
Endrawan tidak menggubris pertanyaan sahabatnya. "Bagaimana keadaan anakku?" tanya lelaki botak itu dengan cemas.
Adnan menarik napasnya lalu menghembusnya dengan pelan. "Trias sudah melewati masa kritisnya. kau tenanglah. kurasa pihak kepolisian akan melakukan olah TKP dan interogasi tahap pertama. sebaiknya kita berdua tak usah ikut campur." lelaki itu kembali menatapi Trias yang masih diam bertemankan peralatan infus tersebut, kemudian Adnan menatapi kembali Endi.
"Keberadaannya disini sudah sangat melegakan aku. anak ini selamat. ia kuat!" kata Adnan kembali melangkah dan membelai rambut Trias yang agak ikal.
"Alhamdulillah, ya Allah.. Kupikir ketika membawanya kemari, aku tak akan sempat menemukannya. ia begitu lemah dan banyak lebam ditubuhnya." ujar Endi tanpa sadar telah mengalirkan air matanya.
Adnan kembali maju memeluk dan menampar-nampar punggung lelaki botak itu untuk memberi penguatan moril kepadanya.
"Aku bersyukur benar. anak itu tidak menyusul ibunya. ahhhh... aku nggak bisa membayangi anak itu jika ia sampai pergi menyusul ibu dan istrinya." sambung Endi dengan sedu-sedannya.
"Anak itu setangguh bapaknya dan sekuat hati ibunya. dia nggak segampang itu pergi. bagaimanapun, aku bersyukur ketika menemukannya disini. kita harus menguatkannya karena anak itu kehilangan istrinya. itu beban yang sangat berat." kata Adnan.
...**********...
Yanto membanting ponselnya dengan jengkel ketika mendengar kabar lolosnya Trias dan terbunuhnya beberapa orang yang menjaga gudang tersebut.
anak itu beruntung, ayahnya datang menyelamatkannya... lain kali aku akan menyekap kedua orang itu...
namun kening lelaki itu kembali berkerut. siapa yang memberitahu keberadaan anak itu kepada ayahnya? apa mungkin anak-anak berandal itu dipaksa memberitahu? rupanya anak-anak itu harus disingkirkan agar tidak menyebabkan kesulitan dikemudian hari....
dengan napas tersengal, Yanto melangkah memasuki kamar tidurnya dan membanting daun pintu itu dengan kasar.
...********...
Trias menjejaki sebuah hamparan. rumput tinggi namun lembut melambai-lambai dihembus angin lembut.
dimana ini? apakah aku sudah mati?
pemuda itu terus melangkah menyusuri padang savana hijau itu. ia kemudian melihat sebuah pohon yang besar. entah pohon apa. disisi pohon itu ia melihat seseorang. Trias melangkah mendekat dengan penasaran.
makin lama makin dekat. nampaklah gadis itu mengenakan gamis panjang yang menjuntai menutupi kakinya beserta khimar yang panjangnya nyaris sama dengan gamis itu. gadis itu membelakangi Trias yang datang mendekat.
"Halo? bisa beritahu dimana ini? kelihatannya saya tersesat." kata Trias.
gadis itu membalikkan tubuh membuat Trias tertahan beberapa langkah dihadapan gadis tersebut.
"Inayah.... istriku..." sebut Trias dengan lirih ketika menatapi wajah gadis yang menatapinya sambil tersenyum.
dilanda rindu, pemuda itu berlari dan langsung memeluk gadis itu dan menciuminya dengan intens. tak terasa air mata bergulir deras membasahi pipi tirus pemuda itu.
"Sudah... sudah cukup Pipi menciumi Mimi seperti itu." kata Iyun sambil mendorong wajah suaminya dengan lembut.
"Aku bersyukur kau masih hidup." ujar Trias sambil menyeka air matanya yang belepotan diwajahnya. Iyun tertawa. pemuda itu menatapi istrinya kembali.
"Tempat ini terasa damai.... dimanakah kita?" tanya Trias.
tiba-tiba Iyun mendorong tubuh Trias hingga ia jatuh di hamparan rumput itu. anehnya Trias tak merasa sakit. justru terasa lembut. Iyun kemudian berbaring dan menindih tubuh Trias.
"Aku bersyukur kau tak apa-apa Pipi...." kata Iyun dengan lembut kemudian mengecup lembut bibir Trias. pemuda itu sejenak memejamkan mata meresapi kenikmatan ******* bibir istrinya, hingga Iyun melepaskan kecupannya dan mata Trias kembali membuka.
