
Kenzie melajukan sepeda motornya membelah jalanan agar bisa secepatnya tiba di rumah kontrakan Chiyome. pemuda itu tidak ingin memberi kesan lambat menangani sebuah urusan.
rumah kontrakan gadis itu sudah terlihat dan nampak Chiyome telah berdiri disisi jalan. gadis itu mengenakan kaos hitam lengan panjang yang dipadu dengan celana training. gadis itu juga memakai topi pet untuk menutup rambutnya yang dikuncirnya.
Kenzie menghentikan sepeda motornya dan tatapannya menelusuri pakaian gadis itu. "Sepatu ini kayaknya aku pernah liat diacara mana gitu..." komentar Kenzie melihat sepatu tabi yang dikenakan Choyome.
Chiyome mengibas-ngibaskan tangan meminta pacarnya untuk menunda komentarnya. gadis itu langsung melompat ke boncengan. Kenzie kembali menarik gas dan sepeda motor itu melaju.
mereka kembali memarkir kendaraan ditempat yang tersembunyi kemudian berjalan cepat hingga menemukan Trias yang masih sementara diam mengamati rumah tersebut.
"Bagaimana?" tanya Kenzie setelah bergabung dengan Trias.
"Mereka belum keluar. nggak tau apa yang mereka lakukan didalam." jawab Trias sambil mengurut dagunya. Pemuda iru kembali menyerahkan kamera digital kepada Chiyome. gadis itu menerimanya.
"Kau sudah hubungi Oom Ahmad?" tanya Trias.
Kenzie menampar keningnya. "Aku lupa." pemuda itu buru-buru mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Ahmad. tak lama nada sambung itu langsung direspon. terdengar suara Ahmad disana.
📲 " Halo? Oom? saya Kenzie. " pemuda itu menjauh sedikit lalu kembali melaporkan. "Kami menduga telah menemukan basis kelompok ini. saya harap Oom kemari. saya kasih alamatnya. tapi ingat Oom, jangan muncul dari arah selatan, tolong memutar dan muncul dari arah utara."
Kenzie memutuskan hubungan seluler lalu beringsut mendekati Trias yang masih sementara mengamati.
"Aman. dia akan segera kesini." kata Kenzie.
pemuda itu kembali mengamati keadaan. Chiyome sendiri menempatkan dirinya pada posisi strategis dan bisa membantu menyamarkan keberadaannya.
"Apakah kita langsung bergerak saja?" tanya Kenzie.
"Jangan." tolak Trias. "Tunggu Oom Ahmad dulu. dan ketika dia menghubungi pihak kepolisian, kita akan memperlambat kelompok itu agar bisa ditangkap .
"Apakah jumlah kita akan bisa sanggup menaklukkan mereka?" gumam Kenzie sambil menatap Trias dan Chiyome.
Gadis itu tersenyum, "Kalian tenang saja. berkelahilah dengan mereka. nanti aku bisa sembunyi." ujar Chiyome dengan senyum jenaka. " Aku bisa jaga diri, kok."
Trias menatapi Kenzie yang hanya mengangkat bahunya lalu melanjutkan kembali pengintaian mereka. tak berapa lama terdengar suara motor skuter mendekat.
Ahmad memarkir motor skuternya agak jauh kemudian melangkah cepat mendekati 3 orang yang sementara mengintai. Ahmad sudah menenteng kameranya.
"Apa kalian yakin, ini tempatnya." tanya Ahmad seraya menatapi Trias, Kenzie dan Chiyome. "Sapa perempuan ini?"
"Pacarnya Kenzie." jawab Trias.
"Kalian mengijinkan anak ini ikut dalam kegiatan berbahaya ini?!" umpat Ahmad dengan kesal.
"Nggak usah pusing, Oom. pusatkan saja ke sini." ujar Trias menunjuk ke rumah itu.
Ahmad mengangguk lalu beringsut menjauh kemudian mengeluarkan ponselnya. wartawan itu sedang menghubungi koleganya. kelihatannya pria itu sementara meyakinkan orang yang dihubunginya. tak lama kemudian, Ahmad kembali mendekat sambil memasukkan ponsel ke sakunya.
