ngagetin Hubby sih?" gerutu Kenzie.
"Aduh, maaf Hubby, Wiffy kelewat gembira melihat Hubby disini." kata gadis itu langsung menggaet lengan pemuda itu dengan erat dan memamerkan senyumnya yang membuat Kenzie luluh, segan memarahinya.
__ADS_1
"Hubby nggak dimarahi Kak Ais, kan dirumah?" tanya Chiyome.
"Siapa yang berani marahin Hubby? selama Hubby selalu bersamamu, nggak ada yang bakalan marahin Hubby, termasuk Kak Ais sekalipun." jawab Kenzie dengan lantang.
Chiyome menatapinya dengan takjub. "Benarkah?"
Kenzie mengangguk. "Mama tanya, kapan orang tuanya Wiffy ke Indonesia?" pemuda itu mengambil kursinya dan meletakkannya dengan baik lalu mendudukinya lagi.
"Oh ya? kapan mereka bicara begitu?" tanya Chiyome kemudian duduk dikursi yang berseberangan meja dengan Kenzie.
"Tadi pagi." jawab Kenzie singkat.
Chiyome mengangguk-angguk. Kenzie memperhatikannya dan mendekatkan wajahnya.
"Gimana?" tanya Kenzie.
"Hmm.... akan kupikirkan... dan kupikir, Hubby memang harus segera bertemu dengan mereka." kata Chiyome dengan nada datar saja.
Kenzie menatapinya dengan penuh arti. Chiyome juga ikut menentang tatapan pemuda itu.
"Kenapa Hubby?" tanya Chiyome.
"Keliatannya kamu enggan, jika mereka ketemu dengan Papa dan Mama." kata Kenzie dengan nada yang mulai datar.
Chiyome langsung merasakan ketidak sukaan dalam nada bicara pemuda itu. Chiyome langsung tersenyum dan menutup mulutnya, membuat Kenzie mengerutkan keningnya. gadis itu memalingkan wajah dan terus menutup mulutnya sambil tersenyum.
"Wiffy, Hubby serius nih." tegur Kenzie dengan kesal. "Kalau memang Wiffy keberatan, juga nggak apa-apa, Hubby bisa maklumi." kata Kenzie.
mendadak senyum itu hilang dari wajah Chiyome. gadis itu menatapi Kenzie kembali.
"Ooo... jadi begitu? baiklah... nggak apa. mungkin belum waktunya." kata Chiyome langsung bangkit dan berbalik meninggalkan kelas.
"Wiffy! Chiyo! dengar dulu...." panggil Kenzie langsung bangkit dan mengejar gadis itu.
pemuda itu menangkap pergelangan tangan Chiyome. sebagaimana seorang praktisi beladiri kuno yang mumpuni, Chiyome dengan refleks mengangkat tangan menepis cengkeraman Kenzie.
cekalan itu terlepas. Kenzie terkejut ketika melihat Chiyome dengan gampang melepaskan pegangannya. gadis itu menyingkir ke samping sambil menatapi Kenzie dengan datar.
"Wiffy..." panggil Kenzie.
"Jangan lagi panggil aku dengan nama itu, Ken. Kak Ais benar... kita belum pantas." kata Chiyome.
"Maksudmu apa Wiff... Chiyo?" tanya Kenzie. pemuda itu tersinggung.
Chiyome tersenyum sinis. "Kamu tahu maksudku, Ken." sindir gadis itu kemudian kembali melangkah. "Maaf, aku harus pergi. bolehkah aku lewat?!"
nada bicara gadis itu terkesan datar membuat Kenzie dilanda penasaran dan juga marah. begitu gadis itu berpapasan dengannya dengan refleks Kenzie mencekal tangan Chiyome dan mendorongnya kembali ke dalam kelas.
Chiyome mundur dua langkah. "Kau mau menghalangi jalanku, Kenzie?" ancam gadis itu, kali ini dengan tatapan yang membuat pemuda itu terkejut.
apa ini... dia bukan Chiyome yang kukenal....
Kenzie berdiri tegak dengan posisi menyamping. tangan sebelah kirinya langsung tangkas menutup pintu sedikit menyisakan celah agar tidak mencurigakan.
keduanya kini berhadapan. Chiyome menatapinya dengan tatapan yang memicing pertanda mengamati calon lawannya. Kenzie menatapi Chiyome dengan tajam.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Wiffy?" tanya Kenzie. Chiyome kembali tersenyum sinis dan melepaskan ranselnya ke lantai.
"Menyingkir sajalah kau!" teriak Chiyome dengan marah.
gadis itu menerjang memamerkan teknik tendangan yoko tobi. Kenzie terkejut namun dengan refleks ia menghindar ke samping. begitu Chiyome mendarat, tiba-tiba gadis itu memutar dan melayangkan tendangan gyaku ushiro dengan pola gasing.
angin tendangan itu terasa benar diwajah Kenzie ketika menarik wajahnya beberapa senti dari jangkauan kaki gadis itu. Kenzie langsung melompat mengambil tempat yang luang.
pemuda itu kembali memasang sikap waspadanya. ditatapinya Chiyome dengan memicing. "Wiffy, sejak kapan kau menguasai beladiri?"
"Jangan panggil aku Wiffy!!" teriak Chiyome lagi kali ini maju menerjang dengan tendangan mae tobi dan disusulnya dengan teknik sapuan tangan ude lalu sapuan shuto mengincar leher Kenzie.
Kenzie mundur dan tak membalas apapun. teknik-teknik yang diperagakan Chiyome tadi begitu membahayakan. pemuda melempar tubuhnya ke belakang lalu sebelah kakinya menjejak dinding memberikannya daya dorong kedepan.
Chiyome sudah siap ketika Kenzie menerjang. tangan pemuda itu menangkap pergelangan tangan gadis itu sambil bersalto diudara. dengan sigap Chiyome melayangkan tendangan mawashi mengincar batok kepala Kenzie yang sementara bersalto di udara.
Kenzie menepis tendangan itu dengan menampar sepatu Chiyome. begitu ia mendarat. dengan sigap Kenzie menarik Chiyome kearahnya dan dengan sekejap keduanya berpelukan.
"Lepaskan aku! lepas..hmmmmfhfhfhfhh.."
jeritan Chiyome tak sempat selesai karena Kenzie langsung menyumpal bibir gadis itu dan mengulumnya. lengannya dengan erat memeluk tubuh gadis itu, membiarkan kedua tangan gadis itu memberontak memukul-mukul punggung dan pundak Kenzie bertubi-tubi.
Chiyome hendak menarik wajahnya namun tengkuknya ditahan oleh jemari Kenzie. semakin ia berontak, semakin erat dekapan pemuda itu pada tubuhnya. makin lama, rontaan gadis itu makin lemah dan akhirnya kedua lengan gadis itu kembali melingkar dengan pelan dipunggung Kenzie.
ciuman kasar berganti lembut dan makin bergairah. Kenzie melesakkan lidahnya menjamah lidah Chiyome dan mengelutinya dengan intens membiarkan liur mereka menyatu hingga akhirnya karena kekurangan udara membuat keduanya melepaskan pagutan bibirnya masing-masing.
kedua pandangan itu saling bertemu kembali. Kenzie menatapi Chiyome yang masih menatapinya dengan sinis, meskipun tak melepaskan pelukannya.
"Wiffy... kau hutang penjelasan itu padaku." kata Kenzie. []
__ADS_1