
komplotan itu sekarang berada ditangan institusi Kepolisian yang akan mengusut motif pembegalan itu. sementara Kevin sibuk menelpon istrinya, Fira al-Katiri, menceritakan momentum ia dan Kenzie menaklukan para pembegal itu. keduanya menyanggupi permintaan pihak Polresta Kota Bandung untuk dimintakan kesaksian. para pembegal itu kemudian dijejalkan kedalam boks mobil dan dikawal satuan buru sergap yang mengawasi mereka saat mobil polisi itu melaju meninggalkan TKP.
Kevin menatap Kenzie. "Ayo kita pulang. besok kita berdua harus ke kantor polisi memberikan keterangan." ajak Kevin.
"Kayaknya anda duluan saja. saya masih punya keperluan lain.... kita ketemu esok di kantor Polres kota Bandung." jawab Kenzie.
Kevin mengangguk. "Kalau begitu, aku duluan ya?" lelaki itu melambai dan melangkah pergi.
Kenzie menunggu Kevin yang melangkah begitu jauh, kemudian dia bersiul. dari kegelapan angkasa malam, kembali meluncur turun dan hinggap dengan apiknya dilantai parkir itu, Chiyome. kalung hadiah pemberian suaminya sudah melingkar dilehernya.
"Kita jalan-jalan yuk." ajak Kenzie.
"Kemana?" tanya Chiyome.
"Kemana enaknya?" gumam Kenzie menerawang.
"Nggak usah kemana-mana deh. Wiffy sebenarnya sudah capek main intel sama Hubby." tolak Chiyome kemudian meringis. "Ke kamar Hubby saja yuk... Wiffy mau nagih dobelnya itu lho."
Kenzie seketika tertawa keras lalu menatap Chiyome. "Kebetulan... coba raba dibagian itu." pintanya.
Chiyome melakukan permintaan suaminya. wanita itu terkejut ketika meraba bagian yang diminta Kenzie. ada bongkahan besar yang ingin menyeruak dari balik kain. Chiyome menatap suaminya dengan senyum nakal.
Kenzie lalu mengangguk. keduanya bergandengan tangan melangkah menyusuri kompleks Trans Luxury itu hingga tiba dihotel. dengan langkah riang tak perduli keduanya langsung menekan lift dan masuk kedalamnya.
Kenzie sudah tak mampu menahan hasratnya. selama ini ia mengekangnya karena Chiyome sibuk mengurus putranya. kini kesempatan langka itu tiba dan dia harus menuntaskannya. di lift yang sepi itu, Kenzie langsung menerkam Chiyome memberinya berpuluh-puluh kecupan yang berganti-ganti menjadi hisapan dan *******. jemarinya yang kekar telah bergerilya dari wajah hingga lutut Chiyome.
lift terbuka membuat kegiatan mereka terganggu. dengan ganas Kenzie menarik tubuh Chiyome keluar dari lift dan keduanya melangkah tak sabaran menuju kamar Kenzie. napas keduanya sudah tak beraturan.
begitu kamar itu terbuka, Kenzie lekas menutupnya ketika mereka berdua memasukinya. mereka melanjutkan permainan yang tertunda di lift tadi. kali ini lebih buas, lebih telanjang, lebih panas, lebih berkeringat.
dengan tubuh polos bagai Adam dan Hawa yang baru saja diturunkan ke dunia, keduanya langsung bergumul dikasur melakukan penanaman tonggak pohon khuldi kedalam liang peranakan, melakukan reproduksi sesuai kaidah alam semesta. menyatukan dua aliran air kedalam satu lubuk. menyatukan rasa cinta yang membuncah diantara dua hati yang saling merindukan.
proses pembuahan berlangsung dua kali lipat dari biasanya. dalam sekali persetubuhan biasanya keduanya melakukannya paling banyak lima putaran, kini bahkan dalam sebelas putaran tak terlihat tanda-tanda pembuahan menapaki akhirnya. tubuh Chiyome masih tersentak-sentak ditengah hujaman bagian dalam diri Kenzie yang memasukinya.
ditengah lenguhan dan rintihan permainan itu, tubuh keduanya mengkilap dalam balutan keringat. ruangan yang dingin karena hembusan AC tak mempengaruhi intensitas permainan mereka. Chiyome benar-benar menikmatinya. Kenzie memberikan seluruh kehidupannya untuk wanita itu.
