Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 4


__ADS_3

Kenzie berupaya melepaskan diri dari jepitan lengan Trias yabg kekar dilehernya. napasnya hampir sesak. Trias sendiri berupaya membuat Kenzie kewalahan dan terpaksa mengakui kekalahannya. namun angannya belum jadi kenyataan. Kenzie bukan lawan yang gampang ditaklukkan.



"Ayo bos. lakukan lebih baik. lepaskan dirimu!" seru Trias.


suaranya gemetar karena berupaya kuat menjepit leher Kenzie.


namun pergumulan itu berhenti ketika terdengar suara seorang laki-laki yang meminta keduanya untuk menghentikan pertandingannya. Trias melepaskan jepitan lalu berguling kebelakang dan berdiri dengan sikap sempurna yang siaga.


Kenzie bangun kepayahan lalu bangkit dan berdiri dengan sempoyongan dan kedua kakinya gemetaran.


"Latihan hari ini selesai." seru lelaki tersebut.


Trias merangkapkan kedua telapaknya didada lalu membungkuk dalam diikuti oleh Kenzie yang masih gemetaran dengan napas yang memburu.


"Kamu kenapa?" tanya Bakri, pelatih silat mereka.


"Aku tak apa-apa, Kak." jawab Kenzie.


"Kau terjebak dalam emosi." kata Bakri sambil tersenyum.


"Kakak sok tahu." balas Kenzie dengan gengsi.


"Lalu kenapa kau tak mampu melepaskan jepitan dari Trias?" pancing Bakri sambil memandang Trias yang hanya diam.


"Entah... mungkin aku kurang konsentrasi..." kata Kenzie dengan lesu.


"Konsentrasi dan ridak konsentrasi, tergantung suasana hati." kata Bakri kemudian menyentuh pundak pemuda itu. "Apa kau punya masalah?"


"Dia sementara cemburu kak." olok Trias sambil tertawa.


Kenzie menghujami Trias dengan tatapan sengit. Trias kembali tertawa dan mengangkat tangan pertanda tak mau lagi meladeni kemarahan sahabatnya itu.


"Masalah apa?" tanya Bakri.


Kenzie menghela napas. "Aku punya kakak tiri. dia perempuan." pemuda itu melepaskan pakaian silat bagian atas dan menggantinya dengan kaos. "Aku kuatir dia akan merebut perhatian kedua orang tuaku."


"Iri hati yang normal." kata Bakri sambil menepuk pundak Kenzie. "Tapi, kalau dibiarkan terus makan akan jadi masalah besar."


"Maksud kakak, saya harus mengesampingkan perasaanku?" tanya Kenzie.


"Tidak juga seperti itu." jawab Bakri. "Kakak ingin kau bisa menguasainya. perasaan cemburu itu berasal dari rasa cinta. sedang rasa cinta itu perasaam umum yang didefinisikan dalam beberapa jenis kecemburuan. adapun cemburumu adalah kecemburuan seorang saudara kepada saudara lainnya, yang menginginkan adanya kesama rataan dalam pembagian bagi kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya." tutur mahasiswa itu.


"Kesimpulannya?" tanya Kenzie.


"Cemburu itu bagus, tapi jangan berlebihan...." jawab Bakri sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut pemuda tersebut.


"Bagaimana jika dia berhasil merebut perhatian Mama dan Papa kepadaku?" pancing Kenzie.


"Intropeksi diri saja." jawab Bakri sekenanya.


Kenzie menatapi Bakri menuntut penjelasan atas kalimat itu. Bakri tersenyum lagi.


"Bisa jadi ada diantara sikapmu yang tidak sesuai dengan hati mereka, entah itu ayah maupun ibumu. dengan itu kita akan saling memperbaiki diri dan sama-sama bersaing secara sehat dengan saudara sendiri untuk mendapatkan kasih sayang orang tua. kata Bakri panjang lebar.


"Apakah kakak pernah merasa cemburu?" tanya Kenzie.


"Siapa sih makhluk didunia ini yang tak memiliki kecemburuan? bahkan Allah SWT itu. maha pencemburu. Dia akan cemburu melihat umatnya yang tidak melaksanakan sholat, zakat, dan amalan lainnya." jawab Bakri.


"Adakah didunia ini makhluk yang tak memiliki rasa cemburu?" tanya Kenzie dengan polos.


"Ada..." jawab Bakri.


"Apa?" tanya Kenzie lagi.


"****..." jawab Bakri dengan tenang sambil melepas pakaian silatnya bagian atas dan mengenakan kaus untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang.


"Kenapa ****?" tanya Kenzie.


"Dalam sebuah persetubuhan, **** betina akan mendatangi 4 hingga 5 ekor **** jantan dan mereka melakukannya bersama-sama tanpa ada rasa cemburu diantara ****-**** jantan itu." kata Bakri.


