Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 101


__ADS_3

Aisyah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. kemana dia mencari Noldi dan yang lainnya? situasi sekarang dalam pandemi Corona membuat mahasiswa paling banyak menghabiskan waktunya dengan program kuliah online. dengan perasaan yang begitu masygul, Aisyah kembali kw rumah dengan tatapan lesu. ia tak ingin menumpahkan air matanya dijalan. namun perasaan ini seakan tak mampu ia tahan.


"Bang, ke Gelatik saja. komplek IAIN." pinta Aisyah.


Abang bentor itu mengangguk dan menyalakan mesinnya lalu mengantar jilbaber yang berpikiran kusut itu menuju alamat yang dipintanya. Abang bentor itu sengaja mempersingkat jalan agar penumpangnya bisa tiba lebih cepat sampai tujuan.


Aisyah turun didepan kampus IAIN Sultan Amai dan membayar ongkos jalan. setelah itu jilbaber itu melangkah memasuki kampus yang masih terlihat sepi. gadis itu terus berjalan seakan tak memiliki tujuan, hingga tiba akhirnya dia di asrama mahasiswa putra.


Jilbaber itu bersua dengan beberapa mahasiswa. ada yang menyapanya, tapi lebih banyak yang cuek tidak memperdulikan. gadis itu tiba didepan pintu asrama Bakri. tangannya terjulur dan mengetok pintu.


tak berapa lama, ada seorang mahasiswa muncul dari pintu yang membuka.


"Cari siapa?" tanya mahasiswa itu.


"Bakri Muchsin, ada?" tanya Aisyah.


"Ooo.... sudah pindah, sejak seminggu lalu. katanya dia sekarang tinggal di perumahan karyawan tempatnya bekerja." jawab mahasiswa itu.


Aisyah manggut-manggut. "Makasih ya atas informasinya."


mahasiswa itu mengangguk lalu menutup pintu. Aisyah melangkah pulang meninggalkan area penginapan itu. ia mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor milik Bakri. tak lama kemudian terdengar nada sambung yang tak lama kemudian disambut dengan sapaan.


📲 "Assalamualaikum, Ais?" sapa Bakri.


📲 "Kamu masuk kuliah hari ini?" tanya Aisyah dengan tersedat-sedat.


📲 "Dua hari lalu aku sudah masuk kelas. ini aku mau ngantor. kenapa Ais?" tanya Bakri. ia menangkap keganjilan dalam nada suara gadis itu.


📲 "Ya sudah... kalau begitu aku tutup dulu." kata Aisyah.


📲 "Tunggu Ais. kamu lagi dimana sekarang?" tanya Bakri.


📲 "Aku kira kamu masih diasrama mahasiswa. aku nggak tahu kalau kamu sudah pindah diperintahkan karyawan." kata Aisyah dengan senyum hambar.


📲 "Berarti kamu sekarang di asrama mahasiswa?" tebak Bakri, "Tunggu disana. jangan kemana-mana. aku jemput kamu!"


setelah itu pembicaraan terputus. Aisyah menimbang-nimbang haruskah dia menunggu kedatangan Bakri, atau pulang saja ke rumahnya?


tak lama kemudian terlihat sebuah mobil renault triber warna golden dengan logo perusahaan Buana Asparaga muncul dilorong komplek asrama mahasiswa itu. kendaraan itu berhenti didepan Aisyah yang sementara mematung. kepala Bakri muncul dari jendela mobil yang kacanya di turunkan.


"Ayo naik." ajak Bakri.


Aisyah membuka pintu kemudian masuk ke mobil. kendaraan itu kembali bergerak meninggalkan komplek asrama mahasiswa. mobil tiba dijalan raya dan melaju menyusuri pelantaran aspal tersebut.


Bakri sesekali mencuri pandang kepada Aisyah yang terus menunduk dengan wajah yang dihiasi semburat..


"Apa aku harus mengantarmu ke rumah?" tanya Bakri.


Aisyah menggeleng pelan membuat Bakri mengangguk-angguk. tak lama kemudian, terdengar lagi deringan dari ponsel milik Bakri yang diletakkannya di dashboard mobil. Bakri mengambilnya dan melihat layar ponsel.


"Dari Om Adnan." gumam Bakri.


mendengar Bakri menyebut nama ayahnya membuat wajah Aisyah menjadi pucat dan itu tak luput dari tatapan mata peripheral Bakri.


gadis ini sepertinya punya masalah besar yang diembannya, namun susah ia ungkapkan.


