
Adnan mengencangkan rahangnya. jemarinya terkepal, sedang Mariana hanya bisa tersedu sedan mengeluh memanggil Aisyah. Kenzie menutup mata dan menunduk. ia berupaya menahan emosinya, meski sangat sulit, sebab diruangan itu, ada Sandiaga, putranya. Kenzie tak ingin Sandiaga sekecil itu mendengar sumpah serapah sang ayah terhadap kezaliman yang menimpa keluarganya. Chiyome menunduk dan memeluk Sandiaga.
Trias duduk dengan wajah menampakkan perasaan bersalah dan penyesalan karena tak mampu mengemban amanat. namun, berita itu harus disampaikannya sebelum pihak keluarga Lasantu mendengar beritanya dari Kapolresta Gorontalo.
"Maafkan aku..." ujar Trias pada akhirnya setelah melaporkan semuanya.
"Kamu nggak salah, nak." tampik Adnan. "Kamu sudah menjalankan tugas dengan baik... hanya saja, hukum memang timpang."
Trias mengangkat wajahnya menatap lelaki yang sudah dianggap ayahnya itu. "Lalu, langkah Om, bagaimana?"
"Tugasmu sudah selesai nak." ujar Adnan, "Sekarang tugas Om." Adnan berdiri, "Aku hendak menghubungi relasiku."
lelaki itu melangkah meninggalkan kumpulan mereka. Trias kembali menunduk. Kenzie menatap sahabatnya. "Yas..." panggilnya.
Trias mengangkat wajah menatap Kenzie. lelaki bercambang itu mengangguk. "Nggak usah kecewa, Yas." ujarnya membesarkan hati sahabatnya. "Kau sudah melaksanakan amanat keluargaku dengan baik. aku berterima kasih... namun seperti yang kau alami, kelihatannya ada pihak yang berupaya membebaskan Stefan. aku curiga, ia masih punya bekingan, terutama mungkin dari kalangan pejabat."
"Aku sendiri nggak habis pikir, kenapa orang sebejat itu dipertahankan. seandainya..." keluh Trias.
"Cukup!" sela Chiyome, "Tidak ada lagi yang namanya pengeluhan." wanita itu menatap Trias. "Berarti aku diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjalankan tugasku."
"Lho??? Chiyo?!" seru Trias.
Kenzie terkejut dengan nada suara istrinya. "Wiffy..." tegurnya lirih. Chiyome menatap Kenzie yang mengisyaratkan mata menatap Sandiaga.
ada anak kita, Wiffy! jangan se emosi itu!
Chiyome menghela napas lalu menatap putranya. "Saburp..." panggilnya.
Sandiaga menengadah keatas menatap wajah ibunya yang juga sementara menatapnya. Chiyome tersenyum.
"Kamu bisa bawa Oma istirahat?" pinta Chiyome mengisyaratkan tatapan kearah Mariana. "Kasihan, Oma lelah..."
Sandiaga menatap Mariana yang juga memandangnya dengan tatapan layu. anak lelaki itu akhirnya mengangguk lalu melepaskan pelukan ibunya. Sandiaga mendekati Mariana.
"Oma... mari kita istirahat." ajak Sandiaga.
sejenak Mariana menatap Chiyome. wanita itu mengangguk. Mariana menghela napas dan akhirnya mengangguk.
"Mari nak... kita istirahat dikamarmu." jawab Mariana menyanggupi. "Temani Oma ya? Oma takut sendiri." pintanya.
"Jangan kuatir Oma... aku akan menemani Oma." jawab Sandiaga.
Mariana bangkit dengan lesu lalu melangkah sambil digandeng Sandiaga menuju kamarnya. Chiyome mengantar kepergian wanita parobaya itu dengan tatapan matanya hingga mereka berdua masuk kedalam kamar. kini diruangan keluarga itu hanya tinggal mereka bertiga.
"Chiyo, kok jadi begini urusannya?!" tanya Trias dengan gusar. "Hukum masih bisa menjaringnya dengan kuat. nggak usah pakai sentimen yakuza begitu dong." tegurnya.
Chiyome memicingkan mata menatap Trias. "Kamu tahu, mengapa kamu ditarik dan dibebastugaskan dari penanganan ini? kamu mau ingin tahu, Yas?"
Trias tertantang oleh pertanyaan pancingan itu. lelaki kekar berambut cepak itu menatap Kenzie.
"Ken, gimana nih?" tuntutnya.
"Eh, aku juga malah bingung Yas. buntu nih, buntu..." balas Kenzie lalu menatap istrinya. "Wiffy sayang... bisa nggak tidak menggunakan cara itu? Hubby nggak mau kehilangan Wiffu." pinta Kenzie dengan memelas.
