
Chiyome mendecakkan lidahnya dengan kesal. pasalnya, kabel charging gawainya rusak, tak mampu mensuplai pasokan listrik dari lubang colokan ke gawainya. padahal baterainya tinggal separuh napas saja. Chiyome menatap suaminya yang masih asyik mendengkur. wanita itu memang duluan bangun sejam dari suaminya.
wanita bermata sipit itu mengenakan kaos oblong saja dan celana training. syukurnya pihak resort menyediakan sandal jepit ditiap kamar. Chiyome mengenakan sandal jepit tersebut dan meraih dompetnya dan menyelipkannya dikantung celana. Chiyome mengetik pesan pada gawainya yang tinggal sehelaan napas dayanya itu kepada Kenzie memberitahunya bahwa ia sedang keluar karena alasan tertentu.
Chiyome keluar dari kamar dan melangkah cepat menuju ruang lobi. ia menemui resepsionis.
"Bu, apakah ada layanan antar disini? saya butuh ke Counter Handphone hendak membeli charging baru." tanya Chiyome.
resepsionis itu berpikir sejenak lalu menghela napas. "Maaf bu, disini belum ada layanan semacam itu. tapi kalau ibu memang keperluannya sangat mendesak, saya bisa pinjamkan sepeda motor saya."
"Oh, boleh... biar saya tanggung bahan bakarnya." tanggap Chiyome dengan cepat.
"Tapi maaf bu. sepeda motor saya belum sempat dicuci, jadi agak kotor." kata resepsionis itu dengan minder.
"Nggak masalah." tandas Chiyome, "Yang penting masih layak jalan."
rsepsionis itu memberikan anak kunci kepada Chiyome. "Motor saya matik putih beat, bu. nopolnya....." resepsionis memberitahu nopol kendaraannya.
Chiyome mengangguk dan melangkah keluar resort mencari kendaraan itu dihalaman bangunan. ia menemukannya dan menggeleng pelan beberapa kali. memang sangat kotor dan mencerminkan sikap pemiliknya terhadap kebersihan.
tapi urusan charging lebih penting dan mengalahkan kesan sepeda motor yang kotor penuh lumpur dan bekas cipratan tahi sapi. ia menaiki dan menghidupkan mesinnya. sepeda motor itu perlahan melaju membawa Chiyome menuju tempat dimana ia menginginkan barang tersebut.
Chiyome menemukan tempat itu. ia memarkir kendaraan usang itu didepan bangunan counter dan melangkah tenang memasukinya. Chiyome menghampiri penjualnya.
"Maaf mbak, ada charging merk...." Chiyome menyebutkan jenis gawainya.
namun tatapan penjual itu membuat Chiyome heran. apa yang ditatapinya dariku? kok sinis sekali? apakah dandananku yang biasa saja?
"Halo, mbak. ada nggak charging merk..." tanya Chiyome sekali lagi.
"Ada... harganya IDR. 70.000. K.-" jawab penjual itu dengan datar tapi tatapannya tetap saja sinis. tapi Chiyome tidak perduli.
"Ya, saya pesan satu ya." kata Chiyome dengan lembut.
"Tapi, harganya segitu bu!" ulang penjual itu dengan nada tinggi. Chiyome menatapnya dengan kening berkerut.
"Kenapa? kau pikir aku tak bisa membelinya?" tantang Chiyome, namun penjual itu hanya tersenyum sinis saja. sikapnya membuat Chiyome tersinggung.
Wanita bermata sipit itu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan selembaran uang seratus ribuan dan meletakkannya dimeja.
"Kemarikan charging itu!" pinta Chiyome dengan ketus.
masih dengan senyum sinis, penjual itu mengambil kotak charging merek yang diinginkan dan meletakkannya di permukaan kaca. Chiyome langsung meraihnya dan beranjak pergi tanpa mengambil lagi sisa kembaliannya.
Chiyome bergegas melajukan motor matik itu kembali ke hotel. sesampainya disana, ia memarkirkannya lalu memasuki kembali kompleks resort. disana Kenzie sudah menunggu sambil berjalan mondar-mandir. ketika Chiyome muncul, lelaki itu langsung menyambutnya.
"Wiffy darimana saja?" tanya Kenzie dengan wajah cemas.
"Dari counter HP. charging milik Wiffy rusak, Hubby." jawab Chiyome dengan senyum sedikit takut, "Hubby cemas ya? maaf ya?"
Kenzie langsung merengkuh istrinya. "Hubby kuatir sayang. kan Wiffy nggak tahu wilayah disini. ini Marisa sayang, bukan Gorontalo."
