
"Ratakan semua dengan tanah!!" seru Trias sambil terus menembak dan sesekali kembali bersembunyi di pepohonan.
seakan sehati dengan Trias, Aldi dan Andy mengarahkan senapan mereka kearah benteng pasir dan kembali melesakkan peluru granat.
SINGGG.... SINGGGG.... SINGGGG.... SINGGG....
DUARRR!!! DUAR!!!! DUAR!!! DUARRR!!!!
dini hari itu, udara seakan robek dengan suara gemuruh ledakan peluru-peluru granat yang menghantam benteng-benteng karung pasir dan mengoyaknya. efeknya memang terasa. beberapa tubuh para preman itu terhempas dan terjungkal. sebagiannya tewas dengan dada hangus akibat daya ledakan tersebut.
Bambang dan Stephen semakin semangat menembaki beberapa penjahat yang berhasil dibidiknya. satu-persatu mereka tumbang akibat terjangan peluru.
Tiko dan Koko menghamburkan peluru dengan royal kearah para penjahat itu. namun kali ini, opsir itu kena sialnya.
TRETETETETTET...
UGH!!!!
rentetan peluru yang ditembakkan salah satu penjahat yang bersenjatakan M240, mengenai tubuhnya. tubuh Koko terlempar.
"Koko!!!" seru Tiko histeris dan langsung menghamburkan lagi isi magazine nya kearah para penjahat sambil berlari mendekati Koko yang terbaring akibat tertembak.
Tiko memeriksa tubuh partnernya. untungnya peluru hanya menyerempet tempat yang bukan merupakan titik vital, namun darah membanjir deras sedang Koko mengerang kesakitan.
"Koko tertembak! Koko tertembak! lindungi kami!!!" seru Tiko dengan gusar.
Andy yang mendengar teriakan Tiko bergegas mendekat sambil terus menembaki para penjahat, tak memberi mereka kesempatan untuk membalas. keduanya kemudian menyeret Koko ketempat yang aman.
"Balut lukanya!!!" perintah Andy. "Aku akan melindungi kalian!"
Tiko dengan sigap langsung merobek lengan kemejanya dan membuatnya menjadi pembalut luka, kemudian ia dengan gugup mengeluarkan gawainya.
"Aku akan menghubungi markas." teriak Tiko ditengah kebisingan pertempuran. Andy tak merespon karena sibuk menembaki para penjahat.
Tiko menghubungi atasannya. tak lama kemudian terdengar suara Ekoriyadi Siregar. lelaki itu sementara istirahat dirumahnya.
📲 "Halo?! hei kenapa berisik sekali?!" seru Bos Eki dengan suara keras dan meninggi. suaranya membuat istrinya terbangun.
📲 "Bos! kami sudah menemukan lokasi Stefan! Koko terluka! tolong kirimkan helikopter untuk menjemputnya!!!"
📲 "Apa kau bilang?!" teriak Bos Eki lebih keras. lelaki itu bangkit dari ranjang. lelaki itu kemudian menatap weker dinakas yang menunjukkan pukul 3 pagi.
📲 "Koko terluka! Koko terluka! kirimkan heli, cepat! gawat! gawat!" jawab Tiko dengan teriak.
📲 "Oke! tunggu sedikit lagi!" jawab Bos Eki kemudian memutuskan komunikasi seluler. istrinya menatapnya.
"Ke kantor lagi Bang?!" tanya wanita itu.
Bos Eki menatap istrinya dan wanita itu tahu arti tatapan lelaki itu. ia mengangguk. "Pergilah Bang, bawakan berita baik untukku!"
Bos Eki tersenyum lalu berbalik dan melangkah meninggalkan kamar.
...*****...
pertempuran masih berlangsung. namun keberuntungan mulai memihak Tim Pasopati. para penjahat itu makin lama makin berkurang jumlahnya karena ditewaskan satu-persatu oleh tembakan terarah Tim Pasopati yang terancang baik.
Andy terus menembak dan menjatuhkan beberapa orang yang dengan sialnya mengumpet lewat jendela. opsir botak itu menembaki dinding-dinding pitate dari rumah panggung. dan akibatnya, lobang-lobang besar nampak terlihat.
Aldi kehabisan peluru, namun ia beruntung berhasil mendekat ke dinding benteng karung pasir dan meraih senapan M2 Browning kemudian menembaki beberapa penjahat yang dibidiknya.
peperangan itu rampung dengan hasil akhir adalah kemenangan dipihak Tim Pasopati, meski harus dibayar dengan tertembaknya Koko.
"Amaaaaaaannn!!!" teriak Trias meraungkan kemenangan.
"Yooooooooosssss!!!" seru kelima temannya.
Trias menatapi suasana kabut bercampur asap mesiu yang mengintari perkampungan mini itu.
