Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 21


__ADS_3

Trias terpaksa naik bentor karena Kenzie tidak lagi memboncengnya. dirundung asmara, Kenzie malah membonceng Chiyome, meninggalkan Trias yang memasang wajah keruh ditemani Iyun yang tertawa melihat kekasihnya tidak dipedulikan lagi.


untung saja Iyun terus menghiburnya, juga mengoloknya, membuat Trias tidak kesepian. Setelah mengantar Iyun, pemuda itu dibawa oleh bentor menuju rumahnya.


sesampainya dirumah, Trias turun dari bentor dan membayar ongkosnya kemudian masuk ke halaman. disana ia disambut ayahnya yang tertawa melihatnya melangkah dengan lesu.


"Mana itu pacarmu? kok tidak diboncengi?" goda Endi.


"Dia sudah bersama selingkuhan barunya." jawab Trias sambil melangkah. kedua lelaki itu berjalan masuk kedalam rumah. mereka duduk diberanda. Trias mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan tangannya.


"Pa, belikan saya sepeda motor juga dong." pinta Trias, "Yang bekas juga boleh, biar nanti Iyas yang modifikasi sendiri."


Endi tertawa, "Sudah bosan dibonceng? atau mau pamer ke anaknya Ustad Murad, kalau sudah punya sepeda motor sendiri?"


Trias terkekeh, "Pa, lelaki itu harus gaya, meski nggak bisa bergaya. setidaknya bisa menunjukkan kalau kita, para lelaki ini memiliki gaya yang unik."


Endi mengangguk. "Papa lihat di Portal, ada kenalan yang mau jual motornya. kasian dia sudah perlu uang. kalau kau mau, nanti Papa belikan." kata lelaki botak itu.


"Motor apa, Pa?" tanya Trias.


Endi sejenak menerawang lalu menatapi putranya. "Honda CBR 750cc... mau nggak?"


"Oke deh, Pa." ujar Trias, "Nanti Iyas yang modif."


"Oke. ey sudah kamu mandi sana. ketiak mu itu sudah banyak menerbangkan abuhu.." kata Endi sambil tertawa dan bangkit masuk kedalam rumah.


(abuhu \= kelelawar. namun kata ini lebih digunakan orang gorontalo sebagai metafora untuk ketiak yang bau.)


Trias mencium-cium ketiaknya. "Papa ini... orang nggak bau.. dibilang bau..." gumam pemuda itu dengan kesal lalu masuk kedalam rumah.


...*******...


Chiyome menandai lokasi keberadaan Aisyah lewat aplikasi Google map. gadis itu tersenyum dan meninggalkan rumah, naik bentor menuju Pasar Sentral. gadis itu mengenakan kaos lengan panjang yang dipadu celana jins dan sepatu sport. rambutnya dikepang dan diikat dengan pita rambut warna hitam.


sesampainya di lokasi, gadis itu menjejaki Aisyah melalui aplikasi di gadgetnya. dari jauh, ia menemukan gadis berjilbab itu sibuk berbelanja sayur dan lauk. gadis itu mendekat dan menjajarinya.


Aisyah merasai seseorang disampingnya dan ia menoleh. jilbaber cantik itu terlonjak.


Chiyome?" sapanya.


Chiyome pura-pura kaget dan langsung memeluk Aisyah. "Kak Ais apa kabarnya?" sapa gadis itu dengan manja.


"Ini, kakak lagi belanja kebutuhan kamu. kan kakak sudah janji mau bikin apa yang kamu mau." jawab Aisyah sambil senyum dan menyapu punggung gadis yang masih memeluknya.


"Iiiiihhh... so sweet... Kak Ais, is the best deh... sugoi desune." puji Chiyome sambil mengangkat jempol.


Aisyah tertawa lalu melepas pelukan gadis itu. "Sudah pelukannya, nanti nggak jadi belanja deh gara-gara dipeluk terus."


Chiyome tersipu. namun tatapannya kembali serius. "Tapi kayaknya Kak Ais lelah, Chiyo nggak mau nanti Kak Ais terbebani dengan janji."


"Kakak cuma lelah karena baru pulang dari Ospek. udah kamu nggak usah pikirin itu. janji nggak boleh dibatalin lho. nanti dosa." jawab Aisyah kemudian kembali sibuk memilah sayur dan lauk serta beberapa item lagi, lalu menawar harganya.


