Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 168


__ADS_3

Chiyome kini mengisi hari-harinya dengan melatih Sandiaga. Bakri tak bisa lahi diharapkan untuk melatih anak itu karena telah sibuk memperhatikan istrinya disela pekerjaan kantornya. Saripah begitu juga. tak akan bisa diharapkan untuk menemani dirinya lagi karena telah sibuk dengan kehamilannya. ia telah membawakan amanat keluarga Lasantu yang telah disepakati antara Trias dengan Chiyome, yaitu melahirkan bakal calon istri Sandiaga kelak.


hari itu di dojo, selepas ashar. Chiyome tekun mengajari Sandiaga segala dari apa yang pernah dipelajarinya dari Kameie maupun Ienaga sendiri. untungnya, Sandiaga justru dengan mudah menyerap dasar-dasar seni Koga Koryu Bujutsu, entah karena fisiknya yang kecil tapi kuat atau karena kecerdasan otaknya menyerap segalanya.


"Nichiyo Kokorogake...." ungkap Chiyome saat ia telah selesai memberikan pengajaran tentang teknik dasar koppojutsu kepada Sandiaga.


anak lelaki itu mengerutkan alisnya. "Apa artinya, Mama?" tanya Sandiaga dengan penuh minat.


"Semakin sering kamu berlatih dimasa damai, akan semakin kecil kemungkinan kamu terluka dimasa perang..." jawab Chiyome dengan tegas.


wanita itu mengenakan tegi putih dengan sabuk hitam sedangkan Sandiaga mengenakan tegi putih dengan sabuk hijau. didada bagian kiri tercetak nama jepangnya dalam aksara kanji yang disulam gaya kaligrafi. keduanya duduk dalam posisi seiza saling berhadapan layaknya guru dan murid yang melakukan upacara mondo.


Natori Masazumi, seorang Samurai sekaligus praktisi aliran Koga Koryu Bujutsu mengatakan hal seperti itu." ungkap Chiyome, "Makna dari kalimat Nichiyo Kokorogake sendiri berarti ketertiban... yaitu memanfaatkan segala apa yang ada untuk mengantisipasi kekacauan yang akan melanda. dengan itu, maka kedamaian akan bisa dicapai."


"Ah, aku paham Mama..." ujar Sandiaga menjentikkan jari. "Seperti penuturan guru Akidah Akhlak... beliau bilang, sebagai umat muslim, kita harus melakukan memberdayakan diri kita dalam rangka meningkatkan taqwa kepada Allah..." anak itu tersenyum dan mengangguk. "Ini seperti konsep ijtihad... dalam rangka mempersiapkan diri..."


"Mungkin seperti itu...." sahut Chiyome. "Mama juga nggak terlalu memahami hal itu... tapi yang jelas, persiapkan masa damaimu untuk menghadapi masa perang."


"Si vis pacem para belum..." sambung Sandiaga tiba-tiba.


Chiyome mengerutkan alis. "Kalimat apa itu?"


"Itu bahasa latin, Mama..." jawab Sandiaga. "Artinya, jika ingin damai... bersiaplah untuk berperang."


Chiyome diam memikirkan ungkapan yang diutarakan Sandiaga. rupanya anak ini sangat cerdas dalam meramu setiap falsafah...


"Saya juga pernah membaca koleksi buku online Papa... dalam kitab seni perang Sun Tzu dikatakan, perang adalah hal yang sangat vital... hal ini berhubungan dengan hidup-matinya rakyat, digjaya dan sandyakalaning sebuah negara, makanya... perang harus dipikirkan dengan sebaik-baiknya.... salah satu cara untuk memahami perang adalah mempersiapkan diri untuk menghadapinya." ujar Sandiaga lagi.


Chiyome tanpa sadar tersenyum. anak yang cerdas.


"Mama, aku benar, kan?" tanya Sandiaga.


Chiyome menarik napas. "Baik... Mama rasa kamu sudah paham falsafah perang dan falsafah seni beladiri... sekarang, kita akan berlatih kenjutsu." wanita itu berdiri. "Ambil pedangmu..." perintahnya.


Sandiaga menatap rak dimana beberapa bilah pedang yang tersarung disampirkan. semuanya jenis iaito, yaitu pedang sungguhan yang tidak diasah tajam karena berfungsi sebagai sarana praktik. Sandiaga sudah mahir menggunakan shinai dan bokuto yang sering dipraktikkannya dalam praktek kendo. di dojo itu, Chiyome memang melengkapi dengan beberapa ornamen untuk praktik anggar pedang jepang tersebut.


Sandiaga bangkit. ia mendekati rak pedang itu dan meraih sebilah kodachi kemudian melangkah kembali ke tengah ruangan. disana Chiyome juga telah berdiri menggenggam sebilah iaito.


