
mobil melaju membelah jalan yang belum ramai dipenuhi kendaraan. Chiyome mengendalikan mobil dengan tangkas. sementara Aisyah hanya diam menatap pemandangan diluar jendela mobil. sesekali Chiyome menatapi Kakaknya.
"Kakak marah ya?" pancing Chiyome sambil terus memperhatikan jalanan.
"Ngapain Kakak marah?" ujar Aisyah sambil terus nenatapi pemandangan diluar kaca jendela mobil.
"Mama nggak ada maksud membandingkan kita berdua. Mama cuma menggoda kakak." kata Chiyome.
"Lalu apa namanya kalau Mama bilang Kakak kalah sama Adek? bukankah itu sudah merupakan perbandingan?" tukas Aisyah dengan wajah keruh.
"Kakak kan lebih dulu kenal Mama ketimbang Adek. masa Kakak nggak bisa mengetahui kapan Mama bercanda dan kapan Mama serius?" ujar Chiyome.
"Kakak tahu kenapa Mama bicara begitu." tukas Aisyah tiba-tiba. "Mama mau Kakak menyusul Adek, nikahan."
mulut Chiyome membulat sejenak lalu tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya. "Kalau begitu, iyakan saja, Kak. gampang, kan?"
"Gampang bonengmu!" umpat Aisyah. "Kakak nggak mau ikut-ikutan ide gila kamu. nikah masih sekolah.... kamu lihat dirimu sekarang. nggak sekolah, kan. ngurusi bayi."
"Apa salahnya dengan kehidupan seperti itu, Kak?" sanggah Chiyome sedikit tersinggung ketika Aisyah mengungkit kehidupan pribadinya. "Aku terinspirasi dengan Okaa-San yang rela memelihara aku dan Iechika ketimbang ia mengembangkan karir sebagai seorang manajer sebuah restoran ternama. ia menjadi ibu rumah tangga dikala setiap wanita ingin menjadi wanita karir."
"Jadi sekarang Adek menyindir Kakak?" todong Aisyah dengan wajah keruh lagi.
"Kakak salah paham lagi nih." tegur Chiyome, "Maksud Adek, setiap orang memiliki alasan ketika ia membuat pilihan. dan pilihan Adek untuk melahirkan keturunan Kenzie adalah cinta Adek kepada dia. Hubby justru melarang Adek kok waktu kita *****'an di Tokyo. tapi Adek sudah tetapkan pilihan. bagi Adek, sekali melangkah, tidak boleh mundur lagi." tandasnya.
"Tapi akhirnya Adek kehilangan hak sekolah, kan? Adek nggak berpikir disitu ya? usia Adek itu lho. masih usia produktif sekolah. nah sudah rasakan toh, difitnah gara-gara fisik Adek yang tiba-tiba hamil padahal masih sekolah." bidas Aisyah tak mau kalah.
"Ketika Adek membuat pilihan, Adek sudah memprediksi apapun yang akan terjadi akibat pilihan yang Adek buat. dan, ya.... fitnah itu merupakan salah satu dari hal yang tak menyenangkan. tapi itu bagian dari prediksi yang memang Adek jabarkan dari sebuah pilihan. Syukurnya, semua yang terjadi sesuai dengan prediksi yang Adek jabarkan itu." balas Chiyome.
Aisyah diam mendengarkan penjelasan adik serahimnya. Chiyome melanjutkan. "Kakak mau jadi wanita karir?" pancing ibu muda itu.
Aisyah hanya diam. Chiyome kembali tertawa.
"Kakak nggak perlu jadi wanita karir. Kakak kan punya saham di perusahaan Papa. alokasinya 25 % lho, sama dengan sahamnya Om Endrawan. kalau mau jadi wanita karir, kembangkan saja perusahaan Papa. kerja sama dengan Hubby, karena kalian berdua anak-anaknya Papa sama Mama." jawab Chiyome.
"Lalu, Papa nggak kasih kamu alokasinya? kamu kan mantu paling disayangi." sindir Aisyah.
