Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 19


__ADS_3

Kenzie melangkah didampingi Chiyome ketika Burhan muncul. ketika berpapasan pemuda itu menghalangi langkah kedua muda-mudi itu. dengan cengar-cengir, pemuda itu menatapi Chiyome.


"Halo Nona manis. bagaimana kabarmu hari ini?" sapa Burhan. Kenzie yang digasak rasa cemburu langsung menarik tangan Burhan dan melangkah menjauh.


enak saja kamu mau macam-macam dengan Chiyo.


keduanya berdiri agak jauh. Burhan melepaskan cekalan tangan Kenzie.


"Apaan sih?!" ujar Burhan dengan jengkel.


"Masih ada nggak?" tanya Kenzie setengah berbisik.


"Apa?" tanya Burhan dengan nada yang sama


"Ituuu...." ujar Kenzie dengan isyarat.


"Ooo...tawas??" tebak Burhan pura-pura terlonjak,"Ada... mau?"


"Tentu dong.... dimana kita berjumpa?" tanya Kenzie.


"Nanti ku kabari." bakas Burhan kemudian menatapi Chiyome. "Perempuan itu nggak tau kan?"


"Nggak. dia nggak tau." jawab Kenzie sambil melangkah kembali ke sisi gadis itu.


"Okey, nanti kabari aku ya?" kata Kenzie langsung menggamit pergelangan tangan Chiyome dan menariknya setengah paksa agar Burhan tidak macam-macam dengan gadis itu.


mereka berdua berbelok lalu menyandar didinding menguping pembicaraan Burhan dengan seseorang ketika pemuda itu mengeluarkan gadget dan menghubungi seseorang.


📲 "Halo, ini aku Bos." kata Burhan.


terdengar suara diseberang sana. Burhan mengangguk.


📲 "Maaf sudah mengganggu, Bos. tapi aku butuh lagi, ada yang minta." kata Burhan.


kembali terdengar suara diponsel lelaki itu. Burhan kembali mengangguk.


📲 "Okey Bos.......nanti aku kesana." jawab Burhan kemudian mematikan ponselnya dan melangkah kembali menyusuri lorong.


Kenzie dan Chiyome bertatapan lalu mengangguk dan mereka meninggalkan tempat itu. mereka memutari gedung hingga tiba didepan kelas XI F.


Chiyome menatapi Kenzie yang memanjangkan lehernya menantikan kedatangan Trias.


"Ken, boleh aku ke rumahmu lagi?" tanya Chiyome.


Kenzie menatapi gadis itu dan tersenyum. "Boleh. kapan?" tanya pemuda itu.


"Kalau malam ini bisa?" tanya gadis itu.


"Boleh. mau pesan sayur pilitode lagi?" goda Kenzie.


Chiyome menggeleng sambil tersipu. "Aku suka penganan yang dibuat mama kamu kemarin. aku menghabiskannya." jawab gadis itu dengan polos.


"Sebenarnya mama nggak begitu tau memasak itu. biasanya Kak Ais yang buat. nanti kutanya sama dia." jawab Kenzie.


"Kak Ais?" gumam Chiyome.


"Ya Allah... Kak Aisyah, Chiyome.." ujar Kenzie menampar keningnya sendiri sambil tertawa. "Aku memanggilnya Kak Ais."


"Domo Arigato Gazaimasta..." kata Chiyome.


"Do Itashimashite..." jawab Kenzie.


Chiyome terlonjak mendengar kata dalam bahasa jepang yang dilontarkan Kenzie.


"Kamu bisa bahasa jepang." puji gadis itu dengan kagum.


"Kau bercanda? nggak, aku nggak tahu bahasa itu." jawab Kenzie dengan polos. "Kata itu kutemukan dalam kamus online yang kuakses lewat internet. "


Chiyome tertawa,"Belajarlah. siapa tahu kita akan lebih sering bercakap menggunakan bahasa itu."


"Akan kucoba. semuanya untukmu." kata Kenzie.


"Nakal...." gumam Chiyome sambil tersenyum dan melangkah meninggalkan Kenzie dan duduk dibangkunya. pemuda itu juga telah duduk dibangkunya, berbaur dengan teman-temannya.


tak berapa lama, Trias muncul sambil bersenandung. pemuda itu kemudian duduk dibangkunya pula.


"Baru dicium Iyun, niiii..." goda Riswan.


kata-kata Riswan disambuy sorakan riuh. Trias sendiri memilih tidak perduli dan menyandarkan punggung disandaran bangku.


"Bukan di cium Iyum nih....biar kutebak." ujar daming. "Pasti di cium kambing."


untung Trias tidak bersikap responsif. ia mengangguk-angguk saja saat diolok seperti itu. Kenzie bergerak dan duduk dibangku Trias, menyingkirkan salah satu temannya yang duduk di depan kemudian memutar meja tersenyum dan duduk menghadap Trias.


