
Tokyo, Agustus 2017.
Chiyome melangkah menyusuri lorong berbekal sebuah tongkat bisbol yang selalu dipikulkan dibangkunya. mulutnya tak henti-hentinya mengunyah permen karet yang sudah lama kehabisan manisnya. langkahnya santai.
diujung lorong nampak terjadi perkelahian antar anggota gang. para pemuda saling memukul dengan menggunakan senjata. sebagian besar adalah tongkat kayu dan rantai sepeda motor.
Chiyome mendesis melihat tawuran tersebut. dengan kesal ia berteriak, "Sateoki!!!....kimitachi wa Watashi no jamawosuru!!!" (minggir! kalian menghalangi jalanku!)
seketika tawuran itu berhenti. para pemuda itu menatapi gadis berambut panjang yang memikul tongkat panjang mirip pemukul bisbol, berdiri dengan santai.
"Shirohana.... shirohana..." gumam mereka mulai gaduh. beberapa pemuda melarikan diri menyisakan 10 orang pemuda bersenjata tongkat.
shirohana artinya bunga putih yang merujuk pada bunga Krisan Putih, atau shiragiku, yang sering digunakan dalam acara-acara pemakaman. sebutan itu dinisbatkan kepada Mochizuki Chiyome yang terkenal tak kenal ampun dalam membunuhi lawannya.
nama itu kembali diuji dengan keberadaan 10 pemuda itu. mereka berasal dari kelompok lain yang sering mencari gara-gara diwilayah kekuasaan ayahnya.
salah satu pemuda itu maju dan mengacungkan tongkat ke arah Chiyome. "Shirohana? kau shirohana? kemarilah... bergabung dengan kami..." kata pemuda itu sambil melambaikan tongkatnya. "Kebetulan kami sudah lama tidak menyentuh wanita... kemarilah... bukalah pepekmu pada kami.."
ucapan terakhir pemuda itu dibarengi tawa oleh kesembilan pemuda lainnya. Chiyome tersenyum, "Dasar pemuda-pemuda mesum... biar kuajari kalian sopan santun kepada wanita..."
Chiyome melangkah mendekati ke sepuluh pemuda itu sambil menurunkan tongkat bisbolnya ketanah. sikap itu sudah diduga oleh para pemuda tersebut. mereka langsung maju sambil mengayunkan senjatanya hendak mengeroyok Chiyome.
dengan teriakan keras, gadis itu merangsek ke tengah kepungan ke sepuluh pemuda itu. pemuda yang berada didepan mengayunkan tongkatnya dari atas. Chiyome berputar mengayun tongkat bisbolnya ke atas memukul tongkat pemuda itu kemudian mengayunkannya langsung menghantam ************ penyerangnya. 1 pemuda rubuh pingsan dengan bagian lelakinya yang membengkak terkena hantaman tongkat bisbol.
pemuda kedua dan ketiga maju serentak mengayun tongkatnya. dengan gaya memegang pedang, Choyome menampar kedua tongkat yang diayunkan. gadis itu maju menyalip diantara tubuh kedua penyerangnya dan mengayunkan tongkat bisbolnya menghantam tengkuk pemuda kedua lalu Chiyome maju menghantam tengkuk pemuda ketiga dengan tongkat bisbolnya. kedua pemuda itu rubuh dengan bagian kepala remuk.
melihat 3 orang rubuh tak bernyawa ditangan seorang gadis seusia anak sekolahan, membuat para pemuda itu menggeram marah. seketika, 6 pemuda maju merangsek dengan tekad menundukkan perempuan tersebut. niat mereka sudah bulat. jika perempuan itu kalah dan tertangkap, mereka akan benar-benar menistakannya. perempuan itu akan mereka jadikan obyek bukkakke ditempat umum untuk menjadi pelajaran bagi siapapun yang mencoba macam-macam dengan mereka.
(bukkakke \= pesta senggama, dimana sekelompok lelaki akan menyenggamai satu perempuan dengan berbagai cara. merupakan gaya persetubuhan paling hina dan menyakitkan.)
perkiraan keenam pemuda itu keliru jika menyangka Chiyome gampang dijadikan obyek dan fantasi **** mereka. serangan yang diumbar karena nafsu birahi biasanya akan membahayakan si penyerang itu sendiri. Chiyome dengan gampang mempecundangi keenam pemuda itu. mereka rubuh dengan luka-luka yang sangat sulit disembuhkan. Chiyome, selain pakar membunuh juga sangat suka menyiksa lawannya.
tinggallah seorang pemuda lagi yang tak bisa lagi mengendalikan semangatnya. Chiyome melangkah dengan senyum sinis dan menyeret ujung tongkat bisbolnya ke tanah.
