Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 121


__ADS_3

pernikahan keduanya akan segera dilaksanakan. kaum keluarga di Poso, dari kerabat sebelah perempuan maupun kerabat sebelah laki-laki telah diberitahu. mereka berjanji akan datang seminggu sebelum pernikahan itu akan dilaksanakan. kerabat di Pohuwato juga telah diberitahu. Adnan telah menjelaskan semua tanpa menyinggung status janda putrinya karena memang pernikahan pertamanya tidak begitu diketahui publik.


Kantor Perusahaan Buana Asparaga.Tbk pukul 10.00 a.m.


Adnan duduk menyandarkan punggungnya disandaran tinggi kursinya. kening lelaki itu sesekali bertaut. akhirnya ia mengangguk-angguk pelan.


ditatapnya pesawat telpon. lengannya terulur menjamah gagang itu dan mengangkatnya lalu menyandarkannya ke gendewa telinga. jemari satunya sibuk menekan nomor hingga akhirnya terdengar nada operator. Adnan menjelaskan akan melakukan sambungan langsung jarak jauh antara indonesia dengan jepang. operator itu meminta sedikit penangguhan. tak lama kemudian terdengar nada sambung.


TUUUUT....TUUUUT...TUUUUT....TUUUUT....


📞 " Kon'nichiwa... Mochizuki-Tei to... Koreha daredesuka? " sapa suara diseberang. Adnan mengenal suara tersebut. (Halo, dengan kediaman Mochizuki, ini siapa ya?)


📞"Assalamualaikum, Fitri... Utiye wa'u, Adnan... wololo habarimu?" balas Adnan menyapa. (Ini Aku, Adnan... bagaimana kabarmu?)


📞"Alhamdulillah, piyo-piyohu... o patuju wolo mo habari to latiya?" tanya Fitri. (baik. apa maksud tujuanmu menghubungiku?)


📞"Ti Aisyah mam nika... jam' na'o mayi yi'o?" pancing Adnan.


📞"Iyo? kapan?" tanya Fitri.


📞"Lapata'o tilandahiyo mo kaluari londo ruma saki." jawab Adnan memperbaiki letak duduknya dikursi. (Setelah kekasihnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit)


📞"Yilongola? kecelakaan? hom mo huluwa?" tanya Fitri. (kenapa? berkelahi?)


📞"Kecelakaan lalu lintas. kira-kira anak itu keluar lusa. jadi kuharap kamu datang pada hari itu." jawab Adnan.


📞"Baiklah.... aku akan bicarakan dengan Kameie... dia sedang tak berada dirumah." balas Fitri.


📞"Baik, kalau begitu, kabari aku... kami mengharapkan kedatangan kalian." kata Adnan kemudian meletakkan gagang telepon ke tempatnya.


lama ia duduk terdiam. kemudian kembali jemarinya terulur mengambil gagang telepon dan menekan salah satu panel tombol.


☎️ "Kenzie, Adek? kalian berdua disitu?" tanya Adnan.


☎️ "Iya... kenapa Pa?" tanya Kenzie.


☎️ "Ke ruangan Papa, sekarang!" kata Adnan. setelah itu dia kembali meletakkan gagang telpon ke tempatnya dan menyandarkan punggungnya yang penat.


nampak dari bayangan kaca yang tembus, kedua suami istri itu melangkah menyusuri koridor menuju ruangannya. Adnan memperbaiki duduknya. pintu kaca membuka dan kedua suami-istri itu mendekati dan berdiri dihadapan Adnan.


Adnan mengisyaratkan keduanya duduk disofa. lelaki itu bangkit dari kursinya lalu memutari meja kerja dan bergabung bersama kedua anaknya di sofa itu.


"Papa sudah menghubungi Mama dan Papa Adek dan memberitahu tentang rencana persiapan Kakak." ujar Adnan menatap Chiyome. "Kurasa mereka sedang berembuk kini."


Chiyome melebarkan matanya dan menyunggingkan senyum lebar seringai ginsulnya. "Benarkah? Papa sudah menghubungi Otosan dan Okasan?"


Adnan mengangguk lalu tersenyum. "Sekalian mereka juga pasti akan melepas kangen sama Adek, menjenguk cucu pertama mereka..."


