Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 24


__ADS_3

Murad Gobel berdiri dengan tatapan nanar. Trias langsung melepas pelukannya dan berdiri dalam keadaan yang sangat canggung. pria itu menatapi putrinya yang ketakutan.


"Iyun, masuk!" perintah Murad.


tanpa membantah, Iyun langsung bangkit dan berlari masuk kedalam rumah, ke kamarnya dan mendekatkan kepalanya di pintu untuk mencuri dengar.


"Oom... saya bisa jelaskan.." kata Trias memelas.


"Kau masuk!" perintah Murad membuat Trias terpaksa mengangguk dan melangkah masuk kedalam diikuti oleh Murad.


"Duduk!" perintah Murad menunjuk sofa. pemuda itu duduk disofa seperti seorang pencuri yang ketahuan. pemuda itu menekurkan wajah.


Murad duduk di seberang menatapi Trias yang masih menekurkan wajah dengan peluh dingin yang membasahi wajahnya. untung saja ia pemuda yang kuat. kalau tidak, tentu sudah terkencing-kencing dicelana dari tadi karena ketahuan sedang ******* dengan anak gadis orang.


"Trias..." panggil Murad.


Trias mengangkat wajah. "Ya Oom..." jawab pemuda itu pelan.


"Kamu beneran cinta sama anak Oom?" selidik Murad sambil melepaskan surbannya.


"Iya Oom. saya cinta sama Iyun." jawab Trias dengan pelan.


"Lalu kenapa kamu rusak dia?!" kali ini suara Murad agak meninggi membuat Trias makin menunduk dan Iyun yang berada dikamar makin deg-degan. "Kamu tau arti ciuman bagi anak cewek? itu persembahan pertama. itu cinta pertama mereka! kau telah merampas kesenangan masa remajanya yang membuatnya mengorbankan segalanya hanya untuk mengingat kamu! kamu sadar nggak sih, Trias?!"


"Ya Oom..." jawab Trias lagi kini bercampur takut.


"Lalu bagaimana pertanggung jawabannya?" tuntut Murad dengan wajah galak.


Trias menelan ludah. "Saya harus bagaimana Oom?" tanya pemuda itu dengan pasrah.


Murad menatapi Trias kembali dengan tajam. "Apakah itu ciuman pertama kalian?" selidik pria itu.


Trias menggeleng pelan membuat mata Murad melebar dan langsung menampar keningnya sendiri sambil menyandarkan punggungnya disofa. setelah menguasai diri, tiba-tiba Murad berdiri.


"TRIAS !!! KAMU ITU COWOK APAAN SIH???" bentak Murad dengan emosi.


"Papa!.." seru Iyun yang sudah keluar dari kamar.


"PAPA BILANG KAMU MASUK! INI URUSAN LAKI-LAKI, IYUN!" bentak Murad lagi menunjuk kamar agar Iyun masuk. setelah itu ia kembali menatapi Trias.


"Tidak ada jalan lain, kecuali pengasingan. kalian untuk sementara ini dipisahkan agar tidak menimbulkan fitnah." kata Murad dengan tegas. seketika Trias mengangkat wajahnya dan menatapi Murad dengan tegang.


"Oom.." seru Trias.


"Kenapa? " tantang Murad. "Kalian sendiri yang memilih cara ini!!" ujar Murad dengan marah .


"Papa... Iyun mohon Pa.." gadis itu langsung berlari dan memeluk kaki ayahnya. "Jangan buat kami begini Pa.." sedu Iyun.


"Kenapa kalian melakukannya?!" tantang Murad. "Kalau kalian sudah berani saling ciuman, bukan tidak mungkin kalian akan melakukan perbuatan yang lebih berani dari itu. kalian itu masih muda, belum rasa asam garam hidup. kalian berani sekali melanggar garis itu."


"Iyun janji nggak akan lagi melakukan apa-apa Pa... asal jangan begini Pa... dipingitpun Iyun mau Pa... asal jangan pisahkan Iyun dengan Tri, Pa..." sedu Iyun membuat Trias semakin merasa bersalah.