"Kau mau pepekku? apa penismu bisa muat di pepekku?" ujar Chiyome dengan pelan, membuat pemuda itu mundur perlahan. "Mau cari mati, ya?!" bentaknya.
seketika pemuda itu berbalik lari. Chiyome tidak membiarkannya. gadis itu melempar 2 buah pisau kecil yang menancap dibetis pemuda itu. dia berteriak dan roboh dengan betis yang berdarah.
"Kau boleh main-main denganku. tapi kau harus bisa mengimbangi permainanku." Chiyome menjambak rambut pemuda itu dan menyeretnya tanpa ampun, tak peduli seberapa kuat pemuda itu berteriak kesakitan, Chiyome justru senang mendengarnya.
ditepian jalan gadis itu menemukan pagar pembatas jalan. pemuda itu diseretnya kesana, kemudian diikatnya. dengan leluasa Chiyome mengobok-obok tubuh pemuda itu dengan tinjunya yang menghantam 3 titik vital, yaitu bagian strentum, dan mansible secara beruntun. dan serangan terakhir, Chiyome melayangkan mae geri jodan, menghantam bagian pelvis, pemuda itu membuatnya tersentak dan berkelojotan sesaat, kemudian diam tak lagi bergerak.
Chiyome mendengus. "Kau nggak pantas mendapat pialaku..."
setelah mengumpati jasad pemuda itu, Chiyome melempar tongkat bisbol itu kesamping mayat pemuda itu dan melangkah dengan tenang meninggalkan arena pembantaian.
sejak peristiwa itu, nama Shirohana menjadi momok yang paling ditakuti wilayah Tokyo bagian tenggara.
...************...
Gorontalo, Desember 2019.
Chiyome membuka matanya dan meringis. jika mengenang kekejamannya, setahun silam yang membuat nama samarannya terkenal dikalangan kepolisian Tokyo dan para anggota yakuza, justru membuatnya malu saat ini.
bagaimana jika Kenzie mengetahui keseluruhan dirinya sebagai seorang putri yakuza? seorang gadis pembunuh? baginya, membunuh adalah sebuah kesenangan. meskipun Chiyome melakukannya bukan tanpa alasan.
gadis itu menghela napas panjang. semoga segala urusan akan dipermudah Tuhan, karena kali ini ia melakukan sebuah perbuatan yang baik, menurut ajaran agamanya, Islam. meskipun Chiyome belum terlalu memahaminya. namun ibunya pernah bilang bahwa salah satu perbuatan baik seorang wanita adalah menyegerakan pernikahan ketika seorang pemuda sudah datang untuk melamarnya.
__ADS_1
lagipula, pemuda yang akan melamarnya adalah pemuda yang dipilihnya sendiri, tanpa mengidahkan hukum-hukum kaum genyosha (yakuza). dia yakin bahwa pernikahannya akan membawa permasalahan baru dalam adat kaumnya. namun, sebagai Shirohana, gadis itu akan memperjuangkan cintanya, bagaimanapun caranya.
Chiyome kembali menghela napas. ia bangkit dan melangkah menuju ke jendela, kemudian menatapi jalan dari balik tirai jendela yang dikuaknya sedikit.
nampak disana sebuah bentor berhenti dan Aisyah turun dari kendaraan tersebut. setelah membayar ongkos tumpangan, Aisyah melangkah membuka pintu gerbang lalu melangkah menyusuri halaman. Chiyome melangkah ke pintu dan membukanya. gadis itu berdiri diberanda menyambut jilbaber tersebut.
"Sudah lama menunggu?" tanya Aisyah sambil tersenyum lebar. Aisyah menjajaki tangga hingga diberanda itu. Chiyome datang memeluk jilbaber itu.
"Chiyo kangen kakak." ujar gadis itu dengan manja.
Aisyah tersenyum membalas pelukan itu lalu mencium pipi Chiyome. setelah puas berpelukan, Chiyome membawa jilbaber itu kedalam.
keduanya duduk di sofa. Chiyome menatapi jilbaber itu. "Bagaimana kabarnya Kakak? Om dan Tante?"