"Periksa perimeter!!!" seru Trias.
Aldi, Bambang, dan Stephen bergerak melakukan penyisiran, sementara Trias dan Kenzie mendekati Andy dan Tiko yang menjagai Koko yang terbaring kesakitan.
"Status?!" tanya Trias.
"Nggak kena bagian vital, tapi darah banyak mengalir." jawab Tiko dengan gugup.
"Terus?" tanya Trias.
"Aku sudah menghubungi Bos Eki, minta beliau membawa helikopter." jawab Tiko.
__ADS_1
Trias mengangguk lalu mengeluarkan gawai dan mengetik pesan singkat kepada Bos Eki, memberitahu koordinat titik penjemputan.
tak lama kemudian Aldi, Bambang dan Stephen muncul lagi. Trias menatapi mereka bertiga.
"Bagaimana? apakah Ny. Kenzie Lasantu ditemukan?!" tanya Trias. ketiganya menggeleng.
"Aku menemukan hal yang menarik." sela Aldi.
"Apa itu?!" tanya Trias.
"Tempat ini adalah sarang pembuatan narkoba!" seru Aldi.
Bambang menatap partnernya. "Kelihatannya begitu. aku menemukan kardus-kardus berisi kotak penuh bubuk sabu-sabu!"
"Aku juga!" sela Stephen juga kemudian menunjuk salah satu rumah panggung.
"Kita sisir kembali!" seru Trias, "Amankan bukti!"
Trias kemudian mengajak Kenzie menuju rumah panggung paling ujung. mereka memasuki bangunan itu. Trias menemukan sebuah bolsak, nakas, dan sebilah sabele yang terselip didinding pitate bangunan itu. lelaki itu kemudian melangkah mendekati bolsak.
"Uhm... kelihatannya baru saja terjadi pertempuran." ujar Trias sembari berlutut dan meraba permukaan bolsak.
"Bukankah kita sudah memenangkan pertempuran?" sahut Kenzie. Trias terkekeh lalu menggeleng dan menatap Kenzie.
"Maksudnya, pertempuran ini, lho." ujar Trias mengisyaratkan jemari kirinya membulat dan moncong revolver dimasukkan beberapa kali kedalam lubang jemari itu. Kenzie tertawa.
"Masih sempat-sempatnya ya?" ujarnya kemudian tertawa lagi. Trias mencolek sisa cairan ****** yang menggenang di bolsak itu kemudian memperlihatkannya kepada Kenzie.
"Menurutmu, siapa pelakunya?" pancing Kenzie.
"Mana kutahu? memangnya aku peramal?" sembur Trias lalu menggesekkan telunjuknya yang berlumur cairan lengket itu ke bolsak. lelaki itu berdiri. ia menatap sabele yang terselip di dinding.
langkah Trias mendekati dinding. ia mencabut sabele yang terselip itu kemudian mengamati bilahannya yang mengkilap. Kenzie mendekatinya.
"Mau kau apakan benda itu?" tanya Kenzie.
"Siapa tahu berguna." jawab Trias dengan enteng.
"Maksudnya?" tanya Kenzie yang gagal paham.
Trias menatap sahabatnya, "Entahlah... aku seperti mendapat firasat bahwa aku harus membawa sabele ini." ujarnya kemudian menatap parang dalam genggamannya dan menimang-nimangnya.
Trias mengangkat alis sejenak dan tatapannya kembali terantuk pada lantai. opsir itu menunjuk dengan parang. "Aku curiga, mereka melarikan diri lewat jalan rahasia itu."
Kenzie mendekati lantai. ada celah disana. lelaki bercambang mengarahkan moncong SIG-p226 kearah celah itu sembari tangan kirinya meraih pinggiran papan kemudian membukanya.
hanya kegelapan yang menyambutnya. Trias mendekat lalu mengamati kegelapan itu. ia mendengus. "Mereka sudah melarikan diri." Trias menepuk pundak Kenzie. "Kau tunggu disini. aku akan memberitahu teman-teman dulu untuk mengamankan tempat ini. lalu, kita masuki jalan ini.... siapa tahu, kita akan menemukan Chiyome. kau setuju?" usul Trias.
Kenzie menatapnya lalu mengangguk. Trias meninggalkan tempat itu dan mendapati Andy dan Tiko yang menjagai Koko.
"Mana yang lain?" tanya Trias.
"Mengamankan barang bukti." jawab Andy.
Trias menghela napas lalu menatap Andy. "Kalian tunggu disini, menanti Bos Eki datang bersama helikopter."
"Ente sendiri mo kemana?" tanya Andy Kratos.
"Aku dan sahabatku akan mengejar Stefan." jawab Trias.
"Kita sama-sama mengejarnya." kata Andy.