"Maaf Hubby..." jawab Chiyome.
"Sudah... sudah... Wiffy pulang dengan selamat, Hubby sudah sangat bersyukur." timpal Kenzie membelai rambut lurus shaggy istrinya itu.
sementara resepsionis itu jadi baper setelah melihat adegan tersebut. dia ikut-ikutan tersipu. ah, dasar orang kota. pamer kemesraan nggak lihat tempat. nggak tahu dia aku jadi baperan gara-gara mereka. huffff....
...*******...
setelah check out dari resort itu, kedua laki istri dengan supercar Mc Laren P1 kuning itu melaju dengan tujuan pulang ke rumah paman jauh mereka. Kartono sebenarnya menelpon Kenzie agar secepatnya pulang.
sesampainya disana, Kartono sudah diberanda berdiri menantikan mereka. Kenzie dan Chiyome keluar dari monil itu dan menyamperi lelaki bertubuh sebesar beruang itu.
"Tidur dimana sih?" selidik Kartono mengangkat satu alisnya mirip artis favoritnya, Dwayne Johnson. selain sebagai pengajar disalah satu madrasah tsanawiyah, ia menyukai olahraga gulat dan sering menonton acara WWE, baik dilayar kaca maupun lewat daring. selain itu dia aktif sebagai anggota dari INKANAS cabang Pohuwato. lelaki itu memang punya ghirah juga dibidang seni beladiri.
"Kami dari Marina Beach Resort." jawab Kenzie, "Sekali-kali tidur merasai angin pantai kan nggak apa-apa."
__ADS_1
Kartono mengangguk-angguk. "Kukira kalian ngelayapan sampai ke Randangan sana." ujarnya terkekeh. "Sudah pernah sholat di Masjid terapung nggak?" tantang Kartono lagi.
"Dimana tuh?" tanya Kenzie.
"Nggak jauh dari resort itu. masih sekompleks dengan kawasan Pohon Cinta." jawab Kartono.
"Apa istimewanya sholat disana?" tanya Kenzie.
"Kali ada istimewanya... kalau nggak ada ya nggak apa-apa." jawab Kartono dengan santai lalu mengajak mereka masuk.
disana, ruang keluarga nampaklah Azizah sedang bermain dengan putri tunggal mereka, Azkadiratna Ardhanareswari. melihat Kenzie dan Chiyome, Azizah menghentikan kegiatannya.
"Kalian berdua nggak pulang, lagi ngelayapan kemana? kalian ini bikin Umi kuatir. semalam Papa kalian nelpon, nanya kabar kalian. Umi terpaksa berbohong, bilang dalam keadaan baik dan sementara beristirahat. Adnan percaya sama kami berdua, karena dia tahu Abi kalian ini nggak suka bohong." tegur Azizah meletakkan Azka dilantai dan balota itu bermain sendiri.
"Maaf Umi. kami berdua sudah menyusahkan Umi." jawab Kenzie dengan senyum santun.
Azizah mengibaskan tangannya berkali-kali. "Sudahlah, nggak usah dipikirkan. nah, makanlah kalian. Umi sudah masak hidangan untuk kalian." ujar Azizah menganggukkan kepalanya ke arah ruang makan.
"Ayo, smoekol." ujar Kartono.
Chiyome menatap Kenzie. lelaki itu tersenyum. "Smoekol, artinya makan, dalam bahasa Manado non verbal."
Chiyome mengangguk-angguk. wanita itu mulai memahami bahwa Gorontalo juga kaya dengan bahasa-bahasa prokem. sebisanya ia belajar memahami bahasa-bahasa tersebut.
keduanya diantar Kartono ke ruang makan. di meja sudah terhampar hidangan yang sangat menggugah selera, dan Chiyome mengenal benar hidangan itu.
"Itu ikan balarica." jawab Kartono menunjuk sebuah hidangan berupa ikan yang dibelah ditengahnya dan dihamparkan rempah, cabe, tomat dan beberapa bumbu lainnya. "Tapi itu istilah indonesianya. dalam bahasa daerah, hidangan ini disebut Bilendango." tambahhya.
"Ah, saya pernah merasai hidangan ini." kata Chiyome, "Seingat saya, ketika masih pacaran dengan Hubby..."
Kenzie tertawa, "Tajam benar ya ingatan Hubby." sindir lelaki itu setengah menggoda.
"Ayo duduk dan makanlah." kata Kartono.
"Abi nggak makan?" tanya Kenzie.
"Aku sudah duluan makan tadi. tiga piring malah." jawab Kartono sambil tertawa lalu kembali mengisyaratkan kedua sejoli itu untuk menikmati sarapan pagi mereka.