Chiyome menatap suaminya. "Hubby... Wiffy sudah cukup bersabar menahan perasaan ini. Hubby bahkan menghalangi niat Otoo-San untuk menerapkan cara ini terhadap pembunuh putrinya... tapi rupanya, ada yang menginginkan perang dengan keluarga kita, Hubby... Wiffy nggak tahu siapa, tapi... Wiffy nggak akan mundur!" tandasnya.
"Tapi... kita bisa mencoba dengan cara lain." bujuk Kenzie lagi.
"Cara bagaimana lagi, Hubby?" tantang Chiyome sejenak melirik Trias kemudian menatap suaminya kembali. "Trias yang punya kepentingan mengusut kasus itu, dibebas tugaskan... apakah itu bukan cara untuk memancing kita?"
"Masih ada Papa yang berusaha untuk menekan pihak penguasa. Hubby yakin, Papa bisa melakukannya." tandas Kenzie berupaya meyakinkan istrinya, "Please, Wiffy... jangan paksa Hubby berlutut membujukmu."
Chiyome menghela napas dan membuangnya pelan. tanpa suara, ia berbalik melangkah meninggalkan ruang keluarga menuju dapur. lama mereka menunggu, Chiyome tak kunjung muncul membuat Kenzie kuatir, sang istri mungkin menyelinap keluar dan berencana membunuh Stefan.
seakan memiliki keterikatan emosi yang sama, Trias dan Kenzie bergegas berlari menuju dapur. mereka tak menemukannya disana. dengan mengencangkan rahang, Kenzie berlari menuju lorong yang mengarah ke dojo. ia menemukan pintu kecil itu dan membukanya.
pikiran yang kalut akhirnya menjadi tenang ketika mereka menemukan Chiyome duduk dengan gaya padma menghadap kamiza dan menundukkan kepalanya, memejamkan mata dengan tenang. bau alama yang harum memenuhi ruangan. Kenzie melangkah pelan mendekati istrinya. lelaki itu duduk dibelakangnya dengan gaya bersila.
__ADS_1
"Wiffy...." panggilnya dengan lembut.
"Biarkan Wiffy menenangkan pikiran Hubby..." pinta Chiyome.
Kenzie sejenak memalingkan wajah menatap Trias lalu menatap lagi sang istri yang memunggunginya.
"Baiklah... Hubby tunggu, Wiffy di ruang keluarga." ujar Kenzie kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan dojo tersebut. didepan pintu, ia menggamit lengan Trias, memaksa lelaki itu ikut bersamanya.
"Dia nggak akan melakukan hal yang aneh-aneh, kan?" ujar Trias dengan lirih.
"Aku yang menjaminnya." balas Kenzie dengan lirih.
Trias akhirnya mengangguk lalu mengikuti langkah Kenzie meninggalkan tempat itu.
...******...
Rumah Kediaman Irjen.Pol Dr. Akhmad Wiyagus.
Adnan duduk menyilangkan kaki sedang dihadapannya, pejabat nomor satu dilingkungan Kepolisian Daerah Gorontalo itu duduk melipat kedua tangannya didada. lelaki itu mengenakan kemeja kasual putih dengan celana panjang khaki.
"Apakah Bapak tidak bisa memposisikan kembali Trias untuk menangani kasus itu?" pancing Adnan.
"Biarkan saja begitu." ujar Akhmad kemudian mendehem sedikit. "Disini, jika lawan bermain strategi, kamu juga ya lawan dengan strategi. jangan emosi..." tegur Akhmad lalu terkekeh.
"Maaf, aku memang tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. keadilan untuk putriku, dan menantuku yang dipertaruhkan saat ini." jawab Adnan, "Apabila kasus mereka tak bisa diselesaikan oleh kepolisian, aku nggak tahu harus mengharap kepada siapa lagi didunia ini." keluhnya.
"Masa kamu mengharap kepada saya? ya saya sendiri nggak bisa menjamin... mengapa kamu berharap kepada makhluk? berharaplah kepada Yang Memiliki Makhluk... yaitu Sang Khalik, Gusti Allah Subhanahu Wa Ta'ala... Dia yang patut kau gantungkan harapan." sogol Akhmad sambil menggelengkan kepala.
Adnan terdiam mendengar kalimat sang polisi.
"Polisi itu hanya sandangan. ia hanya kata kerja. jika tidak bekerja, bukan polisi lagi namanya. manusia, adalah pelaku kerja. dalam hal ini, manusia juga tidak luput daripada cela dan dosa. mengapa kau menyandarkan harapan kepada sesuatu yang memiliki cela dan dosa?" tegur Akhmad.
