Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 143


__ADS_3

lama tidak menemani Saripah selama beberapa bulan karena mengikuti pendidikan di SPN Batudaa membuat Trias menjadi sedikit protektif mendekati posesif. semakin lama dilihat semakin dia menyadari kecantikan alamiah gadis agrobisnis itu.


semakin jutek dia ketika melihat beberapa pemuda yang terlihat mengagumi kekasihnya membuat Saripah kembali bertindak bagaikan istri yang bertindak bijak menenangkan suaminya.


"Sudah... jangan jutek begitu." tegur Saripah, "Nanti tampannya hilang lho."


"Ah, bisa-bisanya kamu saja membujukku supaya nggak ngamuk-ngamuk disini. iya,kan?" ujar Trias masih dengan wajah kesal.


"Memang..." jawab Saripah. "Aku nggak mau cafe ini jadi ajang kompetisi tarung sejagat antara kamu dengan mereka yang nggak jelas maunya itu."


"Nggak jelas gimana? sudah jelas mata kambing mereka itu jelalatan melihat kamu." tandas Trias.


Saripah diam tak menanggapi, memilih meminum kopi dan menikmati cemilan pesanan mereka. Trias kemudian merasa bahwa kekasihnya kesal karena kekerasan hatinya juga akhirnya memilih diam. nantilah beberapa lama kemudian, Saripah bicara.


"Biarkan saja mereka menatapku, Yas. hanya sekedar menatapku saja. aku tahu diri juga nggak kegenitan melayani tatapan nakal mereka...." Saripah kemudian menatap Trias dan menyentuh tangannya, "Aku milik kamu. itu yang jelas! bukan sekadar ungkapan tanpa makna. tapi pernyataan tegas, aku adalah milikmu!"


Trias merasakan kenyamanan dari pernyataan Saripah barusan. perlahan senyumnya terbit lagi dan semakin menambah keimutan wajah pemuda itu.


"Ahhh... tampannya duda imutku ini." puji Saripah dengan nada pelan sambil mencubit dagu Trias dan tersenyum.


Trias menekankan telunjuknya ke bibir. "Ssttt... diamlah. jangan sampai statusku sebelumnya ketahuan..." bisik Trias, "Aku bisa dipecat, tahu?!"


Saripah buru-buru menutup mulutnya lalu menjelajahi ruangan dengan lirikan bola matanya memperhatikan apakah ada yang sempat menangkap percakapan mereka. setelah sekian lama barulah Saripah mendesah.


"Kurasa nggak ada." jawab Saripah menunduk menatap cemilannya dan kembali mengonsumsinya dengan tenang.


Trias menatapnya. "Sejak kapan Chiyo merekrutmu menjadi pengawalnya?"


"Sebulan lalu..." jawab Saripah terus ngemil cemilan itu dan sesekali menatap kekasihnya.


"Aku sendiri nggak nyangka, Budi berhasil memanipulasi dirinya begitu hebat hingga kami berdua saja terkecoh dengan penampilan barunya." ungkap Trias.


"Memangnya sejak keberadaannya disisi kalian, kamu berdua nggak menyadarinya?" selidik Saripah.


"Sumpah! benar bingits..." jawab Trias.


pemuda itu menengadah menatap lampion-lampion kecil yang menghiasi langit-langit kafe itu. "Memang ketika pertama kali Kenzie memperlihatkan fotonya kepadaku, aku menyadari tatapan mata Puspita, mirip dengan seseorang yang kukenal, namun lupa entah dimana ketemunya."


"Tatapannya? tatapannya doang?" tandas Saripah.


Trias mengangguk. "Itu sangat mengganggu pikiranku dan sempat mengganggu prosesku dalam tes masuk Secaba Polri. untungnya nggak. nanti setelah akhir-akhir ini, aku menyadari bahwa tatapan itu mirip dengan salah satu alumni kita dan aku sangat mengenalnya namun lagi-lagi aku sulit mengingatnya."


"Terus?" tanya Saripah.


"Suatu ketika aku memimpikan peristiwa dulu ketika kami mengamuk dikelas 11A, kamu ingatkan? aku memukuli Budi karena dia mengganggu pagar ayuku dengan Iyun?" ujar Trias.


Saripah mengangguk dengan cepat.


"Aku baru menyadari, bahwa tatapan mata Budi, begitu mirip dengan tatapan Puspita. itulah sebab ketika Om Adnan dan Abah menemuiku di Sekolah, dan memberitahu peristiwa diculiknya Ken-ken.... Aku menghubungi Chiyo dan kamu agar segera ke sekolah kita yang dulu untuk memastikan hipotesa yang kususun itu." tutur Trias menegakkan tubuhnya menyandar pada kursi.