"Kakak tahu dari mana sih?" tanya Kenzie.


"Discovery Channel..." jawab Bakri enteng.


"Apakah hanya karena itu?" pancing Kenzie lagi.


"Struktur tubuh **** mirip dengan manusia. itulah sebabnya mereka dijadikan bahan uji coba setiap vaksin yang akan dikonsumsi oleh manusia. jika vaksin itu berhasil pada ****, maka vaksin itu juga akan bisa berfungsi pada manusia." jawab Bakri.


mahasiswa itu berdiri dan mengajak keduanya bangkit.

__ADS_1


"Minggu depan, latihan kita akan ditingkatkan melalui latihan kaki." kata Bakri mengingatkan.


kedua pemuda itu membungkuk lalu pamit meninggalkan padepokan. keduanya melangkah menyusuri trotoar sambil menggandeng ransel.


tak berapa lama, HP dalam saku celana Kenzie bergetar. pemuda itu merogoh sakunya mengeluarkan HP, melihat chat yang dikirimkan ayahnya lewat Whatsapp.


"Ada apa?" tanya Trias.


Kenzie menggeleng lalu memasukkan kembali gadget itu kedalam saku celananya. "Papa memintaku ke Mall City Gorontalo. mereka sementara makan malam disalah satu resto disana." kata Kenzie.


"Kesana saja." kata Trias. "Mengabulkan permintaan orang tua juga termasuk pahala lo." setelah itu Trias sengaja berlari meninggalkan Kenzie sendirian disana.


Kenzie mendekati sepeda motor Yamaha R15 V2.0 warna biru yang terparkir ditrotoar tersebut. sepeda motor itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ke 17, tepat ketika ia sudah bisa berkendara secara legal dijalan raya.


Kenzie menyandarkan pantatnya di jok empuk motornya lalu mengaktifkan kunci dan menstaternya. bunyi derum dari motor itu terdengar menggema dan tak berapa lama, pemuda itu telah melesat membelah jalanan dengan kuda besinya.


...*******...


diruangan yang lapang, kental dengan arsitektur jepang, berdiri seorang gadis dengan rambut yang dikuncir. ia mengenakan tegi putih yang diikat oleh obi hitam dengan 9 strip emas yang tercetak diujung sabuk tersebut. gadis itu berdiri dengan sikap shizentai sementara sekelilingnya berdiri dengan sikap siaga 10 orang lelaki berpakaian sama mengepungnya dari berbagai sudut.


tak berapa lama, salah satu yudansha maju meneriakkan ki-ai dan menyerang dengan sebuah teknik tendangan mawashi geri yang sangat sempurna mengincar wajah gadis itu. dengan sigap gadis itu menyambut serangan itu dengan gaiwan kumade uke mengancam pergelangan kaki lawan dengan tangkisan berpola cakar.


lelaki itu tak sempat mempersiapkan diri ketika gadis itu menangkap pergelangan kakinya lalu memuntir, memutarnya dengan cepat membuat lawan terjungkal dan bergulingan. lainnya maju lagi dengan berbagai teknik tendangan.


tiba-tiba gadis itu melompat memutar dan menyarangkan ushiro tobi geri yang menghantam rusuk lawannya hingga kembali terjungkal kembali. lainnya maju lagi menyerang dengan teknik haiwan tetsui uchi mengancam batok kepala gadis itu.


gadis itu mengelak dan membuang tubuhnya ke belakang lalu menghantam lawan yang tak sempat menyerang dengan teknik ushiro enpi yang menghantam dada musuh.


kepungan semakin ketat dan serangan yang dilakukan lawan makin gencar. kepungan itu dilakukan agar sang gadis menyadari kesalahannya dan menyerah, mengakui kekalahannya.


namun semangat bertarung dalam jiwa gadis itu sangat tinggi, bahkan terlihat menikmati pertarungannya. bagaikan macan betina yang mengamuk karena marah anak-anaknya diganggu. ia melayani satu persatu lawannya hingga beehasik membuat para penyerangnya tak berkutik. semuanya mengelepar di tatami.


gadis itu berdiri dengan sikap sochin dan kedua tangannya yang terpentang dengan jemari membentuk pola kumade. gadis itu membuang napas perlahan dan memgembalikan sikapnya kembali ke sikap shizentai kemudian melakukan rei. gadis itu membungkuk takzim menghormati kesepuluh lawan yang mengelepar di tatami, lalu menegakkan tubuhnya kembali.


dihadapan gadis itu berdiri seorang lelaki parobaya mengenakan mantel hitam yang melapisi stelan jas yang dipakainya. ia menggenggam tongkat dari kayu hitam yang ujungnya dilapisi logam. pria itu mengenakan kacamata hitam yang kemudian dilepaskannya.


"Sensei...." seru para yudansha yang kesakitan itu.


