Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 130


__ADS_3

Adnan melangkah dengan santai. disisi kanannya Kenzie dan disisi kirinya Bakri. lelaki itu mengenakan stelan jas resmi, begitu juga dengan kedua lelaki disisi-sisinya tersebut. dengan langkah pasti, ketiganya melangkah ke ruang direksi. disana telah menunggu anggota dewan direksi Buana Asparaga.Tbk.


Adnan kemudian duduk dikursinya menatap semua anggota direksi, dari pejabat tinggi hingga menengah. semuanya kelihatannya lengkap.


Kenzie menjabat sebagai direktur personalia juga sebagai direktur operasional bersama timnya, Dewinta Basumbul menjabat direktur pemasaran, Sofyan Husa menjabat direktur keuangan.


"Saya rasa rapat sudah bisa dimulai." ujar lelaki itu menatap keseluruhan anggota dewan. Adnan mengangguk sebentar lalu mulai menyampaikan bicaranya.


"Hari ini, saya hanya menyampaikan bahwa terhitung mulai hari, tanggal, bulan, dan tahun ini... saya menyatakan pengunduran diri saya sebagai Pejabat Eksekutif Utama di Buana Asparaga.Tbk." ujar Adnan.


seketika terjadi kegemparan. semua penghuni rapat langsung ribut saling bicara.


"Saya sudah merasa harus pensiun." jawab Adnan, "Tapi saya sudah meninggalkan pengganti. kedepan yang menjadi Pejabat Eksekutif Utama adalah putraku, Kenzie Ardiansyah Lasantu. sedangkan Bakri Muchsin akan menjabat sebagai Pejabat Utama bidang Operasional."


Adnan menatapi semua anggota direksi. hal yang wajar terjadi karena keluarga Lasantu adalah anggota dewan internal yang menentukan arah perusahaan sebab merekalah pemilik perusahaan tersebut. adapun Endrawan hanya sebagai anggota dewan eksternal namun selalu diikut sertakan dalam pengambilan putusan. hanya saja untuk saat ini Endi tidak hadir.


"Dewinta Basumbul akan saya angkat sebagai sekretaris utama dan jabatan Pejabat Utama Bidang Pemasaran saya percayakan kepada Nurafni Rumagit." tambah Adnan, "Jika ada yang keberatan dengan keputusan saya, segera katakan sekarang."


namun kelihatannya ruangan itu hening membuat Adnan kembali mengangguk, "Jadi sekarang ku pikir kalian tidak mempermasalahkannya. ingat, kesatuan kerja dalam tim bagai karang yang mampu menghujam daratan hingga berlubang."


"Apakah Bapak sudah mendiskusikannya dengan para pemegang saham?" tanya Sofyan Husa dengan ragu.


"Para pemegang saham mempercayakan kepadaku bagaimana mengatur perusahaan lebih baik." jawab Adnan dengan senyum.


lelaki itu kemudian berdiri, "Baik, saya pikir semua yang hadir disini sudah mengetahui. Saya permisi dan Surat Penunjukannya akan menyusul esok hari."


Adnan melangkah mendekati Kenzie. "Duduklah disana nak. lakukan tugasmu." ujarnya menempuk pelan pundak putranya lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.


tinggal anggota dewan direksi lainnya. mereka menatap ke arah Kenzie yang diam menyandarkan punggungnya disandaran kursi sambil bertelekan pada tangan kanannya yang sementara memijiti pelipisnya.


"Tuan Direktur..." panggil Sofyan Husa.


Kenzie melirik sejenak kepada direktur keuangan itu. Sofyan Husa tercekat dengan tatapan lelaki tersebut. Kenzie berdiri lalu melangkah mendekati kursi bekas duduk Adnan, tapi ia tak duduk disana. tatapannya hanya menghujam kursi itu sambil mengelus sandaran lengannya.


"Aku telah mencium adanya pengkhianatan dalam perusahaan ini." ujarnya dengan pelan, "Seseorang tanpa tanggung jawab sedang memancing di air keruh menggoyang poin saham perusahaan sehingga bergerak tidak stabil dibursa efek."


Bakri memperhatikan semua tatapan anggota direksi yang hadir dalam ruangan tersebut. Kenzie menatapi Dewi. seakan paham dengan tatapan direktur muda itu, ia berdiri dan melangkah kedepan mempresentasikan semuanya.


"Ada yang sengaja mencurangi dengan membobol sistem keamanan jaringan digital Buana Asparaga.Tbk kemudian menitipkan virus yang membuat neraca operasional berjalan tidak stabil." ujar Dewi mengakhiri presentasinya.


