Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 178


__ADS_3

Stephen, Andy, Aldi, Bambang dan dua orang anggota Pasopati lainnya telah mengepung tempat itu. bahkan Aldi berani memanjati sekat tembok supaya bisa bersembunyi di belakang bangunan, mencegah jika Stefan hendak melarikan diri. Andy menatap Bambang.


"Bagaimana? kita dobrak saja?" desak Andy.


Bambang melihat arlojinya. waktu Trias tidak cukup untuk tiba ditempat ini. Bambang akhirnya mengangguk. seketika Stephen yang berada didepan pintu, langsung menendang pintu tripleks tersebut hingga jebol dan langsung mengarahkan pistol G2 Elite kedalam.


"Polisi!!! Angkat tangan!!!" seru Andy.


Stefan blingsatan bangun dan refleks langsung melesat lari menuju dapur. Stephen mengejarnya. Stefan membuka pintu belakang dan baru saja ia melongokkan kepala, sikut Aldy hinggap dipelipisnya.


Stefan terbanting membentur pinggiran pintu dan terjatuh. segera Aldi mengarahkan moncong G2 Elite dan menembak tanah sekitaran Stefan yang sementara terlentang.


DORR DORR DORR!!!!


TAK TAK TAK...


lelaki itu ciut nyalinya saat mendengar letusan pistol berselang sedetik terdengar suara proyektil yang menyambar nyaris sesenti lewat dibagian telinganya.


kesempatan itu dimanfaatkan oleh Stephen yang langsung meringkus dan menelungkupkan Stefan lalu menarik tangannya ke belakang. Aldi melemparkan borgol dan dengan cekatan Stephen memborgol pergelangan tangan lelaki tersebut.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Stefan sambil meronta.


Stephen yang gemas langsung menampar tengkuk lelaki itu. "Badiam ngana anjing!! nya mo badiam ngana?!" hardik lelaki minahasa itu.


Stefan masih melirik dengan tatapan marah. "Kalian akan menyesal nanti! aku pastikan kalian akan menyesal!!"


"Te Buahanga ti de bo moturusi bisala uamu..." geram Aldi. (Si kumbang kelapa ini masih tetap bicara terus ya?)


Stephen menarik paksa Stefan agar berdiri. lelaki ringkih itu menatap tajam Stefan. sementara lelaki bejat itu sudah dipegang oleh Aldi.


"Kau! sekali ku ayunkan tinju, rubuh kau!" ejek Stefan dengan senyum mengejek.


Stephen tertawa, "Terserah jo ngana mo bilang apa... nanti jo baku dapa torang di bok (tikungan) kong baku lia sapa yanf morubu." balasnya mengisyaratkan Aldi untuk menggelandang Stefan keluar dari bangunan itu. di luar sudah menanti Bambang, Andy dan dua orang anggota Pasopati lainnya.


warga berkerumun ingin melihat apa yang sementara berlangsung. mereka sedikit ciut melihat beberapa opsir berpakaian biasa namun menenteng pistol dan senapan jenis Sabhara V2 yang disandang dua anggota Pasopati lainnya. dari dalam gedung, muncul Stefan yang digelandang paksa oleh Aldi dan Stephen.


Trias datang terlambat dilokasi. lelaki itu menyibak kerumunan warga dan menemukan Bambang. lelaki dari suku Sangir Siau itu mengomelinya. "Kenapa nyanda datang jo jam dua pagi? pe lama da ba tunggu pa ngana so pastiu satu-satu. jadi torang so sepakat ba wako pa dia tanpa ngana."


Trias tertawa, "Sori, Bro. Ana baru dari Suwawa, menyambangi keluarga korban. aku baru mengabarkan pada mereka bahwa kita sudah menemukan pelaku." Trias kemudian melihat-lihat. "Mana Stefan?"


Bambang menunjuk ke sebuah mobil. Trias menatap mobil itu dan melangkah kesana. disana sudah ada Andy, Aldi, Stephen, Tiko dan Koko, dua personil Pasopati yang menyandang senapan semi otomatis, Sabhara V2. ditengah Aldi dan Stephen, nampak seorang lelaki berkulit putih tabo. Trias mengambil gambarnya dengan kamera lalu mengirimkan gambar itu lewat aplikasi whatsapp ke Kenzie.


📱"Apakah ini, orangnya?" ketik Trias di papan pesan.


tak lama kemudian muncul balasan.


📱"Ya... itu dia! aku akan ke kantormu saat ini juga." jawab Kenzie pada papan pesan whatsapp.


Trias mengangguk-angguk lalu menyimpan gawainya. ia mendekati Bambang. lelaki itu membisikkan sesuatu kepada Bambang dan ia akhirnya manggut-manggut.


"Oke bro. nanti kita ketemu disana." jawab Bambang.


