Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 51


__ADS_3

siapa yang tak menyangka dalam segumpal kebahagiaan ada setitik kesedihan yang menodainya. jasad Heitaro Koreyuki disemayamkan mengikuti ajaran shinto yang dipeluk oleh keluarga Chigaji. para miko (perempuan pendeta yang mengenakan pakaian putih dan celana merah) bersama-sama dengan pendeta agama buddha yang berpakaian serba hitam dan berkepala gundul, melakukan ritual pemurnian jiwa.


seluruh anggota yakuza cabang Kanto hadir menyatakan belasungkawa atas wafatnya putra pertama dari Heinaizaemon Ienaga Chigaji. kedua putra keluarga Chigaji, Keitaro Yasuyori dan Keitaro Yasunori berdiri beberapa meter dari peti persemayaman Heitaro Koreyuki. kedua saudara itu mengenakan stelan jas hitam-hitam, begitu juga dengan Ienaga, Kameie dan putranya Iechika serta seluruh anggota laki-laki cabang Kanto yang hadir saat itu. kaum wanitanya, mengenakan kurotomesode dengan kamon keluarga masing-masing yang tercetak dibelakang lengan dan punggung pakaian mereka. rambutnya disanggul. hanya Iyun yang tidak mengenakan kimono, melainkan gamis dan khimar berwarna hitam.


tidak ada resepsi pernikahan tergelar bagi pasangan baru itu. namun Kenzie sangat memakluminya. baginya, sudah cukup ijab qabul yang terucapkan dihadapan Ustad Taki Takazawa yang bertindak sebagai penghulu sekaligus wali hakim tersebut. pemuda itu tak menuntut apa-apa. empati pemuda itu sangat besar.


toples kaca itu tak mampu menampung segitu banyaknya koden bukuro (amplop berisi uang duka) yang dijejalkan para pelayat. para hadirin datang menyatakan belasungkawa dengan membungkuk kearah peti jenazah Koreyuki lalu menuju ke tempat duduk yang disediakan oleh keluarga.


tak lama, para tamu berdiri, termasuk anggota keluarga Chigaji dan Mochizuki. sang Kumicho (ketua umum), Shinobu Tsukasa muncul didampingi ketua cabang Kanto, Fujiwara Hidesato, dan Ketua ranting Tokyo, Genkuro Tasuku memasuki ruangan.


ketiga pejabat penting dalam organisasi Yamaguchi-gumi itu mendekat dan menghadap ke arah peti jenazah Heitaro Koreyuki. ketiga lelaki itu kemudian membungkuk.


"Konodabi wa goshusho sama desu...."


ketiga pejabat itu kemudian menghadap kepada anggota keluarga Chigaji, terutama Ienaga, kedua putranya da. janda dari Koreyuki, Hinata yang sementara memeluk bayinya. mulanya Shinobu begitu tegar ketika membungkuk dihadapan Ienaga. namun ketika tatapan matanya berhadapan dengan sang cucu yang sekarang menjadi janda, Shinobu seketika luluh mengalirkan air matanya membayangkan Hinata yang hidup sendiri mengurus cucu buyutnya yang masih berusia 5 bulan itu. Hinata menunduk menyembunyikan tangisnya sambil menciumi kepala Momotaro, putranya yang sekarang yatim.


Tasuku dan Hidesato maju membimbing sang Kumicho untuk menegakkan tubuhnya. Ienaga sendiri terlihat tabah menerima nasib putranya yang gugur. ketiganya kemudian duduk ditempat paling depan disamping keluarga Chigaji.


para pendeta baik dari golongan buddha maupun shinto kemudian melantunkan doa-doa berbahasa sanskerta, sementara Ienaga dan kedua putranya memegang lidi dupa yang telah dinyalakan sambil mengikuti bacaan doa para pendeta tersebut. ketiganya maju menancapkan lidi dupa itu pada kendi dimeja altar.


keluarga Mochizuki dan tamunya yang beragama islam menundukkan kepala dan membaca doa sesuai ajaran agama islam demi keselamatan sang pahlawan menuju tanah damainya.


prosesi persemayaman itu memakan waktu 3 jam hingga pendeta selesai membacakan sutra pengiring arwah. satu persatu pelayat meninggalkan ruangan hingga akhirnya sang Kumicho menatapi besan mudanya, Ienaga.


