Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 102


__ADS_3

Bakri memijit kepalanya ketika selesai mengantar Aisyah ke kediaman Lasantu. untung sebelum kedatangan mereka, Kenzie sudah mengantar kembali David Pramudya dan istrinya kembali ke Grand Q Hotel. dan yang menggembirakan, kerja sama diantara Buana Asparaga. Tbk dan Armadja Group dibidang manufaktur berhasil. beban pemuda itu sedikit lega karena pekerjaannya telah ditangani Kenzie dengan sangat baik.


mobil terus melaju membelah jalanan. Bakri masih memijiti kepalanya yang terasa nyeri akibat memikirkan perbuatan tercela yang dilakukan Aisyah bersama kekasihnya di air terjun Saluopa. pemuda itu merutuki kebodohan gadis itu yang dimanfaatkan oleh Stefan yang berhasil menjebol pertahanannya dengan begitu mudah, berbekal kata 'tanggung jawab'. sekarang lelaki itu pergi entah kemana dan meninggalkan tanggung jawab itu.


pemuda itu menghembus napas kasar dan menggaruk kepalanya dengan jengkel. tiba-tiba pemuda itu mendongak dan...


AAAAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHH......


pemuda itu meraung menumpahkan emosinya sambil menampar roda kemudi mobil. setelah itu tanpa sadar luapan banjir air mata menjebol kelopak matanya dan menjadi air terjun yang merembes di pipi tirusnya. pemuda itu kemudian menginjak pedal gas membuat mobil tambah melaju menyusuri jalanan.


...*******...


selesai mengantarkan kedua pasangan enterpreneur itu, Kenzie belum kembali ke kantor. ia justru menuju pasar Sentral Kota Gorontalo untuk menemui Endrawan yang menjalankan bisnis daging potong. mobil perusahaan Buana Asparaga berhenti dikawasan parkir bagian timur tepat berhadapan dengan lorong yang dipenuhi lapak penjual daging, baik unggas maupun sapi.


jumlah pengunjung dilapak itu sudah agak berkurang karena sudah beranjak sore. Kenzie tiba di lapak milik Endrawan, namun tak menemukan orang itu, justru menemukan Trias yang sibuk mengatur-ngatur pisau dan golok pemotong ke rak-rak dibawah meja marmer.


kemunculan Kenzie yang mengenakan pakaian stelan jas formal dengan pin perusahaan tersemat dikerah jas, membuat pemuda yang mengenakan celemek dari kulit itu menghentikan pekerjaannya.


"Wah tumben kamu muncul, pake pakaian beginian, macam pejabat kementerian luar negeri kau." ujar Trias setengah mengolok.


Kenzie memperhatikan penampilan sahabatnya yang tubuhnya agak berisi. sedikit lebih kekar dari dirinya.


"Jangan menatapku begitu. seakan kau baru saja melihat hantu." tegur Trias.


"Kenapa dengan rambutmu? nggak biasanya kau menggunting tipis rambutmu seperti orang yang menjalani.." tegur Kenzie.


"Aku bosan rambut panjang." potong Trias dengan cepat. "Jadi untuk meringankan kepalaku dan tak memgganggu pekerjaanku, maka aku memotongnya."


Kenzie mengangguk. "Kemana Om Endi?" tanya pemuda itu.


"Lagi menemui temannya. mau mencari identitas orang yang ingin kau cari itu." jawab Trias. "Eh ya. aku paham dengan katamu kemarin itu. tatapan perempuan dalam potret itu terasa familiar sekali."


"See? see?..." sambut Kenzie dengan antusias. "Lalu, apakah kamu sudah menemukan hal yang mencurigakan?" tanya pemuda itu dengan penuh harap.


"Wehehehe... nggak semudah itu ferguso... tapi selalu ku upayakan kok. jangan kuatir." kata Trias menenangkan. "Bagaimana kalau kita pulang barengan, nunggu Abah di rumah saja." kata Trias menawarkan.


"Kamu nggak bawa motor gede mu?" tanya Kenzie.


"Dipake Abah. makanya nanti aku pulang bareng mobil kamu ya?" pinta Trias.


"Oke. kapan selesainya bersih-bersih ini?" tanya Kenzie.


"Sedikit lagi." jawab Trias. tak lama ia selesai. "Oke, sudah selesai. ayo." ajak Trias seraya melepaskan celemek dan menggantungkan ditiang lapak.


keduanya menyusuri lorong hingga menuruni tangga dan menyeberangi jalanan. diseberang terparkir mobil perusahaan Buana Asparaga. Kenzie duluan naik kemudian disusul dengan Trias yang kemudian duduk disampingnya. pemuda itu menyalakan mesin dan berapa lama kemudian kendaraan itu bergerak meninggalkan lokasi pasar Sentral Kota Gorontalo.