"Kita akan mempelajari teknik-teknik kenjutsu. nah... sekarang ikuti gerakan Mama." pinta Chiyome.


sang ibu memulai pengajarannya. Kenjutsu menitik beratkan pada sebuah sikap tubuh, kuda-kuda, kontak mata dengan lawan, cara menjaga jarak dengan lawan, cara menghunus dan menyarungkan pedang, cara mengayunkan pedang, cara mengayunkan pedang berulang-ulang, gerakan kaki, cara mengeluarkan energi melalui teriakan, benturan tubuh dengan lawan, dan kesiapan fisik dan mental dalam menyerang.


sikap (Kamae) terdiri atas jodan, gedan, chudan, hasso dan waki. ini adalah sikap pokok yang juga melambangkan lima unsur alam semesta.


seni pedang juga lekat dengan cara memandang lawan dan menundukkannya melalui tatapan. itulah fungsi dari jurus Karasu Tengu no Shisen dalam beberapa jurus Koga Koryu Bujutsu.


cara menghunus dan menyarungkan pedang sangat lekat dengan teknik iaijutsu dan kirikaeshi yaitu mengayunkan pedang dengan mengaplikasikan lima sikap tadi.


setelah Chiyome mempraktekkan semua gerakan dasar dalam kenjutsu aliran Koga Koryu Bujutsu, maka Sandiaga diperintah untuk mempraktekkan semua gerakan dasar itu kembali sambil diawasi oleh Chiyome.


Kenjutsu aliran Koga Koryu Bujutsu memang berbeda dengan lainnya. ada beberapa perguruan pedang yang sekarang eksis didunia, sebagian besarnya merupakan warisan masa lalu. beberapa diantaranya adalah Perguruan Shinkage, Itto, Eishin dan Niten Ichi yang menggunakan seni pedang kembar.


Chiyome tersenyum-senyum bahagia. Sandiaga benar-benar seorang murid jenius. ia dengan sangat mudah menyerap setiap pengajaran yang diberikan Chiyome. wanita itu bersyukur diberikan keturunan yang bisa diwariskan pengetahuan kuno milik keluarganya.


Sandiaga baru saja mempraktekkan jurus terakhir dari kenjutsu aliran Koga. anak itu menyarungkan pedangnya dengan pelan dan penuh keanggunan bagai para samurai jaman sengoku. setelah itu Sandiaga berdiri tegap menatap ibunya.


"Mama... adakah yang salah dari gerakanku?" tanya Sandiaga.


Chiyome tersenyum. "Tidak... sempurna..." ujarnya kemudian membungkuk dengan dalam dan langsung direspon oeh Sandiaga dengan senyum yang dalam pula.


"Pelajaran ini berakhir dulu saat ini. esok, kita akan melanjutkannya kembali." kata Chiyome.

__ADS_1


"Ya Mama." jawab Sandiaga.


Chiyome melangkah menuju rak pedang dan meletakkan pedang disana. begitu juga dengan Sandiaga yang terus melangkah menuju rak pedang dan menyimpan pula kodachi pada rak senjata tersebut.


Chiyome melangkah menuju pintu dojo ketika Sandiaga memanggilnya. wanita itu menoleh menatap putranya. alisnya terangkat.


"Mama... bagaimana jika ada beberapa orang yang datang untuk membullyku..." ujar Sandiaga dengan alis bertaut. "Apakah aku boleh mengeluarkan kemampuanku ini?"


Chiyome berbalik menatap putranya. ia sejenak menarik napas. "Jangan pernah menampakkan identitasmu sebagai seorang ninja, Saburo.... jika kau harus menghadapi orang yang merundungmu... gunakan saja silat."


"Mengapa Mama?" tanya Sandiaga.


Chiyome kembali melangkah mendekati putranya kemudoan duduk berlutut dan memegang pundak Sandiaga dan memperbaiki kerah tegi nya.


"Kamu tahu, mengapa Sun Tzu mengatakan bahwa puncak kemenangan adalah menaklukkan musuh tanpa bertempur?" tanya Chiyome.


Sandiaga diam menanti jawaban ibunya. Chiyome menepuk dada Sandiaga dengan pelan.


"Seratus kemenangan dalam seratus pertempuran bukan prestasi seorang petarung sebenarnya Saburo... kenapa?" pancing Chiyome.


"Apakah karena aku mengeluarkan tenagaku untuk menaklukkan mereka?" jawab Sandiaga dengan menebak.


