
Aisyah menatapi gerbang ikonik Universitas Negeri Gorontalo. hari ini ia akan mendaftarkan diri ke lembaga pendidikan tinggi yang merupakan lembaga terbaik diantara lembaga-lembaga pendidikan tinggi lainnya di Kota Gorontalo.
gadis itu melangkah dengan tenang memasuki gerbang menyusuri kawasan yang banyak dipadati oleh mahasiswa senior maupun calon mahasiswa baru yang sementara mendaftarkan diri.
Aisyah menyeret kakinya mendekat kesalah satu kelompok wanita yang mengenakan stelan gamis dan jilbab syar'i seperti dirinya.
"Assalamualaikum ukhti-ukhti..." sapa Aisyah.
wanita-wanita berjilbab panjang itu menoleh melihat siapa yang menyapanya. "Ya... ada apa dek?" tanya salah satu perempuan itu.
"Maaf kak, sudah mengganggu. dimana saya bisa mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru?" tanya Aisyah dengan santun.
"Oh.. mau mendaftar? mari saya antar..." kata salah satu ukhti itu kemudian menggamit lengan Aisyah menyusuri halaman besar yang memisahkan jalan dengan bangunan-bangunan.
akhirnya keduanya tiba di kantor. disana ada petugas bagian administrasi. ukhti itu menyebutkan maksudnya mengantar Aisyah untuk mendaftarkan diri sebagai Mahasiswa semester pertama.
petugas itu mengangguk lalu mengeluarkan sebuah formulir. "Silahkan di isi. pastikan fakultas dan jurusan yang anda centang sesuai dengan minat dan keinginan kamu menimba ilmu disini." kata petugas itu.
dengan bantuan ukhti itu, Aisyah mengisi lembaran-lembaran formulir dengan hal yang disesuaikan dengan keinginannya. setelah itu, Aisyah kembali menyerahkan formulir itu kepada petugas tersebut.
"Tunggu sebentar lagi. nanti kartu peserta UMPTN nya akan diberikan. masih semantara dicetak." kata ukhti itu.
"Ah ya , makasih ukhti. kalau boleh tahu? nama kakak siapa ya?" tanya Aisyah.
"Panggil saja saya Firda." kata ukhti itu.
Aisyah mengangguk santun. Firda kemudian pamit meninggalkan Aisyah. "Nanti kapan-kapan kita ketemu lagi." ujarnya.
tinggallah Aisyah disana bergabung dengan beberapa calon mahasiswa baru yang sementara mendaftar dan menunggu hasil cetak kartu UMPTN. tak lama kemudian petugas datang membawa kartu dan lembaran jadwal ujian.
"Aisyah Fatriana Lasantu." panggil petugas itu.
"Saya pak." sahut Aisyah.
gadis itu maju menerima kartu dan lembaran bertuliskan jadwal tes masuk yang harus diikuti oleh Asiyah, lengkap dengan lokasi dan waktunya. setelah mengapresiasi usaha petugas itu, Aisyah meninggalkan bangunan itu. langkah kakinya terayun ringan menyusuri jalanan kampus menuju ke arah jalanan utama. dipandanginya jalanan didepan kampus yang begitu ramai dan nyaris macet karena banyaknya kendaraan yang hilir mudik, bercampur dengan sekumpulan orang yang juga meramaikan jalanan itu.
...*******...
Adnan Lasantu adalah seorang CEO dari perusahaan ekstraktif yang bergerak dibidang ekspor-impor kayu. sekarang ia sedang duduk santai menikmati kopi yang disuguhkan pelayan. hari ini ia ada janji bertemu dengan kliennya di Kulina Kitchen, sebuah cafe merangkap restoran yang letaknya didalam City Mall Gorontalo.
dimeja itu terhampar sebuah I-Pad dan sebuah HP android merek terbaru selain secangkir kopi yang isinya tinggal setengah, bersama sepiring penganan yang tidak disentuhnya. berkali-kali ia menengok arloji emas yang melingkar dipergelangan tangan kanannya.