Adnan menunduk dan menghela napas. "Jangan jatuhkan diriku dengan kata-katamu itu." Adnan mengangkat wajah menatap Akhmad. "Tanpa kau beritahu pun, aku selalu mengharap belas kasih Allah terhadapku, dan keluargaku. hanya saja dalam kasus ini... ada pihak yang memang ingin agar Stefan dilepaskan. ia punya bekingan. saya yakin, tak lama lagi akan datang penasihat hukum yang menuntut gaya interogasi Trias terhadap Stefan. mereka akan mempersetankan bukti bahwa Stefan melakukan pelecehan verbal terhadap kehormatan Trias. dan puncaknya, Stefan akan melangkah dengan bebas. Bapak sendiri, saya yakin tidak akan bisa mencegahnya."
Akhmad tersenyum. "Semua ada yang mengatur, Adnan. ikuti saja alurnya... kau akan menemukan mereka disana." ujarnya.
ungkapan itu sepenuhnya sarat akan makna. namun Adnan tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. ia hanya ingin nasib mendiang putrinya, dan menantunya, akan terbantu jika Stefan benar-benar merasai hukuman yang sebenarnya di penjara.
Adnan menghela napas panjang. "Kuharap... Allah tidak memalingkan wajah-Nya dari penderitaanku ini."
keduanya diam dalam keheningan ruangan itu.
...****...
dihalaman depan dangau, Trias duduk santai mengunyah kacang rebus ditemani sepoci besar kopi toraja. disekelilingnya duduk sebagian besar anggota Pasopati. tempat mereka dihamparkan tikar pandan. area itu diterangi lampu bohlam yang dipasangi serpong. mereka menikmati kudapan itu bertemankan bunyi nyaring jangkrik yang beramai-ramai membentuk paduan orkestra memecah kebisingan di perkebunan tersebut.
Tiko dan Koko, seperti biasa, Pajule-pajule yang dimintai Bambang mengawasi Stefan dirumah sakit bersama regu Samapta yang diperintahkan oleh pimpinan kepolisian resort kota Gorontalo. Bambang menyulut rokoknya dan mengepulkan asap dengan puas, melihat kepulan asapnya membentuk lingkaran yang kemudian sirna perlahan di udara.
"Ah, aku kalau jadi Bos Eki, sudah kutaruh racun di makanannya si Stefan itu." gerutu Bambang melempar butiran kacang rebus ke mulutnya.
Trias terkekeh pelan. "Aku sudah nggak memusingkan itu. aku sudah dibebas-tugaskan." ujarnya dengan nada yang dinampakkan santai.
"Kelihatannya... orang bernama Stefan ini, punya bekingan orang orang berpengaruh, bray." ujar Aldi sambil menyeruput air kopi pada sisi gelas.
"Bekingan?" gumam Trias. "Coba jelaskan." ujarnya penuh minat.
"Aku sempat memergoki, Stefan bicara dengan seorang lelaki berpakaian resmi. kelihatannya ia dari firma hukum. entah apa yang mereka diskusikan sebab sangat lirih, nyaris tak terdengar." ujar Aldi mengerutkan alisnya lalu mencomot lagi kacang rebus dan membuka cangkangnya.
"Kelihatannya, ia masih memiliki lumbung. perusahaan yang dibangkrutkan Kenzie, bukan satu-satunya milik orang itu. ia masih punya cadangan..." sambut Trias.
"Atau... Stefan punya hubungan rahasia dengan orang-orang penting yang mengendalikan pemerintahan kita?" tebak Andy Kratos dengan wajah yang terkejut bercampur cemas.
"Selidiki segalanya tentang lelaki itu. jika memang ia, berarti ia memiliki sindikat yang tak kita tahu sebelumnya." pinta Trias.
"Eh, kau jangan cuma tahu memerintah, ikutlah dengan kami menyelidiki." omel Bambang menegur Trias.
"Iya, aku pasti sama-sama dengan kalian." tandas Trias. "Hanya saja, aku masih fokus dengan orang ini." lelaki itu mengurut dagunya lalu menatap Aldi. "Kau bayangi si lelaki berpakaian necis itu."
__ADS_1
"Nanti kusuruh Stephen untuk mengekorinya." kata Aldi.
"Oh ya, si Stephen kemana? tumbenan nggak ikut kalian." ujar Trias.
"Dia lagi indehoy dengan istrinya." jawab Andy, "Ya, sekali-kali memberikan perhatian sama istri, boleh kan?"
Trias mengangguk-angguk lalu tersenyum.
"Eh, kenapa sih kau nggak pindah rumah saja? asrama Trunajaya masih lowong dua petak lho." ujar Bambang tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba kau usulkan itu?" tanya Trias dengan senyum tapi alisnya bertaut.
"Ya... siapa tahu saja kau berminat, sebelum keduluan opsir lain." kata Trias.
"Nggak usah sembunyikan alasanmu itu." tukas Trias. "Kau cuma malas datang kesini, karena perkebunanku ini berada di perbukitan, iya,kan?"