"Aku harap, kamu tabah dengan peristiwa ini." kata pria sepuh berusia 78 tahun itu. Ienaga hanya menjawab kalimat sang ketua dengan membungkuk formal setengah tegak, tanpa menjawab dengan lisannya.


sang Kumicho paham dengan suasana hati pria tersebut. ia mengangguk lalu menatapi sang cucu perempuannya yang memeluk bayinya. "Nak, kakek akan penuhi kebutuhan hidupmu bersama buyutku. sabarlah." ujar Shinobu lalu berbalik melangkah sambil diiringi oleh Fujiwara Hidesato.


hari telah menjelang malam. Kameie memutuskan seluruh anggota keluarga Mochizuki wajib menemani keluarga Chigaji untuk menjaga peti jenazah Heitaro Koreyuki. sedangkan Endi, Trias dan istrinya sepakat menginap ditempat itu karena empati yang tinggi terhadap keluarga tersebut.


malam itu, Kameie yang biasanya tak terlalu perduli dengan syariat agamanya, kini ikut larut syahdu dalam kegiatan sholat maghrib yang mereka laksanakan disalah satu sudut ruangan. Endi menjadi imamnya. Kenzie, Trias dan Kameie berjajar shaf dan dibelakangnya Fitri beserta Chiyome mengenakan mukena hitam. Iyun, karena menggunakan gamis dan khimar yang panjangnya selutut, tak perlu lagi mengenakan mukena.


Ienaga dan kedua putranya memperhatikan ritual ibadah sahabatnya beserta tamunya tersebut. hal yang menakjubkan baginya, atas perubahan Kameie saat ini. biasanya Kameie tak seperduli itu dengan ibadahnya. entah karena keberadaan tamunya, atau pengaruh Fitri kepadanya, atau bahkan karena bergabungnya Kenzie menjadi bagian keluarganya membuat lelaki itu mulai memikirkan kehidupannya.


Iechika yang beberapa saat muncul diruangan itu sempat pula kaget melihat ayahnya tiba-tiba saja ikut sholat. ayah bukan orang semacam itu, kecuali ada desakan kuat yang mempengaruhi jiwanya sehingga ia mau melakukan sesuatu yang sebenarnya belum pernah ia melakukannya.


prosesi sholat maghrib itu berakhir. Aisyah mencium tangan Fitri kemudian Kameie, diikuti oleh Chiyome. gadis itu kemudian mencium tangan suaminya. Iyun menciumi tangan Trias kemudian Endi. setelah itu Endi memimpin doa bersama. lantunan doa berbahasa arab sesekali bergema dalam ruangan itu.


entah kanapa Ienaga merasa damai mendengar lantunan doa berbahasa arab yang keluar dari mulut Endi. ia memang tak mengetahui arti atau terjemahannya, namun ia merasa damai. Endi menyelesaikan doa lalu mengusap kedua telapak tangannya ke wajah.


mereka kemudian bergabung bersama Ienaga sekeluarga di meja panjang. karena acara makan itu dihadiri anggota keluarga Mochizuki beserta tamunya yang beragama islam, Ienaga meminta panitia menyediakan hidangan yang tidak dicampur dengan daging ****, anjing dan hewan-hewan lain yang dilarang dalam syariat agama sahabatnya itu. panitia memilih menghidangkan seafood dan hidangan vegetarian. untuk minumnya bagi tamu-tamu itu disediakan minuman soda dan sirup.


