
Aisyah berdiri ditrotoar depan kampus ketika melihat sebuah bentor yang dinaiki Chiyome mendekat. hari itu memang beranjak senja dan gadis itu berniat menjajaki pertemuan dengan kakak tirinya agar lebih intim.
gadis jepang itu kemudian turun dan tersenyum ke arah Aisyah ketika gadis itu menyadari keberadaan dan melemparkan senyuman pertama kalinya.
"Kak Ais sudah lama?" sapa Chiyome.
"Baru saja selesai kegiatan ospeknya." jawab Aisyah.
"Pulang barengan dong kak.." rengek Chiyome sambil menggelayut manja dilengannya Aisyah.
jilbaber itu tertawa lalu mengangguk. mereka mereka menyetop sebuah bentor yang lewat kemudian naik. Chiyome memberi tahu jalan yang akan dituju. pengemudi itu mengangguk lalu menjalankan kenderaannya.
"Heran, biasanya kamu dijemput Ken-ken, kok hari ini tidak?" selidik Aisyah.
"Aku sudah ijin sama Hubby, mau ketemu Kak Ais." jawab Chiyome dengan senyum riang.
"Hubby?" gumam Aisyah.
"Ups... maaf kak... kelepasan..." kata Chiyome dengan tersipu.
"Oooo... adiknya kakak mulai nakal ya, pake panggil Hubby sama Kenzie... kamu tau artinya nggak?" goda Aisyah.
Chiyome makin menunduk dengan tersipu lalu mengangguk-angguk.
"Ih... sudah nggak nahan ya?" goda Aisyah lagi.
"Kakaaaaak..." rajuk Chiyome dengan manja. Aisyah tertawa.
" Aduuuh... kayaknya Papa sama Mama harus siap nih... nggak boleh nunggu lama." kata Aisyah. "Jangan takut. Papa dengan Mama sudah tahu. Kenzie sudah ngaku bahkan berani bersumpah akan mempertahankan cinta kalian berdua tuh... hm.. so sweet.. kakak sampe terharu deh... kok kamu pintar ngambil hati kami ya?" kata Aisyah sambil mencubit pipi Chiyome.
ternyata yang dibilang Hubby benar... duuuuh My Hubby... Kenzieku...kau memang yang terbaik...
Chiyome tersenyum-senyum sendiri. Aisyah kemudian menatapi gadis itu. "Kita mau kemana nih?"
"Ke kost saya, boleh kan kak?" pinta Chiyome dengan manja. ya Allah... begini rasanya punya kakak.....
Aisyah mengangguk.
bentor terus melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan. kendaraan itu melewati jalanan menuju ke selatan menyusuri jalanan Tanggida'a dan kemudian membelok ke kompleks Kasuari. disana berdiri sebuah rumah besar nan terlihat mewah. bentor berhenti dan keduanya turun.
"Ini kost saya... mari masuk." ajak Chiyome sambil membuka pintu dan keduanya menyusuri halaman.
"Chiyo... kamu beneran tinggal disini?" tanya Aisyah dengan sangsi.
"Iya, Ka..." jawan Chiyome. "Chiyo ngontrak rumah ini."
keduanya naik ke beranda dan Chiyome mengeluarkan kunci dan memasukkannya ke lubang kunci pintu utama. Chiyome membuka pintu dan menarik Aisyah masuk kedalam.
"Kamu tinggal sendirian? mana orang tuamu?" tanya Aisyah.
Chiyome ke dapur mengambil sebotol air dingin dan sebuah gelas kemudian menuju ruang tamu dimana Aisyah sedang duduk dan menatapi langit-langit ruangan.
"Kak Ais pasti haus. minumlah..." kata Chiyome meletakkan botol besar berisi air es ke meja bersama gelas.
Aisyah tersenyum dan mengucapkan terima kasih, kemudian memgambil botol itu dan membuka penutupnya. ia menuang air kedalam gelas kemudian meminumnya dengan pelan.
"Alhamdulilah...." gumamnya sambil mengelus dada dan meletakkan gelas itu di meja.
"Kakak nggak marah kan, jika aku meminta sesuatu?" tanya Chiyome dengan senyum.
"Bilang saja. mo salah, mo benar, nanti kakak yang putuskan." jawab Aisyah.
"Boleh ajari saya cara membuat masakan pilitode?" tanya Chiyome.
Aisyah tertawa, "Kakak kira mau minta apa..." jilbaber itu mengangguk. "Sudah punya bahan dan bumbunya?"