Bakri mengambil headset mobile dan meletakkannya ke telinganya kemudian menekan tombol aktifnya.


🎧 "Ya, ada apa Om?" tanya Bakri sambil terus mengemudikan mobil.


📲 "Kamu lagi dimana? ini kita ada pertemuan dengan Pak David Pramudya dari Armadja Group."


🎧 "Maaf Om. saya lagi menemani Aisyah.. soalnya.."


📲 "Ooo ya sudah. kamu temani saja Aisyah. nanti Om manggil Kenzie saja untuk nemani Om. oke, ya.. Assalamualaikum."


hubungan terputus. Bakri menautkan alis. ada apa gerangan? tiba-tiba Adnan yang begitu kaku di kantor langsung terdengar ramah ketika mengetahui dirinya melaporkan diri sedang menemani Aisyah. ada apa gerangan?


"Ais. Aku heran dengan sikap Om Adnan tadi. dia langsung mengiyakan aku menemanimu sementara dia saat ini sedang ada pertemuan penting yang memerlukan aku." kata Bakri.


"Ya sudah. kamu ngantor saja. antar aku pulang." pinta Aisyah.


"Nggak. sesuai perintah Om Adnan. hari ini aku akan menemanimu seharian. sekarang katakan. kemana kita akan pergi?" tanya Bakri.


"Aku nggak tahu. menyetir sajalah dan cari tempat yang bagus." pinta Aisyah.

__ADS_1


"Baiklah, sesuai permintaan kamu." jawab Bakri kemudian melajukan kendaraannya. Reanult Triber warna golden itu melaju menuju selatan kota.


...*******...


Mobil yang dikendarai Adnan dan Kenzie melintasi jalan Nani Wartabone dan tiba di Grand Q Hotel. Kenzie mengemudikan mobil menuju parkiran dibagian basement. setelah memilih tempat parkir yang bagus, keduanya keluar dan melangkah keluar dari basement itu dan menuju pintu khusus yang tembus ke lantai 1.


dengan stelan formal, keduanya menuju lobby hotel. disana sedang menikmati sarapan pagi, David Pramudya dan istrinya, Sevina Armadja.


kedatangan kedua pria itu sejenak menghentikan kegiatan pasangan enterpreneur itu. Adnan tersenyum.


"Lanjutkan saja. tidak mengapa. kami bisa menunggu." kata Adnan sambil duduk.


"Silahkan saja dimulai presentasinya." kata David seraya meletakkan peralatan makannya.


"Jangan Pak. dalam etika kami orang Gorontalo, tidak baik memotong kegiatan makan orang hanya untuk menyajikan presentasi. selain pikiran anda terpecah antara menikmati hidangan dan mendengarkan presentasi kami, secara medik, gizi yang masuk akan tidak seimbang karena otak langsung bekerja menyerap dan merampas zat makanan sebelum tiba di perut. Maaf jika sudah menggurui anda." kata Adnan sambil merendah.


David tersenyum lalu menggeleng. "Satu nasihat yang baik bagi kami berdua. terima kasih."


mereka berdua meneruskan makannya dan hanya membicarakan hal-hal ringan.


"Ini kayaknya putranya ya Pak?" tebak Sevina.


Kenzie tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada David dan Sevina. "Senang dapat mengenal anda. ini pertemuan perdana saya. saya harap kita akan lebih intim dalam bisnis dan persahabatan."


"Kata perkenalan yang dalam sekali." puji David seraya menjabat tangan Kenzie.


"Ini pembelajaran baginya. setelah lulus sekolah nanti, dia yang akan menggantikan saya di Buana Asparaga." kata Adnan sambil menampar bahu Kenzie.


"Maksud Bapak, Pak Kenzie ini masih sekolah? mahasiswa?" tanya Sevina dengan takjub.


"Kelas 12, insya Allah lulus tahun ini." jawab Kenzie. "Mohon doa dan dukungannya."


David menutup mulutnya lalu tertawa. "Luar biasa. semuda ini dia telah anda perkenalkan dengan dunia yang penuh kekerasan."


"Karena dia pewaris tunggal. jadi dia harus menjalaninya meskipun suka atau tidak suka. lagipula sebagai praktisi beladiri, dia harus menghadapi ketakutannya sendiri, bukan?" jawab Adnan.


"Oh, anda seorang praktisi beladiri? beladiri apa?" tanya David sambil tersenyum.


