
Trias bercakak pinggang mempertontonkan otot kekar cutting style yang dibalut kaos hitam berkerah. sebuah lencana tersemat di sebelah kiri gesper ikat pinggang. revolver raging bull kebanggaannya tersarung pada holster yang tersemat disisi kanan ikat pinggang itu. kedua mata tajamnya disembunyikan dalam gelapnya kacamata rayban. sedikit banyak penampilannya membuat sebagian anak-anak muda begajulan itu menciut.
"Kamu malak ya?!" hardik Trias lagi.
"Nggak!... komdan salah lihat!" jawab salah satu anak muda yang sedang merokok.
"Jongkoklah disitu." perintah Trias, "Matikan dulu rokok kau itu." ujar Trias memegang pundak anak muda itu dan menekannya memaksanya jongkok. anak muda itu agak melawan.
"Torang mo diapakan komdan?!" tanya anak muda itu dengan kasar.
"Makanya duduk dulu. biar enak ngobrolnya." sela Trias dengan sabar. sementara Bambang sudah mengaktifkan HT yang sejak tadi digenggamnya.
"Disini Tarantula dan Kalahitam... Pasopati bergerak sekarang! kita menemukan beberapa orang terduga pemalakan dijalan..." Bambang menyebutkan alamatnya.
"Dilaksanakan!" seru suara dalam HT itu. Bambang menyampirkan radio genggam itu disisi kiri ikat pinggangnya.
sementara Trias menanyai pemuda yang jongkok itu. "Kenapa kamu malak?" tanya lelaki itu.
"Nggak malak kita, Bang. cuma mau nebeng saja, cuma nggak bisa, ada sayurnya..." kilah pemuda itu, "Cuma nebeng sebentar kesana, Bang." tambahnya menunjuk jalan lurus sejurusan menuju kota barat.
"Kita cuma mau numpang!!" bentak pemuda lainnya.
"Hei, kau! jangan bentak-bentak kau!" hardik Bambang menudingkan jari kepada pemuda itu. Bambang kemudian mendekati penjual sayur yang duduk diam dalam mobil pick up nya.
"Eh, Bro. kau orang sini? kau kenal mereka ini?" tanya Bambang kepada penjual sayur sambil menunjuk komplotan pemuda itu.
"Dorang suka buat onar saja kalau markir disini. mereka bukan warga sini." jawab penjual sayur itu. Bambang menatap komplotan pemuda itu sejenak lalu menatap lagi sipenjual sayur.
"Mereka suka minta uang?" selidik Bambang.
Penjual itu mengaku, "Sering minta uang. biasa begitu terus. kadang-kadang lain orang... banyak juga sih..."
Bambang menatap Trias. "Berarti mereka ini komplotan." tukas reserse berkulit hitam itu.
Trias menatap para pemuda itu. pemuda satunya mengelak. "Nggak minta uang, sumpah!!" ujarnya kemudian memelototi penjual itu.
PLAKK!!!
tamparan Trias yang keras mendarat dipipi pemuda itu membuatnya terhuyun. "Kamu lihat penjual itu pake mata bilolo, mau ngapain?!"
satunya pemuda menguak lagi, "Ini semua adik-adik saya Bang." akunya dengan suara yang mulai lembut. "Torang nggak minta-minta uang disini. tolong Bang, jangan bawa adik-adik saya." pintanya.
tak lama mobil SUV milik tim Pasopati tiba ditempat itu. empat orang petugas berpakaian kasual namun bersenjata lengkap SS-V2 beserta magazine yang tersembul dari rompi hitam yang membalut pakaian keempat petugas itu. melihat keempatnya yang bertampang sangar, tindakan beberapa pemuda itu makin tidak kooperatif.
"Periksa! periksa!" seru Andy, sikepala plontos bercambang lebat mirip Kratos Si Dewa Perang.
"Periksa apaan?!" hardik pemuda paling senior itu, "Hargai adik-adik saya!!"
"Hei, kau bentak-bentak ya?!" hardik Trias menudingkan telunjuknya menekan dagu pemuda itu sedang tangan kanannya sudah berada di gagang revolver raging bullnya.
"Jongkok!" seru keempat petugas itu sembari mengarahkan moncongnya kepada para pemuda itu. wajah mereka mengeras dan mata mereka melotot. tak ada yang bisa dilakukan para pemuda itu selain tunduk pada perintah.
mereka jongkok.
Andy Kratos langsung mendekati si pemuda senior. "Keluarkan gawai kalian semua!" seru petugas kepala plontos bercambang lebat itu.
"Ini pak, masa saya dibilang malak?" ujar pemuda senior itu kepada Andy Kratos sembari menuding Trias yang menatapnya dengan dingin dibalik kacamata rayban itu. "Bukan palak ini. nggak pernah palak disini." tegasnya lagi.