"Aku sudah menghubungi kolegaku di kepolisian. dia akan berjanji mengirimkan seregu anggota Buru Sergap. sebaiknya kita segera menyingkir ke tempat yang lebih aman agar tidak ketahuan mereka." kata Ahmad.
namun tanpa sempat ditahan oleh wartawan itu, Trias dan Kenzie justru keluar dari persembunyian, melangkah mendekati rumah tersebut. panggilan berbisik dan lambaian tangan wartawan itu tidak dipedulikan. Ahmad berbalik memandang Chiyome.
"Pacarmu itu sudah gila, ya?!" ujar Ahmad dengan jengkel.
wartawan itu hendak keluar mencegah mereka namun langsung ditahan oleh Chiyome.
"Biarkan saja Oom. mereka memang sengaja mengumpan diri untuk memancing sindikat itu. hal itu juga bagus, supaya kawanan itu terfokus pada kedua orang itu dan tak menyadari kedatangan polisi. Kenzie dan Trias berupaya memperlambat mereka." tutur Chiyome.
Ahmad mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan Chiyome dan ia menyadari kebenarannya. Chiyome melanjutkan kata-katanya.
"Dari sini juga Om Ahmad akan punya spot yang bagus untuk mengabadikan peristiwa ini. bergabungnya paman dengan mereka akan mempersulit Trias dan Kenzie menangani lawan mereka." ujar Chiyome lagi.
"Memang mereka punya keahlian beladiri?" tanya Ahmad dengan sangsi.
__ADS_1
"Tentu. jika tidak, mana berani mereka melakukan hal konyol itu?" pancing Chiyome sambil tersenyum memperbaiki topinya.
dengan jengkel Ahmad kembali berjongkok dan mempersiapkan kameranya. saat itu Trias dan Kenzie telah berdiri didepan pintu. Kenzie mengetuk pintu dengan pelan. ternyata ketukan pintunya tak ditanggapi. ketukan mulai berubah menjadi gedoran. sementara Trias memutar memastikan tidak ada celah lain yang dapat dimanfaatkan kelompok itu untuk meloloskan diri.
gedoran Kenzie yang keras mengganggu aktifitas para junkies itu. pintu terlihat sedikit menguak. sesosok wajah muncul.
"Ada apa?!" tanya orang itu dengan ketus.
"Aku mau bertemu Burhan." jawab Kenzie.
"Burhan? tidak ada yang namanya Burhan disini." sahut orang itu hendak kembali menutup pintu namun lekas ditahan oleh Kenzie. orang itu menampakkan wajah tak bersahabat.
"Aku yakin dia didalam. perbolehkan aku masuk!" paksa Kenzie.
"Tunggu sebentar..." orang itu sejenak menutup pintu. Kenzie menunggu pintu itu terbuka. ketika pintu itu menguak, keluarlah 20 orang yang masing-masingnya menenteng senjata. ada yang menenteng pentungan, tongkat yang ditancapi paku, belati bahkan sabele. salah satunya maju menudingkan telunjuknya kearah Kenzie.
(sabele \= golok tanpa sarung)
"Kamu menguntit keberadaan kami?!" bentak lelaki itu.
"Aku mencari Burhan. dimana dia?" tanya Kenzie dengan tenang tapi waspada. lelaki itu meludah.
"Kau tak perlu menanyakannya! tanyakan saja dirimu, apakah bisa lolos dari sini!" seru lelaki itu.
seketika ke 20 orang itu langsung mengepung Kenzie. sementara Ahmad yang memandangi adegan itu jadi panik. ia menoleh kearah Chiyome.
"Hei, bantu pacarmu itu. kau punya beladiri, kan?" pinta Ahmad.
Chiyome tak menanggapi kalimat pria itu. matanya terus menatap adegan pengepungan itu. lelaki-lelaki itu mempermainkan senjatanya serasa ingin dihujamkan kepada Kenzie.
merasa tidak tenang Ahmad berbalik hendak meminta tolong gadis itu untuk mencari bantuan. namun terkejutnya pria itu begitu menyadari Chiyome tak berada ditempatnya. Ahmad memutari kepalanya kasana kemari namun tidak menemukan gadis itu.
"Kemana lagi perempuan itu?!" geram Ahmad dengan jengkel. dengan menggertakkan gigi, Ahmad kembali menonton peristiwa tersebut.
