
Trias membuka mata. ia memandang langit-langit ruangan yang putih. dimana ini?
tak lama kemudian, Bambang dan Stephen muncul. keduanya membawa sekotak makanan dan air mineral. kedua opsir itu duduk disisi dipan yang ditiduri oleh lelaki itu.
"Dimana ini? bukankah kita sedang berada di Tumolata?" tanya Trias dengan malas. ia menatap selang infus yang menancap dilengannya.
"Memang... tapi kita sudah diangkut oleh tim polairud kesini. Bubu sementara diperiksa oleh tim investigasi dari Polda." jawab Bambang.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Trias.
"Tertidur? kamu bukan tertidur. kamu pingsan, kau mengalami dehidrasi hipotonik, akibat banyak mengeluarkan tenaga dalam pertarungan." jawab Bambang, "Bubu juga sama. bahkan dia nyaris tewas. nadinya sudah tak berdetak saat dibawa kemari. dia dibantu alat AED (Automated External Defibrillator). untunglah kakek itu selamat."
"Ya...aku tahu." ujar Trias. "Aku tanya, sudah berapa lama aku pingsan?"
"Ini sudah hari ketiga." jawab Bambang. "Istrimu tadi datang menjenguk. baru saja tukaran dengan kami. dia bilang kalau kau sudah siuman, dia disuruh kasih tahu."
"Bos Eki, Andy dan Aldi tertembak oleh Stefan." jawab Stephen dengan enteng sambil membuka kotak makanan.
"Apa?! tertembak?! bagaimana bisa?!" tanya Trias dengan nada meninggi. Bambang mendesis dan menyuruh Trias untuk berbaring kembali.
"Bos Eki sih pakai rompi anti peluru. Aldi tertembak dipinggang sedang Andy tertembak didada kanan. Bos Eki nggak bisa berbuat apa-apa karena Stefan menembak dari jarak sangat dekat. setebal apapun rompi peluru, tetap saja akan memberi efek sakit ditubuh bagi peluru yang tembus." ujar Stephen panjang lebar.
"Terus, mana mereka?!" tanya Trias.
"Diruangan sebelah." jawab Bambang. "Aldi dan Andy harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru dari tubuhnya. sedangkan Bos Eki cukup diperban saja memarnya."
"Stefan, bagaimana dengan dia?!" tanya Trias.
"Mati.." jawab Stephen.
"Mati? tertembak?" tanya Trias.
"Dimutilasi oleh Nyonya Kenzie Lasantu." jawab Stephen. "Aku sendiri nggak percaya penuturan Bos Eki. dia saksi mata yang melihat bagaimana Nyonya Kenzie Lasantu memutilasi Stefan sampai jadi onggokan seperti itu."
"Dimana Chiyome dan Kenzie?" tanya Trias.
"Diruang interogasi Polda Gorontalo. Tuan Kenzie hanya dijadikan saksi sedangkan Nyonya Kenzie Lasantu diamankan sementara disana." jawab Stephen kemudian mengeluarkan sebuah kue dan menyerahkannya kepada Trias.
lelaki itu menerimanya, namun ia tidak memakan makanan itu, melainkan terpekur saja memikirkan nasib Chiyome maupun Kenzie. lelaki kekar itu menatap Bambang.
"Hubungi istriku." pinta Trias.
Bambang mengangguk. lelaki itu meraih gawai dalam saku dan menghubungi Saripah.
📲 "Halo, Nyonya Ali?" sapa Bambang.
📲 "Ya, Kak Bambang. bagaimana kabar suamiku?" tanya Saripah dengan suara cemas.
📲 "Trias sudah siuman. baru saja." ujar Bambang.
📲 "Benarkah? baiklah, aku segera kesana." ujar Saripah.
Bambang memutuskan telekomunikasi dan menyimpan handphonenya. ia menatap Trias.
"Kami cabut dulu ya? mau lihat Aldi sama Andy disebelah." kata Bambang. Trias mengangguk.
"Habiskan makanan itu." pinta Stephen. "Susah payah aku membelinya, supaya kau cepat sembuh."
Trias mengangguk. kedua opsir itu pamit dan meninggalkan ruangan. tinggallah Trias sendirian dikamar itu. lelaki itu merenung.
bagaimana keadaan Kenzie? Chiyome? mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan terhadap mereka.
langkah kaki mendekat dan Trias mengangkat wajah menatap pintu. Kenzie muncul mengenakan pakaian kasual. ia tersenyum menatap Trias.
"Halo Bro." sapa Kenzie mendekati dipan tempat Trias berbaring. Trias menatap bingkisan yang dibawa lelaki bercambang itu.