Kenzie mengangguk-angguk, "Papa memang keren." ujarnya mengacungkan dua jempol.


Adnan tersenyum lagi lalu menghela napas. "Kuharap, kali ini pernikahan Aisyah akan lancar." harapnya.


"Jangan lupakan bahwa keduanya masih berada dalam ancaman seseorang... terlebih lagi..." Kenzie sejenak menatap Chiyome lalu kembali menatapi ayahnya. "Apalagi... kita sekarang menghadapi orang dalam yang berpotensi merusak kehidupan kita."


Adnan mengerutkan keningnya. "Maksudmu apa? jangan bikin Papa penasaran."


Kenzie menghela napasnya sejenak lalu memandang Chiyome. Adnan memajukan tubuhnya.


"Ken... jelaskan sama Papa... ada apa?" tanya Adnan.


"Papa masih ingat masalah lalu, ketika pihak sekolah berhasil membongkar status pernikahan kami?" pancing Kenzie.


"Hmm... lalu?" desak Adnan.


"Saya dan Trias berhasil menemukan orang itu. ternyata ia adalah Ketua Kelas 11A, bernama Budi. orang itu dengki terhadap kami berdua dan menyerempet diri Chiyome." ujar Kenzie sejenak menarik napas lagi. Adnan masih tetap menatap menuntut penjelasan selanjutnya. Kenzie melanjutkan, "Kami menemukannya, dan aku menyuruh orang-orangku bersama tim medis yang kubayar untuk melakukan operasi penggantian kelamin kepadanya."


"Apa?! sejauh itu tindakanmu, Ken?!" hardik Adnan dengan terkejut.


"Sebelumnya, Trias sudah menyindirnya pada acara pernikahan kami secara resmi. bukankah Papa ingat bukan?" pancing Kenzie.


"Hmm... ya, Papa masih ingat saat itu... kalau tak salah Trias menyindir semua guru dan siswa yang kalian undang ke pesta saat itu. mereka sendiri tak menyangka dan akhirnya malu sendiri..." kata Adnan sambil tersenyum.


"Orang itu berada disana juga Pa... Trias menyindirnya dan memintanya untuk meminta maaf secara langsung kepadaku dan Chiyome. tapi ternyata dia memilih untuk tidak melakukannya." sambung Kenzie.


"Dan kalian berdua menyekapnya dan semua sesuai yang kau ceritakan tadi?" tebak Adnan.


"Trias tidak terlibat secara langsung. Ken yang melakukannya." tandas Kenzie. "Setelah itu keberadaannya seolah menghilang..."


"Lalu maksudmu dengan orang dalam... siapa?" Tanya Adnan.

__ADS_1


"Masih dalam penyelidikan Tangan Ketiga, Papa. tapi kecurigaan kami sudah mendekati 80%... jika benar dia adalah orang itu.... kewaspadaan sangat perlu ditingkatkan." kata Kenzie.


"Di posisi mana orang itu sekarang?" tanya Adnan.


"Relaks, Papa... relaks... biarkan kami yang melakukannya. Papa duduk saja dan biarkan permainan, kami yang akan melakukannya. Papa sekarang hanya perlu fokus untuk mengejar Stefan dan memastikan orang itu tak lagi berada dimuka bumi ini!" kata Kenzie.


"Berarti kita membagi tugas sekarang?" kata Adnan, "Baiklah kalau begitu. Kau urus orang itu dan Papa urus Stefan."


"Deal...." jawab Kenzie.


"Baiklah... rapat ini selesai... kalian boleh kembali ke ruangan kalian... nanti malam kita rembukan lagi dirumah bersama Mama. okey?" kata Adnan.


"Sip, Papa...sip.." jawab Kenzie.


kedua suami istri itu bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan. Adnan menghela napas lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


...******...


Mariana memandang suaminya dan menyentuhkan jemarinya ke punggung tangan Adnan.


"Papa... Mama memohon dengan sangat. sudilah kiranya Papa menyetujui usulan Mama untuk melangsungkan pernikahannya Kakak di rumah besar Mantulangi. mengingat ini adalah momen spesial untuk mempertemukan seluruh keluarga dari ketiga pihak." kata wanita itu dengan penuh harap.