...********...


Aisyah kini sudah agak tenang karena bebannya telah terkeluarkan. meskipun dengan begitu ia tanpa sengaja melukai perasaan orang-orang yang dekat dengannya, termasuk penggemar rahasianya.


siapa yang menyangka bahwa Bakri menyimpan perasaan kepada sepupu jauhnya itu. pemuda itu tidak mengutarakannya karena menghormati keputusan Aisyah memacari Stefan. ia berharap lelaki itu akan menjaga orang yang dicintainya. terlebih menyadari Stefan adalah sosok yang tampan dan menjadi bintang kampus, membuat Bakri mundur teratur demi sebuah perasaan yang dipendamnya.


namun ternyata harapan tak sesuai kenyataan ketika dengan bodoh dan relanya gadis itu mempersembahkan kehormatannya kepada lelaki yang tak layak menerimanya. lelaki itu seolah hilang ditelan bumi. entah ia sembunyi atau melarikan diri, tiada yang mengetahui.


Aisyah saat itu sedang berbaring diranjang, mengerjakan tugas kampus ketika terdengar suara ketokan di pintu.


"Masuk saja." seru Aisyah agak keras.


pintu terbuka dan masuklah Chiyome. wanita itu langsung duduk ditepi ranjang.


"Kenapa Dek?" tanya Aisyah, acuh tak acuh.

__ADS_1


SRINGGGGG!!!!!!


gadis itu kaget sampai tak mampu membuka suaranya ketika bilah pisau jenis kunai langsung dilekatkan Chiyome ke lehernya. dengan gemetar Aisyah menatap adik serahimnya itu. semakin terkejut ia, membentur tatapan sang adik yang dipenuhi aura membunuh. tatapan karasu tengu no gurrea.


"Chiyo..." gumam Aisyah dengan gemetar. tubuh gadis itu kaku ketakutan karena tak pernah sebelumnya mendapati hal semacam ini.


masih dengan menempelkan belati kunai dileher kakaknya, Chiyome merangkak hingga akhirnya duduk disisi Aisyah. "Berikan adek alasan yang bagus untuk tak menggorok leher kakak karena telah mempermalukan keluarga." ujar Chiyome dengan pelan.


Aisyah ketakutan merasa sang adik telah mengetahui aibnya. padahal Chiyome hanya menggertak, memanfaatkan psikologis Aisyah yang masih terguncang.


"D-d-darimana k-kau.... t-t-tahu?" tanya Aisyah dengan lirih.


gadis itu masuk dalam perangkap psikologis Chiyome. berarti memang sang kakak telah melakukan sesuatu yang dapat mencoreng nama keluarga.


"Teganya kakak melakukannya. apakah kakak ingin adek menggunakan cara yakuza untuk memaksa kakak bicara jujur? sebaiknya kakak jujur dan jangan pernah berpikir kakak bisa menahan siksaan yang Adek buat untuk kakak demi membersihkan rumah dari aib yang Kakak perbuat!" ancam Chiyome dengan pelan.


"Jangan! j-jangan! kakak akan bicara! kakak akan bicara!" sedu Aisyah. "Kakak mohon, singkirkan belati ini. Kakak takut."


Chiyome melempar kunai itu ke belakang dan menancap dilemari pakaian Aisyah. wanita itu kembali menatapnya dengan tajam.


"Bicaralah Kak. juiurlah." pinta Chiyome dengan nada datar dan dingin, semakin membuat nyali Aisyah menciut.


dibarengi sedu-sedan, Aisyah menceritakan latar terjadinya peristiwa memalukan di air terjun Saluopa itu. nampak rahang Chiyome sesekali mengeras mendengar cerita kakaknya. setelah menyelesaikan kisah itu, Aisyah langsung menutup wajahnya dengan guling dan menangis disana.


Chiyome menarik napas dan menghembuskannya dengan gemetar. " Kishama... doyara otoko wa kare ga dare o kozutsuketa ka shiranakatta..." gumam Chiyome dengan kegeraman yang meluap. dimata ibu muda itu nampak percikan api. (Brengsek! lelaki itu nggak tahu siapa yang dia hadapi.)


Chiyome menatapi Aisyah. "Kakak nggak bilang sama siapa-siapa, kan... aib ini?"


"Bakri sudah mengetahuinya. selain itu tak ada." jawab Aisyah yang masih terisak.