"Bangkit semua!" serunya.


para yudansha itu bangkit dengan susah payah. mereka mundur ketika diperintahkan dengan isyarat. kesepuluh lelaki itu kemudian meninggalkan kedua orang itu sendirian di dojo tersebut.


gadis dihadapan lelaki itu justru tersenyum dan memasang sikap tempurnya. kali ini sangat serius.


"Majulah...." tantang gadis itu.


lelaki itu maju sambil melepas dasi dan melemparnya kearah gadis itu. gadis itu membuang wajahnya menghindari dasi yang dilempar kearahnya. tiba-tiba lelaki itu menghujamkan ujung tongkatnya.


gadis itu menangkis dan mendorong bilah tongkat dengan lengannya dan maju melayangkan pukulan seiken. lelaki itu kembali mengibaskan tongkatnya. gadis itu menarik pukulannya lalu membungkuk dan melayangkan mawashi geri mengincar leher lelaki tersebut.


tendangan yang dilayangkan itu hampir saja mengenai sasaran ketika lelaki itu kembali menyilangkan tongkatnya melindungi leher hingga tendangan itu hanya mengenai tongkat saja.


"Kenapa Chiyome? apakah kau sulit menemukan letak kelemahanku?" ejek lelaki tersebut.


Chiyome meringis, "Jangan senang dulu. ini baru permulaan!"


Chiyome maju menyerang lelaki itu menggunakan teknik yang dipakai dalam jurus Jutte. lelaki itu tertawa sambil terus menangkis serangan Chiyome.


"Aku bisa membaca gerakanmu, Chiyome." ejek lelaki itu kembali mengayunkan tongkatnya mengancam batok kepala gadis itu. Chiyome serentak menyilangkan kedua lengannya dan dengan sigap menangkap tongkat itu. keduanya sejenak terlibat dalam tarik menarik.


tiba-tiba lelaki itu menyentakkan tongkat kemudian menariknya. terhunuslah sebilah pedang pendek lurus yang kemudian ditusukkan kearah Chiyome.


gadis itu sontak menampar bilah pedang dengan tongkat yang dipegangnya kemudian Chiyome mundur dan memasang sikap kogasumi, salah satu gaya yang dipraktekkan dalam seni iaijutsu.


lelaki itu kembali tertawa dan maju menyerang Chiyome dengan sengit. Chiyome berkali-kali menghindar sambil menampar pedang yang ditusukkan kepadanya. lelaki itu mendesis.


"Ayo Chiyome! beranilah menempuh takdirmu!" tantang lelaki itu sambil kembali menusukkan pedang pendeknya mengincar dada gadis itu.


dengan sebuah pekikan kakegoe, Chiyome maju menyongsong serangan lelaki tersebut. tongkat itu diarahkan kearah pedang yang datang menghujam.


SRIIIIIIINGGGGG.....


ujung pedang masuk kedalam pedang itu hingga keseluruhannya kembali tertanam didalam tongkat. pedang pendek itu tersarung kembali.


lelaki itu sejenak terkejut dengan apa yang diperbuat gadis itu, namun dengan sigap ia menyambut lagi serangan yang dilayangkan Chiyome.


PLAKKK..... KLONTANGGGG...


tongkat itu terjatuh ketika ditampar Chiyome dengan tiba-tiba dan menggelinding jauh ketepi ruangan. Chiyome kembali menyerang lawan dengan teknik cakar membuat lelaki itu blingsatan menangkis serangan Chiyome yang mengincar 7 titik vital dari tubuhnya.


BLUGH....

__ADS_1


keduanya berhenti pada posisi buntu. sepasang tangan Chiyome membentuk pola awase tsuki dan terjulur mencengkeram leher lelaki itu. sedangkan tangan kiri mengincar ulu hati. adapun posisi lengan kanan lelaki itu menyilang, menangkis cakar Chiyome.


gadis itu tersenyum lebar. "Bagaimana, Sensei?"


"Jujur, aku tak bisa menghindarinya..." kata lelaki itu dengan senyum miring, "Tapi kaupun tak bisa menghindari seranganku. kita impas!"


Chiyome menautkan alisnya lalu mengawasi posisi lawannya. bola matanya membulat ketika menyadari tangan kiri lelaki itu membentuk nukite mengincar 1 inchi dibawah payudara kirinya. Chiyome bersungut-sungut dan melepaskan cakarnya. lelaki itu kembali terkekeh.


"Aku mengaku kalah, Ayah." ujar Chiyome sambil membungkuk dengan lesu.


lelaki itu tertawa lagi. "Kau sudah menunjukkan kemampuanmu. latihan hiden ini berakhir. kau bisa memulai musha shugyo."


"Ayah... apakah aku bisa seperti para samurai yang sering ayah dongengkan itu?" tanya Chiyome dengan ragu.


