Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 160


__ADS_3

Hari menuju pernikahan dirasa sangat lambat bagi Saripah. meskipun ia menyibukkan diri dengan mengawal Chiyome dan Sandiaga kemana-mana, tetap saja gadis itu merasa sang mentari rasanya masih ingin berlama-lama berlayar diatas angkasa.


Trias berupaya menyibukkan diri dalam tugas kesehariannya. ia sengaja tak mengontak Saripah. hal ini dianggapnya sebagai pingitan bagi gadis itu. selama ini Saripah juga sangat membatasi diri. ia tak akan membiarkan dirinya bicara kecuali dengan orang yang dikenalnya, dan diijinkan oleh calon suaminya.


...******...


pagi itu adalah libur umum bagi setiap lembaga yang menerapkan lima hari kerja, termasuk Buana Asparaga.Tbk yang dikendalikan Kenzie Lasantu. Saripah mendapatkan jatah libur dua hari sesuai dengan aturan yang diterapkan bersama oleh perusahaan.


hari itu adalah hari yang tak biasa. Sandiaga duduk menonton. dihadapannya berdiri berhadapan Kenzie dan Chiyome. lelaki tampan bercambang tipis itu memakai pakaian adat pesilat, yaitu pakaian kurung hitam dan dipinggangnya dililit kain batik dengan pola geringsing. sebuah destar memahkotai kepalanya. dihadapannya adalah Chiyome, sang istri, memakai tegi putih lengkap dengan obi hitam yang ujungnya dilingkari sulaman benang kuning sembilan lingkaran, sedang pada ujung sabuk lain tersulam lambang keluarga Mochizuki. sebuah aksara kanji bertuliskan namanya tercetak.pada dada kiri tegi putih tersebut.


"Hubby.... apa Hubby sudah siap?" tanya Chiyome.


"Marilah sayang..." jawab Kenzie dengan senyum nakal.


Chiyome sejenak tersipu lalu wajahnya menjadi serius. ia menyilangkan tangan didepan lalu perlahan menurunkannya kedepan perut. kedua kakinya terpancang tegak. Kenzie sejenak melakukan kembangan lalu berdiri dengan kaki depan agak ditekuk dan kaki belakang sangat ditekut. kedua tangannya terpantang didepan. satunya diatas kepala dan satunya disilangkan didada.


Sandiaga menonton pertandingan itu dengan semangat. diiringi sebuah teriakan keras, Chiyome maju menerjang dengan teknik mae tobi geri. Kenzie sudah waspada sedari tadi. ia mengelak selangkah ke samping lalu memutar dan melayangkan tangannya dalam posisi pedang mengincar wajah wanita itu.


Chiyome mengayunkan tangkisan uchi uke menampar pergelangan tangan Kenzie, dan kembali tangan yang menangkis itu meluncur menusuk wajah Kenzie dengan pola nukite tsuki.


Kenzie menampar tangan Chiyome ke samping lalu tangan kirinya memutar dan menangkap lengan Chiyome dan menariknya membuat Chiyome terangkat tubuhnya dan melayang hendak menubruk lantai. Chiyome dengan sigap memutar tubuhnya di udara dan menjejak lagi lantai dojo dengan lembut. dan sedetik kemudian Chiyome mengayunkan kaki menendang kearah dada.


Kenzie terpaksa melepaskan cekalannya dan menangkis tendangan itu dengan lengannya. tubuh lelaki bercambang tipis itu terhempas kebelakang sejarak satu meter. sementara Chiyome sudah menggunakan postur gedan barai.


Kenzie memperbaiki letak berdirinya lalu tersenyum. "Wah, meski sudah lama tak berlatih, Wiffy masih hebat ya?" puji Kenzie.


Chiyome hanya tersenyum lebar memamerkan seringai ginsulnya. Kenzie terkekeh.


"Rupanya, Wifgy ingin dikerasi ya?" goda Kenzie.


"Kalau Hubby mau, ayo kerasi Wiffy.... kalau berani." tantang Chiyome dengan senyum nakal.


Kenzie mengangkat telunjuknya meminta jeda. Chiyome kembali berdiri dengan gaya shizentai. lelaki bercambang tipis itu melangkah mendekati Sandiaga.


"Saburo... kamu main sama Umi Aisyah ya?" pinta Kenzie dengan lembut.


"Ah, kenapa sih? lagi seru nih, nonton Papa sama Mama bertanding." tolak Sandiaga.


Kenzie tersenyum kemudian jongkok dihadapan Sandiaga. "Kalau kamu masih disini, nanti Papa sama Mama nggak serous latihannya. kepikiran sama kamu."