"Bagus. Adek akan hubungi Kak Bakri." kata Chiyome.


"Itu bukan lagi urusan Kakak." tandas Chiyome. "Kakak cukup berperilaku biasa. jika ketemu lelaki bangsat itu, berlakulah seperti biasanya, tapi jagalah jarak. wakarimasu ka? " tekan Chiyome.


Aisyah hanya bisa mengangguk ketika ditekan sang adik begitu rupa. ia memang tak bisa melawan adiknya. siapa yang mau menghadapi aura membunuh si kembang maut?


...*******...


Kenzie menatapi kumpulan pemuda-pemuda begajulan. mereka adalah anak-anak berandalan yang pernah dihajarnya di jembatan Potanga setahun lalu saat mencari keberadaan Trias yang diculik oleh Yanto Lapananda. anak-anak itu sekarang mengikat sumpah setia dengan pemuda itu selama Kenzie bisa membayar mereka sesuai harga yang diminta.


"Ingat, tugas kalian bukan untuk menghajarnya. itu urusanku. kalian hanya menculiknya. nanti ada orangku yang lain menjemputnya. ini alamat target. lakukan dengan cepat! ini ongkos setengah. nanti setengahnya lagi aku tunaikan ketika kalian membawa target. mengerti?!" tandas Kenzie.


"Mengerti bos!" jawab anak-anak berandalan itu serempak.


"Bubar! aku menunggu hasilnya besok!" ujar Kenzie dengan tegas. anak-anak itu langsung memencarkan dirinya melaksanakan perintah dari Kenzie.


setelah itu Kenzie melangkah menuju mobilnya dan kemudian meluncur melintasi jalanan. pemuda itu hanya ingin segera beristirahat sejenak melegakan lehernya yang sedari tadi terasa kram karena tegang berfikir.


Kenzie tiba di Kediaman Lasantu tepat pukul 07.57 p.m. dan memarkir mobilnya di beranda samping. pemuda itu keluar dari kendaraannya dan mengaktifkan sirene anti maling. setelah itu, ia dengan santai melangkah menjajaki tangga hingga tiba diserambi.


pemuda itu mengetok pintu dan tak lama pintu itu membuka dan nampak Chiyome berdiri didepan pintu dan langsung mengembangkan tangan.


"Hubby pulaaang!!! hore!!!" serunya dengan penuh semangat.


Kenzie langsung melangkah memeluk istrinya dan tersenyum dalam pelukan hangat itu. Chiyome sendiri selalu dihinggapi rasa rindu sejak Kenzie mulai menerjuni dunia enterpreneurship. namun ia tak bisa berbuat apapun kecuali mendukung dan mendoakan yang terbaik karena hal itu dilakukan Kenzie sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah bagi putra mereka yang sudah mulai pintar berjalan tate-tate.


sebagai ibu rumah tangga, ia berupaya melakukan yang terbaik., menyenangkan suami dan keluarga suaminya. wanita itu bagaikan menantu idaman setiap keluarga. Mariana sering menjaili Chiyome dengan mencubit hidungnya dan Chiyome selalu menjerit kesakitan kemudian menangis seperti anak-anak remaja yang membuat Mariana gemas memeluk wanita itu.


Kenzie melepaskan pelukan istrinya. "Saburo sudah tidur?" tanya pemuda itu.


"Ya. kenapa?" balas Chiyome seraya mengambil tas kerja suaminya. Kenzie kemudian menggamit pinggang istrinya yang masih ramping meskipun telah melahirkan. Chiyome memang pandai merawat tubuhnya.

__ADS_1


"Yaaa... padahal Hubby pengen main, eeee keburu tidur." keluh Kenzie. sang istri tersenyum sambil membelai-belai dada Kenzie.


"Sudah, nanti Wiffy gantiin peranannya. dijamin mainnya bikin puas Hubby." goda Chiyome.


dan godaan sekaligus pancingan itu langsung mengena. Kenzie langsung mau. siapa sih yang tak mau dimain-mainkan istri. kedua pasangan itu langsung menuju kamar.


mereka bertemu Mariana dan Adnan yang sementara duduk menonton berita.


"Hei... kok lama pulangnya? lagi ngelayap kemana?" tegur Adnan.


"Ya, calon pimpinan, banyak kerjanya Pa. yang paling utama adalah menjaga dan mengantisipasi segala masalah yang dapat mengancam keutuhan keluarga." jawab Kenzie dengan diplomatis.


"Mengancam keutuhan keluarga? maksud kamu apa? jangan berpikir yang macam-macam Ken!" tegur Adnan lagi. ia mulai curiga.