"Jangan tanya kalau yang kau bawa itu makanan lagi." tebak Kenzie.
Kenzie tersenyum dan meletakkan bingkisan itu dinakas lalu menatap Trias.
"Bagaimana keadaanmu, Bro?" tanya Kenzie.
"Jangan tanyakan keadaanku." tolak Trias. "Bagaimana keadaan istrimu? kudengar dia memutilasi Stefan sebagaimana yang dilakukannya pada Budi Prasetya?" tebak Trias.
Kenzie menghela napas dan tersenyum hambar. "Begitulah. aku sudah berusaha mencegahnya. mulanya berhasil. Chiyo menurut. namun gara-gara Stefan merampas pistol salah satu opsir dan menembaki ketiganya, Chiyome langsung bereaksi melemparkan shuriken lalu menebas dan memutilasi Stefan dihadapan atasan kamu itu."
"Aku yakin Bos Eki pasti kehilangan selera makannya saat ini." komentar Trias. "Chiyome selalu bertindak sadis dalam perlakuannya terhadap target pembunuhannya." lelaki itu menghela napas dan menatap langit. "Kau tahu Ken? jurus peretak kepala yang ia praktekkan kepada Burhan lalu, membuatku kagum. jenis pelatihan apa yang dilalui Chiyome hingga mampu menghasilkan teknik mematikan semacam itu?"
__ADS_1
Kenzie tersenyum, "Aku nggak mau menebak-nebak. yang jelas saat ini aku masih memikirkannya. dalam pertarungan melawan bodyguardnya Stefan, ia tertembak diperut."
"Lalu? mengapa dia langsung digelandang ke Polda? bukankah dia harus dirawat dulu?" protes Trias.
"Syukurnya, Papa langsung menekan pihak Polda untuk memberikan pelayanan terbaik pada menantunya. Chiyome ditempatkan pada ruang khusus dan dirawat oleh tim dokter Polda Gorontalo." jawab Kenzie.
Trias menghela napas dan menundukkan wajah. "Ah, kasihan... kali ini, hukuman terhadap Chiyome akan bertambah berat saja... lalu dia ditolong oleh keadaan yang membuat para hakim memutuskan bahwa yang dilakukan Chiyome adalah pembelaan diri. namun sekarang... aku nggak tahu."
"Serahkan saja kepada Allah..." kata Kenzie. "Aku yakin, istriku tidak akan menjalani hukuman yang berat."
"Aku pun berharap begitu..." sahut Trias.
"Abah...." panggil seseorang dipintu.
Trias dan Kenzie menoleh kearah pintu. Saripah disana lalu melangkah mendekat dengan bergegas. Kenzie menepi memberi ruang bagi Saripah untuk memeluk suaminya.
"Umma..." sapa Trias.
"Bagaimana keadaan suamiku ini?" tanya Saripah yang berperut buncit itu dengan wajah cemas.
"Aku baik-baik saja." jawab Trias. "Jangan terlalu cemas. pikirkan bayi kita." tegur lelaki itu.
Kenzie tersenyum. ia menghela napas. "Oke Bro. aku cabut dulu ya?" ujar Kenzie sembari berbalik menuju pintu.
"Bro! jangan patah semangat!" seru Trias.
Kenzie sejenak menoleh menatap Trias dan Saripah. ia tersenyum lalu mengangguk dan melangkah meninggalkan tempat itu.
...******...
Chiyome duduk diam dalam sikap bersila. matanya terpejam dan sikap tubuhnya santai saat ia melakukan meditasi. wanita itu mengurai rambutnya dan membiarkannya menjuntai dipunggung. pakaian tahanan warna biru gelap membuat penampilan wanita itu semakin menerbitkan rasa hormat setiap opsir yang mengetahui ceritanya dari bibir Ekoriyadi Siregar.
tiada satupun opsir yang berani menyentuh wanita itu. bahkan satuan Propam dan Brimob yang terkenal sangarnya, semakin respeck terhadap Chiyome Mochizuki. rasa hormat mereka timbul disebabkan cerita yang dikisahkan Ekoriyadi bahwa wanita itu melakukan pencegahan pembunuhan tingkat lanjut dengan mengeksekusi langsung pelakunya ditempat.
pihak keluarga Waworondouw melayangkan tuntutan terhadap Chiyome Mochizuki dengan ancaman hukuman mati karena telah melakukan pembunuhan sadis terhadao Stefan. namun Adnan yang meradang juga kemudian balik menuntut keluarga tersebut dengan tuduhan kolusi tingkat tinggi. masing-masing keluarga telah mengutus penasihat hukum kawakan untuk mempertahankan kliennya dimata hukum.
