Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 163


__ADS_3

seorang wanita mengenakan khimar putih namun terlihat tipis dan menerawang berdiri disana. Saripah mengenal betul siapa gadis itu.


"Iyun..." gumam Saripah.


"Kita ketemu lagi Ipah." sapa Iyun.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Saripah.


Iyun tertawa sejenak lalu menghela napas panjang dan melangkah mendekati Saripah. "Kamu itu lucu, nanyai kabarku. ya, aku baik-baik saja."


"Memangnya kenapa? apa salahnya?" tanya Saripah dengan alis bertaut.


"Ini Barzakh, sayang. perasaan orang disini hanya dua pilihan... baik, atau buruk..." jawab Iyun memukul pelan lengan Saripah.


mulut gadis itu membuka dan langsung ditutupnya dengan tangan. astaga! ini barzakh? pantasan perasaannya ganjil melulu.... aduh, gimana ini?


Iyun memperhatikan wajah Saripah. "Kamu nggak apa-apa, kan?"


Saripah menatap Iyun. "Apakah sudah tiba masaku?" tanya gadis itu meniru lirik lagu Ungu, 'Andai Kutahu'.


Iyun mengangkat bahu. "Menurutmu?"


Saripah menautkan alis, "Jangan tanyakan padaku. aku saja bingung kok tiba-tiba ada disini. mana ketemu kamu lagi."


"Kau nggak mau ketemuan sama aku?" pancing Iyun.


"Bukan nggak mau, Yun." kilah Saripah. "Tapi ngeri... kamu kan..."


"Sudah mati..." sambung Iyun dengan senyum.


"Sori Yun..." ujar Saripah dengan pelan.


"It's okay... nggak apa-apa kok. memang nyatanya demikian." timpal Iyun yang kemudian mengajak Saripah duduk dihamparkan sabana hijau itu.


lama keduanya diam, hingga Iyun membuka kembali pembicaraan.


"Aku merindukan kalian berdua." ujar Iyun dengan wajah yang menampakkan semburat merah.


Saripah diam tak bereaksi. Iyun menatapnya. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Iyun.


"Pertemuan kita." jawab Saripah kemudian menatapi Iyun. "It sudah berlangsung lima tahun sejak terakhir aku menarik paksa Abah dari sini."


Iyun tertawa. Saripah menautkan lagi alisnya.


"Kenapa? ada yang lucu ya?" ucap gadis itu.


"Abah? itu panggilannya sekarang?" olok Iyun kemudian tertawa lepas lagi.


"Ya... dia kan sekarang duda." kilah Saripah, "Ya, kupanggil saja dia Abah... dan dia memanggilku Ummah."


Iyun tertawa lepas lagi. Saripah malah jadi gusar. "Kok kerjaanmu ketawa melulu? apa panggilan Abah sama Ummah itu lucu, heh?"


"Ahhhh...." Iyun menghela napas panjang. "Pipi, ternyata mulai banyak perkembangan, ya?"


"Pipi?..." ujar Saripah.


Iyun menatap Saripah lalu mengangguk. "Pipi... itu panggilanku sama dia. si Abah memanggilku Mimi..." olok Iyun menyebut panggilan Trias.


"Yun... bisa nggak kamu relakan kami bahagia?" ujar Saripah tiba-tiba menuntut.


"Lho? memangnya kalian saat ini nggak bahagia?" balas Iyun. "Aahhh.... keterlaluan si Abah..."


"Bukan begitu Yun." bantah Saripah. "Ya, saat ini, kami bahagia. dua minggu lagi, pernikahan kami akan diselenggarakan."


"Lalu...?" pancing Iyun.


"Bisa nggak kamu nggak ngingat dia lagi? Yun... kamu sekarang disini... please Yun... aku terlanjur cinta sama duda kamu itu..." ujar Saripah memelas.


"Si Abah?" olok Iyun lalu tertawa.


"Aku ingin ia jadi milikku sepenuhnya..." pinta Saripah, "Maaf jika aku jadi egois seperti ini. tapi...."


