
Rumah Sakit Kyoto Teishin, wilayah Shiga. jam 6 Malam waktu Jepang.
ruang rawat inap VIP....
keadaan Fitri Lasabang langsung drop. entah terpukul atas kematian Aisyah, atau tekanan jiwa disebabkan oleh pesimistis akan kasus putrinya yang tak akan terselesaikan. ia sudah sangat paham stereotip kepolisian indonesia. mereka sangat lambat menangani kasus, apalagi jika kasus itu mengungkit orang-orang penting. bisa jadi malah dipeti-eskan oleh mereka sendiri dan menganggap itu hanya sebuah tulisan diatas kertas yang boleh dirobek dan dicampakkan ditempat sampah.
disisinya duduk Kameie dengan wajah yang begitu kalut. rasa takut kehilangan benar-benar nampak di raut wajahnya. selama 23 tahun kebersamaan mereka, Fitri telah memberikan seluruh jiwanya untuk Kameie, sejak ia dipertemukan dengan wanita itu disebuah restoran di Tokyo secara tak sengaja saat mereka mengadakan pertemuan hingga kini menjadi bagian dari keluarga Mochizuki, Fitri tak pernah sekalipun mengeluhkan dirinya.
wanita itu melahirkan putra-putrinya. merawat dan membesarkan mereka bersama-sama dirinya dan mendidik mereka tentang agama sesuai pengetahuannya. bagi Kameie, Fitri adalah segala-galanya baginya didunia ini. Fitri yang membimbingnya mengenal dan menyelami agama islam. Fitri yang mengenalkannya dengan ustad Taki Takagawa. Fitri tak pernah malu menyandang status istri seorang yakuza yang notabene dikucilkan oleh masyarakatnya sendiri. Fitri adalah cahayanya.
tatapan sayu Kameie terarah kepada wajah wanita yang memucat itu. wanita yang telah mewarnai hidupnya yang datar tak berwarna menjadi penuh bagai bianglala yang menerangi langit mendung.
wajah lelaki menjadi nampak lebih tua dari usianya yang sebenarnya disebabkan kekalutan dan ketakutan yang melanda hidupnya. bibir itu gemetar dalam lantunan doa yang tercampur bahasa arab dan jepang yang amburadul. lelaki itu kehilangan pijakannya.
tak lama kemudian, dari pintu menguak memunculkan Iechika, Ienaga dan Tasuku. kakek itu menatap datar ke arah putranya yang duduk membungkuk disamping ranjang istrinya.
"Otoo-San..." panggil Iechika.
Kameie menoleh sedikit. Ienaga berinisiatif maju dan berdiri disisi Kameie.
"Kenapa bisa begini?" tanya Ienaga dengan lirih.
"Aku tak tahu, Ie-Yuujin." jawab Kameie. "Kelihatannya, istriku menderita tekanan batin akibat kematian putri tiriku. kesehatannya makin menurun dan sekarang, lihatlah... dia terbaring lemah disini."
"Bukankah kasus itu sementara ditangani pihak kepolisian?" ujar Ienaga membesarkan hati sahabatnya.
"Apa yang bisa diharapkan dari kepolisian indonesia? mereka berwajah uang! koruptor-koruptor saja tak mampu mereka tangkap, apalagi mengurusi kasus semacam ini?!" cela lelaki itu dengan jengkel. "Aku sudah mengancam Adnan. jika dia tidak mampu memenangkan ruh Aisyah, aku memerintahkan Chiyome menerapkan hukum genyosha kepada pembunuh putriku!"
"Aku setuju! sebagai kaum genyosha, darah dibalas darah." tandas Ienaga, "Tapi... bagaimana pendapat Adnan?"
Kameie meludah ke samping dengan jijik. "Ptuih!!! lelaki itu bermental terigu! dia melarangku, bahkan melarang Chiyome menuntut darah si pembunuh itu! dia bahkan menohokku dengan adat negerinya. huh, kalau saja disini, sudah ku sumpal mulut tak becusnya itu dengan tinjuku!" umpat Kameie.
"Lalu bagaimana dengan Chiyome?" tanya Ienaga.
"Kau sudah tahu wataknya." jawab Kameie.
Ienaga mengangguk. berarti, Chiyome akan tetap melaksanakan perintah Kameie untuk menyiksa dan menghabisi pembunuh itu. Iechika menghela napas.
"Otoo-San beristirahatlah... biarkan aku yang menjaga Okaa-San." pinta Iechika.
Sejenak Kameie menatap putranya lalu akhirnya ia membuang napas dan mengangguk-angguk, lalu bangkit dan melangkah dengan lesu meninggalkan ruangan tersebut. Iechika dengan tanggap langsung duduk dikursi dimana tempat itu tadinya diduduki Kameie.
sementara Kameie telah berada diluar ruangan ditemani Tasuku dan Ienaga.