"Alhamdulillah, mereka sehat. kakak sehat, dan... Hubby-mu juga sehat..." jawab Aisyah setengah menggoda gadis itu.
Chiyome hanya tersenyum lalu mengangguk. "Alhamdulillah... kalau begitu."
"Papa dan Mama sudah rembukan. mereka sudah mempersiapkan semuanya. makanya kakak sementara menginap disini menemani adek supaya adek nggak bosan dalam rumah seharian." kata Aisyah.
"Memangnya kenapa? apa saya tidak diperbolehkan keluar?" tanya Chiyome dengan heran.
"Tepat sekali adek manis." jawab Aisyah sambil membelai rambut Chiyome. "Sekarang adek dipingit. selama masa menuju pernikahan. adek nggak boleh kemana-mana. segala kebutuhan adek, nanti kakak yang akan urus. tugas adek sekarang hanyalah berdoa dan berdoa semoga Allah memberikan kemudahan bagi adek bisa menyelesaikan apa yang telah adek mulai."
Chiyome tersenyum sambil menutup mulutnya. dia teringat dengan kondisi Trias dan Iyun yang menjalani masa pingitan 3 hari sebelum akhirnya keduanya diikat dengan pernikahan, meskipun itu dirahasiakan dari pihak publik. Aisyah yang melihat gadis itu senyam-senyum sendiri menjadi heran.
"Adek mikirin apa?" tanya Aisyah, tak lama jilbaber itu tersenyum. "Hmmm... Kakak tahu nih... lagi mikirin Hubble-mu, kan?" tebak Aisyah.
"Sedikit...." jawab Chiyome.
Chiyome akhirnya ikut tertawa. setelah puas, Chiyome menatapi Aisyah. "Kakak nggak punya pacar?"
Aisyah menatapi Chiyome dengan mata membulat. "Hallo, adekku... kakak nggak macam kamu, kecentilan." ledek Aisyah sambil membelai rambut Chiyome lagi.
"Tapi kalau kecentilan sama calon suami kan nggak apa-apa." kilah Chiyome.
"Alaaaa... banyak alasan ya?" kata Aisyah sambil mengacak-acak rambut Chiyome. kemudian jilbaber itu memicingkan mata kearah gadis itu. "Tapi benaran, kan? Kenzie nggak ngapa-ngapain kamu?"
Chiyome menggeleng. "Hubby benar-benar calon suami paling sempurna untuk Chiyo. dia benar-benar menjaga Chiyo seperti yang Om Adnan amanatkan sama dia." kata Chiyome. gadis itu tak membahas perihal payudara miliknya yang sudah pernah diremas Kenzie. ia khawatir hal itu akan merendahkan penilaian jilbaber itu terhadap mereka berdua.
"Tapi Papa bilang waktu itu dirumah sakit...." kata Aisyah.
"Kakak... tak ada yang terjadi diantara kami saat itu. kami juga masih berpakaian lengkap. Om Adnan terlalu kuatir menyangka Hubby melanggar janjinya. makanya waktu Om mau nampar Hubby, Chiyo langsung lari memeluk Hubby supaya Om Adnan tidak berani memukul Hubby." jawab Chiyome dengan jujur.
Aisyah tersenyum dan mengangguk-angguk. "Kakak salut sama gaya percintaan kalian berdua. kayak cerita di film-film."
"Kakak... ada beberapa kebenaran yang akan Chiyo beritahukan kepada kakak." kata Chiyome tiba-tiba membuat Aisyah terdiam. gadis itu dengan wajah datar kembali menyambung kata-katanya, "Hal ini penting agar tidak akan ada kesalah pahaman diantara dua keluarga."
Chiyome berdiri lalu melangkah menuju jendela. tak lama kemudian, gadis itu berbalik lalu menatapi Aisyah dengan tatapan datar. jilbaber tersebut bahkan sedikit kaget dengan tatapan Chiyome yang baru pertama kali dilihatnya.
"Kakak... apa kakak siap mendengarkan pengakuanku?" tanya Chiyome dengan tatapan tajam.
Aisyah sejenak menelan ludah. perasaan gugup melandanya. Chiyome tahu, kakaknya dalam keadaan nervous. namun kebenaran ini sudah boleh untuk diungkap kapada gadis itu.
Chiyome menarik napas sejenak, kemudian mulai membeberkan rahasianya.
__ADS_1
"Aku seorang yakuza." kata Chiyome.