"Ipah... dia mencintaimu... dia juga mencintaiku...itu tak bisa dipungkiri, karena aku bagian dari kehidupannya dulu..." ujar Iyun menyapu pundak Saripah, "Kau hanya cemas, jika Si Abah masih terbelenggu denganku? ahhh... kau mestinya jangan suudzon sama dia. kasian...dia sekarang milikmu! yakin dan percaya padaku."


"Tapi..." sela Saripah.


"Ipah... kita berdua itu, istrinya. itu harus kau pahami benar. kau jangan memaksa dia melepas masa lalu karena masa lalu akan tetap berada dibelakangmu, tidak didepanmu." nasihat Iyun. "Kau hanya harus menegakkan wajah ke depan dengan percaya diri, yakin bahwa cintanya hanya untukmu. itu saja!"


Saripah menunduk dalam duduknya. tubuhnya gemetar. tak lama terdengat isakan.


"Lho? kok nangis?... sedikit lagi mau jadi pasangannya si Abah... Umma Ipah kok nangis?" tanya Iyun setengah mengolok membelai rambut panjang gadis itu.


"Aku takut Yun... aku takut menghadapi kehidupan berumah tangga... apalagi menyadari kedepannya, suamiku belum bisa mencintaiku sepenuh hati." ungkap Saripah ditengah isakannya.


"Kamu jangan suudzon gitu dengan Qadha dan Qadr kamu sendiri. itu namanya nggak percaya diri, itu penghinaan terhadap Allah lho... singkirkan perasaan tak berguna itu. semangatlah Ipah! jangan loyo, jangan layu." tegur Iyun.


Saripah menarik isakannya lalu mengangguk-angguk. "Aku paham..." ujarnya kemudian menatap Iyun. "Makasih."


Iyun mengangguk. "Kamu itu sahabatku... kamu yang akan melanjutkan perjuanganku, menemani suami kita. tetap disampingnya Ipah. jangan ragu dan jangan bimbang! dukung dia dalam setiap tindakannya, tegur dia jika salah dan cintai dia, sebagaimana aku mencintai dia. maka, dia pasti akan menempatkanmu diatas segala-galanya dalam benaknya."


Saripah tersenyum, "Si Abah pernah bilang... dia akan merubah prinsip cinta itu. dia hanya akan menempatkan aku di tingkatan kedua setelah... Allah."


"Lebih bagus lagi kalau begitu..." puji Iyun. "Itu artinya dia sudah sadar akan kekhilafannya. dia terlalu mencintaiku hingga Allah menegurnya, merampasku dari sisinya. itu karma, kawan.... itu karma... makanya, kau juga harus menempatkan posisi cinta itu seimbang. jangan lebih, jangan kurang."


Saripah tertawa. "Tahu juga kau memberi nasihat perkawinan ya?" olok Saripah.


"Ya, tahulaaah.... aku lan pernah jadi seorang istri. gimana sih?" balas Iyun. "Ipah... kamu itu harus baper sama Iyas. supaya dia juga nantinya baper sama kamu."


"Baper? melankolis amat..." cela Ipah.

__ADS_1


"Maksudnya... berbagi perasaan antar suami-istri supaya rumah tangga kalian harmonis." nasihat Iyun. "Apapun yang dia minta, selama itu tidak melanggar ketentuan syariat, wajib kamu penuhi. ingatlah, Ipah... posisi suami itu kalau bicara ekstrimnya, ya mirip-mirip dewa."


"Dewa 19?" olok Saripah.


"Ih, ni orang mo dikasih nasihat, nggak mau." cela Iyun.


Saripah tertawa. "Iya deh, Maitua... kalau aku Maimuda..."


keduanya tertawa. "Ya, kamu istri mudanya. kamu itu gundikku. tapi apa untungnya membahas itu?" ujar Iyun.


"Teruskan nasihatnya..." pinta Saripah.


Iyun melanjutkan, "Dalam penggalan hadis dalam Shahih al-Jami nomor 5294, Rasulullah bersabda; Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada seseorang lainnya, maka kuperintahkan setiap istri sujud kepada suaminya."


Saripah mencermati nasihat itu. "Jadi itu mungkin dasar tradisi di India yang menyentuh kaki suaminya dalam setiap ritual harian."