"Kau periksa gawai-gawai segala! kita nggak nyolong. dalam rangka apa ini?!" hardik salah satu pemuda lagi.
Andy Kratos langsung mengendus-endus mulut pemuda itu. "Eh, kamu ini mabuk ya? kalian semua ini mabuk ya?! siang-siang mabuk!" serunya.
"Gorontalo nggak ada premanisme ya." ujar Trias, "Ini siapa yang mabuk? jawab." lelaki berkacamata rayban itu menatapi keseluruhan pemuda yang jongkok itu. "Siapa yang masih sadar?"
Trias menatap si pemuda senior. "Kamu, minum ya?"
"Iya... barengan kita minum ini.." jawabnya.
Stephen, si aparat berambut ikal menunjuk mobil SUV. "Ayo naik!..." ujarnya memerintah namun para pemuda itu tak ada yang mau patuh. ia menggeram, "Naik! kalau kalian nggak bersalah, nanti kita pulangkan."
Si pemuda senior kembali menguak. "Kan kita nggak salah pak. nggak perlu diapa-apain Bang. nggak bisa!" tegasnya menampik.
__ADS_1
DORRR!!!!.....
semua pemuda itu kaget dan gemetaran. Trias mengarahkan moncong Raging Bull itu ke tanah nyaris diposisi si pemuda mabuk itu, membuatnya terkaget dan terdiam dengan napas tertahan. dia baru saja melubangi tanah ditempat itu dengan peluru besarnya. disisi kaki si pemuda mabuk itu membuncah besar lubang bekas tembakan. sebuah proyektil besar tertanam disana.
Trias menyarungkan kembali pistolnya dengan tenang lalu menatap semua pemuda mabuk itu dibalik kacamata raybannya.
"Ayo semuanya naik." ujarnya dengan tenang, "Jangan paksa saya melubangi tubuh kalian dengan pistolku. dijamin nggak enak dan usus kalian akan terburai habis." ancamnya dengan dingin.
dengan terpaksa bercampur takut, tujuh orang pemuda mabuk digiring ke SUV oleh keempat petugas tim Pasopati. Marwan Djubu mendekati Trias.
"Kamu ikut gih." ajak Marwan.
"Nggak. kamu saja. aku dan Bambang lagi punya urusan. bilang saja sama Bos Eki, kalian yang nangkap, bukan aku." jawab Trias dengan tenang.
"Ah, kau... selalu saja bersembunyi dibalik kami." gerutu Marwan berbalik dan mengajak Andy Kratos dan Stephen Ikal kembali ke mobil SUV mengangkut tersangka pemalakan.
Trias menatap penjual itu. "Abang juga ke kantor ya? kasoh pernyataan dan kesaksian." ujar lelaki itu.
penjual itu mengangguk dan menyalakan mesin mobilnya lalu mengikuti mobil SUV yang sudah lebih dulu berangkat menuju kelurahan Tenda, dimana kantor Polresta Gorontalo bertempat.
Bambang mendekatinya. "Yas, nggak takut kamu di omeli Komdan Eki lagi? aku sudah capek bro." keluh Bambang.
Trias menatapnya dan tersenyum. "Santai saja bro. kan ada kamu yang bisa memijit pundaknya, meredakan tensinya yang mulai meninggi?" olok Trias kembali melangkah kedalam mobil Suzuki SX4 SCross biru. Bambang mengikutinya.
"Kau mau pakai nama siapa di STNK mobil ini?" tanya Trias.
"Nama istri aku laaah.... masa pakai namamu?" jawab Bambang dengan ketus.
Trias tertawa lalu masuk ke dalam mobil. Bambang ikut masuk dan duduk didepan setir mobil. kendaraan itu melaju meninggalkan tempat itu.
...*******...
Maya Rolot, istri dari Briptu Bambang Pontoh mencak-mencak dikantor Samsat Gorontalo. Bambang sendiri hanya bisa menenangkan Maya yang gaduhnya menimbulkan kegemparan sekantor. tiada yang tak tahu segarang apa Maya. diantara anggota Kemala Bhayangkari, dialah yang paling vokal. bahkan lebih vokal dari ibu ketuanya.
dikursi tunggu, Trias hanya duduk menyilangkan kaki dan melipat tangannya didada, menyaksikan perdebatan antara petugas Samsat dengan Maya Rolot bersama Bambang yang sibuk menenangkan istrinya yang cerewet seperti tas kresek itu.
"Kita ni mau tau Pak. pokoknya kita ni mau bale nama!!!" omel Maya Rolot dengan gemas.