"Perasaanku kok aneh ya? tempat ini terasa damai. tapi tak ada seorangpun disini terkecuali kita berdua. kau pintar betul memilih tempat indehoy semacam ini." puji Trias.
"Kamu belum saatnya berada disini dan menemuiku." kata Iyun sambil tersenyum dan meraba bibir Trias dengan lembut.
"Apa maksudmu? aku sekarang menemuimu dan aku bahagia kau tak apa-apa." kata Trias dengan heran.
"Nanti kau juga akan tahu." kata Iyun dengan lembut.
kembali Trias didera rasa aneh. ia terasa mengantuk. mengapa ia mengantuk. ditengah kesadarannya yang mulai redup, ia melihat Iyun mendekatkan wajahnya dengan senyum yang tak bisa dilupakannya.
"Kelak jika tiba saatnya.... aku akan menjemputmu..."
Trias tak sanggup lagi menahan kantuknya. perlahan tatapannya mengabur, semakin kabur dan menggelap hingga akhirnya benar-benar gelap.
...*******...
Trias perlahan membuka matanya. ia bingung melihat langit-langit ruangan yang putih. dimanakah ini? kok aku terbaring disini?
Adnan yang melihat Trias yang siuman langsung mendekat. begitu juga dengan Mariana dan Endi. kini Trias sadar, sebenarnya ia tadi hanya menjelajahi alam mimpi. ia tak menyadari bahwa ia mengalami proses yang disebut Near Death Experience yang sering dialami pasien mati suri. Trias sedikit kecewa ketika ia tak mendapati hal yang sesuai dengan keinginannya.
Trias melihat ke samping kanan. ada Mariana disisinya yang sekarang memegang jemari kanannya dengan erat sambil menumpahkan air mata haru. Trias lalu memandang kekiri, ia mendapati Adnan dan Endi yang berdiri memperhatikannya.
__ADS_1
"Papa... Om..." sapa Trias dengan tersenyum lalu meringis ketika menyadari sekujur tubuhnya dijejali tasa sakit. Adnan duduk disisi ranjang.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? sedikit mendingan?" tanya Adnan dengan senyum datarnya dan menyentuh pundak pemuda itu.
"Alhamdulillah...." jawab Trias sekenanya.
Endi kemudian berjongkok disisi kepala Trias. "Katakan, siapa mereka yang menculikmu dan menyakiti fisikmu seperti ini?" tanya Endrawan dengan terbata-bata sedang kedua matanya telah lama memerah karena digenangi air mata kesedihan yang larut dalam kemarahannya.
"Iyas nggak tahu siapa mereka, Pa...." jawab Trias kembali meringis.
Endi menunduk lalu membenturkan kepala botaknya dengan lembut ke sisi ranjang. Trias menghela napas.
"Tapi.... Iyas tau... sapa dalang penculikannya." kata Trias.
ucapan tadi menegakkan bulu kuduk Endi dan Adnan. lelaki bermarga Lasantu itu mendekatkan wajahnya sedikit.
"Katakan pada Om... siapa penculiknya?" tanya Adnan dengan suara pelan, tenang tapi mengintimidasi.
sejenak Trias melihat Mariana. wanita itu mengangguk. Trias kemudian menatapi Adnan dan Endi bergantian. akhirnya pemuda itu menghela napas dan memejamkan matanya.
"Om Yanto... Papanya Burhan." jawab Trias dengan pelan.
yang paling terkejut diantara ketiga orang dewasa itu adalah dAdnanan Mariana. pasalnya keduanya memang mengenal Yanto sebagai salah satu pejabat yang bekwrja di instansi pemerintahan kesekretariatan propinsi Gorontalo.
Endi menggeram. "Akan kucari orang itu. akan kutuntut darahnya!" seru lelaki botak iru sambil mengangkat kepalannya.
"Jangan!"cegah Adnan membuat Endi menatapinya sahabatnya dengan wajah yang keruh. Adnan menelan ludah lalu mengangguk. "Serahkan semua padaku!" pintanya.
Endi menatapi Adnan dengan penuh tuntutan. Adnan menghela napas.
"Yanto itu orang berpangkat. kau akan sulit menyentuhnya. biarkan aku yang menghadapinya. " Adnan menepuk pundak sahabatnya yang sementara jongkok disisi ranjang putranya itu.
"Tenang sajalah. kau cari saja orang yang telah menyebabkan mantumu tewas." saran lelaki tersebut.