"Aku juga nggak menyelidiki sejauh itu." respon Iyun dengan jujur. "Namun hadits itu sebenarnya lebih menitik beratkan pada tanggung jawabnya sebagai suamimu. itulah mengapa kamu harus mena'atinya.


"Akan kuingat nasihatmu." jawab Saripah.


"Kewajiban kamu berikutnya adalah urusan diatas ranjang." ujar Iyun.


"Ih, kok kamu malah ngungkit masalah itu sih?" sela Saripah dengan jengah. wajahnya memerah karena malu.


"Eeehhh.... ini penting Ipah. ini salah satu dari bagian denyut kehidupan berumah tangga." tangkis Iyun dengan keras. "Ini sesuai dengan isi ayat 223 di Surah Al-Baqarah lho."


"Ih, memang tubuhku ini kayak ladang ya? mulus begini." bantah Saripah.


"Dasar nggak berpengalaman." olok Iyun lalu tertawa membuat Saripah memberenggut. wanita berkhimar putih itu kemudian menjelaskan. "Ya, kamu memang ladang. punyamu itu..." ujar Iyun menunjuk ************ Saripah, "Itu ladangnya dan punyanya itu pembajaknya. kayak kamu nggak ngerti saja maksud Allah mengumpamakan itu semua."


"Oooo.... begitu ya?" gumam Saripah kembali wajahnya memerah membayangkan kegiatan itu.


"Jangan pernah menolak jika dia memintamu melayani hasrat birahinya." pesan Iyun.


"Ya kalau itu memang aku tahu." timpal Saripah sambil tertawa.


"Nggak nahan ya?" goda Iyun.


"Um, um.." jawab Saripah dengan gumaman dan anggukan. keduanya lagi-lagi tertawa.


"Boleh konfirm nggak?" tanya Saripah.


"Apanya?" tanya Iyun.


"Barangnya si Abah, panjangnya berapa sih?" tanya Saripah dengan polos.


"Memang kamu nggak dikasih lihat?" olok Iyun.


"Memangnya aku berani?" balas Saripah, "Salah-salah bukan dia yang nafsu, malah aku..."


Iyun tertawa lalu menampar pundak Saripah. "Sudah... kalau sudah waktunya... kamu pasti puas deh." goda Iyun.


"Isyyy... kok maksa sih?" ujar Iyun lalu tertawa lagi.


"Supaya aku sudah siap kalau si Abah mau nyangkul ladangnya." kilah Saripah.


"Sudah, tinggal ngucap bismillah terus mengangkang saja lebar-lebar... lolos tuh." jawab Iyun.


"Dasar pelit!" umpat Saripah.


"Bukan pelit. tapi sengaja buat kamu penasaran... supaya nanti nikmat kegiatannya. pedih-pedih-sedaaap.. gitu lhooo." goda Iyun


"Ihhhh...." respon Saripah kembali dengan jengah.


Iyun tertawa lalu menghela napas lagi. "Mau nasihat berikutnya nggak?" pancing Iyun.


"Ya mau laah... kan kamu senior aku." jawab Saripah.


Iyun tertawa lagi, lalu menyambung. "Kamu mengaku beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad, nggak?"


"Ya pasti aku beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad." tandas Saripah. "Kayak nggak percaya saja kamu sama aku."


Iyun mengangguk. "Kalau memang kamu mengaku beriman, maka jangan kemana-mana jika si Abah nggak ngijinin kamu. kemudian jaga kehormatannya dengan kamu menjaga kehormatan kamu sendiri. jangan berani menwrima tamu, apalagi yang laki-laki, jika dirumahmu nggak ada suamimu."


Saripah tersenyum. "Aku tahu, dia memang pencemburu."


"Bukan karena itu juga kali." jawab Iyun,"Ini untuk menjaga nama kalian dari gunjingan tetangga. terlebih lagi kamu kemudian membanding-bandingkannya. menjaga pergaulan untuk memelihara kerukunan dalam rumah tanggamu sendiri."


"Aahhh.... agak berat rupanya ya?" tukas Saripah.


"Awalnya iya... tapi lama-lama kamu akan terbiasa dengan itu sehingga tak terasa canggung lagi." jawab Iyun.