"Semuanya sudah saya beli. ada di kulkas." jawab Chiyome sambil mengajak Aisyah ke pantry. "Bisa kita mulai sekarang?"
dan keduanya sudah sibuk di Pantry. Aisyah mengajari Chiyome cara membuat sayur yang digemarinya. gadis jepang itu dengan begitu semangat mengikuti segala instruksi yang dikatakan Aisyah.
sebenarnya, Chiyome menggunakan cara ini hanya agar bisa dekat dan mengintimi kakak serahimnya saja. dia ingin mengenal pribadi jilbaber itu lebih intens.
setengah jam, kegiatan memasak itu rampung. Chiyome benar-benar senang hari ini.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku mengolah masakan yang ku gemari, sendiri tanpa bantuan Ibu..." gumamnya dengan senyum yang lebar.
Aisyah sendiri hanya tersenyum melihat wajah bahagia gadis itu. jilbaber itu mengikuti langkah Chiyome meletakkan hidangan itu di meja. gadis itu tak lupa menyendok nasi di rice cooker dan meletakkannya di mangkuk besar.
di meja itu kini terhidang masakan karya gadis itu bersama dua piring berisi fried chicken yang dipesan. gadis itu mengangguk-angguk. matanya berbinar. ia menatap Aisyah.
"Terima kasih.... telah mengajari saya dengan baik." ujar Chiyome sambil membungkuk dengan hormat.
"Adek belum mencicipi... sudah memuji diri sendiri." sindir Aisyah setengah menggoda.
"Pasti enak!" tebak Chiyome langsung mengambil sendok dan merasai hidangan itu. senyuman terbit lagi di bibirnya. "Tebakanku, tidak salah.... sangat identik.."
"Alhamdulillah, kalau kamu suka. kakak senang." sahut aisyah.
"Ayo makan kak. aku ingin kakak merasakan hasil karyaku." ajak Chiyome dengan senyum jenaka.
Aisyah mengangguk lagi dan mulai menyendok nasi dari mangkuk besar dan mengambil sedikit masakan pilitode itu ke piringnya. ia menyantap hidangan itu bersama.
"Chiyo..." panggil Aisyah ditengah kegiatannya menyantap hidangan.
Chiyome memgangkat wajahnya.
"Kakak mau mendengar tentang kamu. ceritakanlah dirimu." pinta Aisyah kemudian menyendok lagi makanan dan menyuapkannya ke mulut.
Chiyome tersenyum hambar."Gak ada yang perlu diceritakan Kak. hidupku nggak seru."
"Ceritakanlah... biar kakak yang memutuskan apakah ceritamu menyedihkan atau menyenangkan." kata Aisyah.
"Kakak mirip Hubby.." rajuk Chiyome.
"Biarin..... kakak cuma mau tahu aja. Kakak heran, dari semua hidangan indonesia, kau memilih menu gorontalo. banyak daerah yang bisa kau kunjungi, tapi mengapa memilih gorontalo?" kata Aisyah.
"Kalau hanya Bali dan pulau lain itu sudah biasa dikunjungi. aku suka tantangan. jadi kupilih tempat ini. tempat ini membuat saya penasaran." jawab Chiyome dengan semangat.
"Penasaran dengan alamnya, atau penasaran dengan orangnya?" goda Aisyah lagi membuat Chiyome tertawa riang dengan wajah yang merona merah.
"Kak Ais tau?" pancing Chiyome.
Aisyah mengangkat alisnya. Chiyome melanjutkan. "Beberapa hari lalu, aku di ajak ke Benteng Otanaha. aku suka pemandangan disana. sebagian besar wilayah Gorontalo dapat dipantau melalui benteng itu." papar Chiyome dengan semangat. "Kurasa... kaum militer Gorontalo jaman dulu menyadari betapa strategis tempat tersebut sehingga membangunnya disana."
"Nggak. Papa hanya pedagang kecil saja. hanya saja beliau suka baca buku yang berhubungan dengan manajemen." jawab Chiyome kali ini dengan jujur.
bukankah ayahnya memang seorang saudagar, meskipun golongan tekiya, yaitu kaum pedagang yang terkoneksi dengan kelompok yakuza?. gadis itu menarik napas panjang lalu menghembuskan dengan pelan.
sejenak suasana menjadi canggung ketika mereka diam dalam kegiatan makannya. tiba-tiba Chiyome bangkit.
"Kakak mau selfie bareng saya?" pinta Chiyome.
Aisyah kembali tersenyum, "Boleh saja..."