"Ini! terima sajalah!" bentak lelaki yang kemudian mengayunkan pentungan. serangan itu menjadi aba-aba bagi kawanannya untuk maju mengeroyok Kenzie.
pemuda itu sudah mempersiapkan dirinya. satu persatu Kenzie meladeni mereka. seorang lelaki berambut gondrong terhempas ketika tinju yang dilayangkan Kenzie menyodok dadanya. Kenzie dengan cepat melayangkan tendangan ke belakang dan seorang lawan kembali terjungkal karena sapuan Pemuda itu.
serangan yang dibuat Kenzie justru membuat kawanan itu jadi marah dan beringas. Kenzie maju menendang lelaki yang mengayunkan sabele. tanpa disadarinya seseorang dibelakang hendak membokongnya dengan menusukkan belati.
sedetik belati nyaris menikam punggung Kenzie, tiba-tiba pembokong itu berteriak kesakitan memegangi pergelangan tangannya yang tertembus sebatang paku panjang. sejenak Kenzie menatapi pembokong itu.
ada yang menolongku... siapa ya?
Kenzie tak sempat memikirkan hal itu karena sibuk meladeni keroyokan mereka. beberapa saat kemudian, terdengar lagi suara berdesing yang disusul teriakan kesakitan beberapa orang yang jatuh bersimpuh memegangi betis mereka yang ditancapi sebatang paku panjang. tiba-tiba Trias muncul menghambur dan membantu Kenzie menghajar para gerombolan itu.
...*****...
sementara Burhan berhasil meloloskan diri dengan meloncati pagar belakang. ia beringsut-ingsut hendak mencari jalan keluar. ia menemukan sebuah lorong sempit dan pwmuda itu menelusurinya.
ketika mencapai ujung lorong, Burhan berhenti sejenak melihat seseorang berpakaian hitam dan memakai topi. wajahnya ditutupi masker wajah. keadaannya agak remang karena tidak ada lampu penerangan di lorong tersebut.
"Siapa kau?!" bentak Burhan.
orang itu tak menjawab sedikitpun, justru mulai melangkah mendekatinya. Burhan mundur perlahan.
"Siapa kau?!" bentak Burhan.
orang itu tidak menjawab, justru melangkah dan mengembangkan tangannya membentuk pola cakar. Burhan merasakan bahaya. dengan panik, pemuda itu maju mengayunkan tinju dengan keras kearah sosok bertopi hitam tersebut.
dengan sedikit memiringkan kepala, orang itu mementahkan serangan Burhan. dengan cepat orang itu mengayunkan teknik ura hidari teisho tsuki ke dagu Burhan. pemuda itu terlempar se inchi ke udara. masih melayang tubuh Burhan, orang itu kembali melancarkan pukulan migi seiken ke arah dada hingga Burhan terjajar ke belakang.
Burhan merasakan sakit yang luar biasa pada dada dan rahangnya yang dihantam oleh sosok bertopi itu. ia menggeleng untuk menawar rasa sakitnya dan menatapi sosok bertopi itu dengan jengkel.
__ADS_1
"Punya isi juga rupanya." gerutunya sambil memasang sikap bertarung.
sosok itu menatapinya dengan tatapan yang mendorong. Burhan merasa aura aneh memancar dari sosok itu. Burhan tidak perduli lagi, asalkan ia bisa lolos, dia akan melakukan apa saja.
sosok itu mengangkat kakinya membentuk kuda-kuda tsuru ashi dan kedua tangannya terkembang. Burhan mendengus lalu maju melayangkan tendangan mengincar pinggang sosok itu. dengan cekatan orang itu melompat dan berpusingan si udara kemudian mengayunkan ushiro tobi geri yang langsung menghantam wajah Burhan. pemuda itu kembali terjejer ke belakang.
tiba-tiba orang itu mengayunkan cakar peremuk, mencengkeram batok kepala Burhan dan menghentakkannya dengan keras.
KREKKKK.....
Burhan tidak sempat berteriak karena rasa sakit yang luar biasa, ditimbulkan oleh retaknya tengkorak pemuda itu. Burhan tersentak ketika orang itu maju menghantam tenggorokannya dengan teknik hiraken tsuki.
THEG.... OOUGHHH...
napas pemuda itu terkumpul ditenggorokan tanpa mampu dikeluarkan. tubuh pemuda itu menggeloyor ke tanah melepaskan nyawanya. Burhan tewas karena tercekik.
dengan tenang orang itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
...********...
