Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 61


__ADS_3

02 Januari 2020 pukul 16.02 (04.02 p.m)


Trias menjawab semua pertanyaan petugas penyidik dengan lancar dan lugas saat pemuda itu diminta menceritakan kronologinya. meskipun begitu, Trias tidak menyebut nama Yanto Lapananda dihadapan para penyidik. Trias hanya mengatakan bahwa pelaku penculikan sulit diidentifikasi karena pelaku sengaja tidak menghampiri cahaya. pemuda itu juga tidak menyebut-nyebut perihal rekaman video, agar tidak menyeret nama Kenzie dalam penyelidikan pihak kepolisian.


setelah menyelesaikan beberapa pertanyaan, detektif negara itu pamit meninggalkan ruangan. saat ini, Trias sudah mengalami peningkatan karena para perawat dan dokter atas permintaan Adnan disuruh untuk memantau dan memastikan putra sahabatnya itu kembali membaik. memar-memar ditubuh Trias telah berganti warna kebiruan.


kedatangan Kenzie dan Chiyome sedikir banyak membantu proses kesembuhan pemuda itu. melihat memar disisi mata kiri dan bekas luka dibibir bawah Kenzie, membuat Trias langsung bertanya.




"Kenapa muka kamu bonyok begitu? jangan bilang kalau...." tebak Trias.


"Iya, aku bantu Om Endi menemukan kamu. cuma aku minta Om Endi jangan ungkit namaku supaya Papa tidak panik." jawab Kenzie tanpa menyertakan partisipasi istrinya. Chiyome sendiri paham maksud suaminya sehingga ia lebih banyak berdiam diri. setidaknya Kenzie membantunya menerapkan prinsip mugei numei karena hanya Kenzie diluar keluarga Mochizuki yang mengetahui rahasia istrinya.


Trias mengangguk-angguk. "Makasih Bro."


"Sudah kewajiban aku sebagai sahabatmu. aku nggak mau kaku di salah pahami. kau harus segera mengklarifikasi berita bengkok tentang kamu kepada keluarga istrimu." jawab Kenzie lagi.


"Memangnya apa yang mereka pikirkan tentang aku?" tanya Trias dengan heran.


"Sekarang, baik keluarga istrimu, kecuali Om Murad, semua teman sekelas Iyun dan pihak sekolah beranggapan kamu adalah tersangka pembunuhan Iyun." kata Kenzie.


"APA ?! MEREKA BILANG AKU YANG MEMBUNUH ISTRIKU SENDIRI ?! TINGGOLOPU... TAHEDE..." berbagai jenis kata umpatan yang tersebut dari mulut pemuda itu.


Kenzie diam saja menatapi Chiyome yang juga diam membiarkan sahabat mereka berpuas diri melontarkan maki dan caci atas tuduhan tersebut.


setelah puas memaki-maki, pemuda itu menyandarkan punggungnya dengan lemas disandaran ranjang mengatur napasnya yang memburu.


Chiyome bangkit dan meletakkan bungkusan di meja sisi ranjang yang ditiduri Trias. "Kamu pasti lapar. ini kami bawakan makanan. isilah energimu dulu."


Trias menatap bungkusan itu. marahnya sedikit mereda lalu mengambil bungkusan itu mengeluarkan sebuah kotak styrofoam putih. Trias membukanya dan melihat bubur ayam yang gurih mengundang selera.


"Makanlah Yas. aku tahu, selama penyekapan itu kau sama sekali tak mendapatkan nutrisi." kata Kenzie, kemudian terkekeh sendiri. "Ternyata pelaku itu sadis juga ya?"


Trias menyendok bubur itu dan memakannya dengan lahap. Chiyome tertawa pelan.


"Santai saja, Trias. nggak ada yang mau merampas makananmu." sindir Chiyome membuat Trias tersenyum lalu makan dengan agak lambat agar bisa meresapi nikmat dan enaknya hidangan itu.


"Kau belum ketemu Papamu?" tanya Trias.


"Belum. sepeda motorku saja masih di rumah Papamu. aku sampai hari ini belum pulang. aku takut di interogasi lagi oleh Papa dan Mama, apalagi Kak Ais akan menginterogasi istriku." kata Kenzie.


memang Kenzie dan Chiyome belum pulang ke rumah. selain mengupayakan luka diwajah Kenzie bisa hilang, mereka juga langsung membeli pakaian baru dan menyimpan pakaian lama mereka dirumah Endrawan. untung saja Kenzie bawa kartu kredit.


