
Pagi itu begitu sejuk. Kenzie terbangun diusik oleh udara musim gugur yang menghembus melintasi ruangan kamar. ia memicingkan mata mengusir silau buram dari cahaya yang menerobos paksa. pintu bagian luar kamar itu sudah terbuka lebar membiarkan udara yang sejuk itu menggigiti permukaan kulitnya yang gatal karena kering.
Kenzie bangun perlahan dan menguap lebar kemudian mengedarkan pandangan hingga menyapu kembali tempat tidurnya. hanya dirinya saja diruangan itu. kelihatannya Chiyome telah lebih dulu bangun dan mungkin sementara memasak didapur. meskipun kediaman ini memiliki beberapa asisten rumah tangga, namun nyatanya pekerjaan memasak hidangan selalu dilakukan oleh pemilik rumah.
Kenzie bangun hanya dengan mengenakan kaos oblong dan celana tenis. pertempuran semalam benar-benar menguras tenaganya dan rasa lapar menyergapnya seketika. perutnya keroncongan memperdengarkan bunyi geraman bercampur lenguhan akibat angin kosong yang memenuhi lambung dan usus dua belas jarinya.
Kenzie melangkah menyusuri lorong. ia menuju dapur dan memeriksanya. alisnya berkerut. Chiyome kemana saja? dapur sunyi, tak terlihat satupun orang. lelaki itu kembali menyusuri lorong dan menguak setiap pintu kamar yang ada hanya untuk mencari keberadaan Chiyome.
"Wiffy.... Wiffy.... " panggil Kenzie dengan lembut.
tak ada sahutan. suasana kediaman terasa lengang. perasaan Kenzie mulai gulana. dengan desah kecewa ia kembali menyusuri lorong dan memperhatikan ruangan demi ruangan berharap menemukan Chiyome pula.
"Hei... Saburo juga tak kelihatan... kemana dia?" gumam Kenzie mulai resah dengan ketiadaan Chiyome.
larinya terayun setengah berlari menyusuri lorong-lorong lagi. kali ini ia mencari diwilayah luar. satu persatu bangunan ia telusuri hingga akhirnya lelaki itu tiba di dojo. disana terdengar teriakan silih berganti beriringan dengan bunyi mendebtam dan memukul beserta bunyi kayu bertumbukan. itu suara orang berlatih.
Kenzie bergegas memasukinya. dan ia menemukan Sandiaga berada disana, mengenakan seragam kendo, lengkap dengan helm jeruji, jirah pelindung dan kaos tangan serta memegang shinai. ia sedang berlatih anggar melawan Iechika. sedangkan Yasuyori dan Yasunori beradu tanding dalam seni battojutsu disaksikan sendiri oleh Heinaizaemon Ienaga Chigaji sebagai instruktur umum.
kedatangan Kenzie membuat keempat praktisi tersebut menangguhkan kegiatannya. Ienaga menoleh dan menatap dengan wajah datar.
"Kalian melihat Chiyome?" tanya Kenzie.
Ienaga menatap dengan datar lalu melangkah dan berdiri dihadapan Kenzie.
"Dia sedang melaksanakan tugas mulia, sebagaimana keempat puluh tujuh ronin yang membela hak tuannya." jawab Ienaga dengan tenang.
"Apa?!" pekik Kenzie dengan kaget. "Kalian membiarkannya menjalankan misi sendirian?!"
"Itu adalah keinginannya. kami tak bisa menahannya." jawab Ienaga.
Kenzie mendengus, "Mengapa Paman tak memberitahuku?! mengapa tidak ada yang menemaninya?!" tukasnya.
"Itu keinginannya, dia menyuruh kami tak boleh memberitahu kamu. sebab jika iya, pasti kau tak akan mengijinkannya." jawab Ienaga lagi.
"Tentu saja aku tak akan mengijinkannya!!" hardik Kenzie dengan keras. "Apakah kalian menganggap membunuh itu bukan dosa besar? apa kalian menganggap nyawa manusia begitu murahnya?!"
"Justru karena dia menganggap nyawa manusia begitu berharga maka dia meminta misi itu!" tandas Ienaga. "Lelaki yang membunuh ponakanku itu adalah perusak dimuka bumi yang harus dimusnahkan. jika itu terlaksana, tidak akan ada lagi wanita yang akan teraniaya." timpal Ienaga.
"Kamu tentu sudah pernah mendengar istilah si vis pacem parabelum, kan? jika kau menginginkan kedamaian, maka berperanglah untuk kedamaian itu." sambut Iechika.
"Menumpahkan darah seseorang bukan perkara gampang, Iechika! istriku akan berbenturan dengan hukum! dia akan diganyang oleh hukum itu sendiri!" tandas Kenzie sambil maju menggenggam lengan Ienaga. "Paman, aku harus pulang! aku tak ingin kau mengacaukan rencananya. aku tak setuju dengan perbuatannya."