"Aku kembali melempar umpan. ikan dumbaya itu memakan umpannya." kata Kenzie. Trias menatapinya serius.


"Kamu tau dimana kolamnya?" tanya Trias.


"Aku baru menebak." jawab Kenzie.


"Alat pancingnya sudah siap?" tanya Trias lagi lebih semangat. jiwa tantangannya muncul.


"Nanti Chiyome yang siapkan." kata Kenzie.


tiba-tiba Daming Humolungo langsung menyeruak dan duduk disisi Trias. "Kalian berdua mau mancing dimana sih?"


Trias dan Kenzie pertatapan. "Ya.. re-rencananya." jawab Trias dengan gagap.


"Ajak-ajak akh dong. nanti ku ajari teknik memancing yang bagus." katanya menawarkan diri.


"Keliatannya kami mancingnya dilaut. papanya Kenzie yang ngajak." jawab Trias mencari alasan supaya Daming tidak lagi mendesaknya.


Daming menjawil pundak Kenzie. "Ken, ajak aku dong." pinta Daming memelas.


"Nanti kukabari." jawab Kenzie sekenanya.


Daming mengacungkan jempolnya kemudian bangkit dan berlalu dari hadapan mereka. Trias menghembuskan napas lega. Kenzie masih tetap duduk disana.


"Malam ini aku akan mengajak Chiyome ke rumah." ujarnya dengan pelan.


"Kamu serius, kan?" selidik Trias sambil memicingkan mata.

__ADS_1


Kenzie mendecak kesal. "Jangan begitu, dia liat nanti aku macan orang kege-eran."


Trias terkekeh. "Bagus. lanjutkan rencanamu. aku sudah lelah, Iyun mencemburuiku terus gara-gara perempuan itu." keluh pemuda itu.


"Kau yang mau dengan dia. udah tau perempuan jilbaber itu baperan, masih juga lu nembak. terima resiko dong." balas Kenzie.


"Dia nggak begitu. dia jadi senewen gara-gara keberadaan Chiyome diantara kita." jawab Trias.


"Jangan bilang kalau Chiyome pelakor, ana babat ente." ancam Kenzie sambil memperlihatkan kepalannya.


"Pelakor?" tanya Trias mengerutkan kening.


"Perebut laki orang." jawab Kenzie memaparkan akronim itu. Trias sontak tertawa lebar hingga sempat mengundang beberapa perhatian siswi, termasuk Chiyome yang menatapi keduanya dengan keheranan.


"Kamu pikir kami berdua macam suami-istri?" tanya Trias bergaya galak.


"Sudah rahasia umum." jawab Kenzie mengedipkan mata.


"Bionguma!!!" maki Trias dengan tawa jenaka.


(bionguma \= dasar gila kau.)


...********...


Aisyah sedang merajut tali sepatu warna-warni ke sepatunya. esok adalah kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru. ia tak mau kelihatan bodoh dimata senior-seniornya. setelah merajut tali sepatu, gadis itu mempersiapkan segala item yang dibutuhkan. tas kain gantung compeng bayi, topi kerucut yang ia buat dari kertas karton.


sedang asyiknya ia menata item-item itu, terdengar bunyi bel pintu. Aisyah bangkit menyeberang ruangan kemudian membuka pintu. nampak Kenzie dan Chiyome berdiri menatapinya. Aisyah tersenyum.


"Ini masih sore, Ken." olok Aisyah. "Kenapa sudah kau culik dia?"


Kenzie tertawa dibarengi Chiyome. gadis itu menyuruh mereka masuk.


"Aku bersalin pakaian dulu." kata Kenzie pamit ke kamarnya.


sepeninggal Kenzie, Aisyah menatapi Chiyome yang kemudian tersenyum padanya.


"Kamu kan pake baju sekolah. ayo kita ke kamar kakak." ajak Aisyah sambil menggamit lengan Chiyome menuju ke kamarnya.


didalam kamar itu Aisyah membuka lemari dan meminta Chiyome mencari pakaian mana yang disukainya. sementara Chiyome bersalin baju,terdengar suara Kenzie memanggilnya beberapa kali.


"Ken-ken sudah panik. dikiranya kamu diculik lagi." kata Aisyah dengan senyum jenaka.


Chiyome tertawa sambil mematut dirinya di cermin. gadis itu mengenakan pakaian panjang dengan sebuah jilbab payet. ia keluar dituntun oleh Aisyah.


melihat Chiyome dengan balutan pakaian itu membuat pemuda itu melongo sejenak, kemudian dia sadar dan menggelengkan kepala.


"Aduh, Kak Ais, dia itu non muslim, kak. kenapa dipakein baju begini ?" ujar Kenzie dengan panik.