Trias mengangguk lalu berbalik kembali menyibak warga. ia menuju ke Maung hitam kebanggaannya.


...*******...


Kenzie menyimpan gawai dan menatap anggota keluarganya. "Stefan sudah ditemukan. ia sudah diringkus."


bagaikan mendapat guyuran air es, seluruh anggota keluarga serentak menangis gembira, terkecuali Adnan, Kameie dan Sandiaga.


anak itu bengong menatapi ibunya yang berpelukan sambil menangis dengan neneknya. sementara Fitri menangis menyandarkan kepalanya pada lengan Kameie. lelaki jepang itu mengeraskan rahangnya mengusir air mata yang mulai menerobosi kelopak matanya. Adnan tersenyum lalu menyeka air mata yang meleleh.


"Lalu? bagaimana sekarang?" tagih Kameie.


Kenzie menatap mertuanya. "Kita kesana. Wiffy jaga Mama dan Okaasan...." ujarnya, kemudian ia mengerutkan alis teringat sesuatu. "Dan Sandiaga juga...."


Chiyome mengelap air mata dengan telapak tangannya lalu mengangguk. "Wiffy menunggu berita baik dari Hubby dan Trias."


Kenzie menatap istrinya lalu mengangguk. "Insya Allah..." jawabnya sekenanya.

__ADS_1


Kenzie menatap kedua ayahnya dan mengisyaratkan untuk mengikutinya. sayangnya, mobil milik Chiyome belum bisa digunakan karena masih ditahan pihak kepolisian sebagai barang bukti kasus tersebut. ketiganya menaiki Mac Laren kuning milik Kenzie dan kendaraan itu melaju meninggalkan Kediaman Mantulangi.


...******...


Trias bersandar didepan bemper Maung hitamnya. lelaki otu menghalangi terik cahaya matahari pada matanya dengan menggunakan kacamata rayben Mac Arthur. kendaraan otu diparkir disebuah jalan sunyi pada bagian hutan utara Gorontalo. opsir itu mengeluarkan revolver raging bull dari holster dan memutar-mutarnya bagai seorang cowboy berlatih kecepatan menembak.


tak lama kemudian, muncul mobil boks yang dikendarai Bambang Cs, membawa Stefan. kendaraan itu berhenti didepan Maung hitam milik Trias.


sejenak lelaki itu menatap ke segala arah, memastikan tidak ada warga yang melintas. hal ini untuk mencegah bocornya kegiatan yang mereka lakukan sekarang. kegiatan ini tidak ada dalam prosedur penangkapan. jika ketahuan, bisa bahaya dan menyebabkan keseluruhan anggota Pasopati terkena skors.


setelah yakin tak ada siapapun dikawasan itu, Trias melangkah mendekati bagian belakang mobil boks dan mengetuknya tiga kali. pintu belakang terbuka dan tubuh Stefan didorong keluar hingga jatuh terjerembab ke jalanan aspal oleh Aldi.


Stefan memaki-maki dalam bahasa daerah. Aldi tidak perduli. ia turun disusul oleh Stephen, Andy dan Bambang keluar dari pintu depan. sementara Tiko dan Koko diperintahkan berdiri siaga tanpa senjata, mengawasi keadaan sekitar.


"Kemana aku dibawa?! kalian mau membawaku kemana?!" teriak Stefan.


PLAK!!!!


Stephen menampar Stefan membuat lelaki itu mengalami luka di bibir. opsir bertubuh ringkih itu mengumpat. "Ta so bilang pa ngana badiam kasana, kuda cuki, deng ngana. satu kali lagi ngana mba suara, ta kase makan tai kuda ngana ****!!!" umpat Stefan.


Stefan terpaksa diam dengan tatapan marah yang hampir tak dapat ditahannya. Aldi membawanya diiringi kawanan Pasopati yang lain masuk ke dalam hutan.


Trias menatap beberapa pepohonan yang tumbuh disana dan ia menemukan sebuah batang pohon yang sesuai untuk mengikat Stefan.


"Ikat dia disana." pinta Trias.


Aldi kembali mendorong Stefan berjalan menuju sebuah batang pohon. tanpa melepas borgol, ia mengikat kedua lengan lelaki berkulit putih tabo itu dibatang pohon dengan tali. Stefan hanya bisa diam dalam protesnya. ia sudah menyangka akan disiksa seperti ini. entah materi pertanyaan yang bagaimana sedang mereka olah untuk membuatnya tersiksa?


"Telanjangi dia." pinta Trias.


Stephen terkekeh menatap Stefan dengan pandangan nakal. lelaki itu langsung memandang opsir ringkih itu dengan jijik. dia pasti akan mencabuliku....


Stephen mengeluarkan sebuah gunting lipat lalu maju dan mulai menggunting kaos Stefan, berikut celana lelaki itu hingga Stefan kini dalam posisi terikat dan nyaris telanjang. barang panjang miliknya nampak menggembung dibalik cawat hitamnya.