"I kotaeda... karena kau mengeluarkan segala kemampuanmu dalam menaklukkan mereka dan itu sebuah kerugian...." jawab Chiyome. "Bagaimana caranya kau menaklukkan lawan tanpa harus bertempur?"


"Bagaimana caranya, Mama?" tanya Sandiaga.


"Perkuat wibawamu... permantap teknik Karasu Tengu no Shisen yang kuajarkan padamu... jatuhkan mental musuh agar kekuatan mereka hilang. taklukkan spiritualnya, kau akan mendapatkan tubuh dan mentalnya." jawab Chiyome.


"Lalu bagaimana kita menghadapi sebuah ketidak-adilan yang nampak didepan kita?" tanya Sandiaga.


"Kau harus menegakkan keadilan! karena keadilan adalah sendi dasar dari keharmonisan. keberadaan alam semesta ini berdiri diatas sendi keadilan. jika sesuatu itu berjalan tidak adil maka yang terjadi adalah kekacauan." jawab Chiyome.


"Tapi mengapa aku tak boleh unjuk kecakapan ninjutsu kepada lawanku?" tanya Sandiaga.


"Berarti, aku harus diam terhadap ketidak adilan?" ungkap Sandiaga.


"Tidak seperti itu. sebelum kau melakukan tindakan untuk menaklukkan musuh, kau harus mempelajari musuhmu. pelajari kelebihan dan kelemahannya. ketika kau sudah memahami musuhmu, kau akan sangat gampang menaklukkannya tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga, anakku." jawab Chiyome.


"Aku paham, Mama..." ujar Sandiaga.


"Bagus..." respon Chiyome.


"Tahukah Mama?" ujar Sandiaga.


Chiyome seperti biasa, mengangkat alisnya merespon pertanyaan putranya.


"Aku cinta Mama seperti burung merpati mencintai anaknya." ungkap Sandiaga dengan polos.


Chiyome tersenyum lalu memeluk pelan putranya dan melepaskannya kembali. "Mama mencintaimu bagaikan pelangi yang mencintai hujan."


Sandiaga tertawa. "Mama kok genit benar? pasti gara-gara Papa nih." olok anak itu.


Chiyome tertawa. "Ya, Mama jadi genit karena Papa!"


keduanya bergandengan tangan meninggalkan dojo tersebut.


...*****...


Chiyome mendapatkan kesibukan baru, yaitu mengajari Sandiaga seluruh teknik tertinggi dalam seni Koga Koryu Bujutsu. ia benar-benar mengajari Sandiaga mirip dengan gaya pengajaran Ienaga kepadanya, minus bertarung dengan seekor macan besar.


Chiyome sadar bahwa ia tak boleh lagi menciptakan monster. ia hanya ingin putranya mampu menguasai seni milik keluarganya tanpa harus menjadi brutal seperti dirinya semasa gadis dulu.

__ADS_1


Sesekali Kenzie mengamati dan ikut menasihati bagaimana menanamkan nilai keperwiraan kepada anak itu dengan kearifan lokal.


Kenzie kali ini menantang Sandiaga dalam tarung tanding. lelaki itu mengenakan pakaian pelangga hitam lengkap dengan kain sarung model geringsing yang melilit dipinggangnya. destar warna merah bata terpasang dikepalanya membuat Kenzie nampak benar bagai seprang pendekar langga yang telah menguasai segala teknik silat asli masyarakat Gorontalo itu.


dihadapannya, Sandiaga berdiri tegak mengenakan tegi putih dengan obi warna hijau lumut yang melingkari ponggangnya. didada pakaian itu tersulam namanya dalam aksara jepang - Saburo Koga Mochizuki - yang merupakan nama kelahirannya.


"Baik Saburo. Papa akan menguji, sejauh mana kau menguasai teknik beladiri, apakah itu silat yang diajarkan oleh Abi, ataupun ninjutsu yang diajarkan oleh Mamamu." ujar Kenzie dengan suara datar.


"Come to me, Papa!!!" ujar Sandiaga kemudian memasang kuda-kuda gedan barai.


"Heh, sombong sekali!" hardik Kenzie namun bibirnya tersungging senyuman lebar. "Biar kulihat, seberapa garang dirimu sekarang!"


Kenzie tidak memasang kuda-kuda mohudu dalam langga. ia tak mau anak lelaki semata wayangnya terluka. untuk menguji kecakapan beladiri Sandiaga, lelaki bercambang tipis itu langsung mengerahkan jurus andalannya, harimau andalas!


AUMMMMM.....


terdengar auman mirip macan keluar dari mulut Kenzie. kuda-kudanya terpentang lebar dengan kedua tangan terkembang membentuk cakar.