Kenzie memang kelepasan bicara dan merutuk dirinya sendiri. Chiyome langsung mengetatkan pelukannya. "Cuma prediksi saja Pa, Ma... jangan sampe, gitu lhooo..." jawab sang suami.


cepat-cepat keduanya masuk kedalam kamar agar tidak mendapat pertanyaan lebih dari kedua orang tuanya.


"Aahhh.... legaaa..." desah Kenzie tersenyum lalu melangkah menuju boks bayi melihat putra mereka yang tergeletak santai dalam tidur nyenyaknya.


tatapan teduh terarah kepada Saburo yang menelentang sementara tidur. Kenzie tersenyum senang.


"Anak yang hebat. semoga Allah terus memberkati kamu... " ungkap Kenzie seraya membelai pinggiran boks itu.


Chiyome muncul dan menggamit bahu suaminya. "Aku bersyukur, kau selalu ada untuk kami."


"Dan kamulah malaikat penjagaku." kata Kenzie. "Makasih ya, sudah mau hidup denganku."


"Iiiih, Hubby so sweet banget deh." puji Chiyome. ia maju mencium pipi suaminya.


"Ah, kalau cuma ciuman dipipi nggak seru." kata Kenzie langsung memeluk kembali sang istri, kali ini adalah pelukan birahi. "Aku akan menempurmu..." ujarnya lirih.


"Lakukanlah... Hubby..." desah Chiyome meminta.


Kenzie maju mencium bibir istrinya dan sang istri membalasnya tak kalah gemas. ia merengkuh leher Kenzie dalam pelukannya. Kenzie mengeluarkan jasnya dan mencampakkannya ke lantai kemudian melonggakan dasinya.


terus hingga terus mereka melepaskan pakaian mereka dan melakukan pertempuran birahi yang bertujuan menumpahkan emosi purba dalam sanubari mereka. melampiaskan kebinatangan dalam setiap gerakan menjebol dan menggasak alat kelamin mereka hingga akhirnya memancarkan saripati yang saling campur dan melarut dalam cawan uterus sang wanita. keduanya rubuh.


masih dalam ketelanjangan, keduanya menyatu dalam pelukan. Chiyome membelai dada bidang suaminya. keduanya diselimuti oleh selimut yang menutup hingga perut.


Chiyome menyandarkan kepala di bahu kekar Kenzie. pemuda itu tersenyum.


"Wiffy... sepertinya kita harus melakukan tindakan preventif untuk memgembalikan keutuhan dan keharmonisan dalam keluarga besar kita." kata Kenzie.


Chiyome menatap suaminya. pikiran cerdasnya mulai bisa membaca dan menebak akhir dari arah kalimat yang diungkap suaminya.


"Apakah ini tentang Kak Ais?" tebak Chiyome.


"Kok tahu?" tanya Kenzie dengab kagum. "Nggak salah kalau istriku ini pakar seni beladiri kuno."


Chiyome bangun kemudian menatap suaminya. "Aku sudah mengorek semuanya dari Kak Ais. ada 3 orang sekarang yang mengetahui rahasianya. Aku, Hubby dan Kak Bakri. Mama dan Papa belum tahu dan sengaja Wiffy nggak mau kasih tau."


Kenzie menatap lekat istrinya. "Jadi, bagaimana menurut Wiffy? tadi Hubby sudah mengerahkan preman bayaran menyatroni kost si pemetik bunga tahi ayam itu. Hubby menyuruh menculik mereka dan membawa target ke gudang penyimpanan diwilayah utara."


"Lakukan saja Hubby. Wiffy hanya menjalankan saja amanat Hubby untuk tidak turun tangan. Hubby sudah tahu benar siapa Wiffy, kan?" sahut Chiyome sambil membelai kembali perut suaminya.


Kenzie mengangguk. "Besok, Hubby akan menghubungi Kak Bakri. kita akan diskusikan bersama, apa yang akan kami berdua lakukan untuk buahanga kelapa itu."


"Bagus. Wiffy sekarang masih menahan untuk tak mengotori tangan Wiffy dengan darah. cukup Hubby saja, karena Hubby adalah pemimpin dalam keluarga Lasantu sekarang. tugas Hubby adalah membersihkan rumah dari debu-debu yang akan mengancam kesehatan anggota keluarga kita." kata Chiyome dengan nada tekanan.


"Ya! itu adalah kewajibanku!" tandas Kenzie dengan tatapan yang berubah dingin diselimuti aura agresif. []

__ADS_1


__ADS_2