"Sekarang aku justru memikirkan Abah." kata Trias dengan wajah kusut.


"Kenapa dengan Abahmu?" tanya Kenzie.


"Setelah insiden ini, dia pasti jadi incaran mereka. apalagi aku sudah selamat." ujar Trias lalu menatapi Chiyome dan Kenzie bergantian.


"Om Adnan menekan pihak kepolisian untuk mengawalku. Om Adnan curiga, aku akan tetap menjadi target penculikan dan kisah buruknya adalah, aku bakal dihabisi oleh mereka." sambung Trias.


"Apa kamu pikir kami berdua akan diam saja?!" tantang Kenzie.


Trias menatapi kedua sahabatnya bergantian lalu melambaikan tangan mengisyaratkan keduanya untuk mendekat. Kenzie dan Chiyome sejenak berpandangan lalu mereka mendekat dan duduk ditepi ranjang.


"Kalian tau nggak, siapa pelaku penculiknya?" pancing Trias dengan suara rendah nyaris berbisik.


Kenzie memandang Trias dengan penasaran lalu menggeleng. Trias mengisyaratkan Kenzie untuk memeriksa pintu masuk ruangan. pemuda itu mengangguk lalu melangkah menuju pintu , membukanya dan melongok keluar sebentar lalu menutupnya lagi dan melangkah lalu duduk ditepi ranjang kembali.


"Aman...." jawab Kenzie sambil berbisik. "Sekarang katakan... siapa yang menculikmu?"


sejenak Trias mengatur napas lalu menatapi kedua sahabatnya bergantian.

__ADS_1


"Pelakunya adalah... Papanya Burhan..." jawabnya dengan berbisik pula.


"APA?! PAPANYA..." teriak Kenzie dengan kaget membuat Trias gelagapan langsung membekap mulut sahabatnya. Kenzie meronta dan melepaskan bekapan Trias dan menatapinya tak percaya.


tapi anggukan kepala Trias membuat pemuda itu menjambak rambutnya dengan lembut dan menatapi Chiyome yang juga menatap tak percaya...


"Aku... tak menyangkanya.." desis Kenzie dengan lirih.


"Aku juga nggak menyangkanya." balas Trias dengan gurat kecewa. "Dia berpikir, kita bertiga yang menjadi penyebab kematian Burhan." setelah itu Trias menatapi Kenzie. "Bukankah waktu penggerebakan itu, kita tidak menemukan keberadaan Burhan, kan?"


"Tentu kita tak menemukannya." balas Kenzie, "Tau-tau sudah terdengar kabar, Burhan tewas beberapa meter dari lokasi perkelahian kita."


Trias memejamkan mata berupaya mengingat-ngingat. Kenzie sendiri menatapi Chiyome penuh arti. "Aku sendiri bingung, siapa yang membunuhnya. sampai sekarang hal itu mengganggu pikiranku."


Chiyome tahu apa makna tatapan suaminya. kelihatannya Kenzie sudah bisa menebak siapa pembunuh Burhan karena ia telah melihat sendiri aksi istrinya yang brutal pada saat insiden pengepungan dihari pernikahan mereka. gadis itu menunduk tak berani menatap tatapan Kenzie lalu mengalihkan tatapannya kepada Trias.


Trias menarik kerah kemeja Kenzie. "Kita harus menemukan pembunuh itu untuk membersihkan namaku, Ken." kata pemuda itu.


"Aku juga sependapat, Bro." jawab Kenzie kemudian menatapi Chiyome sekali lagi.


Trias mengangguk dan melepaskan renggutannya kemudian menatapi Chiyome. "Bagaimana menurutmu Chiyome?"


sejenak Chiyome terkejut lalu menatapi kedua pemuda dihadapannya bergantian. "Y-ya.... p-pendapatku juga d-demikian..." jawabnya dengan kaget, namun wanita itu cepat menguasai dirinya dan berdiri tegak lalu mengurut dagunya. "Permasalahannya sekarang.... sosok pembunuh itu benar-benar tidak dikenali. sidik jarinya, identitasnya. tak ada saksi ditempat kejadian itulah sebab pihak polisi sendiri mengalami kebuntuan."


Trias merutuk lagi. Kenzie mengelus pundak Trias.