"Nak... bersabarlah..." kata Tasuku kemudian menyapu punggung lelaki itu.
"Kesabaranku sudah sangat menipis, ayah... sejak Adnan tak mampu menjaga putri istriku dengan baik." Kameie perlahan menatap Tasuku. tanpa sadar ia mulai terisak. "Ayah tahu? putriku... Aisyah... dia diperkosa secara sadis... tewas tersiksa akibat penyiksaan seksual, ayah... aku..."
Kameie tak sanggup meneruskan kalimatnya, memilih menyembunyikan wajahnya, membungkuk dan menumpahkan tangis tanpa suara di koridor itu. Ienaga mengencangkan rahangnya, menahan keharuan yang mendesak ujung kelenjar airmatanya yang memaksa oa tanpa sadar meluruhkan airmata membasahi pipi tirusnya. kenangan akan kematian Heitaro Koreyuki kembali melintas dengan jelas. Momotaro yang yatim dan Hinata yang menjadi janda masih terus membebani pikirannya.
Kameie memuaskan tangisnya hingga akhirnya ia kembali sadar dari keharu-biruannya. ia menarik napas panjang lalu menghembuskan napas itu dengan pelan, mengusir tangis yang masih menggodai matanya.
"Aku sudah memerintahkan Chiyome menuntut darah kakaknya. bagaimanapun caranya, lelaki itu harus membayar penderitaan yang dialami putri istriku." ujar Kameie dengan suara gemetar penuh kegeraman.
Tasuku mengangguk-angguk. "Aku yakin, cucu perempuanku itu akan melaksanakan titah keluarga dengan baik. dia selalu berhasil... aku mengandalkannya."
Kameie hanya menatap lantai koridor dengan mata yang memerah sebab banyak menumpahkan air mata. Ienaga sendiri hanya bisa melipat tangannya di dadanya.
...******...
Chiyome sedang menyisiri rambut Sandiaga yang sementara tidur dan menjadikan paha wanita itu sebagai bantalnya. wanita tersebut sesekali membelai dan menyenandungkan sebuah lirik lagu dengan nada pelan.
Sandiaga memang tak bisa memejamkan matanya. tatapannya kosong ke langit-langit ruangan.
"Mama..." panggil anak itu.
seperti biasa, Chiyome mengangkat alis merespon panggilan putranya. Sandiaga menghela napas panjang.
"Apakah Umi saat ini merasa tersiksa?" tanya Sandiaga.
"Kenapa kamu bilang begitu?" balas Chiyome.
Sandiaga kembali menghela napas panjang. ia kemudian berkisah, "Semalam, aku mimpi aneh... aku ketemu Umi sama Abi... juga Nenek jepang."
__ADS_1
DEG!!!!....
Chiyome tercekat, napasnya tertahan, belaiannya pada rambut sang anak terhenti. wanita itu menata hatinya sejenak menyiapkan diri mendengar kalimat-kalimat berita yang terlontar dari mulut Sandiaga. sesuai pengalamannya kemarin terhadap anak itu. Sandiaga memiliki bakat indigo, seperti Trias. entah sebab ia begitu rajin dalam sholat dan mengerjakan amalan sunnah lainnya seperti yang diajarkan guru-gurunya di pesantren Al-khairaat, atau murni memang berkah langsung dari Allah, setiap mimpinya merupakan Ar-Ru'yatu Shadiqah, mimpi yang benar, yang akan terjadi atau yang sementara terjadi.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Chiyome dengan lembut namun hatinya berdebar tak karuan.
"Umi dan Abi duduk disebuah dipan panjang. menangis dan saling memeluk. Aku mendekat dan hendak memeluk mereka, namun ternyata keduanya dikurung oleh sebuah tembok tak kasat mata. Aku menggedor beberapa kali dan segalanya sia-sia hingga tenagaku habis menyisakan napasku yang memburu." tutur Sandiaga membuat Chiyome disergap rasa tak nyaman dalam hatinya.
"Terus?..." pancing Chiyome lagi.
"Aku hanya bisa memandang keduanya dalam kurungan tak kasat mata itu. apakah Umi dan Abi tak bisa ditolong, Ma?" tanya Sandiaga.
"Kita akan berusaha semampu kita menuntut keadilan bagi mereka berdua." jawab Chiyome dengan senyum untuk meneduhkan hati putranya.
"Kenapa Nenek jepang berkata dia hendak pergi jauh? apakah Nenek Jepang marah sama Mama?" tanya Sandiaga.
alis Chiyome bertaut. "Pergi jauh?"