"Eh, badiam ngana karong goni! kita lagi ba urusan dengan ni petugas, kiapa ngana le iko campur? suka nya modapa jatah ditampa tidor ngana? mau?" ancam Maya membuat Bambang langsung kelimpungan.
"Issyyyy.... kiapa so bawa-bawa urusan koi katu? kita cuma minta tu vokal kase reda sadiki, tu ngana pe suara so macam ba tusu-tusu mata panta lo Tuhan. tantu Dia som binaut balia pangana ini..." kilah Bambang.
Trias hanya menahan tawanya dan membiarkan dagelan bakusedu itu terus berlangsung. Maya kembali menatap petugas samsat itu.
"Eh, kita kase tau ulang pangana ye, kita ni mau bale nama. so paham pangana pe otak yang tadumpul deng tarasi itu?" tandas Maya dengan gigih.
"Aduuh Bu." keluh petugas itu. "Soalnya memang begitu peraturannya."
Maya mendengus. "Biar mo mampus le kita ni mau Pak! osyyy ba paksa skali katu ni Bapak ey..." ujarnya dengan kesal.
Bambang memegang tangan istrinya dan menatapnya dengan lembut. "Sayang, de kasih alasan yang logis, kiapa ngana ni mau bale nama???"
Maya langsung menatap suaminya dan mendorong dahi lebar Bambang dengan jengkel. "Ey, Biawao... kita kase tahu pa ngana eeee.... ngana so tau kita pe nama MAYA ROLOT... coba ngana pikir kalau mo bale nama? bukannya jadi TOLOR AYAM?!" hardiknya dengan jengkel.
seketika seisi ruangan gaduh dengan tertawanya para pengunjung mendengar keterangan dari wanita itu. petugas samsat itu langsung menutup mulut menahan tawanya dengan susah payah. Trias hanya tersenyum saja sedang Bambang dengan susah payah menyembunyikan wajahnya yang makin gosong gara-gara jengah dan malu dihadapan para pengunjung.
tidak dengan Maya. wanita itu langsung memandangi para pengunjung dan membentak. "Ey, apa ngoni tatawa akan, setang? suka mo polote dengan hidran kebakaran ngoni samua?!" ancamnya membuat para pengunjung akhirnya diam dan lebih memilih menahan tawa sepayah-payahnya.
akhirnya petugas itu paham dengan intelegensia wanita tersebut. ia bangkit dan menjelaskan bahwa proses balik nama bukan perkara membalikkan nama dengan mengutak-atik hurufnya, melainkan mengganti nama pemilik pada kendaraan bermotor.
"Bilang katu kalo bagitu. nya beken malu pakita bagini!!!" omel Maya kembali dengan wajah yang merah. wajah minahasanya yang putih itu memerah karena malu.
akhirnya proses pembalikan nama selesai dan Bambang langsung menarik keluar istrinya dari ruangan itu diikuti oleh Trias. kepergian mereka dilepas dengan tawa semua pengunjung yang merasa kepolosan yang diungkap Maya tadi adalah sebuah dagelan yang cerdas.
dihalaman ketiganya melangkah menuju mobil. Bambang menggerutu. "Kau ini sepanjang jalan selalu membuat malu saja. apa tak ada satu haripun tanpa ke gokilan yang kau buat?"
"Ey, Karong goni. kita nya tau apa itu proses balik nama. makanya tu ngana kase tau sebelumnya supaya kita nya malu-maluin tadi di ruangan itu." balas Maya dengan jengkel.
mereka masuk ke dalam mobil. kendaraan itu melaju meninggalkan komplek kantor Samsat Gorontalo. Bambang menyetir sedang Trias duduk disamping. Maya memilih duduk dibangku tengah.
sedang asyiknya berkendara, tiba-tiba Maya nyeletuk. "Eh, Iyas. kapan ngana mo kaweng? so lama kita suka molia ngana som pake tu baju karawo putih.."
__ADS_1
Trias tersenyum. ia menoleh, "Sedikit lagi Kaka Ipar. masih persiapan ini."
Maya tersenyum lebar. "Eh, Iyas. inga wa, kalau so mulai acara tu bakase tau." pesan Maya.
Trias lagi-lagi tersenyum. "Tenang saja Kakak Ipar. kalian berdua pasti kuberitahu."
"Iyalah, masa kawan sehidup semati nggak diberitahu.?" ujar Bambang dengan senyum lebar. "Ngana tau Yas? Komdan marah-marah lagi. Bos Eki pi mara abis pa Andy Kratos. bagimana dia pi jujur bilang kalao torang yang ba ringkus."
"Kenapa bisa begitu?" gerutu Trias dengan kesal.