"Jangan. tetaplah disini, bersama yang lainnya. ingat! jangan tinggalkan perimeter!" Trias menepuk pundak Andy. "Aku pergi!" ujarnya kemudian berbalik dan berlari memasuki rumah panggung paling ujung.
Trias masuk dalam ruangan. disana Kenzie telah menguak lebar celah itu.
"Ayo kita masuk!" ujar Trias menggenggam erat sabele dan mendahului Kenzie memasuki lubang rahasia itu.
...******...
kakek berpakaian hitam itu memang Bubu yang juga telah menanti kedatangan Chiyome. Stefan tertawa lagi.
"Ha! kau nggak akan bakalan bisa menyentuhku! maut bahkan tak bisa menyentuhku!!" ujar Stefan memperdengarkan tawa kemudian menatap barikade wanitanya. "Kita tinggalkan tempat ini!"
barisan barikade itu kemudian membubarkan diri mengikuti Stefan yang kembali berlari meninggalkan tempat itu. tinggallah Chiyome yang kini menghadapi Bubu.
"Bubu... apakah itu nama kakek?" tanya Chiyome.
Bubu tersenyum lalu mengangguk. Chiyome menghela napas. "Kakek pastinya paham keberadaanku disini."
__ADS_1
Bubu kembali tersenyum dan mengangguk. ia menjawab dengan bahasa isyarat. "Ya, aku hanya menyarankanmu untuk membiarkannya saja. aku hanya mengasihanimu. biarkan dia. nantinya Stefan akan mendapatkan karmanya sendiri."
"Akulah karma itu, Kakek!" tandas Chiyome. "Atas nama hukum, dia harus dilenyapkan dari muka bumi."
Bubu tersenyum dan menjawab dengan bahasa isyarat. "Jenis hukum macam mana yang hendak kau tegakkan? hukun rimba? keadilan? ketahuilah nak. tidak ada keadilan di dunia ini. jika Tuhan memang menyemaikan keadilan, maka tak ada penderitaan. semua berada pada tempatnya." Bubu memgembangkan tangan. "Lihatlah peradaban manusia. mereka dengan sendirinya mendorong sisi gelap mereka menuju kehancuran... maka hindarilah itu, dan kembalilah berkumpul bersama keluargamu. mereka lebih membutuhkanmu ketimbang kau menyusahkan dirimu mengejar lelaki itu."
Chiyome menudingkan jarinya dan menghardik, "Tak usah mengguruiku tentang kehidupan, Kakek! kau sendiri, justru tidak konsisten dengan perkataanmu sendiri. lihatlah dirimu, rela menjadi anjing pengonggong si penjahat itu. apa yang ditawarkannya kepadamu? kekayaan? kemasyhuran? yang jelas.... usiamu sudah tak lama lagi." Chiyome kemudian merubah posisinya kembali ke postur Hasso no kamae. "Kakek... menyingkirlah sebelum kupaksa nyawamu lunas dari badanmu!" ancam wanita itu.
Bubu menghela napas. ia menjawab dengan bahasa isyarat. "Jangan salahkan takdir jika ia memutuskan kau harus mati ditanganku, nak."
Bubu juga mulai memasang postur bertarungnya. aliyawo bergagang kepala rangkong itu di silangkannya didepan wajah dengan posisi bilahan kilapnya berada dibawah sepasang mata dinginnya yang memancarkan aura membunuh.
"Lawanmu bukan perempuan itu, Bubu!" seru seseorang.
Bubu mengerutkan alisnya. ia menoleh kearah kegelapan yang tak lama kemudian memunculkan dua sosok lelaki. satunya memegang pistol sedang satunya lagi menggenggam sabele ditangan kirinya dan revolver ditangan kanannya.
sosok itu makin jelas dibawah sinaran cahaya rembulan yang menyelusup masuk melalui celah-celah dahan rimbunan pepohonan.
"Wiffy!!!" seru Kenzie kemudian berlari menghambur.
"Hubby...." gumam Chiyome, tak menyangka jika Kenzie datang menyusulnya.
Bubu sendiri membiarkan Kenzie menghambur memeluk istrinya. tubuh lelaki itu guncang disebabkan perasaan yang bercampur aduk. setelah puas memeluk, Kenzie langsung marah-marah.
"Dasar! Wiffy mau durhaka, ya?! memesan Paman Ienaga menyanderaku?! apa Wiffy pikir, suamimu ini gampang diperlakukan begitu?! keterlaluan! dasar istri nakal! nakal! nakal!" seru Kenzie memarahi istrinya.
Chiyome hanya diam dimarahi, namun kedua mata wanita yang bercelak itu sudah basah oleh airmata. Kenzie masih terus memarahinya.