"Terima kasih Dewi. silahkan ke tempatmu." ujar Kenzie mempersilahkan wanita itu kembali ke tempat duduknya. Dewi memutar dan duduk di kursi sekretaris umum.


"Pak Sofyan, silahkan serahkan laporan keuangan perusahaan dari Januari 2020. ada yang ingin saya cocokkan datanya." Kenzie menatap Sofyan kemudian kembali memandang semua anggota direksi, "ingat, saya juga memiliki jaringan disemua lini kalian. jadi saya mohon... bukan saya curiga, tapi ini adalah tindakan penjagaan yang saya lakukan untuk kebaikan kita bersama." ujar Kenzie kemudian.


Sofyan Husa paham bahwa kredibilitasnya dipertaruhkan jika dalam laporan itu ada kejanggalan. ia memerintahkan timnya untuk melaksanakan apa yang diminta direktur baru itu. Kenzie berdiri.


"Saya pikir rapat sudah selesai, silahkan bubar." ujar Kenzie kemudian menatap Sofyan.


"Laporannya pak saya tunggu dimeja saya, siang ini." kata Kenzie.


"Siap pak." jawab Sofyan membungkuk datar lalu balik meninggalkan ruangan diikuti oleh anggotanya.


semua membubarkan diri, terkecuali Kenzie, Dewi dan Bakri. direktur itu menatap Dewi.


"Kamu masih menyimpan catatan digital kamu itu bukan?" tanya Kenzie.


"Masih, pak." jawab Dewi.


"Baik. cetak laporan digital kamu itu dan teruskan ke mesin fax diruangan saya." ujar Kenzie.


"Baik pak." jawab Dewi bangkit dan membungkuk datar.


Kenzie mengangguk setelah itu menatap Bakri. "Kak, aku mau istirahat sejenak. kalau kakak mau pulang nengokin Kak Ais juga nggak apa-apa. silahkan."


"Kamu itu, baru sehari jadi direktur sudah banyak tugas. apalagi aku. sebagai direktur operasional, tugasku sebelas-dua belas dengan kerjamu." jawab Bakri. "Aku belum mau istirahat. seperti katamu, sekarang finansial perusahaan kita bermasalah. aku harus clear kan dulu masalah itu, kan?"


Kenzie tersenyum. "Kakak itu pengantin baru. kasihlah perhatian dulu sama Kak Ais. kasihan dia, lama menanti belai begitu dapat juga jarang dibelai. ayolah Kak, sekali saja. pulanglah dan tengok Kakakku." pinta Kenzie.


Bakri menghela napas. "Aku akan pulang menengoknya dan lepas Dzuhur aku kembali ke kantor." ujarnya.

__ADS_1


"Terserah kakak. yang penting Kak Ais terpuaskan dahaganya." kata Kenzie setengah menggoda.


Bakri tertawa pelan dan bangkit lalu melangkah meninggalkan ruang rapat. tinggal Kenzie yang sendirian berada diruangan rapat itu. lelaki tersebut bangkit dan menatap lanskap Kota Gorontalo dari dinding-dinding kaca tersebut.


...*****...


Aisyah meluangkan waktunya bermain bersama Saburo. anak itu sudah pandai menyenangkan hati bibinya. jilbaber itu memondong anak tersebut diberanda muka.


"Nak, kalau sudah besar, berbaktilah kepada ibu dan ayahmu. jagalah keluarga dan jangan pernah ringan tangan menganiaya makhluk." nasihat jilbaber tersebut.


Saburo seakan paham menatap wajah bibinya dan bersuara, "Yaaaaayayayayaya..." kemudian memukul-mukul lengan wanita yang memondongnya itu.


Aisyah tertawa mendengar suara anak itu seakan ia paham dengan nasihat tersebut.


mudah-mudahan kau paham nak.... bibi berharap kau akan menjadi pelindung keluarga Lasantu...


tak lama kemudian terdengar suara deru mobil. mobil hitam milik ayahnya muncul dan berhenti didepan beranda. tak lama kemudian pintu terbuka dan Adnan keluar dari mobil dan melangkah menaiki beranda. langkahnya sejenak tertahan menatap Aisyah yang memeluk Saburo.


"Ais, Mama dan Adek mana?" tanya Adnan.


"Didapur Pah." jawab Aisyah.


Adnan tertawa, "Papa sudah nggak sabar nimang cucu dari anak tertua. kapan dong?" goda Adnan sambil melangkah menuju pintu.


"Papa.... yang sabar dong. ini juga baru proses, Papa kira Papa bikin Ais waktu itu langsung jadi? kan nunggu sampe sembilan bulan diperut ibu." jawab Aisyah dengan sewot.