Sandiaga menghela napas. "Aku ketemu Nenek jepang disebuah padang hijau. sangat asri terasa. Nenek jepang bilang, aku harus menjaga Mama. Nenek jepang katanya mau pergi jauh."
Chiyome langsung memicingkan mata. perasaannya langsung tidak enak. wanita itu menatap putranya.
"Saburo, temani Oma." pinta Chiyome.
Sandiaga menatap lama ibunya lalu akhirnya ia bangkit dan melangkah meninggalkan Chiyome sendirian diruang keluarga tersebut. Chiyome mengeluarkan gawai dan menghubungi Iechika.
terdengar beberapa saat dengungan lalu suara operator. Chiyome mengutarakan hendak disambungkan dengan nomor tujuan. suara dengung terdengar lagi dan beberapa saat kemudian terdengar suara Iechika.
📲"Moshi-moshi... Chiyo-hime?" sapa Iechika.
📲 "Mana Okaa-San?!" tanya Chiyome langsung.
lama tak terdengar suara. Chiyome menjadi tidak sabar.
📲"Ie-Dono!!!" hardik Chiyome dengan keras.
Sandiaga mengintip dari balik sudut dinding. suara keras ibunya mengundang keingintahuan anak itu.
📲"Okaa-San.... sakit, Chiyo." jawab Iechika pada akhirnya.
Nenek jepang akan pergi jauh dan memintaku menjaga Mama....
📲"Sejak kapan?!" tanya Chiyome dengan datar.
📲"Kemarin." jawab Iechika, "Aku saja dihubungi Otoo-San pada malam hari. aku bergegas kesini naik kereta api. sekarang aku yang menjagai Okaa-San."
📲"Mengapa Okaa-San bisa sakit?!" tanya Chiyome melirihkan suaranya.
📲"Otoo-San juga tak mengetahui. Okaa-San waktu itu hendak membuatkan teh untuk Otoo-San. tak tahunya di koridor, beliau jatuh dan drop. kalau kau nggak punya kesibukan, pulanglah! jenguk Okaa-San." pinta Iechika.
📲"Aku akan hubungi kau nanti." ujar Chiyome kemudian memutuskan pembicaraan seluler.
wanita itu bangkit dan melangkah mondar-mandir diruang keluarga itu. sesekali ia berdecak kesal dan kemudian meringis sendirian. Sandiaga tetap menyamarkan keberadaannya disudut dinding. kemampuan ninjutsunya sudah lumayan sehingga sang ibu sendiri, mungkin karena kalut, tidak menyadari keberadaan dirinya.
setelah menetapkan hati, Chiyome akhirnya menghubungi suaminya.
Kenzie saat itu sedang sibuk memeriksa file laporan keuangan yang diserahkan Dewinta Basumbul, ketika gawainya bergetar. Kenzie menangguhkan kegiatannya lalu mengeluarkan handphone itu dari saku. ia mengaktifkan panggilan.
📲 "Assalamualaikum, Wiffy... ada apa?" tanya Kenzie.
📲 "Hubby...." ujar Chiyome, namun kalimatnya tertahan diujung lidahnya.
Kenzie menautkan alis. ia sudah hafal watak sang istri. ada beban yang membuat Chiyome tak mampu mengungkap pendapatnya.
📲 "Wiffy?" panggil Kenzie dengan lembut.
Chiyome gelagapan.
📲 "Ya, Hubby..." jawab Chiyome.
📲 "Ada apa Wiffy? katakanlah..." pinta Kenzie dengan lembut.
Chiyome mengatur hatinya agar terlihat tegar dihadapan sang suami.
__ADS_1
📲 "Hubby... Okaa-San jatuh sakit." ujar Chiyome dengan pelan.
Kenzie langsung berdiri mendengar berita mengejutkan tersebut.
📲 "Okaa-San sakit?" ujar Kenzie dengan lirih, "Kapan? bagaimana keadaannya?"
📲 "Iechika bilang, Okaa-San sakit sejak kemarin, ditemukan Otoo-San jatuh dilorong menuju dapur. sekarang Okaa-San dirawat di rumah sakit Kyoto Teishin di Shiga." jawab Chiyome.
Kenzie melangkah menuju dinding kaca. sambil menatap lanskap kota Gorontalo, Kenzie kembali menanyai istrinya.
📲 "Wiffy hendak ke jepang?" tanya Kenzie tiba-tiba.
Chiyome menarik napas panjang.
📲 "Wiffy??" panggil Kenzie lagi dengan lembut.
📲 "Apakah Hubby mengijinkan?" tanya Chiyome.
Kenzie tersenyum.
📲 "Kita bertiga akan kesana. Wiffy, Hubby dan Saburo. saat ini juga. tunggu Hubby pulang." ujar Kenzie kemudian memutuskan pembicaraan seluler.
lelaki itu menutup file lalu melangkah keluar. diluar ruang kerjanya ia menemui Dewinta yang sibuk mengetik laporan.