Adnan hari itu tidak mengenakan stelan resmi. ia hanya mengenakan pakaian kaus berkerah yang dipadu celana jins tak mengurangi sisa-sisa ketampanannya semasa muda.
disampingnya, duduk seorang wanita muda mengenakan pakaian formal. usianya muda sekitar 24 tahun, memeluk sebuah portefeulle berisi dokumen-dokumen penting yang akan dinegosiasikan secara pribadi bersama kolega mereka.
lima belas menit mereka tenggelam dalam penantian, akhirnya muncul dua orang lelaki berpakaian safari bersama seorang asistennya yang mengepit sebuah map files. Adnan berdiri menyambut tamunya yang datang dan menyalaminya dengan erat.
"Bagaimana kabarnya pak Adnan?" sapa lelaki itu.
"Tak perlu terlalu formal, Pak Albert." jawab Adnan, kemudian mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk.
"Silahkan memesan..." ajak Adnan.
"Itu gampang kita lakukan. saat ini saya hanya ingin anda mempresentasikan apa yang kita inginkan bersama dalam kerja sama ini." ujar Albert sambil tersenyum.
Adnan mengangguk, "Oh, tentang itu." lelaki itu mengisyaratkan sekretarisnya untuk mempresentasikan apa yang telah mereka susun sebelumnya. sekretaris itu dengan lugas dan cekatan menjelaskan segala pokok yang tercantum dalam nokta kesepakatan kerja sama itu.
selesai peresentasi itu, Albert mengangguk-angguk senang. "Kurasa kerja sama ini akan menguntungkan kedua belah pihak." pujinya.
"Terima kasih. jadi, bisakah semua kita selesaikan disini?" pancing Adnan.
Albert tertawa, "Tentu saja...."
"Pesanlah hidangan yang anda inginkan..." kata Adnan.
pada saat itu juga. terjadi kesepakatan kerja sama antara dua perusahaan. kedua presdir itu sibuk menorehkan tanda tangannya pada lembaran kertas berharga, menunggu pesanan hidangan yang sementara dipersiapkan oleh koki.
...*******...
Kenzie merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Trias tertawa melihat sahabatnya bertingkah seperti orang yang terlalu banyak mengerjakan tugas-tugas berat. Kenzie membuang napasnya keras-keras.
__ADS_1
"Bos, kalau lagi punya masalah, jangan lampiaskan disini." sindirnya sambil tertawa lagi.
Kenzie mendecak jengkel, membuat Trias menghentikan tawanya lalu melingkarkan lengan kekarnya dileher sahabatnya itu.
"Mayilongola yi'o?" tanya Trias.
(kenapa kamu?)
Kenzie menggelengkan kepala. Trias terkekeh melepaskan lingkaran lengannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah... kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa." kata Trias hendak beranjak dari tempat duduk.
"Kau tahu kan, perihal kakak sambungku yang dari Poso?" kata Kenzie. Trias menatapinya dan kembali duduk dikursi.
"Hm..kenapa?" tanya Trias.
"Dia tiba kemarin." jawab Kenzie datar.
"Bagus itu... kau tidak sendirian lagi dirumah." kata Trias sambil terkekeh.
Kenzie memandang Trias dengan wajah keruh, "Dia perempuan..."
"Oh... bukan laki-laki ya?" gumam Trias masih terkekeh, "Bagus itu... kau punya kakak perempuan."
Kenzie kembali membuang napas berat. "Aku khawatir ia akan merebut Mama dariku."
Trias lagi-lagi tertawa. ia baru berhenti ketika wajahnya ditimpuk Kenzie pake buku catatan.
"Kamu gimana sih? aku serius ini..." kata Kenzie dengan emosi.
"Jangan kuatir Ken. nggak mungkin tu kakakmu mau rampas Mama kamu." kata Trias dengan yakin.
"Justru kalau perempuan, kan Mama akan lebih perhatian ke dia daripada aku." bantah Kenzie.
"Ya wajar laaa... kau kan sudah besar. sudah bersepir. kapal selammu sudah berlumut. ngapain Mamamu lagi kelonin kamu?" jawab Trias cengengesan.
"Kok ngomongnya mesum benar sih? ku jedot hidung lo, habis, nggak laku looo." ujar Kenzie dengan jengkel.
"Ente mestinya bersyukur Ken. diberi kakak perempuan. jadi kamu akan memperlakukan wanita nggak sembarangan lagi. ente kan jomblo kakap, coy." kata Trias.