"Boleh saja... Mama sudah hubungi Bapu Ridhwan?" tanya Adnan.


"Setelah ini, Mama akan menghubunginya." kata Mariana.


Adnan mengangguk. ia menyadari sesuatu. "Kakak mana?"


"Biasa, dengan calon suaminya... kayaknya mereka lengket sekali seperti lem." kata Mariana setengah mengolok.


"Larang Kakak untuk ketemu Bakri mulai sekarang. ia harus menjalani pingitan pra pernikahan." pinta Adnan.


"Bagaimana dengan penginapan? bukankah seluruh kerabat dari Poso dan Pohuwato akan datang?" tanya Mariana.


"Kan ada kerabat kita di Siendeng. Una dan Dulah Muchsin tinggal saja disana. sementara Sukardi dengan istrinya kan boleh tinggal di Padebuolo." jawab Adnan. "Kita akan menempatkan keluarga Mochizuki disini, sekalian menemani Adek dan Kenzie. Bakri akan dipingit juga disini. sedang kita berdua bersama Aisyah akan tinggal di rumah besar Mantulangi. bagaimana menurut Mama?"


"Ide bagus tuh Pa... ya sudah... kalau begitu Mama akan hubungi Bapu." kata Mariana kemudian mengeluarkan gawainya.


wanita itu menekan nomor dan menghubungi Bapu Ridhwan. tak lama kemudian terdengar nada sambung dan suara seseorang.


📲 "Halo, Assalamualaikum, yilongola Ana?" tanya seorang pria dengan suara yang keras. itu Bapu Ridhwan. (Kenapa Ana?)


📲 "Oooo Moawali da'a. nde po siapi ma'a utiye walima ti... ja hawatiri timongoli dulota... ma urusani'u utiye." tandas Bapu Ridhwan. (Oh, sangat boleh. nanti akan kita siapkan pesta ini. jangan khawatir kalian berdua. ini sekarang urusanku.)


📲 "Makasih Bapu, nde mbo bisala mayi ami poli.." jawab Mariana kemudian menutup pembicaraan seluler. (nanti kita lanjutkan lagi bicaranya.)


Mariana menatap Adnan. "Aman..." ujarnya sambil tersenyum.


"Bagus." jawab Adnan dengan senyum lebarnya.


"Apakah kita akan mengundang juga orang-orang perusahaan?" tanya Kenzie.


"Tentu dong! masa mereka nggak diundang?" kata Adnan sambil tertawa.


Kenzie mengangguk-angguk. "Papa sudah menyiapkan penjagaan lebih? orang-orang kita sekarang belum bisa kita percayai. Ken mencurigai orang dalam itu mungkin sudah melakukan langkah-langkah untuk membeli kesetiaan mereka."


"Orang dalam mana yang kamu maksud, Ken?" tanya Mariana.


"Sudah... Mama urus persiapannya Aisyah ya?" kata Adnan.


Mariana paham bahwa itu adalah pembicaraan yang sangat sensitif sehingga ia memilih untuk menarik diri dari pertemuan itu dan menuju kamarnya.


Adnan menatap Kenzie, "Bukankah Endrawan bisa mengurusnya?"


"Om Endi mungkin bisa. tapi seberapa bisa? kalau memang Om Endi Papa minta untuk menyisir kesetiaan anak buahnya, lakukanlah dengan tak kentara." kata Kenzie kemudian ingat sesuatu.


"Sudah lama aku tak mendengar kabar Trias. anak itu kemana sih?" ujar Kenzie dengan kening berkerut. "Apa Om Endi tahu kemana anak itu?"


"Kamu nggak tahu? Trias mendaftar masuk kepolisian negara dan lulus dengan nilai baik. sekarang ia sedang menjalani pendidikan di SPN Batuda'a." kata Adnan.


Kenzie kaget bukan main. "Apa?! Dia nggak bilang sama sekali! te hulelilo lalito!" umpatnya dengan gemas.


Adnan tertawa, "Mungkin dia takut kamu nggak setuju. kalian kan kekasih..." goda lelaki itu.