"Aku sudah tahu siapa dia!" kata Endi tanpa sadar sedikit membuka rahasia.
"Siapa?" tanya Adnan penasaran.
"Gerombolan penculik itu dilindungi jawara preman bernama Bubu." jawab Endrawan sambil menghela napasnya.
Endi terpojok dan merutuki kejujurannya yang tak disengaja. apa boleh buat? ia harus jujur juga.
"Secara diam-diam, Iyun merekam pertarungan Trias dengan kelompok penculik itu. dari situlah aku mengetahui siapa sebenarnya mereka." jawab Trias. "Pada saat perkelahian itu, Iyun sempat menghubungi Kenzie. itulah mengapa dialah yang menjadi saksi kunci tentang peristiwa penculikan dan pembunuhan Iyun pada malam tahun baru itu."
"Teruskan..." pinta Adnan.
"Sebelum menghubungi polisi, Kenzie menemukan ponsel milik Iyun dan menyimpannya. ia mengutak-atik memori ponsel itu dan menemukan rekaman tersebut. ia kemudian menghubungiku dan memperlihatkan isi rekaman itu." sambung Endi.
"Anak itu, lagi-lagi tidak mendiskusikan hal itu kepadaku." omel Adnan dengan berang. "Apakah ia tidak mempercayaiku?!"
"Bukan begitu kawan." bantah Endi. "Setahuku, Kenzie syok ketika polisi melakukan olah TKP dan menginterogasinya kan? tapi dia diam saja, itu yang kau katakan padaku ketika polisi mengkonfirmasi bahwa anakku dijadikan tersangka. mengapa ia melakukan hal itu?"
"Tak taulah aku Bang. aku saja panik benar mendapat panggilan polisi yang bilang kalau anakku berada dikantor kepolisian gara-gara menjadi saksi buta pembunuhan teman sekolahnya." kata Adnan dengan gusar.
"Dia tersinggung dengan analisa polisi itu. makanya dia ingin membersihkan nama baik sahabatnya. itu alasan ia tak menjawab pertanyaanmu, tapi justru memperlihatkan isi rekaman itu padaku." sambung Endi.
"Berarti, Kenzie berada dirumahmu saat itu. iyakan?" todong Adnan.
"Bro. memang dia datang sore itu. kemudian dia meminjamkan sepeda motornya untuk mempermudah urusanku menemukan putraku. setelah itu ia pergi. dia beralasan nggak mau dihajar ayahnya kalau terjun langsung membantuku." jawab Endi.
namun disitu Endi berbohong untuk menyelamatkan posisi Kenzie dan sekaligus memberinya alibi yang tak terbantahkan oleh pihak manapun.
"Berarti benar kalau Kenzie dan Chiyome sedang keluar. ah mungkin aku yang terlalu kuatir dengan mereka berdua." kata Adnan membuang napas lega. sejenak kemudian lelaki itu menatap sahabatnya.
"Apakah rekaman itu masih ada ditangan Kenzie?" tanya Adnan.
"Bisa jadi anak itu masih menyimpannya." jawab Endi sekenanya.
Adnan mengangguk-angguk dan menatapi Trias. "Nak, berjanjilah padaku satu hal."
"Katakan, Om." kata Trias.
"Jangan sebut nama Yanto Lapananda dihadapan pihak kepolisian." pinta Adnan.
Endi baru saja hendak protes ketika Adnan menepuk bahu lelaki botak itu. "Aku kuatir dia akan diamankan dan kita kehilangan momen untuk membungkamnya. siapapun yang mengganggu keluargaku, dia akan berurusan denganku!" tandas Adnan dengan sorot mata tajam sambil mencengkeram pundak Endrawan.
__ADS_1
"Aku janji, Om." jawab Trias. "Aku akan membeberkan segalanya, meski tidak semuanya. Om nggak usah kuatir."
"Aku mengandalkanmu, nak!" sahut Adnan sambil mengacungkan jempol lalu mengajak Mariana meninggalkan ruangan tersebut.
sepeninggal dua laki-bini itu, Trias menatap Endi.
"Pah.... tadi Iyas mimpi ketemu Iyun.... dia cantik sekali Pa... sekarang dia sudah tenang... tapi... Iyas merindukannya.. Pa..." tanpa terasa, air mata kembali membanjiri pipi pemuda itu.
Endi sendiri hanya diam sambil mengelus lengan kekar putranya. tanpa sadar, lelaki itu juga menangis meski tanpa suara.