Aisyah sejenak tertegun. Chiyome langsung menyentuh pundak gadis itu.


"Nggak apa-apa." gadis itu mendekat dan berbisik. "Agamaku islam kak. jangan kasih tau Kenzie. biar saja dia panik sendiri."


Aisyah terkejut dan gembira. "Oh ya? alhamdullilah kalau begitu." kata gadis itu sambil mengelus dadanya dengan lega.


"Apaan sih yang kalian berdua bicarakan?" tanya Kenzie dengan penasaran.


"Rahasia perempuan. kamu nggak usah tahu." jawab Aisyah dengan melotot tapi tetap tersenyum. "Cantik kan?"


"Ke perhelatan nikah." jawab Aisyah singkat.


"Masakin lagi dah, penganan kemarin, kata Chiyome dia suka." rayu Kenzie.


"Ya, kenapa nggak bilang sebelumnya?" kata Aisyah dengan cemberut. "Bahannya habis."


"Yaaaaa...." seru Kenzie dan Chiyome bersamaan. segurat kecewa muncul diwajah mereka.


"Begini saja. bagaimana kalau kakak belanja besok dan kakak janji bakal hidangkan penganan yang terbaaaaiik untuk adik kakak dan pacarnya." kata Aisyah.


wajah Chiyome memerah mendengar kalimat 'pacar' dari mulut Aisyah. sedangkan Kenzie hanya menggaruk kepala saja. pemuda itu kemudian menatapi Chiyome.


"Gimana?" tanya Kenzie.


Chiyome mengangguk saja. Kenzie tersenyum. ia menatapi kakak perempuannya. "Ya udah kak, saya mau bawa Chiyome jalan-jalan."


keduanya pamit meninggalkan Aisyah. sepeninggal mereka, Aisyah kembali sibuk mempersiapkan item yang diperlukannya.


...********...



di resto Coffe Toffe, selepas maghrib.


Kenzie duduk berhadapan dengan Chiyome yang asyik membuka-buka sosial media, membaca caption-caption yang tertera dibawah gambar yang tampil difiturnya. pemuda itu tidak memesan kopi karena mengidap sindroma dispepsia. ia hanya memesan sirup manis, menyeruputnya sesekali sambil mencuri-curi pandang kearah gadis yang duduk dihadapannya.



Chiyome sengaja bersikap begitu untuk memancing Kenzie bicara. namun kelihatannya pemuda itu sulit memulai percakapan bahkan untuk sekedar sapaan saja. lama ia menimbang-nimbang hingga memutuskan untuk bersikap.


"Chiyo..." panggil Kenzie.


Chiyome menghentikan aktifitasnya, menaruh ponsel ditepi meja disisi cangkir kopi nya lalu menatapi Kenzie. pemuda itu sendiri berupaya mengatur detak jantungnya yang seakan tidak mau diajak bekerja sama.


"Ada apa Ken?" tanya Chiyome sambil senyum.


busyet.... senyumnya itu...


"Apa yang mau kau katakan?" todong Chiyome.


ditodong seperti itu, Kenzie mengumpulkan keberaniannya.


bismillah... tolong aku ya Allah....


"Kamu sudah punya pacar di Jepang?" tanya Kenzie dengan gugup.


mendengar pertanyaan itu, Chiyome tersenyum lagi dan menantang tatapan Kenzie.


"Menurutmu?" pancing Chiyome.



"Dugaanku, kau pasti punya pacar..." ujar Kenzie.

__ADS_1


Chiyome sejenak kembali mengangkat cangkir dan menyeruput kopi yang mulai dingin. setelah itu ia meletakkan cangkir itu kembali.


"Bagaimana menurutmu, jika aku bilang aku belum punya pacar?" pancing Chiyome.


Kenzie menelan ludah lalu menyeruput lagi sirup manisnya menyembunyikan rasa gugup. Chiyome tersenyum melihat sikap pemuda itu. ia sudah membacanya sejak tadi. sebagai praktisi beladiri kuno, ia sudah dibekali ilmu kejiwaan untuk memahami karakter manusia.


melihat Kenzie yang terperangkap dalam kecanggungan akibat rasa gugupnya membuat Chiyome iba. ia sedikit jujur membuka pembicaraan.


"Ayah melarangku pacaran." tandas Chiyome.


"Sampai saat ini?" tanya Kenzie.


"Terkecuali aku merahasiakan hubunganku dengan orang itu dari ayah." jawab Chiyome, "Keluargaku termasuk keluarga yang kolot. jika saatnya tiba, aku akan dijodohkan dengan seorang lelaki yang dianggap pantas oleh keluargaku."


"Kau tak punya pikiran mengemukakan pendapatmu sendiri?" pancing Kenzie.