"Ana le nya tau kote kiapa sojadi bagitu. Marwan so bilang sesuai dengan ngana pe kata-kata. mar ngana tau te Andy to, nya tau ba akal... jadi sabantar siang torang menghadap lagi kamuka Bos Eki." jawab Bambang sekenanya.
Trias menggelengkan kepala berkali-kali. "Ahhh... kau saja Bambang yang ladeni dia. aku agak malas sih berhadapab dengannya. semprotan ludahnya itu lho, membuatku ilfil dan jijik."
"Kau hanya segitu saja. aku sudah mendapat jatah semprotan jigong, tambah makian manis." keluh Bambang. "Kalau bukan atasan, sudah kuremas wajahnya itu."
"Santai Bro. nanti kita menghadap bersama-sama." ujar Trias dengan santai.
mobil Suzuki SX4 SCross itu melaju melintasi jalanan.
...*******...
Kenzie memutuskan menghibur istrinya. ia minta ijin keluar kepada Dewinta Basumbul. sekretaris itu mengangguk.
"Apakah Kak Bakri masuk?" tanya Kenzie.
"Belum... kayaknya cuti deh." jawab Dewinta.
Kenzie mengangguk. "Oke deh. saya mau keluar dulu, kamu tahu kan?" ujarnya menunjuk dalam ruangan. Dewinta langsung paham dan tersenyum.
"Baiklah pak. kalau ada acara, saya cancel ya pak." ujar Dewinta kemudian mengoloknya. "Asal jangan keseringan pak. nanti berimbas di perusahaan."
Kenzie tertawa. "Oke deh."
lelaki itu kembali ke dalam dan tak lama kemudian muncul menggandeng Chiyome. keduanya melangkah meninggalkan tempat itu. Dewinta hanya tersenyum dan menggelengkan kepala berkali-kali.
"Dasar Direktur bucin...." ujar Dewinta.
sesampainya diluar, mempergunakan Mc Laren Pirelli kuning, keduanya pesiar mutar-mutar kota dan akhirnya berhenti di Coffee Toffee & Kingdom Foodcourt. setelah memarkir mobil itu, keduanya masuk dan melangkah kedalam.
"Wiffy masih ingat tempat ini?" ujar Kenzie dengan lirih.
Chiyome tersenyum lalu menatapi suaminya dengan seringai ginsulnya, "Tak pernah lupa, Hubby... makasih telah melamar cintaku disini."
Kenzie mempersilahkan istrinya duduk. "Ini tempat kita saat itu. masih ingat? sama seperti dulu. Wiffy disana. Hubby disini." ujar Kenzie dengan santai. Chiyome tersipu jika mengingat kenangan itu.
Kenzie memanggil pelayan. tak lama seorang pelayan memakai apron muncul membawa buku nota dan pena. Kenzie mengambil lembaran menu. ia menatap Chiyome.
"Wiffy pesan apa?" tanya Kenzie.
"Hubby masih ingat apa yang kita konsumsi saat itu?" pancing Chiyome.
Kenzie tersenyum. ia menatap pelayan itu dan meminta notanya. Kenzie kemudian menuliskan semua pesanan mereka dikertas itu dan menyerahkannya kepada pelayan.
pelayan melihat catatan tersebut dan mengangguk. kemudian ia pergi. kini keduanya kembali bercengkerama.
"Apa mau kusuruh mereka memutar tembang yang kunyanyikan?" pancing Kenzie.
Chiyome tertawa lalu menggeleng. ia mengambil gawai dan membuka aplikasi youtube.com dan menuliskan dipapan search itu judul lagu dewa, mistikus cinta. tak lama dari gawai itu mengalun lagu tersebut.
"Nggak perlu repot menyuruh mereka membawakan tembang itu. ini sudah lebih dari cukup." ujar Chiyome dengan lembut.
tak lama kemudian pelayan muncul membawakan sebuah nampan berisi segelas tinggi Kopi latte lengkap dengan krim yang membusa diatasnya, sebuah sirup manis, dua piring hot plate mie ayam lada hitam dan sepiring pisang goreng lengkap dengan sambalnya. pesanan itu diletakkan dimeja. sang pelayan kemudian pergi meninggalkan mereka.
Chiyome takjub menatap hidangan tersebut. ia memandang Kenzie. "Hubby... nggak pernah lupa." pujinya dengan lirih. matanya berkaca-kaca.
Kenzie maju mencondongkan tubuhnya, "Jika aku lupa, itu tandanya aku tak menganggap engkau spesial dihatiku, sayang.... aku akan selalu menganggap momen itu, momen emas kita berdua."
Chiyome menatap lagi suaminya. "Hubby... terima kasih..." ujarnya lirih.
Kenzie kembali tersenyum, "Aku mencintaimu... Chiyome binti Kameie Mochizuki." []
__ADS_1