Ekoriyadi akan menjadi saksi utama bersama-sama Aldi dan Andy, sebab mereka bertiga merupakan korban penembakan Stefan. pengadilan tinggal menunggu hari.
...*****...
Trias dan Saripah menyambangi Chiyome di sel pribadinya. karena Trias yang datang maka wanita itu, atas permintaan opsir itu, tidak dikawal layaknya tahanan lainnya.
Chiyome mendatangi ruangan khusus. disana Saripah dan Trias sudah duduk menunggunya. wanita itu duduk dihadapan keduanya.
"Assalamualaikum... bos..." sapa Saripah.
Chiyome tersenyum, "Kau meledekku ya?"
Saripah tak mampu lagi menahan emosinya dan langsung menghambur memeluk Chiyome. ia menangis membuat Chiyome menatap Trias dan mengangkat alis. Trias hanya bisa mengangkat bahunya.
"Hey, sudahlah... apa yang kau tangisi? aku baik-baik saja." ujar Chiyome melepaskan pelukan Saripah. tangan lembut wanita itu kemudian menyentuh perut Saripah yang sudah hamil tua. "Bagaimana kabar calon menantuku? kapan ia akan lahir?"
"Sebulan lagi..." jawab Saripah ditengah isakannya.
Chiyome tersenyum, "Jagalah anakku ini... ingat, kau punya tugas berat untuk melahirkan calon istri dari putraku."
Trias terkekeh. "Kandungannya sehat. insya Allah..."
Chiyome mengangguk. ia menatap Trias. "Ada yang bisa kubantu untuk kalian?"
Trias tersenyum lagi. "Kami datang menjengukmu."
"Menjengukku? apa kalian kira aku sedang sakit sehingga harus dijenguk?" olok Chiyome.
"Bagaimana kabar lukamu?" tanya Trias.
"Tim dokter Polda memang hebat. sekarang lukaku sudah dalam masa penyembuhan. sedikit lagi." jawab Chiyome.
"Aku gembira untuk hal tersebut." sahut Trias, "Pengadilanmu akan digelar tiga hari lagi. sebentar lagi, Kejaksaan akan menjemputmu. kuharap kau akan tetap baik-baik dalam penguasaan Kejaksaan."
Chiyome mengangguk. "Aku sudah siap." jawabnya dengan nada tegas.
Trias mengangguk. "Kuharap begitu...."
...******...
Gedung Pengadilan Negeri Gorontalo.
__ADS_1
seluruh pejabat kehakiman telah hadir. para penasihat hukum yang disewa keluarga Lasantu juga telah hadir untuk mengadu argumen hukum dengan penasihat hukum yang disewa keluarga Waworondouw.
Chiyome sekali lagi duduk ditengah sebagai pesakitan. ia menjawab sekenanya semua pertanyaan yang diajukan oleh penuntut umum, sambil sesekali disela oleh penasihat hukum yang disewa keluarga Lasantu untuk meminta Hakim agar menegur penuntut umum disebabkan pertanyaan yang telah keluar! dari koridor hukum tersebut.
berkali-kali terjadi perdebatan sengit antara penasihat hukum dalam bedah hukum tentang perbuatan dari Chiyome Mochizuki yang membunuh Stefan dengan sadis. namun penasihat hukum keluarga Lasantu, berdasarkan keterangan dari Ekoriyadi Siregar dan dua anggota Tim Pasopati yang terluka justru menilai tindakan yang dilakukan telah sesuai dengan hukum yang berlaku.
sidang dipending dan para hakim mulai berdiskusi. sementara penasihat hukum dari keluarga Lasantu telah berdiskusi dengan Adnan, menerangkan bahwa ia telah berupaya semampu dia, mengungkit pasal-pasal dan tata aturan dalam KUHP yang bisa meringankan Chiyome Mochizuki.
"Kini, kita tinggal berharap pada pertimbangan rasa para hakim yang menilai segalanya dalam perspektif hukum. dan semoga Sembilan Naga tidak akan turun mempengaruhi para hakim yang bisa menjadikan posisi Nyonya Chiyome menjadi berat dimata hukumnya." kata penasihat hukum dengan wajah yang kuatir, namun berupaya ditegar-tegarkan.
"Akupun berharap begitu." sahut Adnan. ia kemudian menatap patung keadilan yang menggenggam tiang neraca.
diskusi para hakim sudah selesai. mereka kembali memasuki ruangan sidang.
hakim ketua kemudian membacakan maklumatnya. mulanya ia mengungkit isi pasal 338 dalam KUHP, kemudian mengungkit isi pasal 49 ayat 1 dan 2, berdasarkan asas subsidiaritas, proporsionalitas dan culpa in causa.