SRINGGGGG!!!!
tiba-tiba dengan cepat, sebilah pedang telah menempel dileher Kenzie. lelaki itu tersentak. begitu cepatnya Ienaga menghunus senjata tanpa sempat dicegahnya. lelaki ini adalah guru dari istriku... apakah kecepatannya juga seperti ini???
"Sebaiknya kau tak mengacaukan misi keluarga, Kenzie. kau dan keluargamu sudah berupaya. namun gagal. maka biarkan kami yang mengambil alih." jawab Ienaga dengan tenang, menempelkan bilah pedang di leher Kenzie.
"Paman..." ujar Kenzie dengan gemetar.
"Sudah kubilang, kau dan keluargamu sudah cukup berupaya. tenanglah... Chiyome akan melakukan tugasnya dengan baik. kalian tenanglah." ujar Ienaga sekali lagi.
"Kalian menyanderaku? menyanderaku dan anakku?" tukas Kenzie dengan memicingkan mata.
"Jika itu bisa membantu Chiyome menjalankan tugas dan tidak terhalangi oleh kalian... aku akan melakukan apapun untuk memastikan, kewajiban Koga no Shirohana berhasil." jawab Ienaga dengan tenang.
Kenzie menatap Sandiaga yang masih mengenakan seragam dan atribut kendo, berdiri menatapnya. Kenzie menatapi Ienaga, kedua putranya dan Iechika dengan nanar.
"Paman, sebagai suaminya, aku berhak memintanya membatalkan misi itu. hanya aku yang bisa menyarungkan pedangnya Paman." kata Kenzie.
"Benar." jawab Ienaga, "Kameie sudah melihat kemampuanmu itu. maka atas dasar itu pula aku memutuskan menahanmu disini." Ienaga kemudian menjauhkan bilah pedang Di leher Kenzie kemudian menyarungkannya. "Si Penebas Angin harus kembali menderu memancing badai untuk menyerap darah musuh."
"Tapi pedang itu sekarang bwrada digudang arsip Kepolisian, Paman. ruangan itu dijaga ketat." bantah Kenzie, membuat Ienaga terkekeh dan maju menepuk pundak Kenzie dengan lembut berulang-ulang.
"Kau hanya melihat sebagian kecil dari sisi gelap istrimu. pengawalan gerombolan itu tak akan ada artinya baginya." ujar Ienaga dengan senyum. "Kembalilah ke ruanganmu, Kenzie. jangan pernah berpikir untuk meninggalkan tempat ini. ingat, kau berada di kediaman pentolan Yamaguchi yang paling dihormati."
Kenzie hanya diam. dia tak mampu lagi melakukan apa-apa.
...*****...
__ADS_1
Kepolisian resort Kota Gorontalo, pukul 11.00 malam.
dua orang samapta melangkah santai menyusuri lorong gedung. mereka tiba di sebuah pintu. dipintu tersebut tertulis;
......GUDANG ARSIP/BUKTI......
...KEPOLISIAN RESORT KOTA GORONTALO...
salah satu samapta membuka pintu. seorang lagi masuk. keduanya menatap ruangan yang dipenuhi barang-barang bukti dan arsip-arsip laporan.
"Wuih, sejak kapan gudang ini dibersihkan?" ujar salah satu samapta mengibas-ngibaskan tangan dan terbatuk-batuk.
"Sejak setahun lalu." jawab seorangnya lagi lalu maju meneliti beberapa barang bukti yang tersimpan rapi dalam rak-rak lemari.
"Ah, seharusnya gudang ini perlu dibersihkan lagi." gerutu si samapta tersebut.
"Ssst diamlah." desis temannya menempelkan telunjuk ke bibir. "Kita disini sedang membersihkan barang bukti. kemarin, beberapa dus berisi beberapa botol minuman keras baru saja disingkirkan. dua puluh balok kayu besi juga sudah dilelang."
"Memang barang bukti mana lagi yang akan disingkirkan?" tanya temannya lagi.
"Yang kasusnya sudah selesai." jawab temannya lagi.
salah satunya berhenti mengamati sebuah benda yang menggeletak diatas rak. ia mendekatinya dan mengamati nomor seri regis bukti. ia meraih benda itu.
"Hei, pedang ini bagus ya?" celetuk samapta itu memperlihatkan pedang jenis gunto.
"Hei, mau kau apakan benda itu?" tanya temannya dengan lirih.
"Ya, mau ku ambil. bentuknya bagus. aku mau bilang sama komandan." ujar samapta tersebut.