"Semuanya! tanpa terkecuali." tambah Trias.


Stephen tertawa dan menggunting cawat hitam Stefan hingga barang kejantanan lelaki itu yang panjang langsung menjuntai keluar. semua anggota Pasopati yang hadir langsung menggodanya.


"Brengsek! mau apa kalian?! jangan-jangan kalian mau melecehkanku?!" teriak Stefan kembali meronta-ronta.


Trias menatap Stefan sejenak lalu memandang Stephen. "Kau bawa tali rafia?"


Stephen tersenyum jenaka. "Ada." ujarnya mengeluarkan gulungan kecil tali rafia.


"Bagus... kamu sudah tahu, kan? lakukan sebagaimana yang sudah-sudah." pinta Trias.


dengan senyum bengis, Stephen kemudian mendekat ke arah Stefan lalu berlutut dihadapannya. lelaki itu kemudian mengalungkan tali itu pada batang senggama Stefan, tepat pada garis antara batang dan kepalanya. setelah itu, ia mencari-cari sesuatu disekitaran dan menemukan sebongkah batu besar. benda itu diikatkan pada tali itu menjadi semacam bandul.


beban batu dan ikatan pada batang senggamanya, membuat Stefan didera rasa sakit yang luar biasa pada pada bagian itu. selain menyengat hingga ke daerah sekitarnya, ikatan tali rafia itu menggencet urat besar pada tonggak miliknya. Stefan mengerang-ngerang menahan sakit.


semua opsir tertawa melihat pemandangan itu. mereka memang paling membenci pelaku pemerkosaan. itu baru metode awal. selanjutnya bahkan akan terasa sadis.


Trias menatap Stefan yang mengerang kesakitan. "Kenapa? Sakit? bukankah lalu batangan itu dengan perkasanya mengebor lobang yang tanpa pelumas hingga mengakibatkan lecet dan luka? pemiliknya nggak tahan dan meninggal ditempat gara-gara lukanya?" lelaki itu melangkah mendekat. "Ini masih terlalu ringan, Stefan..." cemooh Trias. "Mana keperkasaan batang senggamamu itu? aku mau lihat kehebatannya." Trias lalu menatap Bambang.


seperti paham dengan keinginan partnernya, Bambang terkekeh lalu melangkah meninggalkan tempat itu. Trias kembali menatap Stefan.


"Kau harus membeberkan semua kronologisnya, motif dan segalanya! nggak ada yang boleh kau lewatkan!" ujar Trias mengintimidasi.


tak lama kemudian, Bambang muncul membawa sebuah tas kecil. "Aku susah payah meminta ini dari Maya. kau tahu? dia bahkan menuduhku selingkuh." gerutunya.


"Nanti aku yang bilang ke Maya." jawab Trias.


Maya Rolot, istri dari Bambang menjalani profesi sebagai bidan. ia memiliki segala lengkap tentang obat, termasuk cairan injeksi. dan Bambang mengeluarkan sebuah alat injeksi yang sudah diisi cairan Alprostadil (injeksi penghilang impoten).


"Bagaimana? kau yang suntik, atau aku lagi?" tanya Bambang.


"Ya... kaulah... kau kan bidan kepolisian." olok Trias dibarengi tawa yang lainnya, terkecuali Stefan yang mengerang dan sesekali meringis.


"Tapi aku nggak tanggung jawab ya, kalau orang ini mengalami priapismus." kata Bambang.

__ADS_1


"Dia malah suka seperti itu." kata Trias dengan datar.


Bambang mengangkat bahu lalu mendekati Stefan. lelaki itu sedikit meronta.


"Apa yang akan kau lakukan padaku?! singkirkan itu dariku!!" teriak Stefan.


"Tenang saja. aku akan memberikan kenikmatan baru untukmu." jawab Bambang dengan senyum mengejek sambil membuka penutup alat injeksi lalu menggenggam batangan senggama milik Stefan. lelaki itu menyuntikkan injeksi alprostadil kedalam daging panjang itu.


Bambang berdiri setelah melaksanakan tugasnya. "Sudah... nanti kamu tahu sendiri." ujarnya lalu menjauh.


efek aprostadil yang disuntikkan Bambang langsung membuat senjata ***** milik Stefan langsung ereksi sedemikian tegang dan kencangnya. sangat nampak urat-urat besar bertonjolan. namun justru disinilah penderitaannya. gencetan tali rafia yang digantungkan tali sebagai bandul makin membuat batang falus milik Stefan terangguk-angguk, antara keinginan melakukan senggama dan perlawanan melawan berat bandul batu yang digantungkan pada leher falus nya. Stefan makin mengerang kesakitan.