"Apa-apaan ini, kau memojokkan Papa dengan opsi yang tidak bisa papa kabulkan." tolak Murad.


Trias bangkit dan berdiri dengan tegak. keberaniannya bangkit melihat Iyun yang begitu gigih mempertahankan hubungannya dengan Trias. tatapan pemuda itu mencorong kearah Murad membuat lelaki itu terkejut.


"Oom! sekarang katakan kepada saya! adakah cara lain supaya saya dengan Iyun tidak dipisahkan?" todong Trias.

__ADS_1


Murad terkejut sekaligus kagum dengan pemuda ini. semoga saja pilihan kamu nggak salah nak.


"Hanya ada satu cara, tidak ada yang lain." kata Murad dengan tajam menatapi pemuda itu.


"Katakan Oom. bahkan jika Oom suruh saya mengiris nadi saya, akan saya lakukan!" tantang Trias. ia benar-benar tersinggung melihat Iyun menghiba-hiba meskipun dihadapan orang tuanya sekalipun. dia tidak ingin kekasihnya merendahkan diri dihadapan orang lain hanya agar dapat diijinkan bersama dengan nya.


"Yakin kamu?! Oom nggak main-main, Trias." ancam Murad. sebenarnya Trias sudah dapat menebak arah bicara lelaki itu, tapi dia menginginkan agar pria itu mengungkapkannya.


"Katakan Oom!" tantang Trias.


"Tapi kalian masih muda, masih sekolah.." kata Murad dengan enggan.


"Oom mau saya menikahi Iyun, kan?" tebak Trias. "Saya siap Oom. nikahkan kami sekarang juga!" ujar Trias dengan mantap.


ucapan pemuda itu bagai halilintar yang menyambar kedua ayah-anak itu. Murad tak menyangka pemuda dihadapannya langsung bisa menebak keinginan lelaki itu, dan takjubnya, pemuda iru langsung menyanggupinya tanpa embel-embel apapun.


Iyun langsung tersedu sedan lagi, tapi kali ini bukan karena ketakutan, melainkan kebahagiaan karena ia kini tahu bahwa Trias begitu sungguh-sungguh dengannya. pemuda itu memperjuangkan cinta mereka berdua.


Murad hanya terkesima sementara Trias merogoh sakunya mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi ayahnya. terdengar nada sambung yang terkoneksi dan tak lama suara Endi terdengar.


📲 "Assalamualaikum, ada apa Yas?" tanya Endi.


📲 "Papa ke rumah Oom Murad, sekarang!!" pinta Trias dengan ngotot.


📲 "Nggak bisa ditunda? Papa lagi banyak pelanggan sekarang." kata Endi.


📲 "Bodooo... Trias tunggu sekarang di rumah Oom Murad. sekarang Papa, SEKARANG!!!"


Trias menutup pembicaraan sekarang lalu menatapi Murad, kemudian menatapi Iyun.


"Yun, berdirilah... aku nggak suka liat kamu begitu. bangun!" perintah Trias tidak lagi menghiraukan Murad. pemuda itu tersinggung ketika Murad berniat hendak memisahkannya dengan Iyun.


nak... nggak salah kamu pilih anak ini... papa nggak keberatan jika dia bisa menjaga kamu dan membahagiakan kamu... papa tidak keberatan, nak..


Trias bangkit lalu mondar-mandir diruangan itu. wajahnya gelisah menunggu kedatangan ayahnya. tak lama kemudian terlihat bentor menepi dan seorang pria botak keluar dari bentor dan membayar ongkos ke pengendaranya. pria botak itu, Endi Ali, melangkah tergesa-gesa menyusuri halaman dan naik ke beranda.


"Assalamualaikum." sapa Endi.


"Wa alaikum salam." jawab Trias dan Murad.


Endi masuk menatapi drama yang baru saja terjadi. "Ada apa ini? pak ustad, boleh saya tahu?" tanya lelaki botak itu.


"Silahkan duduk dulu Bang." ujar Murad mempersilahkan.