Ahmad sedang sibuk memotret adegan perkelahian sampai kedua pemuda tersebut melumpuhkan satu persatu kawanan tersebut. tak berapa lama terdengar suara derum mobil mendekat. sebuah mobil van berhenti dan beberapa orang bersenjata langsung menyeruak keluar dan mengepung lokasi tersebut.
Kenzie dan Trias sempat dibentak salah satu lelaki bersenjata itu untuk berlutut dan mengangkat tangannya. Ahmad buru-buru keluar dari persembunyiannya dan menemui kelompok bersenjata tersebut. Ahmad memperlihatkan kartu press nya dan memberitahu kronologi peristiwa kepada pimpinan kelompok itu.
"Lepaskan dua anak itu!!" seru pimpinan kelompok bersenjata menunjuk Kenzie dan Trias yang berlutut dengan tangan yang terangkat ke atas.
"Tapi, mereka tetap dimintakan keterangannya dikantor untuk keperluan penyidikan." kata pria tersebut.
"Ya, saya akan mendampingi mereka. setidaknya untuk saat ini saya mohon jangan dulu memberitahu hal ini kepada Kedua orang tua saksi." kata Ahmad.
"Kenapa begitu?" tanya pria tersebut.
"Saya pribadi menjamin hal itu pada mereka. apalagi kedua anak ini masih dalam usia sekolah. meski berstatus sebagai saksi, namun akan mempengaruhi perkembangan pendidikan mereka. paradigma yang masih terbentuk saat ini akan sangat merugikan mereka." jawab Ahmad.
pria itu paham dengan paradigma yang terbangun dalam norma masyarakat gorontalo. kalau seorang warga sudah bersinggungan dengan hal-hal yang berbau polisi, pasti dianggap telah melakukan suatu kejahatan. tidak perduli siapa dan apapun alasannya.
"Baiklah. saya bolehkan anda mendampingi mereka dalam penyidikan saksi." kata pria itu kemudian menoleh kepada anggota-anggotanya untuk menyeret kawanan itu kedalam mobil.
"Perlebar perimeter!" perintah lelaki itu.
kegaduhan itu memancing warga keluar dan menonton adegan-adegan itu dengan penuh rasa ingin tahu. ditengah kerumunan itu, Chiyome muncul. Kenzie mendekatinya.
"Darimana saja kamu?" bisik Kenzie.
"Aku mencari bantuan tapi nggak ketemu." jawab Chiyome.
"Anak ini meninggalkanku tanpa memberitahu." kata Ahmad yang muncul dengan penuh rasa jengkel. "Kamu itu dari mana? kau itu membuatku kuatir. kau itu perempuan."
"Maaf paman, saya pergi tidak memberi tahu. saya mencari bantuan, tapi tidak ketemu." jawab Chiyome dengan cemas.
tiba-tiba seorang pria bersenjata menerobos kerumunan warga dan melangkah menuju ke pimpinannya. sejenak ia menghormat, lalu melaporkan sesosok mayat yang ditemukan dilorong sempit.
pimpinan regu itu terkejut dan memerintahkan beberapa anggota untuk menemaninya menuju lokasi iru. Ahmad dan ketiga anak sekolah iru mengikuti kelompok tersebut menuju ke lokasi.
sesampainya disana, Kenzie maupun Trias langsung terlihat lesu dan tak bersemangat. mereka menatapi mayat Burhan yang telah kaku. Chiyome sendiri hanya diam dan memeluk lengan Kenzie sambil memandang mata Burhan yang membelalak seakan menatapinya.
Ahmad langsung sigap memotret dan melakukan tugasnya sebagai jurnalis kriminal. anggota-anggota Buru Sergap itu langsung melakukan olah TKP untuk membuat dugaan sementara dari sebab terbunuhnya pemuda tersebut.
setelah melakukan olah TKP, pimpinan kelompok iru kemudian menghubungi pihak Rumah Sakit Aloei Saboe untuk mengirimkan ambulance.
kampung Jalan Tengah saat itu gempar. bisik-bisik warga yang kepo dan doyan karlota, saling sahut menyahut, seakan mereka terlibat langsung dalam olah TKP tersebut.
sementara Ahmad meninggalkan lokasi dengan membonceng Trias. Kenzie menyusul melajukan kendaraannya membonceng Chiyome yang bergerak menuju rumah kontrakan gadis itu. []
__ADS_1