"Kalau begitu, saya bantu Kak Ais saja. bilang apa yang perlu." kata Chiyome langsung menyambar tas kresek belanjaan jilbaber itu.


Aisyah tersenyum dan mengangguk. keduanya menyusuri seluruh stan-stan didalam kompleks pasar tersebut. Aisyah yang menawar harga dan Chiyome yang memasukkan barang kedalam tas kresek. selesai berbelanja, mereka pulang naik bentor melintasi jalanan yang melintasi Bundaran Hulondalo Indah. sebuab tugu bulat dengan sebuah patung pasangan berpakaian adat Gorontalo. nama lainnya adalah Tugu Saronde atau Patung Selamat Datang.



diatas bentor itu, Chiyome memangku tas kresek besar itu agar Aisyah bisa merehatkan tubuhnya yang kelelahan itu.


"Menurut Kenzie, Kak Ais itu kakak sambungnya?" tanya Chiyome, mulai mengorek keterangan agar ia bisa mengetahui lebih banyak tentang saudaranya ini.


"Iya.. kami berdua saudara seayah. kakak sendiri dulu tinggal di Poso. kakak kemari karena melanjutkan kuliah." jawab Aisyah sambil menikmati sapuan angin yang menampar wajah dan tubuhnya. kendaraan itu terus melaju.


"Mamanya Kak Ais, di Poso?" pancing Chiyome.


Aisyah menggeleng, "Kak Ais sampe sekarang nggak tau Mama dimana, kerja apa, bibi saja yang tau dimana dia sekarang. Tapi mamanya kakak tetap selalu kirim uang ke kakak, ke bibi..sampai sekarang."


Chiyome mengangguk-angguk. dia memandang lagi Aisyah. "Kak Ais punya potretnya nggak?"

__ADS_1


Aisyah mengeluarkan ponselnya lalu membuka file gambar dan menyerahkannya pada Chiyome. "Itu potret mamanya kakak. tapi itu potret setahun yang lalu."


Chiyome memandang potret tersebut. seorang wanita berjilbab berdiri dengan senyum dengan pose seperti hendak menjangkau bunga melati di dekatnya. itu memang foto Fitri. ibu mereka berdua.


Chiyome tersenyum datar dan menyerahkan ponsel itu kepada Aisyah dan kembali memandangi tas kresek dalam pangkuannya.


"Kamu tentu kesepian karena merantau seperti kakak. kamu rindu sama papa dan mamamu, kan?" celetuk Aisyah. ucapan jilbaber itu berhasil membangkitkan hal-hal swntimentil dibenak gadis itu. mata Chiyome berkaca-kaca. Aisyah tersenyum lalu membelai rambut gadis itu.


"Anggaplah aku kakakmu. kamu mau kan?" kata Aisyah. Chiyome langsung mengangguk cepat berupaya menahan air matanya yang hendak tumpah.


andainya kakak tahu kalau aku memang adikmu... sayangnya kakak belum boleh tahu.... hingga saatnya tiba...


gadis itu benar-benar bahagia memiliki saudara perempuan. ia bisa menyentuhnya, merasai kebaikannya. hanya sayang. Aisyah belum mengetahuinya.


"Jangan sedih begitu." kata Aisyah menghapus air mata gadis itu dengan ujung jilbabnya. "Bilang saja kalau kamu perlu kakak, kakak pasti ada untukmu."


Chiyome lagi-lagi mengangguk dengan cepat. "Terima kasih..." ucapnya dengan suara yang tercekat.


bentor yang mereka naiki tiba didepan rumah kediaman Lasantu. Chiyome memberikan tas kresek pada Aisyah. gadis itu bersikeras membayar seluruh ongkos perjalanan. Aisyah membiarkan gadis itu melakukannya. keduanya kemudian memasuki halaman.


ketika tiba diberanda, disana ada Adnan dan Mariana yang sedang bercengkrama. Mariana langsung berdiri menyambut sedangkan Adnan hanya duduk dan menatap dengan heran. apalagi terlihat Chiyome menjabat tangan wanita itu dan mencium tangannya, mengikuti adab indonesia.


"Siapa ini, Ma?" tanya Adnan.


Aisyah baru saja hendak menjawab ketika Mariana mendahuluinya, "Pacarnya Kenzie..."


Adnan sendiri hanya bisa mengangguk-angguk dan menatapi Aisyah. "Kok dia bisa datang bersamamu?"


"Kami ketemuan si pasar sentral." jawab Aisyah.