Endi duduk di seberang bersama Trias. setelah basa-basi sejenak, Murad kemudian menceritakan latar belakang pertemuan mendadak tersebut dan alasan Trias memaksa Endi untuk menemuinya saat itu.


wajah Endi merah padam mendengar penuturan Murad. pria botak itu benar-benar malu dihadapan lelaki yang sangat dihormatinya. ketika ia memutuskan pensiun dari dunia preman, atas saran Adnan, Endi memperdalam ilmu agama kepada Murad.


kini mendengar langsung dari penuturan Murad tentang perilaku Trias membuatnya serasa nggak punya muka lagi. dengan penuh kemarahan ditatapinya putra tunggalnya itu.


"Sekarang, apa yang akan kau lakukan, nak?!" todong Endi. keangkerannya sebagai seorang mantan preman kembali nampak membuat Murad khawatir jika Endi akan memukuli putranya. begitu juga dengan Iyun. namun kali ini Murad menjadi kagum dengan ketenangan yang dinampakkan Trias dihadapan ayahnya yang seperti hendak menelannya bulat-bulat.


Trias dengan tegas langsung menjawab. "Trias akan melakukan hal yang semestinya dilakukan lelaki sejati. Trias akan menikahinya sekarang juga Pa!"


seperti Murad sebelumnya, kini giliran Endi yang terkesima. dalam lubuk hatinya, lelaki itu sebenarnya kagum dengan sikap putranya. buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya.


"Kamu yakin?! ingat! kalian berdua masih sekolah. jika kalian menikah sekarang, kalian harus DO dari sekolah. nggak punya ijasah. memang kamu sanggup?" tantang Endi.

__ADS_1


"Siapa bilang kami berdua nggak bisa sekolah? kita nikah siri. nanti setelah lulus baru daftarkan pernikahannya ke KUA... gitu aja kok repot!" gerutu Trias.


Murad tanpa sadar menampakkan senyum yang sumringah namun segera disembunyikannya. sedang Endi kembali terperangah dengan keberanian dan kekerasan hati anak itu. sementara Iyun tersipu mendengar kata pernikahan. Trias menatapi Murad dan Endi bergantian.


"Jadi gimana nih? mau nggak?" todong Trias tiba-tiba. "Pa.. Oom... Trias akan lakukan apapun itu bahkan jika ke neraka sekalipun, jika demi Iyun, akan Trias lakukan. asal jangan pisahin kita." tandas Trias.


mendengar kalimat itu keluar dari bibir kekasihnya yang sekarang sudah uring-uringan itu, Iyun langsung menghambur dan memeluk kaki pemuda itu dan tersedu-sedu disana. Trias mengangkat tubuh Iyun menyuruhnya berdiri.


"Sudah, kamu jangan takut. mereka berdua nggak bakal misahin kita. kalau mereka nggak merestui, kita bisa kawin lari." cetus Trias tiba-tiba membuat kedua orang tua itu semakin terperangah mendengar kalimat sableng itu keluar dari bibir pemuda itu.


tiba-tiba ponsel Trias bergetar, pemuda itu langsung menatapi layar ponselnya dan mengangguk. ia kemudian berbisik sesuatu kepada Iyun dan gadis itu mengangguk. setelah itu Trias menatapi Endi dan Murad.


"Silahkan Papa dan Oom diskusi gimana baiknya pernikahan kami segera dilaksanakan. saya nggak mau nunggu lama. paling lambat 3 hari sudah ada putusannya. " todong Trias setengah memaksa.


pemuda itu kembali menatapi Iyun. "Pipi pergi dulu Mi..." kata Trias dengan mesra. Iyun menunduk dengan wajah merah lalu mengangguk pelan. ketika ia mengangkat wajahnya, tiba-tiba Trias menciumnya. kali ini agak lama, sengaja mempertontonkan dan mengolok kedua orang tua itu agar segera mengambil keputusan.


kedua lelaki itu benar-Benar terkesima melihat kemesraan yang sengaja diperlihatkan itu. setelah itu Trias melangkah meninggalkan rumah. Iyun sendiri dengan wajah yang merah dan menunduk melangkah cepat menuju kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya.