Aisyah pernah mendengar istilah itu dalam film-film aksi. sekarang gadis itu menyebutkan statusnya sebagai anggota kelompok itu. jilbaber itu mulai merasa syok.
"Tunggu.... kau seorang yakuza.... maksudmu kau seorang penjahat?" tanya Aisyah. Chiyome tersenyum lalu menggeleng. "Tidak tepat juga jika dibilang penjahat. intinya kaum yakuza itu seperti gerombolan preman jika di indonesia."
"Kenapa kau bisa jadi anggota Yakuza? itu nggak baik." kata Aisyah.
"Karena ayahku juga seorang yakuza. itu takdir kami." jawab Chiyome.
"Tapi setahu kakak, yakuza itu bertato...." kata Aisyah masih belum yakin dengan keterangan gadis itu.
"Karena aku menolaknya. dan ayahpun juga paham. bukankah dalam ajaran agama islam, irezumi itu terlarang, kan? aku mena'ati pesan ibu agar tidak menggunakan irezumi ditubuhku, selain juga karena aku tak suka tubuhku menjadi kanvas lukisan." jawab Chiyome.
Aisyah menelan ludah kembali membuat Chiyome tersenyum getir. "Chiyo yakin, kakak sudah mulai merasa takut terhadap Chiyo." tebak gadis itu.
tidak salah memang. siapa yang mau berteman dengan preman? tapi kenapa perilaku Chiyome tidak menampakkan perilaku tersebut? biasanya para preman itu terkenal menjunjung kebebasan dan kekuasaan.
"Kak Ais? apa kakak membenciku?" tanya Chiyome.
Aisyah menarik napas lalu tersenyum dan menggeleng. "Kamu nggak akan membunuh kakak, kan?" ujar gadis itu setengah menggoda. Chiyome tertawa dibuatnya.
"Kakak, mana mungkin Chiyo mau bunuh kakak? Chiyo sayang sama kakak." jawab Chiyome kemudian melangkah dan duduk didekat Aisyah yang mulai nampak canggung.
"Kakak tahu, alasan kenapa aku bisa berada disini?" pancing Chiyome.
"Bukankah adek bilang adek siswa program pertukaran pelajar?" tebak Aisyah.
"Ada benarnya. tapi nggak sesederhana iru kesimpulannya." jawab Chiyome.
"Adek... langsung ke pokoknya saja. Adek sudah bikin kakak penasaran..." desak Aisyah.
dengan menahan-nahan perasaan, Chiyome mengeluarkan gadgetnya lalu membuka fitur gambar. ia memberikannya pada Aisyah.
"Kakak kenal wanita ini." tanya Chiyome.
Aisyah menatapi potret itu dan dia terkejut bukan main. "Ibu?! ini wajah ibu?!" pekik Aisyah dengan syok. jilbaber itu menatapi Chiyome. "Kenapa potret ibu bisa ada sama kamu?"
Chiyome tak bisa lagi menahan hatinya. air matanya langsung tumpah. Aisyah menggenggam pundak Chiyome.
"Katakan pada kakak. mengapa potret ibu ada sama adek?" desak Aisyah mulai menangis.
"Karena perempuan itu... juga ibuku..." jawab Chiyome.
kalimat gadis itu bagai godam yang menghantam hati jilbaber itu. sementara Chiyome masih terus menangisi.
"Ulang kata-kata adek itu!" pinta Aisyah dengan gemetar.
"Ini Chiyo, Kakak.... aku adikmu!" seru Choyome dengan tersedu-sedu.
Aisyah terpaku dalam rasa terkejutnya. mimpi itu ternyata benar.... mimpi itu.... mimpi yang benar....
tiba-tiba Aisyah langsung menghambur memeluk Chiyome. "Adeek...." jerit Aisyah dengan mata yang basah dan suara yang penuh sedu-sedan.
Chiyome memeluk kakaknya dengan erat. lega dan plong rongga dadanya ketika beban iru terlepaskan. sekarang dia tak perlu bersandiwara apapun dihadapan jilbaber itu.
"Anak nakal! kenapa baru bilang sekarang! anak nakal! nakal kamu! kau bikin kakak menderita!" umpat Aisyah sambil mencubit seluruh tubuh Chiyome dengan gemas seraya tersedu-sedu. puas melampiaskan kekesalannya, jilbaber itu kembali memeluk adiknya dengan erat.
__ADS_1
hari itu, kedua saudara se-kandungan itu saling melepas kerinduan. beberapa rahasia sudah mulai terungkap. []