hingga jarum-jarum jam dinding menunjukkan pukul 00.01 WIB, Keduanya menggapai titik kulminasi, puncak perputaran adukan tirta amerta. penyatuan cinta ditengah lautan susu yang memenuhi periuk cinta mereka. Chiyome menggigit bibirnya menikmati ekstase itu. Kenzie mengeraskan rahangnya saat melepaskannya. dan akhirnya keduanya rubuh dengan sisa tenaga yang nyaris habis ditumpahkan dalam pembajakan ladang cinta itu.
dalam balitan selimut, keduanya masih menyatu. Seperti biasa, dalam gaya tidur favorit mereka. Chiyome berbaring diatas tubuh Kenzie yang kekar bagai tonjolan pegunungan maha indah. tonggak keperkasaannya masih tegak menancap membiarkannya dijepit oleh daging labia minora milik ****** istrinya. Chiyome meraba pelan dada suaminya yang bidang bagai hamparan sawah yang siap dipanen.
"Hubby..." panggil Chiyome.
Kenzie mengangkat alis menatap Chiyome yang menatapnya. wanita itu mendesah.
"Hubby marah, Wiffy datang menyusul?" tanya Chiyome dengan ekspresi penuh salah. Kenzie tersenyum.
"Nggak. hanya saja Hubby surprise tadi, Wiffy tiba-tiba muncul. senang sih... berarti pulang nggak sendiri." ujar Kenzie namun ia teringat sesuatu. "Tunggu, Wiffy kemari dengan sepengetahuan Mama dan Papa atau nggak?"
Chiyome tersenyum lebar menyeringaikan barisan gigi ginsulnya lalu menggeleng. Kenzie terkejut lalu menampar keningnya. "Astagfirullah... berarti kedatangannya ilegal dong." tebaknya dengan mata membulat.
Chiyome sekali lagi dengan pameran senyum seringai ginsul, menganggukkan kepalanya berkali-kali. Kenzie hanya bisa menggelengkan kepala beberapakali menyadari kebadungan istrinya.
Chiyome memonyongkan bibir sensualnya. "Hubby... marah ya?" tanya Chiyome.
"Gampang... nanti kita atur saja." kata Kenzie menghela napas, "Kalau tiba di rumah nggak boleh bersamaan. nanti kelimanya curiga."
__ADS_1
"Kelimanya?" gumam Chiyome.
"Saburo nggak dihitung?" ujar Kenzie.
Chiyome menampar keningnya dan tertawa. "Iya ya."
keduanya diam lagi. Chiyome kembali memanggil suaminya. Kenzie mengangkat alisnya lagi. Chiyome bangkit menduduki bagian pribadi yang masih menancap didalam tubuhnya.
"Kayaknya tonggaknya masih kuat nih. tidurin saja ya?" pinta Chiyome.
tentu saja, yang namanya lelaki pasti menginginkannya. Kenzie langsung membalikkan tubuh Chiyome yang kemudian ditindihnya. kembali permainan dilanjutkan, kali ini pelan. keduanya bermain pelan dan ringan, membiarkan gejolak nafsu menguasai dan menjelang pukul 02.00 pagi, permainan itu benar-benar berakhir.
...*******...
kesaksian telah diberikan Kevin dan Kenzie dihadapan bagian penyidikan. Kevin meminta agar pihak kepolisian mengusut tuntas dan mengancam secara samar untuk menggunakan hukum rimba jika negara tak mampu menemukan otak dari pembegalan tersebut.
kedua pengusaha muda itu keluar dari kantor polisi dan kembali menaiki mobil.
"Aku sudah check out duluan. sudah nggak sabar pingin pulang. peristiwa semalam itu membuatku benar-benar merindukan istriku." ujar Kevin.
Kenzie tertawa. "Akupun demikian."
mobil yang dikendarai Abadi Tayeb melaju meninggalkan kantor polisi dan menyusuri jalanan. akhirnya kendaraan itu berhenti didepan bangunan hotel Trans Luxury. Kenzie turun dari mobil lalu menatap ke arah jendela kendaraan itu.
"Semoga kita akan bertemu lagi." ujar Kenzie.
Kevin melongok dari jendela mobil. "Aku tunggu kedatangan kamu di Padang. aku janji akan memberikan pelayanan yang tak akan bisa kau bayangkan."
"Sebaliknya, kau belum pernah satu kalipun mengunjungi Gorontalo. aku janji akan melayanimu sepuasnya jika kau mau meluangkan waktu mengunjungi kami." balas Kenzie.