"Tapi pedang itu milikku." sela seseorang dengan berbisik
kedua samapta itu terkejut namun tak sempat bertindak karena dua pukulan hinggap di masing-masing tengkuknya. kedua samapta itu sejenak mengeluh lalu jatuh ke lantai, pingsan. pedang tersebut langsung diraih oleh sosok dalam gelap.
berkas cahaya artifisial yang merembes lewat ventilasi menegaskan menpo corak mulut setan yang menyeringai, yang tersemat pada bagian hidung dan mulut sosok tersebut. rambutnya yang terkuncir ke atas sejenak bergoyang. mata lentiknya menatap pedang dalam genggamannya.
"Penebas Angin... kita bersua lagi. mari kita tumbalkan darah dan tubuh orang itu kepada penghuni neraka." gumam sosok itu dengan mata yang memicing.
...*******...
📲 "Ya, kenapa Di?" tanya Trias.
📲 "Bro. gudang bukti kecurian. salah satu benda hilang." jawab Aldi dengan nada tegang.
📲 "Lho? kok bisa?" ujar Trias terperangah. "Bukannya ada yang menjaganya?"
📲 "Itu benar, Yas... tapi keduanya ditemukan tergeletak pingsan didalam gudang." jawab Aldi. "Kami langsung sigap memeriksa dan mencocokkan data bukti. ternyata ada satu benda yang hilang."
📲 "Benda apa sih?" tanya Trias penasaran.
📲 "Barang bukti Nomor E 221/P/B/c.24-77." jawab Aldi, "Tercatat atas kasus Ny. Chiyome Mochizuki, terdakwa pembunuhan terhadap Nona Kusmaratih."
Trias terkesiap. Si Penebas Angin.... tak salah lagi. pedang itu. apakah Chiyome mengambilnya???
Trias memperbaiki sikapnya.
📲 "Oke Di... aku segera kesana." ujar Trias.
...*******...
Kenzie mondar-mandir di ruangannya. berkali-kali ia menghubungi Chiyome. namun rupanya nomor itu dinonaktifkan. sang istri benar-benar telah fokus untuk melakukan pembunuhan. rahang lelaki bercambang itu mengencang. sekali ini, sang istri mendurhakainya dengan mematikan hubungan seluler. namun Kenzie tak bisa marah padanya, sebab sebagaimana Chiyome pula, yang terluka akibat kematian Aisyah, kini menanggung duka akibat wafatnya ibu dan ayah.
dia pasti telah menguping pembicaraanku dengan Papa tentang bebasnya Stefan dari jeratan hukum. aku memang sebisa mungkin menyembunyikan hal itu. bagaimanapun aku tak mau sisi gelapnya menguasainya lagi. sekali saja kulihat dia bertindak bengis. tapi.... ah, kenapa bisa jadi begini?
Kenzie menggaruk kepalanya yang tak gatal dan merutuk. Chiyo... kemana lagi kau kejar bajingan itu??? biarkan saja!!! aku hanya ingin kita hidup tenang.
gawainya bergetar. Kenzie buru-buru meraih gawai itu dan mengaktifkan panggilan.
📲 "Ya, Yas..." ujar Kenzie.
__ADS_1
📲 "Gawat Bro! gawat!" seru Trias dengan tegang.
📲 "Kenapa?! apanya yang gawat?!" tanya Kenzie yang ikutan menjadi tegang.
📲 "Si Penebas Angin... hilang!" jawab Trias. "Pedang itu raib dari gudang bukti."
📲 "Apa?! hilang?!" seru Kenzie dengan keterkejutan luar biasa. sekarang ia yakin, sang istri sudah berhasil menyusup ke gudang bukti dan mengambil kembali pedangnya.
📲 "Ken..." panggil Trias.
📲 "Ya. ya..." jawab Kenzie gelagapan.
📲 "Jawab dengan jujur, Ken.... apakah Chiyo, disana?!" selidik Trias.
Kenzie menghela napas panjang dan Trias langsung mendapatkan isyaratnya.
📲 "Jadi, Chiyo memang tak disana, kan?" tebaknya.
📲 "Ya... dia sudah pergi mendahuluiku. kemungkinannya ia pergi pada saat aku terlelap." jawab Kenzie dengan lemah.
📲 "Brengsek!" umpat Trias, "Kalau begitu, kau pulanglah cepat! cegah maitua kamu itu!!"
📲 "Nggak bisa Yas!" tolak Kenzie. "Aku sekarang disandera."
📲 "Apa katamu?! di sandera?!" seru Trias terkejut. "Kayak penculikan saja! nggak lucu! ayo cepat pulang kamu! ini serius!!!" ujar opsir itu dengan suara agak marah.
📲 "Kayaknya sulit." ujar Kenzie. "Penjagaannya ketat. tapi... akan tetap ku upayakan." ujar lelaki bercambang tersebut.