Murad dan Endi akhirnya bertatapan dan keduanya serentak mengangguk.


...********...


Burhan mengendarai Suzuki All New Satria F 150 miliknya dengan kecepatan sedang. destinasinya adalah rumah tempat berkumpul kawan-kawan sesama junkies.


Burhan Lapananda sebenarnya putra seorang pejabat di pemerintahan propinsi Gorontalo. namun ia tersia-siakan karena kesibukan kedua orang tuanya. ibunya Burhan adalah seorang desainer baju terkenal dan punya butik yang banyak dikunjungi pejabat-pejabat.


kesibukan orang tuanya membuat Burhan mencari pelampiasannya ditempat yang bukan semestinya. ia berkawan dengan kelompok-kelompok preman. hubungan yang terjadi antara dia dengan mereka adalah simbiosis mutualisme, dimana Burhan membutuhkan mereka untuk mengamankan pekerjaannya sebagai pengedar barang haram, sedangkan kelompok itu menggaulinya karena uang yang terus digelontorkan Burhan kepada mereka.


suatu kali, Burhan diperkenalkan kawanan preman itu kepada seorang pengedar narkoba. mulailah pemuda itu menjadi bagian dari sindikat perdagangan narkotika dan mulai menjadikan sekolah sebagai target capaian mereka.


Burhan terus melajukan sepeda motornya. namun tanpa disadarinya, jejaknya telah dilacak oleh Kenzie dan Chiyome. mereka mengintai dari jarak sangat jauh sehingga pemuda itu tidak merasa bahwa ia sekarang diawasi.


Burhan melambatkan laju sepeda motornya dan ia memasuki salah satu lorong besar dikawasan Jalan Tengah. Kenzie berupaya mengekori pemuda itu dari jarak yang diperhitungkan.


Burhan memarkir Suzuki F 150 miliknya kemudian melangkah ke sebuah rumah. mengetok sebentar lalu masuk setelah pintu membuka sedikit. Kenzie kemudian memarkir sepeda motornya ditempat yang agak tersembunyi kemudian keduanya mencari tempat yang aman untuk mengintai.


"Kita tunggu saja dia disini. aku sudah kabari Trias lewat SMS." kata Chiyome.


Kenzie terus diam mengamati. tak berapa lama, dikejauhan terdengar suara bentor berhenti. setelah itu terdengar suara langkah yang mendekat. Kenzie menoleh melihat Trias yang mendekat kemudian mengendap-endap mendekati sepasang kekasih itu.


"Bagaimana?" tanya Trias dengan lirih


"Gantian gih. kau yang intai mereka." kata Kenzie menunjuk rumah yang menjadi target pengintaian. "Kami berdua ganti baju dulu lalu menghubungi Oom Ahmad lalu kembali kemari."


Chiyome menyerahkan sebuah kamera digital merk Sony RX. "Sebisa mungkin kita bisa nge shoot wajah mereka. kau tinggal mengaturnya resolusinya. kamu tahu memotret kan?"


"Tentu saja...." kata Trias sambil menggerutu.


Kenzie dan Chiyome meninggalkan Trias sendirian melakukan pengintaian. kedua kekasih itu kembali menyusuri jalanan. Kenzie mengantar Chiyome ke rumahnya setelah itu ia kembali menuju rumahnya.


pemuda itu menyeberangi ruangan menuju kamarnya. sikapnya menimbulkan keheranan diantara Aisyah dan kedua orang tuanya.


"Kenzie, makan dulu." tegur Mariana.


tak terdengar suara dari dalam kamar hingga beberapa menit kemudian, Kenzie keluar mengenakan pakaian yang dibalut jaket.


Woi, woi... makan dulu..." tegur Adnan.

__ADS_1


"Maaf Pa... lagi buru-buru. lagi mengerjakan PR proyek kelas XI F." kilah Kenzie sambil meninggalkan ruangan.


kedua orang tua itu saling berpandangan. "Akhir-akhir ini dia sibuk sekali." gumam Adnan. []


__ADS_2