"Silat, pak. insya Allah selesai ini, jika anda berdua berkenan, saya ajak anda ke rumah. kurasa suasana hotel membuat saya jadi kaku." jawab Kenzie. "Anda berdua tidak keberatan dengan hidangan rumahan? sesekali merasakan gaya hidup kaum menengah ke bawah. saya yakin anda berdua nggak akan menyesalinya."


"Terima kasih." sambut Kenzie kemudian langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi istrinya. tak lama kemudian terdengar nada sambung yang dibalas.


📲 "Assalamualaikum, Wiffy." sapa Kenzie.


📲 "Wa alaikum salam Hubby, ada apa?" tanya Chiyome yang saat ini sedang bermain-main dengan putranya.


📲 " Kantan ni gesuto ga imasu. oishi shokuji o tsukurimashita ka? " (sebentar kita kedatangan tamu. kamu buatkan hidangan yang enak ya?) terdengar suara tawa Chiyome.


📲 " Kok Hubby pake bahasa jepang sih?" tanya Chiyome.


📲 " Gesuto o kando sa setai dakedesu..." jawab Kenzie sambil senyum. (Aku hanya ingin mengesankan tamuku.)


📲 "Oke deh Hubby, nanti Wiffy siapkan." kata Chiyome ditengah tawa.


Kenzie tersenyum lalu menyimpan ponselnya. David menatapnya. "Apa istri anda orang jepang?"


"Iya... maaf membuat anda tidak nyaman." kata Kenzie. "Istri saya sementara mempersiapkan semuanya."


"Bagus. kalau begitu, bisa kita mulai presentasinya silahkan." kata David sambil melipat tangannya di meja.


...********...


Bakri dan Aisyah sekarang berada di Rumah Makan Melky Brazil. Aisyah melempar pandang ke hamparan perairan Teluk Tomini sementara Bakri memesan hidangan kepada pelayan yang berdiri disisi meja sambil menulis jenis hidangan yang dipesan oleh pelanggannya.


pemuda itu menatapi jilbaber dihadapannya. "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? kudengar kemarin kamu berlibur ke Poso."


Aisyah menatap sejenak Bakri lalu memandang kembali hamparan lautan Tomini. Bakri menarik napas.


"Ais... kalau kau punya masalah, bilang. aku ini kan saudaramu. jangan bebankan semua pada dirimu." kata Bakri.


"Nggak. nggak ada apa-apa." tangkis Aisyah.


"Tapi wajahmu nggak bisa menyembunyikan itu. kau pikir aku nggak tahu? apa kau pikir aku nggak bisa membaca wajahmu?" tukas Bakri. "Kamu nggak bisa menyembunyikan masalahmu."


Aisyah menunduk lalu menghela napas dan menghembuskannya dengan pelan.

__ADS_1


"Apa karena laki-laki?" tebak Bakri. "Siapa laki-laki itu? akan menasihati dia."


tak lama kemudian wajah Aisyah memerah dan matanya berkaca-kaca. Bakri langsung tanggap menarik kursinya dan duduk dekat Aisyah.


"Jangan takut. jangan kuatir. aku disini... aku mendengarkan semuanya." kata Bakri dengan pelan kemudian meraih kepala Aisyah menyandar dibahunya.


Aisyah langsung menumpahkan tangis tanpa suaranya. yang terdengar hanya isakan saja. Bakri membiarkan gadis itu melepaskan bebannya. tangan pemuda itu terulur mengelus pundak dan menamparnya dengan pelan.


"Kasih tau alamatnya. mana fotonya? supaya aku kenal wajahnya dan menyambanginya." kata Bakri dengan pelan.


Aisyah mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Bakri. pemuda itu membuka layar dan membuka aplikasi gambar. ia menemukan wajah lelaki itu.


"Ini orangnya?" tanya Bakri menyodorkan gambar tersebut. Aisyah mengangguk pelan. pemuda itu kembali mengangguk-angguk lalu meyerahkan kembali gawai itu ke tangan Aisyah.


"Jika masalah itu sangat berat, katakan Ais. aku nggak mau kamu mati karena masalah itu. berbagilah denganku, Ais." pinta Bakri. "Aku akan melakukan apapun demi kamu. nah, bicaralah." kata Bakri meraih tisu dan mengelap bibirnya.


Aisyah masih tetap terisak. Bakri langsung menodongnya. "Apakah laki-laki itu telah....." Bakri sengaja menggertak seakan ia tahu akhir dari kalimat.


tanpa disangka, Aisyah langsung menghambur memeluk. "Maafkan aku Rie. aku telah berdosa. aku memalukan keluargaku..." sedunya dengan hebat.