Chiyome melangkah menjnggalkan Aisyah diruangan itu. ia ke kamarnya. tak lama kemudian, gadis itu muncul membawa sebuah kamera digital Sony.
keduanya mengambil pose berdua beberapa kali. setelah itu Aisyah bangkit dan pamit.
"Sudah malam. kakak pulang dulu, ya?" ujar Aisyah.
keduanya keluar hingga menuju sisi jalan.
"Kakak jangan bosan kemari ya?" pinta Chiyome.
Aisyah mengangguk lagi dan mengusap pipi gadis itu. ia menyetop sebuah bentor yang lewat lalu naik. kenderaan itu kemudian melaju meninggalkan rumah kontrakan gadis jepang tersebut.
sementara dalam bentor, Aisyah tetap termenung memikirkan mimpinya.
Siapa gadis iru ya?.... dia disamping Mama dan memanggilku kakak...
...*********...
Trias mendengarkan pemaparan ayahnya. acara yang sedianya akan dilaksanakan dirumah Murad dibatalkan. keluarga besarnya sepakat mengadakan acara pernikahan itu di Pesantren Hubulo, meskipun dengan cara yang sederhana sekalipun.
bagaimanapun Iyun adalah keturunan dari keluarga besar ulama yang membangun pondok pesantren terkenal di Gorontalo itu.
kepala yayasan yang juga masih kerabat dekat Murad memaksa acara dilangsungkan di Aula, setelah prosesi akad di masjid Pesantren.
__ADS_1
Endi juga tak bisa memaksakan, jika karena kemauan keluarga besar dari pihak perempuan menginginkan lebih perhelatan pernikahan dilaksanakan di Pesantren.
sewaktu Murad menghubungi keluarga besarnya, lelaki itu benar-benar di interogasi oleh semua anggota keluarga yang menyangka bahwa putri mereka telah melakukan hal yang menjerumuskan kepada kehinaan agama, dirinya, dan keluarganya.
Murad menjelaskan latar belakangnya secara jujur dan mengambil tindakan itu setelah melalui sholat istikharah selama 2 hari. akhirnya kepala keluarga Gobel itu setuju tapi mengajukan syarat bahwa semua pagelaran pernikahan harus dilaksanakan di pesantren.
Trias mengangguk-angguk. "Bagaimana dengan maharnya?" tanya pemuda itu.
"Aman... pokoknya kau tau beres saja. Papa yang atur." kata Endi sambil senyum-senyum.
...*********...
hari ini adalah momen paling mendebarkan bagi Trias dan Iyun. pemuda itu begitu gugup sampai-sampai lupa menghafal ijab qabul yang akan ia utarakan dihadapan penghulu.
dirumah keluarga Lasantu juga terjadi kesibukan yang besar. semua anggota keluarga itu sibuk berdandan sebaik mungkin agar dapat memiliki kesan yang baik pada acara tersebut. Kenzie berkali-kali menelepon Chiyome agar segera bersiap karena mereka akan menjemputnya.
Chiyome sendiri ingin memberi kesan dengan mengenakan pakaian asli negaranya sendiri yaitu kitsuke. kitsuke adalah sejenis kimono yang hanya digunakan untuk acara-acara khusus seperti pernikahan. gadis itu membuka kotak pakaiannya dan mengeluarkan selembar kimono yang disebut Homongi, karena digunakan untuk mengunjungi acara pernikahan.
karena status gadis itu belum menikah, maka ia mengenakan homongi yang memiliki bagian lengan lebih lebar, dengan kamon (lambang keluarga) Mochizuki yang tercetak di bagian punggung dan masing-masing belakang lengan.
Chiyome melilitkan obi-age untuk mencegah sabuk inti melorot. setelah itu gadis tersebut melingkarkan fukuro-obi kemudian mengikatnya dengan pola nijudaiko. ia menambahkan obi-jime agar posisi fukuro-obi tetap rapi.
gadis itu kemudian merias wajahnya dengan bedak tipis dan mewarnai bibirnya. rambutnya ia sanggul dengan apik gaya Kakkoi kawai.
tak lama terdengar bunyi klakson. keluarga Lasantu sudah menunggunya. gadis itu bergegas keluar lalu mengunci pintu rumah dan melangkah ke halaman. nampak ketiga anggota keluarga berdiri disamping mobil mereka.
Kenzie yang melihat penampilan Chiyome saat itu langsung tersedak sejenak kemudian terpana, begitu juga dengan Mariana, dan Aisyah. sedangkan Adnan hanya terkekeh.
"Kamu cantik sekali sayang." puji Mariana langsung memeluk Chiyome. "Mantu mama cantik ya?" ujar Mariana tanpa sadar.