Trias kembali maju. dia berhadapan dengan Stefan yang sementara tersiksa menahan birahinya yang memuncak akibat suntikan pencegah impoten itu. linggamnya benar-benar mengalami ereksi tanpa batas waktu.


"Sekarang ceritakan padaku... bagaimana kau bisa menculik mereka berdua?" tanya Trias dengan datar.


Stefan mengerang, "Mengapa kau tanyakan.... aduh... itu?!... aaakhhh.... aku nggak bisa jawab!!...uuooohhh..."


"Lho? mengapa? bukankah kau pelakunya? ayolah, jangan buat aku tak sabaran... penderitaanmu akan kutambah jika kau tak menjawabnya." ancam Trias.


Stefan mengerang, "Asssyyyy.... singkirkan dulu... iiiissss... iniiii..." pinta lelaki itu dengan wajah menderitanya.


Stefan kembali mengerang dan memerem-melekkan matanya. rahangnya mengencang dan giginya gemeretuk. Andy mendekat.


"Kasihan Bro. jangan siksa dia begitu." ujar Andy berlagak iba. "Orang kalau lagi s***e, nggak akan konsentrasi jawab pertanyaanmu."



Trias meliriknya. "Lalu, aku harus bilang Wow, gitu?" ujar lelaki itu menirukan sebuah meme.


Andy tertawa mendengarnya sedang yang lainnya terkekeh. lelaki botak mirip tampang Kratos, si dewa perang dalam game playstation itu mengangkat telunjuknya keatas.


"Gampang... orang s*****n ini kita tuntaskan saja." ujar Andy dengan wajah jenaka yang nakal.


"Terserah kamu sajalah. yang penting dia menjawab pertanyaanku!" omel Trias.


Andy tertawa dan mengeluarkan lotion dari saku celana dilututnya. ia mendekati Stefan. sang tawanan tahu apa yang akan dilakukan oleh opsir plontos itu. ia menggeleng.


"Jangan! jangan lakukan itu! jangaan..." pintanya memelas.


dan Andy dengan tidak perdulinya langsung menuangkan lotion itu keseluruh linggam milik Stefan. dia kemudian menatap Trias.


"Sekarang tanyain dia!" pinta Andy.


Trias menatap Stefan." Sekarang jawab pertanyaanku."


Andy langsung menggenggam falus Stefan yang menegang dan mulai memijatinya. Stefan kembali mengerang keras. Trias tak perduli dan tetap mengajukan pertanyaan.


"Jawab, Telelilamu tiii!!! tapualemu, tinggolopumu!!!" semprot Trias dengan gahar.


Andy merubah pijatannya menjadi kocokan yang makin lama makin cepat. Stefan benar-benar dilanda penderitaan. dia terjebak dalam suasana wajib menjawab pertanyaan Trias dan menuntaskan birahinya akibat barangnya dipermainkan Andy. sementara Trias terus membentaknya, mendesak agar lelaki itu menjawab pertanyaannya.


akhirnya Stefan memilih menuntaskan hasrat purbanya. diiringi lenguhan panjang ia menyemprotkan saripatinya yang kental. sialnya, air itu tumpah memenuhi celana Trias tepat pada selangkangannya.


Trias memekik kaget ketika menyadari celananya dibasahi cairan itu. dengan geram, diayunkan tinjunya yang besar itu ke rahang Stefan.


PROK!!! UGH!!!


wajah Stefan terbanting kesamping lalu terkulai. ia pingsan. Trias mencak-mencak.


"Teleliloloooo!!!! bar-bar sekali becandamu, Andy!!! lihat nih!" omel Trias menunjuk celananya yang dibasahi cairan milik Stefan tepat dibagian retsluitingnya. "Ini p***hnya si tabo krna dicelanaku nih!. gimana kalau Ipah lihat?! bisa mampus aku dikiranya selingkuh!"


semua anggota Pasopati tertawa melihat Trias yang kelimpungan. dengan geram Trias menatap Stefan yang pingsan. "Lepaskan ikatannya. pakaikan dia sarung! jangan lepaskan bandulan pada pelernya! brengsek! dia harus merasai pukulanku!" perintah Trias. "Bawa buahanga ini ke mobil!"


Aldi tanggap langsung mengiris tali yang mengikat tubuh Stefan yang menggantung. Stephen dan Andy langsung menggotongnya mirip bangkai babi yang baru saja selesai diburu.


kawanan itu keluar dari hutan. Stefan yang pingsan, buru-buru dijebloskan ke mobil boks. Bambang memandang Trias. "Mau kemana kau?"


"Pulang! aku ganti pakaian dulu!" omel Trias. ia lalu menggerutu sambil menaiki Maung hitamnya. "Kalau Ipah salah paham, bisa mampus aku...."

__ADS_1


kedua kendaraan itu berpisah jalan.[]


__ADS_2