Kenzie dan Chiyome benar-benar dimanjakan. Azizah memasakkan keduanya, selain ikan balarica, juga sayur putungo, yaitu sayur berbahan dasar jantung pisang dengan citarasa mirip sayur lodeh dan dimasak memakai santan. jika putungo (jantung pisang) diolah dengan cara tumis, pasti disajikan sebagai lalapan pelengkap jagung rebus atau jagung bakar. ada juga perkedel nike, yaitu sejenis gorengan mirip tempura tapi berbahan dasar ikan-ikan kecil mirip ikan teri. ikan nike sendiri hanya hidup diwilayah teluk. sedamgkan saudaranya, ikan teri hidup dikawasan lautan luas.
Kartono senang melihat keduanya menghabiskan makanan itu. berarti masakan istrinya memiliki citarasa enak. sekali Kenzie sempat bersendawa membuat Kartono tertawa.
"Santai Ken, nggak usah buru-buru." olok Kartono.
...*******...
Bakri duduk memeriksa laporan-laporan yang diserahkan masing-masing direktur kepadanya. sebagai orang yang diserahi tanggung jawab oleh Adnan, lelaki itu dengan jeli memeriksa setiap laporan sedetailnya. para direktur lainnya bahkan menganggap Bakri lebih teliti dari Kenzie.
Kenzie diuntungkan oleh kejelian Dewinta Basumbul sebagai sekretarisnya. sedangkan Bakri tanpa Dewinta, mampu menyelesaikan pemeriksaan laporan itu sendirian. ada beberapa poin yang dikritiknya tanpa berupaya menyinggung perasaan para pimpinan itu. mereka sendiri dalam interview pribadi oleh Adnan merasa cukup puas dengan kinerja menantu keluarga Lasantu itu.
tak terasa sehari lagi sebulan dan selama itu Kenzie masih absen di kantor. lelaki itu benar-benar totalitas dalam menggantikan kualitas waktunya yang terampas oleh penyekapan itu. ia benar-benar memberikan perhatian kepada istrinya.
untunglah Saburo tidak rewel. sebulan itu sang anak diasuh Aisyah, tak sekalipun Saburo rewel minta ini-itu, selain yang diberikan Aisyah kepadanya. jilbaber itu memang memiliki jiwa keibuan. sayangnya upaya keduanya hendak memiliki momongan belum dikabulkan Tuhan.
terkadang Aisyah kedapatan menangis ketika sedang mengeloni Saburo yang hendak tidur. Bakri hanya tersenyum menyabarkan hati istrinya.
"Mungkin Allah masih ingin kita mencintai Saburo seperti anak kita. ketika maksud Allah ini tercapai, Dia pasti akan memberikan kita anugerah pada akhirnya." ujar Bakri menghibur hati Aisyah.
"Aku hanya takut, kamu berpikir aku steril dan kau akan beralih ke lain hati." ujar Aisyah.
Bakri tertawa. "Enak saja bacotmu kalau ngomong ya? memang kelihatan aku seperti itu?"
"Ya... siapa tahu?" timpal Aisyah sambil terus meninabonokan Saburo. anak itu mulai memasuki fase nyenyak. terdengar dengkuran halus balita tersebut.
__ADS_1
"Sayang... kita berdua kan sudah pernah periksa ke dokter kandungan. dan hasil USG kan memperlihatkan bahwa rahim kamu sehat, prostat aku sehat." bantah Bakri, "Hanya saja ini tinggal dari kehendak-Nya. kalau Allah menghendaki, tak ada satupun makhluk yang bisa memundurkan atau memajukannya bahkan membatalkannya."
"Kuharap.... kau tidak kecewa denganku." ujar Aisyah menatap Bakri dengan sendu.
"Tentu tidak Sayangku." tandas Bakri. "Aku mencintai kamu bukan karena pengen punya anak, bukan pengen merasakan terus birahi bercinta... bukan itu... Aku mencintaimu karena akhlakmu, karena kepolosanmu... dan kebodohanmu."
"Kebodohanku?" tanya Aisyah dengan wajah heran.
Bakri mengangguk. "Ya, kau bodoh. mengapa kau mau bersuamikan aku yang nggak sempurna ini?"
Aisyah tersenyum. "Kau jauh lebih sempurna dimataku ketimbang brengsek itu. aku menyadari kebodohanku waktu itu... dan aku bersyukur... meskipun begini. kau masih mau menerimaku."
"Jadi... nggak ada ragu lagi dihatimu untukku, kan?" kata Bakri. Aisyah menggeleng sambil senyum.