Chiyome tertawa mendengar sindiran kakak serahimnya itu. "Adek nggak butuh sahamnya Papa... Kakak lupa ya? Adek kan pemilik aset wilayah Tohoku dan Shibuya. itu milik Adek pribadi tanpa ada kaitan dengan Otoo-San dan Iechika."
Aisyah sadar kalau adiknya sebenarnya seorang pialang dagang, meskipun jalurnya Tekiya (bisnis dagang yang dimiliki kaum yakuza). aset milik Chiyome adalah keseluruhan lembaga dagang yang beroperasi diwilayah Tohoku dan sebagian bisnis Pachinko diwilayah Shibuya. ibu muda itu tak perlu takut kelaparan. wilayah bisnisnya sangat luas.
"Lagi pula enak lho menikah muda Kak. terhindar dari zina dan pergaulan bebas gaya mahasiswa.... disisi agama Kakak sudah halal untuk...." goda Chiyome sambil mengisyaratkan ibu jarinya yang dimasukkan ke mulutnya dan dimaju-mundurkan. wajah Aisyah spontan langsung memerah.
"Adeeeekkk!!! sudah berani ngomong porno yaa???" bentak Aisyah sambil mencubit hidung adiknya.
"Aaauuuugh Kak! sakit nih! kenapa sih kalian, nggak Mama nggak kakak, selalu menjadikan hidungku sasaran cubitan sih?!" teriak Chiyome dengan kesal.
Aisyah tertawa, "Hidung kamu memang paling bagus untuk dicubit!" balasnya dengan senyum jahil.
mobil yang mereka dikendarai tiba di UNG. Chiyome menepikan mobilnya. Aisyah membuka pintu mobil lalu keluar. Chiyome melongokkan wajahnya pada jendela dimana Aisyah berdiri.
"Kakak mau dijemput?" tanya Chiyome.
"Nggak usah sayang. makasih ya, sudah nganterin Kakak." jawab Aisyah memajukan wajahnya menciumi pipi adiknya. Chiyome tersenyum.
"Ya sudah deh. Adek pergi dulu ya Kak." kata Chiyome kemudian menjalankan mesin mobilnya lalu mengendarai kendaraan itu kembali meninggalkan kampus.
dalam perjalanan itu Chiyome menghubungi suaminya. tak lama terdengar nada sambung berikut suara Kenzie.
📲 "Assalamualaikum Wiffy. kenapa ya?" tanya Kenzie.
📲 "Wa Alaikum Salam. Hubby mau disiapin makan siang? nanti Wiffy masakin dan kirimkan ke sekolah." ujar Chiyome.
📲 "Oke deh... Hubby jadi hemat belanjanya. makasih ya Wiffy... Hubby tunggu makan siangnya lho." kata Kenzie. "Jangan lupa.... porsi besar ya?"
📲 "Oke deh.. ketemu lagi Hubby. Assalamualaikum."
📲 "Wa Alaika Salamun ya Habibiy..."
Chiyome tersipu mendengar salam suaminya. dengan gembira Chiyome melajukan kendaraannya. ia sudah tak sabar tiba dirumah untuk memasakkan hidangan untuk suaminya tercinta.
...********...
Kenzie menyimpan gawainya ke saku celana kemudian masuk kembali kedalam kelas mengikuti pembelajaran. rasa senangnya atas perhatian istrinya membuat pemuda itu begitu serius mengikuti dan menyimak setiap penjelasan dan pemaparan yang dijabarkan oleh gurunya. waktu itu tak terasa hingga akhirnya lonceng istirahat berdentang cepat.
siswa-siswi berhamburan dari kelas dan sebagian besar menuju kantin dan sebagian sisanya memilih duduk-duduk di taman sekolah menikmati kesendirian sibuk membaca buku pembelajaran. seminggu lagi masuk ujian semester ganjil karena hari ini adalah awal bulan Desember.