"Jangan pernah meragukan darah Mochizuki yang mengalir dalam setiap nadimu, anakku. Kau adalah putri Kameie." kata lelaki itu mengusap-usap pundak putrinya.


"Terima kasih telah menyemangatiku." kata Chiyome sambil membungkuk.


"Ayo kita pulang. Ibumu sudah menunggu." kata Kameie dengan wajah jenaka kemudian meninggalkan gadis itu sendirian.


Chiyome menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. dengan langkah gontai karena kehabisan tenaga, ia menuju ke ruang ganti.


Chiyome membuka lemari kabinnya lalu meloloskan obi, berikut uwagi dan terakhir celana zubon. gadis itu kini hanya mengenakan tank top ketat yang membalut kedua payudara kencangnya dan celana g-string yang menutupi segitiga dibagian bawah pusarnya.


Chiyome melipat seragam itu dan mengikatnya dengan obi. setelah itu ia mengeluarkan 1 stel kaos dan celana training dari dalam kabin kemudian memakainya. seragam beladirinya disimpannya dalam ransel lalu Chiyome menutup lagi kabin itu dan memanggul ransel dengan lengan kirinya. Chiyome melangkah meninggalkan ruang ganti.


...*******...


"Tuan Kameie terlalu memuji." kata lelaki itu sambil membungkuk rendah dalam duduk zazen nya. Kameie terkekeh.


"Saya hanya melatihnya sesuai dengan arahan tuan. tidak lebih dan tak kurang." kata lelaki itu.


kedua lelaki itu duduk berhadapan dalam posisi seiza, hanya dihalangi oleh sebuah meja jamuan kecil yang diatasnya tergeletak 2 buah cangkir kecil beserta 2 botol sake. ruangan itu terletak 2 blok dari dojo, tempat Chiyome berlatih tadi.


"Tapi sangat berkesan bagiku." kata Kameie. "Jika putriku sudah siap memimpin Kanto Uji maka bisa dipastikan, perusahaan kita akan semakin berkembang."


"Apakah hal ini tidak akan menimbulkan pertentangan diantara anggota dewan? bukankah kita sebagai genyosai (mafia jepang, lebih dikenal dengan sebutan yakuza) sangat memperhatikan perihal kemurnian darah keturunan?" kata lelaki dihadapan Kameie dengan cemas yang meskipun disamarkan, namun tak luput dari perhatian Kameie.


"Biarkan hal itu untukku." kata Kameie, "Kau cukup memantau perkembangan dalam tubuh organisasi."


lelaki itu mengangguk, "Sesuai perintah anda." setelah itu.ia bangkit namun urung lagi ketika Kameie mencengkeram lengan baju lelaki iru.


lelaki itu duduk kembali dihadapan Kameie.


"Perhatikan tindak-tanduk Heita Masakado." tekan Kameie. "Ia bisa menjadi penghalang bagi ambisiku."


Kameie mencondongkan wajahnya kearah lelaki iru. "Jika dia mendekati Direktur Tadahira, laporkan padaku."


lelaki itu kembali mengangguk kemudian bangkit meninggalkan ruangan tersebut.


sepeninggal lelaki itu, Kameie meneguk sisa sake terakhir.


"Aku mengandalkanmu, Ienaga." guman Kameie.


...******...


Bakri sedang asyik melakukan meditasi dalam ruangan masjid sembari melafalkan kalimat-kalimat dzikir untuk menenangkan hati dan mempertajam nalurinya.


terdengar langkah kaki mendekat. Bakri membuka matanya dan ia membalikkan tubuhnya. Trias berdiri tegak menatapinya.


"Ada apa Trias?" tanya Bakri.


Trias kemudian duduk bersila menghadap kearah gurunya. "Aku ingin meminta nasihat berhubungan dengan latihan kemarin."


Bakri tertawa pelan, "Kau sudah melampui kemampuan rata-rata kawan sekolahmu. apa lagi yang kau inginkan."


"Kebijaksanaan tertinggi dari seni yang saya pelajari."


"Kau sanggup melaluinya?" tantang Bakri.


"Aku siap." kata Trias dengan mantap.


Bakri berdiri diikuti oleh Trias. keduanya melangkah menuju pintu. waktu isya telah lewat. pemuda itu hendak menutup pintu masjid, meski. tidak menguncinua.


"Aku mengajarimu segala yang kutahu." kata Bakri


"Kurasa kakak belum mengajariku semuanya. " selidik Trias dengan tajam menghadap Bakri kemudian melayangkan pandangannya kearah jalanan yang masih ramai.


"Kalau kau bisa melintasi ujiannya, Kau akan menjalaninya sempurna." kata Bakri.


Trias hanya bisa memandangnya lalu mengekori langkah mahasiswa itu meninggalkan masjid.[]

__ADS_1


__ADS_2