
Yanto Lapananda adalah seorang aparat sipil negara lulusan IPDN dengan nilai cumlaude. sekarang ia menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Hukum di Kantor Kesekretariatan Propinsi Gorontalo. itu sebabnya ia memiliki banyak koneksi dengan pihak kepolisian, kejaksaan, firma hukum dan beberapa pengusaha. segudang prestasi telah ditorehkannya hingga Pejabat Sekretaris Propinsi melimpahkan jabatan tersebut kepadanya dan sebagai seorang yang berdedikasi tinggi, Yanto dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
namun akhir-akhir ini kinerja pejabat itu sedikit menurun akibat wafatnya sang putra tercinta. dalam upaya menelusuri pembunuh anaknya, Burhan menghubungi seorang relasi yang kemudian memperkenalkan dirinya dengan seorang lelaki pilih tanding yang terkenal sebagai jawara. lelaki itu adalah Bubu.
di Gorontalo sendiri sebenarnya banyak pendekar-pendekar yang tersebar. Bubu dulunya adalah orang kedua yang ditakuti oleh para penjelajah dunia bawah tanah. jawara paling hebat waktu itu adalah seorang bernama Ateni.
kalau Bubu menguasai wilayah sekitara Biawu sampai Batuda'a, maka Ateni menguasai wilayah dari Kabila, Tapa, Atinggola, dan Suwawa. lelaki itu terkenal dengan kekebalannya terhadap senjata tajam maupun peluru.
suatu kali, musuh-musuhnya berhasil menjebaknya dengan memasukkan seorang ******* kedalam kamarnya, membuat Ateni bercinta tepat pada malam dimana semestinya ia pantang melakukan hal tersebut. peristiwa itu berhasil merenggut kekebalan Ateni hingga musuh-musuhnya mendobrak masuk dan mencincang Ateni didepan ******* itu hingga tewas menggenaskan.
kematian Ateni menaikkan status Bubu menjadi satu-satunya jawara teratas di Gorontalo. suatu ketika seorang relasi memperkenalkan Bubu kepada Yanto Lapananda. lelaki itu kemudian menyanggupi permintaan Yanto lalu menghubungi para koleganya. permintaan itu dikabulkan oleh kelompok anak punk yang biasa mejeng di jembatan Potanga.
mereka menjebak dan mengeroyok Trias hingga akhirnya membunuh Iyun. Trias kemudian disekap digudang milik kelompok itu yang terdapat di Leato Selatan, beberapa blok dari Pelabuhan Ferry.
amarahnya tersulut kembali ketika mendengar laporan Trias diselamatkan oleh Endi dan Kenzie. beberapa pengawal tewas oleh jarum beracun. racun dalam jarum itu ditengarai adalah Cobroxin yang setara dengan Sianida. begitulah kira-kira penjelasan ahli forensik.
...********...
03 Januari 2020, pukul 09.00 WITA
Pagi itu di kantor, Yanto yang terlihat berwibawa mengenakan seragam khaki coklat yang lengkap dengan pin, bet nama, tanda pangkat dan penghargaan harian dan sederet tanda penghargaan lainnya tersemat diseragamnya itu.
lelaki itu sedang meneliti sebuah berkas ketika seorang wanita mengenakan kemeja putih dengan rok warna coklat pudar, mengetuk pintu. wanita itu melongokkan wajah kedalam ruangan dan memberitahu Yanto bahwa ia kedatangan tamu.
"Suruh masuk!" perintah Yanto sambil meletakkan berkas itu disisi meja dan meletakkan kacamatanya diatas berkas itu.
Pintu terbuka dan Adnan muncul memgenakan kaus berkerah warna hitam yang dipadu dengan celana jins berwarna biru lusuh. lelaki itu memegang ponsel ditangannya. dipergelangan tangan kanannya melingkar sebuah arloji handmade seorang pengrajin dari Swedia. selain itu jemari kanannya menjepit sebuah buku agenda dan ponsel. tampilan itu menegaskan orang akan dirinya yang seorang pengusaha kawakan.
