Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 138


__ADS_3

tim forensik kepolisian resort Kota Gorontalo memeriksa tempat kejadian perkara. mereka memeriksa mayat-mayat para preman yang menghampar dihalaman gedung dan bagian dalam gedung. beberapa dari mereka menggeleng bahkan mendesis ngeri melihat potongan-potongan tubuh Puspita Kusmaratih yang mengonggok dilantai dibalur cairan darahnya sendiri. yang mengesankan nereka hanyalah tindakan pelaku yang memutilasi wadam tersebut dengan seni tingkat tinggi. sebab letak irisan atau tebasan pada daging dan tulang terlihat begitu halus, tidak kasar dan pasti menggunakan senjata yang sangat tajam. laporan hasil visum et repertum itu disampaikan kepada pihak reskrim polres Kota Gorontalo. berdasarkan analisa dari tim forensik tersebut, pihak kepolisian menahan Chiyome dan Saripah sesuai prosedur pasal 20 KUHAP untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.


untung Chiyome sudah mengintruksikan orang-orangnya untuk menyingkir agar tidak terseret menjadi pelaku pembunuhan. pimpinan kelompok itu melapor kepada Endi tentang tugasnya dan Endi meneruskannya ke Adnan. sementara Adnan dan Endi menghubungi pihak kepolisian resort kota, Chiyome sudah memberi minum Si Penebas Angin dengan darah para centeng itu, dan terakhir darah si penculik yang tak lain adalah Puspita Kusmaratih.


Dihadapan pihak kepolisian, Chiyome membeberkan alasan penculikan yang merupakan kisah perseteruan masa lalu. Chiyome juga membuka kedok asli Puspita Kusmaratih berdasarkan keterangan Trias kepada Adnan dan Endi juga Saripah dan dirinya. pihak reskrim bahkan mengunjungi SPN Batudaa untuk menemui Trias demi mensinkronkan keterangan tersebut.


setelah pengolahan keterangan dan saksi, pihak kepolisian memutuskan membebaskan Saripah dan menjerat Chiyome dengan pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan dan pasal 388 KUHP tentang tindakan pembunuhan. kasus itu dilimpahkan ke pengadilan. Adnan menyiapkan pengacara terbaik untuk menangani kasus tersebut.


...******...


Rumah Sakit Umum Daerah Aloei Saboe, pukul 17.45 WITA.


Mariana sesekali mengusap airmata yang membanjiri wajahnya. wanita itu meniarapkan wajahnya pada dinding kaca. disana, diruangan khusus itu nampak Kenzie terbaring diam. hidungnya dipasangi selang napas sedang tubuhnya dipasangi beberapa alat pengukur suhu dan detakan jantung. lelaki itu tak sadarkan diri dan untungnya peluru telah berhasil dikeluarkan dari tubuhnya.


"Anak kita kuat Ma. jangan terlalu merisaukannya." kata Adnan membelai punggung istrinya, setelah itu bermain dengan Saburo dalam gendongannya.


"Aku hanya bersyukur dia berhasil melewati masa krisisnya. peluru itu untungnya tidak mengenai jantung, tapi cukup menyiksa karena melubangi paru-paru.... ahhh Papa.. kasihan dia... tidak kau lihat penampilannya yang sudahtak terawat itu?" ujar Mariana menganggukkan kepala ke ruangan kaca.


"Kalau sudah sadar, dia akan kembali memperhatikan penampilannya." jawab Adnan. "Aku menyuruh Aisyah dan Bakri menjenguk Adek di Tempat Penahanan Polres Kota Gorontalo. kasihan dia, demi Kenzie dia rela menempatkan diri dalam bahaya."


"Bagaimanapun caranya kita harus memenangkan kasus ini Pa. Mama nggak rela. sudah dia difitnah sekarang dia mendekam di tahanan Polres Kota. ahhh..." desah Mariana, "Mengapa ujian selalu mendera keluarga ini?"


"Untuk membuat kita lebih kuat, Ma." ujar Adnan. "Lihat Kenzie. dia kuat... dia bisa bertahan... serahkan semua sama Allah, Ma... kita hanya bisa mendoakan yang paling baik buat anak-anak kita."


...******...


Tahanan Polres Kota Gorontalo. pukul 17.55 WITA.


Aisyah dan Bakri diterima oleh piket harian. mereka dipersilahkan menemui Chiyome. wanita itu sekarang mengenakan pakaian jingga khas tahanan. begitu Chiyome keluar dari sel, Aisyah maju menghambur memeluk adik serahimnya itu. Aisyah menangis.


"Bagaimana kabarnya Mama sama Papa?" tanya Chiyome dengan tenang setelah melepas pelukan kakaknya.