Trias dan Ipah muncul menyusuri koridor, menemukan Kenzie yang duduk santai di pembatas balkon tingkat dua. ia duduk sambil menyesap minuman kaleng sedikit-sedikit.
"Woy... ke kantin yuk." ajak Trias dengan suara keras memanggil sahabatnya yang duduk dipembatas balkon tingkat dua bagai seekor burung yang hingga dipematang.
__ADS_1
Kenzie memandang kedua sejoli itu. ia menghabiskan minumannya lalu dengan sigap, melompat dari pembatas balkon itu. dengan cekatan pemuda itu mengandalkan kecakapan ringan tubuhnya. ia menarik napas dan menahan sebagiannya di tekannya menuju tantian hingga tubuh pemuda itu mengambang ringan melompati dahan-dahan pepohonan yang menghias taman sekolah hingga akhirnya pemuda itu mendarat dengan lembut dihadapan Trias dan Ipah.
"Dasar tukang pamer." ujar Trias dengan jengkel.
Kenzie tertawa pelan dan bercakak pinggang. "Setidaknya aku perlihatkan perkembangan silatku sejak istriku mendirikan dojo pribadinya. aku melatih diriku disana. "
Trias mendengus kesal. Kenzie kembali tertawa. "Datanglah dan berlatihlah bersamaku. aku merindukan latihan kita bersama. ajaklah Ipah, siapa tahu dia bisa jadi partner beladiri istriku."
"Chiyome juga bisa beladiri?" tanya Syarifah.
Kenzie menatapi Trias. "Kau tak memberitahunya?"
"Memangnya kutahu? yang kutahu, dia hanya pakar menembak." sindir Trias.
Kenzie paham, Trias belum terlalu mengetahui siapa istrinya. saatnya pemuda itu menjelaskannya.
"Dia penyandang sabuk hitam karate-do tingkat 9." jawab Kenzie sekenanya.
"Seorang Shihan?! becanda kamu! trus, alirannya apa?" tanya Ipah dengan kaget.
"Aku nggak tahu. nanti tanya langsung saja sama dia." jawab Kenzie.
"Waaaah... Yas, aku boleh ikut latihan nggak?" rengek Ipah.
"Kenapa tidak?" ujarnya sambil tertawa dan mengembangkan tangan.
tak lama kemudian terdengar bel masuk. Trias mengumpat. " Hulelilolo.... aku tak bisa menikmati sarapan nih."
"Tenang, sebentar siang Chiyome datang bawakan kita makan siang kok. aku yang traktir." kata Kenzie sambil menepuk-nepuk dadanya. ia kemudian merogoh sakunya mengeluarkan ponsel dan menghubungi Chiyome.
📲 "Assalamualaikum Wiffy..." sapa Kenzie.
📲 "Hubby... tumben telpon jam segini. kangen ya?" tebak Chiyome dengan manjanya.
📲 "Salah satunya itu. tapi bekal makan siang Hubby sudah dibikin?" tanya Kenzie.
📲 "Nih sementara dibikin. kenapa? sudah lapar yaaa..."
📲 "Hidanganmu selalu membuatku sangat lapar sayang. terutama... tubuhmu, selalu membuatku lapar..."
ucapan Kenzie membuat Chiyome tertawa sementara Trias menjebikan bibirnya membuat Ipah tertawa.
📲 "Ya sudah... nanti Wiffy ke sekolah ngantari bekal buat Hubby." ujar Chiyome.
📲 "Dibikin banyak ya? aku lagi traktir Trias dan Ipah."
Kenzie memutuskan sambungan seluler itu dan menyimpan gawainya dalam sakunya. pemuda itu tersenyum.
"Solusi perutmu terpecahkan.." kata Kenzie sambil mengacungkan jempol.
...***********...
Aisyah sedang duduk ditaman ketika Stefan menghampirinya. pemuda itu duduk disisi Aisyah. pemuda itu menatapi wajah jilbaber itu.
"Kenapa tuh wajah kok keruh begitu?" tanya Stefan.