"Haruskah kita menemui Om Yanto untuk menjelaskan duduk perkaranya?" pancing Kenzie. sontak Trias melarangnya.


"Jangan Ken! Om Adnan yang sudah mengambil tindakan itu. tak ada yang bisa kita lakukan untuk saat ini." jawab Trias.


Kenzie mengangguk-angguk lalu melangkah menuju jendela, memandangi pemandangan sungai yang mengalir dibelakang bangunan puskesmas tersebut. ia kemudian membalikkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di tiang jendela. "Kira-kira, tanggal 6 itu, kau sudah bisa ke sekolah?"


"Nggak tau, aku hanya ikut kata dokter saja." jawab Trias sambil membuka kemejanya memperlihatkan tubuh penuh bilur kebiruan. "Kamu nggak liat seluruh tato alami ini?"


Kenzie terkekeh. "Kalau nggak ada kau dikelas, segalanya terasa sunyi. nggak ada panglima yang mampu menggerakkan pasukan."


"Tinggolopumu!... sudah punya Chiyome, masih saja menggodaku... monduhu " umpat Trias sambil tertawa.


"Oke, Bro. ana cabut dulu. nanti kita jenguk ente lagi. istirahatlah... jangan kuatir, kami berdua yang akan membelamu." kata Kenzie sambil mengangkat kepalannya ke atas.


Trias mengangguk balas mengangkat kepalannya. Kenzie mengajak istrinya meninggalkan ruangan itu. keduanya melangkah tanpa suara membuat Chiyome digelayuti perasaan tak enak. sesampainya diluar, mereka memberhentikan sebuah bentor.


mereka menuju ke rumah Endi untuk mengambil sepeda motor. lelaki botak itu sudah memperbaiki beberapa bagian kecil sepeda motor itu dan menyerahkannya kepada Kenzie. setelah mengucap tarima kasih, dua laki-bini itu mengendarai sepeda motor tersebut menyusuri jalanan.


Chiyome memeluk pinggang Kenzie dengan erat. pemuda itu tersenyum.


"Hubby mau Wiffy jujur sekarang." kata Kenzie.


"Iya deh... Wiffy yang habisi Burhan. puas?!" jawab Chiyome dengan kesal lalu membenamkan pipinya dipunggung Kenzie.


Kenzie tertawa, "Tuh... Trias mau tangkap Wiffy supaya buat pengakuan." olok pemuda itu.


"Apakah Hubby akan menyerahkan Wiffy?" pancing Chiyome.


"Enak saja! ya nggak lah... Hubby nggak mau kehilangan Wiffy... SEDETIKPUN!!! paham?!" tandas Kenzie.


Chiyome langsung tersenyum bahagia dan makin membenamkan tubuhnya dipunggung suaminya. Kenzie langsung menyeletuk.


"Waduh, Wiffy mancing tombak Hubby lagi nih... kita belum boleh pulang sayang. ini memarnya belum hilang." desah Kenzie.


"Memang Wiffy mancingin Hubby apa?" tanya Chiyome.


"Sudah tau tuh ***** jangan didempetin nantinya tongkat Ruyi Jingu Bang nya Sun Go Kong bangkit tuh minta jatahnya." jawab Kenzie.


Chiyome tertawa tapi tetap saja membenamkan tubuhnya dipunggung suaminya. Kenzie hanya tertawa kembali.

__ADS_1


"Kita mau kemana, Hubby?" tanya Chiyome.


"Menemui berandalan di jembatan Potanga itu." jawab Kenzie. gadis itu mengerutkan keningnya.


"Untuk apa? nantinya kalau mereka lihat Hubby, mereka malah bereaksi menyerang Hubby." kata Chiyome dengan cemas.


"Apa yang harus Hubby takutkan? kan Wiffy akan melindungi Hubby, kan?" goda Kenzie membuat Chiyome kali ini membenamkan wajahnya dipunggung suaminya.


kendaraan itu melaju dam berhenti tepat di jembatan dimana kumpulan anak-anak punk itu berkumpul. sesuai prediksi Chiyome, mereka langsung berdiri waspada. Kenzie mengangkat tangannya.