"Mama dan Papa baik. mereka meminta kami menjengukmu." jawab Aisyah.


"Hubby? bagaimana keadaan Hubby?" tanya Chiyome.


"Masih belum sadar." jawab Aisyah lagi.


Chiyome menggigiti bibirnya sejenak lalu menatap Bakri. "Kakak, bisakah kakak memintakan ijin untukku supaya aku bisa menjenguk suamiku? jika mereka ragu, mereka boleh mengawalku, memborgolku untuk mencegahku melarikan diri." pinta Chiyome dengan serius.


Bakri berdiri, "Ku usahakan sekarang." ujarnya kemudian meninggalkan kedua wanita itu.


"Mengapa kamu sampai membunuhnya? bahkan memutilasinya?" tanya Aisyah dengan lirih.


Chiyome terkekeh. "Itu bukan memutilasi, Kak. aku menebasnya dengan menggunakan teknik Ochiba o Kiriotosu (menebas daun rontok), salah satu jurus yang dipraktekkan dalam perguruan Niten Ichi Ryu... lebih tepatnya disebut termutilasi." jawab wanita bermata sipit itu.


"Sama saja, Chiyo. Kakak takut. kamu akan menjalani masa hukuman yang panjang karena membunuh orang." kata Aisyah lagi.


"Mau bagaimana lagi? jika dia tidak dibunuh, Saripah atau akulah yang terbunuh. Hubby sudah cukup melindungiku dan akibatnya ia belum tersadar dari komanya karena menderita tembakan. mereka juga tahu bagaimana kronologinya. aku sudah menjelaskan semua dalam interogasi." jawab Chiyome.


"Mereka nggak tahu, kamu praktisi seni kuno aliran Koga?" bisik Aisyah seraya memajukan tubuhnya mendekati Chiyome.


"Aku mengungkapkan bahwa aku mempelajari seni iaijutsu (menebas dan memotong) dari Perguruan Niten Ichi. tidak lebih. sekarang Si Penebas Angin masih disita sebagai bukti.


tak lama kemudian, Bakri muncul. Chiyome menatapnya. "Bagaimana Kak?"


"Mereka mengijinkan sekali saja. kau akan diantar mengunakan mobil polisi, nggak boleh bersama kami dimobil." jawab Bakri dengan tatapan iba.

__ADS_1


"Nggak apa. yang penting aku bisa ketemu Hubby." timpal Chiyome dengan senyum.


dua opsir polisi tanpa pakaian dinas muncul. salah satunya berpangkat Aipda bicara, "Nyonya Kevin Lasantu. anda kami ijinkan menjenguk suami anda di RSUD Aloei Saboe. silahkan ikut bersama kami."


Chiyome bangkit dan melangkah dikawal dua opsir polisi itu dengan segan. kepiawaian wanita itu menebas hingga mampu memutilasi Puspita menerbitkan rasa hormat dikalangan mereka. Bakri dan Aisyah menyusul. mereka tiba dihalaman. Chiyome masuk kedalam mobil SUV, sedangkan Bakri dan Aisyah menaiki mobil perusahaan.


dua kendaraan itu melaju meninggalkan kantor polres Kota Gorontalo dan menyusuri jalanan. sepanjang jalan, Chiyome hanya diam saja sampai akhirnya kendaraan yang membawanya tiba di kompleks RSUD Aloei Saboe.


Chiyome kembali keluar dikawal opsir polisi berpakaian kasual melangkah bersama Bakri dan Aisyah menuju tempat dimana Kenzie dirawat. mereka bertemu Mariana dan Adnan yang menggendong Saburo.


melihat Chiyome, kontan Saburo langsung mengembangkan tangan dan menangis. Chiyome langsung memeluk dan menenangkannya. Adnan menatap kedua opsir tersebut.


"Terima kasih, sudah menginjinkannya kemari." kata Adnan dengan tulus.


"Sama-sama Pak." jawab salah satu opsir itu sambil tersenyum.


Mariana menatap Chiyome yang sementara menenangkan Saburo, mengenakan seragam jingga khas tahanan itu. hatinya terasa sakit. "Bisa nggak pak pakaiannya diganti? anakku nggak bersalah pak."


"Maaf bu. untuk perkara yang ini kami nggak bisa mengabulkan..." jawab salah satu opsir tersebut.


Adnan menatap Chiyome. "Masuklah nak. temui suamimu." pinta lelaki tersebut.


Chiyome mengangguk. ia menyerahkan Saburo ke pelukan Aisyah lalu masuk kedalam ruangan tersebut. Chiyome menatap Kenzie yang masih diam dalam baringnya, dipasangi selang napas dan alat pendeteksi tekanan darah dan detakan jantung. wajahnya berewokan namun tetap menampakkan ketampanan. wanita itu duduk disisi ranjang.