"Dan tebakanmu benar." sahut Saripah, "Ditambah orang-orangnya Chiyo menemukan letak persembunyian dan penyekapan Kenzie. kami benar-benar menggerebeknya sendirian, tanpa bantuan polisi sama sekali."


"Kamu melihat kekejaman Chiyo, kan?" pancing Trias.


Saripah mengangguk lalu menggeleng. "Aku nggak nyagka dia sedingin itu dalam bertindak. bayangkan, dia memisahkan tubuh satu demi satu para centeng seperti orang yang sedang membabati rumput saja." ungkap gadis itu kemudian mendekat, "Apakah aslinya Chiyome memang seganas itu?" bisiknya.


"Memutilasi Budi dengan jurus pedangnya, itu mah cuma pertunjukan kecil yang ia pertontonkan sama kamu." ujar Trias. "Kamu sudah lihat video yang diunggah dari youtube tentang insiden Tokyo itu kan? aku dan Iyun ada ditempat kejadian. kami dilarikan Yasuyori karena gempuran orang-orang Tohoku memang memberikan kesan seperti perang dunia! berisik sekali. telingaku saja nyaris tuli."


"Apa benar dia membabat habis orang-orang itu hingga ke pemimpinnya seorang diri?" selidik Saripah.


"Ceritanya begitu, Kenzie saksinya. tapi berita itu sengaja diredam sendiri oleh klan Yamaguchi karena sebenarnya itu aib. hanya karena seorang gadis, terjadi perang saudara antara Shitei Kanto dengan Shitei Tohoku, antara wakachu Tokyo dengan wakachu Ichinoseki." ujar Trias dengan senyum. "Waktu persemayaman jenazah Kak Heitaro Koreyuki, Kumicho saat itu memerintahkan seluruh anggota keluarga wakachu Ichinoseki melakukan bunuh diri massal untuk menanggung dosa akibat menyerbu Tokyo dan menimbulkan kegemparan disana."


"Wah, sadis juga ya?" komentar Saripah.


Trias mengangguk, "Itulah kenapa Chiyo begitu sangat mencintai suaminya lebih dari sebelumnya. karena itu berkat pengorbanan Kak Koreyuki."


Saripah mencerna kata-kata lelaki itu. tak lama ia tersenyum. "Apakah kamu akan berlaku sama seperti itu terhadapku?"


"Seperti apa? seperti Chiyome mencintai Kenzie?" tanya Trias.


Saripah mengangguk.


"Tentu... kau adalah kekasihku, aku nggak mungkin melakukan sesuatu jika bukan untuk mengamankan kamu disisiku!" tandas Trias.


"Meskipun harus membuat Tuhan cemburu karena kau lebih mengutamakanku dari-Nya?" pancing Saripah menguji hati Trias.


"Mbok ya kalau menguji hatiku itu ya dipikir dulu bicaranya. kamu mau membuat Tuhan cemburu kepadamu?" olok Trias dengan senyum, "Nggak bakalan Dia cemburu. yang ada malah kita diberdua diberikan ujian... kamu mau?"

__ADS_1


"Nggak suka sih..." jawab Saripah menyengir.


"Makanya... jangan ngasal bertanya hal semacam itu." timpal Trias, "Tapi kalau kau mau jawaban jujur langsung dari hatiku, aku nggak mau menempatkan kamu diatas Dia."


Trias menyeruput lagi air kopi dan meletakkan cangkir itu dimeja kemudian melanjutkan bicara.


"Aku nggak mau apa yang menimpaku dengan Iyun, juga terjadi padamu." jawab Trias, "Dulu, aku begitu mencintai Iyun sampai tak sadar menempatkan dirinya nyaris melampui Allah. itulah sebabnya aku selalu mengunjunginya, bahkan rela menghabiskan sisa usia demi menjumpainya di Barzakh."


Saripah terus mencerna kata-kata Trias. pemuda itu kemvali melanjutkan, "Sampai akhirnya kau menarik paksa aku dari alam sana. itu menyadarkanku setelahnya bahwa cinta harus ditempatkan pada posisi yang semestinya agar harmoni alam itu tidak terganggu."


"Begitu ya..." ujar Saripah kembali menyengir. "Kamu memang pilosof cinta." olok gadis itu.


"Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu berkata: cintailah orang yang kau kasihi sekedarnya saja karena boleh jadi kelak kau akan membencinya. bencilah orang itu sekedarnya karena boleh jadi kelak kau akan mencintainya." ungkap Trias. "Artinya kita tidak boleh menempatkan rasa cinta atau benci itu melebihi takarannya. bisa bahaya."


"Apakah setelah ini kau akan membenciku?" pancing Saripah.


Trias tertawa, "Kamu jangan mempolitisir hujjah para shahabat dong. itu bukan cuma Ali bin Abi Thalib yang bilang lho. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam juga mengingatkan hal sedemikian rupa."


"Apakah setelah ini kau akan membenciku, Trias Eliasha Ali?" tanya Saripah kembali.


"Kalau dalam taraf yang tak termaafkan, mungkin aku akan membencimu. jika kesalahan itu masih bisa kutolerir, mungkin aku hanya meluruskan kamu saja, meskipun dengan keras, menggunakan ini!" ujar Trias memperlihatkan kepalannya. pemuda itu kemudian menampakkan wajah serius. "Kenapa? kamu selingkuh ya?"


mendadak Saripah tertawa membuat Trias mengerutkan keningnya. setelah puas tertawa, Saripah menggelengkan kepala berkali-kali dan menatap Trias.


"Mana ada orang selingkuh, ngaku Yas..." olok Saripah.


"Lalu? kamu melakukan kesalahan apa sampai bertanya semacam itu?" selidik Trias.


"Nggak ada." jawab Saripah terkekeh, "Aku hanya lagi nguji kamu saja.... lagian nggak ada untung nyelingkuhi kamu."


"Apakah karena aku seorang aparat?" tanya Trias.


"Bukan..." bantah Saripah. "Tapi, karena aku memang cinta sama kamu."


Trias tanpa sadar mengembangkan senyum dan membesarkan rongga dadanya sehingga nampak lebih tegak.


"Syukurlah kalau kau sadar bahwa aku terlalu tampan sehingga kau tak punya waktu beralih ke lelaki lain." olok Trias membuat Saripah tersenyum masam.


"Sudahlah... aku mau mengajakmu ke tempat lain." ujar Trias sambil bangkit dan melangkah menuju kasir. setelah membayar harga minuman dan cemilan, lelaki itu melangkah kembali ke hadapan Saripah.


"Sudah, ikut saja." kata Trias.


Trias melangkah dan diikuti oleh Saripah keluar dari cafe itu. mereka berdua melanjutkan perjalanan mengendarai motor klasik itu menyusuri jalanan. namun firasat Saripah memberitahu perjalanan kali ini menuju tempat yang tidak biasanya, dan instingnya benar!


Trias menyusuri jalanan yang mengarah ke Pemakaman Keluarga Gobel. Saripah mulai merasa cemas. masalahnua perjalanan mereka berlangsung pada malam hari dan mengunjungi makam dimalam hari bukan merupakan tamasya yang menyenangkan.


"Yas, kok kesini?" tanya Saripah.


"Kenapa? kamu takut?" tantang Trias.


Saripah tak menjawab, sementara Trias memarkir sepeda motornya. ia menatap Saripah yang menampakkan wajah tak sedap.


"Turun..." pinta Trias.


"Yas..." rengek Saripah.


"Sudah, jangan takut." ujar Trias, "Ada aku disini."


lelaki itu turun dari sepeda motornya yang terparkir lalu melangkah menuju Pemakaman. langkah Trias tak surut sedang Saripah mengikuti dari belakang dengan takut-takut. matanya jelalatan mengamati sekitaran yang gelap dan hanya ditemani cahaya rembulan yang redup, terhalang oleh gundukan awan yang menghampar diawang malam.


"Kita mau ke makam Iyun?" tebak Saripah.


"Lalu mau kemana lagi kalau bukan kunjungi dia." ujar Trias dengan acuh.


Saripah diam saja. tak ada gunanya membantah lelaki itu saat ini. bagaimanapun, dia mengunjungi wanita yang pernah menjadi seseorang yang penting dalam hidupnya, seseorang yang pernah menyandang status sebagai istrinya. seseorang yang pernah menerima ungkapan hatinya. dihafapan Inayah Azura Gobel, Saripah Indriana Hamid bukanlah siapa-siapa... hanya seorang yang menggantikan kedudukannya saja. tidak lebih.


keduanya tiba di makam itu. Trias tersenyum.


"Assalamualaikum, Mimi... ini Pipi, sama Ipah besuk kamu." sapa Trias kemudian jongkok menatapi makam yang masih terawat rapi. "Wah, lama Pipi tak menjumpai Mimi, Mimi masih terlihat rapi dan cantik. bagaimana kabar Mimi?"