Yanto mempersilahkannya masuk. "Lama tidak bertemu. bagaimana ladang usahamu? " sapa Yanto. lelaki itu kemudian memencet sebuah bel kecil disisi meja. sementara Adnan duduk dengan tenang disofa ruangan itu.
tak lama kemudian muncul seorang wanita berpakaian dinas. Yanto menatapi Adnan.
"Kau mau minum apa?" tanya pejabat itu.
"Kau sudah tahu kebiasaanku, kan?" jawab Adnan tersenyum.
Yanto mengangguk lalu menatapi wanita itu. "Buatkan dua cangkir kopi latte cappucino."
wanita itu mengangguk lalu meninggalkan ruangan. Adnan sejenak mengamati punggung dan pantat wanita itu ketika ia membuka dan menutup pintu. Yanto tertawa.
"Kau itu sudah berumur, masih juga senang memandangi pantat perempuan. lagi kena pubertas kedua, ya? olok Yanto.
Adnan tertawa. "Kau juga tak berubah sejak terakhir kita merayakan kelulusan di SMP."
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." kata Adnan seraya meletakkan ponsel, tablet dan buku agendanya di meja. "Tapi sebelumnya ada yang ingin kutanyakan."
"Silahkan ... katakan saja." kata Yanto dengan nada ringan.
"Kudengar kau mengadakan penyelidikan mandiri, lepas dari konformasi pihak kepolisian... apakah kau sudah menemukan pembunuh anakmu?" selidik Adnan tapi wajahnya tetap datar saja.
pertanyaan lelaki itu membuat Yanto sejenak berdiri lalu melangkah ke pintu dan mengamati para pegawai yang sementara bekerja melalui dinding kacanya. setelah itu Yanto melangkah dan duduk disofa dekat Adnan.
"Aku belum menemukannya. usahaku masih nihil kali ini. " jawab Yanto dengan gurat kecewa yang begitu nampak bercampur rasa kesal.
Adnan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan mencorongkan pandangannya kepada Yanto membuat lelaki itu menjadi canggung dan gugup. pejabat itu kemudian menatapi Adnan yang masih duduk dengan sikap semula. menelanjangi psikologis teman bicaranya...
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Yanto.
__ADS_1
tak lama kemudian, wanita berseragam itu masuk lagi membawa baki kecil lalu meletakkan dua cangkir tersebut diatas meja, kemudian meninggalkan ruang tersebut dan menutup pintunya segera.
"Baiklah.... aku langsung ke inti masalahnya saja." kata Adnan dengan tatapan dingin mendorong tubuhnya kedepan Yanto.
"Apa motifmu sampai mau menculik Trias?!" todong Adnan langsung. pejabat itu langsung kaget bukan main.
"Dari mana kau tahu???" tanya Yanto dengan lirih.
pejabat itu terkejut. tiada satupun yang tahu, bahkan pihaj kepolisian sekalipun dan kini Adnan dengan enteng mengungkit hal tersebut.
"Itu nggak penting." kata Adnan sambil mengibaskan tangannya. Yanto tak sadar menjadi tegang. lelaki ini berbahaya....
"Aku hanya ingin tahu apa motifmu ketika kau menculiknya." ujar Adnan sambil menyapukan kedua tangan di perutnya. "Apakah kau berpikir anak itu pelakunya? atau ia memiliki kaitan dengan pelaku pembunuhan anakmu?"
"Dari mana kau tahu?" kali ini nada bicara Yanto mulai menegang.
Adnan sekali lagi menyeruput kopi dan tidak memperdulikan Yanto. setelahnya ia meletakkan kembali cangkir itu dimeja. kembali Adnan mencorongkan tatapannya yang sangat tajam itu ke wajah Yanto.
"Trias sendiri yang bilang padaku." ungkap Adnan dengan jujur, kemudian lelaki itu mencondongkan tubuhnya dan mengangkat telunjuknya yang kekar itu ke wajah Yanto."Aku sendiri sudah melarangnya menyebut-nyebut namamu kepada pihak penyidik."
Adnan kembali menyandarkan punggungnya disandaran punggung sofa tersebut.