"Maksudmu?!" tanya Kenzie dengan kening bertaut.
"Brengsek lo.." sembur Kenzie. "Kukasih saja kamu sana noooh.." tunjuk Kenzie ke arah pemuda yang asyik bermain dengan anak-anak putri dengan gaya yang genit.
"Astagfirullah... Ken, masih waras kan kau? masa jadikan si Ferlin saudara aku. nggak rela aku punya sodara macam begitu. masok neraka tau nggak?!" sembur Trias.
Kenzie tertawa lepas, begitu juga dengan Trias.
"Intinya dia tetap sodara lo. meski bukan terlahir dari kandungan yang sama. dan yang jelas, ini yang jelas... dia nggak bakal merampas apa yang sudah jadi milikmu." kata Trias dengan mantap.
"Tapi kan ada sodara tiri yang seperti itu. selalu menjadi lawan dari saudara lainnya." kilah Kenzie.
"Shampoi otak lo. terlalu banyak nonton drama korea lo." sindir Trias, "Kamu pikir semua saudara tiri seperti itu? jangan berprasangka buruk dulu kawan. ntar nyesel lo. jalani dulu hidupmu dengan dia, buat seperti air yang mengalir. jangan langsung mengambil kesimpulan sebelum yakin dengan jawaban yang tersedia." ujar pemuda itu.
"Cieeeee... seperti Ju Panggola saja kau.." ledek Kenzie.
(Ju Panggola \= orang tua / kakek)
"Bagaimana pun aku sahabatmu. aku nggak mau kau tersesat." jawab Trias.
TRIIIRIRIRIRIRIIRIRIRIIIIING....
"Huange'eloooo... gara-gara menasihatimu, aku lupa dengan tugasku!" sembur Trias sambil mengutak atik filenya dilayar komputer.
Kenzie tertawa dan menyeret lengan Trias memaksanya meninggalkan ruangan laboratorium komputer menuju kantin sekolah.
...*******...
Aisyah tiba dirumah bertepatan dengan peredaran matahari yang telah mencapai puncaknya. adzan dhuhur yang dikumandangkan lewat corong TOA yang menggantung dimenara masjid, dibantu hembusan angin panas yang menyapu langit Wongkaditi menyebar kesegala arah.
gadis itu membuka pintu rumah dan menyeberangi ruang tamu, tiba diruang keluarga dan menghempaskan tubuhnya disofa dimana Mariana juga sementara duduk disana sementara menikmati tontonan gosip.
"Halo Maa." sapa Aisyah dengan lirih.
"Sudah selesai kegiatannya?" tanya Mariana dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah ma. letih sekali... panas diluaran..." keluh Aisyah.
"Kalau begitu makanlah nak. Mama sudah siapkan semuanya dimeja makan." kata Mariana.
"Saya sholat dulu, ya Maa." kata Aisyah sambil bangkit melangkah kedalam kamarnya.
Mariana mengangguk. Aisyah masuk ke kamarnya dan langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu. setelah itu ia keluar dan menggelar sajadah disisi ranjang kemudian melaksanakan sholat dhuhur dengan khusyuk.
segala panca indra dikonsentrasikan kepada Sang Khalik SWT, pencipta kehidupan dan kematian. Pengurus segala urusan, hanya kepada Allah, gadis itu mengeluhkan segala rasa lelahnya, berharap setelah itu, nasib baik yang akan menggelayuti setiap kehidupannya.
Ya Allah... terima kasih Engkau masih mempercayakan ruhku untuk tetap menghuni tubuhku yang lemah dan tak berguna ini.
terima kasih... Engkau masih memperkenankan aku melintasi jalur hidupku yang tak berkepastian ini.
terima kasih... Engkau masih memperkenankan aku untuk selalu memuji-Mu dalam setiap ritual penghambaanku.
ya Allah... Engkau pengatur segala urusan makhluk. aku serahkan segala diriku kepada-Mu. segala aktifitas ini kujalankan hanya untuk-Mu. segala penyerahan diri dan penghambaan ini hanya untuk'Mu... jika dalam ibadahku ternyata Engkau mendapati banyak kekurangan didalamnya, aku memohon dalam ratanya ubun-ubun kepalaku dengan lantai ini, memohon ampunan-Mu, memohon kerelaan-Mu, memohon maaf-Mu atas segala kekuranganku....