Trias menoleh menatap Saripah yang masih berdiri. "Hei... ayo duduk. sapa sahabatmu." panggilnya sambil berbisik.


Saripah mendesah panjang lalu maju dan duduk bersimpuh disisi Trias. ia menatap paita yang sudah mulai lusuh itu.


"Assalamualaikum, Yun. maaf baru kali ini menjengukmu lagi." ujar Saripah dengan pelan.


Trias tersenyum lalu menatap pusara itu, "Eh, Mimi... Pipi sekarang lagi magang. insya Allah doakan ya supaya Pipi bisa lulus dalam magang dan mengikuti pengukuhan." ujar Trias menyapu tanah makam itu.

__ADS_1


Trias sejenak melihat Saripah lalu kembali menatap pusara. "Mimi... gimana dandanan Ipah? cantik kan? sesuai amanatmu Mimi, Pipi sekarang sudah pacaran sama Ipah. Mimi nggak bohong, Ipah memang cantik." puji Trias menatap pusara namun disisinya, Saripah tersipu mendengar Trias memujinya dihadapan pusara Inayah.


Saripah menoleh menatap Trias dan dia terkejut. dua garis airmata mengalir jatuh dimata lelaki itu. gadis itu menjadi haru. bagaimanapun berat rasanya melepaskan seseorang yang kita cintai dan merelakannya menempuh kehidupan baru dialam sana. perasaan bersalah itu masih menggelayuti Trias. kalau saja Iyun tidak memperisai dirinya, tentu wanita itu masih berada disisinya sekarang ini.


dengan haru, Saripah menjulurkan jemarinya menyentuh pundak Trias. pemuda itu lantas menangkupkan wajahnya dipelukan tangannya dan menangis tanpa suara. membiarkan emosinya keluar seiring rasa kehilangan itu dibiarkannya meluap. Saripah akhirnya terbawa pula perasaan.


"Yas... sudah... berhentilah menangis..." pinta Saripah ditengah isakannya.


Trias meringis menarik isakannya bersama tarikan napas dalamnya lalu menatap pusara itu dengan kedua matanya yang merah. air mata masih terus jatuh tapi lelaki itu kini lebih tabah.


berkali-kali Trias menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. ia membiarkan emosi itu menguap bersama lepasnya napas yang keluar melalui paru-paru tersebut.


"Yas... Iyun sudah damai.... jangan lagi usik dia dengan tangis kehilangan kamu." tegur Saripah, "Sekarang kau memiliki aku.... Yas.." panggil Saripah.


Trias perlahan menatap ke arah gadis bertopi bucket itu. Saripah menyambung lagi.


"Yas... kita mulai lagi hidup baru ya? aku janji akan membasuh kesedihanmu.... kita akan melangkah bersama dengan amanat Iyun hingga ia datang untuk menjemputmu dariku." ujar Saripah dengan senyum.


Trias membalas dengan senyum pula lalu mengangguk. lelaki itu bangkit dan mengulurkan tangan ke arah Saripah.


"Mari kita pulang... sudah cukup kita disini." ajak Trias.


Saripah menyambut uluran tangan itu, menggenggamnya dengan erat dan ia pun bangkit. keduanya meninggalkan pusara Iyun sambil bergandengan tangan.


rembulan diatas hampar awan menampakkan sinarnya dengan tersipu.....


*Aku.... kan menjadi malam-malammu...


kan menjadi mimpi-mimpimu...


dan selimuti hatimu... yang beku


Aku... kan menjadi embun pagimu..


yang kan membasuh hatimu...


dan membasuh rasa rindumu... yang pilu...


Aku bisa untuk menjadi apa yang kau minta...


untuk menjadi apa yang kau inginkan


tapi ku tak bisa menjadi dirinya....


aku...kan menjadi bulan bintang mu


yang kan sinari hatimu


dan menghapus rasa rindu yang pilu...


Aku bisa untuk menjadi apa yang kau minta


untuk menjadi apa yang kau impikan


tapi ku tak bisa menjadi dirinya......


tinggalkan semua waktumu... beri sedikit waktu..


kepadaku... tuk meyakinkanmu


aku...


kan menjadi malam-malammu...


yang kan membasuh hatimu...


dan selimuti hatimu...


selimuti hatimu...


selimuti hatimu...


selimuti hatimu...


selimuti hatimu....


selimuti hatimu*..... []

__ADS_1


__ADS_2