Kevin tertawa lalu melambaikan tangan dan kendaraan itu melaju meninggalkan hotel. Kenzie masuk kedalam bangunan itu dan langsung menuju lift. benda itu mengantar Kenzie sampai dilantai Tiga dan ia melangkah menuju kamarnya. disana Chiyome sudah bangun dan baru saja mandi. tubuh telanjangnya itu terbalut dengan piyama handuk dan sementara mengeringkan rambutnya.
"Hubby, ini masih pagi lho.... Wiffy nggak mau mandi lagi." protes Chiyome. tangan Kenzie menyelusup kedalam piyama handuk istrinya mempermainkan bongkahan dada disana. Chiyome memegang erat kedua lengan suaminya yang kekar itu. ia menatap Kenzie. "Hubby.... mau lagi?" erangnya.
"Kalau Wiffy kasih... Hubby kasih anggur cinta deh..." rayu Kenzie.
Chiyome berbalik dan menatap suaminya dengan mesra. "Oke deh...." ujarnya langsung melepaskan ikatan piyama hingga pakaian itu membuka mengekspos lagi tubuh telanjangnya.
Kenzie langsung merasakan getaran bagai sengatan listrik yang menghujam dari ujung kepala hingga ujung kaki dan terpusat pada bagian selangkangannya. bagian itu sejak lama sudah tegak berdiri meminta pelampiasan. dengan cepat Kenzie kembali meloloskan pakaiannya dan keduanya kembali bergumul.
"Jangan lepaskan piyamanya. anggaplah itu kimono, seperti pakaian pengantin." desah Kenzie ditengah ia mencumbui istrinya.
Chiyome tersenyum teringat malam dan hari pertama aktifitas suami-istrinya di Tokyo. pergumulan diruang tengah itu terkenang kembali dan suasananya sama persis dengan pergumulannya saat ini dikamar hotel. perbedaannya hanya tempat saja.
sekali lagi dalam dua putaran keduanya melakukan pembuahan. dan mengakhirinya dengan mandi janabat bersama. setelah itu, keduanya melangkah dengan riang menenteng masing-masing tas dan koper menuju meja resepsionis untuk melakukan check out.
...********...
DORRRR....
revolver Raging Bull seri 454 milik Trias menyalak. sedetik kemudian seorang lelaki bertampang sangar dan bertato meraung kesakitan dan jatuh ketanah dengan betis yang terkoyak berlubang besar. lelaki itu menyarungkan pistol kebanggaannya itu dengan tenang, membiarkan kawan seregu tim Pasopati bertindak meringkus lelaki itu.
dia adalah Sumanto Mbu'e, residivis kelas kakap yang sudah masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) Polresta Gorontalo karena melakukan tindakan pembegalan berulang-ulang dan menyebabkan kerugian materil dan nyawa korbannya.
sudah banyak yang menjadi korban pembegalannya. terakhir seorang wanita bernama Susan Botutihe yang mengalami patah tulang dan harus menjalani perawatan intensif di puskesmas saat ia mencoba melawan aksi pembegalan yang dilakukan Sumanto Mbu'e.
__ADS_1
Sumanto Mbu'e, residivis kakap itu sekarang hanya bisa terbaring pasrah ditindih lima lutut anggota buru sergap tim Pasopati pada punggungnya. sekali lagi melawan, bukan tak mungkin lagi, nyawa yang harus ia setor keharibaan Tuhan.
Trias melangkah santai mengeluarkan borgol dari sakunya. "Ini dunk, pastikan dia nggak berkutik lagi." ujar Trias melemparkan borgol itu ke jalan dan langsung dipungut salah satu anggota tim.
setelah menjejalkan tersangka kedalam mobil, kendaraan itu melaju dan meninggalkan Trias yang dengan tenang melangkah menuju motor antiknya, Honda CBR kebanggaan lalu menstater mesinnya. baru saja ia menyalakan mesin, getaran gawai pada sakunya membuatnya kembali mematikan mesinnya lalu merogoh mengeluarkan benda itu dari sana. ia mengaktifkan tombol penjawab pada layar sentuhnya dan mendekatkannya ke telinga.
📱"Ya..." jawab Trias.
📱"Gawat, gawat... ternyata taring tarantulamu kena getah. kau ditunggu bos diruang kerjanya. cepat. dia sekarang lagi teriak-teriak melampiaskan emosinya." ujar seseorang dibalik telepon itu.
📱"Iya... aku kesana sekarang." kata Trias dengan wajah kesal. hadeehhhh... apa lagi maunya si komandan???
tanpa menunggu lama, ia kembali menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan tempat itu.
...*******...