Saripah mengangguk-angguk. "Ada lagi yang lain?"


Iyun mengangkat telunjuknya. "Ada lagi."


"Apa?" tanya Saripah.


Iyun menyapu lagi pundak Saripah. "Aku tahu, kau anak orang berada Ipah. kau putri semata wayang Om Fahri. semua lahan pertanian yang berhektar-hektar luasnya itu pasti diwariskan padamu. aku hanya meminta kamu jangan meminta-minta hal yang tak akan mampu ia penuhi. aku tahu, gaji seorang aparat negara itu nggak besar. makanya aku meminta kamu lebih banyak bersabar dan jangan terlalu bergantung pada kekayaan orang tua, apalagi kutahu kau punya penghasilan sendiri."


"Aku bisa membantu mengatasi kesulitannya dengan uangku." ujar Saripah.


"Jangan lakukan itu Ipah." tegur Iyun. "Kau hanya akan melukai harga dirinya."


"Jadi?" pancing Saripah.


"Andalkan penghasilannya. itu akan lebih membuatnya merasa dibutuhkan." jawab Iyun.


Saripah mengangguk-angguk.

__ADS_1


Tiba-tiba dengan senyum nakal, Iyun mengulurkan tangannya kearah dada Saripah dan langsung menangkap bongkahan dibalik pakaian gadis itu. Saripah terlonjak.


"Issyyy... Yun! apa-apaan sih?!" jerit Saripah mengibaskan tangan menepis jemari Iyun yang menangkapi sebelah *********** bahkan sempat terasa gadis berkhimar putih itu meremasnya.


Iyun tertawa. "Uhmm... kayaknya Pipi bakal puasin diri deh menyusu ke dadamu itu."


sontak Saripah memeluk dadanya sendiri. "Ih, jorok kamu." umpatnya, "Dasar jablai! begini nih karena lama disini sendirian, punyaku sendiri diremasi juga. kampret kamu ya?!" omel Saripah.


"Anggap saja aku Trias yang akan menerkam kamu disini." balas Iyun dengan senyum nakal dan mengangkat kedua jemarinya yang mengembang membentuk cakar hendak kembali menerkam kedua payudara gadis itu.


"Nggak sudiiiii...." seru Saripah langsung bangkit dan berlari menghindar.


kedua wanita itu berlarian mengintari sabana saling kejar-kejaran dan memenuhi udara dengan tawa renyah mereka berdua.


...*******...


dialam nyata, suasana diberanda itu gempar. Chiyome yang pertama menemukan keduanya langsung panik dan memanggil Bakri yang sementara mengajari Sandiaga di dojo bersama dengan Aisyah yang menonton suaminya memberikan pengajaran itu agar menuju beranda.


"Keduanya bagai patung hidup. tubuh mereka dingin, tapi nadi dan detak jantung keduanya terasa meski lemah." jawab Chiyome masih dengan nada panik.


Bakri menatap Sandiaga. "Untuk sementara, pelajaran kamu berakhir disini dulu. Abi mau lihat Om Trias sama Tante Ipah diberanda ya?"


"Issy... dasar pengganggu!" gerutu Sandiaga yang kesal karena pelajarannya ditangguhkannya.


"Eeehhh.... nggak boleh bicara begitu." kata Aisyah kemudoan membelai kepala Sandiaga. "Sandi makan siang, lalu istirahat siang ya? mau Umi temani?"


Sandiaga mengangguk. "Oke deh Umi."


sementara Chiyome dan Bakri sudah diberanda. Bakri meraba leher Trias mencari detak nadi kemudian ia memandang Chiyome.


"Sejak kapan mereka begini?" tanya Bakri.


"Nggak tahu." jawab Chiyome. "Tadi aku selesai buat hidangan siang dan hendak mengundang keduanya untuk ikut santap siang. tapi aku melihat keduanya sudah begini."


"Baik. kamu temani saja Sandiaga diruang makan. biar kakak yang akan membangunkan mereka." kata Bakri.


"Membangunkan mereka? bagaimana caranya? tadi kubangunkan bahkan kugoncangkan tubuh keduanya... tetap saja mereka bergeming pada sikapnya." bantah Chiyome.