" Tau ah..." balas Aisyah tanpa perduli.
Stefan meraih dagu gadis itu dan mengarahkan wajah Aisyah ke hadapannya.
"Ada apa?" tanya Stefan dengan wajah yang lembut.
Aisyah menepiskan tangan Stefan dengan pelan. lalu kembali menatap ke depan. Stefan hanya mengangkat bahu dan ikut menatap ke depan.
"Semuanya didiskusikan. kalau begini, aku kan nggak tahu apa yang ada dalam pikiran kamu." kata Stefan.
Aisyah perlahan memutar kepalanya menatapi Stefan. "Kamu nggak akan bisa menyelesaikan masalahku."
"Masa iya sih? aku jadi penasaran, apa masalah yang kamu hadapi, bidadariku?" tanya Stefan.
Aisyah tersenyum sejenak. "Aku dibanding-bandingkan dengan adikku."
Stefan tersenyum. "Dibandingkan seperti apa?"
"Kamu kan tahu, adik serahimku dan adik sambungku menikah. sekarang punya anak. nah, disitu Mama mulai banding-bandingkan aku yang belum nikah dengan anaknya yang sudah nikah. aku kan jadi malas." ujar Aisyah sambil memonyongkan bibirnya.
Stefan tersenyum makin gemas melihat bibir yang dimajukan, seakan memaksa dirinya untuk mengemut bibir itu. pemuda itu menahan birahinya.
"Hmmm.... kalau saja bukan ditaman... sudah kulumat bibirmu itu." gumam Stefan.
"Apa kau bilang?" todong Aisyah.
Stefan kaget lalu tersenyum lagi. "Nggak... kalau kau mau, aku bisa menemui orang tuamu."
"Untuk apa kamu temui Papa dan Mama? jangan main-main Evan. mereka orang-orang serius." kata Aisyah.
__ADS_1
"Memang aku nggak serius?" kata Stefan membuat Aisyah terdiam sejenak, lalu iapun mendesah.
"Van, jangan cari masalah. biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini." tolak Aisyah dengan halus.
"Masalah kamu, masalah aku juga., bidadariku... kamu itu, separuh aku..." tandas Stefan dengan wajah serius menatap Aisyah.
Aisyah menatapi wajah tampan yang chinnesse itu. gadis itu kemudian memalingkan wajahnya dan tersenyum. Stefan melihat gadis itu menyembunyikan tawanya.
"Ais... aku serius lhooo..." kata Stefan.
"Iya... aku tahu kamu serius." jawab Aisyah sambil terus menahan tawa.
"Lalu kenapa kamu tertawa? ada yang lucu?" tanya Stefan dengan wajah lugu.
"Iya... kamu pake lagunya Noah untuk ekspresikan perasaanmu. itu terasa lucu bagiku." jawab Aisyah kali ini langsung tertawa.
Stefan hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum. "Iya sih. mar betul lho. aku serius. aku akan datangi rumah kamu."
"Mau apa kamu ke rumahku Van? yang ada kamu nanti di rundung sama adikku." kata Aisyah.
"Memangnya adikmu tukang rundung?" tanya Stefan dengan wajah sangsi.
Aisyah menatapi Stefan lalu mengangguk-angguk berkali-kali. Stefan mengangkat alisnya sebelah.
"Yang beneer kamu..." todong Stefan.
"Suaminya aja di bully, apalagi kamu yang belum termasuk keluarga." kata Aisyah. "Adik perempuanku itu kejam lho."
Stefan mengingat kembali ketika ia menghadiri resepsi pernikahan adik dari gadisnya itu. Aisyah punya adik serahim yang menikahi adik sambungnya. menurut video yang ditayangkan, mereka menikah di jepang.
"Apakah ....." gumam Stefan dengan ragu.
"Kami, maksudku adikku, itu seorang yang kejam di kampungnya. kamu tahu? sewaktu akad nikahnya, sekelompok orang jahat membuat kekacauan. adikku sendiri bertindak mempecundangi mereka semua. keluarga adikku itu disegani disana." ujar Aisyah menakut-nakuti untuk menguji keseriusan pemuda itu.