"Pasti mau masak pilitode lagi." tebak Mariana lalu menatapi suaminya. "Anak ini unik lho, Pa. dia orang Jepang, tapi suka masakan gorontalo. dia juga fasih berbahasa indonesia."


"Ohya?" kata Adnan sambil berdiri lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Luar biasa."


Chiyome menjabat tangan Adnan dan menciumnya. "Terima kasih..." jawabnya.


"Aisyah duluan, Pa..." kata Aisyah pamit.


Aisyah dan Chiyome mengangguk lalu masuk kedalam meninggalkan suami-istri itu melanjutkan momen santainya diberanda.


"Anak itu kan orang jepang, kok bisa sekolah disini?" tanya Adnan.


"Kenzie bilang dia siswa program pertukaran pelajar. selama setahun, anak itu akan melaksanakan pendidikan disini." tutur Mariana.


Adnan mengangguk-angguk, "Teman sekelas Kenzie?"


Mariana mengangguk lalu terkekeh. "Keliatannya Kenzie suka sama dia Pa... Papa mau nggak punya mantu nanti orang jepang?" goda istrinya.


Adnan tertawa, "Jangan terlalu memanjangkan khayalan."


Mariana terkekeh, "Kan kalau punya mantu orang jepang, kita kan bisa pesiar kesana liat-liat apa gitu..."


Adnan semakin tertawa. tak lama kemudian terdengar deruman mesin sepeda motor. Kenzie memarkir kendaraannya disamping mobil ayahnya lalu melangkah ke beranda.


"Hai Pa...Ma.." sapa Kenzie.


"Itu, istrimu sudah menunggu didalam.." celetuk Adnan diiringi cekikikan Mariana.


"Istri?" gumam Kenzie mengerutkan keningnya.


"Itu... perempuan jepang itu.." sambung Adnan.


Kenzie sejenak tertawa kikuk lalu masuk kedalam. pemuda itu menyeberangi ruangan dan terus ke dapur, menemukan Chiyome sedang asyik memasak.


Kenzie tersenyum lalu duduk dikursi menatapi gadis itu yang masih tenggelam dalam kesibukannya, tak tahu kalau Kenzie sudah ada dan sementara menontonnya. ketika Chiyome berbalik, ia terlonjak kaget sedang Kenzie hanya tertawa saja. gadis itu memegang dadanya yang dibalut apron.


"Kau bikin kaget saja!. jantungku hampir copot." omel Chiyome dalam bahasa jepang.


"Jangan pake bahasa itu, aku nggak ngerti." kata Kenzie sambil menopang dagunya, bersandar pada tepian meja makan.

__ADS_1


tak lama Aisyah muncul dari kamarnya. "Baru sampe, Ken. kasian tu... Chiyome nunggu kamu lama sekali." jilbaber itu kemudian menemani Chiyome yang diajari memasak bakwan.


Kenzie menegakkan tubuh menatapi Aisyah. "Saya baru dari rumah Oom Ahmad di Padebuolo. ada yang kami bicarakan sedikit." pemuda itu kemudian bangkit dan melangkah dan berdiri dibelakang Aisyah dan Chiyome.


"Lagi masak apa?" tanya Kenzie sambil mendekat. sebenarnya ia hendak mencium Chiyome, tapi malu dipergoki Aisyah yang memelototi matanya mengancam pemuda itu untuk tidak meneruskan kenakalannya.


"Nggak liat lagi masak untuk persiapan makan malam?" ujar Aisyah pura-pura galak supaya Kenzie tidak mengganggu mereka.


"Aku nggak nanya kamu, Boneeeenggg.." ledek Kenzie dan ia mendapatkan hadiah timpukan sayur pakcoy di kepalanya oleh Aisyah.


"Lagi bantu Kak Ais..." sambung Chiyome.


"Mantap nih...calon istri.." bisik Kenzie dengan mesra.


kali ini pemuda itu langsung menghindar karena Chiyome mengancamnya dengan sendok kayu yang siap ditimpukkan ke kepalanya. akhirnya Kenzie meninggalkan mereka menuju ke ruang keluarga dan menyetel TV dan memilih channel yang disukainya.


sementara kedua gadis itu masih melakukan kegiatan mereka di dapur. kelihatannya kedua wanita iru sudah sangat akrab sehingga mereka sering bercanda disela-sela kegiatan mereka diruangan itu


setelah memasak, Chiyome mengatur meja dan Aisyah yang menghidangkan berbagai masakan itu diatas meja. kemudian ia menutupinya dengan penutup saji agar tidak dihinggapi lalat atau serangga yang lain. kedua gadis itu kemudian keduanya bergabung dengan Kenzie diruang keluarga.