"Perintah mereka diatas segalanya." jawab Chiyome dengan getir. tapi kemudian gadis itu tersenyum. "Tapi sampai saat ini mereka belum menyinggung hal itu."


Kenzie menelan ludah, ia merasa tercekik. pemuda itu menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Chiyome.


Kenzie menggeleng sambil tersenyum, "Aku hanya ingin tahu saja."


"Apa sebenarnya yang ingin kau tahu?" desak Chiyome.


"Nggak, cuma ingin tahu saja nggak boleh?" elak Kenzie.


"Selama ini aku juga sedang melakukan pencarian." kata Chiyome.


"Pencarian apa?" tanya Kenzie.


Chiyome menatapi bola mata Kenzie dengan instens. Kenzie sendiri menjadi gugup.


"Pencarian apa saja." jawab Chiyome bersikap misterius. "Termasuk pencarian terhadap seseorang yang mampu menjadi imam bagiku."


tiba-tiba Kenzie tersedak mendengar kata itu. Chiyome menatapinya.


"Kenapa Ken-ken? nggak biasanya kamu begini." kata Chiyome.


Kenzie mengatur napasnya. "Nggak usah dipedulikan."


pemuda itu kembali menatapi Chiyome. "Mengapa kau memanggilku Ken-ken?" tanya pemuda itu mengalihkan pembicaraan.


"Kedengarannya lucu saja." jawab Chiyome. "Kak Ais memanggilmu dengan sebutan itu, kau tak protes. kau memanggilku Chiyo, aku juga nggak protes."


Kenzie menggaruk lagi kepalanya yang tidak gatal. ia kembali menatapi Chiyome.


"Chiyo.... aku suka kamu..." ucap Kenzie.


tanpa menoleh, Chiyome tersenyum, "Aku juga menyukaimu Ken. kau adalah teman karibku. sahabatku."


"Aku ingin kau anggap lebih dari itu." ujar Kenzie.


Chiyome menatap Kenzie, "Maksudmu?"


"Aku... jatuh cinta padamu." jawab pemuda itu dengan takut.


gadis itu sejenak menatapi Kenzie dengan cermat. ia mencari ketulusan disana. Chiyome kembali tersenyum.


"Kau akan menyesal mencintaiku." kata Chiyome.


"Apakah itu ancaman atau sarkartisme?" pancing Kenzie.


"Menurut kamu?" Chiyome balik memancing.


"Aku nggak pernah menyesal. ketika aku memutuskan untuk mencintai kamu, biarkan aku yang memutuskan apakah cinta ini menyenangkan atau menyakitkan." tandas Kenzie. keberaniannya tersulut tanpa mampu terkendali. rasa malu dan enggan sudah menguap entah kemana.


"Kau belum mengenal diriku sepenuhnya." elak Chiyome.


"Maka biarkan aku mengenalmu. biarkan aku memutuskan apakah rasa ini membuatku bahagia atau menderita." jawab Kenzie.


pemuda itu tiba-tiba bangkit lalu menuju ke sebuah panggung pendek dalam gedung. disana ada beberapa pemain musik yang sedang membawakan lagu.


kedatangan Kenzie membuat penyanyi itu menghentikan lagunya. Kenzie membisikkan sesuatu kepada penyanyi dan pemusik itu. keduanya mengangguk lalu Kenzie meminjam sebuah gitar, dan duduk mulai memetik dawai-dawai alat itu. terdengar sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Kenzie.


ketika pertama kali jiwaku ingin selalu


dekat dengan jiwamu yang belum mampu


menterjemahkan segala .... arti pertemuan ini...


arti cumbu rayu ini....


yang mungkin bisa memusnahkan kenyataan hidup yang terjadi....


ketika jiwamu, merasuk kedalam aliran darahku dan meracuniku....


ketika jiwamu memeluk hatiku...


dan biarkan jiwaku cumbui jiwamu...


selama Kenzie menyanyikan lirik lagu itu, Chiyome terus menatapinya dengan hati yang terus diguncang oleh getaran aneh.


Kenzie sendiri tak perduli, gadis itu memahaminya atau tidak. yang jelas, ia ingin mengungkapkan isi hati tanpa dibebani oleh apapun.


ketika kamu, aku melebur menjadi satu


dan hanya waktu yang mungkin bisa memahami apa yang terjadi....


apa yang sedang kurasa. apa yang sedang kau rasa


adalah cinta yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


ketika jiwamu, merasuk ke dalam aliran darahku dan meracuniku...


ketika jiwamu memeluk hatiku, dan biarkan jiwaku cumbui jiwamu...


ketika jiwamu merasuk kedalam aliran darahku dan meracuniku....


ketika jiwamu memeluk hatiku dan biarkan jiwaku cumbui jiwamu..... []

__ADS_1


__ADS_2