"Istri pintar...." puji Bakri kemudian menghadiahkan sebuah kecupan pelan, lembut dan mesra ke bibir istri kecintaannya itu. Aisyah tersipu meraba bibirnya dengan jemari lentiknya.
getaran gawai disaku celana, membuat Bakri menjauh sedikit dan merogoh benda itu dari sakunya. lelaki itu melihat layar gawai dan tersenyum. ia menatap Aisyah.
"Dari Kenzie..." ujarnya kemudian mengaktifkan jawaban panggilan.
📱"Assalamualaikum..." sapa Kenzie.
📱"Wa alaikum salam." balas Bakri, "Bagaimana liburannya? itu sekalian bulan madu kan?" olok lelaki itu.
terdengar suara Kenzie tertawa.
📱"Bagaimana kabar Kakak? nggak repot ngurusi pekerjaan saya?" tanya Kenzie. "Maaf sudah merepotkan kakak selama ini."
📱"Ah, biasalah... pekerjaan begitu nggak ada apa-apanya. kamu tahu? sewaktu kuliah dulu di IAIN Sultan Amai, Kakak selalu kebagian tugas menghandle tugas teman-teman yang nggak rampung. jadi suasananya agak mirip-mirip, jadinya kakal nggak kagok." jawab Bakri sembari terkekeh.
📱"Jangan kuatir kak. besok aku balik. nanti senin depan aku masuk kantor sebagaimana biasanya." ujar Kenzie.
📱"Baguslah kalau begitu." kata Bakri. "Kelihatannya aku merasakan para karyawan agak mengeluh denganku. menurut mereka aku terlalu teliti dan kritis sehingga membuat mereka tertekan. sebaiknya kau memang harus segera pulang supaya atmosfir kerja kembali sebagaimana biasanya dan aku nggak menanggung dosa lagi karena berlaku terlalu lurus kepada mereka."
📱"Baiklah... jangan kuatirkan itu. saya balik besoknya." ujar Kenzie. "Oh ya. bagaimana dengan Saburo? apakah anak itu tak mengganggu kalian?"
📱"Kami justru merasa Saburo mewarnai hari-hari kami. Aisyah selalu tak ingin jauh dari anak itu." kata Bakri melirik Aisyah yang terus menatapi Saburo yang terlelap.
📱"Baiklah, kami tutup telponnya." ujar Bakri. "Kami sekeluarga menunggumu pulang."
Bakri memutus sambungan seluler lalu menatap Aisyah dan ikut tersenyum.
...*******...
Kenzie meletakkan gawainya dimeja. sedangkan Chiyome seperti biasanya, mengawasi poin-poin saham diaplikasj. dihadapan mereka duduk dengan tenang Daming. malam ini Kenzie sengaja memaksa manajer cafe itu membiarkan pegawai satunya itu libur semalam hanya untuk menemani kedua laki istri tersebut. bahkan Kenzie berani mengeluarkan segepok uang menampal mulut rempong manajer yang pelit dan penuh perhitungan itu.
"Kenapa harus kau persulit dirimu membuang uang segepok itu hanya untuk membuat aku menemani kalian." tegur Daming.
Kenzie tersenyum, "Sudah kubilang kawan. kamu nggak sendirian."
"Ah ada baiknya uang itu kau berikan saja padaku." gerutu Daming.
"Kenapa memangnya?" pancing Kenzie.
"Setidaknya segepok uang itu menjadi modal belanja istriku selama 5 tahun." jawab Daming.
"Kamu tahu cara bagaimana orang lain tak akan memanfaatkanmu lagi?" pancing Kenzie dengan senyum ditahan.
"Bagaimana?" tanya Daming dengan penuh minat.
"Jadilah orang yang tidak bermanfaat." jawab Kenzie dengan kalem.
"Tapualemu tinggolopumu!" umpat Daming setelah itu ia tertawa, diikuti Kenzie.
Chiyome sendiri sebenarnya tak perduli dengan keduanya yang sementara beradu argumen model pepesan kosong itu. ia lebih sering mengamati dan mencermati peluang-peluang investasi yang dapat menguntungkan diri dan keluarganya.
"Mengapa kau menyuruhku menerapkan hal itu?" tantang Daming.
"Karena wajahmu jelek." olok Kenzie. "Setulus apapun kamu, sekuat apapun kerjamu, sebaik apapun hatimu. selama tampangmu jelek, dimatanya... kamu tetap saja jelek."
__ADS_1
kembali Daming memaki-maki sendiri, sedang Kenzie hanua tertawa melihatnya diiringi senyum dan gelengan kepala Chiyome yang melihat kejahilan Kenzie membully sahabatnya sendiri. []