"Wiffy harus dihukum! harus dihukum!" ujarnya kemudian meraih pipi Chiyome dengan kesepuluh jemarinya dan menariknya mendekat.
Kenzie langsung mengecup dan mengulum bibir istrinya dengan penuh perasaan. Chiyome membiarkannya, justru matanya memejam menghayati perasaan suaminya yang tersalur lewat komunikasi spiritual melalui pertemuan bibir itu. perlahan tangan kiri Chiyome terangkat menyentuh pipi Kenzie yang ditumbuhi cambang lebat itu. Kenzie kemudian melingkarkan kedua tangan kekarnya dipinggang Chiyome sembari terus mengkomunikasikan isi perasaannya melalui pertemuan bibir dengan istrinya itu.
maafkan aku Hubby... aku melakukannya karena tak sanggup melihatmu menderita. biarkan penderitaan itu, aku yang menanggungnya. kamu masih punya keluarga, namun aku... bahkan Otoosan meninggalkanku...
Kenzie melepaskan sejenak kecupan perasaannya itu. matanya sejak tadi sudah menumpahkan bah tirtanetra akibat perasaan yang bercampur aduk itu. kedua matanya menatap dalam kedua mata Chiyome yang dihiasi celak itu.
apa Wiffy pikir aku tak menderita? Wiffy bilang tak punya keluarga lagi? lalu... aku dan Saburo, Wiffy anggap siapa? orang lain?! ingat Wiffy!!!
Kenzie membelai wajah yang ditutupi menpo mulut setan yang menyeringai itu.
Wiffy.... seperti yang kujanjikan padamu... kita hidup bersama, maka kita pun akan mati bersama... paham?!
Chiyome kemudian menunduk dan mengangguk pelan. Kenzie kemudian membenamkan tubuh Chiyome dalam pelukan hangatnya.
Bubu, menghela napas lalu berdecak menyadarkan kedua sejoli itu dari kebiru-haruan suasana mereka. ia bicara dalam bahasa isyarat. "Suamimu sudah datang. kalian berdua pulanglah..."
"Aku akan tetap meneruskan niatku, Kakek!" tandas Chiyome yang masih berada dalam pelukan suaminya.
Kenzie menatap istrinya, "Mari Wiffy. kita kejar dia. kita balaskan bersama dendam ini. dia, atau kita yang berkalang tanah! ayo!" ajak Kenzie.
Chiyome menatap suaminya yang telah mengokang lagi pistolnya. "Magazine nya tinggal satu. masih ada beberapa peluru disini. ayo!" ajak Kenzie sekali lagi.
Chiyome mengangguk mantap. keduanya berbalik dan berlari menuju arah Stefan melarikan diri. Bubu hendak mengejar namun terdengar hardikan. langkah kakek itu tertahan.
Trias maju menghadang jalan. revolver sudah disarungkannya dalam holster. sabele ditangan kirinya telah dipindahkannya ke tangan kanan kemudian mengacungkan parang itu kearah Bubu.
"Nggak usah kejar mereka, Bubu... seperti kubilang." ujar Trias, "Lawanmu... adalah aku."
Bubu tersenyum. ia bicara lagi dalam bahasa isyarat. "Anak muda... aku bisa mengukur kemampuanmu... kau tak akan sanggup menandingiku..."
Trias tersenyum lalu mendengus. "Terserah penilaianmu, Bubu." lelaki itu kemudian memasang sikap langga bua. Bubu terkejut melihat gaya langga yang disajikan Trias.
Bubu bicara dalam bahasa isyarat. "Langga Linula Suwawa... darimana kau mempelajarinya?"
"Mau tahu, atau mau tahu banget?" olok Trias menyilangkan bilah mengkilap sabele dibawah matanya, sedang tangan kirinya terjulur ke depan mementangkan jari.
Bubu akhirnya memasang pula gaya tempurnya. Trias tersenyum. "Gaya linula Tapa, nih... menarik!" ujarnya dengan semangat.
Bubu bicara dengan bahasa isyarat. "Sebelum kita memulai pertarungan ini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu..."
"Katakanlah, Bubu... jangan sungkan." tantang Trias.
Bubu bicara lagi dalam bahasa isyarat. "Wajahmu, mengingatkanku kepada seseorang... sangat familiar... siapa dirimu sebenarnya?"
"Oh... itu ya?" ujar Trias. "Perkenalkan, Aku... Trias Eliasha Ali, putra Endrawan Sulingo Ali, mantan preman pasar Sentral yang pernah kau kalahkan."
Bubu tersenyum lalu bicara memakai bahasa isyarat. "Benar... ternyata begitu. kau putra si pencincang daging itu ya?"
"Benar!" tandas Trias, "Dan keberadaanku disini, untuk menantangmu, mewakili ayahku!" tantang opsir itu dengan nada tegas.[]
__ADS_1