"Lagi nonton apa?" tanya Aisyah sambil menghempaskan punggungnya disandaran sofa.


Kenzie menyerahkan remote control kepada Aisyah. "Kakak saja yang nonton. aku mau keluar dengan Chiyome." ujar pemuda itu sambil bangkit dan menarik tangan Chiyome agar mengikutinya.


"Jangan lupa pulang. kita mau makan malam bersama." pesan Aisyah.


kedua muda-mudi itu mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu. diserambi, keduanya kembali bersua dengan Adnan dan Mariana.


"Mau kemana kalian?" tanya Adnan.


"Saya mau temani Chiyome jalan-jalan." jawab Kenzie.


"Hati-hati. jangan lupa balik kemari dulu, kita makan malam bersama." pesan Adnan.


"Oke Pa." jawab Kenzie.


panggilan Adnan kembali menahan langkahnya. dengan malas Kenzie berbalik.


"Ya..Pa..." jawab Kenzie lagi mulai tak enak dengan Chiyome.


"Jaga anak orang Ken. kalian belum halal lho." pesan Adnan lagi dengan tatapan penuh makna.


Kenzie tersenyum penuh arti dan dia mengangguk. Adnan balas mengangguk. sepasang kekasih itu menuruni tangga dan tak lama kemudian kenderaan yang mereka naiki meninggalkan rumah itu.


sepeninggal mereka, Adnan menatapi Mariana sambil tersenyum.


"Kurasa aku nggak keberatan kalau anak jepang itu jadi calon mantu kita." ujar Adnan membuat Mariana langsung mengaminkannya. setelah itu keduanya masuk kedalam.


...*********...


"Kita mau kemana sih Ken?" tanya Chiyome agak keras sambil memperbaiki letak helm.


"Nanti juga tahu sendiri...sudah, peluk aku." pinta Kenzie agak keras kemudian menarik putaran gas disetang motornya. kendaraan itu melaju.


mereka melaju membelah jalanan utama menuju barat. mereka melewati masjid jami Baiturrahim Gorontalo dan terus melaju membelah jalanan yang diapit oleh pertokoan.



mereka memasuki wilayah Batu Da'a, yang merupakan ibukota pemerintahan Kesultanan Gorontalo pada abad ke 14. sekarang wilayah itu menjadi bagian dari wilayah pemerintahan kota gorontalo dan sebagiannya berada dalam wilayaj pemerintahan kabupaten gorontalo.


Kenzie dengan cakap mengendalikan kenderaannya meliuk-liuk mengikuti pola jalan yang menempel ditepian tebing sedang disebelahnya nampak sebagian hamparan danau limboto yang mulai mengering dan banyak dipenuhi perumahan warga.


mereka akhirnya tiba disitus wisata budaya, Benteng Otanaha. benteng itu terletak di desa Dembe I, merupakan situs pertahanan kerajaan Gorontalo yang digunakan secara turun temurun sejak raja pertama Matodula Da'a berkuasa menyatukan dua wilayah besar yang bermusuhan kedalam satu kesatuan.



benteng ini dibangun oleh Raja Ilato ditanah bekas permufakatan antara raja Humalangi (Matodulada'a) dengan 16 raja atau ratu Pohalaa (kabilah) ketika ia mendirikan kerajaan Gorontalo. atas bantuan pedagang Portugis, bangunan benteng itu dibangun hanya dengan batu dan isi telur burung Maleo sebagai bahan perekatnya. karena itikad yang tidak baik dari Portugis, raja Ilato menyerbu pasukan Portugis hingga mereka menyingkir ke pantai dan kembali berlayar.


Raja Ilato yang sekarang dikenal sebagai Ju Panggola kemudian mewariskan kerajaannya kepada Naha, yang kemudian berambisi untuk menguasai kerajaan Limboto yang dijaga oleh Hemuto. ambisilah yang akhirnya menyeret kedua kerajaan terjun dalam perang saudara, hingga saat ini, meski dengan pola yang berbeda.

__ADS_1


Chiyome menatapi tangga yang menjulang, ketika mereka memasuki cagar budaya itu. gadis itu turun dari boncengan dan berdiri tegak memandang dengan takjub. []


__ADS_2