Sandiaga menatap Kenzie dan Chiyome bergantian lalu mendesah dan merajuk. "Ya sudah! Sandi pergi saja!" sambil menggerutu panjang-pendek, Sandiaga meninggalkan dojo tersebut.


Sepeninggal Sandiaga, Kenzie berdiri dan membalik menatap Chiyome.


"Sekarang.... Hubby akan serius." ujar Kenzie dengan senyum nakal. Chiyome merubah sikapnya menjadi kokutsu mae kumade chudan nukite. seketika wajah Kenzie mengencang dan ia langsung memasang jurusnya.


RRRAAAUUUMMMMHHH...


Silat Macan?


Kenzie memang memasang silat gaya macan. silat yang digunakan untuk menaklukkan, bahkan membuat musuh harus menyerahkan nyawa baik rela maupun terpaksa. di Indonesia, silat macan hanya terdapat di wilayah Andalas (Sumatera) dan diwilayah Sunda (Jawa barat). hal ini berdasarkan pada legenda inyiak di Sumatera Barat dan babad raja Siliwangi yang dikatakan memang memiliki peliharaan harimau raksasa.


Chiyome mengerutkan alis. apakah Hubby memang serius? atau menyembunyikan canda dibalik keseriusan wajahnya? kenapa aku nggak mampu membawa raut wajahnya sekarang ya?


disertai auman menggelegar, Kenzie maju mengayunkan cakarnya, mengamuk bagai harimau yang melihat mangsanya. Chiyome kaget dan terpaksa hanya bisa melakukan gerak menghindar. ia tak mampu melihat celah untuk melakukan serangan balik. gerak Kenzie begitu cepat.


walaupun Chiyome berupaya mendobrak pertahanan yang dibuat Kenzie ketika wanita itu mencoba menyerang, namun sama saja dengan menyerang batu karang tak tergoyahkan. Kenzie memang memiliki tubuh kekar dan stamina yang hebat. dalam permainan ranjang yang membutuhkan pelepasan 273 kalori bagi laki-laki dan wanita 213 kalori dalam sekali main, Kenzie melakukannya paling banyak sampai sepuluh kali, berarti kalori yang ia keluarkan berjumlah 2.730 dan Chiyome terpaksa mengeluarkan 2.130 kalori saat melayani suaminya.

__ADS_1


Chiyome terdesak. postur tubuhnya tak lagi memungkinkan untuk melakukan serangan. serangannya kini tak bisa lagi membuat Kenzie takluk. secara harafiah, Chiyome memang telah kehilangan zanshin karena tingkat emosinya kini labil kearah positif. Chiyome kehilangan konsentrasi karena tertekan antara menaklukkan lawan dan perasaan tak tega.


hingga akhirnya, dengan satu serangan. Kenzie berhasil mematahkan serangan Chiyome dan langsung menerkamnya. keduanya jatuh dilantai dojo dengan posisi bertindihan. Kenzie mencengkeram kedua tangan Chiyome yang terpentang pasrah dilantai.


Chiyome dapat dengan jelas melihat kegarangan wajah sang suami. matanya merah dan bibirnya menyeringai. bahkan Chiyome dapat dengan dengan jelas mendengar geraman halus khas macan dari tenggorok suaminya.


"Hubby..." ujar Chiyome dengan lirih. ia takut.


perlahan wajah yang membesi itu mencair seketika dan berubah riang. Kenzie tersenyum.


"Wiffy kalah... harus terima hukuman." kata Kenzie menegakkan tubuhnya melepas cekalan pada pergelangan tangan istrinya.


Chiyome mendesah lega. matanya berkaca-kaca. Kenzie tersenyum lalu mendekatkan wajahnya lagi. "Wiffy takut?" tanya Kenzie dengan lembut.


Chiyome langsung baper ditanyai suaminya. wajah wanita itu langsung memerah dan ingin menangis. Kenzie tersenyum saat Chiyome mengangguk pelan. lelaki itu membelai rambut shaggy istrinya dan mengecup bibir Chiyome dengan lembut. keduanya saling berpelukan dan saling bercumbu.


Chiyome mendesah merasakan libidonya naik sedang Kenzie terus intens memberikan stimulan dibibir, leher dan kemudian menguak tegi istrinya, menampakkan tanktop putih yang juga dikuakkannya pula hingga sebelah *********** nampak dan langsung disergap Kenzie dengan rakus.


Chiyome mendongakkan kepala dan mendesis. namun kemesraan hari itu terkacaukan lagi. Sandiaga tiba-tiba muncul lagi membawa piring berisi penganan balapis. anak laki-laki itu terkejut melihat pergulatan ibu dan bapaknya. ia syok!


"Papa! Mama!" teriak Sandiaga dengan kaget.