"Aku dapat kabar, sebelum Tsukasa-Dono menghadiri acara ini, dia memerintahkan seluruh anggota keluarga dari orang-orang Tohoku yang terlibat dalam insiden ini, melakukan hara-kiri." kata Iechika dalam bahasa inggris sambil mengambil sejumput capcay dan menaruhnya dimangkuk nasi miliknya kemudian memakannya dengan pelan.


"Apa memang seperti itu hukum dalam organisasi yakuza?" tanya Iyun dengan menggunakan bahasa inggris. Iechika menggeleng.


"Sebenarnya, Kumicho tidak terlalu memperdulikan apa yang akan terjadi pada keluarga kami, karena Chiyome sudah menyatakan bertanggung jawab diruang sidang ketika membunuh tuan Kagenobu." jawab Iechika sambil menatapi Ienaga. lelaki itu terlihat tidak perduli karena meneruskan makan seakan tak terjadi apa-apa. pemuda itu meneruskan, "Tapi, karena berhubung yang gugur adalah mantu yang paling disayanginya, maka..."


"Kumicho lebih paham atas situasi yang terjadi." potong Ienaga, membuat Iechika terdiam. "Tak ada hubungan dengan apapun, apakah itu karena Chiyo-hime atau kematian Koreyuki." ujarnya sambil menatapi kembali Iechika yang akhirnya menundukkan wajahnya, merasa bersalah. ia tak berani mengangkat mukanya lagi karena takut bertatapan dengan Ienaga. bagaimanapun, Ienaga adalah gurunya.


Chiyome hanya menundukkan wajahnya sambil meneruskan makan. Ienaga menatapi gadis itu. "Chiyo, kamu jangan terlalu memikirkan ucapan adikmu. kau sudah mengembalikan kehormatan Koreyuki dan wibawa Cabang Kanto dengan tindakan kamu siang itu." tandas Ienaga.


Chiyome mengangkat wajah menatapi Ienaga dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. tak lama setitik air mata bening jatuh menjelajahi pipi gadis itu. Ienaga memaksakan senyumnya.


"Paman, bangga padamu! Koreyuki juga pasti bangga! kau telah menyelamatkan kehormatan keluarga Chigaji." kata Ienaga sambil tersenyum.


Kameie tidak berkata apapun. sahabatnya jelas berperang melawan emosinya sendiri. namun akhirnya lelaki itu tersenyum. "Aku memanjatkan doa kepada-Nya, berharap bahwa Koreyuki tidak akan mengalami kesulitan mendekati sisi-Nya. Aku akan menjadi saksinya kelak." ujarnya dengan nada kaku.


Ienaga tersenyum datar, "Terima kasih Kame-Yuujin."


Kameie mengangguk-angguk. Chiyome menyusut air matanya sedang Kenzie mengelus punggung istrinya membuat perasaan damai menyelimuti sanubari gadis itu.


"Jika seseorang berbuat kebaikan, ia akan menabur kebaikannya meskipun itu hanya secuil." kata Endi, menyetir ayat ke 7 dari QS. Al-Zalzalah.


Ienaga menatapi Endi, Iyun kemudian menterjemahkan kalimat ayah mertuanya dengan bahasa inggris membuat Ienaga paham, bahkan Iyun menambahkan kalimat ayahnya itu selaras dengan salah satu ayat yang dibacanya tadi dalam sholat maghrib.


"Mirip doktrin karma dalam ajaran buddha..." sahut Ienaga.

__ADS_1


"Maaf, paman. saya nggak tahu apapun tentang ajaran agama buddha, yang jelas dalam agama kami juga berlaku hukum sebab akibat seperti itu." balas Iyun.


Ienaga menatapi Chiyome, "Sahabatmu ini sangat pandai menghibur hatiku." ujarnya menggunakan bahasa jepang.