"Dengan ini, kami menetapkan bahwa Saudari Chiyome Mochizuki diberikan hukuman 5 tahun masa penahanan di Lapas Kelas III Kota Gorontalo, terhitung sejak tanggal ditetapkan." ujar Hakim Ketua membacakan maklumatnya.
Penasihat hukum keluarga Lasantu baru saja hendak mengajukan banding, ketika Chiyome dengan nada tegar menyatakan menerima putusan hakim tersebut.
Adnan menutup mata sementara penasihat hukum itu mendecak kesal. Kenzie hanya bisa pasrah dengan keputusan sang istri.
"Aku ingin membersihkan diriku, Hubby... tangan ini sudah penuh berlumur darah, sejak aku remaja, kita menikah dan kini... aku telah menegakkan sumpah kedua orangtuaku. aku puas." jawab Chiyome dengan senyum seringai ginsulnya.
"Apakah kau tak mencintaiku lagi, sehingga lebih memilih jeruji besi ketimbang pelukan hangatku?" rajuk Kenzie.
Chiyome menyentuh jemari suaminya. "Hubby... tidak ada yang bisa merubah cintaku padamu... namun, ini adalah hukum yang harus ku jalani." jawab Chiyome dengan suara gemetar yang ditegarkan, "Aku minta maaf jika keputusanku ini melukai hatimu. namun... kau pun harus paham bahwa aku juga harus mempertanggung jawabkan perbuatanku... hukuman ini sangat ringan Hubby... karena aku membunuh seorang gembong narkoba dan mencegah dia membunuh opsir polisi sehingga hakim menetapkan jumlah yang ringan untukku... bersyukurlah Hubby..."
"Wiffy..." ujar Kenzie.
"Kau akan selalu bisa menjengukku Hubby... jangan kuatirkan aku." kata Chiyome menguatkan hati suaminya. "Kudengar, jika kita berkelakuan baik, maka pasti jatah hukuman kita akan dikurangi.... aku akan melakukan hal itu Hubby..."
"Tapi.... haruskah kamu yang mendekam disana? mengapa harus kamu yang menjadi tumbal?" rajuk Kenzie lagi.
"Hubby... jika cintaku bisa menyelematkan hidupmu... maka aku rela di bui meski seribu tahun... demi kamu, Hubby... aku rela menjalani lima tahun kehidupan dalam lapas... aku hanya minta... jangan kurangi cintamu padaku..." Chiyome tercekat, "Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi didunia ini... aku kini sendirian... hanya kamu yang bisa membuatku kuat... namun... jika kau sendiri pergi meninggalkanku.... bagaimana aku bisa kuat menjalani penderitaan ini?"
"Tidak... jangan bilang begitu. Demi Allah, demi Rasulullah... aku tak akan meninggalkanmu barang sedikitpun..." kata Kenzie kemudian mengangguk-angguk, "Baiklah... jalanilah masa itu... aku akan tetap menunggumu... aku akan tetap menunggumu..."
petugas kemudian membawa Chiyome menuju mobil tahanan. dalam pada itu, keduanya masih terus bertatapan bahkan saat kendaraan itu melaju meninggalkan kantor Pengadilan Negeri Kota Gorontalo.
Kenzie berlari mengejar kendaraan itu. seakan ia belum rela dan terus mengayunkan kaki mengejar sampai rasa letih menderanya dan akhirnya dengan lesu, lelaki bercambang itu jatuh berlutut dijalan.
*Didalam sebuah cinta...
terdapat bahasa yang mengalun indah mengisi jiwa
merindukan kisah kita berdua
yang tak pernah bisa akan terlupa...
"Bila rindu ini masoh milikmu, kuhadirkan sebuah tanya untukmu... harus berapa lama aku menunggumu?"
Aku menunggumu....
Didalam masa indah saat bersamamu yang tak pernah bisa akan terlupa.
pandangan matanya menghancurkan jiwa
dengan segenap cinta, aku bertanya...
"Bila rindu ini masih milikmu, kuhadirkan sebuah tanya untukmu.... harus berapa lama, aku menunggumu?"
Aku menunggumu....
dalam hatiku menunggu... dalam lelahku menunggu... aku...
dalam hatiku menunggu... dalam lelah, kumenunggu....
aku... masih menunggu...
"Bila rindu ini masih milikmu, kuhadirkan sebuah tanya untukmu... harus berapa lama? harus berapa lama?
Aku menunggumu? Aku menunggumu?"
Aku menunggu.....
Aku menunggumu...
__ADS_1
dalam hati, ku menunggu... dalam lelah, ku menunggu*...[]