"Setidaknya anak itu sudah membantu menjaga kehormatanmu sebagai pejabat yang disegani." tatapan tajam Adnan terasa kali ini bagai hujaman sembilu yang mengiris keberaniannya. "Apa kau pikir anak itu pelakunya hingga kau menyiksanya, membuatnya menderita, menggasak tubuhnya... wooh... sadis juga kau ya?" sindir Adnan sambil tersenyum sinis.
"Kalau kedatanganmu hanya untuk mempermalukan aku, sebaiknya kau pergi saja." tantang Yanto.
CIPRATTTT....
tanpa disangka Yanto, Adnan mengambil cangkir dan melemparkan sisa minumannya ke wajah lelaki itu. Yanto langsung gelagapan menyeka wajahnya dan menatapi Adnan dengan kemarahan yang hampir memuncak, namun tak mampu dilampiaskan karena akan mempengaruhi wibawanya dikantor. untunglah kantor itu sepi. tak ada satupun pegawai yang memasuki ruangannya.
"Jangan potong pembicaraanku sampai selesai!" kata Adnan sambil menudingkan telunjuknya keatas.
cepat Yanto mengelap wajahnya yang belepotan ampas kopi. Adnan menghela napas dan kembali menatapi pejabat itu.
"Kau melakukan sesuatu yang membuatku tersinggung. perlu kau tahu kalau Trias itu putra adopsiku?" ujar Adnan lagi dengan nada bicara yang makin menekan.
"Tapi perempuan itu tidak." timpal Yanto dengan cepat.
"Perempuan yang mana?" todong Adnan.
"Perempuan yang dari jepang itu. dia tak ada hubungannya dengan keluargamu kan? aku akan menginterogasinya tanpa meminta ijinmu!" kata Yanto kali ini dengan nada yang agak tinggi karena tak mampu lagi menahan emosinya.
Adnan kembali tertawa pelan. "Kau ini rupanya senang sekali bermain-main dengan keluargaku ya? kau suka menyusul putramu?"
"Apa itu ancaman? anak perempuan itu siapanya kamu? jangan-jangan dia itu sugar baby mu?" ejek Yanto sambil meringis.
BLETAKKKK....
kali ini Adnan menampol kepala Yanto dengan buku agendanya. bukan sekali, melainkan tiga kali. membuat Yanto makin bingung ditengah rasa sakitnya karena dihinakan seperti itu.
setelah puas melecehkan lelaki itu, Adnan mengambil tabletnya dan mengaktifkan fitur video lalu memperlihatkan video upacara pernikahan Kenzie dan Chiyome lalu menyodorkannya kepada Yanto.
"Lihat dan simpulkan sendiri dengan otak jongkokmu itu. siapa perempuan yang sudah kau lecehkan namanya itu." kata Adnan sambil menahan emosinya.
Yanto menerima tablet itu dan menonton upacara pernikahan Kenzie sejak ijab qabulnya hingga upacara adat yang diselenggarakan dirumah keluarga Mochizuki. terperangah lelaki itu dan kembali menatapi Adnan yang tak mempedulikannya. lelaki itu sibuk menekan nomor panggilan. tak lama kemudian terdengar sebuah panggilan dan Adnan mengaktifkannya.
📱"Ah ya Assalamualaikum, Pak Sekprov... wololo habari? piyo-piyohu? alhamdulilah... ooooh... mowali.. to le Yanto, watiya... ju....ju... Insya Allah.. ju... Wa alaikum salam." (Ah ya Assalamualaikum, Pak Sekprov... bagaimana kabar? baik-baik? Alhamdulillah... oh, bisa... ada bersama pak yanto... ya...ya... insya allah... ya wa alaikum salam.) Adnan menutup kembali pembicaraan selulernya lalu menatapi Yanto dengan sinis.
__ADS_1
"Sudah tau siapa status anak iru?" todong Adnan dengan dingin.
Yanto mengangguk cepat. Adnan juga mengangguk. "Jadi... kau sudah tahu berhadapan dengan siapa?" todong Adnan lagi.
Yanto kali ini ikut mengangguk cepat.
"Bagus.... Jadi kuingatkan padamu.... jangan pernah menyentuh anggota keluargaku. kau tahu siapa aku, Yanto. jangan undang aku melakukan sesuatu yang terburuk padamu.... atau keluargamu!" tandas Adnan merampas tablet itu dari tangan Yanto.