"Mama...." tegur Adnan, Aisyah dan Kenzie bersamaan.
"Aduh jadi kurang konsen gara-gara dandanan calon mantu. ayo masuk." ajak Mariana tak memperdulikan wajah Chiyome yang benar-benar seperti kepiting rebus.
Adnan menyetir, Mariana disisinya. bagian tengah sengaja dikosongkan untuk mempelai pria dan ayahnya. Kenzie, Aisyah dan Chiyome duduk dibelakang.
sebenarnya Kenzie ingin duduk dekat Chiyome, tapi sengaja digoda Aisyah yang sengaja menempatkan dirinya diantara kedua orang itu. Chiyome sendiri beberapa kali menahan tawanya melihat Kenzie yang terus menggerutu melihat Aisyah yang bersikap tak perduli.
mobil melaju menuju rumah kediaman Endi. ayah-anak itu sudah menanti dijalan. Trias yang gugup berkali-kali membasuh peluh. Endi hanya tertawa melihat kegugupan putranya. seserahan diserahkan kepada Kenzie. kedua orang itu naik dan duduk ditengah.
mobil kembali melaju menyusuri jalanan menuju kelurahan Kramat, Kecamatan Tapa. wilayah itu terletak di Kabupaten Bone Bolango bagian utara.
mereka akhirnya tiba dan telah disambut oleh panitia. sekali lagi, penampilan Chiyome menjadi pusat perhatian dan seketika ia dan Kenzie menjadi selebritis sehari karena banyak santriwan dan santriwati yang meminta foto bersama.
bahkan ibu-ibu pondok ikut-ikutan berfoto ria bersama Chiyome. banyak santriwan yang iri dengan ketampanan Kenzie begitu juga dengan santriwati. keduanya begitu sempurna dalam pandangan mereka.
prosesi pernikahan dilaksanakan di masjid. Trias dibimbing oleh Endi dan Adnan memasuki masjid. Kenzie yang mendampingi Chiyome sedikit enggan untuk memasuki bangunan itu.
"Wiffy, kamu nggak apa-apa masuk masjid?" bisik Kenzie.
"Tentu saja bisa. dia kan belum haid. dia juga nggak najis." potong Aisyah yang langsung menarik tangan Chiyome masuk kedalam masjid kemudian duduk dibarisan ibu-ibu sementara Kenzie duduk dibarisan pria.
Trias duduk bersila mengenakan pakaian serba putih dan berkupiah putih. berkali-kali peluh mengalir dari pelipisnya membuat barisan bapak-bapak terkekeh melihat kecanggungan calon mempelai tersebut.
tak lama kemudian muncul Murad yang didampingi oleh pengurus pondok pesantren Hubulo. pria itu akan menjadi wali yang akan menikahkan putrinya kepada pemuda yang dicintai oleh putrinya tersebut.
dengan langkah mantap, Murad menuju tempat dimana Trias duduk kemudian ia duduk dihadapannya dipisahkan oleh meja kecil.
prosesi dimulai dengan pelafalan khutbatul Hajjah setelah itu Murad meminta Trias mengulurkan tangannya. pemuda itu dengan gugup mengulurkan tangannya kemudian dijabat oleh Murad dengan erat.
"Trias... Trias.... Trias.... Aku nikahkan dan kawinkan engkau, dengan putriku, Inayah Azura binti Murad Jalaluddin Gobel dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sebongkah emas 50 gram dibayar tunai..." ucap Murad melafalkan ijabnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Inayah Azura binti Murad Jalaluddin Gobel dengan mahar tersebut tunai!" jawab Trias melafalkan qabulnya.
"Bagaimana?" tanya Murad kepada hadirin.
seketika terdengar suara koor memenuhi ruangan masjid.
"Saaaaaahhh....."
Murad memimpin doa diikuti oleh para hadirin. "Semoga Allah memberkahimu diwaktu senang dan memberkahimu diwaktu susah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan....."
__ADS_1
tak lama, muncul Iyun mengenakan pakaian tertutup serba putih. jilbabnya dihiasi dengan hiasan melati membuatnya nampak bagai bidadari hari itu. bahkan Trias sendiri terpana, tak menyangka istrinya akan secantik itu jika didandani.
dengan dibimbing oleh bibi-bibinya, gadis itu kemudian didudukkan. Trias mengulurkan tangannya dan Iyun menjabat serta menciumnya. Trias merasakan punggung tangannya basah oleh air mata kebahagiaan gadis itu. wajah Trias mendekat dan mencium ubun-ubun wanita yang sekarang sah menjadi bagian hidupnya. []