...*********...
02 Januari 2020, pukul 04.00 WITA
Kenzie bohong ketika ia memberitahu Adnan yang menghubunginya, bahwa mereka berada dirumah sewaan Chiyome yang belum habis masa kontraknya.
saat ini, tak jauh dari lokasi gudang, keduanya asyik berbaring dalam perahu jukung para nelayan yang didamparkan dipantai.
Kenzie merebahkan punggungnya pada badan ujung kapal, kedua kakinya membuka menjadikannya sebagai sandaran kursi bagi Chiyome yang menyandarkan tubuhnya didada pemuda itu. mereka menikmati angin darat yang menghembus pelan disubuh itu.
"Hubby..." panggil Chiyome.
"Hm..." jawab Kenzie sambil membelai rambut istrinya yang terkepang.
"Wiffy ingin mandiri." kata Chiyome.
"Mandiri bagaimana maksud Wiffy?" tanya Kenzie dengan pelan. Chiyome menengadah keatas menatapi suaminya yang juga menatapinya.
"Kita jadi entrepreneur saja. aku mau memulai bisnis online supaya kita tidak bergantung pada orang tua." kata Chiyome dengan manja dan memanyun-manyunkan bibirnya membuat Kenzie gemas ingin rasanya kembali mengecap manisnya bibir istrinya itu.
"Memang Wiffy saja yang punya pikiran begitu? Hubby juga..." kata Kenzie sambil terkekeh sementara tubuhnya bergetar menahan dingin.
"Kalau begitu Wiffy mulai besok, boleh?" tanya Chiyome.
"Boleh saja. tapi kan Wiffy punya saham di jepang tuh... ngapain kerja lagi?" pancing Kenzie.
"Yang disana itu buat cadangan kalau ada pengeluaran-pengeluaran tak terduga. yang ini rencananya Wiffy maunya untuk biaya hidup kita nanti." kata Chiyome.
"Dooo... dewasa benar pemikiran istriku ini, Hubby memang tak salah nyari istri." puji Kenzie lagi dengan senyum.
keduanya kemudian tertawa dan menatapi langit. tiba-tiba seberkas cahaya melintas. sebuah meteorit melaju meninggalkan segaris cahaya pipih dihamparan jelaga subuh yang mulai dihinggapi fajar.
Kenzie menunjuk meteor yang melintas itu. "Tuh, ada bintang jatoh... ayo kita buat permintaan.." ajak Kenzie.
"Ah, Wiffy sudah nggak punya permintaan lagi..." kata Chiyome menggeliat dengan manja membuat Kenzie memeluknya dengan erat.
"Kenapa?" tanya Kenzie merapatkan wajahnya di wajah Chiyome. sang istri ikut menempelkan pipinya ke pipi sang suami.
"Karena impian Wiffy sudah jadi nyata. ngapain minta permintaan sama bintang?" jawab Chiyome dengan manja.
"Impian apa sih?" pancing Kenzie.
"Impian... menikahi Hubby...." jawab Chiyome kembali dengan wajah tersipu, hendak menutup mukanya lagi namun ditahan Kenzie.
"Ketika Wiffy mengakui cinta ketika pertama pertemuan kita... bagi Hubby itu merupakan mimpi terindah." kata Kenzie menempelkan pipinya di pipi istrinya..
"Ah, bagi Wiffy, Hubby adalah gabungan dari impian dan kenyataan itu." timpal Chiyome.
Kenzie memeluk erat istrinya dan tak lama fajar menyingsing perlahan ketika subuh beranjak menuju pagi.
"Hubby... sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Chiyome.
"Ah, Hubby masih malas gerak sekarang. sehari belum mencumbui Wiffy kayak makan sayur tanpa garam." rayu Kenzie.
Chiyome tersenyum dan menoleh kebelakang menatapi suaminya. "Oke deh. ayo... tapi bagian atas saja ya... ini diruang terbuka lho..."
tanpa menjawab, Kenzie langsung mengulum bibir istrinya. tangan pemuda itu menyelusup dibalik pakaian hitam Chiyome dan bergerilya mempermainkan kedua payudara istrinya sementara Chiyome membelai lutut Kenzie dengan pelan. mereka hanyut dalam permainan itu.
ketika jiwamu merasuk ke dalam aliran darahku dan meracuniku....
__ADS_1
Ketika jiwamu memeluk hatiku, dan biarkan jiwaku cumbui jiwamu....[]