Bambang tertawa diiringi Aldi dan Andy.
"Kau tahu saja." ujar Bambang. "Kau tahu kan, aku paling tidak tahan mendaki? menempuh jalan sampai ke gerbang perkebunanmu saja, aku sudah pakai gigi satu lho. pokoknya basah benar betisku ini, aku sampai berprasangka, bukan keringat yang keluar, tapi darah, saking lelahnya mendaki." omel Bambang setengah mengeluh.
"Ya, hitung-hitung membakar lemak, lah Bang." ujar Trias setengah mengolok lelaki bertubuh gempal itu. "Jarang kau dapat pelatihan gratis begini. kau kan masih ingat, bagaimana kau ditempa di SPN Karombasan sana. main peluh juga, kan? nah anggap saja ini, kau kembali ke Karombasan menjalani program perampingan badan."
ucapan Trias barusan disambut tawa keras oleh Aldi dan Andy. mereka menertawakan wajah Bambang yang langsung manyun mirip perawan tak diberi tongkol dimalam pertamanya.
"Ah kau... selalu saja tahu memojokkan aku!" gerutu Bambang. ia kemudian membuka boks plastik besar disiso tempat duduknya. lelaki itu mengeluarkan sebotol bir hitam dari boks tersebut.
"Eh, sori... aku nggak minum kopj, aku hanya biasa minum ini." ujar Bambang mengangkat botol bir hitam itu. "Kalian mau?"
"Eh, sompret! minum saja, nggak usah promosi pake angkat botol minuman segala." hambur Aldi.
Bambang tertawa sambil membuka tutup botol itu lalu menegak minuman itu langsung dari moncong botol. setelah itu ia menurunkan botol dan bersendawa keras.
"Aaahhhh... Puji Tuhan... sedap betul minuman ini..." pujinya sambil memamerkan botol minuman tersebut kepada Aldi dan Andy.
Trias tertawa melihat Bambang yang bersendawa sedang Aldi dan Andy serentak menutup hidungnya. bau bir menyeruak dari moncongnya yang membuka. dengan kesal Aldi membungkam mulut Bambang agar bau tak sedap itu tetap setia bercokol dalam rongga mulut lelaki tersebut.
...*****...
sejak pulang dari Gorontalo, kondisi kesehatan Fitri menurun drastis. wajah yang tadinya cerah mulai berganti putih pucat dan nampak lebih kaku daripada es. wanita itu juga lebih sering termenung.
sering Kameie melihat hal itu membuat hatinya sakit bagai dicabik pisau tumpul nan berkarat.
"Aku tidak apa-apa. Otoo-Sama jangan terlalu mengkuatirkan diriku." ujar Fitri dengan senyum layu ketika Kameie menanyakan alasan mengapa sang istri selalu melamun saja.
"Namun... sejak kepulangan kita dari Gorontalo, kau kehilangan cahayamu... aku dengan sangat jelas melihat hal itu dan aku, merasa sakit Fitri." keluh Kameie.
Fitri tersenyum lagi. "Itu hanya perasaan paituaku yang tercinta ini. ahhh.... kita sudah melalui kebersamaan ini selama 23 tahun, Otoo-Sama..." ujarnya membelai dada lelaki itu.
"Ya, dan aku tak ingin kemesraan ini cepat berlalu." sela Kameie memeluk istrinya.
"Tidak ada yang abadi didunia ini, sayangku... ketika awal tercipta, maka ia pasti akan menuju akhir." ujar Fitri dengan pelan.
"Bicaramu semakin ngelantur saja." gerutu Kameie.
"Ahhh, aku belum melayanimu sepenuhnya... maafkan aku." ujar Fitri melepaskan pelukan suaminya. "Aku akan menyiapkan teh untukmu."
Kameie mengangguk. Fitri bangkit dan melangkah menuju pintu. sejenak didepan pintu shoji itu, ia kembali menengok ke arah Kameie.
entah mengapa, Kameie pun menengok dan kembali tatapan keduanya membentur. Fitri tersenyum.
"Aku mencintaimu... Suamiku..." ujar Fitri.
Kameie membalas tersenyum kaku. "Aku juga... mencintaimu."
Fitri tersenyum lalu menggeser pintu shoji dan melangkah keluar. Kameie berbalik lagi menatap hamparan tatami.
BLUGH!!!
__ADS_1
suara barang jatuh dilorong, membuat Kameie disergap rasa tak nyaman. ia buru-buru bangkit dan berlari menuju pintu. lelaki itu menggeser pintu dan berlari keluar. disana... beberapa jarak dilorong antara pintu menuju dapur, nampak tubuh Fitri terbaring menyamping.
FITRI!!!!!!! []