Chiyome memekik dan mendorong tubuh Kenzie hingga terjungkal lalu duduk sambil mengatupkan kerah tegi yang terkuak. wajah wanita itu pucat. Kenzie buru-buru bangun dan memasang wajah garang ke anaknya.


"Saburo! ngapain kamu disini?!" hardik Kenzie, stres karena tak bisa melanjutkan kegiatannya.


Sandiaga justru balas menantang. "Papa yang harus kutanya, lagi ngapain sama Mama?! nggak kasihan Mama ditindih begitu? bisa sesak napas Mama nanti!"


Chiyome menahan tawa dan menutup mulutnya. wanita itu memperbaiki tegi lalu duduk dengan gaya zazen.


"Papa sama Mama lagi main dokter-dokteran." kilah Chiyome dengan senyum lebar.


Kenzie langsung memegang dadanya. "Aduh, perasaan sakit apa ini ya?" lelaki itu menatap istrinya. "Kok kayak jadi kita yang salah nih?" protesnya.


Chiyome tertawa lalu bangkit dan melangkah mendekati putranya lalu duduk bersila dihadapan Sandiaga yang masih berdiri. wanita itu mencomot kue balapis dalam piring yang digenggam Sandiaga lalu memakannya.


"Kamu memangnya dari mana sih?" tanya Chiyome dengan lembut.


"Mama sama Papa ngusir aku ya aku ke ruang depan lah. disana Abi sama Umi lagi asyik nikmati kue ini." jawab Sandiaga menunjuk kue balapis dipiringnya.


Chiyome mengangguk-angguk lalu mengisyaratkan putranya untuk duduk. sementara Kenzie langsung pergi meninggalkan dojo dengan wajah jengah. ia malu kepergok putranya sedang asyik mencumbui ibu dari putranya itu.


Chiyome menatap Sandiaga yang sementara duduk dan menikmati kue tersebut. wanita itu menarik napas.


"Nak. kalau nggak diperintahkan kemari, jangan sekali-kali kemari. paham? itulah yang disebut shiki, kepatuhan. Mama nggak akan segan memukul dan menyiksamu jika tidak mematuhi perintah." kata Chiyome dengan lembut tapi tegas.


"Ya, Mama..." jawab Sandiaga, "Saya tidak akan kemari lagi tanpa perintah Mama atau Papa."


Chiyome tersenyum lalu mengangguk. "Anak Mama memang pintar ya?" puji wanita itu.


"Mama..." kata Sandiaga.


Chiyome mengangkat alisnya.


Sandiaga menatap ibunya lekat-lekat. "Bolehkah saya belajar beladiri?" tanya anak itu.


Chiyome menatapi putranya dengan dalam. "Kamu yakin mau belajar beladiri?"

__ADS_1


Sandiaga mengangguk. Chiyome menghela napas. "Dikeluarga kita ada dua jenis beladiri yang dikembangkan. pertama Langga aliran linula Suwawa dari Mendiang Bapu Ridhwan Mantulangi dan Koga Koryu Bujutsu."


Sandiaga mengerutkan kening. anak itu bingung. Chiyome menghela napas lalu menjelaskan.


"Papa, punya seni yang disebut Langga, linula (aliran) Suwawa. Papa mempelajarinya pada Bapu Ridhwan Mantulangi. selain itu Papamu juga punya seni silat yang beliau pelajari dari Abimu." tutur Chiyome.


"Abi tahu beladiri?!" seru Sandiaga dengan takjub.


Chiyome mengangguk dan tersenyum. Sandiaga berdecak.


"Ck...kereeenn..." pujinya. "Lalu Mama?"


"Kalau Mama punya seni beladiri yang disebut Koryu Bujutsu aliran Koga. seni ini disebut seni kuno yang digunakan para prajurit jaman perang. Mama mempelajarinya lewat Kakekmu, Kameie dan guru Mama sendiri, Ienaga." tutur Chiyome. "Seni ini sudah dipelajari turun temurun oleh keturunan-keturunan keluarga Mochizuki sejak jaman Heian."


"Berarti, keluarga kita keluarga petarung ya, Mama?" tebak Sandiaga dengan gembira. anak itu bangga bukan main menyadari keluarganya merupakan keluarga yang unik.


Chiyome mengangguk dan tersenyum. "Kakekmu juga pandai Langga." jawab Chiyome dengan senyum. wanita itu kemudian menatap putranya.


"Mama sarankan kamu belajar silat dulu sama Papa atau Abi Bakri. jika sudah lancar dan terampil, Mama janji akan mengajari kamu seni beladiri yang Mama geluti." usul Chiyome.


Sandiaga langsung mengangguk. "Baik Mama. saya mau!" sahut Sandiaga dengan antusias.