Stefan hanya bisa menelan ludahnya.
...*******...
Chiyome memasukkan mobilnya ke halaman parkir lalu keluar. ia membawa bungkusan plastik besar. ibu muda itu melangkah menuju kantor guru. disana ada piket. kebetulan yang menjaga adalah Pak Risno Arsyad, mantan wali kelasnya.
melihat Chiyome, lelaki itu langsung berdiri dan tersenyum. "Apa kabar nak?" sapa lelaki itu dengan hangat.
"Alhamdulillah, baik pak." jawab Chiyome sambil mencium tangan guru itu. Pak Risno melihat bungkusan besar yang dibawa ibu muda itu.
"Itu apa?" tanya lelaki itu.
"Oooo... ini bekal makan siangnya Hubby, maksudnya Kenzie, Pak." jawab Chiyome sambil senyum tapi tak lebar.
Pak Risno manggut-manggut. ia lalu tertawa lagi. "Ponakan bapak mana? kok nggak dibawa?"
Chiyome tertawa. "Saburo nggak mau dilepas oleh neneknya. seharian dempetan terus."
"Hmmm... mentang-mentang kamu orang jepang, namai anak juga pake nama jepang. dia kan lahir disini." sindir Pak Risno.
"Nama indonesianya ada kok pak. tapi nanti bisa dipakai kalau Kenzie lulus. nantikan pernikahan kami bisa didaftarkan, saya mengajukan hak naturalisasi maka anak saya akan menggunakan nama indonesianya." jawab Chiyome dengan sabar.
"Oh ya? namanya siapa?" tanya Pak Risno.
"Sandiaga Hermawan Lasantu..." jawab Chiyome.
"Wah hebat namanya tuh... nama Sandiaga diambil dari nama pakar politik dari gorontalo, Sandiaga Uno. iya,kan?" tebak Pak Risno.
"Saya nggak tahu. Mama yang kasih nama itu. entah dia mencomotnya dari nama orang yang bapak sebutkan, saya tak paham juga." jawab Chiyome tertawa.
"Ya sudah... kebetulan waktu ishoma juga sudah tiba. bapak panggilkan suamimu ya?" kata Pak Risno kemudian melangkah memasuki kantor. tak lama kemudian terdengar suara keras dari corong.
KEPADA KENZIE LASANTU DIPERSILAHKAN KE PIKET. ADA PAKET UNTUK ANDA DARI NYONYA CHIYOME MOCHIZUKI. SEKIAN, TERIMA KASIH...
Chiyome menunggu diruang piket. tak lama kemudian muncul Kenzie yang disusul oleh Trias dan Ipah. melihat istrinya duduk disana. Kenzie langsung menghambur.
"Wiffy..." sapa Kenzie.
"Hubby..." balas Chiyome berdiri meletakkan bekal dimeja lalu maju memeluk suaminya tanpa sungkan. Trias dan Ipah hanya berpandangan dengan perasaan ingin berpelukan tapi takut kepergok piket.
Chiyome melepaskan pelukannya. "Hubby, ini bekal yang Hubby minta. porsi besar lho. ada untuk Trias dan Ipah juga."
"Iyakah?" kata Trias dengan sumringah. "Aduh, makasih ya?" pemuda itu melangkah hendak membuka tas bekal tapi langsung ditahan oleh Ipah.
"Tau sopan sedikit, sayang." tegur Ipah.
Trias hanya bisa berdiri dengan mulut yang dimanyun-manyunkan. Chiyome hanya tertawa.
"Kita makan dimana nih?" tanya Chiyome.
__ADS_1
"Ditaman sekolah saja. dekat mushola." jawab Kenzie.
Chiyome mengangguk. keempatnya keluar dari ruang piket menuju mushola. disana telah banyak siswa yang sedang berkerumun untuk melaksanakan sholat dhuhur. []