"Hubby... Hubby benar soal kumis dan cambang itu. biarpun berewokan, Hubby tetap ganteng." puji Chiyome maju membelai rahang yang ditumbuhi cambang itu. perlahan setitik airmata jatuh membasahi pipi wanita tersebut.


"Hubby... Hubby ingat janji Hubby? Hubby bilang... kita akan sama-sama terus... dan bila wafat, kita harus sama-sama. jadi.... Hubby nggak boleh duluan! pokoknya Wiffy nggak rela." ujar Chiyome kemudian menangis dan meniarap ditubuh Kenzie yang terbaring.


"Hubby.... bangun Hubby... bangun..." sedu Chiyome menumpahkan air matanya.


tanpa disadarinya. tangan Kenzie bergerak dan perlahan hinggap dikepala Chiyome lalu mengusapnya.


Chiyome kaget dan langsung menegakkan kepalanya menatap Kenzie. lelaki bercabang itu membuka matanya dan tersenyum.


"Hubbyyyy...." jerit Chiyome langsung memeluk Kenzie dan kembali menangis bahagia.


"Kalau Hubby duluan, Hubby khawatir Wiffy kawin lagi. nggak rela Hubby..." sambung Kenzie. Chiyome melepas pelukannya lalu menumbuk pundak Kenzie dengan manja dan kembali memeluknya.


"Ahhh... Hubby kok nggak dapat ciuman ya?" sindir Kenzie.


Chiyome langsung mencium dan ******* bibir suaminya dengan mesra. setelah puas menciumi, wanita itu kembali memeluk Kenzie seakan tak ingin berpisah dari sisi lelaki itu.


Mariana masuk dan menjerit senang melihat Kenzie yang sudah siuman. wanita itu menghambur dan memeluk putranya dan menangis bahagia disana. Chiyome mengusap air matanya dan duduk sambil tersenyum. Mariana bangkit lalu memeluk Chiyome dan menciumi pipi wanita itu dengan gemas.


"Makasih, adek... makasih..." ujarnya lirih dan dengan gemas kembali mencubit hidung Chiyome.


"Aauuuggghhhh.... sakit Maaaa..." jerit Chiyome langsung memegangi hidungnya. namun setelah itu ia memeluk Mariana.


setelah melepaskan pelukan, Chiyome menatap suaminya. "Hubby... Wiffy senang Hubby sekarang siuman. maaf... Wiffy harus kembali ke Polres. waktu Wiffy sudah habis." ujar Chiyome dengan enggan.


airmata berlinang dari kelopak mata Kenzie. "Aku merindukan Wiffy... baiklah... setelah sembuh, Hubby akan membebaskan Wiffy dari sana. dan kita akan berkumpul lagi sebagaimana sediakala." ujar Kenzie kemudian menarik napas dan mengangguk pelan.


Chiyome bangkit. dengan langkah enggan sambil sesekaki menatapi Kenzie, ia meninggalkan ruangan dan kembali di kawal oleh dua opsir berpakaian kasual itu.


sepeninggal Chiyome, masuklah Adnan beserta Aisyah yang menggendong Saburo dan Bakri.


"Kamu sudah merasa baikan?" tanya Adnan dengan haru.

__ADS_1


Kenzie tersenyum datar dan mengangguk pelan. "Rasa sakitku bukan karena peluru itu. tapi melihat Wiffy mengenakan baju tahanan... sesadis itukah hukum?" desisnya. "Istriku tak bersalah. mengapa harus dia yang dipenjara? mestinya Puspita yang dipenjara!"


"Puspita tewas dibunuh Adek." jawab Adnan, "Melihatmu yang tertembus peluru, dia menjadi ganas dan menebas Puspita dengan pedang warisan keluarga."


"Itu tindakan membela diri, Pa!" tandas Kenzie.


"Papa tahu... makanya Papa sudah menghubungi pengacara kita. insyaa Allah... kasus Chiyome akan bisa diselesaikannya dengan baik." jawab Adnan.


seisi ruangan kemudian hening. larut dalam pikiran masing-masing.


...*******...


Kamis, Tanggal 24 Mei 2023. Pengadilan Negeri Gorontalo. pukul 09.00 WITA.


ruangan persidangan sudah dipenuhi oleh para pengunjung, wartawan dan keluarga besar Lasantu dan Mantulangi. Adnan duduk paling didepan bersama Mariana, Aisyah dan Bakri. sedang Bapu Ridhwan dan beberapa anggota keluarga Mantulangi duduk dideretan kedua.


tak lama kemudian muncul rombongan hakim yang menduduki tempatnya. hakim ketua memandang satu-persatu mulai dari jaksa penuntut, pengacara, panitera dan juri. Hakim itu kemudian memegang palu sidang.