BRAKKK... PROKK.... PRANGGGG!!!!
semua benda-benda yang sempat tergenggam ditangannya dihamburkan begitu saja kesegala arah. dihadapan Ajun Komisaris itu, Trias dan partnernya, Bambang hanya bisa diam dan tak bereaksi. sekali bereaksi maka bisa dipastikan benda yang melayang itu akan bersarang diwajah kedua reserse tersebut.
Trias santai saja pembawaannya sedangkan Bambang lwbih banyak mengumbar seringainya yang membuatnya mirip dengan buaya yang mempertontonkan barisan giginya. setelah puas mengumbar emosinya, lelaki berusia 45 tahun itu membuang napas lalu menghirupnya lagi dengan dalam. sekali lagi membuang napas lalu menghirupnya dengan dalam.
kedua matanya jelalatan menatapi kedua bawahannya yang badboys itu. tindakan mereka yang agresif memicu perlawanan dari residivis itu. dalam laporan disebutkan bahwa terjadi kejar-kejaran antara polisi dengan pelaku begal tersebut. akhirnya Trias mengambil inisiatif memutar dan menghadangnya pada ujung jalan yang lain. begitu sang residivis muncul maka menyalaklah pistol besar itu memuntahkan peluru besar panjang yang mengoyak betis. meskipun hanya tembakan sekali, namun terbukti pelaku tak bisa berkutik.
"Kalian tahu kesalahan kalian?" hardik lelaki itu.
Trias hendak membuka mulut, namun langsung disela. "Jangan dijawab! ini bukan pertanyaan!!" hardiknya.
Trias langsung teringat ucapan kepala sekolahnya dulu. lelaki itu menahan tawa dan jelas memancing ketersinggungan komandannya.
"Kenapa kamu tertawa, Bangsat?!" hardik lelaki itu.
Trias tak menjawab, membuat komandannya berang. "Jawab! ini pertanyaan!!"
"Maaf Ndan... bukan bermaksud menertawai." jawab Trias. "Ucapan Komandan barusan tadi mirip dengan ucapan kepala sekolah saya lima tahun yang lalu, saat saya menolong sahabat saya yang sakau gara-gara melakukan eksperimen dengan shabu-shabu."
Komandan itu memicingkan matanya sesaat kemudian dia mengangguk. "Hmmm.... ya... aku kenal wajahmu... rupanua kamu ya yang membongkar jaringan narkoba waktu itu."
"Tepat komandan." jawab Trias menjentikkan jari dan tersenyum manis.
"Diam!!" hardik lelaki itu membuat Trias kembali terdiam dan berdiri canggung.
"Maaf, Ndan..." ujar Trias dengan pelan.
"Kalian tahu? sudah pusing dan berdengung telingaku mendengar laporan-laporan warga yang mengatakan kalian bertindak tidak seperti aparat penegak hukum... tapi lebih ke arah premanisme!" hardik Lelaki itu menudingkan telunjuknya berkali-kali kearah kedua polisi itu.
"Tapi bos, pelaku itu jika tidak dilumpuhkan seperti itu, akan lebih banyak korban bergelimpangan." bantah Trias.
"Kamu mau melawanku? hah? hah?" hardik lelaki itu langsung maju hendak menampar Trias tapi urung dilakukannya. yang ada hanya gemas yang ingin dilampiaskan namun selalu saja tak bisa. "Uuughhh... kalau kau bukan.. Uughhh... rugi benar negara menggajimu!" umpat lelaki itu dengan gemas dan jengkel.
ia kembali ke mejanya dan langsung menumpahkan berbagai bulir obat penenang yang segera ditelannya bulat-bulat dan ditegakkannya dengan air. setelah itu ia duduk melepaskan syarafnya.
Bambang tanggap langsung mendekati bosnya dan mulai melancarkan rayuan, memijat pundak komandannya. sang komandan refleks langsung tanggap.
"Ya... hmmm.... disitu... ya... " desah lelaki itu keenakan dipijat. Bambang memang pandai mengambil hati komandannya. lagipula komandan itu hanya marahnya diluaran saja. aslinya ia orang yang sangat perduli terhadap anak buahnya, bahkan siap bersitegang leher dengan divisi Propam hanya untuk membenarkan tindakan anak-anak buahnya yang dianggap oleh provost keterlaluan.
__ADS_1
Trias tersenyum lalu membalik. "Istirahat yang baik, ndan. jangan banyak marah." olok Trias kembali membuka pintu.
"Diam kau Tarantula. heiiissyyy... dasar makhluk berbulu. membuat kekacauan dimana saja." umpat komandan itu kemudian mengerang nikmat lagi ketika pundaknya dipijiti dengan lembut oleh Bambang. []