Chiyome tersenyum lalu memberitahukan kalimat itu kepada Iyun. gadis berkhimar itu tertawa. "Saya justru salut dengan Tuan Ienaga. anda begitu tegar, saya pribadi tak akan bisa setegar itu." puji Iyun dalam bahasa inggris membuat Ienaga lebih tersenyum lebar. lelaki iru membungkuk.


"Terima kasih..." ujarnya.


"Kamu ngomong apa sih? pake ketawa-ketiwi tadi. aku cemburu lho!!" kata Trias membuat Endi tertawa bersama Fitri, Aisyah, Kenzie dan Chiyome. Kameie sendiri hanya menutup mulutnya menahan tawa.


Chiyome menerjemahkan kalimat Trias tadi kepada Ienaga, membuat lelaki itu kembali tertawa bersama kedua putranya.


"Ternyata orang Indonesia juga memiliki rasa cemburu." tukas Yasuyori dalam bahasa jepang.


"Kurasa ayah masih belum terlalu tua. buktinya, anak itu cemburu..." timpal Yasunori sambil meminum sake langsung dari moncong botolnya.


"Anak muda, istrimu nggak mungkin menyukaiku. jangan terlalu cemburu." tegur Ienaga sambil tertawa.


Trias nggak paham dengan percakapan ayah-anak itu lalu memandang Chiyome meminta penjelasan.


"Paman Ienaga bilang, kamu nggak usah cemburu. Iyun nggak bakal lari dari kamu." ujar Chiyome membuat Endi tertawa sedang Fitri, Kameie dan Aisyah kembali menutup mulut, menahan tawa.


"Udah ah, aku mau ke kamar kecil." kata Chiyome sambil bangkit dan melangkah menuju pintu. sebelum keluar, gadis itu menoleh kearah Kenzie, fan memandang dengan penuh arti.


"Aku mau menemani istriku." kata Kenzie sambil bangkit.


"Alaaa... modus lo. cuma mau dekati Chiyo." sungut Trias.


"Ya illah... kenapa lo yang sewot, Bro? aku temani istriku, bukan perempuan lain, baper amat lo?" balas Kenzie dengan sengit.


"Beeeh... alasan nemenin bini, udah tau maksud lo. ingat masih usia sekolah lo, jangan keterusan." balas Trias tak kalah sengit.


"Kok lo yang sewot? mo aku buntingi kek, nggak kek, urusan aku, brengsek lo. kepo amat jadi teman... tuh perhatiin Iyun tuu... nggak rese kamu bicara begituan disamping bini? dosa lo..." habis berkata begitu Kenzie langsung pergi meninggalkan ruangan bersama Chiyome.


sepeninggal Kenzie dan Chiyome, spontan Trias melonjak, mendapatkan cubitan keras dari Iyun dipinggangnya.


"Kamu keterlaluan ya? nggak liat ada aku disini?! kok kamu ngurusi Kenzie?!" sembur Iyun.


Trias langsung sadar dan memasang wajah memelas meminta kasihan. "Aduh, maaf Beb, cuma becanda tadi, cuma manas-manasin Kenzie doang. swear..." jawab Trias dengan takut.


"Oooo... becanda ya? baik. aku akan bercanda dengamu, Trias Eliasha Ali." ujar Iyun memicingkan matanya.


Trias sangat tahu, jika Iyun tak lagi menggunakan kata sandang Pipi, dan menyebut nama lengkapnya, alamat gadis itu sangat marah. Trias menciut ketakutan.


"Selama 3 hari ini, jangan berani sentuh aku Trias! silahkan kau bermesraan saja dengan bantal guling atau sabun colek! permisi!" seru Iyun langsung bangkit meninggalkan ruangan.


Endi langsung menampol tengkuk anaknya. "Sableng juga kamu ya? ada istri sendiri mau urusi orang lain. sana kejar! ingat. Iyun nggak tahu jalan." tegur lelaki botak itu.