"Ada caranya..." ujar Bakri.


"Aku mau lihat. aku penasaran bagaimana kakak membangunkan mereka." kata Chiyome.


Bakri menghela napas sejenak lalu mengangguk. lelaki itu kemudian memasang sikap semadi lalu tangan kanannya terulur memegang pundak Trias. mata Bakri memejam.


...******...


Iyun menerkam Saripah dari belakang membuat keduanya jatuh saling menimpa. dengan gemas Iyun kembali meremas kedua payudara Saripah dari belakang membuat gadis itu meronta.


"Dasar jablai! lesbian! lepasin aku!" jerit Saripah.


Iyun tertawa. "Nggak akan!"


Saripah geram bukan main dan dia langsung menepis kedua tangan Iyun lalu mendorong wanita berkhimar putih hingga Iyun terjengkang. kesempatan itu tak disia-siakan Saripah yang juga langsung menerkam dan mencaplok kedua payudara Iyun juga dengan kedua tangannya dan meremasnya dengan kuat membuat Iyun menjerit-jerit.


"Nih rasain! emang enak diremasin?! dasar jablai!" umpat Saripah dengan gemas sambil tetap mempermainkan kedua bongkahan dada Iyun yang tersembunyi dibalik khimarnya.


sedang seru-serunya keduanya bergumul, Saripah merasakan kehadiran seseorang. Saripah mengangkat wajah mendapati Trias yang berdiri memandangi keduanya.


"Pipi..." sahut Iyun dengan wajah menampakkan penuh kerinduan.


"Abah..." sahut Saripah dengan jengah, malu kepergok saling remas payudara.


Trias mendekat membuat keduanya bangkit dan memperbaiki sikap. Trias menatapi Iyun. matanya berkaca-kaca.


"Assalamualaikum, Mimi..." ujarnya dengan suara serak.


"Wa alaikum salam... Pipi.." jawab Iyun dengan lirih dan tanpa sadar kedua matanya telah menjatuhkan airmata.


Trias kemudian menatap Saripah. "Umma.... pulang yuk." ajaknya kemudian mengulurkan tangan.


Saripah menyambut uluran tangan itu dengan berat, takut membuat Iyun tersinggung. namun nyata wanita berkhimar putih itu menatap mereka dengan penuh ketulusan. Trias menggenggam tangan Saripah kemudian menatap Iyun.


"Mi... Pipi balik dulu ya? maaf nggak bisa lagi menemani Mimi disini." ujar Trias dengan senyum, namun kedua matanya telah basah.


sejenak Iyun memejamkan mata meluruhkan airmatanya. kemudian ia membukanya lagi dan menatap keduanya dengan senyum.


"Silahkan Pipi.... " ujarnya kemudian menatap Saripah. "Ipah... kupercayakan dia kepadamu. jaga dia ya?" pinta Iyun.


"Sekuat tenagaku Yun. kau nggak usah kuatir. aku jamin!" jawab Saripah yang juga sudah sama-sama terisak.


"Kami pergi Yun... assalamualaikum..." ujar Trias.


"Wa alaikum salam..." jawab Iyun.


kedua tubuh orang itu memendar memancarkan cahaya putih yang makin lama membias makin besar dan akhirnya luruh menghilang tanpa jejak meninggalkan Iyun yang berdiri sendirian di sabana hijau itu.


...******...


Bakri berhasil membawa ruh keduanya kembali ke tubuhnya masing-masing. Trias yang pertama membuka mata, setelah itu Saripah. Trias menengok menatap Bakri dan Chiyome yang mendesah lega.


"Ah... untunglah... aku sangat takut tadi." ujar Chiyome dengan wajah pias.


Saripah bangkit dan menatap Trias. reserse itu menatapi kekasihnya. keduanya kemudian saling melempar senyum membuat Bakri dan Chiyome keheranan.


"Aku mencintaimu... Abah..." ujar Saripah dengan lirih.


"Akupun mencintaimu Umma..." balas Trias.


"Ahhh.... drama korea mulai lagi." keluh Bakri membuat Chiyome menampar dahinya.

__ADS_1


"Capek deeeehhhhh...." ujarnya.[]


__ADS_2