Chiyome tertawa mendengar kalimat olokan itu. "Apa mereka berdua memang seperti itu?"


"Sejak kecil mereka berteman. kemana Trias, disitu Kenzie. begitu juga sebaliknya. bahkan kami nyaris menikahkan mereka kalau saja kelamin mereka beda." ujar Adnan tertawa membuat Kenzie memberenggutkan wajahnya. Adnan kemudian menatap Chiyome. "Rupanya Ken ditakdirkan hanya menjadi milikmu. makanya dia berkelamin jantan. meskipun sewaktu kecil banyak yang mengira Ken itu perempuan lho."


"Papa..." tegur Kenzie dengan wajah keruh.

__ADS_1


Chiyome kembali takjub, "Oh ya? kenapa Papa?"


"Sewaktu kecil, Ken selalu berambut panjang hingga sepunggung. nanti dia sekolah di SMP 6 Kota, baru Ken terpaksa menggunting pendek rambutnya. meskipun begitu, penampilan suamimu ini seperti pemuda metroseksual membuat dia selalu menjadi bahan gosip karena terlalu tampan setengah cantik." jawab Adnan.


"Papa! kok bahas yang itu sih? Ken lagi serius nih!" tegur Kenzie setengah menghardik.


"Okey..." kata Adnan mengangkat tangan. "Papa nggak mau bicara lagi." lelaki itu bangkit, "Kalian beristirahatlah. Papa juga sudah ngantuk."


Adnan melangkah lesu menuju kamar. kedua suami istri itu juga menuju kamar mereka. Chiyome menahan tawa melihat wajah Kenzie yang keruh itu. lelaki itu melepas pakaiannya dan menyisakan celana bokser saja yang menutupi bagian bawahnya. tonjolan otot bulksnya nampak memenuhi tubuh lelaki atletis itu.


Kenzie berbaring disisi ranjang dan Chiyome kemudian memanjati tubuh suaminya.


"Hubby..." panggil Chiyome dengan manja.


Kenzie mengangkat alis. wanita itu meraba dada bidang lelaki itu.


"Main yuk.... Wiffy... pengen..." ujar Chiyome dengan lirih.


Kenzie menengok boks dan melihat putranya sedang terlelap. lelaki itu tersenyum.


"Untung Saburo sudah tidur." kata Kenzie dengan senyum nakalnya. "Ayo...." ajaknya.


dan keduanya bercumbu dengan pelan namun pasti melepaskan gairah yang terpendam dalam hati. Chiyome mendesah pelan takut membangunkan putranya. wanita itu telah melepaskan semua pakaiannya, begitu juga dengan Kenzie. belaian, remasan, pijatan menyatu bersama pagutan bibir yang saling mengulum. Chiyome kembali mendesah pelan.


hingga akhirnya mereka menuju inti permainan ketika Kenzie dengan semangat mulai menggarap huma cinta milik istrinya dan keduanya berpacu dalam gairah yang teratur. keringat mengucur membasahi dan melumuri tubuh telanjang keduanya bagaikan minyak pelumas yang makin melancarkan prosesi penyatuan sungai prajna dan utpaya yang mengalir dari hulu menuju hilir. menuju sebuah pelepasan yang menyebabkan memancarnya tetes demi tetes air saripati memenuhi periuk garba dan mulai diaduk pelan hingga kedua tetes itu melebur dan menempel pada dinding sumur.


pekerjaan yang banyak mengumbar tenaga dan berlangsung hingga lima kali putaran. stamina kedua pasangan itu memang prima dan luar biasa.


Chiyome mendongak memejamkan mata melepaskan cairan ovumnya menuju tempat peleburan. Kenzie pun melepaskan cairan spermanya dan kedua tetes itu bertemu dan menyatu dalam hentakan-hentakan lembut nan nyaman dalam liang periuk garba milik seseorang.


Kenzie ambruk dibongkahan payudara Chiyome. dada wanita itu juga mengembang dan mengempis bersama napasnya yang memburu. Kenzie membelai kedua bongkah dada istrinya dan sesekali memijit candi kecil yang mencuat diujung kedua bukit itu. adapun pasak penghujam masih tegang tertanam dalam liang sumur itu, seakan masih menginginkan sekali lagi pertandingan.