"Pada hari ini, sidang tentang kasus pembantaian yang dilakukan Saudari Chiyome Mochizuki dibuka, dengan agenda tuntutan dari jaksa." ujar hakim ketua mengetokkan palu sidang pada bantalannya. "Silahkan dihadirkan terdakwa ke ruangan."


tak lama muncul dua orang sipir mengawal Chiyome yang mengenakan pakaian tahanan ke tengah ruangan. ia kemudian duduk didepan menghadap kearah para hakim.


"Silahkan penuntut umum mengajukan tuntutan." ujar Hakim ketua.


seorang pria mengenakan pakaian mirip toga hitam berdiri dan memegang sebuah berkas.


"Terima kasih, Pak Hakim yang terhormat." ujar penuntut umum kemudian menatap Chiyome. penuntut itu memulai mukadimahnya dan beberapa kata yang memiliki kaitan antara pembukaannya dengan kasus yang sementara dipegangnya. tak lama kemudian ia menudingkan jari.


"Nyata bahwa saudari Chiyome telah berencana sebelumnya untuk menghabisi orang-orang itu beserta Puspita Kusmaratih. dengan ini, saya menuntutnya dengan hukuman lima belas tahun penjara dan setelah itu deportasi! sebab terdakwa masih berstatus sebagai warga negara Jepang!" ujar penuntut umum mengakhiri tuntutannya.


semua yang ada diruangan itu diam sejenak. Hakim ketua menatap Chiyome. "Anda menerima tuntutan itu?"


"Dengan jelas, saya menolak, pak Hakim." jawab Chiyome dengan tegas. "Saya melakukan kewajiban saya sebagai seorang istri yaitu melindungi kehormatan suami saya. lagipula semua keterangan sudah saya jelaskan kepada pihak yang berwajib. segalanya.... segalanya saya jelaskan."


penuntut umum bereaksi lagi. "Tuan Hakim yang terhormat. saya rasa, anda harus melihat tayangan ini untuk lebih memperkuat putusan anda terhadap terdakwa."


penuntut umum mengarahkan remote control ke proyektor dan benda itu langsung menayangkan peristiwa tentang perang antar geng dimana Chiyome menghabisi semua anak-anak Tohoku dalam insiden itu. para hadirin ternganga terkecuali Adnan dan Mariana saja.


"Anda lihat? ini adalah tayangan yang berhasil saya lacak di youtube. ini adalah perang gangster antara kelompok Tokyo melawan kelompok Tohoku. anda lihat. disana ada terdakwa menggenggam sebuah senjata api dan menembaki orang-orang Tohoku." penuntut umum itu kemudian menghentikan tayangan tersebut. "Jelas, bahwa terdakwa memang telah biasa menggunakan senjata api dan terbiasa melakukan pembunuhan. apa lagi yang patut diragukan disini?"


hakim ketua menatap Chiyome lagi. "Nak, apakah video itu benar?"


"Benar dari sisi yang lain, dan salah dari sisi yang lain." jawab Chiyome. "Insiden itu terjadi dihari pernikahan saya dengan Kenzie. kami menikah di Jepang dalam usia sekolah..."


"Apakah kalian menikah karena kecelakaan?" tanya penuntut umum.


Adnan menggeram dan menatap penuntut umum itu dengan tatapan ingin memghabisinya. penasihat hukum keluarga Lasantu langsung bangkit.


"Keberatan Yang Mulia!" seru penasihat hukum tersebut. "Penuntut menggunakan asumsi tak sesuai untuk mendukung tuntutannya."


"Asumsi seperti apa?" tanya Hakim ketua.


"Mereka menikah bukan karena kecelakaan. tapi atas persetujuan dua keluarga. lihat waktu terjadinya insiden, sama dengan waktu yang terdapat pada tayangan ini."


penasihat hukum mengarahkan remote control dan menayangkan prosesi pernikahan secara islam antara Chiyome dengan Kenzie yang diselenggarakan di Masjid Cami Tokyo, di pimpin oleh Ustadz Taki Takazawa.


"Prosesi itu terselenggara pada pukul 09 pagi waktu Jepang. dan insiden perang gangster itu terjadi pada pukul 13 siang waktu jepang, beberapa saat setelah prosesi nikah itu selesai. silahkan cermati lebih detail bahwa dalam insiden tersebut, klien saya masih mengenakan pakaian pengantinnya."

__ADS_1


hakim menyuruh panitera memutar kembali kedua tayangan itu dan mereka mengangguk-angguk paham. memang dalam peristiwa itu, Chiyome dan Kenzie masih berpakaian pengantin. []


__ADS_2