"Weisssh... sabar... sabar... kami kemari bukan mau berkelahi." kata Kenzie sambil menurunkan tangan dan menyangganya disetang motornya dan menatapi kumpulan anak punk yang berdiri siaga dengan tatapan dingin yang mencorong. tangan kirinya menunjuk-nunjuk kumpulan itu seperti seorang bos besar. "Tapi.... kalau kalian masih mau nekat juga, nggak apa-apa. aku ladeni. aku dan istriku sudah cukup menghabisi kalian semua."


lelaki yang pernah dihajar Kenzie hingga ompong gigi depannya maju. Kenzie langsung menggertaknya.


"Mau apa lo? mau di ompongi semua giginya?" bentak Kensie.


tentu saja lelaki itu keder semangatnya. ia memang sudah merasakan tinju Kenzie yang berbalut knuckle menggasak mulutnya dan berhasil memanen beberapa biji giginya keluar dari pematang gusinya.


"Sori kalau ana terlalu berlebihan. habisnya kamu semua keterlaluan. masa mau nyulik teman saya?" kata Kenzie sambil menegakkan tubuh diatas kendaraannya. ia mencabut dompet dan mengeluarkan 20 lembar uang IDR. 100 ribu dan menyerahkannya kepada lelaki ompong itu.


"Nooo... uang permintaan maaf." kata Kenzie. "Ingat, jangan ulangi lagi ya? dan ingat satu hal." ujar Kenzie menatapi si lelaki ompong itu dengan tajam. "Kalian harus siap ketika aku memerlukan kalian. mengerti?!"


koor suara mengiyakan mereka. Kenzie tersenyum puas.


"Bagus..."


Kenzie menyalakan mesin motornya lalu membelokkan kendaraannya dan melaju kembali menuju arah kota Gorontalo


Chiyome kagum dengan bakat suaminya. ternyata tanpa disadari, Kenzie adalah pelajar strategi, sama seperti dirinya.


"Hubby hebat ya? bisa bikin keder orang-orang itu." puji Chiyome sambil membenamkan pipinya dipunggung Kenzie.


"Ah, biasa aja.... nggak sebanding dengan istriku tercinta ini... bukan cuma pakar strategi, tapi pakar....." ucapan Kenzie tidak berlanjut karena langsung dipotong istrinya.


"Hubby pernah baca kitab karya Sun Tzu? atau karya annals the three kingdoms? atau Kitab Lima Elemen karya Musashi?" cecar Chiyome dengan semangat.


"Kayaknya nggak tuh... buku apaan tu?" tanya Kenzie.


benar-benar bakat alami. duuuh... aku makin sayang sama Hubby nih... ajari Wiffy strategi dong.... uhm..


"Nggak..." jawab Chiyome dengan senyum bahagia.


Kenzie nampak mengingat-ngingat sesuatu. "Kayaknya Hubby pernah baca buku karya Machiavelli, I'll Principe. itu aja... itupun nggak tuntas. Wiffy kan tau kalau kapasitas otak Hubby berapa bits, kan?"


benar-benar seorang otodidak sejati.....


"Kalau Wiffy mau buka toko online, rencananya mau jual apa?" tanya Kenzie.


"Hanya assesoris wanita tambah produk skincare saja. nggak usah banyak-banyak. kecuali kalau bisnis sudah maju, tambah lagi jaringannya." jawab Chiyome.


"Nanti kita bangun bersama ya? Hubby yang buat situsnya, Wiffy yang stok barangnya, oke?" kata Kenzie.


"Oke Hubby..." kata Chiyome.


"Hubby...." panggil istrinya lagi. "Benar, Hubby nggak baca buku-buku semacam itu?" selidik Chiyome.


"Nggak... bukan itu sekarang jenis bacaan Hubby.." jawab Kenzie sambil tersenyum nakal tapi tidak dapat dilihat oleh Chiyome.


"Lalu... bacaannya Hubby sekarang apa?" tanya wanita itu penasaran.


"Bacaan Hubby sekarang adalah menghitung jumlah bulir-bulir keringat dipermukaan payudara Wiffy, dan beberapa bercak pejuh di liang senggama istriku." jawab Kenzie sambil tertawa.


"Iiiihhh... dasar Hubby mesum! cabul! porno!....." berbagai umpatan keluar dari mulut Chiyome yang risih dan tersipu ditambah dengan pukulan-pukulan gemas yang hinggap di punggung Kenzie.


pemuda itu semakin melajukan kendaraannya membawa istri tercintanya menuju rumah kediaman mereka.

__ADS_1


Kenzie tak sabar lagi untuk bercinta..... []


__ADS_2