Chiyome duduk dalam posisi seiza disudut ruangan dekat pintu utama dojo, menonton suaminya mengetes kecakapan sang anak. disertai gerengan kasar, Kenzie maju mengayunkan cakarnya. tapi Sandiaga sudah siap. dengan sigap ia mengayunkan kaki mengarahkan mae geri chudan mengincar cakar yang diayunkan sang ayah.


cakar itu membentur punggung kaki Sandiaga. anak lelaki itu dengan cepat menarik kakinya lagi lalu ia bergerak memutar melayangkan ushiro mawashi geri jodan mengincar wajah Kenzie.


dengan sigap Kenzie mengarahkan cakarnya melindungi wajah dari samping sehingga tendangan Sandiaga hanya mengenai telapak tangan lelaki bercambang tipis itu.


"Upaya bagus!" puji Kenzie lalu maju mengayunkan tendangan mengincar dada Sandiaga. anak lelaki itu sontak membuang tubuhnya ke belakang lalu melompat dan melayangkan mae tobi geri kembali mengincar wajah Kenzie.


Kenzie menyilangkan cakarnya menghalangi wajah dan tendangan itu sekali lagi hanya mengenai silangan lengan kekar lelaki bercambang tipis itu. Sandiaga mengayunkan age shuto uchi berupaya mematahkan silangan itu. Kenzie mengembangkan tangannya dan cakar tangannya menangkap pergelangan tangan Sandiaga.


"Tertangkap!!" seru Kenzie.


"Nggak!!!" seru Sandiaga kembali maju melayangkan oitsuki atau pukulan menumbuk mengincar dada Kenzie.


lelaki bercambang tipis itu mengibaskan lengannya menepis pukulan itu dan ia melayangkan tangannya kembali menampar Sandiaga dengan cakar mengincar wajah. Sandiaga sontak menundukkan kepalanya lalu kakinya dengan refleks terangkat melayangkan mawashi geri gedan dan telak mengenai pinggang Kenzie.


lelaki bercambang tipis itu tersentak dan membuang dirinya ke belakang. Sandiaga sendiri kembali memasang kuda-kuda hangetsu kumade shuto uke. tangan depannya terpentang kedepan membentuk cakar dan tangan belakangnya terpasang didada siap menghujamkan teknik nukite.


Kenzie terkekeh senang. ia tertantang. "Baik, Papa suka ini!"


ia kembali memperagakan silat harimaunya namun kali ini Kenzie menerjang lebih buas dan seakan tak memberi kesempatan Sandiaga melancarkan pukulan balasan melainkan hanya bisa menangkis serangan saja. Sandiaga benar-benar terpojok. anak itu kewalahan menerima serangan meskipun belum satupun pukulan Kenzie bersarang ditubuhnya.


akhirnya Sandiaga kembali melempar tubuhnya kesamping menghindari ayunan cakar ayahnya dan kembali mengambil jarak yang aman.


"Papa mau aku serius nih?!" ujar Sandiaga dengan jengkel membuat Chiyome tanpa sadar tersenyum menutup mulutnya dengan tangan.


"Memang Papa main-main mengujimu, Boy???" ejek Kenzie.


Sandiaga mengangguk-angguk. "Okey... Papa jual, aku beli!" serunya merubah kuda-kuda. Kenzie terkejut.


AUMMMM


"Hei, sejak kapan kau menjiplak jurus Papa?!" hardik Kenzie yang tak menyangka Sandiaga mampu memainkan teknik silat harimau. gayanya sangat mirip dengan Kenzie.


"Memang cuma Papa yang tahu? hehhh.... meremehkan sekali!" ujar Sandiaga dengan jengkel dan kembali ia meraung memperdengarkan auman macannya semakin membuat Kenzie terkejut.


anak ini... mampu meniru silat harimau.... berarti...


Sandiaga langsung melompat menerkam Kenzie membuat lelaki itu terpaksa melakukan sikap mohemeto dalam seni langga. Chiyome terkejut dengan gaya tarung yang diperagakan suaminya.


"Hubby!!!!" tegur Chiyome dengan cemas.


terlambat! cakar Sandiaga terayun menyerang wajah Kenzie. dengan sigap, Kenzie mengibaskan tangannya membuat cakar itu terpental dan Sandiaga terkejut. belum sempat Sandiaga menarik napas, tangan Kenzie maju menangkap kerah tegi miliknya dan sedetik kemudian tubuh Sandiaga melayang membentuk lengkungan dan jatuh berdebam di matras itu.

__ADS_1


Sandiaga merasa seluruh udara dalam paru-parunya keluar akibat hempasan itu. Chiyome berdiri menatap cemas kearah mereka berdua.


"Hubby!!!!" pekiknya kembali dengan suara cemas.[]


__ADS_2