📲 "Baik. kasih kabar secepatnya ya?!" pinta Trias. "Aku sekarang akan menyelidiki apa maunya istrimu itu."
saluran seluler tertutup. Kenzie menyisipkan kembali gawainya disaku. ia mendesah panjang kemudian memijit-mijit kepalanya.
aduh, Chiyome... kau membuatku tak akan bisa tidur lagi...
...****...
Adnan dan Mariana terkejut mendengar penuturan Trias tentang kemungkinan Chiyome akan melakukan pembunuhan atas dasar balas dendam.
"Saya mengaitkan dengan hilangnya Si Penebas Angin yabg diwariskan Bapu Ridhwan kepadanya, Om. kedua petugas kami juga pada malam tadi ditemukan pingsan meringkuk dilantai gudang." tutur Trias, "Mereka mengalami memar leher akibat hantaman benda tumpul, semacam sendi jemari tangan atau persendian sikut ataupun bagian sisi tangan."
"Lalu, kau sudah melebarkan perimeter?" tanya Adnan.
"Sudah Om... saya mencurigai, ia membayangi Stefan sekarang." ujar Trias. "Saya akan menghubungi Stefan sekarang."
"Jangan!" pinta Adnan. "Biarkan saja."
"Lho?" ujar Trias terperanjat. "Nggak bisa begitu Om." protesnya. "Aku nggak mau sahabatku melakukan pembunuhan. itu berat pasalnya, Om."
"Maka tutuplah matamu." pinta Adnan.
"Aku nggak bisa menutup mata dari kasus ini, Om." tandas Trias berkeras. "Tindakan Chiyome nantinya akan berujung pada isi pasal 340 KUHP. ancamannya nggak main-main, Om. Hukuman mati! Om dengar? HUKUMAN MATI!!!!"
"Tapi bagaimana dengan Stefan?!" ungkit Adnan dengan wajah merah menegang dan matanya memerah nan berair. "Kalian melepaskannya. hukum macam apa ini?!"
"Tapi sesuai prosedur, Om. dalam pasal 31 KUHAP dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983, pasal 35. semua sudah jelas. Om mau menuntut apalagi dalam sistem peradilan?!" jawab Trias.
"Yas..." ujar Adnan dengan lemah, datar namun tegas. direngkuhnya pundak kekar opsir itu dengan jemarinya. "Apakah kau membela pembunuh itu?" tanya Adnan dengan lirih menampakkan wajah penuh kekecewaan.
Trias, ditodong sedemikian rupa dengan pertanyaan menohol itu, tanpa sadar menumpahkan airmatanya.
"Om... jika kita bicara kejujuran dari hati nurani..." sedu Trias dengan nada yang ditegar-tegarkan. "Siapa adik yang rela melihat pembunuh kakaknya melangkah dengan bebas? siapa yang rela melihat pembunuh gurunya melenggang dengan pongahnya?" Trias duduk dengan lemas disofa dan menelungkupkan wajahnya pada hamparan sepuluh jemarinya yang menjaring wajah itu. sang opsir tersedu sedan.
"Maka biarkan Chiyome melaksanakan bakti keluarganya, Yas. kau sudah berupaya. kau sudah melakukan segala upaya hukum. sudah cukup." kata Adnan menenangkan lelaki itu. "Jika hukum manusia tidak mampu menjangkaunya, maka biarkan keadilan langit melaksanakan tugasnya."
"Tapi, Om... Chiyome..." protes Trias.
"Chiyome... aku percaya kepada menantuku, Yas." ujar Adnan kemudian menyunggingkan senyumnya. matanya masih tetap mengalirkan airmata. "Aku, percaya kepadanya. mungkin hanya dia yang akan bisa menenangkan ruh Aisyah dan Bakri, Fitri dan Kameie.... sekarang, harapan keluarga Lasantu dan Mochizuki, ada pada pundaknya."
Adnan kemudian melangkah meninggalkan Trias yang tersedu sedan diruang keluarga kediaman Lasantu. langkah kaki sang kakek itu melangkah tegas melintasi dapur terus menyusuri lorong hingga tiba di pintu dojo. Adnan membuka pintu itu dan memasuki ruangan dojo yang luas. ia melangkah melewati kamiza dan tiba dihadapan sebuah papan besar mufudakake berisi nama-nama para praktisi aliran Koga Koryu Bujutsu. nama Chiyome terpampang setingkat dibawah Kameie dan Ienaga, sejajar dengan mendiang Heitaro Koreyuki, Keitaro Yasunori dan Keitaro Yasuyori.
__ADS_1
kami mengandalkanmu, nak.....
Adnan menyapu papan bertuliskan nama Chiyome.[]