Chiyome menggeser piring berisi kue balapis lalu meraih tubuh Sandiaga dan menariknya dalam pelukan. anak lelaki itu memeluk dengan erat ibunya yang mengenakan tegi itu. setelah puas memeluk putranya, Chiyome bangkit dan melangkah sambil memegang tangan putranya. keduanya melangkah meninggalkan dojo.


...*******...


Bakri tertawa tanpa sadar mengakak sedang Aisyah setengah mati menahan tawanya ketika Kenzie datang-datang langsung menyembur memarahi mereka yang membiarkan Sandiaga datang ke dojo pada saat permainan kedua laki istri itu yang mulai menapaki puncak.


"Lha kamu juga nggak lihat-lihat situasi." kilah Bakri membela diri. "Sudah tahu itu dojo digunakan untuk mempelajari dan memahami hikmah tertinggi dari seni beladiri. nah, kamu... malah gunakan untuk mempelajari dan memahami tingkatan tinggi dari sebuah jima'... ya jelas salah."


"Tapi..." erang Kenzie merasa tak terima.


"Ken... Sandiaga nggak salah. itu tempat umum. justru kalian berdua yang salah. masa main kuda-kudaan di dojo? main begituan ya, di kamar! itu baru benar! secara nggak sadar kalian sudah ngajari Sandiaga tentang sebuah etika boleh tidaknya melakukan hal semacam itu." nasihat Bakri, "Untung saja Sandiaga belum paham sepenuhnya apa yang kalian perbuat dan Chiyome langsung berkilah bahwa kalian main dokter-dokteran. kalau dia sudah paham, habislah kalian berdua."


"Ken, dijaman sekarang bahkan sudah ada yang namanya incest. perkawinan sedarah.... kita mulanya hanya mengenal incest itu banyak dilakukan oleh orang-orang barat. tapi sekarang Ken, bahkan di Gorontalo sudah pernah terjadi peristiwa bejat seperti itu.... kamu tahu nggak, kasus kemarin yang di Suwawa itu?" ujar Aisyah mengingatkan.


Kenzie menelan ludah. wajahnya pias. jika memang benar perkataan itu maka mereka berdua memang sudah berdosa sebab secara tidak langsung mempertontonkan adegan yang belum semestinya dikonsumsi anak-anak. seperti kata Bakri. untunglah Sandiaga belum memahami apa yang mereka berdua lakukan. dan itu jelas, SANGAT BERBAHAYA!!!


Kenzie terdiam lama sedang Bakri yang memandangnya cekikikan sambil memandang Aisyah yang juga susah payah lagi menahan tertawanya, takut membuat adiknya tersinggung.


tak lama Sandiaga muncul digamit oleh Chiyome diberanda itu. Chiyome masih mengenakan tegi. Sandiaga melepaskan genggaman tangan ibunya dan berlari menuju Bakri.


"Ada apa putranya Abi ini? jangan lari-lari dong. nanti jatuh." tegur Bakri dengan lembut saat menyambut Sandiaga.


anak lelaki itu sejenak menatap Kenzie dengan memicingkan mata membuat lelaki bercambang halus itu makin jengan dan membuang muka. Sandiaga kemudian menatap Bakri.


"Abi... Abi. bisa nggak Abi ajari Sandi beladiri?" pinta Sandiaga.


"Lho? kok kesitu urusannya?" ujar Bakri. "Memang Sandi ingin belajar beladiri, karena lihat Mama sama Papa bertandong atau memang ingin belajar beladiri dari hati sendiri?"


"Sandi ingin belajar beladiri supaya bisa menjaga Abi, Umi..." ujar Sandi dengan menegakkan tubuh.


"Kamu nggak mau menjagai Papa sama Mama?" sela Kenzie.


Sandiaga menatap ayahnya. "Papa kan sudah punya beladiri. nggak perlu dijaga. Mama apalagi. nggak perlu penjaga. kalian berdua justru harus saling menjaga dan tidak bergumul semacam tadi dibelakang. itu bikin saya takut tahu! Papa nggak takut tindih Mama sampe Mama hampir kehabisan napas begitu?!" ujarnya dengan nada meninggi.


Kenzie terkejut-kejut mendengar omelan anaknya sendiri sedangkan Chiyome lagi-lagi langsung menutup mulutnya dengan tangan dan memelas kearah Sandiaga yang sibuk mengomeli ayahnya.

__ADS_1


Bakri dan Aisyah terlebih lagi susah payah menahan sakit perutnya karena tertawa menyaksikan seorang anak kecil yang gagah berani memarahi ayahnya gara-gara kesalahan yang dilakukannya. []


__ADS_2