Ya Allah... limpahkanlah kepadaku keselamatan dan keberkahan kepada kedua orang tuaku, kepada ibu sambungku, kepada adik sambungku. tetapkanlah bagi mereka kasih-sayang Mu, sehingga merekapun mengasihani aku, sebagaimana Engkau mengasihani mereka. maafkanlah mereka dan lindungilah mereka...
tetesan demi tetesan air mata jatuh bergulir membentuk lereng sungai jernih yang melintasi pipi halus Aisyah, seiring dengan gemetarnya bibir yang melantunkan doa-doa kepada orang yang dicintainya. setelah itu ia membasuh wajah dengan kedua telapak tangannya sembari mengucap tahmid memuji kebesaran Allah SWT yang telah menciptakannya.
setelah menyelesaikan sholat dhuhur, Aisyah keluar dari kamarnya menuju meja makan. Mariana masih tetap dalam kegiatannya, menikmati tayangan acara gosip-gosip selebritis terbaru.
"Mama nggak makan?" tanya Aisyah.
"Mama masih tunggu Papa." jawab Mariana dengan pelan.
"Kalau begitu, aku ikut Mama saja." kata Aisyah berbalik lagi ke ruang keluarga dan duduk disisi Mariana.
Aisyah menyandarkan kepalanya dipundak Mariana. lengannya menggamit lengan ibu sambungnya itu.
"Mama, keberatankah Mama jika saya ingin seperti ini?" tanya Aisyah.
Mariana tergelak mendengar pertanyaan putri sambungnya itu. "Kau ini ya...." kata Mariana sambil mencubit pipi Aisyah dengan gemas.
"Kan Mama sudah bilang, meskipun kau bukan terlahir dari rahimku, kau tetap anakku." kata Mariana sambil tersenyum.
"Makasih Ma...." jawab Aisyah pelan.
"Jangan malu mengakui Kenzie adikmu. mungkin ini pertama kali bagi kalian berdua. tapi mama yakin, seiring waktu, kalian akan makin akrab dan menjadi pasangan kakak-beradik yang paling hebat." kata Mariana .
"Tanpa Mama meminta... aku sudah melakukannya. " jawab Aisyah dengan pelan.
"Makasih sayang... mama bangga padamu.." puji Mariana sambik mengelus tangannya yang menggamit lengan wanita itu.
tak berapa lama, Adnan muncul diruang makan. ia meletakkan I-Pad dan HP nya dimeja.
"Kalian sudah makan?" tanya Adnan.
"Belum... kami berdua nunggu Papa pulang." jawab Mariana dengan senyum dikulum.
"Adnan membelalakkan matanya. "Astaghfirullah... kaliam rela tidak makan hanya untuk menungguku pulang?" lelaki itu takjub dan kagum pada kedua wanitanya itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Mariana.
"Kau tak biasanya begini sayang..." selidik Adnan.
"Karena aku bahagia... kau memberiku seorang putri. " kata Mariana.
"Kau hamil?" desis Adnan dengan wajah yang sumringah.
"Kau lihat perutku membuncit?!" sindir Mariana. wanita itu memeluk Aisyah dengan mesra.
"Ini putriku lhooo...." kata Mariana sambil mencium pipi Aisyah.
Adnan tertawa. "Maaf telah membuat kalian menunggu. mari kita makan. untuk menebusnya, aku akan mentraktir kalian ke mall City Gorontalo. "
"Ih sudah basi..." kata Mariana dengan senyum.
"Tapi Aisyah belum sempat jalan-jalan." kata Adnan.
"Kau mau kan?" tanya Mariana.
"Kalau Mama yang ajak, saya mau." jawab Aisyah.
"Berarti kalau Papa yang ajak, tak mau ya?" rajuk Adnan sambil berpaling.
__ADS_1
Aisyah tertawa, "Tentu saja... kalau Papa dan Mama yang ajak, saya akan senang menyanggupinya. " jawab Aisyah meralat ucapannya yang barusan sempat terlontar.
Adnan merangkuk kedua perempuan dan membawanya kesisinya dan mengajak mereka ke ruang makan. suasana diruang makan terlihat meriah.[]