Bakri sudah bisa menebak kemana arah kalimat gadis itu. tubuhnya gemetar. jemarinya meremas kertas tisu hingga menjadi bongkahan kecil saking betapa kuatnya ia menahan amarah yang menyesakkan dadanya. mata pemuda itu memerah. namun ia tak bisa mempersalahkan gadis itu. Bagaimanapun, itu adalah kesalahan laki-laki. itu adalah kesalahan lelaki itu.


"Kalian melakukannya dimana? apakah waktu liburan di Poso?" tanya Bakri berupaya mengeluarkan suara lembut meskipun ia susah payah mempertahankannya.


Aisyah mengangguk pelan. Bakri menarik napas panjang. setitik air bening memanjati dinding kelopak matanya dan meluncur membasahi pipinya.


"Sudahlah. nanti aku bantu kamu mencari laki-laki itu. kita akan memaksanya untuk bertanggung jawab." kata Bakri melepaskan pelukan gadis itu. Aisyah menatap pemuda itu.


"Apakah kamu menangis, Rie?" tanya Aisyah.


"Jangan pikirkan aku. berdoalah, semoga kita cepat menemukan lelaki itu." kata Bakri berupaya tersenyum.


tak lama kemudian hidangan yang dipesan tiba. pelayan meletakkanya di meja mereka. kedua orang muda itu kemudian menyantap hidangan tersebut.


...*******...


pasangan pengusaha itu tak menyangka mendapati hidangan gaya rumahan yang diramu mirip gaya restoran. Kenzie tersenyum, itu adalah kepiawaian Chiyome selain kecakapannya merampas nyawa musuhnya dalam pertarungan. Adnan bersama Mariana mempersilahkan kedua tamunya mencicipi dan menyantap hidangan yang dibuat oleh menantu mereka.


David mencicipi sejenak salah satu hidangan dan ia mengangguk-angguk. "Luar biasa! seperti olahan chef terkenal." pujinya.


"Kalau begitu mari, silahkan dinikmati." kata Adnan.


keenam orang itu duduk dan mulailah David dan istrinya merasai nikmatnya makanan rumahan yang diramu mirip dengan gaya restoran. secara pribadi, ia tak menyangka kalau istri dari rekannya mampu menyajikan hidangan unik tersebut.


"Seandainya nyonya belum menikah, saya dan istri saya akan meminta nyonya untuk memimpin salah satu restoran milik saya." puji David.


"Anda akan bisa berkolaborasi dengan Mama Anggun." sela Sevina. "Dia juga seorang chef."


"Aduh, maaf. mohon jangan memuji terlalu banyak. saya nggak sanggup memikulnya." jawab Chiyome sambil tersenyum jenaka.


"Tadi saya sempat melihat sebuah bangunan. itu kuil sembahyang anda, bukan?" tebak Sevina.


"Bukan." jawab Chiyome tersenyum.


"Bukankah umumnya orang jepang menganut agama shinto, bukan?" tukas Sevina sambil terus menyantap hidangan itu.


"Saya sejak kecil sudah beragama islam." jawab Chiyome. "Ibu saya asli disini. ketika menikah, ayah memeluk islam. jadi saya dan adik saya, juga memeluk agama islam."


"Lalu..."


"Itu dojo." jawab Chiyome.


"Lho? suami anda pesilat. kenapa bukan membangun pesanggarahan silat?" tanya Sevina.


"Itu dojo pribadi saya." jawab Chiyome membuat Sevina membulatkan matanya. "Selain Hubby dan Papa yang seorang pesilat. saya juga praktisi seni Koga Koryu Bujutsu."


"Wow, berarti kalian ini keluarga pendekar ya?" seru David setengah memuji, setengah menyindir.


"Terima kasih. mungkin kapan-kapan kita bisa saling berbagi ilmu sesama petarung." jawab Kenzie.


"Darimana anda tahu, saya seorang praktisi beladiri?" pancing David pramudya sambil senyum saat mengunyah makanannya.


"Bukan cuma anda. istri anda juga seorang petarung. aku merasakannya lewat jabatan tangan kita di lobby hotel itu. saya bisa tahu siapa yang punya isi, dan siapa yang benar-benar kosong hanya dari jabatan tangan saja." kata Kenzie.


David dan Sevina terpukau. sekali ini mereka menemukan sebuah keluarga bersahaja dalam kesehariannya, pandai menjamu tamu dengan hidangan berkualitas dan tidak merendahkan diri dihadapan lawannya. []

__ADS_1


__ADS_2