Adnan tertawa, "Doooo.... jangan marah dong. cuma digodain begitu..." timpal Adnan hendak meraih gagang pintu dan membukanya kemudian lelaki itu masuk.


Aisyah mendengus kesal. Saburo berupaya berdiri namun Aisyah tanggap memeluknya.


"Aduh, anaknya Bunda, sudah mulai nakal ya?" ujar Aisyah tersenyum. tak lama kemudian mobil perusahaan tiba dan menepi disisi mobil milik Adnan.


pintu terbuka dan Bakri muncul lalu menaiki beranda. langkahnya sejenak terhenti melihat Aisyah yang memondong Saburo. lelaki itu tersenyum.


"Halo istri tercintaku..." sapa Bakri mendekati Aisyah dan duduk disisinya. lelaki itu kemudian memajukan wajahnya mencium pipi Aisyah lalu menatap Saburo.


Aisyah menyerahkan Saburo ke pangkuan Bakri. lelaki itu bermain-main dengan anak itu. Aisyah menatapnya.


"Lho? nggak kerja?" tanya Aisyah.


"Nggak. disuruh Kenzie nengokin kamu." jawab Bakri sambil terus bermain dengan Saburo.


"Lho? kok gitu?" tanya Aisyah lagi.


"Itu perintah pertamanya padaku sebagai direktur baru." jawab Bakri kemudian tertawa.


Aisyah tertawa. "Begitu ya?"


Bakri mengangguk tertawa menatap Aisyah lalu bermain lagi dengan Saburo. "Nanti lepas Dzuhur aku balik ngantor. Kenzie setuju."


"Adikku perhatian juga rupanya." ujar Aisyah.


"Sudah pastilah kami perhatian sama Kakak." timpal Chiyome yang sudah muncul membuat Aisyah terlonjak kaget.


"Adek..." gumam Aisyah.


Chiyome duduk dekat Aisyah. "Kak, aku nggak bisa hidup tanpa Kakak. Kenzie juga nggak bisa hidup tanpa Kakak. Papa dan Mama apalagi, termasuk Okaasan dan Otoosan." wanita itu menangkupkan kedua tangannya dipipi Aisyah. "Bagi keluarga Lasantu.... Kakak adalah permata."


"Kamu bikin baperan kakak saja." ujar Aisyah dengan suara serak lalu memeluk Chiyome. jilbaber itu terisak.


Bakri hanya tersenyum dan kembali memangku Saburo yang mengembangkan tangan hendak berpindah karena melihat induknya. Chiyome tersenyum lalu melepaskan pelukannya kepada Aisyah dan mengembangkan tangannya kearah Saburo.


"Putraku, sudah bosan dipangku Yandamu?" ujar Chiyome.


Bakri menyerahkan Saburo ke pelukan Chiyome. wanita itu bangkit lalu melangkah menuju kedalam rumah. namun didepan pintu, Chiyome berhenti dan menatap Bakri dan Aisyah.


"Oni-chan, maaf kalau mulai saat ini, aku tak akan mengijinkan kalian membangun rumah tangga jauh dari kami." ujar Chiyome dengan datar, "Aku sudah cukup trauma ketika Stefan menjauhkan Kak Ais dari kami."


"Kamu nggak percaya padaku, dek?" pancing Bakri.

__ADS_1


Chiyome tersenyum, "Bukan begitu kak. aku percaya Oni-chan bisa membahagiakan Kak Ais lebih dari yang saya ekspektasikan." jawab wanita itu. "Tapi, untuk saat ini dan waktu yang belum dapat ditentukan, saya pribadi belum sanggup berpisah dari Kak Ais. harap Oni-chan memahami perasaan saya."


"Kakak paham. jangan kuatir Adek, Kakak nggak akan ngambil kakak kamu lho." goda Bakri.


" Oni-chaaaannnn.... " tegur Chiyome memberenggut dan menghentak kakinya, "Kalau mau ngegoda, ke Kak Ais saja!" wanita itu buru-buru masuk supaya tidak diolok lagi.


Bakri tertawa menatap Aisyah, "Aku jadi takut sama Adekmu. dia jadi garang kalau aku mau membawamu pisah dari mereka."


Aisyah hanya tersenyum.


"Sebegitu takutkah dia jauh dari kamu?" pancing Bakri.


"Adek yang meloloskan aku dari kekejaman Stefan waktu itu." jawab Aisyah, "pada saat itu aku bahkan sudah pasrah dan berdoa untuk mati saja. siksaan Stefan hampir aku tak sanggup menahannya. Adek dan Kenzie yang telah menguatkan aku untuk kembali mengarung lautan hidup ini dan mengharap kecintaanmu padaku." jilbaber itu menggenggam tangan Bakri dan menyapu punggung tangannya.