Yanto benar-benar mati kutu. kena kartu mati. dia stuck. Adnan terkekeh seakan menertawakan kegoblokan pejabat pemerintahan propinsi itu.
"Yanto.... kalau mau menyelidiki, carilah yang benar... jangan main caplok kamu." tegur Adnan. "Apa karena Trias dan Kenzie bisa beladiri lalu kau berasumsi bahwa Trias yang membunuh anakmu? picik benar otak pintarmu itu ya?"
Yanto diam saja. ia benar-benar menemui jalan buntu. Adnan menghela napas lagi.
"Kita ini temenan Yanto. sekampung lagi. jadi dimintakan tolong padamu, JANGAN MELAKUKAN HAL YANG DAPAT MENCIDERAI PERTEMANAN KITA.... apa kau mengerti? pahamkan betul-betul di otak monyetmu itu, ya?" kata Adnan sambil berdiri.
"Kita ketemuan lagi besok. sabtu bagimu libur, kan? jangan bilang kalau kau masih mencoba bermain dalam lumpur lagi?" tantang Adnan.
Yanto menghela napas lalu mengangguk. "Baik....kita ketemuan dimana?"
"Mawar Sharon Telaga, pukul 3 siang. jangan lupa bawa orang bernama Bubu. aku mau bicara langsung padanya." kata Adnan kemudian melangkah pergi tak perduli meninggalkan Yanto yang mengumpat-umpat sendirian di ruangan itu.
...**********...
Aisyah melangkah santai memasuki kampus UNG, ketika seorang pemuda muncul lagi menjajarinya. jilbaber itu memalingkan wajah menatapi pemuda tersebut.
"Stefan?" gumam jilbaber itu menghentikan langkahnya sejenak.
"Ya, aku... siapa lagi?" kata pemuda itu dengan senyum dikulum.
Aisyah hanya tersenyum lalu melangkah lagi. ia membiarkan pemuda itu menjajarinya. apalah haknya mengusir pemuda itu karena kampus adalah lokasi umum, bukan milik pribadi. siapapun berhak memakai jalanan iru, mau menjajari, menyalip, bahkan mau guling-gulingan di jalan itu juga tidak ada yang melarang.
Aisyah pernah dengan bahwa Stefan adalah seniornya di jurusan sastra. orangnya aktif dalam kegiatan pecinta alam dan program bela negara seperti resimen mahasiswa.
keduanya terus menyusuri jalanan kampus itu hingga akhirnya mereka tiba di gedung sastra. "Aku duluan ya."
Aisyah mengangguk pelan. Stefan hendak berbalik ketika ia menahan langkahnya dan berbalik kembali.
"Kau punya waktu sore ini?" tanya Stefan.
"Nggak. aku harus menemani Bakri bertemu Papa di rumah sore ini." jawab Aisyah.
"Siapa itu Bakri?" tanya Stefan dengan wajah berkerut.
"Sepupuku dari Poso. dia kuliah di IAIN Sultan Amai. semester 7. sedikit lagi skripsi." jawab Aisyah.
"Mengapa dia harus ke rumahmu?" cecar Stefan. sejenak kening Aisyah mengerut menatapi pemuda itu. namun akhirnya ia menjawabnya juga.
"Papa yang ngundang... bukan aku." jawab Aisyah.
segurat kecewa muncul diwajah pemuda itu. Aisyah bisa memahaminya. jilbaber itu tersenyum. "Malamnya aku lowong...."
"Kalau begitu, malam saja, aku membawamu santai boleh? kita ke Q-Mart." ajak Stefan.
lama Aisyah diam, hingga akhirnya anggukan pelan kembali muncul dari wajah jilbaber itu. Stefan langsung tersenyum
"Yessss...." ujarnya lirih.
__ADS_1
"Kalau begitu aku cabut ya. nanti aku jemput ke rumahmu boleh ya? nomor ponselmu?" tanya Stefan.
Aisyah memberikan nomor selulernya dan Stefan mencatatnya di memori ponselnya. setelah itu ia berbalik dan melangkah dengan senyum yang lebar. []