"Hubby... puas?" desah Chiyome.


"Sangat puas, Wiffy.... makasih." jawab Kenzie ditengah napasnya yang memburu dan mempermainkan dada istrinya.


Chiyome tersenyum. "Bagaimana menurut Hubby, jika Wiffy meminta bantuan Otoosan untuk mengirimkan beberapa pentolan Yamaguchi yang kuat?"


"Untuk melindungi Kak Ais, nggak ada salahnya kita minta bantuan mereka." kata Kenzie menggerakkan pinggulnya membuat Chiyome kembali meringis geli.


"Hubby..." desah Chiyome.


"Kayaknya luwandi ini masih ingin terus menancapi liang tanah Wiffy. bagaimana kalau kita buat dia termuntah-muntah sampai bosan." ajak Kenzie.


Chiyome tersenyum, "Hubby bikin sendiri ya? Wiffy capek nih, badan kayak remuk semua. Hubby nggak marah kan?" rengek Chiyome.


"Ayo... jangan protes ya? pokoknya Hubby akan bikin Wiffy kelojotan nih." ujar Kenzie kembali memulai aksinya menaik turunkan pinggul dan melesakkan dalam-dalam penggarap kebunnya.


Chiyome sendiri sudah tahu keganasan suaminya diranjang. ia membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Chiyome memejamkan mata menerima segala perlakuan Kenzie bagai hamparan tanah yang menerima hujan dari awan. beberapa kali ia kelojotan melepaskan arus sungainya seperti yang dijanjikan Kenzie. wanita itu benar-benar pasrah hingga akhirnya Kenzie kembali ambruk diputaran kelima. jumlah keseluruhannya adalah sepuluh putaran. lelaki itu benar-benar perkasa diatas ranjang.


"Tidur yuk..." ajak Kenzie tanpa melepas tangkai miliknya dalam jepitan lembah istrinya. ia membalik posisi hingga Chiyome tidur diatas tubuh suaminya. keduanya terlelap dalam akhir persenggamaan yang memabukkan.


...*******...


"Lusa.... Papa akan mempersiapkan segalanya untuk kita. kuharap Kakak cepat sembuh dan kita berdua bisa memulai hidup yang baru." kata Aisyah yang kemudian tersipu sendiri dengan ucapannya barusan.


Bakri meremas tangan wanita itu. "Kamu tahu Ais? menjadi suamimu adalah cita-cita terbesarku." ujar Bakri kemudian tersenyum.


"Oh ya? masa? jangan ngegombal kamu." ujar Aisyah membesarkan matanya namun tersenyum bahagia.


"Nggak... apa aku pernah bohong padamu?" kata Bakri.


"Ya... kau pernah membohongiku." kata Aisyah.


"Kebohongan yang mana?" tanya Bakri dengan kaget.


"Kau bohong, kalau kau tidak cinta padaku. kau menyembunyikan perasaanmu. kamu kejam! kejam!" sogol wanita itu.


"Aku hanya takut mendengar kata penolakan." kilah Bakri, "Lagipula kau terlanjur dekat dengan lelaki itu. aku mana bisa melangkahinya?" lelaki itu kemudian memegang keua pundak Aisyah.


"Sekarang, tidak ada lagi dia diantara kita." kata Bakri, "Sekarang hanyalah kau dan aku. maka inilah aku. inilah hatiku. inilah cintaku.... Aku mencintaimu, Aisyah Fatriana Lasantu!!!"


Aisyah tersenyum lalu membelai pipi Bakri. "Akupun mencintaimu. maka jagalah dirimu. agar kau bisa menyematkan cincin pernikahan dijariku, dan menyematkan sidik jari jempolmu di dahiku."


"Aku tak akan membiarkan itu terjadi!" seru suara didepan pintu.


Bakri menengok dan membelalakkan mata sementara Aisyah menoleh dan ikut melebarkan matanya. tubuhnya kembali gemetar.


"KAU!!!!" seru mereka berdua dengan kekagetan yang luar biasa. []

__ADS_1


__ADS_2