Bakri tersenyum dan balas mengusap jemari Aisyah yang mengelus punggung tangannya.


"Aku janjikan padamu Ais. aku akan melindungi kamu sekuat tenagaku. tak akan kubiarkan siapapun menyakitimu. dan Cintaku akan selalu menyelimuti dirimu." ujar Bakri.


Aisyah tersenyum, "Terima kasih..."


Bakri mengangguk-angguk sambil senyum.


...*******...


Kenzie memeriksa dengan mendetail kertas-kertas laporan dan sesekali mencocokkan segalanya dengan catatan digital milik Dewinta Basumbul. ia menarik napas lega setelah memeriksa dan menyimpulkan bahwa laporan keuangan dan pembelanjaan serta penganggaran sesuai dengan pembukuan.


berarti Puspita melakukan kecurangan untuk menggoyahkan poin saham agar mampu disingkirkan dan diakuisisi oleh orang lain. beruntung Dewi punya catatan dan Tangan Ketiga berhasil menemukan aplikasi malware yang menyimpan dan memanipulasi data keuangan Buana Asparaga.Tbk yang palsu. .... uhmmm.... Puspita... Budi... kalian berdua harus segera diberikan efek jera.... jera yang tak bisa dilupakannya.


Kenzie tersenyum lalu tangannya terjulur ke sakunya mengeluarkan gawai dan menghubungi tangan ketiga.


"Bagaimana arus ombak disana? bukankah kau sudah mengakuisisi sebagian sahamnya?" tanya Kenzie.


"Sudah... orang itu sudah tak bisa apa-apa lagi. semua aset dan kekayaan mereka sudah menjadi milik Buana Asparaga.Tbk dan sudah merger dengan perusahaanmu. apa lagi yang kau risaukan?" pancing orang itu.


"Hanya memastikan saja." jawab Kenzie. "Bagaimana dengan tugas yang kuberikan padamu?"


"Mengejutkan." jawab orang itu. "Apakah kau mengejar seorang lelaki, Pak?"


"Apakah dia lelaki?" pancing Kenzie.


"Sidik jari tidak akan berbohong. aku menemukan rumus sidik jarinya lalu mencocokkan dengan data SKCK di kepolisian. hasilnya mengejutkan... dia laki-laki. namanya Budi Prasetya. dan dia teman seangkatan anda." ujar orang itu.


"Aku tahu... makanya aku hanya ingin memastikan gendernya." ujar Kenzie, "Makasih bro. jawabanmu sangat membantuku. aku akan mentransfer danamu segera."


"Makasih pak." jawab orang itu.


Kenzie memutuskan pembicaraan seluler dan menyimpan gawai pada saku celananya. tatapannya kembali terarah ke lembaran laporan yang memenuhi meja kerjanya.


"Budi.... kamu berhasil menggoyahkan kapal, tapi kamu nggak akan mampu menenggelamkannya. aku akan membuat kau membayar perbuatanmu." gumam Adnan sendirian.


jemari lelaki itu kembali terulur ke pesawat telepon dan mengangkat gagangnya. ia menekan nomor dan menunggu jawaban.


"Ya, dengan pimpinan Bank Rakyat Indonesia cabang Kota Gorontalo..." jawab suara diseberang.


"Dengan Kenzie Lasantu, Pejabat Eksekutif Utama Buana Asparaga.Tbk... mau menyampaikan untuk pemblokiran akun atas nama Puspita Kusmaratih, Nomor akun..." Kenzie membeberkan nomor dan alasan pemblokiran.


"Baik Pak... akan kami proses." jawab pimpinan bank tersebut.


"Terima kasih, saya tunggu kabar baiknya." timpal Kenzie meletakkan kembali gagang telepon.


lelaki itu bangkit dari kursinya dan melangkah menuju dinding kaca dan menatap lanskap Kota Gorontalo yang menghampar disana.


lelaki itu kembali mengambil gawai miliknya dan menghubungi Dewi.


"Jika Puspita mencariku, larang dan jauhkan dia dariku, bagaimanapun caranya kau lakukan!" tekannya dengan tandas. "Aku tak mau tanganku kotor gara-gara menjitak kepala perempuan itu. kau paham?!"


"Siap Pak." jawab Dewi.


Kenzie kembali memutuskan pembicaraan seluler dan menatap pemandangan dihadapannya.[]

__ADS_1


__ADS_2