"Astaghfirullah.... Yun, Yun, Pipi minta maaf Yun,..." seru Trias langsung lari mengejar istrinya.


sementara drama berlangsung, Ienaga dan kedua putranya hanya melongo karena tak memahami bahasanya. ketiganya hanya bisa menerka dari besaran dan tekanan suara kedua anak muda beserta gadis tadi, mereka sedang bertengkar.


Kameie menepiskan tangannya. "Tak usah dipikirkan.. urusan pengantin muda."


Ienaga hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan kegiatan makannya diikuti oleh yang lainnya.


...*********...


Kenzie duduk menselonjorkan kaki dan menyandarkan punggungnya pada sabdaran kursi di balkon bangunan itu. sementara Chiyome berbaring disisinya memeluk dan membenamkan wajahnya didada pemuda itu.


"Hubby...." panggil Chiyome.


"Kenapa Wiffy?" jawab Kenzie dengan lembut sambil memeluk punggung istrinya.


"Wiffy minta maaf ya, resepsinya ditunda karena duka ini." kata Chiyome dengan pelan.


"Nggak usah dipusingkan Wiffy.... Hubby sudah sangat bahagia, sudah mengucap ijab qabul di Masjid Cammi siang itu. hal itu lebih membahagiakan Hubby dari sekedar resepsi. itu kan bisa dibuat kapan saja." jawab Kenzie sambil mengelus bibir Chiyome bagian bawah. "Yang jelas dan faktanya sekarang, Wiffy adalah milik Hubby seutuhnya. makasih ya, sayang, sudah mau jadi istriku."

__ADS_1


Chiyome tersenyum bahagia. namun kejadian tadi siang masih mengganggu benak gadis itu.


"Hubby... Hubby sudah melihat bagaimana sisi lain dari Wiffy.... apakah Hubby...." ucapan Chiyome kembali tertahan ketika telunjuk Kenzie menyilang dipermukaan bibirnya.


"Hubby nggak mau dengar lagi pertanyaan meragukan itu. Hubby cinta sama Wiffy. apapun diri Wiffy, akan selalu Hubby terima." kata Kenzie.


Chiyome bangkit lalu menaiki bagian ************ Kenzie yang masih tertutup celana. keduanya kini berhadapan.


"Hubby yakin?" tanya Chiyome kembali memastikan.


"Wiffy itu sekarang, belahan jiwa Hubby, separuh napasnya Hubby, separuhnya Wiffy itu adalah Hubby." kata Kenzie kemudian menirukan salah satu lirik dalam lagu Noah.


dengarlah aku.......


suara hati ini memanggil namamu....


karena separuh aku... dirimu...


menyentuh dadaku....


semua lukamu t'lah menjadi milikku....


karena separuh aku, dirimu.....


dengan haru, Chiyome mendekatkankan wajahnya kemudian mendaratkan bibirnya ke permukaan bibir Kenzie. keduanya saling memagut, saling mengulum, saling membelitkan lidah, menyentuh rongga terdalam dibagian mulut mereka. keduanya melarutkan diri kedalam permainan cinta.


sewangi bunga mawar, tubuhmu....


terhampar si permadani....


membentuk hasrat 'tuk menjamah syurgamu...


kilaumu... bagaikan mutiara...


menghiasi muka bumi....


warnamu yang kujilati sendiri...


kuyakinkan restu bumi....


bangunkan jiwaku, basuhi raga kita


restu bumi leburkan hati, sucikan dari debu dunia...


kuraba jiwamu yang bersahabat...


tundukkan suasana hati....


seiring sepi menjepit sukmaku


kuyakinkan restu bumi, bangunkan jiwaku


basuhi raga kita...


restu bumi leburkan hati, sucikan dari debu dunia...


seorang bijak 'kan memahami


cinta bukan dicari.... diraih... cinta pun hadir sendiri...


restu bumi kami...


bangun jiwa kami...


basuhi raga yang kering....


basuh jiwa yang sepi....

__ADS_1


melayang... berdua.... []


__ADS_2