"Bu, saya minta bantuan." pinta Kenzie.
Dewinta mengangkat wajah dan memasang sikap siap menerima perintah.
Kenzie menghela napas. "Pesankan saya jet pribadi. saya sekeluarga akan ke jepang menengok keluarga istri saya."
Dewinta mengangguk langsung tanggap meraih gagang pesawat telepon dan menghubungi maskapai yang menangani jasa penyewaan jet pribadi. beberapa jenak Dewinta terlibat pembicaraan dengan pihak maskapai tersebut. akhirnya Dewinta mengangguk-angguk lalu mengucapkan terima kasih dan meletakkan gagang telpon ke tempatnya. wanita itu menatap Kenzie.
"Sudah pak. mereka siap di bandara jam 1 siang. jadi bapak harus ada dibandara setengah jam dari waktu yang disepakati." jawab Dewinta.
"Terima kasih, Bu." timpal Kenzie lalu melangkah meninggalkan tempat itu. lelaki itu harus berkemas-kemas karena beberapa jam lagi mereka harus tiba di bandara Jalaluddin.
...*****...
Kameie duduk disisi ranjang Fitri. dibelakang kursi yang diduduki Kameie, berdiri Iechika. ini adalah hari ketiga jika waktu telah menunjukkan pukul 12 malam.
perlahan mata Fitri membuka. sejenak ia menatapi sekitaran ruangan dan menemukan suami dan putranya yang sedang menatapnya. Kameie tanggap melihat istrinya telah membuka matanya.
"Fi-Tsuma..." panggil Kameie.
"Okaa-San..." sahut Iechika.
Fitri meringis sedikit. ia kemudian menatap Kameie. "Kame-Shujin..." sahut Fitri.
"Kamu baik-baik saja, sayangku?" ujar Kameie memajukan tubuhnya dan membelai kepala sang istri yang dibalut jilbab. "Aku sangat mengkuatirkanmu."
tatapan Fitri menghujam dalam ketatapan Kameie, membuat lelaki itu disergap rasa tak nyaman. tatapan itu seakan menyiratkan bahwa sang istri akan segera meninggalkannya.
"Bisakah Iechika keluar? ibu hendak bicara dengan ayah." pinta Fitri dengan lemah.
Iechika menarik napas panjang dan mengangguk dengan enggan lalu berbalik meninggalkan ruangan tersebut. kini ruangan hening itu hanya didiami oleh dua insan tersebut. Fitri menatap Kameie lalu tersenyum dengan layu.
"Kame-Shujin..." panggil Fitri.
Kameie memajukan tubuhnya. Fitri kembali meringis sesaat, lalu menatap dalam suaminya kembali.
"Kurasa.... waktuku tak lama lagi..." ujar Fitri.
"Jangan tinggalkan aku, Fitri..." pinta Kameie dengan wajah yang memelas. "Aku tak akan sanggup. kau tahu... aku akan mati... jika kau mati."
Fitri tersenyum, "Kame-Shujin.... hanya jasadku saja yang mati... jiwaku akan selalu bersamamu."
Kameie menggeleng. "Tidak... aku tak sanggup."
"Demi anak-anak kita, Kame-Shujin..." pinta Fitri. "Mereka membutuhkanmu."
"Tapi aku lebih membutuhkanmu! tidak ada yang bisa menggantikanmu. aku tak akan sanggup hidup tanpa kamu, sayangku... jangan katakan kau hendak meninggalkanku." rengek Kameie dengan wajah yang masygul.
kedua tangan Fitri terulur menangkup wajah Kameie. "Aku mencintaimu, sampai kita bertemu lagi di akhirat. perpisahan ini tidaklah lama, suamiku... aku berwasiat, tinggalkan masa lalumu. jadilah lelaki yang lebih baik. semoga.... Allah menguatkan hatimu..."
__ADS_1
selesai berkata, kedua tangan Fitri mengembang mengisyaratkan hendak memeluk Kameie. lelaki itu mencondongkan tubuh mendekati istrinya, membiarkan kedua lengan Fitri melingkar dikedua bahunya dan membelai punggung lelaki itu. Kameie mengeratkan pelukannya.
tangan itu kemudian terkulai, membuat Kameie perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Fitri yang damai bagaikan tidurnya pengantin baru. wajah yang cerah dan bersahaja nampak ketika Fitro baru saja menyelesaikan penarikan napas terakhirnya. malam itu, pukul 2 dini hari, Fitri binti Daeng Mitana Lasabang, berpulang menuju alam kematian dengan senyum datar yang terukir diwajah pucatnya. []